NARUTO FANFICTION
LOVELY DOCTOR
Diclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto
The Playboy Doctor by Sarah Morgan
Warning : AU, OOC, TYPO(S), DON'T LIKE? DON'T READ!
Pairing: NaruHina
Chapter 2
.
.
.
"Aku dokter Namikaze. Namikaze Naruto. Mulai hari ini aku bertugas di desa ini untuk menggantikan dokter Sakura."
Namikaze…
Namikaze Naruto?
Hinata mendongak dan berkedip dua kali, hanya untuk memastikan pendengarannya masih berfungsi dengan baik.
Dokter Namikaze. Namikaze Naruto. Teman satu angkatannya saat di universitas dulu. Pria yang dulu terkenal dengan banyaknya wanita yang ada di sekelilingnya, dengan harta kekayaan turunan keluarga Namikaze yang tidak perlu ditanyakan jumlahnya.
Ia benar-benar berada di sini. Di tempat praktik miliknya. Setelah ia menarik kembali tangannya yang tidak kunjung dibalas oleh Hinata, kini ia bersantai di pintu dengan arogansi acuh tak acuh seakan-akan pria itulah yang memiliki tempat ini. Dan itu mungkin saja benar, pikir Hinata sedikit miris. Kalau ingatannya benar, keluarga Namikaze memiliki setengah Jepang. Dan tentu saja itu menjelaskan mobil mencolok yang digunakannya sekarang.
Pertanyaannya sekarang, apa dia benar-benar bertugas di sini? Hal terakhir yang Hinata dengar adalah Namikaze Naruto yang menghabiskan waktu dengan bepergian bolak-balik antara London dan lokasi-lokasi eksotis lainnya menggunakan pesawat jet. Hinata tidak dapat membayangkan desa Sunagakure bisa ada dalam daftar tempat yang akan dikunjungi pria itu.
"Tidak berniat untuk mengobrol di dalam, dokter Hyuuga Hinata?"
Hinata tersentak. Ia baru sadar semenjak tadi ia belum mempersilahkan 'tamunya' ini untuk masuk. Sedikit ragu, ia berjalan ke depan dan mempersilahkan Naruto masuk dengan isyarat tangan.
"Ino, kau bisa pulang sekarang. Aku masih harus berbicara dengannya."
Ino yang masih asyik dengan kegiatannya menatap dokter pengganti itu akhirnya mengalihkan pandangannya ke arah Hinata, "Ah, benar juga. Kau pasti butuh waktu berdua saja dengannya, hihihi. Baiklah, selamat berjuang dokter Hinata!"
Baru saja Hinata hendak membuka mulut, Ino sudah menyambar tas dan jaketnya lalu bergegas pergi sambil melambaikan tangan, membuat Hinata hanya bisa menghela napas melihat tingkah resepsionistnya itu. Tidak berapa lama fokus Hinata kembali ke arah pria di depannya.
Namikaze Naruto…
Sesaat Hinata hanya memandang pria itu, kemudian setelah berhasil menguasai diri, ia mencoba memecahkan keheningan di antara mereka.
"Well, ini kejutan. Aku tidak menyangka kalau ternyata dokter Namikaze akan menjadi dokter pengganti di desa seperti ini."
"Memang", mata biru Naruto memercikkan humor masam, "dan seharusnya aku juga sudah menyadari kalau kaulah orangnya saat aku diberitahu bahwa tempat ini diurus sendiri oleh seorang dokter umum wanita. Aku penasaran wanita macam apa yang mau mengubur diri di tengah antah- berantah seperti ini."
Antah-berantah? Hinata merasakan dirinya menegang marah. Naruto berpikir ini tempat antah berantah? Yeah, tentu saja pria seperti Naruto akan beranggapan begitu. Hinata menghitung sampai sepuluh dan memaksa diri untuk bersikap biasa. Ia tidak akan membiarkan pria itu membuatnya marah.
Hinata mengangkat dagu dan memandang dingin pada Naruto. "Aku tidak terkubur, dokter Namikaze. Aku memilih untuk hidup dan bekerja di sini karena orang-orang di sini menyenangkan dan daerah pedalaman serta pantainya sangat indah. Walaupun mungkin itu membuatmu terkejut, aku menganggap desa ini suatu tempat, bukan antah berantah. Tapi aku bisa mengerti bagaimana seorang dengan…" Hinata berhenti sesaat untuk memberi penekanan "… selera canggih sepertimu mungkin menganggap tempat ini sebagai antah berantah. Dan itu membuatku tidak mengerti, kenapa kau bisa menjadi dokter pengganti di tempat seperti ini?"
Bukannya menjawab, Naruto malah berjalan mengitari ruang konsultasi Hinata, dan berhenti untuk mengamati gambar-gambar, poster-poster, dan foto-foto.
Foto-foto pribadi!
Hinata merasakan kilatan amarah dan memaksa diri untuk tetap tenang, mencoba menganalisis perasaannya.
