NARUTO FANFICTION

LOVELY DOCTOR

Diclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto

The Playboy Doctor by Sarah Morgan

Warning : AU, OOC, TYPO(S), DON'T LIKE? DON'T READ!

Pairing: NaruHina

Chapter 7

.

.

.

Hinata memandang bingung saat Naruto memasukkan ransel kecil ke bagasi mobil dan membantingnya hingga tertutup.

"Kita akan pergi ke mana?"

Kenapa pria itu membawa ransel ke acara makan malam?

"Tunggu dan lihat sendiri." Naruto menyunggingkan senyum yang kembali membuat Hinata harus menahan degup jantungnya. Kemudian ia menyalakan mesin mobil dan menambah kecepatan begitu keluar dari tempat parkir.

Hinata menyipitkan mata saat memandang rambu jalan saat mereka melintasinya dengan cepat. "Kita akan ke pantai?"

Hinata membalikkan tubuhnya untuk memandang Naruto, tapi pria itu hanya mengangkat bahu dengan misterius. Senyum samar menyentuh ujung bibirnya sesaat sebelum ia kembali memfokuskan pandangan ke arah jalan di hadapannya.

Mengambil keuntungan saat perhatian Naruto telah seutuhnya tertuju pada jalan di depan, pandangan Hinata diam-diam singgah di bibir pria itu, mengingat cara pria itu menciumnya. Walaupun udara malam ini cukup hangat, Hinata merasa tubuhnya gemetar.

Hanya satu ciuman.

Satu ciuman. Hanya itu yang dibutuhkan untuk mengubah Hinata dari tidak acuh menjadi waspada, dari nyaman menjadi bingung. Hanya satu ciuman, dan ia langsung bersikap seperti setiap wanita saat berada dekat dengan Namikaze Naruto.

Apa yang terjadi dengan rasa sebal yang selama ini kurasakan terhadap pria itu? Ke mana sikap antipatiku?

Hinata mengenyit sedikit saat mencoba menganalisis apa yang terjadi pada dirinya. Selama ini ia tidak pernah terpengaruh sedikit pun oleh daya tarik Naruto, sampai sekarang. Kini tiba-tiba ia memperhatikan semua hal yang pasti diperhatikan wanita-wanita lain sejak dulu. Cara bulu mata Naruto yang panjang melindungi mata yang sangat seksi, tatapan biru yang tajam, struktur tulang yang menakjubkan dan rahang kuat yang semakin menonjolkan sisi maskulin pria itu. Dan bibir Naruto…

Tidak heran para wanita menganggap Naruto sangat menarik. Hinata tidak pernah bisa mengerti itu sebelumnya, tapi sejak Naruto menciumnya segalanya berubah. Mendadak ia melihat Naruto secara berbeda. Dan itu sangat menggelikan, karena tampan atau tidak, Naruto tetap playboy sembrono yang sama. Seseorang yang berlawanan dengan Hinata.

"Kau pendiam sekali malam ini." Naruto memandang sekilas ke arah wanita itu, dan Hinata tersenyum kecil, bertanya-tanya apa yang akan dikatakan Naruto jika tahu apa yang ia pikirkan. Pria itu mungkin akan terkejut setengah mati. Seorang Hyuuga Hinata memikirkan sesuatu selain pekerjaan. Dan bukan sekedar sesuatu, tapi seseorang. Naruto.

"Aku hanya penasaran kita akan makan malam di mana," Hinata berbohong, lalu terkesiap gembira saat mobil berbelok dan pemandangan laut muncul di hadapannya. "Indah sekali…"

Matahari sore mengirimkan sinar yang berkilauan di permukaan air dan Hinata dapat mendengar deburan ombak bergerak menuju tebing-tebing yang menjulang.

Naruto memarkir mobil di tempat pakir kecil di atas karang yang curam dan memandang Hinata dengan penasaran. "Kau benar-benar belum pernah mengunjungi tempat ini padahal kau sudah tinggal di daerah ini selama tiga tahun?"

