part 2 (sequel) dari "save the girl". mian kalau disini 'peran' super junior cuma sedikit, tapi di sequel yang selanjutnya peran super junior banyak ko :)
Tittle : Save My Friend!
Genre : Action, Friendship, Mavia!
Cast :
Lee Je Hwa (oc)
Park Hye Min (oc)
Lee Donghae
Choi Siwon
Cho Kyuhyun
Leeteuk
Lee Sungmin
Yesung
Disclaimer : Super Junior milik SM Entertainment dan keluarga mereka :)
Author's Note : Di ff ini umur member super junior sama, 21 tahun. Ini ff series tentang Donghae dkk '?' yang jadi detektif. Dan ini series yang kedua, series yang pertama yang 'Save The Girl!'. Tunggu juga series2 selanjutnya :)
Hapy reading :)
Enjoy!
Park Hye Min terbangun saat mendengar suara bel pintu yang berulang-ulang dan membuatnya pusing.
"Ugh! Siapa si! Ganggu tidur orang saja!" Keluhnya sambil meraba meja samping tempat tidur untuk melihat jam kecil yang dia letakan di sana. Dia terlihat bingung saat melihat jam menunjukan pukul tujuh pagi.
'Siapa yang datang pagi-pagi begini?' Tanyanya dalam hati.
Setelah tidak kuat menahan pusing karena suara bel yang terus berdering diapun akhirnya bangung untuk membuka pintu.
"IYA SEBENTAR!" Teriaknya sambil berjalan keluar kamar.
"Je Hwa kemana sih? Pagi-pagi sudah menghilang tidak jelas!" Gerutu Hye Min pelan sambil membuka pintu.
Mata Hye Min terbelalak saat melihat siapa yang ada di depan pintu. Orang-orang berjas hitam dengan kacamata hitam dan juga sebuah pistol dibalik jas –yang sengaja diperlihatkan oleh orang-orang itu agar Hye Min tidak teriak-, Hye Min ingat dengan jelas siapa mereka. Mereka adalah kelompok teroris Blackmouth yang selama ini mengincarnya!
Hye Min mundur perlahan sebelum berlari cepat menuju kamarnya, dia sedang mengaduk-aduk isi laci lemari kecilnya untuk mencari pistol yang dia simpan untuk keadaan darurat saat dirasakannya sesuatu yang dingin mendarat di tengkuknya.
"Jangan melawan gadis manis, atau aku tidak akan segan-segan menghajarmu!" Kata sebuah suara berbisik di telinga Hye Min, membuat Hye Min merinding.
Hye Min berbalik perlahan dan melihat kalau orang-orang itu sudah ada di depannya sambil menyeringai.
"Apa yang kalian inginkan?" Tanya Hye Min dengan nada bergetar, dia ketakutan.
"Apa yang kami inginkan? Hahaha! Pertanyaan macam apa itu?" Kata orang yang berada paling depan, lalu mereka semua tertawa.
Tiba-tiba saja sebuah pukulan melayang kearah Hye Min dan mendarat dengan telak dimukanya, membuatnya tersungkur dan kehilangan kesadaran. Ingatan terakhir sebelum dia pingsan adalah bahwa orang-orang itu tertawa semakin keras melihat dia ambruk didepan mereka.
Save My Friend!
Oneshoot! Action & Friendship!
Seorang gadis berjalan santai menyusuri jalanan kota Seoul yang sepi karena waktu masih menunjukkan pukul setengah tujuh pagi, waktu yang masih terlalu pagi untuk memulai aktifitas. Gadis itu memakai pakaian santai, celana jeans dan kaos warna hitam serta jaket kulit yang juga berwarna hitam menghiasi tubuh mungilnya. Sebuah headset terpasang dengan rapi di telinganya, mengalunkan lagu-lagu kesukaannya dari sebuah ipod yang dia taruh di saku dalam jaket kulit yang di pakainya.
Gadis itu membawa dua plastik besar yang berisi penuh belanjaan. Gadis itu menghela nafas sebentar saat dirasakannya tangannya lelah membawa barang yang lumayan berat itu. Gadis itu kembali mengingat kejadian tadi pagi saat dia hendak menyiapkan sarapan. Saat dia membuka lemari untuk mencari bahan makanan, dia begitu terkejut karena lemari itu kosong, tidak ada bahan apapun yang bisa dia makan.
"Pasti itu ulah Hye Min!" Gerutu gadis itu lemah menyalahkan temannya. "Kalau saja dia bilang, aku bisa belanja kemarin sore dan tidak perlu pergi belanja pagi-pagi begini!"
