Naruto©Masashi Kishimoto

.

.

.

I Always Love You © Rei

.

.

Pairing: Kakashi X Sakura

.

Warning: Jelek, Gaje, Ga mutu, aneh, Typo(s)dll.

Chapter 3 : The Truth

Guru Biologi itu duduk sendirian di Labolatorium Biologi, setelah ditinggalkan oleh salah seorang muridnya. Kakashi termenung, memikirkan kejadian 3 tahun yang lalu. Kejadian itu benar- benar membuatnya terpuruk, dia telah menyakiti hati Sakura.

"Huh, seharusnya itu tidak terjadi" dengusnya pelan

Kakashi mulai mengingat- ingat kejadian tragis yang menghilangkan nyawa mantan kekasihnya. Kepalanya terasa pening, dia muliai menyandarkan punggungnya ke sofa, mendongakkan kepalanya ke langit- langit dan mulai memijit- mijit pelipis kanannya dengan tangan kanannya.

Dia mulai melirik jam dinding yang terpajang di atas pintu Labolatorium Biologi. Jarum pendek sudah menunjuk angka tiga sedangkan jarum panjanh juga menunjuk angka yang sama. Matanya mulai terpejam mengingat- ingat kejadian 'itu'. AC yang menyembur pelan di atas kepalanya membuat rambut tegaknya melambai-lambai. Mungkin terasa nikmat sehingga setelah lima menit mulai terdengar dengkuran kecil dali mulutnya.

*Flashback on*

Kakashi's POV

KRING ! KRING ! KRING !

"Uh.." Kataku pelan sambil meraih jam bekerku.
'Sudah jam 11 pagi' batinku

Aku ada janjian dengan pacarku, Rin-chan. Kelihatannya sudah sekitar satu bulan aku berpacaran dengannya. Tetapi kali ini aku tidak tahu ada acara apa dia mengundangku ke rumahnya, orang tuanya juga sedang ada urusan bisnis keluar negeri, jadi tidak mungkin dia berencana mengenalkanku pada orangtuanya. Tapi ya sudahlah, apapun itu kalau membuat Rin-chan senang aku juga ikut senang. Aku benar- benar mencintai Rin-chan, aku tahu dulu dia berpacaran dengan Obito, maka dari itu aku tidak berani bilang padanya, tapi satu bulan yang lalu dia berkata bahwa ia sudah putus dari Obito. Akupun langsung memanfaatkan kesempatan ini dengan baik, malam harinya aku mengajak dia ke Konoha Resto, restoran termewah dan terlezat di Konoha. Di sana aku "menembak"nya, senang sekali aku mendengar kalau dia menerimanya. Aku berharap dia sudah melupakan Obito dan mulai mengganggap aku.

Aku segera mengambil pakaian, aku memilih t-shirt senada dengan warna rambutku, tentu saja dengan under wear dan celana jeans favotitku. Aku segera melesat ke kamar mandi karena aku janjian dfengan Rin-chan jam 12 dan ini sudah jam 11 lewat.

"Ayame..." Sahutku sambil memakai sepatu.
"Iya, Hatake-sama"jawab Ayame cepat, Ayame adalah pembantu yang bekerja di rumahku ini.

Rumahku terletak dikawasan elite Konoha karena ayahku adalah pemilik Hatake Corp, perusahaan terkenal yang hampir menguasai seluruh bisnis. Rumahku ini berlantai dua, lantai pertama hanya berisi ruang tamu, dapur, ruang makan, kamar pembantu, sedangkan dilantai dua terdapat ruang kerjaku, kamar tidurku dan kamar ayahku saja. Rumahku ini di desain gaya rumah barat. Banyak perabot kuno di rumahku ini karena aku memang suka dengan barang antik. Ruang tamu di rumahku terletak di dalam bukannya didekat pintu masuk, disebelah ruang tamu itu disajikan pemandangan taman rumah tetapi sudah dibatasi dengan kaca transparan.

"Ayame, saya mau pergi, tolong jaga rumah baik- baik" pesanku pada Ayame.
"Baik Hatake-sama" jawabnya sambil membukakan pintu depan rumahku.

Akupun berjalan menuju mobilku yang kemarin aku parkir didepan rumah. Mobilku adalah Lamborghini berwarna perak. Aku segera masuk ke mobilku, mulai menstarter dan meluncur ke rumah Rin-chan. Rumahku dengan rumah Rin-chan berjarak sekitar 25 menit, tapi karena aku ngebut aku bisa menempuhnya dalam waktu 20 menit. Akupun segera menekan bel pintu.