Hinata tampak ragu. "Aku sibuk bekerja-"

Dengan segera Naruto menutup bibir Hinata dengan jemarinya. "Kata-kata itu dilarang malam ini. Tidak ada 'pekerjaan' dan tidak ada 'tapi'. Oke?"

Naruto keluar dari mobil dan mengambil ransel dari bagasi sebelum membukakan pintu penumpang dan membantu Hinata keluar.

Hinata memandang sekeliling tempat parkir yang kosong, kebingungan. "Sepertinya tidak ada restoran di sini."

"Siapa yang bilang soal restoran?" Naruto tersenyum dan menggantungkan ransel itu di bahu lebarnya. "Aku hanya bilang makan malam dan aku tidak mengatakan kita akan makan di restoran. Ayo, kita mulai berjalan-jalan."

Tanpa memberi waktu Hinata untuk bertanya lebih jauh lagi, Naruto melangkah ke arah jalan setapak di tebing itu. Saat Hinata berhasil menyusuk pria itu, ia mulai kehabisan nafas.

"Seharusnya kau bilang dulu kalau kita akan jalan kaki. Aku pasti akan mengenakan pakaian yang lain."

"Aku tahu." Naruto melirik Hinata sambil tersenyum, senyuman yang untuk kesekian kalinya seakan melelehkan tulang-tulang gadis itu. "Itulah sebabnya aku tidak mengatakannya padamu. Gaun itu terlalu bagus untuk menghabiskan seluruh hidupnya di belakang lemari."

Karena sangat tidak terbiasa dipuji, pipi Hinata merona merah. Naruto kembali melangkah maju, begitu nyaman dan santai sehingga Hinata merasa dirinya juga mulai merasa santai. Mungkin seharusnya aku merasa lega, pikir Hinata. Tadi ia sempat merasa takut pria ini akan mengajaknya ke restoran mewah dengan para pelayan yang terus menunggu di dekat meja. Tapi ternyata Naruto mengajaknya berjalan-jalan menikmati pemandangan menakjubkan ini.

"Sepertinya ini tempat yang bagus." Naruto menurunkan ransel dari bahunya dan menjatuhkannya ke tanah.

Hinata hanya dapat memandang terkejut saat Naruto mengeluarkan isi ransel itu dan mengeluarkan tikar sebagai alas tempat duduk. "Tidak kusangka kau benar-benar sudah mempersiapkan semua ini…"

"Aku memang selalu siap sedia kapan pun itu." Naruto mengerlin pada Hinata dan melambaikan tangan ke arah selimut itu. "Mejamu sudah siap, Hime."

Hinata tersenyum walaupun sebenarnya tidak ingin melakukan itu. ia melepaskan sepatu dan melipat kakinya yang ramping.

"Ini mengagumkan," gumam Hinata pelan. "Idenya bagus. Piknik."

"Jangan terlalu bersemangat. Aku takut makanannya agak membosankan," Naruto mengeluarkan beberapa bungkusan dari ransel. "Kuharap kau suka sushi salmon."

Hinata memperhatikan saat Naruto membuka bungkusan sushi dan membuka sumbat botol anggur putih.

Sushi?

Entah kenapa Hinata mengira Naruto tidak sesuai dengan sushi, meskipun isinya daging salmon.

Naruto menyodorkan segelas penuh anggur putih ke hadapan Hinata. "Ada apa?"

Hinata tersipu, malu dengan pikirannya sendiri. "Aku hanya tidak mengira ini tempat idealmu untuk makan malam." ia mengaku, memutuskan lebih baik berkata jujur.

"Ah…" Naruto mengangkat gelasnya dengan gerakan bersulang dan meminum anggurnya. "Tapi itu karena kau belum mengenalku, Hinata, sama seperti aku yang belum begitu mengenalmu. Tapi aku akan selalu berusaha mengubah kondisi itu."

Rasa panas menyebar melalui pembuluh darahnya, dan Hinata sengaja mengalihkan pandangan dari tatapan Naruto.

"Tidak ada yang perlu diketahui," ujar Hinata cepat, mengambil sebuah sushi untuk dirinya dan memandang laut di hadapannya. "Aku bekerja, aku memiliki kuda, hidupku normal. Terutama jika dibandingkan dengan orang sepertimu."