Gadis itu sampai di rumahnya tepat saat alarm di ponselnya berbunyi, itu artinya sekarang pukul tujuh. Gadis itu berjalan santai menuju dapur dan menaruh belanjaannya dimeja. Setelah itu segera saja dia menyibukan dirinya dengan urusan dapur, memasak sarapan untuk dia dan temannya, Hye Min.
Setelah selesai memasak dia berniat untuk membangunkan Hye Min, saat itulah dia menyadari ada sesuatu yang aneh. Ya, alarm di kamar Hye Min terus berbunyi! 'tidak biasanya Hye Min tidak bangun karena alarm, dia kan tipe gadis yang tidak suka suara berisik' pikir gadis itu seraya berjalan menuju kamar Hye Min.
Dia membuka pintu kamar itu dan bingung karena tidak mendapati Hye Min disana, dia melihat sekeliling dan menemukan lemari Hye Min berantakan. Dia segera menuju lemari itu untuk melihat dan dia menemukan pistol yang di simpan Hye Min ada di sana.
Gadis itu bergerak mengelilingi kamar untuk meliat petunjuk lain yang bisa memberitahukan apa yang terjadi di sana, dimana Hye Min berada dan apa yang terjadi pada temannya itu. Mata gadis itu kini tertuju pada cermin besar yang ada dimeja rias milik Hye Min, dimana terdapat tanda silang berwarna merah di sana. Gadis itu berjalan ke arah cermin itu dan hal pertama yang dia lihat adalah tampilan dirinya yang terpantul dengan sempurna di cermin besar itu.
Gadis itu tersenyum, dia melupakan untuk sesaat tujuan dia 'mendatangi' cermin besar itu. Dicermin itu sepasang mata indah dengan iris coklat balas menatap tajam padanya, senyum cerah juga tercipta dibibir tipis milik bayangan itu, menambah kecantikan yang memang sudah tercipta jelas diwajah oval itu. Lee Je Hwa, nama gadis itu, tersenyum melihat bayangan dirinya yang balas tersenyum padanya.
Setelah lama memuji penampilannya sendiri yang sering membuat Hye Min meneriakinya 'Narsis!', dia kembali ingat kenapa dia menuju cermin itu. Dia meneliti coretan yang ada disana, yang dibuat oleh Hye Min menggunakan lipsticknya tepat dimana sebuah foto yang dipajang didinding terlihat. Foto teroris yang mengincar Hye Min sejak dulu, foto BLACKMOUTH!.
Je Hwa menghela nafas, dia sudah paham betul siapa temannya itu dan hal seperti ini pasti terjadi pada temannya, makanya saat Hye Min pertama pindah kesini dia langsung menjelaskan tentang 'tanda-tanda' dan 'alat pengaman' serta 'petunjuk', dan ini termasuk salah satunya. Hye Min sengaja memasang sebuah papan yang berisi empat foto kelompok teroris yang sedang mengincarnya, dia memasangnya sedemikian rupa sehingga papan itu akan terlihat di cermin. Dan tanda yang dia buat ini berada di atas pantulan foto Blackmouth, yang berarti kelompok itu yang menangkap Hye Min.
Je Hwa menghela nafas –lagi- setelah memikirkan apa yang harus dia lakukan. Sebenarnya dia masih bingung dengan temannya yang bernama Hye Min itu, kenapa dia selalu kabur dari rumah dan kenapa bisa dikejar-kejar teroris? Oke, mungkin orang berpikir teroris-teroris itu menginginkan uang Hye Min yang sangat banyak, tapi aku rasa bukan itu kenapa teroris-teroris itu mengincar Hye Min. Je Hwa sangat paham kalau Hye Min tidak terlalu peduli pada uang, walaupun keluarganya memiliki banyak uang. Yah, siapa yang tidak tahu dengan keluarganya? Semua orang tahu! Ayah Hye Min adalah menteri pertahanan saat ini dan Hye Min sendiri sudah terkenal dengan 'Putri yang suka melarikan diri', tapi siapa yang peduli dengan ayahnya, yang harus diperhatikan adalah ibunya dan kakaknya! Ibunya adalah pemilik restoran makanan korea yang sudah membuka cabang bahkan sampai di Amerika dan Eropa, dia juga memiliki toko-toko baju terkenal, sebuah majalah fashion terkemuka dan juga sebuah tempat wisata yang sangat indah. Sedangkan kakaknya adalah pemilik sebuah toko buku yang sangat terkenal, dia juga memiliki tempat fitness yang tersebar di seluruh penjuru Korea.
