NARUTO FANFICTION

LOVELY DOCTOR

Diclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto

The Playboy Doctor by Sarah Morgan

Warning : AU, OOC, TYPO(S), DON'T LIKE? DON'T READ!

Pairing: NaruHina

Chapter 8

.

.

.

Setelah malam di tepi laut itu, berada dalam satu atap dengan Naruto saja sudah membuat Hinata gugup.

Mendengar suara pria itu dari kejauhan juga sudah cukup untuk membuat jantung Hinata berdetak cepat, dan melihat bahu lebar pria itu di meja makan saat sarapan langsung membuat lututnya gemetar.

Dan Naruto tahu itu…

Mungkin Hinata memang naif tentang pria dan hubungan romantis, dan juga untuk menyadari arti debaran di dadanya setiap kali mengingat Naruto, tapi ia bisa merasakan bahwa dengan sangat ahli pria itu perlahan-lahan meruntuhkan pertahanannya. Naruto tidak pernah berbuat lebih daripada menciumnya, tapi setiap kali melakukannya pria itu juga membawa perasaan Hinata setingkat lebih tinggi, sampai-sampai ia berpikir perasaannya ini akan meledak.

Namun ia bersyukur karena Ino sepertinya tidak menyadari perubahan dirinya dan Naruto. Dan entah bagaimana mereka berhasil melanjutkan pekerjaan dan kehidupan mereka masing-masing seakan tidak ada yang berubah di antara mereka. Naruto sendiri tidak pernah sedikit pun kembali menyinggung semua masa lalu yang sudah ia ceritakan. Naruto tetap berkomunikasi dengannya seperti biasa. Pria Namikaze itu juga tetap beraktifitas seperti biasa dari pagi, bahkan terkadang tidak pulang sampai larut malam. Memang baik Hinata dan Naruto tidak menunjukkan perubahan sikap yang berarti.

Dan Hinata sendiri tidak tahu, apa dia harus senang atau tidak dengan semua itu.

.

.

.

Hinata bekerja seperti biasa sampai daftar pasien pagi harinya yang terakhir. Ia berjalan menuju area penerima tamu, menyadari hanya ada satu pasien di ruang tunggu, seorang gadis kecil yang duduk di kursi roda.

Hinata mengalihkan pandangan ke arah Ino. "Apa dia menunggu untuk bertemu dokter?"

Ino mengangguk. "Dia bilang dia ingin bertemu dengan dokter Namikaze."

"Aku akan memeriksanya. Dokter Namikaze masih memeriksa beberapa pasien, jadi biar aku saja yang memeriksanya."

Ino menggeleng. "Kurasa dia bukan menginginkan bantuan medis. Kurasa dia hanya ingin menemui dokter Namikaze sebagai… Errr… Teman?"

"Oh." Hinata sedikit terkejut tepat saat pintu ruang konsultasi Naruto terbuka dan pria itu berjalan keluar sambil tertawa bersama pasiennya dan berjalan ke area penerima tamu. Kemudian ia melihat gadis muda di kursi roda itu dan mendadak berhenti berjalan karena terkejut.

"Haku?" Rasa terkejut langsung berubah menjadi rasa gembira. Naruto menyeberangi ruangan dalam tiga langkah panjang dan membungkuk untuk memeluk gadis kecil itu dengan erat. "Sedang apa kau di sini?"

"Aku hanya ingin mengunjungi Naru. Aku ingin berterima kasih untuk semua yang sudah kau lakukan selama ini…"

Naruto tersenyum tulus mendengar kata-kata gadis kecil di pelukannya ini. Ia melepaskan pelukannya dan mengelus kepala anak itu. "Bagaimana keadaanmu, Haku?"

"Seperti yang Naru lihat." Haku tersenyum ceria dan mengangkat bahu. "Kadang-kadang kakiku sangat sakit tapi dokter bilang semua akan baik-baik saja. Dan aku sudah bisa berjalan lima langkah, lho!"

Naruto kembali tersenyum. "Anak pintar. Sejak dulu aku sudah bilang kau pasti bisa melakukannya."

"Iya Naru benar," Haku tertawa riang, "tapi kalau bukan karena Naru, aku pasti sudah menyerah…"

Naruto menyentuh pipi Haku dengan lembut. "Tidak. Itu semua karena usahamu sendiri. Kau itu anak yang kuat, Haku."

Haku menggeleng. "Tidak. Naru yang memberiku keberanian untuk terus berusaha."

Mendadak Haku terdiam dan memandang sekilas ke sekitarnya dengan perasaan bersalah. "Apa aku menganggu pekerjaan Naru?"

Naruto menggeleng dan memandang sekilas pada Hinata yang diam-diam memperhatikan mereka dari belakang.

"Ini dokter Hinata, temanku sesama dokter di sini. Hinata, gadis kecil pemberani ini adalah Haku."

