NARUTO FANFICTION

LOVELY DOCTOR

Diclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto

The Playboy Doctor by Sarah Morgan

Warning : AU, OOC, TYPO(S), DON'T LIKE? DON'T READ!

Pairing: NaruHina

LAST CHAPTER

.

.

.

Hinata baru saja duduk di meja dapur untuk menyantap makan malam sepinya. Ini sudah hari ketiga Naruto tidak pernah pulang setiap malam. Setelah jam prakteknya selesai, Naruto segera pergi dan baru kembali keesokan paginya. Dan Hinata tidak pernah tahu kemana perginya pemuda Namikaze itu selama tiga hari ini.

Bayangan bahwa ia akan kembali menghabiskan malam ini sendiran di rumah terbentang muram di hadapannya, dan ia mengerang saat menyadari betapa kehadiran Naruto telah mengubah hidupnya.

Mendadak Hinata tidak berselera untuk menghabiskan makan malamnya. Ia tidak ingin menghabiskan malamnya dengan bekerja, atau dengan membaca, atau bahkan mengendarai kudanya.

Ia ingin bersama Naruto.

Ini sangat menggelikan. Hinata ingin memarahi dirinya sendiri, karena jelas Naruto tidak merasakan hal yang sama dengannya. Untuk beberapa alasan aneh yang tak dapat diduga tampaknya Naruto memang menganggap Hinata menarik, tapi mungkin hanya karena pria itu melihatnya sebagai tantangan.

Sama seperti Sasori.

Hinata menggigit bibir. Tapi Naruto tidak seperti Sasori. Ia tahu itu.

Di sisi lain, karena sekarang ia sudah lebih dewasa dan bijaksana, seharusnya ia bisa berpikir cukup logis sehingga tidak akan mengira pria seperti Naruto dapat tertarik pada wanita seperti dirirnya. Terlebih setelah Naruto mengetahui masa kelam gadis Hyuuga itu.

Sialan pria itu karena membuat perasaanku jadi seperti ini…

Ia hendak membuka mulut ketika mendengar suara kunci diputar di pintu depan. Dengan segera semangat Hinata kembali, dan ia meletakkan garpu. Tapi senyumnya memudar saat Naruto memasuki ruangan. Wajah tampan pria itu tampak lesu dan lelah.

"Kau terlihat mengerikan." Hinata setengah berdiri, mengkhawatirkan kondisi pria itu. "Apa terjadi sesuatu?"

Naruto duduk merosot di salah satu kursi dan menutupi wajahnya dengan sebelah tangan sambil mengerang. "Tidak juga. Aku hanya sedikit lelah."

Hinata perlahan kembali duduk. "Naruto…"

"Hmm?"

"Kenapa kau menyembunyikan dirimu yang sebenarnya padaku?"

Mata Naruto menyipit. "Maksudmu? Apa ini soal Haku…"

"Bukan hanya Haku." Hinata merogoh sakunya dan mengeluarkan kliping surat kabar yang lusuh dan meletakkannya di atas meja.

Naruto menatap kertas itu dalam diam, rahangnya mengeras dan tiba-tiba menegang.

"Dari mana kau mendapatkan itu?" Suara Naruto terdengar parau dan Hinata menelan ludah, merasakan bahwa dirinya telah memasuki daerah pribadi yang terlarang.

"Apa itu penting?"

"Ya." Perlahan Naruto mengulurkan tangan dan mengambil kliping itu. Ekspresi tidak suka muncul di wajahnya saat memandang kertas itu. Dengan gerakan kasar ia meremas kertas itu dan melemparkannya ke tempat sampah. "Kuharap aku tidak akan pernah melihat kliping itu lagi."

"Kenapa?"

Ada keheningan panjang sebelum akhirnya Naruto bicara. "Karena ini mengingatkanku pada salah satu waktu terburuk dalam hidupku. Begitu banyak orang yang mati, terkubur di bawah reruntuhan. Itu benar-benar mimpi buruk. Banyak orang menggali dengan tangan kosong, mencoba menggapai orang-orang yang mereka cintai…"

"Tapi kau menyelamatkan anak kecil itu."

