NARUTO FANFICTION
LOVELY DOCTOR
Diclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto
The Playboy Doctor by Sarah Morgan
Warning : AU, OOC, TYPO(S), DON'T LIKE? DON'T READ!
Pairing: NaruHina
Chapter 5
.
.
.
Walaupun Hinata sempat sangsi, gencatan senjata itu tampaknya berhasil.
Naruto berhasil membuktikan dirinya sebagai doker yang baik, dan inilah yang lebih mengejutkan Hinata, kalau Naruto ternyata adalah seorang pekerja keras. Ia siap melakukan lebih banyak beban kerja melebihi bagiannya sendiri.
Mereka tetap memiliki gaya hidup yang berbeda. Naruto selalu keluar pada malam hari dan kembali larut malam. Mereka sudah setuju untuk melakukan gencatan senjata dan Hinata menjaga agar dirinya tetap melakukan bagiannya dalam persetujuan itu.
Meskipun entah kenapa, Naruto terlihat semakin tertarik dengan kehidupan pribadi gadis Hyuuga itu.
"Kurasa kau harus melihat ini, dokter Hinata." kata Ino sambil melemparkan surat kabar yang ada di tangannya ke meja Hinata.
Hinata mengernyit melihat halaman gosip surat kabar itu. Pandangannya terfokus pada foto Naruto bersama seorang gadis pirang yang berada di pelukannya. Mata Hinata mengerjap pada tulisan di bawah foto itu. 'Pewaris harta keluarga Namikaze memainkan keahliannya'
Dengan membaca sisa artikel tersebut, dikabarkan kalau foto itu diambil saat Naruto menghadiri pesta amal untuk anak-anak cacat di Tokyo. Hinata sadar semalam Naruto tidak pulang, dan sepertinya foto ini menjelaskan hal itu.
"Dia wanita yang beruntung," kata Ino muram, masih menatap foto itu. "Aku akan memberikan apapun demi bisa bersama dengan pria sepertinya walau hanya semalam."
"Kurasa kau harus hati-hati dalam berbicara, Ino." balas Hinata datar, sementara Ino masih tersipu.
"Baiklah, maafkan aku dokter Hinata."
Hinata menghela nafas. Ia baru saja hendak menutup surat kabar itu saat Naruto mengetuk pintu dan memasuki ruangan.
"Hinata, apa kau ingin-" Naruto terdiam, matanya menyipit saat melihat surat kabar itu.
"Ada fotomu yang indah di surat kabar itu, dokter Namikaze." Ino berkomentar dengan polos. "Apakah malammu menyenangkan?
Sesaat mulut Naruto mengencang dan Hinata menahan nafas. Ia bisa merasakan kalau Naruto sama sekali tidak senang melihat foto dirinya dimuat di surat kabar. Tapi Hinata merasa lega ketika Naruto tersenyum dan menoleh ke arah resepsionist muda itu.
"Malamku sangat menyenangkan. Terima kasih, Ino. Tapi bisakah kau meninggalkan kami sebentar?"
Ino tersenyum dan buru-buru menjawab, "Tentu saja. Selamat bekerja untuk kalian berdua." Ino bergegas menuju pintu dan meninggalkan mereka berdua di ruangan itu.
"Jadi…" Hinata bersandar di kursinya dan memandang Naruto. "Selamat untuk malam menyenangkanmu semalam, dokter Namikaze…"
"Itu malam pengumpulan dana, Hinata. Aku diundang ke acara itu semalam." balas Naruto singkat sambil menyingkirkan koran itu dari meja Hinata.
Hinata tersenyum masam. "Dan kau diwajibkan untuk menghadirinya bersama gadis pirang menggagumkan itu. Kau cukup beruntung."
Naruto mendekati Hinata dengan ekspresi geli menahan senyum di wajahnya. "Gadis pirang mengagumkan yang kau maksud adalah sepupuku, Hinata. Tapi aku senang sekaligus tersentuh karena mendadak kau menunjukkan ketertarikan yang cukup besar pada diriku. Apa kau merindukanku semalam, Hinata?"
Wajah Hinata memanas akibat tatapan Naruto yang terlihat menggoda. "Merindukanmu? Tidak mungkin. Aku bahkan tidak menyadari kau tidak pulang semalam sampai Ino menunjukkan fotomu di surat kabar hari ini.