"Kakashi-kun" kata Rin-chan sambil memelukku.
"Yo ! Rin-chan, selamat pagi" sapaku sambil membalas pelukkannya kemudian mengecup keningnya.
"Mari masuk Kakashi-kun"sambut Rin-chan sambil menggelayut ditanganku
"Hn..."

Ini bukan pertama kalinya aku ke rumah Rin-chan, tetapi aku tidak pernah menemui anggota keluarganya yang lain. Kata Rin-chan dia memiliki seorang adik perempuan, tapi aku belum pernah melihatnya.

"Sebentar ya aku ambilkan minum dulu" kata Rin-chan
"Ah tidak usah Rin-chan, sebenarnya ada apa kamu memintaku datang kerumahku ?" Jawabku, memegang tangan Rin-chan supaya dia tidak pergi dan menariknya agar kembali duduk ke sofa.
"O...iya aku lupa mengatakannya, dulu aku berjanji pada adikku untuk mengajakknya ke Konoha Wonderland waktu libur kenaikan kelas 2 SMP, nah aku harap Kakashi-kun mau menemaniku dan adikku pergi ke Konoha Wonderland" katanya
"Kalau aku, mau- mau saja menemani kalian, tetapi adikmu boleh tidak ?" Jawabku santai
"Ya tunggu saja nanti jawabannya, tapi aku yakin boleh karena Saku-chan adalah anak yang suka menambah teman"

Setelah bercakap- cakap ringan dengan Rin-chan, aku melihat ada seorang gadis yang turun dari tangga melingkar itu. Dia berambut merah muda. Apa ini ya adikknya Rin-chan batinku. Karena melihatnya dari belakang aku tidak bisa melihat wajahnya begitu jelas, kemudian Rin-chan memanggilnya.

"Saku-chan, sini !" Panggil Rin-chan yang ditujukan pada gadis berambut merah muda itu.
"Ya ,ada apa nee-chan ?" Jawabnya sambil turun dari tangga dan memalingkan wajahnya.

Sekilas aku bisa melihat wajahnya yang sudah mulai mendekatiku. Dia gadis bermata emerald, dengan wajah putih bersih, serta body yang menurutku lumayan untuk anak kelas dua SMP. Dia menggenakan baju santai, t-shirt berwarna senada dengan rambutnya, jeans, dan didukung dengan rompi yang dikenakannya dia nampak cantik. Rin-chan mulai memperkenalkanku pada gadis bermata emerald ini.

"Ini perkenalkan, pacar nee-chan, Kakashi Hatake, Kakashi-kun perkenalkan ini adikku namanya Sakura Haruno"
"Yo ! Salam kenal Sakura, aku Kakashi, kamu bisa panggil aku Kakashi-nii" responku cepat sambil mengulurkan tanganku.
"Ya, salam kenal juga Kakashi-nii, aku Sakura" kataknya sambil membalas uluran tanganku.
"Hm.. Adikmu cantik ya Rin-chan"kataku menggoda.
"Eh, jangan macam- macam dengan adikku ya, nanti kamu dicap pedofil" balas Rin-chan santai.

Aku melihat wajah Saku-chan merona karena perkataanku tadi. Benar anak SMP yang imut batinku.

"Eh, Kashi-nii ada acara apa datang kesini ? Ini Sakura dan Rin-nee mau pergi lho !" Kata gadis imut itu.
"Saku-chan, sebenarnya Rin-nee mau mengajak Kakashi-kun ikut dengan kita, tapi kamu keberatan tidak ?" Jelas Rin-chan
"O.. Ya tidak apa- apa Rin-nee, Sakura senang dapat teman satu lagi" jawabku dengan gembira
"Nah itu, Kaka-kun, kamu boleh ikut sama Saku-chan"
"Ya ya, aku ikut saja kalau begitu" kataku pasrah.

Konoha Wonderland adalah taman anak- anak remaja, sebenarnya aku tidak begitu suka datang ketempat ini, tetapi karena pacarku tersayang yang memintanya, tentu aku akan menemaninya dengan senang hati. Walau secara konsep penataan taman rekreasi ini sangat menarik, dengan pembagian tempat permainan, maksudku permainan yang memicu adrenalin dengan permainan yang tidak memicu adrenalin di pisahkan, tetapi sekali lagi aku tetap tidak tertarik dengan permainan yang ada.
Waktu kami masuk dipintu gerbang, setelah membayar ticket, sudah disuguhi pemandangan menarik, air mancur warna- warni yang berlapis- lapis.

