NARUTO FANFICTION

LOVELY DOCTOR

Diclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto

The Playboy Doctor by Sarah Morgan

Warning : AU, OOC, TYPO(S), DON'T LIKE? DON'T READ!

Pairing: NaruHina

Chapter 6

.

.

.

Aku mencium Hinata… Aku mencium Hyuuga Hinata…

Ia menutup pintu ruang konsultasinya dan memejamkan mata sebentar. Mengingat respon terkejut gadis itu ketika bibirnya menciumnya, merasakan rasa manis saat ia membuka bibirnya untuk Naruto.

Sialan.

Naruto menutupi wajahnya dengan sebelah tangan lalu menarik nafas dalam-dalam, mencoba untuk menenangkan luapan perasaannya. Ia bahkan sudah lupa berapa banyak wanita yang sudah pernah diciumnya, dan ia pikir dirinya tidak mungkin akan terkejut luar biasa hanya karena sebuah ciuman, seperti tadi.

Jadi kenapa sekarang aku merasa seperti remaja yang dikendalikan hormon?

Dan kenapa aku melakukan itu? Apa yang merasukiku sampai aku mencium Hinata?

Sampai satu minggu yang lalu ia bahkan tidak menyukai wanita itu, dan ia jelas belum menemukan daya tarik Hinata.

Tapi itu karena ia tidak pernah repot-repot berusaha untuk mengenal Hinata yang sebenarnya. Naruto mengakui itu. Sama seperti semua temannya di fakultas kedokteran dulu, Naruto menganggap Hinata sebagai gadis kutu buku yang kaku dan tidak tertarik dengan pria.

Tapi Naruto salah.

Sangat salah.

Ia hanya perlu melihat betapa para pasien mengagumi dan menyayangi wanita itu. Di balik penampilannya yang tertutup, wanita itu hangat, peduli, tapi juga rapuh di saat bersamaan.

Dan membuat penasaran…

Naruto berjalan menuju mejanya dan duduk, mencoba mengusir perasaan bahwa ia dan semua temannya telah bersikap tidak adil pada Hinata. Ia selalu membanggakan diri sendiri karena tidak pernah menilai seseorang atau sesuatu berdasarkan penampilan. Lagipula, Naruto benci ketika orang lain melakukan hal yang sama terhadap dirinya. Kebanyakan orang memang langsung menganggapnya sebagai anak dari keluarga kaya yang hanya bermain-main di dunia kedokteran.

Naruto memandangi daftar pasien sore ini tanpa benar-benar melihat daftar itu. Sambil mengumpat pelan, Naruto memaksa pikirannya kembali terfokus ke pekerjaan. Sekuat tenaga ia mencoba mengesampingkan ingatannya tentang tubuh lembut Hinata yang seakan meleleh dengan tubuhnya, tentang tatapan di sepasang mata amethyst wanita itu saatmemandangnya setelah ciuman itu. Hinata terguncang. Terperangah.

Dengan senyum masam Naruto memanggil pasien pertamanya, bertanya-tanya apa yang akan dikatakan wanita itu jika ia tahu Naruto merasakan hal yang sama.

.

.

.

Hinata memandang ke luar jendela. Seakan seluruh dunianya bergeser dan tidak satu pun masuk akal lagi.

Satu ciuman.

Hanya butuh satu ciuman untuk menunjukkan ia bukanlah orang seperti yang selama ini dipikirkannya. Hinata mencari penjelasan yang masuk akal akan responsnya terhadap pria itu. Tapi sama sekali tidak ada penjelasan yang masuk akal. Yang tadi ia rasakan, gara-gara pemuda Namikaze itu, bukanlah hal yang dapat dijelaskan oleh logika.

Seakan-akan kaleidoskop dengan warna-warni baru mendadak menyembur ke dalam kehidupannya, dan Hinata tidak mengenali satu pun di antaranya. Ia tidak pernah mengira dirinya akan mampu merasakan semua ini.