Apa yang terjadi padaku? Bagaimana mungkin orang yang sudah hampir enam tahun tidak kujumpai bisa membangkitkan rasa permusuhan sebesar ini? pikir Hinata. Ia bingung dan tidak habis pikir dengan dirinya sendiri. Biasanya ia tidak pernah bereaksi seperti ini pada orang lain, ia selalu tenang dan lembut. Tapi Naruto selalu mengeluarkan aspek-aspek karakter yang sulit ia identifikasi. Berada di ruangan yang sama dengan pria itu saja bisa membuat dirinya mendidih dan bergejolak.
Ini hanya karena kami berbeda, pikir Hinata lagi. Bukan hanya masalah latar belakang, tapi juga dalam hal kepribadian dan sikap. Bagaimana mungkin ia berharap memiliki kesamaan dengan pria yang menganggap hidup sebagai permainan untuk dimainkan dan dinikmati, pria yang menghindari komitmen dan tanggung jawab demi kesenangan jangka pendek?
Hinata menyakinkan diri, rasa permusuhannya terhadap Naruto muncul dari kenyataan sederhana bahwa ia tidak menyukai pria ini. ia tidak menyukai cara sembrono Naruto dalam menjalani hidup, bagaimana orang-orang terpikat pada pria itu, gaya hidupnya yang mencolok…
Hinata menggigit bibir, memaksa diri untuk menghadapi kenyataan. Yang paling tidak disukainya adalah kenyataan bahwa pria itu mengingatkannya akan-
Tiba-tiba Hinata memejamkan mata dan mengusir pikiran itu. ia tidak mau mengungkit masa lalu sekarang. Yang harus ia lakukan adalah memastikan semua fakta yang didapatnya hari ini.
"Kau… benar-benar serius menjadi dokter pengganti disini?" tanya Hinata sekali lagi, membuat Naruto mengalihkan pandangannya ke arah gadis Hyuuga itu.
"Kenapa tidak?"
"Karena…. Karena…" Bagaimana ia bisa mengatakan ini tanpa terdengar sangat kasar? "Banyak alasan. Kau bukan…. Maksudku… Ini bukan tempat praktik untuk pria sepertimu" ujar Hinata pelan.
"Pria sepertiku?" Naruto mendongak dan menahan diri untuk tidak tertawa sekeras-kerasnya, "Aku tidak tahu kalau kau sangat ahli dalam soal pria. Sejak kapan kau jadi seperti ini, heh dokter Hinata?"
Hinata menggeram mendengar komentar pria di depannya ini. Tentu saja itu merupakan sindiran untuk seorang Hyuuga Hinata yang hampir tidak pernah bersosialisasi selama masa kuliah.
"Silahkan lanjutkan," Naruto masih tertawa, "Aku tertarik mendengar pendapatmu. Pria seperti apa aku ini di matamu, dokter Hinata? Katakan padaku. Aku benar-benar ingin mendengarnya."
Hinata mengertakkan gigi. "Tentu saja bukan tipe pria yang bisa tinggal di antah-berantah seperti ini. Ini desa Sunagakure, dokter Namikaze, bukan kota metropolitan seperti Tokyo atau London. Tidak ada tempat malam yang panas, tidak ada pub atau restoran mewah, dan asal kau tahu, tempat terdekat untuk belanja adalan membeli telur dari pertanian setempat."
Naruto mengangkat sebelah alisnya, "Benarkah?" Ia menjetikkan jari, pura-pura kecewa. "Kalau tahu begitu, aku tidak akan mau datang ke sini dan membantumu."
Hinata kembali merasakan emosinya memanas melihat begitu santainya Naruto bicara. Hinata bahkan lupa ia masih punya emosi sampai Naruto berjalan masuk ke ruang konsultasinya. Lima menit. Hanya lima menit bersama Naruto, dan Hinata sudah ingin memukul seseorang.
"Kita tidak mungkin bisa bekerja sama, dokter Namikaze, " ucap Hinata mantap, "Cara kita menjalani hidup terlalu berbeda."
Naruto kembali tertawa singkat, "Ya, dan sekarang kita bukan sedang bicara soal hidup, kita hanya bicara soal pekerjaan."
"Benar, kan?" kali ini Hinata mendongak dan menatap langsung ke sepasang mata sapphire itu. "Itulah yang kumaksud. Bagimu ini hanya pekerjaan…."
"Dan bagimu ini adalah seluruh hidupmu," kata Naruto perlahan memotong perkataan Hinata, "Sebaiknya kita jangan membuang waktu dengan berdebat seperti ini. Aku sudah berjanji pada Tsunade baa-san dan Shizune senpai untuk membantumu, dan itu harus aku lakukan. Kau tidak perlu memikirkan bagaimana aku akan hidup di sini, karena itu adalah urusanku. Kau cukup memikirkan soal pekerjaan, dan semua akan baik-baik saja."