"Wah air mancurnya bagus sekali ya" kata Saku-chan.
"Iya ya romantis sekali" sahut Rin-nee sambil menggelayut ke tanganku.

Aku hanya diam saja mendengarkan adik kakak ini mengagumi air mancur ini. Walaupun ini air mancur yang luar biasa, tetapi aku bukanlah orang yang mudah kagum.

Rin-chan terus saja bergelayut di tangaku ini, aku senang- senang saja, karena aku memang menyukainya. Tapi wajah Saku-chan nampak kecewa, jangan- jangan dia cemburu, pikirku sambil tertawa kecil.

"Uh..." Saku-chan mendengus pelan.
"Eh, ada apa ? Kenapa begitu ? Kamu tidak suka pergi kesini dengan Rin-nee ?" Kata Rin-chan menaggapi dengusan Saku-chan.
"Ah, bukan apa- apa nee-chan, Sakura suka sekali pergi kesini, eh Rin-nee, Kashi-nii kita antri buat naik roller coaster, yuk" kata Saku-chan sambil menarik tanganku dan Rin-chan ketempat antrian roller coaster

Roller coaster ini benar- benar luar biasa, antriannya panjang sekali pikirku. Sudah sekitar 30 menit aku menunggu tetapi majunya hanya sedikit- sedikit.

"Uh, lama sekali, aku pegal berdiri terus" keluh Saku-chan
"Ya udah sini, Kakashi-nii gendong, hahahahah..." Jawabku
"Ih, Kashi-nii genit" kata Saku-chan sambil menginjak kaki kananku.

Waktu aku bercanda dengan Saku-chan, Rin-chan terlihat membuang muka alias cemburu, aku senang dengan hal itu, karena artinya dia benar- benar sayang denganku. Aku lihat wajah Rin-chan makin aneh, raut wajahnya berubah, bukan raut wajah orang cemburu, dia seperti melihat hal yang buruk.

'Apa mungkin dia terlalu capai berdiri ya ?' Batinku.

"Eh Saku-chan, Kaka-kun kita pindah saja, capai, kita sudah menunggu lama sekali." Kata Rin-chan tiba- tiba
"Lho, kan kita sudah terlanjur antre disini, Rin-nee," jawab Saku-chan cepat

Berarti dugaanku benar kalau Rin-chan terlalu capai berdiri, bukan karena sakit atau semacamnya, karena wajahnya juga tidak begitu pucat.

"Ya sudah, kalau begitu Rin-chan menunggu di Konoha Cafe saja, aku akan menemani Saku-chan" putusku
"Uh.., kenapa kamu lebih memilih menemani adiknya pacarmu dari pada menemani pacarmu ?" Kata Rin-chan ngambek
"Lho, kamukan sudah dewasa, bisa jaga dirikan ? Kalau Saku-chan masih anak- anak, nanti kalau diculik bagaimana ?" Jawabku santai
"Eh.., siapa juga yang anak- anak ?" Jawab Saku-chan sambil menginjak kakiku yang satunya.
"Jadi kamu tidak mau ditemani Kakashi-nii ? Tanyaku sambil tersenyum menggoda

Karena aku terfokus dengan percakapan dengan Saku-chan, aku sampai tidak sadar kalau Rin-chan sudah pergi meninggalkan kami berdua. Kelihatannya dia ngambek, tapi tidak apalah, kan tujuan dia pergi ketempat ini untuk menyenangkan hati adiknya bukan berpacaran denganku. Nanti malam aku berencana minta maaf padanya.

