NARUTO FANFICTION
LOVELY DOCTOR
Diclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto
The Playboy Doctor by Sarah Morgan
Warning : AU, OOC, TYPO(S), DON'T LIKE? DON'T READ!
Pairing: NaruHina
Chapter 3
.
.
.
Hinata sedang membuat roti panggang di dapur ketika mendengar decitan keras roda mobil di kerikil. Hinata berlari menuju pintu, ia sudah bisa menebak siapa yang akan muncul dari balik pintu rumahnya.
"Bagaimana keadaan Konohamaru?"
"Baik." Tanpa menunggu diundang, Naruto berjalan melewati Hinata menuju koridor yang luas, sosok maskulinnya tampak arogan dan percaya diri. "Malam ini ia sudah dapat beristirahat di rumah. Tapi kita harus tetap mengecek kesehatannya secara rutin."
"Tentu saja." Hinata mengernyit saat Naruto menggantung jaketnya di gantungan koridor. "Itu sudah kewajiban kita sebagai dokter di sini."
Hinata sangat berharap Naruto sudah mengubah pemikirannya untuk menjadi dokter pengganti di sini, tapi, melihat cara Naruto yang membuat dirinya merasa nyaman seperti di rumah, tampaknya hanya ada sedikit harapan untuk itu.
Ditambah lagi saat mengingat bagaimana cara dokter Namikaze itu memeriksa dan memberi pertolongan pada pasiennya. Sepertinya pemuda itu benar-benar serius membuktikan ucapannya semalam.
"Aku minta maaf tadi aku hampir pingsan saat ingin membawa Konohamaru ke klinik." ucap Hinata pelan, mengingat seharusnya dialah yang membawa Konohamaru ke kliniknya. Beruntung ada Naruto yang membantunya saat itu, "Aku merasa aneh… Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan tubuhku…"
Tatapan Naruto begitu tajam sampai Hinata merasa tidak nyaman. "Kau kelelahan, Hinata, itulah masalahnya. Berapa lama kau tidur tadi malam?"
"Tidur?" Hinata menggosok pelipisnya dengan jemari tangannya, "Aku tidak tahu. Semalam aku melakukan banyak kunjungan rumah."
Keheningan yang tidak menyenangkan langsung muncul di antara mereka, hingga akhirnya Naruto bersuara dengan nada kesal, "Maksudmu, selain mengelola seluruh praktik ini seorang diri, kau juga masih melakukan semua kunjungan malammu?"
Sesaat kemarahan di suara Naruto membuat Hinata sedikit gemetar, "Ten… Tentu saja! Itu adalah kewajibanku sebagai dokter di si-"
"Jelas saja kau pingsan! Kau tahu, kau bisa mati kelelahan kalau seperti ini terus!" seru Naruto lagi. "Dan dengan keadaan seperti ini, kau masih bisa mengatakan kau tidak membutuhkan bantuanku?"
Hinata terdiam sesaat. "Aku memang lelah." balasnya, ia akhirnya mengakuinya. Ia berusaha menatap mata biru itu, tapi ia mengurungkan niatnya. Ada sesuatu mengenai Naruto yang membuatnya risau. Sejak dulu, bahkan ketika mereka masih mahasiswa. Pemuda itu membuat Hinata merasa aneh, dan ia tidak mengerti apa alasannya."Itu karena kita tidak mungkin bisa-"
"Oke, cukup Hinata! Aku sudah cukup mendengar semua celotehanmu semalam. Dan sekarang aku tidak mau mendengar alasan apapun lagi. Aku akan menjadi dokter di sini, bersamamu. Mengerti?"
Hinata akhirnya memilih menolak berdebat dengan Naruto lagi. Ia mengoleskan mentega di roti panggangnya yang dingin dan menggigit roti itu tanpa semangat.
Naruto memperhatikan Hinata dengan ekspresi tidak percaya. "Kau hanya makan roti panggang itu?"
"Aku suka roti panggang." gumam Hinata, tidak menambahkan kalimat ia tidak punya tenaga untuk membuat makanan lain.
"Tapi setidaknya kau harus menambahkan protein di dalamnya." Naruto berjalan ke kulkas dan membuka pintu kulkas untuk memeriksa isinya. Ada keheningan panjang, kemudian ia mendongak, jelas tercengang. "Sekarang aku tahu kenapa kau hanya makan roti panggang. Apa kau tidak pernah belanja?"
Hinata mencoba membela diri, "Aku tidak punya waktu untuk belanja, dokter Namikaze."
