Lalu, keesokan harinya, pukul 12.00 siang. 30 menit sebelum festival di mulai. Semua polisi bersiap di posnya masing-masing untuk mengawasi sesuatu yang mencurigakan. Dan tepat sekali.

DOOOORRRRR

"Hei, bunyi apa itu?"

.

.

THE SECRETS OF A RIVER

Jangan salah sangka ya! Detektif Conan hanya milik Aoyama Gosho tercinta *halah!* karakter di fic ini juga milik Aoyama, saya hanya mempunyai alur, para penjahat (O.o) dan pemeran figurannya(?)

Genre: aku ragu menentukannya, tapi kayaknya crime & misterius.

Rated : karena ada beberapa pembunuhan, ratednya jadi T.

(Author malas ngetik yang baru, jadi cuma copas dari chapter 1 aja *dilempar botol kosong!)

"Bunyinya dari arah gudang!" teriak polisi lainnya dengan tergesa-gesa. Benar sekali tebakan Haibara, hari ini pembunuhan terjadi kembali. Bahkan kali ini senjata milik pembunuh adalah pistol.

"Ini dia gudangnya! Ayo kita dobrak!"

"Satu.. dua.. tiga!" semua berusaha membuka pintu gudang yang terkunci. Bukan hal yang mudah karena pintu gudang tersebut terbuat dari bahan sejenis baja.

Entah berapa menit kami semua baru bisa membuka pintu. Namun ternyata kami terlambat. Mayat sudah tidak ada. Namun ceceran darah ada banyak sekali. Karena kejadian ini, semuanya berpendapat sama kalau kejadian empat tahun yang lalu dan kejadian yang baru saja terjadi memiliki pembunuh yang sama.

"Bagaimana ini? Mayatnya tidak tahu dimana, begitu pula dengan pembunuhnya!" keluh banyak orang saat itu.

Paman seakan tidak peduli dan kembali bergumam. Akupun sebenarnya agak kecewa. Kira-kira kemana mayat itu dibawa?

"Detektif, ada sesuatu yang aneh di sini!"

"Ha? Apa? Apa?" seru paman dengan semangat. Kemudian polisi memperlihatkan benda yang mencurigakan di tempat kejadian. Tepatnya di lantai.

"Apa ini?"

"Itu sandi!" ujarku sambil mencatat sandi yang terlihat seperti:

li ll lO /.\

"Tapi bagaimana membacanya?" tanya paman sambil melihat catatanku. "Aku belum tahu," jawabku tenang.

Kejadian kembali tak terpecahkan, namun kelihatannya aku berhasil membaca sandi tersebut.

"Conan?" teriak Ran dari depan pimtu.

"Eh, kak Ran?" jawabku kaku. Siapa yang mengantarnya ke sini?

"Maaf, kami datang terlambat," ujar profesor dan Haibara. Aku sebenarnya ingin langsung memarahi profesor namun di depan Ran aku tak bisa melakukan itu.

"Huft, untung saja sungai sedang surut. Jadi kami bisa melewati jalan pintu menuju ke sini," keluh Haibara dengan wajah kurang senang.

"Sungai surut? Jalan pintas?"

"Kau berkata apa Conan?" tanya kak Ran curiga padaku.

"Bu-bukan apa-apa," jawabku. "Kak, aku bermain dengan profesor ya!" ujarku sambil berlari menjauh dan menarik tangan profesor.

Di luar gudang aku berbisik pada profesor, "Apa profesor bisa mengumpulkan orang-orang di gedung ini?"

"Lho, jadi kamu sudah tahu siapa pelakunya ya?"

"Iya, orangnya pasti akan terjebak kali ini," ujarku dengan sangat yakin. "Cepatlah kumpulkan semua orang minimal 30 menit dari sekarang!" perintahku lagi. Sementara profesor dan Haibara mengajak pada tersangka datang ke gedung secepatnya, aku membius paman dengan jam tangan buatan profesor saat dia sedang duduk di sebuah bangku untuk berpikir.

"Hooaamm!"

Bruukk!

"Ha, Tuan Mouri? Anda kenapa?"

"Aku tidak apa-apa. Sekarang aku akan mengungkapkan kebenaran dari kasus ini setelah semua orang yang kurigai berkumpul!"

.

.

(30 menit kemudian)

"Hei, kenapa kami dikumpulkan di gedung kotor seperti ini?" protes Neiko saat dia datang bersama teman-temannya memakai mobil milik Akio yang ia dapat dari rumah tua yang menjadi tempat terjadinya kasus pertama.

