NARUTO FANFICTION
LOVELY DOCTOR
Diclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto
The Playboy Doctor by Sarah Morgan
Warning : AU, OOC, TYPO(S), DON'T LIKE? DON'T READ!
Pairing: NaruHina
Chapter 4
.
.
.
Hinata sedang melaksanakan tugas rutinnya hari ini, memeriksa seluruh pasien yang datang ke tempak praktiknya. Hinata memanggil pasien berikutnya dan bekeja dengan tenang sampai daftar pasiennya berakhir. Ia baru saja hendak memandang jam tangannya ketika Naruto melangkah masuk ke ruang konsultasinya.
"Kurasa ini sudah saatnya kita melakukan kunjungan rumah bersama-sama. Aku tidak sabar untuk berkeliling di desa ini."
Jantung Hinata seakan mencelos. Bersama Naruto berdua saja di dalam mobil? Ia tidak bisa memikirkan hal yang lebih buruk daripada itu.
Sebelum Hinata dapat menjawab, telepon di ruangannya berbunyi dan ia menjawab cepat, mulutnya mengencang saat memberikan telepon itu kepada Naruto. "Ini untukmu. Dari seorang perempuan bernama Shion."
"Shion?"
Hinata tidak mungkin salah mendengar nada senang dalam nada suara Naruto saat mengambil gagang telepon dan berbicara dengan hangat dengan perempuan di ujung telepon itu.
Hinata terpaksa mendengar saat Naruto membuat janji untuk malam itu, membuat Hinata semakin merasa sebal dengan pria di hadapannya ini. Benar-benar tipe Naruto sekali. Pria itu baru dua malam berada di desa ini, tapi sudah ada wanita yang meneleponnya.
Mencoba menghilangkan rasa sebalnya, Hinata berdiri lalu mengambil tas dan kunci mobilnya, bergerak menuju pintu saat Naruto meletakkan gagang telepon.
"Jadi…" Suara tenang Naruto terdengar, "Aku boleh bergabung denganmu?"
Pilihan apa lagi yang dapat dipilih Hinata?
"Kurasa ya." Hinata berjalan cepat melalui area penerimaan tamu dan mengangguk pada Ino. "Kami berangkat. Jika ada sesuatu, kau bisa menghubungi telepon genggamku."
Naruto menyesuaikan langkahnya dengan Hinata ketika mereka berjalan menuju tempat parkir. "Kau mau kita menggunakan mobilku hari ini, Hinata?"
Hinata memandang sekilas pada mobil sport merah orange itu dan tersenyum masam. "Kecuali kau merelakan ban mobilmu rusak karena jalanan pertanian."
Hinata sedikit terkejut saat Naruto membalas senyumnya. "Poin bagus. Ini memang bukan alat tranportasi yang bisa digunakan di desa seperti ini ya? Kalau begitu kita akan pakai mobilmu hari ini, dengan syarat kau akan mengizinkan aku mengajakmu jalan-jalan naik mobilku saat kita kembali nanti.
Hinata menoleh, terkejut. "Kenapa aku harus melakukan itu?"
"Tentu saja untuk bersenang-senang, Hina-chan." balas Naruto pelan, membuat Hinata harus kembali berusaha mengendalikan diri.
"Jangan memanggilku dengan sebutan Hina-chan." Ia membuka pintu mobilnya, rasanya ingin sekali menghindar dari tatapan mata sapphire itu.
"Kenapa?" Naruto masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelah Hinata, mengencangkan sabuk pengaman lalu bergeser sedikit supaya dapat memandang Hinata. "Apa ada orang lain yang memanggilmu seperti itu? Atau panggilan itu punya kenangan tersendiri untukmu?"
"Tidak." Hinata menggertakkan gigi lalu menyalakan mesin mobil, ekspresi wajahnya memberi peringatan kepada Naruto untuk tidak bertanya lebih lanjut. Bertahun-tahun ia mencoba untuk berdamai dengan masa lalunya, dan ia tidak ingin kembali memikirkan hal itu. Dan yang pasti, ia tidak berniat untuk membicarakan semua itu dengan Naruto. "Dan kalau kau tidak keberatan, aku lebih suka kita membatasi percakapan kita hanya untuk soal pekerjaan, mulai sekarang"
"Kenapa?" Naruto mendadak penasaran. "Kenapa kita tidak boleh bicara hal-hal yang sedikit lebih pribadi? Kita perlu untuk mengenal satu sama lain."