"Rin-nee sudah pergi, kelihatannya dia marah padamu Kashi-nii" kata Saku-chan dengan nada menyesal.
"Saku-chan tidak perlu merasa bersalah, nanti pasti sudah lupa" kataku sambil mengacak- acak rambut merah mudaknya.
"Eh, Kaka-nii sejak kapan pacaran dengan Rin-nee ?" Tanya Saku-chan penuh selidik.
"Hm ? Untuk apa Saku-chan bertanya seperti itu ?" Jawabku ketus
"Cuma penasaran saja"
"Hm ? Sejak kapan ya ? Satu bulan yang lalu mungkin."
'Belum lama' batinku
"Kashi-nii tahukan kalau Rin-nee, dulu pernah punya pacar ?"
"Tahu, Obito-kun kan ? Kata nee-chan mu mereka sudah putus"
"Oh, kupikir nee-chan selingkuh dengan Kashi-nii"
"Ada- ada saja kamu" kataku sambil tertawa kecil

Selama menunggu roller coaster aku banyak bercakap- cakap dengan Saku-chan. Dari percakapanku dengan Saku-chan, aku tahu kalau dia sekarang baru naik kelas dua SMP Konoha dengan nilai yang Rin-chan tidak pernah menceritakan diriku pada Saku-chan padahal kami sudah resmi berpacaran sekitar satu bulan yang lalu. Tetapi kenapa Rin-chan menceritakan Obito kepada Saku-chan, sedangkan aku tidak ? Aku tidak ingin berpikir tidak- tidak, aku benar- benar mencintainya.

"Kashi-nii, Saku-chan ke kamar mandi dulu." Kata Saku-chan sambil berjalan keluar barisan
"Ok, cepat ya ! Nant,i Kakashi-nii tinggal lho." Jawabku cepat

Aku menunggu Saku-chan pergi ke kamar mandi cukup lama sekitar 5 menitan. Yah, aku paham, mungkin masih antri, lagi pula perempuan kalau ke kamar mandi lama.

"Kashi-nii, sudah lama ya" sapa Saku-chan sambil membungkuk untuk menghindari pembatas supaya bisa masuk ke antrian lagi.
"Ah, tidak" jawabku.

Ketika Saku-chan kembali aku melihat wajahnya pucat. Dahinya mengkerut seperti melihat hantu. Raut wajahnya juga banyak berupa, yang tadi tampak ceria sekarang terlihat murung. Saku-chan dari tadi banyak bicara, tetapi sekarang kenapa diam saja ? Batinku cemas. Apa waktu ke kamar mandi tadi dia terjatuh ? Atau dia juga capai berdiri ? Tapi wajahnya ini lebih pucat dan lebih horror dari wajahnya Rin-chan. Atau sepertinya dia melihat sesuatu yang buruk di sini ? Terkaku dalam hati.

"Hey, ada apa ? Kenapa wajahmu pucat sekali Saku-chan ?" Tanyaku dengan nada khawatir
"Ah tidak apa- apa Kashi-nii" jawabnya cepat.
"Jangan- jangan kamu sakit ya ?" Timpalku sambil meletakkan telapak tanganku di dahinya.
"Ah tidak- tidak, aku sehat- sehat saja Kashi-nii" sambil menyingkirkan tanganku dari wajahnya.
"Tidak, wajahmu pucat sekali, ayo kita pulang saja" Aku menarik tangan Saku-chan untuk keluar antrian.
"Jangan Kashi-nii, kita sudah terlanjur disini"kata Saku-chan sambil meronta
"Tidak apa- apa, lain kali kita ke sini lagi, ayo pulang saja, aku mengkhawatirkaanmu" jawabku jujur.

Aku tidak tahu kata yang mana yang bisa membuatnya tidak meronta lagi, tapi kali ini Saku-chan benar penurut, dia mau pulang. Aku menggandengnya ke Konoha Cafe untuk menjemput Rin-chan yang dari tadi menunggu kami. Konoha Cafe letaknya tidak begitu jauh dari permainan roller coaster hanya dua menit berjalan bisa mencapai lokasi. Sekitar satu menit kami berjalan aku bisa melihat pintu toilet yang kemungkinan tadi dikunjungi oleh Saku-chan. Kalau jarak perjalanan pulang perginya tiga menit, ya wajarlah tadi Saku-chan ke toiletnya lama. Tapi dari tempat toilet itu aku sudah bisa melihat plang Konoha Cafe yang besar beserta orang yang makan diserambi cafe itu.