"Hai, Haku." Hinata tersenyum hangat pada gadis kecil itu. "Jadi kau ini teman Naruto?"

Haku mengangguk, kemudian memandang Naruto sekilas dengan kagum. "Aku ingin bertemu Naru. Naru benar-benar dokter yang hebat. Naru sudah banyak membantuku dan sekarang aku ingin berterima kasih pada Naru."

"Apa dulu kau ini pasien Naruto?"

Haku mengangguk. "Naru adalah dokter di tempat panti anak-anak cacat sepertiku saat di Amerika dulu…"

Amerika?

Tunggu! Jadi Selama ini Naruto ada di Amerika sebagai dokter di panti anak-anak cacat? Bukan untuk liburan dan bersenang-senang seperti kata-kata orang?

"Naruto…" Hinata berbalik untuk memandang Naruto. Ia merasa sangat malu. Untuk kesekian kalinya dia salah menilai pria itu lagi. Menganggapnya sebagai tukang berpesta yang tidak serius bekerja. Tapi gadis ini mengatakan kenyataan kalau Naruto membantu anak-anak cacat.

"Naru itu sangat hebat. Naru pernah tidak tidur semalaman penuh karena mencoba menghiburku yang sedang menangis saat itu. Naru juga pernah mengajari Moegi berenang, padahal Moegi takut dengan air karena kecelakaannya, lalu Sora yang buta-"

"Ya, ya. Baiklah Haku," Naruto menyelanya cepat, jelas merasa tidak nyaman. "Aku yakin dokter Hinata nanti bisa bosan mendengar ceritamu."

"Aku ingin mendengarnya," ujar Hinata lembut. "Aku sangat ingin mendengarnya."

Hinata duduk di kursi sebelah Haku, tidak menghiraukan protes malu dari Naruto, dan ia mendengarkan dengan sangat baik ketika Haku menceritakan semua hal tentang kehidupannya dan Naruto di panti itu.

Dan Hinata tidak bisa menahan rasa terkejutnya saat mengetahui bagaimana cara Naruto yang begitu hangat, bersahabat, dan kesabarannya selama merawat anak-anak cacat ini.

"Apa Naruto satu-satunya dokter di sana?"

"Tidak." Haku menggeleng. "Masih ada beberapa dokter lain, tapi tentu saja Naru adalah bos mereka, hehehehe."

Naruto menjadi pemimpinnya?

Sejak kapan Naruto mengambil tanggung jawab sebesar itu dalam suatu hal? Apa sebegitu salahkah penilaiannya terhadap pria ini?

"Aku harus pergi melakukan kunjungan rumah sekarang. Senang sekali bisa bertemu denganmu, Haku. Sering-sering datang ke sini ya."

Naruto mengenyit. "Aku juga harus melakukan kunjungan rumah."

"Tidak untuk hari ini, Naruto," potong Hinata cepat, "aku akan melakukannya sendiri. Temani saja Haku di sini, dia pasti masih sangat merindukanmu."

Naruto terdiam sebelum membalas, "Baiklah kalau memang itu maumu." Naruto memperhatikan Hinata lekat-lekat, tapi Hinata dengan cepat memalingkan wajahnya. Ia tidak mampu menatap Naruto. Ia selalu merasa mengetahui siapa pria ini, pria macam apa dia. Tapi sekarang ia mengetahui kalau ia sudah sepenuhnya salah menilai Naruto.

Haku telah menunjukkan pada Hinata kalau Naruto adalah dokter yang hangat dan bertanggung jawab yang selalu membantu orang lain. Bukan playboy yang hanya mencari kesenangan.

Dan kini, alasan-alasan Hinata untuk tidak mengizinkan dirinya terlibat dalam hubungan dengan Naruto seakan hancur menjadi debu.

.

.

.

Hinata menghabiskan waktu dua jam untuk melakukan kunjungan rumah dan kembali ke tempat praktik. Ia bertanya-tanya dalam hati apa Haku masih ada di sana.

Ternyata Haku sudah tidak ada. Hinata hanya melihat Ino yang tengah mengenggam kliping surat kabar dengan mata yang selebar piring.

"Lihat ini…"

Hinata mengambil kliping itu, mulutnya mengering saat melihat gambar itu.

Itu Naruto, tapi bukan seperti yang pernah Hinata lihat. Celana panjang dan kemeja berpotongan mahal, rambut pirang yang bersinar, dan mata yang tertawa, semuanya tidak terlihat. Pria di gambar itu tampak dekil dan tertutup debu sehingga model pakaiannya sama sekali tidak teridentifikasi. Kepalanya ditutupi topi yang sudah rusak dan wajahnya tercoreng lumpur.

Dan Naruto menggendong anak kecil.