Oke, sudah, hentikan bicara mengenai Hye Min! Yang sekarang harus dia pikirkan adalah bagaimana dia bisa menyelamatkan temannya itu. Pergi tanpa persiapan sama dengan bunuh diri, jadi dia harus mulai mempersiapkan semuanya.
Gadis bernama Lee Je Hwa itu segera berjalan ke arah sebuah boneka beruang yang ada di sebuah rak di pojok kanan kamar Hye Min, dia sudah hafal kalau di boneka itu ada sebuah kamera pengintai, yang sengaja dipasang Hye Min diboneka itu. Setelah berhasil mengambil kamera kecil diboneka itu dia segera berjalan menuju meja kecil disamping tempat tidur. Dia membuka laci paling atas dan mengambil sebuah alat elektronik yang sepertinya berfungsi sebagai GPS. Setelah itu Je Hwa segera berjalan menuju lemari yang tadi dia datangi dan mengambil dua buah pistol serta beberapa set peluru tambahan dari sana. Lalu dia keluar dari kamar Hye Min dan berjalan menuju kamarnya sendiri.
Lee Je Hwa tidak berselera untuk menyantap sarapan yang sekarang ada di hadapannya, dia hanya memandang makanannya itu dengan lemah, pikirannya masih dipenuhi dengan temannya, Hye Min. Tadi dia sudah menyiapkan semuanya. Pistol yang dia ambil dari kamar Hye Min dan beberapa set peluru cadangan, beberapa set jarum acupunture, dua buah belati tajam, dan sebuah pedang pendek yang dia taruh di sebuah tas ransel yang sekarang terletak di kursi disampingnya. Bagiamana bisa dia mempunyai benda-benda itu? Je Hwa tinggal di Jepang sampai dia berusia tigabelas tahun, dan disana dia belajar banyak ilmu bela diri, dalam hal ini samurai, jadi dia sudah biasa menggunakan pedang, jarum acupunture dan sejenisnya, dan kemampuannya bisa dibilang 'luar biasa'.
Je Hwa menyerah dan meletakan sumpit makannya di meja. Dengan kasar dia berdiri dan mengambil tas ranselnya sebelum berjalan keluar, menuju sebuah sepeda gunung miliknya, dan pergi menggunakan sepeda itu ke arah pinggir kota Seoul, ke sebuah bangunan yang dulunya merupakan pabrik elektronik terkenal. Tadi saat dia melihat dimana Hye Min berada menggunakan alat pelacak milik Hye Min, dia melihat titik itu ada di sana. Hye Min memang memasang pelacak di antingnya yang sebelah kiri, untuk memberitahukan dimana dia kalau hal seperti ini terjadi.
Lee Je Hwa bergidik saat memandang bangunan yang ada didepannya. Bangunan itu terlihat tua dan sangat mengerikan, jendela-jendela bangunan itu sudah rusak dan terlepas, beberapa yang masih terpasang ditempatnya pun hanya berupa kayu rapuh yang sangat mudah dirusak. Dinding bangunan itu terlihat mengelupas disana-sini dan berlumut, tanda kalau bangunan itu sudah tidak digunakan dalam waktu yang lama. Yah, siapa yang mau tinggal dibangunan mengerikan ini, pikir Je Hwa.
Je Hwa pun bergerak, dia membuka pintu gerbang yang tidak terkunci dan berjalan melewati rumput-rumput liar yang tumbuh dengan subur dihalaman bangunan itu dengan hati-hati. Selain tidak mau terkena rumput-rumput itu, dia juga tidak mau orang-orang yang –menurut perkiraannya- bersembunyi didalam bangunan itu mengetahui keberadaannya. Dia ingin secara diam-diam menyusup ke tempat itu, menyelamatkan Hye Min yang disekap disana dan pergi secepat mungkin dari tempat yang menurutnya mengerikan itu.
Tapi sayangnya rencana Je Hwa belum sempurna, dia melupakan kenyataan bahwa yang sedang dia hadapi adalah salah satu kelompok teroris terkenal. Dia tidak tahu kalau orang-orang yang berada didalam bangunan itu sudah menyadari keberadaannya bahkan saat Je Hwa belum berjalan memasuki wilayah bangunan itu, dan menyiapkan sebuah jebakan 'istimewa' untuknya.