"Naruto," potong Naruto dengan sangat perlahan, seakan Hinata adalah balita yang baru diajari bicara, "Panggil aku dengan namaku, Hinata. Berlatihlah memanggil namaku sampai kau terbiasa." Ia memandang tajam lagi ke dalam kulkas. "Apa yang kaumakan sepanjang minggu ini? Tidak ada apa-apa di sini!" ucapnya sambil menutup pintu kulkas dan kembali menatap tajam Hinata.
"Apa yang biasa kau makan untuk makan siang?"
"Eh? Apa?"
"Makan siang." Naruto memandang Hinata seakan-akan gadis itu adalah alien dari planet lain. "Kau tahu, makanan yang biasanya kita makan tengah hari untuk memberi kita energi untuk melanjutkan hidup. Apa yang biasa kau makan?"
Hinata menatap kosong ke arah Naruto, penasaran kenapa Naruto tertarik dengan kebiasaan makannya. "Aku tidak tahu. Aku… Tidak ada."
Mata Naruto melebar, "Kau tidak makan siang?"
"Aku sibuk."
"Demi Tuhan, Hinata!" Naruto memukul meja di hadapannya dan menyisir rambut pirangnya dengan jemari tangannya. Nafasnya mendesis. Ekspresi jengkel terlihat jelas di wajahnya "Kau dokter, Hinata. Seharusnya kau tahu lebih baik tentang kesehatan! Bagaimana kau bisa menanggung beban pekerjaanmu tanpa asupan gizi di tubuhmu? Kapan terakhir kali kau makan?"
"Aku makan sekarang." Tukas Hinata sambil kembali menggigit roti panggangnya.
"Maksudku makanan sungguhan," Naruto menggeram. "Ini sama sekali tidak baik untuk tubuhmu."
Naruto menggeleng tidak percaya, kemudian berbalik dan melangkah kembali menuju koridor, merogoh kantong jaketnya untuk mengambil kunci mobil.
"Kau mau ke mana?" Hinata mengikuti pria itu, perasaannya terbelah antara marah karena Naruto pergi begitu saja meninggalkannya dan harapan samar agar pria itu memutuskan bahwa dia tidak mungkin bekerja bersama Hinata dan akan meninggalkan desa ini.
"Belanja." Naruto mengenakan jaketnya dan berbalik untuk memandang Hinata, eksperinya sama sekali tidak menyenangkan untuk dilihat. "Kau hampir kehabisan tenaga, Hinata. Kau kelaparan dan kelelahan. Sekarang pergi dan mandilah untuk bersantai, itupun kalau kau tahu arti kata 'bersantai'. Aku akan keluar membeli sesuatu yang cukup pantas untuk makan malam kita. Sesuatu yang jauh lebih baik daripada roti panggangmu itu."
Dengan itu, Naruto membuka pintu depan hingga terbuka dan berjalan menuju mobil sport-nya tanpa memandang ke belakang.
.
.
.
Tentu saja takdir ternyata tidak berpihak pada Naruto.
Naruto membuka bagasi mobilnya, mengeluarkan tas belanjaan, dan memandang rumah yang ada di hadapannya.
Hyuuga Hinata. Siapa yang bakal menyangka?
Dari semua wanita di dunia ini, Naruto harus berada di desa ini bersama Hyuuga Hinata. Ironi ini hampir membuatnya tertawa. Ketika Tsunade meminta dirinya untuk menjadi dokter di desa ini, ia sudah mengharapkan ketenangan dan kedamaian. Ketika mendengar betapa terpencilnya desa ini, ia membayangkannya sebagai pulau sunyi pribadi. Tempat ia bisa bersantai.
Naruto berjalan menaiki tangga rumah dan menekan bel pintu. Masalahnya adalah, Hinata sudah pasti tidak sesuai dengan gambaran Naruto tentang wanita di desa sunyi. Sepertinya tinggal di sini bersama dengan Hinata akan menjadi pengalaman yang sangat menjengkelkan dan tidak menyenangkan. Gadis itu tidak tahu arti kata 'bersenang-senang'.
Ini sungguh aneh, pikir Naruto yang merenung saat menunggu Hinata membuka pintu. Biasanya ia bisa mempunyai hubungan baik dengan wanita. Sebenarnya, menjaga jarak dari merekalah yang menjadi masalah. Tapi tidak dengan Hinata. Hinata adalah salah satu dari sedikit wanita yang pernah ditemuinya yang benar-benar tidak tertarik padanya sebagai seorang pria. Sebenarnya, wanita seperti itu memang tidak tertarik pada pria manapun. Sejak Naruto pertama kali berjumpa dengan Hinata di sekolah kedokteran, gadis itu telah mengubur diri di balik buku.