Pintu tiba-tiba terbuka dan Hinata terdiam panik, namun tidak lama ia terduduk lega ketika melihat Ino yang masuk.

"Kau baik-baik saja, dokter Hinata? Wajahmu pucat sekali." Ino bergegas menuju meja Hinata, yang dibalas dengan senyum lemah dari Hinata.

"Aku baik-baik saja, Ino." Jawabnya berbohong, sementara Ino berhenti sebentar, melihat Hinata dengan ragu sebelum memberinya selembar kertas.

"Pasien kita, Tuan Asuma datang dan ingin bicara denganmu tentang diarenya. Obat yang kauberikan belum bisa membuatnya sembuh dan dia bertanya apa kau dapat memberinya obat yang lain."

Yang ditanya hanya menatap kosong pada kertas di hadapannya, pikirannya sama sekali menolak untuk berfungsi.

Ino mengernyit, "Kau yakin baik-baik saja, dokter Hinata? Kau tidak seperti biasanya. Apa kau perlu menunda memeriksa pasien…"

"Tidak." potong Hinata cepat. "Aku tidak apa-apa. Kau boleh memanggil pasien pertama sekarang, Ino."

Ino diam sejenak sebelum mengangguk dan meninggalkan ruangan Hinata. Gadis itu menghela nafas. Ia tidak boleh membiarkan kejadian tadi mempengaruhi pikirannya, apalagi sampai merusak jadwal kerjanya hari ini.

Dan lagi, pria seperti Naruto tidak mungkin memikirkan ciuman tadi, iya kan?

.

.

.

Kenyataannya, menghapus suatu kejadian yang cukup 'berkesan' itu tidaklah mudah.

Hinata melanjutkan pemeriksaan sampai jam praktiknya selesai. Namun ternyata ia masih belum mampu mengontrol seluruh pikirannya.

Tadi itu hanya satu ciuman. Sama sekali tidak berarti. Jelas tidak ada artinya untuk Naruto yang mungkin tidak peduli di mana dia mencium seorang wanita, sama seperti pria itu tidak mempedulikan hal-hal lain dalam hidupnya. Dan seharusnya ia tidak perlu terlalu khawatir. Ia hanya terlalu terkejut karena Naruto tiba-tiba menciumnya.

Hinata berjalan menuju area penerimaan tamu dan melihat dua pasien yang masih menunggu.

"Mereka pasien dokter Namikaze," ujar Ino, menginterupsi pandangan sekilas Hinata, dan ia pun tersenyum.

"Terima kasih, Ino. Kalau begitu aku akan pulang dulu."

Dengan sangat tergesa-gesa Hinata keluar dari tempat praktik masuk ke rumah, memutuskan untuk membuat dirinya menghilang sebelum Naruto menyelesaikan praktiknya. Hinata tidak ingin bertemu pria itu, belum. Masih terlalu memalukan. Ia perlu waktu untuk menata pikiran dan perasaannya terlebih dahulu.

Hinata memakai celana berkudanya, menjejalkan topi di kepalanya, dan berlari menuruni tangga dalam hitungan menit, bertekad untuk meninggalkan rumah sebelum Naruto kembali. Ia yakin Naruto sudah punya rencana untuk malam itu, jadi selama ia tetap berada di luar rumah selama beberapa jam ke depan, ia tidak akan berpapasan mendadak dengan pria itu.

.

.

.

Naruto menunggunya ketika Hinata kembali dari berkuda. Salah satu kaki pria itu beristirahat santai di bagian terendah pagar sambil memperhatikan Hinata melepaskan tali leher Aoi dan membebaskan kuda itu.

Jantung Hinata seakan memukul-mukul tulang rusuknya. Ia berlama-lama menunggu di dekat Aoi, memperpanjang jeda sampai ia terpaksa bertemu Naruto. Memikirkan cara Naruto menciumnya saja sudah membuat pipinya memerah dan lututnya gemetar.