Tentu saja itu bohong. Hinata sepenuhnya sadar Naruto tidak ada di tempatnya sejak ia kembali ke sana. Selama dua minggu ini tanpa sadar ia sudah terbiasa dengan kehadiran Naruto. Dan semalam entah kenapa ia kembali merasa sendirian dan kesepian di rumah itu.
Naruto mendongak dan tertawa keras. "Kau menghancurkan hatiku, Hinata. Padahal aku mengira hubungan kita telah menunjukkan kemajuan yang berarti dan kau bisa melihatku dengan cara pandang baru."
"Sebaiknya jangan terlalu banyak berharap," ujar Hinata datar. "Aku mengakui gencatan senjata kita cukup berhasil, dan kita juga berhasil mengembangkan hubungan kerja yang cukup baik. Tapi bagaimanapun sifatmu dan sifatku benar-benar bertolak belakang dan akan selalu begitu."
Naruto mengangkat bahu. "Mereka bilang sifat yang bertolak belakang justru bisa membuat kita saling tertarik…"
Tertarik?
Hinata menggelengkan kepala. Mencoba mengusir pikiran dan perasaan asing yang mulai merasukinya.
"Sebaiknya kita berhenti mengobrol dan segera pergi untuk kunjungan praktik hari ini, dokter Namikaze."
Naruto mendengus pelan. "Baiklah, terserah kau saja."
.
.
.
"Ini bukan jalan ke tempat praktik." ujar Hinata saat melintasi pinggiran desa saat mereka dalam perjalanan pulang setelah selesai melakukan kunjungan praktik.
"Aku memang tidak ingin kembali ke tempat praktik."
"Apa maksudmu?" Hinata mengalihkan pandangan ke arah Naruto, tapi pria itu sedang berkonsentrasi pada jalanan yang sempit. "Kalau begitu kita akan ke mana?"
"Kita akan makan siang, Hinata."
"Makan siang?" Naruto membelokkan mobil memasuki tempat parkir resto kecil desa yang bahkan tidak Hinata ketahui. Mereka pasti berada cukup jauh dari tempat praktik. "Tapi aku tidak mau makan siang. Aku tidak biasa beristirahat makan siang."
Naruto mematikan mesin mobil dan berbalik untuk memandang Hinata dan mendengus geli. "Tapi aku mau, dan kau sebagai penumpang yang ada di dalam mobilku tidak boleh protes."
"Tapi aku punya pekerjaan-"
"Pekerjaan…" potong Naruto sambil memejamkan mata singkat. "Itu kata favoritmu. Tinggalkan pekerjaan selama setengah jam, Hinata. Kau punya handphone. Mereka bisa menghubungimu kalau terjadi sesuatu."
"Tapi-"
Naruto mengangkat satu jari dan menyentuh bibir Hinata dengan lembut. "Tapi adalah kata favorit keduamu, kau tahu itu?"
Hinata terdiam dengan jari Naruto yang masih diletakkan di bibirnya, membuat Hinata menelan ludah dan segera menjauh dari pemuda Namikaze itu. Sentuhan Naruto membuatnya merasa aneh.
Naruto membuka pintu mobil dan memandangnya dengan tatapan bertanya.
"Kau mau ikut masuk atau kau mau menungguku di mobil?"
Hinata tersentak dan akhirnya keluar dari mobil mengikuti Naruto. "Kau benar-benar tidak memberiku pilihan kan?"
"Tidak." Naruto tersenyum tenang dan Hinata mulai merasa tidak nyaman di bawah tatapan mata sebiru samudra itu.
"Ayolah, Hinata. Santailah sedikit, oke?"
Hinata berusaha tidak menghiraukan Naruto dan menyebrang menuju pintu masuk resto kecil di hadapannya, tapi perhatiannya mendadak teralihkan ke tanaman berwarna-warni yang mencuat keluar dari pot tanah liat di teras batu.
Hinata mendadak berhenti, menghirup aroma bunga dan merasakan kehangatan matahari musim panas yang menyentuh kulitnya.
"Menyenangkan, kan?"
Hinata menggigit bibirnya dan berbalik memandang Naruto, ingin rasanya ia membalas perkataan Naruto, tapi saat pandangannya bertemu dengan pandangan Naruto, tiba-tiba saja ia lupa semua hal yang ingin ia katakan.