Hinata menelan ludah saat membaca keterangan di bawah foto. 'Dokter Pemberani- Dokter Jepang yang tidak diketahui identitasnya mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkan seorang anak dari gedung runtuh setelah gempa bumi parah yang menghantam…'

Hinata berhenti membaca dan mendongak. Ekspersinya kosong.

Gempa bumi?

"Darimana kau mendapatkan ini, Ino?"

"Dari Haku, gadis kecil yang datang menemui Naruto tadi. Naruto memintaku menemaninya saat dia menerima telepon, dan Haku mengeluarkan ini dan menunjukkannya padaku. Coba bayangkan, dokter Namikaze tidak bilang siapa-siapa kalau ini adalah dia." Ino mengiggit bibir. "Haku bilang dokter Namikaze tidak suka kalau orang-orang tahu. Dia tidak pernah mengatakan pada siapapun kalau dia ada di sana. Ternyata Haku mengetahui tentang ini secara tidak sengaja dari dokter yang juga bekerja di panti asuhan itu."

Hinata menatap kliping surat kabar itu. Rasanya hancur karena rasa bersalah saat mengingat hal-hal yang telah ia katakan pada Naruto. ia telah menuduh Naruto pria yang sembrono dan tidak bertanggung jawab, dan bermain-main dengan pendidikan dokternya.

Ya Tuhan, bagaimana bisa aku sebodoh itu? Erang Hinata sambil menutup matanya dengan tangannya.

Bagaimana bisa aku tidak pernah merasakannya?

Naruto dokter yang baik dan bertanggung jawab. Hinata seharusnya sudah bisa menebaknya. Tapi Hinata terlalu cepat menghakiminya.

Terlalu cepat .

Sama sekali bukan sosok playboy yang Hinata tuduhkan. Pria itu adalah pahlawan. Dan pahlawan yang rendah hati. Tidak sekali pun Naruto menyebut jasanya, bahkan menceritakan pekerjaannya ini pada dirinya.

Kenapa Naruto tidak mau membicarakan hal ini? Kenapa pria itu membiarkan Hinata menganggap dirinya sebagai orang kaya yang hanya bermain-main di dunia kedokteran?

Jemari Hinata mengencang saat memegang kliping itu. "Apa aku boleh menyimpan kliping majalah ini, Ino? Atau Haku menginginkan kliping ini kembali?"

Ino menggeleng. "Dia bilang kita boleh mengambil kliping ini. Haku punya satu lagi. Sepertinya gadis kecil itu benar-benar mengagumi Naruto."

"Ya, aku tahu itu," ujar Hinata pelan, melipat lembaran kertas itu dengan hati-hati dan menyelipkannya ke kantong. "Kalau Naruto memang membantunya sebesar itu, aku tidak heran Haku sangat berhutang budi padanya."

Ino mendesah dan memeluk pinggangnya sendiri. "Dan dia menyelamatkan nyawa gadis kecil itu. Dokter Namikaze itu nyaris sosok yang sempurna, benar kan, dokter Hinata? Penampilan, uang, otak, dan keberanian-"

"Ya. Ya. Ya. Terima kasih Ino," balas Hinata, menyadari dengan geli kalau penampilan dan uang ada di tempat teratas dalam daftar Ino. Ia, sebaliknya, lebih tertarik pada otak dan keberanian pria itu. Lagipula, ia tidak perlu mendengar Ino mendaftar sifat-sifat Naruto. ia sungguh-sungguh menyadari semua hal itu tanpa harus diperjelas lagi.

"Aku penasaran, kenapa dokter Namikaze belum menikah ya?"

"Aku tidak tahu, Ino, dan kurasa itu bukan urusan kita," tukas Hinata cepat, mengakhiri percakapan itu sebelum dimulai. Ia jelas tidak perlu membicarakan kehidupan pribadi Naruto dengan Ino.

"Padahal pasti banyak wanita yang mengejarnya," kata Ino polos, tidak sadar bahwa kata-katanya seakan menusukkan jarum ke hati atasannya. "Dia sering mendapat telepon dari beberapa gadis setiap harinya..."

Ya, Hinata juga sangat menyadari hal itu...

Hinata berusaha keras mengontrol diri dan membungkuk untuk mengambil tas. "Aku akan berada di ruanganku jika ada seseorang yang membutuhkanku, Ino."

"Baiklah, dokter Hinata," ujar Ino ceria, dan segera melangkah pergi saat mendengar suara telepon yang berdering. "Aku akan membawakan kopi untukmu."

Hinata menutup pintu ruangannya dan duduk di kursi, dan perlahan menarik kliping surat kabar lusuh itu dari kantong.

Dokter pemberani.

Resiko apa yang diambil Naruto untuk menyelamatkan anak itu? Penderitaan apa yang telah dia lalui dengan memilih bekerja di lingkungan anak cacat seperti itu?