Sialan. Aku tidak terbiasa merasa seperti ini dan tidak tahu cara mengatasinya. Aku tidak tahu harus berkata apa pada pria itu. Ia memang tidak biasa dicium oleh seorang pria.

Hinata berjalan menuju pagar, matanya sengaja menghindari Naruto.

"Kau sedang apa di sini? Bukankah biasanya kau keluar pada malam hari?"

Dan Hinata benar-benar mengharapkan itu sekarang.

"Aku memang akan keluar nanti." Naruto menegakkan tubuh dan bergerak menuju samping tubuh Hinata. "Dan kau akan ikut denganku."

"Aku?"

"Ya, kau." Naruto tampak geli, sedangkan warna merah kembali menghiasi pipi Hinata.

"Apakah…" Hinata terdiam, sedikit ragu sebelum melanjutkan, "Apa kau mau mengajakku… kencan?"

"Ya." Sebelah alis Naruto terangkat. "Kenapa? Apa ada yang aneh?"

"Ehhh… Ti-Tidak… Hanya saja… Tidak ada laki-laki yang pernah…" Hinata terdiam dan menggigit bibirnya, berharap dirinya ingat untuk berpikir dulu sebelum bicara.

"Pernah apa?" Suara Naruto terdengar lembut, sedangkan Hinata mendesah lalu melepas topinya.

"Tidak ada laki-laki yang pernah mengajakku berkencan." Hinata mencoba agar suaranya tidak mencerminkan rasa sakit hati. "Ada seseorang yang memberitahuku kalau aku bukan wanita yang pantas untuk diajak berkencan."

Mulut Naruto mengencang dan matanya memancarkan kemarahan yang membuat Hinata terkejut. "Siapa yang mengatakan itu padamu?"

Hinata mengangkat bahu dan sengaja mengalihkan pandangan, bertanya-tanya kenapa Naruto jadi emosi seperti ini. "Memangnya kenapa kau ingin tahu? Itu bukan urusanmu kan?"

"Setidaknya katakan padaku kau tidak mempercayai orang itu!" Nada suaranya benar-benar serius. "Bagaimana bisa kau menganggap dirimu sendiri serendah itu?"

"Aku tidak menganggap diriku rendah, tapi itu memang kenyataan." Hinata memandang Naruto dan mengela nafas.

" Coba pikirkan sekali lagi, Naruto. Lebih baik kita jujur saja sekarang. Kau bisa mengencani wanita mana pun di belahan bumi ini. Kenapa kau mau membuang waktu satu malam dengan dokter yang menganggap membaca buku semalaman di rumah sebagai wujud bersenang-senang?"

Naruto mengernyit sedikit saat Hinata melemparkan kembali kata-kata itu padanya. "Aku salah soal itu," ujar Naruto tenang. "Sekarang aku sudah lebih mengenalmu."

Hinata menggeleng. "Kau tidak salah, Naruto. Pendapatmu tentang aku sangat tepat. Buatku bersenang-senang adalah membaca buku semalaman di rumah."

Jeda sesaat sebelum Naruto tersenyum geli. "Itu karena kau belum pernah berkencan denganku, Hinata."

Kencan dengan Naruto

Hinata menegang. Jantungnya berdebar tidak terkontrol. "Pernahkah ada orang yang mengatakan kalau kau itu arogan, Naruto?"

"Sering." Naruto mengangguk perlahan. Matanya yang mengagumkan itu masih dipenuhi tawa. "Jadi, setelah kita menyelesaikan hal itu, apa kau mau makan malam denganku?"

Hinata menyisirkan sebelah tangan ke rambutnya yang kusut, merasa kesal dengan pria di hadapannya ini. "Tidak. Aku tidak mau."

"Kenapa tidak?"

Ada ratusan alasan.