Tunggu- tunggu, itu Rin-chan, tapi ia duduk bersama siapa pakai pegang- peganggan tangan lagi? Otakku hanya butuh dua detik untuk menyadari bahwa orang yang bermesraan dengan kekasihku itu adalah Obito. Aku cemburu dengan menyaksikan adegan berpegangan tangan lagi. Dalam hati aku berusaha menenangkan diriku, mungkin itu hanya pertemanan saja. Aku terus mengulang kata-kata ini agar tidak menghajar Obito dan bisa memberika pertanyaan untuk kejelasan aksi (baca : bermesraan dengan Rin-chan) ini. Tapi emosiku sudah memuncak ketika aku melihat mereka beciuman dengan mesra, bibir bertemu bibir. Aku melihat mereka seperi tidak sadar kalau dari tadi aku sudah berjalan menuju ke arah mereka. Dahiku mengkerut melihat pemandangan busuk seperti itu, aku melepaskan pegangan tanganku dari Saku-chan agar dapat berjalan lebih cepat. Aku tidak tahu jika aku tidak bisa mengontrol emosiku lagi ketika sampai dimeja mereka.

'Aku mencintaimu Rin-chan, kenapa kau tega mengkhianatiku ?'Batinku pelan. Aku merasakan seperti ada seribu duri yang menusuk- nusuk jantungku, benar- benar sakit rasanya.

"Aku pikir kalian sudah putus saat kita mulai berpacaran, Rin-chan" kataku ketus sambil mencengkeram bahunya.
"Kakahi-kun..." Kata Rin-chan, tapi aku pura- pura tuli
"Apa maksudnya ini ?" Timpal Obito yang sekarang sudah berdiri sambil menggebrak meja.

Setelah lima detik mencerna suasana, akhirnya aku paham. Rin-chan berpacaran denganku dengan mengaku sudah putus dengan Obito, sedangkan ia masih berpacaran dengan Obito dan Obito juga tidak mengetahui kalau Rin-chan sudah pacaran denganku. Perempuan macam apa dia ? Batinku kesal. Dalam posisi ini aku juga tidak bisa menyalahkan Obito, karena dia juga sama- sama tidak tahunya.

"Obito-kun, Kakashi-kun, aku bisa menjela.."
"Cukup, aku paham akan semua ini, kamu pacaran denganku, tetapi kamu juga masih berpacaran dengan Obito, jadi dari awal kamu sudah berbohong padaku." Kataku pura- pura tuli tidak mendengar ucapannya dan langsung ku potong cepat.
"Tapi, Kakashi-kun, sebe.."
"Sudah, tidak ada tapi- tapi lagi, aku kecewa padamu Rin, kita putus" potongku lagi sambil pergi meniggalkan mereka berdua.

Aku tidak peduli lagi jika mata seluruh mengunjung Konoha Cafe kearah kami bertiga, aku benar- benar kecewa. Aku melihat gadis berambut merah muda mengamati kami bertengkar dengan wajah khwatir. Aku segera menyambar pergelangan tanganya untuk mengajaknya pulang karena tadi aku sudah berjanji untuk menghantarnya pulang. Gadis ini tidak meronta ketika aku menarik tangannya untuk menuju ke mobilku, dalam perjalanan menuju mobil juga tidak ada sepatah katapun yang mengalir dari mulut kami.

"Kashi-nii" Dia mulai memanggilku dengan nada khawatir saat aku dan Saku-chan sudah berada didalam mobilku. Ini benar- benar memecahkan keheningan.
"Hn" aku menjawab ketus.
"Kashi-nii, marah dengan Rin-nee ya" kataku
"..." Aku pura- pura tuli lagi, rasanya sakit sekali menjawab pertanyaan ini.
"Kashi-nii, tolong maafkan Rin-nee ya, mungkin Rin-nee tidak bermaksud untuk menyakiti Kashi-nii"
"..." Lagi- lagi aku pura- pura tuli, aku tidak mungkin menjawab pertanyaan semacam itu.
"Kita masih bisa bertemankan Kashi-nii ?" Tanyaku
"Ya, kenapa tidak ?" Kali ini aku menjawab pertanyaan Saku-chan karena hal ini tidak ada sangkut pautnya dengan orang yang telah menghancurkan hatiku.

Aku mengendarai mobilku dengan penuh konsentrasi walaupuun dengan emosi yang tidak stabil. Suasana di dalam mobilku benar -benar hening, tidak ada satupun dari kami yang membuka mulut. Akupun sedang tidak mau membicarakan hal apapun. Tak terasa aku sudah menyetir sampai didepan rumah Saku-chan. Dia langsung cepat- cepat turun, kelihatannya dia takut jika aku lebih marah lagi.