Je Hwa berjalan hati-hati memasuki bangunan itu, menurut alat pelacak yang dia bawa, Hye Min berada di ruangan yang ada didepannya. Dia pun segera berjalan, sedikit lebih cepat tapi masih dengan tingkat kehati-hatian yang tinggi menuju ruangan itu. Dia membuka pintu ruangan itu perlahan dan melihat sebuah ruangan luas yang sama muramnya dengan ruangan-ruangan yang lain. Hye Min berada di ujung ruangan yang lain, dia terikat di sebuah kursi dan mulutnya di tutup dengan sebuah kain. Tatapan mata kedua gadis itu bertemu. Ekspresi bahagia Je Hwa menatap langsung pada ekspresi ketakutan milik Hye Min.
Je Hwa segera berlari –melupakan sama-sekali kehati-hatian yang sejak tadi dia lakukan- ke arah Hye Min dengan tersenyum, sementara Hye Min semakin menatap horor ke arah Je Hwa. Hye Min ingin berteriak memperingatkan kalau sudah ada jebakan disana tapi mulutnya tidak bisa dibuka. Dia hanya mampu membelalakan mata saat melihat tubuh Je Hwa bergetar dan ekspresi kesakitan terlihat jelas dimukanya, lalu setelah beberapa detik yang terasa lambat itu, tubuh Je Hwa ambruk begitu saja.
"Gadis bodoh! Dia pikir dia siapa, berani bermain-main dengan kita!" Kata seorang gadis yang baru keluar dari 'tempat persembunyiannya' dan bergerak ke arah tubuh Je Hwa yang tergeletak tak sadarkan diri.
"Hahaha, apakah gadis kecil itu temanmu?" Tanya seseorang yang lain, pria kali ini pada Hye Min. Hye Min yang ditanyapun hanya diam, tidak berusaha menjawab pertanyaan dari orang yang sudah menyekapnya itu, walaupun sebenarnya sangat mudah untuknya menganggukan kepala.
"Hei! Dia ini temanmu bukan?" Tanya pria itu lagi, kali ini dengan nada membentak yang membuat Hye Min kaget.
"Sudahlah Black, dia tidak mungkin menjawab walau kau membunuhnya! Sebaiknya kita apakan gadis ini?" Kata gadis yang pertama dan disertai sebuah pertanyaan.
"Ya, ya, kau benar Rose, dia tidak mungkin menjawab. Dan mengenai gadis ini, aku akan senang kalau bisa menjadikannya sasaran tembak, aku bosan akhir-akhir ini!" Kata pria yang dipanggil Black.
"Itu tidak akan menarik sama sekali!" Kata orang ketiga yang terlihat sedang duduk di sebuah kursi dengan santainya. Wajahnya terlihat biasa saja, tapi seringaian pria itu bisa membuat semua orang merinding ketakutan.
"Benar juga. Jadi.. apa kau sudah menemukan sesuatu yang menarik yang bisa kita lakukan kepada gadis ini?" Tanya Rose pada orang ketiga itu.
"Sangat sederhana. Kita buang dia, biarkan dia hidup dan mencoba menyelamatkan gadis ini lagi. Aku sangat senang saat bisa melihatnya putus asa karena tidak bisa menyelamatkan gadis ini. Dan kita lihat, saat itu tiba mungkin kita bisa menyiksa gadis kecil kita ini didepan matanya, membunuh gadis ini lambat-lambat sebelum membunuh mereka berdua. Bagaimana?" Kata orang ketiga itu.
"Bagus, sangat bagus Cobra!" Kata Rose dengan senyum mengerikan seperti yang terlihat diwajah kedua teman prianya.
Hujan yang tadi hanya berupa rintik-rintik berubah menjadi deras, menumpahkan semua beban yang terkandung didalam awan hitam yang dengan setia bergelayut diatas kota Seoul. Hujan itu membuat seseorang yang sedang tertidur atau lebih tepat dikatakan tergeletak ditanah mulai bergerak.
Je Hwa perlahan membuka matanya, hujan deras yang mengguyur tubuhnya membuat kesadarannya kembali. Matanya yang masih sedikit terpejam melihat sekelilingnya dengan heran, dan saat dia sadar dia begitu terkejut mendapati dirinya sedang terbaring di tengah jalan. Je Hwa berusaha menggerakan tubuhnya dan langsung saja dia mengerang kesakitan saat rasa nyeri yang sangat langsung menyerangnya, menggerogoti seluruh tulangnya, membuatnya kembali terjatuh di jalan itu.