Naruto mencondongkan tubuhnya untuk mengambil sushi. "Apa kau berpikir aku hanya bermain-main menjadi dokter?"

Hinata bergeser, sadar bahwa itulah tepatnya yang dulu sempat ia pikirkan tentang Naruto.

"Kurasa setiap orang memang berbeda," akhirnya Hinata mengakui, tersenyum ragu pada pria itu. "Mungkin kau tipe orang yang tidak bisa terikat pada satu tempat atau satu pekerjaan."

Atau satu wanita.

"Mungkin kau benar," gumam Naruto sambil mendorong satu sushi ke arah Hinata. "Aku memang tidak terlalu suka terikat pada satu hal. Tapi aku yakin aku sudah pernah memberitahumu aku sangat mencintai dunia kedokteran."

Hinata menghela nafas, tentu ia masih ingat hal itu dengan baik. "Aku tahu itu."

"Bagaimana denganmu, Hinata?" Naruto berbaring santai dan memejamkan mata sambil mendesah panjang. "Ceritakan tentang keluargamu… Latar belakangmu…"

"Tidak ada yang bisa diceritakan," gumam Hinata tanpa sadar. Dalam hati bertanya-tanya bagian mana dalam hidupnya yang mungkin bisa membuat Naruto tertarik.

"Baiklah kalau begitu." Naruto menoleh dan memperhatikan Hinata dengan malas. "Kalau kau tidak mau bercerita dengan sukarela, aku akan memberikan pertanyaan. Apa kau mempunyai saudara?"

"Tidak." Hinata tersenyum menyesal dan mata pria itu langsung menyipit.

"Tapi sebenarnya kau ingin mempunyai saudara?"

Hinata melirik Naruto, kemudian kembali memandang laut. "Ya. Dulu aku sering memimpikannya."

Naruto bertumpu pada siku dan memperhatikan Hinata lekat-lekat. "Kenapa?"

Hinata ragu, tidak terbiasa menceritakan rahasianya pada orang lain. "Karena itu bisa melepaskan tekanan dariku," ucapnya dengan suara begitu pelan sehingga ia bertanya-tanya apa Naruto bisa mendengarnya.

"Tekanan? Mungkin dari orang tuamu?"

Jelas sekali pendengaran Naruto sangat tajam, setajam indranya yang lain.

"Ya."

"Apa mereka dokter juga?"

"Tidak." Hinata menggeleng. "Ayahku seorang pengusaha biasa, tapi kedua orang tuaku sudah meninggal beberapa tahun lalu."

"Aku ikut menyesal." Suara tenang pria itu seakan menembus benak Hinata sehingga ia berbalik sambil tersenyum singkat.

"Tidak perlu. Aku lahir saat usia mereka sudah cukup tua. Sebenarnya, ayahku pernah mengatakan saat itu dokter menyarankan ibuku untuk menggugurkan aku karena resiko mengandung terlalu besar untuk manusia seusianya. Tentu saja ibuku menolak. Menggugurkan kandungan jelas bertolak belakang dengan segala hal yang mereka yakini. Jadi orang tuaku tidak menghiraukan saran dokter itu. Lagipula mereka sangat gembira. Sejak lama mereka menginginkan seorang anak, sampai-sampai mereka berpikir mungkin itu tidak akan pernah terjadi."

"Jadi kau lahir di masa tua mereka," renung Naruto. "Mereka pasti sangat mencintaimu."

"Ya." Hinata membuka mulut untuk bicara lebih lanjut, tapi menutupnya lagi. Kenapa aku berpikir untuk mencurahkan perasaanku kepada pria yang tidak benar-benar kukenal ini? Apa hanya butuh satu ciuman untuk membuatku kehilangan kemampuan berpikir?

"Dan dengan besarnya cinta mereka datang pengharapan yang besar juga," gumam Naruto, matanya tertuju pada wajah Hinata. "Karena itukah kau selalu belajar dan bekerja begitu serius?"

Hinata terbelalak, terkejut karena dugaan pria itu begitu tepat. "Ya, setidaknya pada awalnya. Orang tuaku ingin aku memiliki karir yang bagus."

