Pada pagi hari saat pukul 07.30 di depan sebuah rumah tua, terjadi sebuah kejadian yang menggemparkan penduduk di daerah ini. Seorang lelaki berteriak sambil menunjuk dengan tangan gemetaran pada sesuatu yang diletakkan di depan tembok rumah tua tersebut. Ternyata yang ditunjuknya adalah potongan tangan kiri seseorang yang di bawahnya ada sebuah kertas tanpa noda darah. Apa maksudnya?
.
.
THE SECRETS OF A RIVER
Detektif Conan hanya milik Aoyama Gosho tercinta *halah!* karakter di fic ini juga milik Aoyama, saya hanya mempunyai alur, para penjahatnya (O.o) dan pemeran figuran (?)
Genre: aku ragu menentukannya, tapi kayaknya crime & misterius
Rated : karena ada pembunuhannya, ratednya jadi T.
(Author malas ngetik yang baru, jadi cuma copas dari chapter 1 aja *dilempar botol kosong!)
.
.
"Hei, minggir! Detektif terkenal mau lewat!" paman Kogoro tiba-tiba muncul. "Aku ingin melihat sesuatu yang mem- Kyaaaa!" teriak paman Kogoro ketakutan setelah berlagak sok hebat. "Ini tangan siapa?"
"Sa-saya ti-tidak tahu, ke-tika saya melewati rumah ini untuk ke kantor ta-ngan ini sudah ada seperti itu," ujar lelaki yang menemukan potongan tangan ini.
"He, benarkah? Siapa namamu? Apa cuma kau yang melihatnya?" tanya paman dengan nada dinaikkan. Aku yakin paman curiga kalau orang ini adalah pelakunya. Namun ini masih terlalu cepat untuk menyimpulkan.
"Benar, saya Renji Takamura. Bukan hanya saya yang melihatnya, benar kan Neiko?"
"Iya, saya Neiko Tokoda. Kami berdua adalah orang yang kebetulan lewat dan menemukan potongan tangan ini."
"Eh, kalian ada apa di rumah milik kakek saya?" ujar seorang lelaki dengan pakaian rapi dan membawa tas milik perusahaan industri yang letaknya berada di luar daerah ini.
"Kami menemukan sebuah potongan tangan yang kelihatannya potongan tangan kiri. Apa anda tau sesuatu tentang ini?" paman mulai menginterogasi dan aku hanya memperhatikannya. Tindakan yang mencolok pasti akan dicurigai orang lain.
"Eh, Conan?" kak Ran akhirnya menemukan aku dan memegang tanganku. "Aku cari kemana-mana ternyata kamu malah ke sini, ayo pulang!"
"Aku belum ingin pulang, kak. Aku ingin melihat aksi paman," ujarku beralasan.
"Biarkan ayah mengerjakannya sendiri, kau harus kembali dan mandi!"
"Ran!" seru Haibara tiba-tiba muncul dari balik kerumunan. "Biarkan Conan di sini dahulu. Aku akan menemaninya."
"Tapi, Conan harus mandi."
"Tenang, dia akan mandi denganku di sungai yang ada di dekat sini."
"Kalau seperti itu, aku titip Conan ya!" ujar Ran sambil mulai melangkah menjauh untuk menelepon polisi, meninggalkan aku dengan Haibara.
"Lakukanlah pemeriksaan tuan detektif," seru Haibara dengan tampang mengejekku. Sayangnya, hari ini aku sedang tidak ingin mencari masalah jadi aku tidak akan terpancing untuk marah padanya.
"Paman, itu kertas apa?" ujarku basa basi supaya paman melirik pada secarik kertas yang ada di dekat tangan yang dari tadi jadi bahan pembicaraan.
"Benar juga ya, itu kertas kalian atau bukan?" tanya paman pada dua orang yang menemukan tangan tersebut dan seorang pemuda yang diduga adalah cucu dari pemilik rumah tersebut.
"Tentu saja bukan," jawab mereka dengan kompak.
"Polisi cepat periksa kertas apakan itu?" perintah paman pada polisi yang dipanggil Ran. Segera saja polisi mengambil kertas tersebut dan membacanya.
"Ini-" ujar polisi dengan sedikit jeda, "adalah poster festival."
"Festival? Apa akan diadakan festival di daerah ini?"
"Iya, pak detektif. Festivalnya akan diadakan besok," jawab kepala desa dengan tergesa-gesa.
"Wah, apa mungkin pembunuhan ini ada hubungannya dengan festival?" gumam paman dengan tampang serius.