"Tenanglah Neiko," Renji berusaha menenangkan. "Maaf ya, dia memang trauma dengan ruangan seperti ini," ujar Akio memberi penjelasan.

"Jadi, apa bisa dimulai sekarang tuan detektif?" ujar Haibara dengan senyum licik.

"Belum bisa, orang yang cukup penting belum datang kemari," ujarku sambil menghitung detik demi detik.

"Orang yang penting apanya?" ulang Neiko dengan nada tinggi. Ia pasti sangat tidak betah berada di gudang seperti ini bersama dengan polisi yang selalu siap untuk mengeluarkan borgolnya.

"Dia, adalah kunci dari semua kasus ini."

Saat aku bica seperti ini, semua orang terlihat agak terkejut. Tak lama kemudian, orang yang ditunggu datang sambil berteriak dari depan pintu dan membenahi jasnya, "Maaf, aku terlambat!"

Tentu saja, semua mata langsung tertuju pada orang itu, Akira Tohiro, seolah-olah dialah tersangka dari pembunuhan ini.

"Hei, ada apa ini?" tanya Akira dengan gugup. Ia mulai berkeringat dingin dan aku menjawab pertanyaannya sambil menujuk dengan tangan paman, "Ini semua karena kau adalah tersangka dari ketiga kasus ini!"

"Tidak mungkin, hanya karena aku terlambat datang kemari bukan berarti akulah yang membunuhnya kan?" sanggah Akira.

"Jadi, apa alasan kau terlambat kali ini?" tanyaku sambil sesekali melirik di antara lengan paman Kogoro.

"Aku tadi terjebak di sungai jadi terpaksa aku mencari tumpangan kemari. Mobil tumpanganku juga masih ada di depan. Silahkan periksa dan tanyakan orang yang mengemudi di sana."

"Kalau begitu akan kami periksa," ujar Renji mulai beranjak keluar.

"Tidak perlu," ujarku secepatnya. "Itu adalah mobil orang yang membantumu dalam beraksi namun kau membunuhnya di sini karena dia tidak mau mengikuti rencanamu untuk meninggalkan sandi di sini. Sementara mobil itu, Pak Akira menyuruh orang yang ditemuinya di jalan untuk membawanya sampai ke sini."

Akira diam sambil memandang sekeliling. Kelihatannya dia agak kesulitan menjawab karena semakin banyak ia berbohong maka semakin banyak ia akan terpojok dengan pertanyaan yang kusampaikan.

"Pak Akira,apa benar begitu?" ujar Neiko dengan nada memaksa. Dia benar-benar tak betah di dalam gudang berlama-lama. Pak Akira masih diam, sementara orang-orang mulai bersuara riuh ramai membuat konsentrasiku jadi buyar.

"Tapi detektif, aku tak mungkin melakukan itu," protes Akira.

"Baiklah, kita akan bahas satu per satu. Dimulai dari kasus pembunuhan ketiga. Yaitu, kasus yang baru saja terjadi.
Percikan darah di gedung ini sangat banyak, namun hanya percikan dekat pintu belakanglah yang lumayan tebal, sementara di tempat lain cenderung tipis. Dengan kata lain, mayat diseret menuju pintu belakang. Kalau perlu, kalian bisa periksa keadaan pintu belakang."

Setelah aku berkata seperti itu, polisi secepatnya membuka pintu belakang dan taraaaa... ehem ehem, maaf, dan mereka melihat bekas seretan di sana. Itu membuatku semakin yakin dengan analisaku.

"Tapi detektif, bekas seretannya berhenti hanya sampai di anak tangga terakhir. Bagaimana ini?" ujar salah satu polisi.

"Kemungkinan, mayat dimasukkan ke dalam mobil tersangka, dan dibawa ke sebuah tempat yang jaraknya cukup dekat dari sini. Jadi bisa kita simpulkan bahwa tersangka adalah orang yang tidak membawa mobil pribadinya kemari karena ada banyak darah di sana.
Kasus pertama, adalah kasus ditemukannya potongan tangan kiri seseorang yang belum kita ketahui milik siapa. Namun jika diperhatikan, tak ada darah yang mengalir di sana. Berarti tangan tersebut berasal dari mayat yang sudah mati, bukan dari orang yang masih hidup lalu dibunuh.
Sementara itu, pada kasus kedua. Pak Daiki mungkin sedang berjalan-jalan dan melihat Pak Akira sedang membawa senjata yang digunakan untuk beraksi. Karena ketakutan Pak Akira menusuknya dengan barang bukti dan pergi setelah Pak Daiki benar-benar tak bernyawa."