"Pertama, karena ada pekerjaan yang harus kulakukan-"

Naruto berdecak tak sabar dan melangkah mendekati Hinata. "Apa kau tidak ingat apa yang terjadi saat terakhir kali kau menyebut pekerjaan?"

Hinata mulai mundur. Berada begitu dekat dengan Naruto membuatnya merasa aneh. "Apa semua ini karena itu? Kau menciumku jadi sekarang kau berpikir sebaiknya kau mengajakku kencan?"

Hinata tidak tahu harus bicara apa. Bagaimana menghadapi pria itu. Ia benar-benar tidak berpengalaman untuk hal seperti ini.

"Kau tidak perlu khawatir, Naruto. Kita lupakan saja soal itu."

Beberapa saat mereka berdua terdiam. Tidak lama Hinata merasakan jemari Naruto yang kuat mengangkat dagunya, memaksanya memandang pria itu.

"Aku sudah berusaha keras melakukan itu dan sampai sekarang belum berhasil. Jadi kupikir makan malam mungkin bisa sedikit membantu kita untuk menormalkan kembali pikiran dan kita bisa saling bicara dengan lebih dekat."

Seakan ada beban berat yang menghantamnya, Hinata tersentak menjauhi pria itu. "Aku harus ganti pakaian." Kali ini ia benar-benar bingung harus berbuat apa lagi.

"Baik, aku akan menunggumu."

Keraguan dan ketakutan terpancar jelas di kedua mata Hinata. "Kau serius? Kau mau makan malam denganku?"

Naruto mengernyit sedikit. "Buat apa aku mengajakmu kalau aku tidak mau makan malam denganmu?"

Hinata meneguk ludah paksa. "Sebagai… lelucon mungkin?"

Kali ini mereka terdiam cukup lama, sampai Naruto menyentuh lembut pipi Hinata dengan satu jarinya. "Seseorang telah memperlakukanmu dengan buruk, kan?" Mata biru itu menyelediki mata Hinata lama sekali. "Kau harus ingat ini, aku tidak akan mempermainkanmu. Dan, ya, aku benar-benar serius ingin makan malam berdua denganmu."

Nafas Hinata terdengar terputus-putus. "Tapi kita berdua sama sekali tidak cocok…"

Seulas senyum tampak di wajah Naruto. "Kadang-kadang kau bicara seperti anak sekolah, kau tahu itu?"

Walaupun tidak mau mengakuinya, kadang Hinata memang seperti anak sekolah. Canggung, kaku, dan pusing karena terlalu gugup. Ia jelas tidak sesuai dengan pria seperti Naruto.

"Aku mau mandi." Dengan penuh tekad Hinata berbalik dan melangkah meninggalkan Naruto di belakangnya.

"Lima belas menit," seru Naruto. "Kau punya waktu lima belas menit untuk bersiap-siap atau aku akan menbawamu pergi seperti adanya kau saat ini."

Hinata menoleh ke belakang. Sebelah alisnya terangkat. "Kau mengancamku, dokter Namikaze?"

Naruto tersenyum. "Apa pun akan kulakukan untuk membawamu pergi malam ini bersamaku, Hinata."

.

.

.

Apapun akan kulakukan…

Kenapa Naruto tiba-tiba sangat ingin pergi makan malam denganku? pikir Hinata Hanya karena mereka telah dapat bekerja bersama, bukan berarti mereka harus bersosialisasi. Kenyataannya berdekatan dengan pria itu selalu membuatnya merasa aneh…

Ia memandang isi lemari pakaiannya dengan murung, menyadari di sana tidak ada pakaian yang sesuai untuk makan malam bersama seseorang, apalagi orang itu adalah Naruto.

Ke mana dia akan mengajakku? Apa dia akan membawaku ke tempat yang mencolok?

Hinata mengeluarkan sebuah gaun yang diberikan kepadanya sebagai tanda terima kasih dari salah satu pasien yang pernah tinggal sementara di desa ini dan merupakan pemilik butik di Tokyo.