Hinata memandang Naruto tanpa semangat. "Kurasa itu tidak perlu. Kita ini hanyalah rekan kerja, dokter Namikaze."
Bekerja bersama pria ini sudah cukup buruk, dan Hinata tidak ingin membuat hubungan mereka lebih dari apa yang seharusnya.
.
.
.
Hinata dan Naruto telah menyelesaikan kunjungan mereka yang kelima hari itu. Setelah kunjungan terakhir Hinata duduk di kursi pengemudi, ia tampak berpikir. "Aku harus melakukan satu kunjungan lagi, tapi mungkin lebih baik aku mengantarmu kembali ke tempat praktik dulu."
Naruto mengernyit, "Kenapa?"
Hinata menjawab ragu. "Karena… Masalah kunjungan kali ini sedikit sensitif…"
"Aku ini dokter, Hinata." balas Naruto. "Aku bisa menghadapi orang-orang yang sensitif."
Hinata tampak ragu, kemudian sedikit mengangkat bahu. "Baiklah."
Tidak lama kemudian mereka berhenti di depan sebuah rumah kecil bertingkat dan Hinata mematikan mesin mobil.
"Jadi, kenapa kita datang ke sini?" Naruto melepas sabuk pengamannya. "Masalah sensitif apa maksudmu?"
"Anjing mereka mati di jalanan kemarin." gumam Hinata, tidak mampu memandang ke arah Naruto. "Aku ingin memeriksa keadaan mereka."
Hening sejenak saat Naruto mencoba mencerna kata-kata Hinata. "Kau mengunjungi mereka karena anjing mereka mati?"
Nada tidak percaya di suara Naruto membuat Hinata mengangkat dagunya. "Dia lebih dari seekor anjing untuk mereka." balas Hinata, "dan kau bisa menunggu di mobil kalau kau memang keberatan."
Setelah itu Hinata langsung keluar dari mobil dan berjalan cepat di jalan setapak menuju pintu depan rumah dan mengetuknya. Seorang wanita membuka pintu itu dengan mata merah karena habis menangis, " Oh, dokter Hinata…"
"Aku dengar dari Ino," Hinata berkata pelan, sadar bahwa Naruto telah ada di sampingnya. "Aku ikut berduka, Hana. Aku tahu kau dan Kiba sangat menyayangi Akamaru. Aku hanya ingin memeriksa apa kalian baik-baik saja. Aku mengajak dokter pengganti yang baru, dokter Namikaze Naruto. Kuharap kau tidak keberatan."
Hana menggeleng. "Dia pasti mengira kau sudah gila, melakukan kunjungan ke rumah karena anjing mereka mati. Pasti banyak sekali pekerjaan yang jauh lebih penting yang harus kau lakukan…"
"Tidak," potong Hinata sedikit berbohong, tidak mempedulikan tatapan tidak percaya Naruto. "Aku punya banyak waktu luang dan aku ingin sekali mengobrol denganmu."
"Kau… benar-benar mau mampir ke rumahku?"
Cara bicara Inuzuka Hana yang takut-takut menandakan ia tidak terlalu berharap, tapi Hinata mengangguk dan tersenyum lembut.
"Tentu saja, karena itulah aku datang ke sini, kan?"
Setengah jam kemudian , setelah Hinata dan Naruto diperlihatkan foto-foto Akamaru mulai dari kecil sampai sekarang dan mendengar cerita kenangan keluarga Inuzuka dengan anjing itu, barulah Hinata bangkit berdiri dan berniat untuk pamit pulang.
"Kurasa sudah waktunya kami pergi. Kau dan Kiba pasti sangat sedih sekarang ini. Tapi kalau kau butuh teman, kapan saja kau bisa menemui aku."
"Terima kasih, dokter Hinata." Hana berjalan ke pintu depan mengantar mereka berdua. "Aku merasa lebih baik setelah bicara denganmu."
"Syukurlah kalau begitu." Hinata kembali tersenyum dan memeluk wanita itu sebelum berjalan kembali ke mobilnya dengan langkah cepat.
"Aku tidak percaya kau melakukan kunjungan ke rumah seseorang karena anjing orang itu mati." Naruto bergumam ketika mereka kembali ke tempat praktik.