"Jadi mereka menumpuk semua harapan padamu." Naruto duduk dan mengambil satu sushi lagi. "Itu pasti sangat berat."

Hinata menatap isi gelas anggurnya. "Mungkin. Dan itu membuatku menyadari aku berbeda dari orang lain."

"Berbeda?" Naruto menggigit potongan besar sushi dan mengernyit sedikit. "Dalam hal apa kau berbeda?"

Hinata diam, benaknya kembali ke masa-masa kecilnya.

"Aku tidak boleh melakukan hal-hal yang dilakukan gadis lain. Jadi hampir tidak mungkin aku berteman dengan mereka. Dan karena tidak bisa bergabung dengan mereka, aku diejek."

Saat sushi itu sudah setengah jalan ke mulutnya, gerakan Naruto terhenti. "Diejek atau diganggu?"

Hinata memandang sekilas ke arah laut dan meneguk ludah. "Diganggu," ia akhirnya mengaku. "Sebenarnya itu tidak mengejutkan. Aku tidak pernah cocok dalam pergaulan mereka. Ketika gadis-gadis lain berkumpul untuk bereksperimen dengan make up dan cekikikan membicarakan laki-laki, aku harus diam dan belajar di rumah."

"Tapi orang tuamu pasti mengizinkanmu menemui teman-teman, kan?"

"Tidak juga. Gadis-gadis yang ingin kujadikan teman tidak sesuai menurut kriteria ayahku. Menurutnya, make up dan pakaian ketat adalah jebakan dosa. Ayahku hanya ingin aku belajar."

"Dan ibumu?"

"Ibuku tidak akan pernah menyanggah pendapat ayahku," ujar Hinata pelan. "Ibuku juga ingin aku bekerja keras, dan pada akhirnya itulah yang kulakukan. Kurasa, kalau mau jujur, aku menganggap pekerjaan sebagai bentuk pelarian. Walaupun itu justru membuat keadaan di sekolah jadi lebih buruk."

"Karena kau jadi tampak seperti kutu buku?"

"Ya. Itu membuatku semakin berbeda dari teman-teman sebayaku." Hinata mengangkat bahu dan berusaha tersenyum. "Tapi aku bertahan."

Naruto menghembuskan nafas panjang. "Kau pasti lega saat lulus SMA."

"Ya." Hinata mengangguk perlahan. "Kupikir sekolah kedokteran bisa menjadi awal baru."

Naruto memperhatikan Hinata dengan sungguh-sungguh. "Tapi ternyata tidak?"

"Tidak." Hinata menggeleng. "Hanya saja kali ini bukan salah orang lain, tetapi salahku sendiri. Aku sudah begitu lama sendirian, mencoba menghindari perhatian dan gangguan, hingga akhirnya aku kehilangan kemampuan bersosialisasi. Aku benar-benar malu menghadapi orang lain. Kurasa aku memang tidak tahu cara berteman karena aku memang tidak pernah benar-benar memiliki teman."

"Kau gadis yang sangat cantik, Hinata," ujar Naruto perlahan. "Aku tidak percaya tidak ada orang atau pria yang tidak tertarik padamu."

Karena merasa sudah bicara terlalu banyak, Hinata cepat-cepat berdiri.

"Sudah cukup bicara tentang diriku. Ayo berjalan-jalan saat hari masih cukup terang."

"Hari masih akan terang sampai berjam-jam lagi," ujar Naruto lembut. "Duduklah dan katakan padaku apa yang terjadi."

Hinata melingkarkan lengannya ke pinggang dan berbalik menghadap pria itu, matanya terbelalak. "Apa yang membuatmu berpikir ada sesuatu yang terjadi?"

"Dari caramu bereaksi," tukas Naruto serak. "Dari caramu menyembunyikan begitu banyak hal tentang dirimu. Itu jelas sekali. Dan aku benar-benar berharap kau mau menceritakan keseluruhan ceritanya. Mungkin itu bisa membuatmu lebih baik."

Membuatku merasa lebih baik? Dengan berbagi rasa Maluku dengan Naruto? Tidak mungkin!