Gadis itu memperhatikan tubuhnya, yang ternyata penuh dengan luka memar. Dia mengernyitkan dahi, seingat dia, dia pingsan saat tubuhnya terasa tersengat listrik, dia tidak ingat kalau ada yang memukuli tubuhnya, apa orang-orang itu memukuliku setelah aku pingsan? Pikir Je Hwa, dan gadis itu tahu kalau apa yang dia pikirkan tidak salah.
Je Hwa berusaha mengendalikan dirinya dan kembali berusaha berdiri, dia harus segera mencari pertolongan, kalau tidak dia pasti meninggal. Tubuhnya kembali merasakan rasa sakit yang sangat tapi dia mencoba bertahan. Dia memandang sekeliling, mencoba memutuskan kearah mana dia akan pergi, dan saat itulah telinganya menangkap suara berdecit mobil yang di rem mendadak. Gadis itu segera menoleh kearah kanannya dan sukses terbelalak melihat sebuah mobil melaju kencang kearahnya. Mobil itu sukses menabrak tubuhnya yang langsung terlempar kembali ke jalan raya.
Je Hwa mengerang kesakitan, dia mencoba bertahan tapi sangat sulit, rasa sakit yang dirasakannya sekarang bertambah. Perlahan matanya terpejam saat sedikit demi sedikit gadis itu kehilangan kesadarannya.
"SIWON! Apa yang terjadi? Apa kau terluka? Kenapa kau ada disini?" Tanya Donghae sambil memutar-mutar tubuh Siwon. Keempat teman mereka, Leeteuk, Sungmin, Yesung dan Kyuhyun hanya berdiri menatap Siwon khawatir.
"Kau tidak terlihat terluka? Lalu kenapa kau ada disini?" Tanya Donghae lagi. Dia sudah selesai meneliti Siwon dan tidak menemukan luka sedikitpun di tubuh temannya itu. Dia mengernyit heran, lalu untuk apa dia memanggil mereka secara tiba-tiba dan memintanya datang kerumah sakit Seoul?
"Siwon, apa yang terjadi?" Tanya Leeteuk super penasaran.
"Aku tidak sengaja menabrak seseorang!" Jawab Siwon singkat.
"AAPPA?" Teriak kelima orang itu kaget.
"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau bisa seceroboh itu? Kau tahu apa yang akan terjadi kalau orang itu sampai meninggal?" Kata Leeteuk membuat Siwon merasa makin parah.
"Aku juga tahu, tapi aku benar-benar tidak sengaja, tadi hujan deras, aku tidak bisa melihat jalan dengan baik. Dan jangan hanya menyalahkan aku, salahkan juga gadis itu yang dengan seenaknya berdiri di tengah jalan!" Kata Siwon kalut. Kelima temannya menghela nafas melihat keadaan Siwon yang seperti itu, lalu mereka berusaha menghibur Siwon dengan mengatakan kalau semuanya akan baik-baik saja.
Perlahan, kelopak mata yang selalu tertutup selama dua hari ini itu terbuka, menampilkan dua buah bola mata berwarna coklat yang sangat indah. Beberapa kali mata itu mengerjap untuk menyesuaikan dengan pencahayaan terang yang menerangi ruangan itu.
Pemilik mata itu terlihat bingung saat melihat sekeliling ruangan itu dan tidak mengenalinya, ruangan ini tidak pernah ada di ingatan masa lalunya, yang artinya ini adalah pertama kali dia ada diruangan ini. pertanyaannya adalah dimana dan kenapa dia bisa berada disini?
Lee Je Hwa berusaha bangun namun dengan segera dia mengerang, tubuhnya masih terasa sakit dan kepalanya sangat pusing. Ada apa ini? Apa yang terjadi dengan dia?
"Ohh, kau sudah bangun? Bagaimana keadaanmu?" Tanya seorang pria yang baru saja Je Hwa sadari keberadaannya.
"Tidak baik, semua tubuhku terasa sakit!" Jawab Je Hwa lemah.
"Tetaplah istirahat, akan aku panggilkan dokter sebentar" Kata pria itu.
"Apakah ini dirumah sakit? Dan siapa kau?" Tanya Je Hwa.
"Ya, kau memang sedang dirumah sakit, dan aku Leeteuk!" Jawab pria bernama Leeteuk itu.
"Kenapa aku ada disini?" Tanya Je Hwa lagi.
"Temanku tidak sengaja menabrakmu, jadi dia membawa kau kesini. Sekarang dia sedang pulang untuk istirahat, jadi aku yang menjagamu!" Kata Leeteuk.