Naruto tersenyum masam dan membunyikan bel lagi. Mungkin ia harus melihat sisi baik dari situasi ini. Paling tidak ia tidak harus menjaga dirinya dari Hinata. Biasanya ia sangat berhati-hati dalam interaksi dengan wanita, sangat berhati-hati untuk menghindari kesalahpahaman. Paling tidak bersama Hinata, ia tidak perlu khawatir. Sudah pasti Hinata tidak mungkin jatuh cinta padanya.
Menyadari Hinata tidak juga membukakan pintu, Naruto mengertakkan gigi dan melangkah mundur, mendongak ke arah jendela-jendela.
Apa dia sengaja tidak mau membuka pintu? Atau dia sedang mandi? Atau mungkin sudah tidur? pikir Naruto. Gadis itu tampak benar-benar lelah, hampir tidak mengejutkan mengingat gaya hidupnya yang workaholic.
Sambil menggumamkan umpatan, Naruto meletakkan kantong belanja di lantai dan melangkah ke samping rumah, mencari jalan masuk yang lain.
"Naruto?"
Mendengar namanya dipanggil untuk pertama kalinya, Naruto berbalik dan melangkah menuju pintu depan. Hinata menunggu di dekat pintu dengan canggung, hanya memakai jubah mandi putih panjang dan rambutnya terbungkus handuk. Jelas wanita itu baru keluar dari kamar mandi dan anehnya dia tampak rapuh, mencengkram baju itu dalam kepalan tangannya yang kecil, lingkaran hitam di bawah matanya semakin terlihat kontras oleh kulitnya yang pucat.
Hinata terlihat berbeda dan Naruto mengernyit sedikit, mencoba menemukan alasannya. Mata Hinata. Sepasang mata amesthyst yang indah dan terlihat sangat unik di mata dokter Namikaze itu.
Kenapa aku tidak menyadarinya? Apa karena aku biasanya sibuk dibuat sebal oleh Hinata sehingga tidak pernah memikirkan penampilan gadis ini?
"Maafkan aku. Aku lupa memberimu kunci."
Tiba-tiba Hinata menyadari pandangan Naruto yang menatap lekat dirinya. Ia melangkah mundur dan mencengkram bajunya, seakan-akan takut Naruto akan merenggut jubah itu darinya.
Naruto hampir tertawa melihat tingkah Hinata. Butuh lebih dari sepasang mata indah untuk mengeluarkan sifat liar dalam dirinya. Tidak peduli pendapat orang tentang dirinya. Ia sangat pemilih dalam hal mencari teman wanita.
"Aku sudah membeli makan malam kita."
Tanpa memberi Hinata waktu untuk membalas, Naruto melangkah melewati gadis itu dan langsung menuju dapur.
Ia meletakkan kantung belanja di meja dan mulai mengeluarkan isinya yang penuh ke dalam lemari dan kulkas. Lalu dengan cepat ia menumis ayam dengan bawang putih segar, lalu menambahkan beberapa sayuran dan mie.
"Aku tidak tahu kau bisa memasak."
Hinata sudah mengganti jubah mandinya dengan T-shirt biru dan celana jins yang melekat indah di kaki rampingnya. Sampai saat itu sebenarnya ia belum pernah memperhatikan tubuh Hinata, tapi sekarang ia melihat tubuh mungil Hinata yang terbalut kulit putih dan halus, lebih halus dari apa yang ia sadari.
Setelah berhasil menguasai dirinya lagi, Naruto mengangkat wajan dari kompor dan menuangkan isinya di dua piring di hadapannya. Hinata mengambil tempat di depan Naruto dan kemudian memulai acara makan malam mereka. Naruto memandang takjub saat melihat betapa cepat Hinata melahap makanannya.
Hinata mungkin memang ramping, tapi jelas tidak ada yang salah dengan selera makannya.
"Kau mau tambah lagi?" Naruto tidak dapat menyembunyikan kegelian di suaranya, sedangkan Hinata mengangkat dagunya untuk membela diri.
"Aku tadi lapar, dan makanan ini sangat enak."
"Kalau begitu makanlah. Aku curiga kau sedang menebus kekurangan makanmu selama ini." ujar Naruto sambil berdiri dan mengambilkan makanan lagi ke piring Hinata. "Kulkas ini sekarang sudah penuh jadi tidak ada alasan kau pingsan di pelukanku lagi."