"Bagi mereka, kehilangan Akamaru sama saja dengan kehilangan salah satu anggota keluarga. Anjing itu sudah seperti saudara sendiri bagi mereka. Tapi kurasa kau tidak bisa mengerti hal itu. Cinta dan komitmen bukan kelebihanmu, kan, dokter Namikaze?"
Sekali ini Naruto tidak menghiraukan sindiran Hinata, pikirannya jelas berada di tempat lain. "Tidak heran kau kelelahan. Aku tidak menyangka kau benar-benar memastikan kesehatan fisik dan juga emosi seluruh masyarakat desa ini sendirian."
Hinata mengangkat bahu. "Ini pekerjaanku, Naruto, dan aku mencintai pekerjaanku."
"Aku tahu hal itu." Naruto membalikkan tubuhnya agar dapat memandang Hinata, matanya mengamati wajah gadis itu.
"Dan seluruh penduduk desa ini juga mencintaimu. Aku harus mengakui kalau aku kagum dengan perubahan dirimu ketika kau bekerja. Kau sama sekali tidak seperti yang kubayangkan saat masih kuliah dulu."
Hinata mengangkat alis. "Maksudmu, aku bukan gadis gagap yang membosankan dan seorang kutu buku?"
Naruto tampak sedikit tidak nyaman karena Hinata menyadari nama panggilan yang dulu diberikan untuknya. Walaupun sebenarnya Hinata sama sekali tidak mempedulikan hal itu. Justru sebaliknya, julukan itu cukup membantu dan melindunginya dari perhatian yang tidak ia inginkan.
"Tapi sebenarnya kau tidak seperti itu kan, Hinata? Kau jadi orang yang benar-benar berbeda saat bersama pasienmu. Apa kau sadar kalau kau memeluk hampir setiap orang yang kau temui hari ini? Padahal kupikir kau itu anti dengan sentuhan." Mata sapphirenya tampak berkilat dan bibirnya membentuk senyum penuh arti. "Aku penasaran, apa yang harus aku lakukan agar kau mau memelukku?"
"Memelukmu?" Hinata terganga menatap Naruto. "Kenapa aku harus memelukmu?"
"Jelas kau tidak akan mau, " ujar Naruto datar. "Mungkin karena aku pria yang sangat sehat dan tidak terluka."
Hinata menggeleng. "Aku tidak mengerti maksudmu."
"Kau pasti mengerti." Suara Naruto terdengar pelan. "Dengan senang hati kau memberikan kehangatan pelukanmu kepada para pasien karena orang sakit tidak akan mencoba menembus 'baju besimu' kan? Kenapa kau selalu menyembunyikan dirimu yang sesungguhnya, Hinata?"
"Aku tidak menyembunyikan apa-apa, dan berhenti bicara yang tidak masuk akal." balas Hinata cepat, dengan gugup meraba-raba pengangan pintu untuk segera melarikan diri. "Ayo. Kita harus kembali bekerja."
"Kerja!" Naruto menggeram frustasi. "Apa kau pernah berpikir tentang hal lain selain pekerjaan?
Hinata membuka mulutnya untuk bicara, tapi Naruto mengangkat sebelah tangannya, jelas ia berusaha menahan emosinya.
"Baiklah kalau itu maumu, kita akan bicara mengenai pekerjaan. Aku sudah mengatur jadwal bekerja untuk shift malam secara bergantian untuk kita. Dengan begitu kita akan lebih banyak mempunyai waktu luang."
"Aku tidak keberatan menangani semua pekerjaan untuk malam hari," Hinata menjawab sambil mematikan mesin mobil dan tangannya menggapai ke kursi belakang untuk mengambil tasnya. "Aku yakin ada hal-hal yang lebih penting yang harus kau lakukan daripada seharian berada di tempat praktikku. Menemui Shion, misalnya."
Naruto memandangnya tajam. "Kenapa? Kau keberatan kalau aku menemui Shion?"
"Keberatan?" Hinata menyingkirkan sehelai rambut dari wajahnya dengan jemari dengan tidak sabar. "Aku tidak keberatan dengan apa yang kau lakukan atau siapa yang kau temui selama kau melakukan tugasmu."
"Oh ya? Jadi kenapa aku mendeteksi ada nada cemburu di suaramu, Hinata?"