"Tidak ada yang bisa diceritakan," gumam Hinata sambil membungkuk untuk mengambil sepatunya. Jemari Naruto yang panjang dan kuat mencengkram pergelangan tangannya, lalu pria itu menariknya dengan lembut hingga duduk kembali di sampingnya.

"Apa pria itu yang menjadi alasan hingga kau masih menutup dirimu sampai sekarang?" Suara Naruto terdengar rendah dan mendesak. "Apa karena dia kau tidak memiliki kehidupan sosial yang normal?"

Hinata membelalak pada Naruto. "Maksudmu siapa?"

Tatapan Naruto menahan tatapan Hinata dengan mantap. "Kutu busuk yang jelas-jelas mengambil keuntungan dari kepolosanmu."

Hinata memerah, lalu mencoba menarik pergelangan tangannya, tapi genggaman pria itu malah mengencang. "Aku benar-benar tidak ingin membicarakan ini, Naruto."

Naruto merenung sambil mengernyit. "Aku tahu kita tidak terlalu sering bertemu saat di sekolah kedokteran, tapi sepertiya aku tidak ingat kau punya kekasih."

Sesaat Hinata tampak berjuang, tapi pada akhirnya ia menyerah dengan keras kepalanya Naruto dan juga rasa simpati dan kebaikan hati yang terlihat di mata pria itu.

"Awalnya aku punya kekasih," Hinata bergumam, bahunya yang ramping merosot saat duduk di samping pria itu lagi. "Aku bertemu pria itu pada minggu pertama penyambutan mahasiswa baru."

"Saat pertama kali kau masuk sekolah kedokteran dan jauh dari rumah?"

Hinata mengangguk perlahan. "Ya. Aku pergi ke bar gedung kedokteran dan dia… aku…" Hinata terdiam, malu karena betapa naif dan bodohnya ia saat itu. "Dia benar-benar menarik, dan dia pria pertama yang memberikan perhatian padaku."

"Aku mengerti," ujar Naruto tenang, tatapannya penuh simpati. "Setelah delapan belas tahun dikekang oleh kedua orang tuamu, minggu penyambutan mahasiswa baru pasti tampak seperti hari bebas belanja apapun yang kau mau."

Hinata setengah tersenyum pada Naruto, terkejut dan bersyukur karena pria itu tampaknya mampu memahami perasaannya.

"Jangan bilang padaku…," tatapan Naruto berubah sedikit tajam, "kalau kau melewatkan satu malam dengannya dan dia tidak pernah menghubungimu lagi."

Seandainya saja itu yang terjadi…

Hinata menggeleng keras, terkejut saat air mata memenuhi matanya. Sialan. Betapa bodohnya aku. Menangis setelah bertahun-tahun ini.

Hinata menghapus jejak air matanya dan bangkit berdiri. Kali ini Naruto tidak menarik Hinata untuk kembali duduk, tapi ia ikut berdiri dan memutar wajah Hinata sehingga mereka berhadapan.

"Sebenarnya apa yang terjadi, Hinata?"

Hinata menarik nafas panjang setelah berhasil menghentikan air matanya. "Pria itu… ternyata dia sepupu salah satu teman SMA-ku, salah satu anak laki-laki yang suka mengganguku. Saat itu aku sama sekali tidak tahu. Aku sangat bodoh karena mengira pria itu benar-benar menyukaiku. Kami berkencan selama satu bulan dan…," air mata kembali turun di pipinya, "setelah dia bilang dia sangat mencintaiku… dengan bodohnya aku benar-benar percaya padanya… sampai aku menyerahkan seluruhnya untuk pria itu, termasuk keperawananku…"

Tanpa sadar Naruto mengepalkan kedua tangannya dengan sangat kuat, emosinya serasa naik hingga ke ujung kepala.

"Lanjutkan." Nada suara Naruto yang berat dan sangat tajam itu mengejutkan Hinata, matanya tertuju pada pria itu saat ia berusaha menggerakkan bibirnya untuk menyelesaikan ceritanya.

