Pairing: Hinata & Sasuke
My Love
Author: Nagisa-Can
Genre : Romance/Frendship
Rated: Teens
AU, OOC, OC, Typo(s)
Happy Reading.
Chapter 2
"Sasori-kunn, hari ini tidak usah mengantarku pulang"
"Mengapa ? Apa kau akan pergi kesuatu tempat dulu?"
"Ti-tidak, hari ini Sasuke-kun mengajakku pergi kesuatu tempat."
"Uchiha Sasuke ?"
"I-iya Sasori-kun"
[Sasori POV]
Uchiha Sasuke, tidak asing lagi nama itu untukku, tentu saja dia adalah saingan abadiku saat kami kuliah. Ya, walau ku akui dia selalu lebih unggu dariku. Tapi apa hubungan dia dengan Hinata? Sampa-sampai Hinata memanggilnya dengan panggilan Sasuke-kun.
"Tidak boleh, kau tidak boleh pergi bersamanya."
"Ta-tapi Sasori-kun, aku sudah terlanjur berjanji padanya."
"Kalau begitu batalkan."
"Ti-tidak bisa"
"Terserah kau saja Hinata, tapi kalau terjadi apa-apa cepat kau hubungiku. "
"Haii, Sasori-kun." Ucap Hinata sambil memelukku, kemudain pergi berlalu menuju ruang kerjanya.
Pasti si bodoh Naruto yang memperkenalkan Hinata pada Sasuke. Uchiha Sasuke dengan julukannya Pangeran Es. Sudah tidak asing julukan itu di teman satu kampus angkatan kami. Dia terkenal sering menolak wanita, dan berpelilaku egois. Mungkin dia sudah berubah setelah lulus kuliah, kuharap begitu.
[HINATA POV]
Aku berdiri didepan kantorku menunggu Sasuke menjemputku, sudah sekitar 10 menit lewat dari jam yang dia janjikan. Namun sepertinya dia tidak kunjung datang juga.
"Maaf Hinata-chan membuatku menunggu lama, ada beberapa urusan kantor yang harus ku selesaikan." Ucap seorang pemuda bermata onyx yang kini berada dihadapanku Sasuke.
"Tidak apa-apa Sasuke-kun aku mengerti ko."
"Ayo kita berangkat." Ucap Sasuke sambil menarik tanganku menuju mobilnya.
[HINATA POV END]
Ku kemudiakn mobil BMW hitamku dengan kecepatan normal, biasaya aku membawa mobil dengan kecepatan tinggi, namu sepertinya Hinata taku saat aku mengemudiakn mobil dengan kecepatan tinggi. Terlintas pikiran jahil di otakku. Kemudia naikan kecepatan mobilku, dapat kulihat wajah Hinata pucat.
"Sasuke-kun bisakah kau pelankan ? A-aku takut."
"Tidak bisa."
"Aku ta-takut Sa-Sasuke-kun."
Kemudian kupelankan kecepatan mobilku setelah sampai ditujuanku, restauran bintang 5. Dan kamipun melaksanakan makan malam. Dapat kudengar bisi-bisik para pengunjung yang membicarakan ku dan Hinata.
"Wah, pasangan serasi ya."
"Benar-benar cocok mereka."
Kuperhatikan wajah Hinata memerah mendengar ucapan para pengunjung.
"Hime kau kenapa ? Wajahmu pucat ? Apa kau sakit ?" Ucapku sambil mendekatkan wajahku pada wajahnya.
"A-aku ti-tidak apa-apa, Sasuke-kun."
"Wah benar-benar romantis ya, pemuda itu."
Akupun hanya dapat menyeringai melihat reaksi Hinata dan para pengunjung yang lain. Awal kencan yang tidak buruk.
Ruang kerja di rumah besarnya adalah salah satu tempat favorit Sasuke. Ruangan itu lapang, terisi rak-rak besar dari kayu mahal dengan kualitas nomor satu, lukisan bunga sakura yang berguguran dengan indahnya, dan berkarpet tebal empuk dari negara panas bergurun nun jauh disana.
Sambil bekerja dengan laptopnya, kadang pria itu mengalihkan pandangan ke luar pintu yang terbuka lebar. Kejenuhan yang melanda perlahan sirna saat dia melihat pohon cemara berayun lembut tertiup angin, atau ketika matanya menangkap lambaian mawar berkelopak pink lebar favoritnya.
Sasuke menyukai ketenangan, dan tempat luas di lantai satu itu benar-benar didisain sesuai seleranya. Namun sore itu Sasuke tak bisa menikmati waktunya tanpa gangguan seperti biasanya. Dua teman baiknya datang berkunjung. Kebetulan sekali, mereka orang yang suka mengusik kehidupan pribadinya.