Mendadak semua penghalang yang Hinata bangun antara dirinya dan Naruto akhirnya hancur, dan Hinata akhirnya harus menghadapi kebenaran yang menyakitkan.

Naruto bukanlah playboy sembrono pencari kesenangan seperti anggapan awal Hinata. Pria itu bukanlah dokter yang tidak mampu bekerja dan takut pada komitmen.

Naruto adalah dokter yang bertanggung jawab dengan hati hangat. Dia punya kemurahan hati untuk menggunakan kemampuannya pada saat paling dibutuhkan.

Dan Hinata mencintainya.

Ia benar-benar mencintai pria itu.

Itu artinya ia berada dalam masalah baru lagi. Ia menyadari betapa mustahilnya semua ini. Ia jatuh cinta pada pria yang begitu jauh berbeda darinya.

Ya Tuhan, bagaimana ini bisa terjadi? Kapan ini terjadi? Apa semenjak ciuman pertama itu, dan kini ia menyadari betapa hangat dan baik hatinya pria itu? Hinata tidak pernah mengira dirinya bisa jatuh cinta lagi. Ia tidak pernah bisa merasakan emosi sedalam ini pada pria mana pun, bahkan terhadap Sasori dulu.

Tapi buat apa pria seperti Naruto bersama dengan wanita seperti diriku? Apa sebenarnya arti diriku bagi Naruto?

Naruto memang menyukai dan menganggapnya menarik, tapi tidak menutup kemungkinan pria itu merasakan hal yang sama terhadap gadis lain. Apalagi mengingat banyaknya gadis yang berada di sekitar pria itu. Jatuh cinta pada Naruto hanya akan membuatnya kembali mengalami apa yang disebut dengan patah hati.

Sama seperti saat ia bersama Sasori dulu…

Tanpa Hinata sadari, air mata mulai turun dan mengalir perlahan melewati kedua belah pipinya.

.

.

.

TBC

A/N: Oke, saya tahu chapter ini sangat pendek. Gomenasai, minna! Karena memang harus dipotong pas di bagian ini, karena chapter depan rencananya menjadi chapter terakhir fic ini. Sasori juga gak bakal saya munculin sama sekali kok. Rasanya saya ingin segera menamatkan fic ini mengingat kesibukan di dunia nyata hehehe.

Terima kasih buat yang udah review chapter kemarin:

Hinata hime (makasih ^^, ini udah update), ramdhan-kun (makasih ^^, ini udah update), sasuhina-caem (makasih ^^, iya Naru itu emang sebenarnya keren kok, hehehe), suka snsd (makasih ^^, Hina pasti bahagia kok, hehe), Uzumina (makasih ^^, ini udah update), Zae-Hime (makasih ^^, Sasori gak bakal muncul kok di fic ini, hehe), kiriko mahaera (makasih ^^, hahaha sialnya Sasori dapat peran kayak gitu #plakkk!), Cherry kuchiki (makasih ^^, ini udah update), Yashina Uzumaki (makasih Yas ^^, ini udah update, gomen yah chap ini pendek), Lizy94 (makasih banyak ya ^^, salam kenal yah Lizy), Nara Kazuki (makasih ^^, ini tetap rate T kok hehe), NaruHina Lavender Orange (makasih ^^, ini udah update), Nervaal-Li (makasih ^^, haha iya Naru jadi kayak cenayang yah? Sasori gak bakal muncul kok, hehe), Hoshi Yukinua (makasih ^^, iya Hinata enggak akan menderita lagi kok, didoakan aja hehehe), Ayurah (makasih ^^, ini udah update), Kuro Tenma (makasih ^^, iya Naru memang seperti bintang bagi Hinata (?), Hyuna Toki (makasih ^^, ini udah lanjut), amexki-chan (makasih ^^, yeaah ayo dukung NaruHina!), yessy (makasih ^^, ini udah update), Ritard. S. Quint (makasih ya buat kritikan typonya ^^, Lovely Doctor refer ke siapa? Ke Naruto dan Hinata deh hehehe,), Natsumi H (makasih ya ^^, ini udah update), mimitsuki (makasih ^^, ini udah update), HyuuNami Magrita KazeGa (makasih ^^, ini udah lanjut), anzuka 16 (makasih ^^, iya tuh Naru ayo kasih semangat ke Hina! Hehe), Onyxita Haruno (makasih ^^, ini udah update), yessy lestari (makasih ^^, ini udah update), Rahma (makasih ^^, ini udah update), Gyurin Kim (makasih ^^, iya Hina masih malu-malu tuh, ama takut juga sih hehe), Asuna Riisuka (makasih ^^, ini udah update)

Juga buat yang udah fav dan alert juga silent reader, arigatou gozaimasu ^^

See u in the last chapter…

Mind to review? ^^