"Seperti memang ada," seorang lelaki menjawab gumaman paman. "Lima tahun yang lalu ada pembunuhan sehari sebelum festival berlangsung, dan mayatnya belum diketahui ada dimana," lanjutnya dengan wajah serius.
"Lho, paman kan yang kemarin bertemu dengan kami di pinggir sungai?" ujarku mendekati lelaki tersebut bersama Haibara.
"Haha! Kau ternyata masih ingat ya, nak."
"Eh, kalau boleh tau Anda siapa?" paman bertanya.
"Aku Akira Tohiro. Pemilik perusahaan yang mengekspor beras di pulau ini."
"Kalau boleh tahu, pembunuhan sehari sebelum festival yang kau maksud itu seperti apa?" tanya paman tak mengerti.
"Lima tahun yang lalu," paman itu mulai bercerita, "di depan gedung tua di dekat tempat berlangsungnya festival, terdengar sebuah tembakan. Saat kami semua menengok ke gedung tersebut tetesan darah berceceran di sana dan mayatnya sudah disembunyikan."
Paman Kogoro bergumam sebentar. Kelihatannya dia kebingungan. Penyelidikan hari ini dihentikan sekitar jam 9 pagi setelah semua orang yang dicurigai paman, diantaranya Renji, Neiko, dan cucu pemilik rumah tua yang diketahui bernama Akio Masamune, diinterogasi.
Dan karena Haibara sudah berjanji pada Ran, terpaksa deh aku mandi dengannya di sungai. Deg-degan sih mandi dengan gadis semacam dia. Dia pasti akan marah kalau aku melihat yang aneh-aneh. Aku bahkan bingung kenapa dia mengajakku seperti ini. Mestinya kan hanya dengan berkata kalau hari ini dia akan mengajakku pulang dan mandi setelah bermain di tempat kejadian sudah cukup. Aku yakin, Haibara sengaja ingin ke sungai ini!
"Eh, Haibara? Kau mau ikut mandi?"
"Buat apa? Cukup kau saja yang mandi," ujar Haibara sambil kakinya bermain-main di air. "Memang kenapa kau bertanya seperti itu?"
"Eh?" segera aku terpojok dengan kata-katanya. "Aku hanya menawarimu kok."
Karena aku tau berbicara terlalu banyak dengan Haibara bisa membuatku terpojok lagi, aku langsung saja melepas bajuku dan menceburkan diri ke dalam sungai. Ternyata sungainya cukup dingin dan arusnya tenang.
Tiba-tiba aku teringat dengan perkataan Haibara kemarin tentang sungai ini. Segera saja aku menjadi penasaran dan ingin melihat dasar sungai ini. Dan kebetulan sekali Haibara sedang asyik bermain air dengan ikan-ikan kecil yang tak tau datangnya dari mana.
Eh? Ada gundukan tanah? Ini mencurigakan. Kira-kira apa isinya, ya? Karena terlalu penasaran, akhirnya aku menggali gundukan tanah tersebut. Beberapa tanah hanyut terbawa arus. Mungkin itulah yang membuat Haibara curiga dengan apa yang aku kerjakan di bawah air. Karena itulah dia tiba-tiba menarikku dari dasar sungai dan membuat pekerjaanku berantakan.
"Hei, tuan detektif! Apa yang ingin kau lakukan sampai membuat sungai ini keruh?"
"Eh, haha, aku hanya ingin mencari ikan yang bersembunyi di dasar sungai ini!"
"Bodoh, mana mungkin ada ikan yang bersembunyi di dasar sungai yang nyaris seperti semen ini! Lihat saja, apa jadinya kalau aku melempar batu ini!" kemudian dengan sangat percaya diri Haibara mengambil batu dan bersiap-siap melemparkannya ke sungai. Dia berusaha meyakinkan aku kalau sungai ini memang memiliki lapisan semen.
"Hai-haibara, jangan! Aku percaya denganmu kok!"
"Oh, jadi sekarang kau percaya ya?" ujar Haibara dengan senyuman khasnya. Sial! Anak ini kembali mengejekku. Namun apa boleh buat sih, Haibara memang benar. Ada semen di dasar sungai ini. Pertanyaannya, semen itu untuk apa?
"Anak-anak, kenapa kalian bermain di sini lagi?" ujar lelaki yang kemarin menemukan kami sedang melihat-lihat sungai kemarin. "Hari ini sungai akan surut lho!" ujarnya kemudian.
"Surut?" aku mengulangi kata-katanya. "Kalau surut apa dasarnya akan kelihatan, ya?" tanyaku berpura-pura tidak tahu.