"Hey, kapan kau akan mengenalkan pacarmu?" seorang wanita berambut merah berkata kepada laki-laki yang lebih muda di hadapannya itu.
"Pacar? Siapa maksudmu?" tanpa mengubah ekpresi wajahnya, Sasuke menjawab pertanyaan yang akhir-akhir ini kerap dilontarkan padanya.
Karin menyilangkan tangannya dengan tak sabar. "Aku heran sekali. Tak sekalipun aku melihat atau mendengarmu pergi bersama seseorang yang spesial. Masa tak ada gadis di Konoha yang berkenan di hatimu?"
"Bukan soal itu. Kenapa malah kau yang cerewet, Karin?" mata onyx Sasuke, meski cuma sedikit, memancarkan kejengkelan.
Wanita berambut merah itu cuma menggelengkan kepala. "Kalau kau tetap dingin seperti itu, tidak akan ada cewek yang mau, lho. Cakep sih, tapi kalau wajahmu memancarkan aura sehangat salju, siapa yang mau mendekat?"
"Tentu saja aku tak akan menunjukkan wajah seperti ini di depan orang yang kucintai," balas Sasuke ringan.
Dari dulu teman mai Sasuke waktu masih kecil ini selalu penasaran, gadis seperti apa yang bisa meluluhkan hati Sasuke. Sasuke remaja yang dikenalnya suka meledak-ledak, jadi Karin pikir mungkin gadis yang kalem bisa membuatnya agak tenang sedikit. Masih segar di ingatannya bagaimana marahnya Sasuke muda ketika seorang wanita menumpahkan bekal buata ibunya.
Ketika tahun-tahun selanjutnya berlalu, seiring tanggung jawab yang diembannya sebagai kepala keluarga Uchiha semakin berat, perlahan namun pasti Sasuke mulai berubah. Pemuda yang selalu meluapkan emosinya itu menjadi lebih kalem, dan lebih dari itu, semakin lama dia semakin dingin.
Gambaran Karin mengenai wanita yang cocok untuk temannya itu juga berubah. Mungkin gadis yang ceria bisa sedikit membuat aura Sasuke tidak segelap sekarang. Gadis yang penuh semangat pasti mampu menyentuh hati pria itu. Atu mungkin gadis berhati lembut.
"Sasuke," dia berjalan mendekati Sasuke. Rambut panjangnya bergoyang di punggungnya.
"Kau punya tampang dan uang, seharusnya tidak sulit bagimu mendapat pacar."
"Kurasa itu bukan jaminan," balas Sasuke datar. Setelah melirik Karin sebentar, dia kembali bekerja dengan laptop di pangkuannya. Ketika baterei alat elektronik itu mencapai lima belas persen, dia menarik charger dan mencolokkannya ke steker yang menempel di dinding. Karin bukan orang lain baginya, jadi Sasuke tidak merasa harus bersikap formal. Dia duduk di bawah, di karpet yang harganya bisa membuat mata orang kebanyakan melompat dari rongganya.
"Kau ingin cewek yang seperti apa?" Karin mencecar.
"Aku tak punya kriteria tertentu."
"Masa? Mau kucarikan? Aku kenal beberapa temanku. Mau yang pintar ada, yang cantik tak kurang jumlahnya, yang seksi juga banyak."
Sasuke jadi kesal. Dia meletakkan laptop yang sedari tadi di pangkuannya ke meja kecil di dekat steker, kemudian bangkit. "Jangan mentang-mentang karena kau sudah punya seseorang, semua orang juga harus punya pasangan," katanya, tak bisa menyembunyikan kejengkelannya.
"Punya pasangan menyenangkan lho," seorang pria berambut orange dan berpakaikan jas warna hitam dengan Motif gari-garis.
"Benar sekali," Karin balas melingkarkan lengan ke pinggang Jugo, nama pria yang baru masuk itu. Mereka tersenyum, binar bahagia melintas di mata keduanya. Tapi Sasuke berani bersumpah, ketika mengarahkan pandangan mata ke arahnya, sinar mata yang tadinya memancarkan kemesraan berubah usil.
"Apalagi kalau pasangan kita sudah berubah statusnya jadi bertunangan, wah!" Sasuke menaikkan alis hitamnya.
Dua orang itu tertawa.
"Karin," usul Jugo, nadanya serius. "Mungkin bunga di pernikahan kita kau lemparkan saja langsung ke Sasuke kecil kita. Siapa tahu bakal muncul keajaiban."
Karin terkikik. "Ide bagus. Nanti kau berdiri tepat di belakangku ya, Sasuke-chan."
xxx
Setelah sahabatnya pulang, Sasuke kembali ke ruang kerjanya.