Hinata benar-benar tidak mengerti. Ia benar-benar tidak bisa menghadapi pria seperti Naruto. Pria ini terlalu arogan, terlalu percaya diri, terlalu…. maskulin. Dan semua itu membuat Hinata merasa… sedikit… aneh?
"Ini tidak akan berhasil, dokter Namikaze," akhirnya Hinata berkata dengan gugup sambil menyentuh ujung rambut indigonya, "Maaf telah membuang waktumu, tapi mungkin semua ini hanyalah kesalahan. Kau bisa menjadi dokter di tempat lain."
"Cukup, Hinata," balas Naruto sambil mengontrol emosinya, "Dengar, aku setuju kalau situasi ini hampir tidak ideal untuk kita berdua. Kau pikir aku playboy glamor yang lebih punya uang daripada akal sehat, dan menurutku kau seorang workaholic tertekan yang menganggap membaca buku semalaman lebih menyenangkan dibanding bersenang-senang di luar. Tidak masalah! Tidak seorang pun bilang kita harus saling menyukai. Kita hanya perlu bekerja bersama dan itu seharusnya cukup mudah untuk kita lakukan."
Hinata menatap Naruto, berusaha menyembunyikan kecemasannya mendengar kata-kata Naruto. Begitukah pandangan orang lain tentang diriku? Pikir Hinata miris, workaholic tertekan?
"Aku bisa mengerjakan semua ini sendiri," balas Hinata, dan Naruto mengangkat sebelah alis tanda tidak percaya.
"Dengan seluruh penduduk desa ini adalah pasienmu? Jangan konyol! Tidak seorang dokter pun dapat menangani pasien sebanyak itu sendirian." Naruto menggeleng dan mengangkat bahu. "Kau perlu bantuan, dan kau sebaiknya menerima kenyataan kalau akulah bantuan itu."
"Bantuan?" tanpa sadar suara Hinata meninggi, ia hampir tidak percaya saat mendengar suaranya sendiri, "Menurutku kau bukan bantuan, dokter Namikaze…"
"Kenapa? Kau meragukan kemampuanku? Kemampuanku tidak kalah denganmu, dokter Hinata."
Kali ini, Hinata tidak bisa mendebat kenyataan tersebut. Kenyataan bahwa meskipun terlihat santai, Naruto itu pintar, sangat pintar. Bukan berarti pria itu menggunakan otaknya, tentu saja. Selama di universitas pria itu bersosialisasi dengan sangat baik dan berhasil lulus dalam ujian meskipun hampir tidak pernah mengikuti kuliah. Sebenarnya, Naruto tampak bosan dengan semua itu, sampai mereka mulai diizinkan memeriksa pasien sungguhan, Naruto tampak serius dan tidak pernah melewatkan satu hari pun untuk memeriksa pasien. Sampai akhirnya mereka lulus dan Hinata tidak pernah lagi mendengar kabar tentang Naruto, kecuali rumor yang mengatakan Naruto memulai kehidupan glamornya semenjak menjadi dokter.
"Aku tidak mau mendengar celotehan apa pun lagi darimu, dokter Hinata. Aku akan membuktikan kemampuanku sebagai seorang dokter, dan setelah itu akan kupastikan bibirmu akan berhenti berceloteh. Jadi, siapa orang yang beruntung untuk jadi pasien pertamaku, heh?"
Hinata menggelengkan kepalanya. Sungguh, kehidupannya yang damai sepertinya akan mulai berubah sejak hari ini…
.
.
.
TBC
A/ N: Maaf banget kl msh pendek… Namanya juga pakai laptop pinjaman… T_T. Lagipula biar pas hrs di- TBC kan dulu di sini hehehe, sekalian aku pingin tahu pendapat minna-san dulu dengan sifat Naruto dan Hinata di sini, kalau kalian suka fic ini akan terus lanjut hehehe. Gomen lho kl sifat Naruto atau Hinata gak sesuai dengan keinginan kalian, namanya juga tuntutan peran *plakkk!*
Dan terima kasih banyak buat yang udah review chap kemarin Natsu Hiru chan, just. Semutt, ramdhan-kun, nanaichi, Jimi-li, Codot Bersaudara, Yashina Uzumaki, demikoo, Lynhart Lanscard, KarinHyuuga, suka snsd, Sunny, mizukaze-hime, Tantand, salamander, Author Unyu, Rokudaime Hokage Satryo, Namikaze Resta, ilham s'eyeshield, kiriko unlogin, Kuro Tenma, Hanamoto Aika, anon, sasuhina caem, Hime-chan, Zoroutecchi, natually, dan ahmad kakashi. Maaf gak bisa bales satu-satu di fic ini. Buat yang log-in akan saya usahakan balas via PM yah… Dan juga buat yang udah nge-fave dan alert fic ini… Arigatou gozaimasu ^^
Still mind to review? ^^