"Cemburu?" Tanpa sadar Hinata membanting pintu mobil hingga tertutup. "Jangan konyol! Kenapa aku harus cemburu? Aku jelas tidak ingin menghabiskan malam bersamamu. Menghabiskan siang hari bersamamu saja sudah cukup menyebalkan."
"Uppsss… Tenanglah Hinata. Baiklah, aku punya usul. Suka atau tidak kita adalah rekan kerja. Jadi kupikir kita harus melakukan… errr… gencatan senjata?"
Alis Hinata terangkat. "Gencatan senjata? Maksudmu?"
Naruto mengangkat bahunya yang lebar dan tersenyum pada Hinata. "Ya. Kita setuju aku tidak akan terus mengungkit fakta kalau kau adalah workaholic, dan kau tidak akan berkomentar apapun soal gaya hidupku, bagaimana?"
Hinata menggigit bibir bawahnya sambil berpikir. Itu tidak buruk…
"Tidak ada lagi perdebatan?"
"Sama sekali tidak." jawab Naruto mantap. "Bagaimana menurutmu?"
Hinata diam sesaat sebelum bibirnya menjawab, "Baiklah. Kita akan mencobanya."
"Bagus!" Dengan segera Naruto mengulurkan tangan dan Hinata menjabatnya dengan malas. Mencoba untuk tidak mempedulikan kekuatan dan kehangatan yang asing saat jari-jari tangan Naruto mendekap jari-jarinya.
Apa ini akan berhasil? Mereka butuh lebih dari sekedar 'gencatan senjata' untuk bisa bekerja sama dan hidup dalam damai.
Hanya waktu yang bisa menjawab.
.
.
.
Keesokan harinya Hinata bangun pagi-pagi, saat menyadari sinar matahari yang masuk melalui celah tirai jendela. Ia memandang sekilas pada jam di hadapannya yang menunjukkan pukul lima pagi. Ia turun dari tempat tidurnya dan berjalan menuju jendela. Senyum lembut menghiasai wajahnya saat melihat kuda kesayangannya, Aoi, sedang merumput di ujung taman. Rasanya sudah lama ia tidak menunggangi Aoi, terutama sejak kedatangan Naruto di tempat ini. Hinata menahan senyum membayangkan apa yang akan dipikirkan pria itu jika ia sampai tahu hobinya yang satu ini, berkuda. Pria itu mungkin akan menertawainya atau mengejeknya habis-habisan.
Mendadak matanya menyipit dan Hinata memandang jam tangannya sekali lagi.
Kenapa tidak?
Tidak seorang pun yang akan bangun sepagi ini, termasuk Naruto…
Senyum lembar kembali tampak di wajahnya. Hinata segera berbalik dan membuka lemarinya, mengeluarkan celana berkuda berwarna krem dan mengenakan sepatu bot setinggi pergelangan kakiknya dan tetap mengenakan T-shirt yang dikenakannya untuk tidur.
Rambut indigonya yang biasanya diikat atau ia gulung, kini tergerai bebas di sepanjang bahunya. Tapi ia tidak mempedulikannya. Setelah selesai mengenakan topi, ia menuruni tangga, keluar diam-diam dari pintu belakang, dan segera menemui kuda kesayangannya.
"Aku perlu melepaskan ketegangan, Aoi. Kuharap kau bisa membantuku." Hinata melompat dengan mudahnya ke punggung kuda itu dan mengencangkan pegangannya saat kuda itu mulai berderap.
Mereka mengikuti jalur yang dimulai dari belakang rumah, kemudian menaiki bukit yang mengarah ke padang rumput. Hinata berteriak gembira saat kaki-kaki kuda itu melompati dua selokan dan meningkatkan kecepatan. Ia benar-benar merasa bebas. Tidak ada seorang pun yang melihat dirinya seperti ini.
Setelah hampir setengah jam, kuda itu berderap sesaat, kemudian Hinata memperlambat gerakan dan menghentikannya. Dengan lembut Hinata mengarahkannya kembali ke tepi padang rumput dan kembali menyusuri jalanan dan berhenti di dekat sungai. Kemudia ia turun dari punggung kuda itu.
"Mau minum, kawan?" ucap Hinata sambil melepaskan topi dan menggosok kulit kepalanya untuk membebaskan rambutnya yang terasa lembap. Hari ini masih pagi, tapi ia sudah merasa kepanasan dan lengket. Ini akan jadi hari yang sangat panas.