Tiba-tiba saja Hinata menyadari tebalnya bulu mata Naruto dan betapa maskulin garis rahang pria itu.
Pandangan mereka seakan terkunci, Naruto menunduk dan tatapannya beralih ke bibir Hinata. Sesaat, Hinata mengira Naruto akan menciumnya. Tapi Naruto segera kembali berdiri tegak dan melambaikan tangan ke arah meja.
"Bagaimana kalau kita duduk di luar?"
"Baiklah." Suara Hinata sedikit parau dan ia berdeham, terkejut akibat perasaan asing yang menguasai tubuhnya. Ia benar-benar tidak mengerti. Apa ia benar-benar berpikir Naruto akan menciumnya? Konyol! Pria seperti Naruto tidak akan mencium wanita seperti dirinya.
Naruto melepaskan jaket dan menyampirkannya dengan sembarangan di tempat duduk. "Duduklah, aku akan mengambilkan menu dan memanggil pelayan ke sini."
Hinata hanya mengangguk. Tidak lama salah satu pelayan datang dan menayakan pesanan mereka.
"Kau serius tidak pernah berhenti untuk makan siang? Bahkan saat dokter Sakura masih ada di sini?"
"Tidak." balas Hinata singkat. "Dan sebelum kau berkomentar lebih jauh, ingat kesepakatan kita. Kau tidak akan mengomentari kebiasaan kerjaku."
"Tentu saja aku ingat." Naruto tersenyum lalu mengangkat tangannya pertanda menyerah. "Ini sungguh lucu. Kau dan aku terlempar bersama di situasi seperti ini. Benar, kan?"
"Ya, sangat lucu." ujar Hinata santai, menyesap minumannya, dan tersenyum ketika pelayan membawakan makanan mereka.
"Ayo kita makan." Naruto menyuap nasi dan mulai mengunyahnya sambil berpikir. "Ceritakan sesuatu mengenai dirimu yang belum kuketahui."
Hinata mengernyit. "Apa maksudmu? Kau sudah tahu semuanya. Aku kuliah di Universitas Tokyo jurusan kedokteran sama sepertimu. Aku bekerja di-"
"Kubilang, ceritakan sesuatu yang aku tidak tahu," Naruto menyela dengan tidak sabar. "Aku tidak ingin bicara soal pekerjaan. Aku ingin bicara tentang dirimu. Ceritakan sesuatu yang pribadi. Selain fakta kalau kau menyukai binatang dan berkuda."
Wajah Hinata memerah. Ingatannya kembali saat satu minggu yang lalu, di mana Naruto meminta hal yang sama seperti ini. Ternyata pria ini serius dengan ucapannya.
"Aku tidak suka bicara tentang kehidupan pribadi."
Terutama tidak dengan seorang Namikaze Naruto. Hinata dapat membayangkan apa yang akan dikatakan pria itu mengenai kehidupan pribadinya.
"Kenapa?" Tatapan Naruto tertuju langsung pada Hinata, membuatnya merasa tidak nyaman. "Kenapa Hinata? Kenapa kau tidak suka bicara mengenai dirimu?"
"Aku hanya tidak mau." gumam Hinata, dan Naruto malah mencondongkan tubuhnya di meja, semakin dekat dengan Hinata, suaranya tiba-tiba berubah pelan.
"Kau membuatku penasaran, kau tahu itu? Dulu kupikir mungkin kau hanya tidak mampu merasakan sesuatu dengan cukup dalam, tapi sekarang aku tahu itu tidak benar karena aku terlah melihat bagaimana kau berhubungan dengan para pasienmu."
"Naruto, cukup…"
"Tidak. Biarkan aku selesai bicara, Hinata." Tatapannya terkunci mantap di mata Hinata. "Minggu lalu aku melihat sisi dirimu yang benar-benar berbeda, tapi kenapa kau tidak pernah menunjukkannya kepada orang lain? Apa hanya pasienmu yang bisa melihat sisi dirimu yang sesungguhnya? Kau bersembunyi dari apa? Atau haruskah kukatakan, kau bersembunyi dari siapa?"
Hinata memandang Naruto sekilas, terkejut, berpikir bahwa saat ini Naruto sangat perseptif, tidak seperti biasanya. "Tidak…. Aku tidak bersembunyi…."