Gaun itu belum pernah sekalipun ia pakai.

Gaun itu berwarna aqua blue bertali yang tampak simpel tapi sangat manis. Tapi memakai gaun seperti ini sama sekali bukan gaya Hinata. Tapi sejak Naruto menciumnya, Hinata tidak yakin lagi siapa dirinya. Entah kenapa seluruh identitasnya seakan mengabur.

Hinata memandangi gaun itu dengan ragu, kemudian menyelipkannya ke kepala dan bergeliat untuk menurunkannya ke pinggul. Namun ia terkejut saat menyadari belahan dadanya yang sedikit terlihat karena gaun itu cukup rendah. Sebelum ia ingin melepas gaun itu, terdengar suara ketukan di pintu kamar.

"Kau sudah siap?"

"Belum!" Hinata memandang sekilas pantulan dirinya di cermin dengan cemas. Ia seperti terlihat wanita yang menggoda. "Aku butuh lebih banyak waktu."

"Kubilang tadi lima belas menit…" Naruto membuka pintu dan mendadak berhenti, mengamati Hinata dengan intens. "Kau bilang belum siap? Kau sudah terlihat luar biasa, Hinata."

"Bukan ini baju yang ingin kupakai." ujar Hinata cepat, dan Naruto mengangkat salah satu alisnya.

"Menurutku, sepertinya kau sudah mengenakan gaun itu."

Hinata menggigit bibir. "Maksudku, aku hanya mencobanya… Tapi ini tidak cocok untukku…"

Hening sejenak saat Naruto memandang Hinata, tatapannya berhenti di garis leher gaun yang terlihat rendah.

"Baju itu cocok denganmu, Hinata." kata Naruto pelan. "Ini sangat cocok untukmu. Hanya saja masalahnya kau selalu berlindung dalam gaya berpakaianmu yang kaku itu."

Hinata membelalak panik, seakan merasa pria itu akan mengupas lapisan kehidupan pribadinya sekali lagi.

"Sebaiknya kita lupakan saja ini, Naruto… Ini tidak akan berhasil."

"Apa maksudmu tidak akan berhasil? Aku hanya mengajakmu makan malam berdua denganku." Naruto mengingatkan dengan lembut. "Apa itu terlalu sulit?"

Sangat sulit. Sepertinya tubuh Hinata tidak bisa berfungsi normal, dan tidak bisa diprediksi ketika ia bersama pria ini. Tubuhnya melakukan hal-hal aneh yang tidak ada di buku kedokteran mana pun yang pernah ia baca.

"Aku tidak mau pergi makan malam denganmu." kata Hinata mantap sambil berjalan menuju lemari pakaiannya dan mengambil cardigan untuk menutupi gaun itu. "Selama ini aku tidak pernah makan malam di luar rumah."

"Kau juga tidak pernah makan siang di luar sampai hari ini," Naruto memberi alasan, "tapi kau tetap menikmatinya."

Hinata membelalak. "Waktu makan siang kau tidak memberiku pilihan."

"Dan aku juga tidak memberimu pilihan sekarang," balas Naruto tenang. "Aku sudah mengatakan akan melakukan apapun untuk membawaku pergi malam ini, kan? Kau menikmati acara makan siang kita, dan aku bertaruh kau juga akan menikmati acara makan malam ini."

Hinata ragu, mendadak merasa tidak yakin. "Aku tidak suka restoran mewah…"

"Siapa yang mengatakan kita akan pergi ke restoran mewah?" Naruto tersenyum kecil. "Kau selalu salah menilaiku, Hinata."

Jantung Hinata berdebar kencang di dadanya, tapi ada satu hal yang perlu diluruskan di antara mereka.

Hinata menarik nafas panjang. "Dan aku tidak mau kau menciumku secara tiba-tiba seperti tadi, Naruto. Kau mengerti?"

Mungkin ia tidak perlu mengatakan hal itu. Untuk apa Naruto mau menciumnya lagi?