Hinat berdiri diam di dekat kuda itu saat Aoi melangkah ke dalam air dan menundukkan kepalanya untuk minum. Sampai suara yang sudah sangat dikenalnya terdengar di telinganya.
"Hinata?"
Hinata tesentak dan berbalik, mata amesthyst-nya membelalak. Ia tidak tahu ada orang lain yang akan datang ke sini sepagi ini. Ia meneguk ludah saat menyadari sosok yang kini berjalan ke arahnya.
Ya, itu Naruto. Ia berpakaian santai dengan jins yang tampak begitu pas di kakinya dan T-shirt hitam yang memamerkan bahunya yang lebar dan kuat. Naruto terlihat sangat tampan dan Hinata merasa nafanya tercekat di tenggorokan.
Tunggu! Kenapa aku malah mengakui kalau dia tampan? Biasanya aku tidak pernah peduli dengan pria tampan atau semacamnya. Lagipula apa yang dia lakukan di sini? Hinata sama sekali tidak berharap menemui pria itu di sini, seharusnya ia masih berada di tempat tidur.
Hinata mengusapkan tangan ke rambutnya yang acak-acakan, merasa kesal karena Naruto sudah menganggu waktu privasinya.
"Apa kau perlu sesuatu?"
Naruto tidak menjawab, perhatiannya sepenuhnya teralihkan oleh sesuatu. Hinata memandang sekilas ke balik bahunya, tapi hanya ada Aoi yang sedang menikmati air sungai. Pasti Naruto pernah melihat kuda, kan?
Naruto mulai bergerak mendekati Hinata, tapi pria itu jelas tidak berkonsentrasi karena ia tersandung sedikit saat kakinya terantuk batu, hampir kehilangan pijakan.
Hinata tampak panik sekaligus heran. Apa yang terjadi pada pria itu? Kenapa ia tidak memperhatikan jalan? Apa mungkin semalam ia pergi minum dengan gadis bernama Shion itu dan belum sadar sepenuhnya?
"Bagaimana makan malammu semalam, Naruto?"
Naruto berhenti beberapa meter dari Hinata, sedikit terpaku bercampur senang karena Hinata kembali memanggil namanya. "Makan malam?"
Hinata menghela nafas melihat tingkah Naruto yang seperti berada di planet lain. "Makan malammu bersama Shion." jelas Hinata pelan, membuat Naruto berkedip.
"Oh, itu. Ya, baik."
Bibir Hinata mengencang. Dari nada bicara Naruto seakan menandakan ia sama sekali tidak tertarik dengan gadis itu. Tiba-tiba Aoi menyentakkan kepala dan Hinata kembali menggiringnya dan melangkah hati-hati di bebatuan yang licin. Sadar kalau Naruto masih menatapnya, membuat Hinata menyadari apa yang sedari tadi menganggu pikiran pria itu.
Karena ia sedang memandangku.
Memandangi Hinata.
"Aku tidak tahu kau suka berkuda." Suara Naruto terdengar sedikit parau dan matanya tetap terpaku ke arah Hinata. "Aku tidak bisa mengenalimu dari jauh."
Hinata sedikit tersipu, mendadak menyadari kenapa Naruto sedari tadi terus memandangnya. Karena penampilanku, pikir Hinata. Hinata membelai rambut indigonya yang tampak kusut, ia pasti terlihat sangat berantakan. Ia memang tidak mungkin sengaja berdandan hanya untuk acara berkuda kan?
"Aku berkuda saat punya waktu. Ini salah satu kegiatan yang kulakukan untuk bersantai." ucap Hinata sambil mengelus Aoi. Mencoba mencari topik pembicaraan.
"Benar."
Tidak seperti biasanya, jawaban Naruto sangat pendek. Hinata memandang pria itu dengan tatapan heran. Biasanya mereka langsung berdebat hanya setelah bertemu beberapa menit, tapi tidak untuk pagi ini. Ia hanya diam sambil terus memandangi Hinata.
"Naruto, kalau gencatan senjata kita ini membuatmu kehabisan kata-kata, mungkin kita harus mempertimbangkannya lagi." Hinata berkata pelan, dan Naruto tampak berusaha mengendalikan diri.
"Maaf." balas Naruto sambil tersenyum, membuat Hinata bernafas lega.
"Baiklah. Ini sudah waktunya untuk kembali. Aku harus mandi sebelum pergi ke tempat praktik."