Kata-kata itu membuat sebuah ingatan kembali berkelebat dibenak Je Hwa. Dia yang terbangun ditengah jalan dengan tubuh terluka, dan sebuah mobil hitam yang menabraknya dengan keras. Dan juga ingatan tentang temannya, Hye Min, yang sekarang sedang dalam bahaya!. Je Hwa hendak bertanya beberapa pertanyaan lagi pada Leeteuk, tapi saat dia menoleh kearah dimana tadi Leeteuk berada, dia tidak melihat pria itu, baru beberapa menit kemudia pria itu kembali dengan seorang dokter yang langsung memeriksanya.
Sudah satu minggu sejak Je Hwa sadar, dan selama satu minggu itu digunakan dengan baik oleh Je Hwa untuk memulihkan keadaannya. Tubuhnya sudah lebih baik, walau bekas luka masih terlihat dan rasa nyeri yang kadang-kadang terasa, tapi setidaknya sudah tidak separah waktu itu. Je Hwa juga sudah bertemu dengan orang yang menabraknya yang bernama Siwon dan teman-temannya.
Saat tahu kalau dia sudah sadar, Siwon langsung datang dan meminta maaf dengan –sangat- tulus, yang membuat Je Hwa tidak enak hati, karena menurut Je Hwa, Siwon lah yang sudah menolong dia. Kalau seandainya tidak ada Siwon, mungkin Je Hwa sudah mati diluar sana karena sakit dan juga lapar.
Siwon dan teman-temannya juga sudah mengetahui alasan kenapa Je Hwa terluka parah dan meminta gadis itu untuk tenang karena mereka yang akan menyelamatkan Hye Min. Pertama Je Hwa menolak karena Hye Min adalah tanggung jawab dia, tapi setelah Siwon mengatakan kalau mereka juga mengenal Hye Min, Je Hwa tidak bisa menolak.
"Jadi kalian akan pergi besok?" Tanya Je Hwa pada keenam pria yang sedang sibuk mendiskusikan rencana 'penyelamatan Hye Min'. Keenam pria itu hanya mengangguk.
"Boleh aku ikut?" Tanya Je Hwa lagi.
"Tidak, tidak! Kau masih terluka, sebaiknya kau istirahat saja!" Kata Donghae.
"Tapi Hye Min temanku!" Bantah Je Hwa keras.
"Tidak, walau dia temanmu, kau tidak bisa pergi dengan tubuh yang masih sakit, kau hanya akan terluka lagi!" Bentak Leeteuk dengan keras, membuat Je Hwa marah dan langsung pergi dari sana.
Siwon, Leeteuk, Donghae, Sungmin, Kyuhyun dan Yesung menatap bangunan didepannya dengan sedikit –hanya sedikit- tidak percaya diri. Bangunan itu terlihat menakutkan dan membuat nyali mereka sedikit menciut.
"Bangunan ini menyeramkan!" Kata Sungmin.
"Iya, aku juga melihat. Kau akan cocok tinggal disini Yesung!" Kata Siwon yang membuatnya mendapatkan tatapan sinis dari Yesung.
"Kenapa harus aku?" Tanya Yesung dengan marah.
"Karena kau sama-sama mengerikannya dengan bangunan ini!" Kata Siwon acuh tak acuh dan membuat Yesung benar-benar geram.
"Sudahlah, ada yang harus kita kerjakan, kita masuk sekarang!" Kata Leeteuk menengahi. Mereka semua mengangguk dan segera berjalan mengendap-endap kedalah bangunan itu.
Donghae dan yang lain sudah kehabisan tenaga menghadapi tiga orang musuhnya –hanya tiga orang!- yang mengaku bernama Rose, Black dan Cobra yang ternyata sangat kuat itu. Mereka berenam mencoba kembali melawan tapi lagi-lagi gagal.
"Kalian sangat lemah! Aku tidak tahu kenapa kalian berani melawan kami!" Kata Rose.
"Sudahlah Rose, jangan main-main, kita habisi saja mereka!" Kata Black pada Rose, membuat Siwon dan yang lain, serta Hye Min yang berada diruangan itu –masih terikat dikursi- kaget.
"Ya, kau benar. Kita tidak bisa membuang-buang waktu untuk bermain-main dengan orang-orang lemah seperti mereka!" Kata Rose, diapun mengeluarkan pistolnya, menodongkannya ke arah Donghae, tapi sebelum sempat dia menarik pelatuk pistol, sebuah pisau meluncur lurus kearah tangannya, membuat Rose mengerang kesakitan dan menjatuhkan pistolnya.