"Tentu saja, nak," ujar lelaki itu memberiku sebuah titik terang.
"Wah, kalau begitu sebaiknya kami cepat pulang, ya. Benar kan Haibara?"
"Iya, kurasa kau benar!" Haibara tersenyum seakan mengerti maksudku.
"Paman, kami pulang dulu, ya!" ucap kami sebelum kami pergi jauh dari lelaki yang kelihatannya kebingungan. Jujur saja, aku agak curiga dengan wajah kebingungannya tadi. Aku ingin tau apa yang akan dilakukannya. Tapi, aku tak bisa membuntuti paman itu. Aku mesti pulang atau tidak Ran akan marah. Alasan ada Haibara bukanlah jaminan aku akan dapat makan siang hari ini.
Perjalanan menuju villa pada awalnya berjalan dengan lancar dan aman-aman saja, namun saat kami melewati rumah tua, kejadian buruk kembali terulang.
"KYAAAA!"
"Conan, ada sesuatu yang terjadi di dalam rumah ini!" seru Haibara kaget dan cemas.
"Aku tau, cepat kau jenguk paman Kogoro! Aku akan memeriksa ke dalam!" ucapku sambil membuka pintu gerbang rumah tua tersebut dan masuk ke dalam menuju taman tempat jeritan berasal.
"Renji, lihat apa yang ada di depan rumahmu!" ujar Neiko dengan ketakutan. Karena jeritan Neiko, orang-orang yang kemarin di periksa oleh paman selain lelaki yang sering menemukan kami di tepi sungai keluar dari dalam rumah. Dan betapa kagetnya aku, aku tidak tahu siapa yang dibunuh kali ini. Tapi aku tau pembunuhnya adalah orang yang membenci orang ini.
"Hei, kenapa bisa terjadi hal seperti ini di rumahku?" ujar sang pemilik rumah, Akio, dengan wajah sangat terkejut melihat mayat yang terduduk di pohon beringin di tamannya.
"Hei, ada pembunuhan apa lagi sekarang?" ujar paman Kogoro sambil berlari buru-buru memasuki pintu gerbang. Ia berhenti tepat di hadapan mayat yang sedang aku periksa. Dan dengan cepat dia menyingkirkanku.
"Ini pekerjaan untuk orang dewasa!" ujarnya sambil memukul kepalaku.
Haibara mengiringi tepat di belakang paman. Dengan nafas tercekat dia berkata kalau dia sudah memanggil paman Kogoro dan beberapa polisi untuk datang. Aku tersenyum sebagai tanda kalau aku puas dengan apa yang ia kerjakan. Selanjutnya dari sini, aku yang akan bekerja.
"Orang ini dibunuh dengan cara ditusuk pada bagian dada yang langsung menembus ke jantung," gumam paman. "Jadi, siapa yang pertama kali menemukan mayat ini?" tanya paman pada semua yang ada di sana. Segera saja aku menunjuk Neiko dan aku sukses mendapatkan hantaman di kepalaku.
"Dia benar, pak detektif. Orang ini adalah rekan kerja kami, Daiki Moshiro. Hari ini kami ingin berkumpul untuk minum-minum bersama. Dia bilang akan keluar sebentar, tapi karena lama aku menjenguknya dan menemukan mayat ini," jelas Neiko panjang lebar untuk membuktikan bahwa dia tidak bersalah.
Lalu, bagaimana dengan kalian berdua?" tanya paman selanjutnya.
"Ka-kami ada di dalam rumah. Sedang minum bersama."
"Yah, pasti pelakunya Anda kan Neiko! Karena mereka sedang minum-minum kau memanfaatkan kesempatan untuk membunuh orang ini," kata paman yang tentu saja asal-asalan.
"Tapi kan, aku menjenguk Pak Daiki ke sini dengan waktu 2 menit. Tak mungkin aku bisa membunuhnya."
"Ha? Benar juga ya."
"Kasus ini jadi agak ribet ya. Festival akan diadakan besok. Bagaimana kalau kita menunggu sampai festival berlangsung?" ujar Haibara terengah-engah. Pertanyaan Haibara seakan menghipnotis semua yang ada di taman termasuk aku. Idenya benar-benar bagus!
Lalu, keesokan harinya, pukul 12.00 siang. 30 menit sebelum festival di mulai. Semua polisi bersiap di posnya masing-masing untuk mengawasi sesuatu yang mencurigakan. Dan tepat sekali.
DOOOORRRRR
"Hei, bunyi apa itu?"
bersambung