Hari itu cukup melelahkan. Ada inspeksi dari supervisornya di kantor. Dan meski dia terhibur dengan kunjungan Karin dan Jugo, tak urung menanggapi seloroh gurauan mereka tentang statusnya yang masih single fighter ternyata lebih meletihkan daripada menangani masalah di tempat kerjanya.
Sasuke keluar ke beranda. Udara malam menerpa wajahnya yang bagai dipahat seniman, tanpa cacat. Dia menghirup napas dalam-dalam. Aroma mawar, pohon cemara and bermacam bunga di taman merasuki rongga hidungnya. Campuran wewangian alam yang tak pernah gagal menenangkan suasana hatinya.
Lavender ungu yang bergerombol di sudut taman menarik perhatiannya. Warnanya mengingatkan pria muda itu akan sesuatu. Namun yang muncul di benaknya justru warna Biru pekat, cantik dan apapun yang memancar dari warna itu terasa kuat.
Menuruti perasaan sentimental yang menguasai dirinya, Sasuke berbalik masuk, menghampiri salah satu rak dan menarik album foto besar. Tidak ingin membuang waktu, Sasuke membuka halaman tengah album itu.
Jari-jari panjangnya menelusuri sebuah gambar berukuran empat R. Dalam foto itu, seorang laki-laki berambut orange dan berwajah ramah tengah tersenyum ceria.
Pria itu merangkul dua orang gadis. Kontras dengan warna pria itu, dan debur ombak yang menggulung di latar subyek dalam foto yang berwarna biru dan putih cerah, gadis yang melambai riang itu memiliki warna gelap. Rambutnya indigonya yang panjang.
Dia cantik.
Sasuke menarik jarinya, kemudian mendekatkan gambar itu supaya dia bisa melihat dengan lebih jelas.
Gadis dalam foto itu bermata Lavender.
xxx
"Apa yang Sasuke-kun lakukan kalau tidak kerja?" tanya Hinata. Sudah beberapa kali Sasuke menelponnya. Kekakuan dan kedinginan yang dulu di perdengarkan Hinata melalui alat komunikasi kecil itu perlahan mencair.
"Jalan-jalan," suara Sasuke terdengar bening. "Atau mengunjungi temanku. Dia punya green house besar."
"Oh, Sasuke-kun suka bunga?" Hinata agak kaget.
"Benar. Kau tahu Oto, daerah pegunungan di selatan Konoha? Aku biasanya ke sana."
"Erm..."
"Belum pernah ke sana ya, Hinata-chan?"
"Belum," jawab Hinata jujur. "Di sana menarik ya?"
"Menarik? Coba bayangkan, Udaranya dingin, di kanan kiri jalan banyak pohon pinus. Karena itulah tanaman dan bunga banyak dibudidayakan di sana."
"Wow!"
Sasuke bisa merasakan rasa ingin tahu gadis yang akhir-akhir ini kerap dihubunginya itu. "Kapan-kapan kuajak kau ke Oto."
Jantung Nagisa melompat satu detakan.
Belum sempat dia menjawab, teriakan Sasori terdengar memekakkan telinga. "Oi, Hinata. Bagaimana laporan rapat kematin ini ?"
Kali ini Hinata benar-benar terlonjak, kaget oleh suara keras sahabatnya. "Sebentar!"
Saat itu dia di apartemen Sasori. Boleh jadi Sasori pintar dalam olahraga dan menghitung, tapi kalau sudah berhadapan dengan laoran rapat, pemuda itu menyerah. Karena itulah dia menyeret sahabat kecilnya itu ke apartemennya.
Suara teguran nenek Sasori gantian terdengar dari ruang sebelah, mengingatkan putranya supaya tidak berteriak dalam rumah.
"Kau sedang bekerja? Maaf kalau mengganggu."
"Eh, tidak."
"Hinata-chan," kalimat Sasuke menggantung sejenak. "Bagaimana kalau aku main ke apartemenmun?"
Hinata mencengkeram handphonenya. "."
"Kau lupa Hinata-chan, seorang Uchiha tidak menerima penolakan."
"Baiklah Sasuke-kun."
"Trims."
Beberapa detik berlalu setelah mereka mengakhiri pembicaraan. Hinata tetap terpaku di tempatnya. Dia sadar, suatu saat nanti mereka akan bertemu langsung. Diluar prediksinya, pada detik kalimat itu diucapkan Sasuke, membayangkan pria itu di hadapannya membuat lututnya gemetaran. Antara penasaran, takut, senang, dan berbagai macam perasaan lain yang tak ingin dianalisanya berkecamuk di dadanya.
-CONTINUED-
YEEEEEEEEEEEEE CHAPTER 2 beres dalah 3 jam. Hihihihi
Lagi rajin ngetik soalnya.
RIVIEW...