Semua mata sekarang memandang ke arah pintu masuk, kearah dimana terlihat Je Hwa sedang berlari dengan sangat cepat kearah Rose. Rose dengan sigap mengambil pistol yang lain dengan tangan kirinya tapi pistol itu kembali terlempar saat Je Hwa menendangnya. Je Hwa memutar tubuhnya, dan kembali menendang gadis didepannya tepat dimukanya, membuanya memuntahkan darah yang cukup banyak. Je Hwa menarik kakinya, lalu menendang gadis itu tepat didada, gadis itu membelalakan mata sebentar sebelum akhirnya tubuhnya terlempar kebelakang, membentur dinding dan pingsan.
"ROSE!" Teriak Black. Pria itu menggeram marah sebelum melempar pistolnya entah kemana, dan menggulung lengan bajunya, siap menghajar Je Hwa dengan kedua tangannya yang terlihat sangat kuat. Blackpun langsung menyerang Je Hwa dengan membabi buta, tapi Je Hwa berhasil menghindari serangan-serangan itu dengan baik. Pukulan Black melesat diatas kepala Je Hwa, dengan sigap Je Hwa memukul pergelangan tangan itu, membuat suara tulang yang retak dan juga suara erangan keras Black terdengar. Je Hwa mengambil kesempatan saat Black mengaduh, dia langsung menendang selangkangan pria itu membuatnya mengerang –sangat- keras. Je Hwa tersenyum melihat Black yang sedang membungkuk dan mengerang keras. Tangannya menutupi bagian selangkangannya, takut bagian itu menjadi sasaran tendang Je Hwa lagi. Je Hwa yang sudah lelah menghadapi pria itupun langsung memukul dahi Black dengan keras membuat pria itu pingsan seketika.
Prook Prokk Prokk
Je Hwa segera menoleh kearah tepuk tangan itu dan melihat Cobra sedang bertepuk tangan dan juga tersenyum lebar.
"Kau hebat juga, eh, gadis kecil!" Kata Cobra pada Je Hwa.
"Setidaknya aku lebih hebat dari gadis kecilmu itu" Kata Je Hwa seraya mengedikkan dagunya kearah Rose yang masih pingsan.
"Hahaha, ya kau benar, kau terlihat lebih kuat dari dia" Kata Cobra disertai dengan tawa keras.
"Aku tersanjung mendapatkan pujian dari orang yang akan aku kalahkan!" Kata Je Hwa sinis.
"Aku sepertinya menyukaimu gadis kecil!" Kata Cobra sambil tersenyum saat mendengar kata-kata Je Hwa.
"Ohh, jangan berarap, kalau boleh aku menyarankan!" Kata Je Hwa lebih sinis dari yang tadi.
"Aku tidak pernah berharap!" Kata Cobra singkat.
Lalu kedua orang itu langsung bergerak maju untuk saling menyerang, memberikan pukulan dan tendangan dengan gerakan cepat kepada lawan mereka, tapi mereka berdua seimbang. Mereka berhenti sejenak, saling menatap lawan mereka untuk menganalisis kekuatannya, dan mereka sama-sama sadar kalau kekuatan mereka seimbang.
Cobra tersenyum sinis dan mengambil dua buah pedang yang dari tadi ada dipunggunnya. Pria itu menyeringai mengerikan. Je Hwa yang juga sudah siap pun mengambil pedang pendeknya, menyiagakan serangan dadakan dari Cobra. Dan setelah nafas mereka –yang tadi terengah-engah- kembali teratur, mereka berdua langsung maju untuk saling serang. Bunyi benturan antara dua pedang pun menggema diruangan itu, menghiasi pertarungan sengit mereka berdua.
Setelah pertarungan singkat itu, Je Hwa dan Cobra kembali mundur. Mereka berdua memandang tubuh mereka masing-masing yang penuh luka sayatan dan darah yang mengalir dari luka-luka itu.
"Sayang sekali aku harus melukai tubuh indahmu, gadis kecil!" Kata Cobra sambil menjilat darah dipedangnya. Hieekkk! Menjijikan! Pikir Hye Min yang melihat pertarungan itu dari tempatnya.
"Aku tidak peduli!" Kata Je Hwa.
'Sebaiknya aku akhiri sekarang, dengan kondisi tubuhku seperti ini bisa-bisa aku ambruk sebelum mengalahkannya!' Pikir Je Hwa, diapun segera mengambil empat jarum acupunture dan memegangnya dengan tangan kirinya.