"Ya, kau sedang bersembunyi." Pandangan Naruto menahan pandangan Hinata cukup lama, kemudian ia bersandar kembali di kursinya, masih memperhatikan gadis itu dengan penuh pertimbangan. "Apakah dia seorang pria?"
Rona merah menghiasai pipi Hinata lagi. "Itu bukan urusanmu."
"Ya, kau benar, itu memang bukan urusanku." Naruto menyetujui, meneguk minumannya. "Aku hanya benci melihatmu mengubur diri sendiri di dalam pekerjaanmu sebagai bentuk suatu perlindungan diri. Aku hanya penasaran kau melindungi dirimu dari apa."
Hinata merasakan air mata menusuk matanya. Sebenarnya ada apa? Biasanya ia tidak sesensitif ini.
"Kalau kau sudah selesai makan siang, aku ingin kembali bekerja, dokter Namikaze." Hinata cepat-cepat berdiri dan dengan segera Naruto mengulukan tangan lalu menahan pergelangan tangannya.
"Maaf, Hinata." Jari-jari Naruto mengencang di kulit Hinata. "Aku tahu aku sudah keterlaluan. Aku minta maaf. Aku bukannya ingin ikut campur. Aku… hanya merasa prihatin."
Prihatin? Kenapa Naruto harus merasa prihatin?
Hinata menatap kosong kepada Naruto. "Aku tidak butuh rasa prihatinmu, Naruto."
Naruto tersenyum masam. "Yah, bagaimanapun kau mendapatkannya. Tapi tidak usah pikirkan soal itu sekarang. Duduklah, please. Kau belum menghabiskan makananmu."
Hinata ragu, tapi kemudian menuruti permintaan Naruto. Pilihan apa lagi yang ia punya? Tadi ia sudah setuju untuk naik mobil pria itu.
"Begini saja." Nada suara Naruto terdengar ringan. "Sebagai permintaan maaf karena telah ikut campur, kau bisa menanyakan apapun yang kau mau, tidak peduli seberapa pribadinya pertanyaan itu."
Hinata menahan senyum, bertanya-tanya apa yang akan ditanyakan oleh kaum hawa penggosip bila mendapat tawaran seperti ini.
"Sebenarnya memang ada sesuatu yang membuatku ingin tahu tentangmu," Hinata mengaku, dan Naruto memandangnya datar.
"Kenapa pria sepertimu menjadi dokter?"
Salah satu alis Naruto terangkat. "Pria sepertiku? Pria kaya, maksudmu? Kau tidak wajib membuang-buang kehidupanmu hanya karena kau cukup beruntung memiliki uang keluarga, kau tahu."
Hinata menyesap minumannya. "Tapi kenapa kau tidak bergabung dalam bisnis keluargamu?"
Naruto mengangkat bahu. "Karena aku ingin jadi dokter. Sejak kecil aku ingin belajar kedokteran."
"Dan keluargamu tidak keberatan?"
"Tentu saja mereka keberatan." Naruto tertawa singkat dan memainkan gelasnya. "Mereka sangat keberatan. Mereka mencoba sekuat tenaga untuk membujukku, tapi ketika itu tidak berhasil akhirnya mereka terpaksa menerima bahwa mereka memiliki calon dokter di dalam keluarga. Bukan pewaris untuk bisnis keluarga Namikaze."
"Jadi… Siapa yang menjalankan bisnis keluargamu?"
"Adik laki-lakiku bersama dengan ayahku."
"Dan kau tidak akan berubah pikiran?"
Naruto menggeleng. "Tidak akan. Aku terlalu mencintai dunia kedokteran."
Entah kenapa, ada rasa lega saat Hinata mendengar kata-kata Naruto. Setidaknya, itu mengubah pemikiran awal Hinata yang menganggap pekerjaan dokter hanyalah sebagai 'permainan' bagi pemuda itu.
"Lalu… Sebelum datang ke sini, kau ada di mana?"
Naruto tampak sedikit ragu sebelum menjawab. "Aku… ada di Amerika Selatan," ujar Naruto akhirnya. "Ayo, kita harus segera kembali."
Hinata berdiri dan merogoh tasnya untuk mengambil uang dan memberikannya pada Naruto. "Aku ingin membayar makananku."