Tapi Naruto sama sekali tidak bergerak. Mata birunya yang tenang meluncur turun di tubuh Hinata, memandangnya dengan penuh perhatian.
Mendadak Hinata ingat ia sedang mengenakan T-shirt tidur tipis dan dimasukkan ke dalam celana berkuda. Ia pasti terlihat sangat menggelikan. Tidak seperti wanita yang biasa dilihat oleh pria seperti Naruto.
Terserah apapun pendapat pria itu!
Hinata menarik tali kekang Aoi, menariknya mundur dengan hati-hati sebelum melompat dengan mudah ke punggung kuda itu.
"Kau harus kembali, Naruto, atau kau akan terlambat untuk praktik kita hari ini."
"Ya." Baru mampu menjawab dengan sepatah kata, Naruto mengangkat tangannya untuk menepuk kuda itu. "Apa kau selalu berkuda sebelum praktik?"
"Saat aku bisa."
"Kau memang penuh kejutan, Hinata. Kenapa kau tidak pernah bilang kau suka berkuda?"
Hinata mengangkat bahu. "Kenapa aku harus mengatakannya? Supaya kau dapat mengejekku?"
Tanpa Hinata duga, Naruto malah tersenyum, senyuman yang paling mampu menarik perhatian orang-orang di sekelilingnya. "Tidak ada alasan. Tapi aku senang, karena kau punya cara tersendiri untuk bersantai."
Hinata tertegun sejenak. Ia tidak menyangka reaksi inilah yang akan dilakukan Naruto saat mengetahui 'sisi dirinya' yang lain. Hinata tersenyum kecil dan mulai bergerak pelan bersama Aoi. "Aoi memang adalah relaksasiku."
"Aoi?" Naruto mengangkat sebelah alisnya. "Kau serius? Kudamu bernama Aoi?"
"Apa salahnya?"
Naruto mulai tertawa. "Tidak ada. Kurasa seharusnya aku senang karena ternyata kau mampu menunjukkan minat pada hal lain selain buku."
Hinata segera melemparkan pandangan memperingatkan. "Kita sedang dalam gencatan senjata, ingat?"
"Maaf." Naruto memandangnya dengan sedikit rona merah menghiasi wajahnya. "Tapi apa kau mau melakukan sesuatu untukku?"
"Sangat tidak mungkin." Hinata memandang Naruto dengan senyum jahil di wajahnya. "Tapi mungkin kau bisa mencobanya. Apa?"
Ekspresi Naruto mendadak berubah serius saat mendongak menatap Hinata. "Tunjukkan lebih banyak lagi…"
"Eh? Apa?"
"Aku ingin lebih banyak lagi… Melihat sisi dirimu…. Yang belum aku ketahui… Boleh kan, Hinata?"
Senyum Hinata lenyap. Mendadak ia merasa tidak nyaman dengan cara Naruto memandangnya saat ini.
"Dan kalau boleh… Lebih baik kau sering membiarkan rambutmu tergerai seperti itu, itu… terlihat sangat cocok untukmu. Kau tidak perlu lagi menjadi gadis yang berkedok gadis gagap yang membosankan dan seorang kutu buku…"
Nafas Hinata semakin menderu, dan ia merasa wajahnya memanas sekarang. Ini pasti karena sinar matahari yang terlalu panas dan ia baru saja berolahraga…
"Ja-Jangan bicara aneh seperti itu! Lebih baik aku segera kembali ke rumah!"
Hinata segera mendesak Aoi untuk segera berderap pergi dan meninggalkan Naruto yang masih memandangnya.
Tanpa pernah berpikir satu kemungkinan, kalau pria itu akan tertarik dengan dirinya setelah semua yang terjadi hari ini.
.
.
.
TBC
A/N: Selesai juga ini chapter ^^, tadinya mau ngelanjutin Eternal Flame, tapi dari saran someone, lebih baik fic ini diselesaikan dulu. Lagipula fic ini sama sekali enggak heavy theme kok, dan enggak bakal ada pihak ketiga. Jadi diusahakan enggak bakal lebih dari sepuluh chapter, simple fict ne? ^^
Di chap ini Naru udah mulai kelihatan tertarik dengan Hinata kan? hehehe
Maaf kali ini gak bisa balas review. Yang log-in saya usahan balas via pm aja yah…
Still mind to review? ^^