Hinata melotot ke arah Naruto. Gerakan tangannya terhenti sebelum sempat memasukkan makanan ke mulut. "Aku tidak pingsan di pelukanmu-"
"Kau terlalu lelah, Hinata," kata Naruto datar, "dan itu sama sekali tidak mengejutkan. Kau terlalu banyak bekerja dan kau tidak makan dengan benar. Wajah saja kalau kau pingsan."
Hinata menghela nafas panjang, "Mungkin iya… Dan kurasa aku harus berterima kasih padamu Karena sudah berbelanja dan memasak makanan untukku."
"Well, ini pertama kalinya seorang Hyuuga Hinata berterima kasih padaku." Naruto bersandar di kursinya dengan senyum yang menghiasi wajahnya.
"Ya, dan jangan terlalu senang karena hal itu, " balas Hinata dengan canggung. "Aku belum cukup tidur selama beberapa hari. Mungkin aku memang perlu istirahat malam ini."
Yah, Naruto dapat melihat dengan jelas gadis itu kurang tidur. Gadis ini terlihat sangat lelah. Dan juga cantik…
Naruto tersentak karena pemikirannya sendiri. Gadis ini memang cantik. Kenapa aku tidak pernah menyadari itu sebelumnya? pikir Naruto.
Karena Hinata selalu menyembunyikan dirinya di balik buku dan pakaian yang tidak menarik. Mendadak Naruto merasa penasaran. Apa mungkin gadis ini menyimpan lebih banyak hal daripada apa yang ia pikirkan…
Melihat Hinata yang hampir tertidur di meja, ia segera menyadarkan diri dan menghampiri gadis itu, "Kau harus tidur, Hinata. Katakan padaku di mana aku bisa tidur dan kau bisa istirahat."
Rasa kantuk Hinata hilang dalam sekejap dan mata keperakannya langsung terbuka. "Di mana kau harus tidur? Aku tidak tahu di mana kau akan tidur, tapi yang jelas bukan di sini, dokter Namikaze."
Dokter Namikaze. Jadi ia kembali memanggilku seperti itu?
Naruto menggeram pelan, mencoba menahan emosinya, "Tsunade baa-san sudah mengatakan aku akan tinggal di tempat praktikmu. Dan kurasa, tidak ada masalah dengan hal itu. Tempat ini sangat besar. Ada banyak kamar untuk dua orang tinggal di sini dan tetap tidak berpapasan."
Hinata membelalak lagi. "Apa kau mau mengatakan kau belum mengatur tempat tinggalmu di sini?"
"Aku tidak perlu melakukan itu." Naruto berusaha keras mengontrol emosinya yang meningkat. "Saat Tsunade baa-san menyuruhku menjadi dokter di sini, kamu sudah sepakat aku akan tinggal di rumah ini, sama seperti dokter Sakura dulu. Jadi, aku tidak perlu mempermasalahkan tempat tinggalku."
Keheningan kembali menyelimuti, sampai tatapan Hinata beralih dari Naruto. Tampak jelas dari ekspresi gadis itu kalau ia melupakan satu fakta tersebut. "Mungkin itu benar," Hinata akhirnya menyerah, "tapi aku tidak tahu dokter penggantinya adalah kau."
Naruto menggertakkan gigi. Hinata mungkin lebih cantik daripada awal perkiraannya, tapi gadis ini juga menyebalkan!
"Tunjukkan saja salah satu kamar di sini, Hinata." Naruto menggeram, kesabarannya hampir habis. Ia belum pernah mengenal gadis yang bisa membuat perasaannya naik-turun seperti ini. "Aku akan tinggal di sini dan itu keputusan mutlak. Dan kau sama sekali tidak perlu khawatir dengan keselamatanmu. Kurasa kita berdua jelas tidak mungkin bisa saling tertarik. Kita hanya perlu hubungan kerja yang bersahabat."
Hinata menatap tidak percaya ke arah Naruto. Mungkin pria ini benar, ia cukup menjaga jarak dengan Naruto saat hanya berdua di rumah ini, dan seharusnya itu cukup mudah dilakukan.
"Baiklah," balas Hinata dengan sedikit enggan. "Kau bisa tinggal di sini dan memakai kamar di samping kanan setelah koridor, tapi aku punya syarat untukmu."
Naruto memejamkan mata dan menarik nafas panjang. Sekarang apa lagi?
"Aku orang yang sangat menghargai privasi, dokter Namika- maksudku Naruto." Hinata terdiam sesaat sebelum melanjutkan. "Aku akan sangat menghargai jika kau tetap berada di sisi rumah yang merupakan bagianmu dan tidak datang ke bagianku."