Mereka berdua kembali saling serang. Cobra mengayunkan pedang yang ada ditangan kanannya, tapi Je Hwa berhasil menangkis dengan pedang pendeknya, dan dengan cepat gadis itu menancapkan sebuah jarum acupunture di bahu Cobra, membuat tangan kanan pria itu kaku, tidak bisa digerakan. Cobra menggeram marah dan langsung mengayunkan pedang yang ada ditangan kirinya. Je Hwa menghindari serangan itu dengan menyusupkan tubuhnya dibawah lengan Cobra dan dengan lincah bergerak kebelakang tubuh pria itu, dan menancapkan jarum acupunture yang lain ke bahu kiri Cobra dari belakang, membuat tangan kiri pria itu juga tidak bisa digerakan.
Je Hwa menghela nafas dan bergerak kedepan pria itu sambil tersenyum.
"Dengan begini kau tidak bisa bergerak!" Kata Je Hwa. Cobra yang mendengar itupun berusaha menggerakan kakinya, tapi tidak bisa, dan saat dia melihat kebawah, disana juga ada jarum yang menancap. Sepertinya Je Hwa menancapkannya saat tadi dia memutar kebelakang tubuhnya.
"Kau tidak akan bisa mengalahkanku gadis kecil, tidak selama aku masih hidup!" Kata Cobra dengan geraman keras. Je Hwa hanya tersenyum mendengar itu.
"Kau tahu apa yang akan terjadi kalau jarum ini tidak dilepas dalam setengah jam? Tangan dan kakimu akan lumpuh total karena darah disana diam terlalu lama" Kata Je Hwa singkat.
"Sebenarnya aku senang bisa membuat kau lumpuh, tapi aku belum puas sebelum membuat kau pingsan!" Kata Je Hwa lagi, dan dia langsung memukul dada Cobra dengan kedua tangannya, membuat tubuh pria itu terlempar kebelakang dan jatuh dilantai, masih dengan tangan dan kaki yang kaku.
Je Hwa menghela nafas –lagi- dan berjalan menuju Hye Min untuk membebaskan temannya itu.
"Kau hebat!" Kata Donghae yang sudah berdiri dibelakangnya.
"Tidak, kau brilian!" Sekarang Kyuhyun yang memuji. Je Hwa hanya tersenyum.
"Sebaiknya kita pergi dari sini. Kita sudah berhasil mendapatkan Hye Min, jadi lebih baik kita pergi sekarang!" Kata Leeteuk, semua yang ada disanapun mengangguk dan berjalan keluar. Sesampainya diluar mereka segera naik mobil Siwon –tadi Je Hwa datang naik taksi, dan tentu saja taksinya sudah pergi- dan dalam sekejap mobil hitam itu sudah meluncur dijalan, meninggalkan tempat itu.
"Awww... Akkhhhh... Awwww.. AWWW! Hye Min, pelan-pelan! Kau menyakiti tubuhku!" Bentak Je Hwa pada temanya itu.
"Diamlah, aku sedang mengobati lukamu, kau mau lukamu ini sembuh tidak?" Kata Hyemin santai.
"Tapi kau mengoleskan salep itu terlalu keras, lebih lembut sedikit!" Bantah Je Hwa.
"Ini juga sudah lembut, apa kau mau aku mengoleskannya seperti ini?" Tanya Hyemin, dia langsung mengoleskan salep itu dengan keras di luka-luka yang ada di tubuh Je Hwa, membuat gadis itu mengerang dengan sangat keras.
"Sudah sudah! Hentikan! Aku lebih baik pergi kerumah sakit saja!" Bentak Je Hwa pada Hye Min. Lalu dia segera berjalan menuju luar kamar.
"Kau yakin akan pergi kerumah sakit?" Tanya Hyemin, membuat Je Hwa berhenti dan menoleh kebelakang. Tangannya masih memegang pegangan pintu, siap membuka pintu kamar itu.
"Dengan pakaian seperti itu? Aku yakin Donghae dan yang lain akan senang melihat kamu berjalan didepan mereka, mereka masih ada diruang keluarga!" Kata Hyemin disertai senyuman jahil.
Je Hwa pun segera melihat pakaiannya, dan menatap horor tubuhnya yang ternyata hanya mengenakan celana, sedangkan tubuh bagian atasnya tidak memakai apapun. Diapun segera berlari menuju lemarinya untuk mengambil baju dengan tergesa-gesa, membuat Hyemin tertawa terpingkal-pingkal.
END!
bagaimana? bagus atau jelek? semoga suka walau 'peran' member sujunya sedikit :(