"Ternyata itu adalah taruhan," ujar Hinata perlahan sambil berusaha menahan suara isak tangisnya. "Aku mengetahuinya saat menemukan surat yang isinya 'Foto si anak kutu buku yang telanjang di tempat tidurku. Sekarang jangan lupa memberikan uang yang kau janjikan itu." Hinata menelan ludah dengan sakit hati lalu mengalihkan pandangan, melewati kilatan amarah yang sangat terlihat di mata Naruto. "Sejak saat itu aku tahu kalau sepupunya memang memiliki reputasi buruk sebagai playboy, bahwa dia bisa memikat semua wanita."

"Dan apa itu akhir hubungan kalian?"

"Sama sekali tidak ada hubungan Naruto. Pria itu tidak benar-benar menginginkanku. Dan untuk membuktikan hal itu, dia menempelkan foto dan surat itu tepat di depan pintu apartemenku…"

Terjadi keheningan panjang, dan ketika Hinata akhirnya berhasil mengumpulkan keberanian untuk memandang Naruto, ia melihat mata pria itu tampak begitu dingin dan diliputi amarah.

"Siapa pria itu?" Naruto berusaha sekuat tenaga untuk menahan emosi dalam nada suaranya, dan Hinata mengangkat bahu.

"Apa itu penting untukmu?"

Mulut Naruto mengencang. "Siapa, Hinata?"

"Akasuna Sasori." gumam Hinata, tidak mampu mengucapkan nama tersebut tanpa merasa marah pada diri sendiri. Bahkan sekarang, setelah bertahun-tahun berlalu, ia tidak dapat memaafkan diri sendiri karena bisa terpedaya oleh laki-laki itu. Bagaimana ia bisa sebodoh itu?

Naruto tertawa kasar. "Akasuna Sasori… Kurasa seharusnya aku sudah bisa menebaknya."

"Kau mengenalnya?"

Naruto mengangkat bahu. "Tidak terlalu, tapi cukup kenal untuk tahu kalau dia benar-benar pria brengsek dan ancaman bagi para wanita." Suara Naruto mulai melembut, lalu ia mengangkat dagu Hinata dengan jemarinya, memaksa Hinata memandangnya. "Tapi dari luar dia terlihat kaya, glamor, dan tampan. Aku bisa mengerti seseorang dengan latar belakang sepertimu tidak bisa menolak daya tariknya."

Hinata menggigit bibir, memutuskan untuk menceritakan seluruh kisahnya. "Dan setelah hal itu, aku mendapati diriku hamil… Saat itu aku benar-benar ketakutan, Naruto…"

Naruto mengerang. Emosinya yang sedikit mereda kembali muncul. Didekapnya erat gadis itu dalam pelukannya. "Lalu apa yang kau lakukan?"

"Tidak ada." Sesaat Hinata menyandarkan kepalanya di dada Naruto. Aroma citrus pria itu membuatnya merasa lebih tenang. "Aku keguguran. Mungkin seharusnya aku merasa lega, tapi aku justru putus asa."

Naruto mengumpat pelan dan memeluk Hinata lebih erat, mencoba memberi kekuatan pada gadis yang sekarang terlihat rapuh di pelukannya "Lalu apa kau tidak menceritakannya pada orang tuamu?"

"Kau bercanda?" Hinata menggeleng sambil menjauhkan dirinya dengan cepat. "Mereka bisa mati kalau sampai mengetahui putri tunggal mereka hamil di usia delapan belas tahun. Tidak. Aku tidak menceritakannya pada mereka, Naruto. Aku tidak menceritakannya pada siapa pun."

Naruto menghela nafas dengan tajam. "Tapi siapa yang menghiburmu? Siapa yang mendukungmu?"

"Tidak ada." Hinata tersenyum penuh sakit hati. "Aku mengubur diri dalam pekerjaan dan akhirnya semuanya mulai membaik…"

Naruto berbisik. "Dan sejak saat itu kau tidak pernah lagi berhubungan dengan pria lain?"

Hinata tersenyum lesu dan mengangguk perlahan. "Ya. Sejak awal kepercayaan diriku memang tidak besar, dan Sasori semakin menghancurkan sedikit rasa percaya diri yang kumiliki. Aku mungkin sudah trauma dengan pria… Beberapa pria yang mengajakku berkencan pun, hanya karena ingin bersenang-senang…"

Naruto mengernyit. "Darimana kau tahu itu alasan mereka mengajakmu berkencan?"