"Kashi-nii, aku turun dulu ya, terima kasih untuk segalanya, tolong maafkan nee-chanku ya" pamitnya
"Ya" jawabku malas.

Aku tidak ingin mampir lagi ke rumah perempuan busuk itu, aku masih sakit hati. Sepertinya Saku-chan tahu akan hal itu sehingga tidak mempersilahkanku masuk. Setelah Saku-chan menutup pintu mobil, aku segera melesat ke rumahku. Sekitar 20 menit aku baru sampai dirumahku itu. Aku menekan bel rumah, Ayame langsung membukakan pintu dengan cepat.

"Selamat datang Hatake-sama" sapanya
"..." Sekali lagi aku pura- pura tidak Mendengar

Aku mengabaikannya dan segera berjalan menuju kekamarku. Aku langsung merebahkan diriku di atas kasur king-sizeku. Ya Tuhan, kenapa cobaan hidupku begitu berat ? Aku mencintai seorang wanita dan dia begitu cepatnya melupakan aku. Aku merasa bahwa dunia ini tidak adil, aku memiliki banyak penggemar, tetapi aku tidak mencintai mereka, aku hanya mencintai Rin-chan, kenapa dia mengkhianatiku ?

Aku benar- benar tak habis pikir. Sudah seminggu aku memutuskan hubunganku dengan Rin-chan, aku masih marah dengan kejadian di Konoha Wonderland. Tetapi rencananya aku ingin ke rumah Rin-chan untuk meluruskan masalah ini.

Tidak ada angin, tidak ada hujan, Rin-chan tiba- tiba datang ke rumahku. Rin-chan langsung masuk ke ruang kerjaku tanpa mengetuk. Wajahnya nampak lusuh, dia seperti depresi berat. Matanya sembab, kantong matanya lebar, tangannya gemetaran.

'Tunggu, kenapa dia menggegam pisau ?' Batinku mulai cemas dan panik tentunya, bukan karena aku takut ditusuk oleh pisau itu, bagaimana kalau Rin-chan yang tertusuk nanti ?

"Rin-chan" kataku pelan
"..." Dia tidak membuka mulut sedikitpun dan malah mendekatkan pisau itu ke lehernya.
"Rin-chan, apa yang kalu lakukan ?" Tanyaku pelan sambil mendekatinya
"DIAM!, kalau kau mendekat aku akan bunuh diri di sini" Dia menjerit keras.
"Rin-chan, kalau begitu ada masalah apa kau ? Tolong ceritakanlah." Kataku sambil mengambil dua langkah kebelakang.
"..." Dia kembali tidak menjawab, walaupun sudah menjauhkan pisaunya dari lehernya itu.
"Rin-chan, tolong" pintaku pelan.
"Kashi-kun, dia telah mengkhianatiku" desahnya pelan
"Apa maksudmu ? Aku tidak paham." Jawabku
"Dia.., dia, dia, Obito-kun, dia telah meng..."
" 'Meng' apa ?" Tanyaku penasaran
"Meng..meng...menghamiliku" jawabnya, air matanya kini benar- benar mengalir deras dari kedua buah matanya.
"Apa ? Kau bercanda kan ?" Tanyaku tidak percaya.

Hatiku bertambah hancur mendengar jawaban itu, rencananya hari ini aku ingin ke rumah Rin-chan untuk meluruskan masalah ini. Masksudku adalah apakah kita benar- benar putus atau tidak, waktu memutuskan Rin-chan waktu itu aku hanya emosi sesaat saja. Setelah kejadian itu, aku selalu memikirkan Rin-chan, aku tahu aku masih mencintainya. Tetapi dengan kedatangan Rin-chan ini dan menyampaikan kabar buruk seperti ini benar- benar membuatku makin sedih dan marah.

"Tidak.." Jawabnya lirih

Aku berusa menahan kakiku untuk tidak bergerak keluar kamar, tidak keluar rumah, tidak naik mobil, tidak ke rumah Obito dan memukulinya disana.