Naruto mengernyit, menolak mengambil uang itu. "Kurasa tidak-"
"Kita adalah rekan kerja yang makan siang bersama, Naruto," Hinata mengingatkan Naruto dengan nada datar, " dan ini bukan kencan. Aku ingin bayar sendiri."
"Baiklah." Naruto mengulurkan tangan dan mengambil uang itu tanpa berdebat lagi, dan beberapa menit kemudian mereka telah kembali di dalam mobil.
Naruto duduk di kursi pengemudi, menekan sebuah tombol dan atap mobil bergeser terbuka dengan mulusnya.
"Apa yang kau lakukan?" Suara Hinata terdengar tidak setuju. "Kita bukan sedang berlibur, Naruto. Apa kau lupa kita seharusnya bekerja?"
"Apa aku bisa melupakan fakta itu dengan kau sebagai rekan kerjaku? Aku hanya mencoba menunjukkan padamu kalau mencampur pekerjaan dan kesenangan itu mungkin dilakukan. Ayolah, Hinata, santailah sedikit. Ini hari yang cerah. Kau akan merasakan kehidupan dalam mobil sport beratap terbuka. Kau akan menikmati pengalaman ini."
Dan Hinata memang menikmatinya. Lebih daripada yang ia bayangkan atau berani akui.
Sambil mendesah lega, Hinata menyandarkan kepala di jok kulit mobil yang lembut dan memejamkan mata.
Melihat Hinata yang tampak menikmati semuanya, Naruto tersenyum simpul. "Ini mobil yang hebat, kan?"
Ini memang mobil yang hebat. Dan berada di dalamnya benar-benar pengalaman luar biasa. Kehangatan matahari di wajahnya dan terpaan angin di rambutnya, semua menyatu dan dengan anehnya membuat Hinata sangat gembira.
Rasanya waktu berjalan terlalu cepat saat Naruto menghentikan mesin mobil di depan tempat praktik dan Hinata otomatis mengangkat sebelah tangan ke rambutnya, mendadak sadar kalau selingan singkatnya untuk bersenang-senang sudah selesai.
"Astaga, rambutku pasti kelihatan sangat berantakan…"
Naruto memicingkan mata. "Hinata, tidak ada yang bisa membuat rambutmu berantakan jika kau menjepitnya kuat-kuat seperti itu. Rambutmu tidak akan bisa lepas. Aku bahkan tidak tahu seperti apa rambutmu sampai aku melihatmu berkuda waktu itu."
Sesaat pandangannya seakan terkunci pada mata Hinata, dan Naruto mengulurkan tangan untuk menyentuh rambut wanita itu. "Dan kau punya rambut yang indah. Rambut yang seharusnya tergerai dan bebas. Kenapa kau selalu mengikatnya ke belakang?"
Rambut yang indah? Menurut Naruto rambutku indah?
"Aku lebih suka rambutku diikat ke belakang," Hinata bergumam, berharap Naruto akan memindahkan tangannya. Ia merasakan getaran yang asing menjalar di seluruh tubuhnya, tapi ia tidak tahu apa alasannya.
"Apa ini juga bagian dari perlindungan dirimu?" Naruto bergumam lembut sambil memainkan helaian rambut Hinata yang sudah terlepas. "Sama seperti pekerjaanmu…"
"Aku tidak tahu apa maksudmu, dan kita harus cepat sebelum kita akan terlambat untuk praktik." Hinata bergeser mundur sehingga Naruto terpaksa menyingkirkan tangannya.
"Praktik…" Naruto memandang Hinata dengan senyum yang bermain di sekitar bibirnya. "Kapan terakhir kali kau bersenang-senang, Hinata? Kapan terakhir kali kau membiarkan rambutmu tergerai, selain saat bersama kudamu?"
Hinata mencari-cari pegangan pintu, bermaksud untuk pergi dari hadapan Naruto secepat mungkin. Tampaknya pria itu dengan hati-hati menguraikan setiap detail kehidupannya. Ia akab benar-benar runtuh dan seluruh perasaannya akan tersingkap.
Tanpa menjawab pria itu, Hinata keluar dari mobil dan berjalan cepat menyeberangi jalan, ia hampir tidak berhenti untuk menyapa Ino saat ia buru-buru masuk ke ruang konsultasinya.