"Karena itu jelas," gumam Hinata, malu karena perubahan topik pembicaraan mereka. "Aku bukan tipe wanita yang bisa membuat pria jatuh cinta. Sasori menyadarkanku akan hal itu. Dia tidak akan mendekatiku kalau sepupunya tidak menantangnya lewat taruhan. Aku tidak seperti kebanyakan wanita yang menarik untuk para pria."

Naruto terdiam sejenak lalu menutup jarak di antara mereka sampai tubuh mereka kembali bersentuhan. "Apa kau tidak pernah berpikir pria mungkin mengajakmu berkencan karena kau menyenangkan dan sangat cantik?"

Cantik?

"Kau hanya bercanda," gumam Hinata, mencoba menjauh dari pria itu. "Aku tidak cantik."

"Coba bersihkan cerminmu," jawab Naruto lembut. "Kau sangat cantik. Terutama saat kau membiarkan rambutmu tergerai. Ketika aku melihatmu dengan Aoi, aku sampai tidak menyangka kalau itu kau. Aku hampir jatuh karena terkejut."

Mata Hinata terbelalak. Jadi saat itu Naruto benar-benar memperhatikannya?

Hinata mendongak memandang pria itu. Jantungnya kembali berdebar-debar saat tatapan Naruto kembali dengan tatapan Hinata. Ia tidak boleh mengambil resiko membuat dirinya tampak bodoh dengan jatuh cinta pada pria yang salah. Apa yang bisa ditawarkan wanita seperti dirinya kepada pria seperti Naruto, pria yang bisa memiliki apa pun dan siapa pun yang dia inginkan?

Jantungnya kembali berdentam saat pria itu menariknya mendekat dan menundukkan wajahnya, mendekatkan jarak wajahnya dengan wajah Hinata. Membuat Hinata memalingkan wajah dan mencoba mendorong Naruto menjauh.

"Tidak! Kau tidak boleh… Kita tidak boleh. Kau janji-"

"Tidak, aku tidak janji seperti itu." Suara Naruto terdengar rendah. "Aku berjanji tidak akan menciummu tanpa izin."

"Kalau begitu…" Suara Hinata terdengar seperti bisikan parau saat Naruto terus menariknya mendekat.

"Jadi berikan izinnya, Hinata," bisik Naruto, begitu dekat dengan bibir wanita itu. "Cepat. Sebelum aku melanggar janji untuk pertama kalinya dalam hidupku."

Hinata bergetar di dalam dekapan pria itu. "Aku tidak percaya kau benar-benar mau menciumku…"

Tatapan Naruto mendadak tampak sungguh-sungguh. "Aku sudah bilang kalau aku tidak bermain-main dalam hal ini, Hinata."

"Naru…"

"Cium aku, Naruto," bisik Naruto, "hanya itu yang harus kau katakan, Hinata, cium aku…"

Hinata seharusnya mendorong Naruto menjauh, seharusnya ia tidak mengatakan apa-apa. tapi bibirnya malah membentuk kata-kata yang diinginkan pria itu dan dengan segera bibir pria itu bertemu dengan bibirnya.

Naruto mencium Hinata dengan perlahan dan menyeluruh, kemudian sambil mengerang pelan ia menarik wanita itu semakin dekat dengan tubuhnya.

Hinata gemetar hebat, tubuhnya terbakar oleh keinginan yang tidak dapat ia kenali. Ia hanya tahu kalau dirinya membutuhkan Naruto lebih banyak lagi. Membutuhkan rasa Naruto lebih banyak. Lebih banyak sentuhan…

Suara siulan dari sepasang remaja yang melewati mereka membuat Naruto mengangkat kepalanya, dan Hinata segera mendorong dadanya dan bergerak menjauh. Tubuh Hinata masih terbakar oleh perasaan yang dibangkitkan Naruto.

"Tidak. Ini tidak boleh, Naruto."