"Apa alasannya?"

Rona panas membanjiri pipi Hinata. "Karena aku… kau… kita…" Hinata terdiam, menelan ludah saat Naruto menutup jarak di antara mereka.

"Aku menikmatinya, Hinata." Suara Naruto terdengar lembut. "Aku tidak bisa berjanji untuk tidak melakukannya lagi."

Naruto menikmati ciuman tadi?

"Tapi aku tidak menginginkannya, Naruto." ujar Hinata sambil memainkan jemari tangannya. Dadanya naik turun saat ia berusaha memperlambat deru nafasnya. "Aku tidak biasa melakukan hal semacam itu."

Naruto tersenyum tipis. "Maksudmu, seperti kau tidak terbiasa makan siang dan makan malam di luar? Jangan takut, Hinata. Kita akan melakukannya selangkah demi selangkah, oke?"

Tidak! Ini tidak oke!

"Naru…"

"Tenanglah, Hinata." Suara Naruto dalam dan mantap. "Aku tidak bisa berjanji untuk tidak menciummu lagi. Karena sejujurnya ciuman tadi terasa… luar biasa. Dan aku sangat ingin melakukannya lagi. Tapi aku akan berjanji untuk tidak melakukannya tanpa izinmu."

Tanpa menghiraukan nafas Hinata yang terengah karena terkejut, Naruto mengenggam tangan wanita itu dengan mantap dan mengajaknya menuruni tangga sampai handphone Hinata berbunyi hingga membuat mereka berdua menghentikan langkah.

"Ahhh Ino, ada apa? Izumo? Baiklah, Katakan padanya dia bisa datang ke tempat praktikku. Besok? Baiklah. Kau atur saja jadwal pasienku, Ino. Terima kasih."

Klik.

"Baiklah, sampai di mana kita tadi, dokter Hinata?" ujar Naruto ketika Hinata menutup panggilan teleponnya.

"Kau sedang menarikku keluar untuk makan malam dan aku sedang memprotes."

"Kalau begitu kita harus cepat. Aku tidak mau kalau tiba-tiba ada pasienmu yang datang ke sini dan langsung mengedor pintumu."

"Aku dokter mereka." balas Hinata, dan senyum Naruto melebar.

"Tidak malam ini, dokter Hinata." Naruto mengulurkan tangan dan menyentuh bibir Hinata dengan jemarinya. "Malam ini kau adalah teman kencanku."

Teman kencan Naruto?

Dengan jantung berdebar liar, Hinata berjalan bersama Naruto ke mobil, mencoba tidak menghiraukan kekuatan jemari pria itu yang mengencang di jemarinya. Saat melirik wajah Naruto, mendadak Hinata teringat kembali kata-kata pria itu tentang menciumnya jika ia memberi izin.

Heh, jangan harap itu akan terjadi. Berpikir tentang mencium Naruto lagi saja sudah membuatnya merasa begitu aneh.

Hal itu tidak akan terjadi.

Dan tidak mungkin terjadi.

.

.

.

TBC

A/N: Gomen kalau chapter ini sedikit lebih pendek dari chap sebelumnya. Untuk chapter depan akan lebih panjang karena di chap depan klimaks cerita ini akan dimulai sekaligus masa lalu Hinata akan diungkap. Ditunggu aja ya ^^

Dan terima kasih untuk yang udah review chap kemarin:

L, kitami minagawa, kiriko mahaera, Rika the Titania, amexki chan, Neerval-Li, aam tempe, KarinHyuuga, semutt, suka snsd, Gyurin Kim, ramdhan-kun, Lizy94, Natsumi H, Yashina Uzumaki, NaruHina Lavender Orange, Namikaze Resta, mongkichii, sasuhina caem, Hyuga Toki, anzuka 16, dan meyrin kyuchan.

Juga untuk silent reader, alert dan favnya. Arigatou minna-san ^^

Still mind to review?