"Pak detektif, itu penjelasan yang tidak logis buatku. Kau berkata aku yang melakukannya, saat kejadian berlangsung aku sedang ada sungai untuk berenang."

"Itulah kata kuncinya!" ujarku membuat Pak Akira makin terdesak. "Kita masih belum tahu kan, dimana letak mayat dibuang?
Menurutku, tempat mayat dibuang dan tempat Pak Akira mengambil potongan tangan ada di tempat yang sama. Yaitu di sungai."

Aku berhenti sejenak. Suasana mulai terasa tegang. Kemudian aku melanjutkan analisaku, "Haibara!" seruku pada Haibara.

"Kau melihat dasar sungai yang seakan-akan dilapisi semen, kan?"

"Iya, ada dasar yang tertutup semen dan ada juga yang tidak. Karena tertimbun tanah, lapisan itu sulit terlihat."

Orang-orang bergumam dan berbisik-bisik lalu bertanya pada Haibara tentang kebenarannya. Tentu saja Haibara membenarkan apa yang dilihatnya.

"Haibara memang berkata jujur. Lapisan semen tersebut adalah makam di dasar sungai yang dibuat sedemikian rupa pada saat sungai surut. Jalan pintas menuju gedung ini dan rumah tua juga terdapat pada sungai. Tadi siang sungai surut kan? Mungkin waktu itulah Pak Akira menguburnya dan melapisi dengan semen yang sudah disiapkannya di tepi sungai. Setiap hari dia menengok sungai tersebut untuk melihat apakah lapisan semen yang baru dia buat masih ada atau tidak."

"Tuan detektif, aku terpukau dengan apa yang kau ucapkan namun untuk apa aku melakukan itu semua jika yang kau katakan memang benar?"

"Untuk motif, sebaiknya kita bahas dulu mengenai sandi yang ditulis rekan Pak Akira dalam melakukan kejahatan ini di lantai gedung karena dipaksa oleh Pak Akira. Sandi itu tertulis seperti:
li ll lO /.\
Sandi tersebut terasa ganjil jika dibaca seperti itu, karena pada saat membuatnya jari korban sudah lemas untuk digerakkan dan sandi tersebut tergeser karena mayatnya diseret. Mungkin, sebenarnya yang ingin ditulisnya adalah:
li = R
ll = N
lO = D
/.\ = A
RNDA yang dimaksud adalah orang-orang yang membunuh orang yang tangan kirinya dipotong oleh Pak Akira, yaitu Renji, Neiko, Daiki dan Akio!"

Semua orang terkejut bukan kepalang, hanya Pak Akira yang tersenyum sambil berkata, "Tangan yang kupotong adalah tangan kiri anakku yang bunuh oleh mereka berempat. Aku baru sadar kalau dia telah dibunuh semenjak dia tak pernah lagi pulang ke rumah. Aku mencari bukti pembunuhan namun tak kutemukan, lalu empat tahun berlalu dan aku menemukan makamnya di dasar sungai. Dan dimayat anakku tertulis sandi seperti tadi. Segera aku tahu dan akhirnya merencanakan hal ini.
Andai empat tahun yang lalu kau berlibur ke daerah ini tuan detektif, aku tak akan melakukan hal seperti ini."

Pada akhirnya orang-orang tersebut di tangkap oleh polisi. Penduduk sekitar menggali dasar sungai yang ada lapisan semennya pada saat sungai surut. Kemudian mereka menemukan dua mayat, yang salah satu daari dua mayat tersebut tangan kirinya terpotong.

Karena Ran agak takut dengan penemuan itu, kami memutuskan pulang. Sekitar tiga hari kemudian, libur selesai dan kami masuk sekolah seperti biasa.

"Shinichi, kudengar detektif bodoh itu semakin terkenal karena kejadian waktu itu ya?"

"Tentu saja, aku jadi merasa agak menyesal karena membantunya. Yang mestinya terkenal kan aku!"

"Tenang saja, masih ada liburan lagi untuk menjadi terkenal, Shinichi!"

"Jangan bercanda, aku bosan dengan kasus terus menerus, Haibara. Aku ingin segera mengejar kawanan berjubah hitam itu!"

"Sabar, suatu saat mereka pasti akan menunjukkan jalan kemenangan kepada kita, Shinichi!"