Dengan segera pintu terbuka lagi dan Naruto berjalan masuk dan menutup pintu di belakangnya.
"Hinata, dengar-"
"Kau yang mengusulkan gencatan senjata ini! Kau bilang kau tidak akan mengomentari gaya hidupku lagi…"
"Hinata…"
"Tapi apa?" Hinata mengangkat wajahnya, mencoba meluapkan kekecewaannya. "Kau punya hak apa untuk mengatur hidupku? Biar kuberitahu sesuatu, dokter Namikaze. Aku sangat bahagia dengan hidupku . Setiap bagian hidupku. Dan itu termasuk caraku menata rambut."
"Hinata…"
"Sekarang, tolong pergilah dan biarkan aku bekerja, dokter Namika-"
Sebelum Hinata sempat menyelesaikan ucapannya, tanpa peringatan apapun Naruto menarik tubuhnya mendekat, bibir pria itu bertemu dengan bibirnya dengan begitu cepat sehingga membuat Hinata terkejut. Untuk sesaat Hinata hanya berdiri, membeku karena terkejut. Ia hanya menyadari tubuh kokoh Naruto yang menempel di tubuhnya dan tekanan membujuk serta menggoda dari bibir pria itu. Dalam kabut sensasi yang terasa asing, Hinata merasakan Naruto menangkup wajahnya, menggesernya dengan lembut namun pasti sehingga pria itu mendapat akses yang lebih baik.
Saat lidah pria itu menulusuri lapisan bibirnya dengan lembut, barulah ia tersadar dan mencoba menyuarakan protesnya atas tindakan tersebut. Ternyata itu tindakan yang salah. Saat mulutnya terbuka, Naruto memperdalam ciuman sehingga membuat lutut Hinata serasa meleleh, lemah, dan tidak berguna.
Pria itu menciumnya begitu pelan dan begitu lembut hingga akhirnya Naruto melepaskannya. Hinata begitu bingung hingga hampir tidak bisa memfokuskan pandangan, apalagi memarahi pria itu. Ini adalah ciuman yang menurutnya hanya bisa terjadi di buku dan film, tapi tidak di kehidupan nyata. Ciuman yang diimpikan setiap gadis muda.
Hinata berjalan terhuyung-huyung mencoba menjauhi Naruto sambil menyentuh bibirnya dengan jari-jari yang gemetar.
"A-Apa yang kau lakukan?"
Ada jeda panjang, dan ketika akhirnya Hinata mengumpulkan keberanian untuk memandang Naruto, ekspresi pria itu sangat sulit dibaca.
"Menciummu, Hinata." Suara Naruto terdengar aneh di telinganya. "Aku tadi menciummu."
Jantung Hinata berdetak sangat kencang di dadanya. "Aku tahu itu. Maksudku kenapa…"
Apa yang bisa kujadikan alasan untuk mencium Hinata?
"Kenapa?" Naruto terdiam, matanya memperhatikan Hinata dengan cepat, seakan gadis itu orang asing yang belum pernah ia temui. "Karena aku ingin menghentikanmu bicara…"
Hinata membasahi bibirnya dengan ujung lidah, mencoba menghilangkan perasaan aneh karena pria itu, "Kau sudah gila…"
"Benarkah?" Mata Naruto tertuju pada bibir Hinata, berlama-lama menatap bibir gadis itu, dan Hinata menelan ludah. Kebingungan dengan perasaan yang seakan meledak di dalam dirinya.
"Lain kali kalau kau ingin menghentikanku bicara… Kau cukup mengganti topik pembicaraan saja, kan?" Suara Hinata terdengar parau, lalu pandangan Naruto terarah ke mata Hinata. Ekspresi yang bahkan Hinata tidak mengerti apa maksudnya menerangi sepasang mata sapphire itu.
"Kurasa memang itu yang baru saja kulakukan." balas Naruto sambil berbalik dan meninggalkan Hinata sendiri di ruangan itu.
.
.
.
TBC
A/N: Terima kasih banyak buat yang udah review, favourite dan alert yah ^^. Maaf kali ini juga gak bisa balas review. Tapi saya benar-benar berterima kasih untuk semua yang udah baca fic ini. Domo arigatou ^^
For this chap, mind to review minna? ^^