"Kalau begitu kau harus meminta pertanggung jawaban Obito" jawabku dengan terpaksa
"Tapi Obito tidak mengakui anaknya ini" jawab Rin-chan cepat sambil menghapus air mata dari pipi- pipinya.
"Lalu kenapa kau datang kesini ?" Jawabku dengan nada marah
"Aku ingin..."
"Ingin apa ?" Bentakku
"Aku ingin kamu menikahiku Kaka-kun"
"Apa ?" Aku tidak percaya dengan perkataan-nya ini
"Kau mencintaiku kan ?" Tanya Rin-chan meyakinkan

Akupun berpikir sesaat, aku memang mencintainya, tetapi kondisinya sudah lain. Saat sedang senang dia membagi kesenangannya dengan orang lain, tetapi saat kesulitan baru meminta pertolonganku. Setelah aku berpikir ulang, artinya Rin-chan memanfaatkanku. Sebenarnya aku tidak suka dimanfaatkan oleh wanita, tetapi aku mencintainya, jadi mungkin selama satu bulan ini aku tidak sadar kalau sudah dimanfaatkan terus. Cinta itu benar- benar buta.

"Tidak" jawabku setelah melakukan pemikiran tadi.
"Kenapa ?" Jawabnya dengan air mata mulai mengalir lagi
"Karena selama ini kau sudah memanfaatkanku, kau tidak menganggapku apa- apa, kalau kau tidak ada kesulitan kau tidak akan mengingatku" jawabku
"Tapi aku benar- benar mencintaimu" sergahnya
"Tidak, itu hanya bicaramu saja, kenyataannya kamu tidak mencintaiku, kalau kau mencintai Obito menikahlah sana dengannya"
"Jadi kau tidak mencintaiku lagi ?"
"Maaf Rin-chan, tapi rasa cinta itu sudah lenyap" jawabku yakin
"Kalau begitu aku bunuh diri saja di sini" ancamnya
"Apa ? Pikirkan lagi Rin-chan, Saku-chan pasti sangat sedih kalau kau meninggalkannya"
"Kalau begitu hidupku sudah tidak ada artinya lagi, laki- laki yang menjadi anakku ini tidak mau bertanggung jawab, sedangkan yang kucintai tidak mempercayaiku lagi"
"Tapi masih ada Saku-chan" kataku mengulangi perkataanku yang sebelumnya
" Aku tidak bisa menanggung aib ini lagi, sebentar lagi papa dan mama akan pulang, mereka pasti marah melihat putri sulungnya seperti ini"
"Mereka pasti akan mengerti Rin-chan"

Aku mendengar ketukan pintu, tapi aku mencoba menghiraukannya, mungkin itu hanya Ayame yang mengantarkan makan siangku.

"Tidak, aku tidak mau mencoreng nama baik keluarga Haruno" jawab Rin-chan
"Kalau kau bunuh diri sama saja dengan mencoreng nama baik keluargamu"
"Tapi menurutku ini lebih baik, dari pada harus hidup dengan cibiran orang lain"
"Tenang dulu Rin-chan, kita bisa membicarakan ini baik- baik"
"Jadi kau mau menikahiku ?"
"Maaf Rin-chan, tetapi jawabnanya sama, tidak"

"Yah, selamat tinggal Kakashi-kun, senang bisa bertemu denganmu, sampaikan permohonan maafku ini keseluruh teman dan kelurgaku ya"

Itulah kata- kata terakhir Rin-chan sebelum dia menempelkan sisi tajam pisau kelehernya, menekannya dalam- dalam, kemudian menariknya. Aku tidak sempat menghentikannya karena jarak kami sekitar 8 langkah. Ketika aku sampai disisinya dia sudah terjatuh dan bersimpuh darah, darahnya mengalir deras dari lehernya. Aku segera menempelkankan tangan kiriku di lehernya berharap darah bisa benrhenti mengalir, walaupun itu mustahil. Aku memegang pisau dari tangan kanannya dan memindahkannya ketangan kananku untuk ku letakkan. Perasaanku benar- benar kacau, melihat orang yang kucintai mati di depanku. Tetapi saat aku belum meletakkan pisau ke lantai, pintu ruang kerjaku sudah terbuka. Seorang gadis berambut merah muda masuk dan melihat kami berdua ini.

"RIN-NEE..!" Teriak gadis itu kencang.

Gadis itu menjerit keras kemudian jatuh tak sadarkan diri. Aku segera meraih hand-phoneku untuk menelpon ambulance.

Setelah 5 menit ambulanca baru datang, Rin-chan tidak dapat diselamatkan. Sebelum ambulance datang dia telah menghembuskan napas terakhirnya didekapanku. Aku tidak tahu kenapa ada sesuatu yang basah mengalir dari kedua mataku. Petugas segera menutup jenazah Rin-chan dan membawanya ke rumah sakit untuk diperiksa lebih lanjut. Petugas yang lainnya membawa Saku-chan yang tidak sadar ke rumah sakit.