"Kenapa tidak?"

"Karena ini gila," ujar Hinata putus asa, mundur semakin menjauh untuk membuat jarak aman di antara mereka. Hinata tidak bisa mempercayai dirinya sendiri yang meminta Naruto untuk menciumnya.

"Dan kenapa ini gila?" Suara Naruto mantap tapi santai, dan Hinata menggigit bibirnya keras-keras.

"Karena kau tidak punya alasan untuk menciumku."

"Kupikir sudah jelas kalau aku menginginkannya. Sejauh yang aku tahu, itu alasan yang cukup bagus." Naruto mendekati Hinata perlahan-lahan. "Dan karena kau juga menginginkannya… Kau sudah memberiku izin, kan? Kau juga menginginkannya, Hinata."

Aku memang mengiginkannya? Oh Tuhan itu benar. Tapi keinginan itu, kebutuhan itu, tidak cukup untuk membutakannya dari situasi mereka. Naruto benar-benar tipe pria yang tidak cocok untuknya. Ia tidak akan bisa menerima sikap Naruto yang begitu sembarangan dalam hidup.

"Kita sama sekali tidak cocok, Naruto…"

"Dan itu semakin menunjukkan seberapa besarnya kau salah menilaiku, Hinata." ujar Naruto datar, berhenti tepat di hadapan Hinata dan memandang wajah pucat wanita itu.

"Ki-Kita tidak punya kesamaan." balas Hinata, kebiasan gagapnya dulu kembali muncul. Naruto tersenyum mendengarnya.

"Aku tidak setuju. Kita saling melengkapi dengan sangat baik." Naruto menggerakkan jarinya dengan lembut di pipi Hinata. "Atau paling tidak kau bisa berhenti berasumsi yang tidak benar tentang diriku. Kenapa kau tidak mau mempercayaiku, Hinata?"

"Karena aku pernah melakukan itu," ujar Hinata singkat. "Menipu diri sendiri dengan berpikir ada seseorang yang benar-benar mencintaiku. Tapi aku salah…"

Naruto menatapnya, setengah geli dan setengah sakit hati. "Apa maksudmu kau mengira sikapku satu menit yang lalu itu palsu?"

Hinata mengingat ciuman tadi, dan wajahnya berubah merah. "Tidak, tapi…"

Naruto menunggu Hinata meneruskan ucapannya, kemudian mendesah. "Baiklah." Naruto menangkup wajah Hinata, memaksa wanita itu untuk memandangnya. "Kita lupakan pembicaraan itu untuk saat ini. Aku mengerti kau pasti sulit mempercayai siapa pun. Tapi ingat satu hal, Hinata. Kau adalah wanita yang sangat menarik. Meskipun kau sering membuatku merasa kesal, tapi aku menginginkanmu lebih dari wanita mana pun yang pernah kutemui."

Dengan kata-kata itu Naruto melangkah menjauhi Hinata dan membungkuk membereskan tempat alas duduk mereka dan memasukkannya kembali ke ransel. Membiarkan Hinata mencerna kata-katanya dalam keheningan.

Menurutnya aku sangat menarik?

Naruto menginginkan aku melebihi wanita mana pun yang pernah dia temui?

Benarkah?

.

.

.

TBC

A/N: Di sini saya membuat Hinata anak tunggal, jadi Hanabi tidak ada di fic ini ^_^

Chapter ini dimulainya klimaks fic ini, apa Hinata terlalu kasihan ya? #plaakkk#

Terima kasih banyak buat yang udah review Luthfiyyah Zahra, Zae-Hime, sasuhina caem, nyotnyot natsu, Gyurin Kim, ramdhan-kun, demikoo, NaruHina Lavender Orange, Neerval-Li, kitami minagawa, kiriko mahaera, suka snsd, siapaajaboleh, Aoko Namikaze, anzuka16, Nara Kazuki, Lizy94, semuttt, Natsu Hiru-chan, sakura, amexki chan, Ritard., Namikaze Resta, yessy lestari, Hyuga Toki, Trio Timmy Time, dan buat fav, alert, dan silent reader, arigatou gozaimasu ^_^

Still mind to review?