Memangnya apa yang ada dalam pikiran gadis itu? Apa ia berpikir Naruto akan datang menyerangnya pada malam hari? Kalau itu benar, berarti Hinata adalah gadis yang paling beruntung di dunia!
"Aku akan mencoba mengingat itu." jawab Naruto datar. "Ada peraturan lain yang perlu kuketahui?"
"Sebenarnya… Aku memasang alarm di rumah ini sebelum tidur. Kalau kau pergi hingga larut malam sampai aku telah tertidur, kau yang harus memasang alarm itu."
Naruto sedikit mengerutkan dahi. Memasang alarm? Apa sebegitu takutnya Hinata tinggal di rumah besar ini sampai perlu memasang alarm?
"Baiklah."
Hinata mengangguk, "Besok aku akan melakukan kunjungan malam jadi…"
"Kita." potong Naruto cepat. "Kita berdua akan melakukan kunjungan malam itu besok."
Hinata tersentak, "Hei! Kenapa kau seenaknya mengambil keputusan sendiri? Aku sendiri sudah cukup…"
"Kau tidak akan mampu, Hinata." tukas Naruto, lagi-lagi memotong protes dari Hinata. "Aku belum benar-benar mengenal daerah ini, jadi akan lebih baik kalau kita pergi berdua dan kau bisa mengenalkan desa ini padaku. Sekarang, tidurlah atau kau akan pingsan lagi besok."
"Tapi aku-"
Naruto memandang gadis itu tepat di kedua mata amesthyst-nya. "Kau bisa tidur dengan sukarela dalam waktu sepuluh detik, atau aku akan menggendongmu sampai ke kamarmu."
Hinata cepat- cepat berdiri, reaksi yang sesuai dengan dugaan Naruto, "Aku akan tidur, aku sudah terlalu lelah berdebat denganmu."
Hinata berjalan menuju pintu kamarnya, ia berbalik sebentar saat menyentakkan pintu itu hingga terbuka.
"Kuharap kau tetap ingat satu hal. Tempat ini adalah tempat praktikku, dan itu berarti aku yang mempunyai hak untuk membuat keputusan di sini."
Dengan satu kalimat terakhir itu, Hinata berjalan melewati pintu dan membanting mantap benda yang sudah pasti adalah pintu kamarnya.
.
.
.
TBC
A/N: Oke, chap ini adalah awal interaksi Naruto dan Hinata. Terima kasih buat yang udah review chapter kemarin:
Anzuka 16 (ini udah lanjut, makasih ^^), Uzumaki Hyuuga Zetsu Namikaze (makasih ^^), pik (makasih ^^, ini udah lanjut), nara kazuki (makasih ^^, Naru dan Hina jadi keren yah? hehehe), Author Unyu (makasih ^^, iya Naru memang rada OOC, tapi semoga tetap suka ^^), Brigitta (makasih ^^, ini udah lanjut), Cerpelai-kun (makasih udah baca + fave juga. Ini udah lanjut ^^), kiriko mahaera (makasih ^^, masa lalu Hinata akan ketahuan nanti), Zae Hime (makasih ^^, ini udah lanjut), KarinHyuuga (makasih ^^, ini udah update), Namikaze Resta (makasih udah baca + fave juga. Ini udah lanjut), ramdhan-kun (makasih ^^, semoga chap ini udah lumayan panjang), suka snsd (makasih^^, ini udah lanjut), nanaichi (makasih ^^, syukurlah kalau suka sifat Naru dan Hina di sini ^^), demikoo (makasih ^^, hehehe syukurlah masih suka walaupun OOC ^^), Kuro Tenma (makasih ^^, syukurlah kalau suka Naru yang arogan, jadi keren yah? hehehe), Jimi-li (makasih ^^, ini udah update, semoga chap ini lumayan panjang), Zoroutecchi (makasih ^^, syukurlah kalau suka sifat Naru ama Hina di sini ^^), Yashina Uzumaki (ini udah lumayan panjang belum? Hehehe. Makasih yah ^^, jangan lupa update fic juga ^^), sasuhina caem (hehehe, tapi udah yakin nih Naru beneran playboy? Makasih ya ^^), Hanamoto Aika (makasih ya ^^, ini udah lanjut), Mine (makasih ^^, maaf enggak bisa update kilat. Enggak kok, NaruHina dulu enggak pacaran), Satryo-Kun Aittakata (makasih ^^, namanya juga enggak cocok, jadi Hina bisa marah deh ^^, maaf enggak bisa update kilat)
Setelah ini mungkin Eternal Flame akan diupdate dulu, jadi updatenya akan bergiliran dengan fic ini ^^.
Last, for this chap, mind to review?