'Hari ini adalah hari yang tragis' batinku

Aku segera menelpon paman Saku-chan, Jiraya-jiisan. Aku menceritakan semua kejadiannya padanya agar dia dapat mengabari orang tua Saku-chan secepat mungkin.

Kasus kematian ini dapat diselesaikan dengan mudah, sudah diputuskan ini adalah kasus bunuh diri, bukannya aku pembunuhnya. Untung saja ruang kerjaku dilengkapi kamera, sehingga semua percakapan kami dan perilaku kami terekam disana. Dari pihak keluarga Rin-chan juga menerima dengan ikhlas kepergian putri sulung mereka. Merekapun juga memaafkan Obito yang menjadi penyebab utama kematian Rin-chan. Tapi hanya satu orang yang tidak dapat menerima kenyataan ini, yaitu Saku-chan. Dia terus mengaggap aku sebagai pembunuhnya. Walaupun sudah dijelaskan orang tuanya, dia masih tetap tidal percaya.

Aku sendiri pergi ke London untuk menempuh pendidikan disana, karena kuliah ekonomiku sudah tamat tahun ini. Aku ingin melupakan semua kejadian buruk ini dan memulai hidup yang baru. Aku tertarik pada biologi, maka dari itu di London aku memilih jurusan itu.

Setelah 3 tahun kuliah, aku dapat lulus dengan nilai kumlout. Aku ingin mangajar, walaupun orang tuaku sudah kaya, aku tetap ingin menambah pengalaman. Akhirnya aku diminta mengajar di SMA Konoha, SMA terbaik seluruh kota Konoha.

*End of Flashback*

End of Kakashi's POV

Pria itu kembali membuka matanya setelah 45 menit tertidur. Entah karena kelelahan atau terlalu stres memikirkan muridnya yang berambut merah muda itu. Dia mulai medesah pelan, meregangkan badannya yang kaku karena tertidur dalam posisi duduk. Mulai mengangkat tangannya, memutar kepalanya ke kiri dan ke kanan.

Dia melirik jam, sekarang jarum panjang sudah menunjukkan angka dua belas, sedangkan jarum pendekknya angka empat. Kakashi mulai beranjak dari kursinya dan berjalan pelan menuju meja kerjanya. Mulai memunguti dokumen- dokumen pentingnya, mematikan laptop mac-nya dan memasukkannya kembali ke tas. Kakashi segera menuju satu- satunya pintu yang ada di ruangan itu dan menguncinya dari luar.

Guru berambut perak itu mulai berjalan di koridor sekolah yang sudah benar- benar sepi. Tidak ada satu suarapun selain suara dari langkah kakinya sendiri. Sambil berjalan dia mulai berpikir akan masalhnya yang satu itu.

Kakashi's POV

'Aku benar tidak habis pikir bagaimana cara memberitahu Saku-chan, melihat mukaku saja dia sudah tidak mau, apa lagi bercakap- cakap denganku' batinku

Kupikir semuanya akan berjalan lancar untuk kehidupan baruku ini, ternyata tidak. Di hari pertama mengajar, aku sudah bertemu kembali dengan Saku-chan, adik Rin-chan yang sekarang menjadi muridku. Saku-chan tumbuh menjadi remaja yang sangat cantik dengan body yang semakin menggiurkan.

Aku benar- benar ingin menceritakan kebenaran kejadian 3 tahun yang lalu. Hatiku merasa terganjal kalau masih ada yang menyangka aku pembunuh Rin-chan. Waktu pertama melihatku dia seperti tidak mengenalku, ya mungkin karena sudah lampa tidak berjumpa. Aku segera ingin menjelaskannya, maka dari itu aku meminta dia berkunjung ke Labolatoriom Biologiku untuk menjelaskannya. Tapi ternyata dia malah pingsan dan pergi sambil mengataiku pembunuh.

'Bagaimana cara memberitahu Sakura-chan ?

End of Kakashi's POV

TeeBeeCee

ooOooOoo

Gomen- gomen readers, Rei updatenya lama banget, maklum habis uas, ga boleh deket- deket komputer.

Author selalu meminta review, saran, kritik karena author masih amatir

Thanks yang udah ngereview, silent readers, komp rumah.