Naruto tertawa singkat. "Hanya satu, Hinata. Hanya satu. Itu sama sekali tidak ada artinya…"

"Aku yakin itu berarti bagi orang tuanya." Hinata berkata pelan, kata-katanya seakan mati di bibirnya saat melihat pandangan muram Naruto.

"Orang tuanya tewas. Tapi setidaknya anak itu beruntung karena kakek dan neneknya masih hidup. Setidaknya dia tidak benar-benar sendiri."

Hinata terdiam. Ia bahkan tidak dapat membayangkan betapa buruknya semua itu. Tidak heran Naruto tidak ingin mengingat semua itu lagi.

"Mereka menyebutmu dokter yang tidak diidentifikasi. Kenapa tidak kaukatakan kepada mereka siapa dirimu?"

"Mengatakan pada wartawan?" Naruto menggeleng. "Tidak, terima kasih. Begitu orang-orang tahu siapa diriku, mereka hanya akan melihat uang dan latar belakang keluargaku, bukan keahlianku sebagai seorang dokter. Aku tidak menginginkan hal itu. Di sana aku hanyalah dokter yang bekerja, sama seperti orang lain."

Hinata tersenyum samar sambil mengulurkan tangan dan mengenggam tangan Naruto. "Lalu… Kenapa kau memilih menjadi dokter di sana?"

Naruto tersenyum masam. "Mereka sangat membutuhkan dokter di sana."

"Ceritakan padaku, Naruto."

Naruto tampak ragu sesaat, kemudian jemarinya ikut mengenggam jemari Hinata dan ia mulai bicara, menceritakan tentang kematian, ketakutan, dan pekerjaan tanpa henti, sepanjang siang, serta malam tanpa tidur.

"Seharusnya kau menceritakannya padaku sejak lama," ucap Hinata saat Naruto selesai bercerita. Ia masih tidak dapat mempercayai pendengarannya sendiri. Situasinya begitu berbeda dari lingkungan beradab dan aman. "Kau seharusnya menceritakan padaku apa saja yang sudah kau lakukan sebelum kau datang ke sini. Aku tidak percaya ternyata aku sudah benar-benar salah menilaimu. Maafkan aku, Naruto…" Hinata menunduk, ia tidak berani untuk menatap wajah Naruto. Baru kali ini ia merasakan perasaan bersalah yang sangat menyesakkan dadanya.

Genggaman Naruto mengencang di tangan gadis itu dan tatapannya seakan terkunci dalam tatapan Hinata. "Tidak apa-apa. Kita sama-sama salah menilai, Hinata. Aku juga melakukan hal yang sama denganmu. Aku pernah salah menilai dirimu sampai akhirnya aku menyadari kau gadis yang sangat baik dan menarik."

Mereka tetap bertatapan dan Hinata menelan ludah. Rona merah menghiasai wajah putihnya.

"A-Ah… Apa kau sudah makan malam? Kalau kau mau, aku bisa membuatkanmu makanan." tanya Hinata, mencoba untuk mengalihkan pembicaraan dan menekan perasaannya yang seakan ingin meledak.

Naruto memandang Hinata dan tersenyum tulus untuk pertama kalinya malam itu. "Tidak perlu." Naruto menggumam, melepaskan tangan gadis itu dan berdiri dalam satu gerakan. "Yang aku butuhkan hanya pelukan."

Hinata mencoba tidak menghiraukan reaksi tidak masuk akal di dalam hatinya. "Pe-Pelukan…"

"Ya, pelukan." Naruto bergerak mengitari meja dan menarik Hinata mendekat. Perlahan ia melingkarkan sebelah lengannya di pinggang ramping Hinata. "Kau selalu bisa membuatku merasa tenang dan nyaman, Hinata…"

Begitu juga aku, Naruto…

Hinata seakan meleleh di panas tubuh Naruto. Matanya terpejam, mencoba menikmati aroma tubuh Naruto yang semakin membuat euphoria menyenangkan di dalam pikirannya.

"Padahal pasti banyak wanita yang mengejarnya. Dia sering mendapat telepon dari beberapa gadis setiap harinya..."

Mendadak kata-kata Ino terlintas di pikirannya. Menghancurkan seluruh euphoria yang ada di pikirannya. Ia segera mendorong tubuh Naruto dan membawa dirinya menjauh dari pria itu.

"Hinata?"

Hinata diam dengan kedua tangan memeluk tubuhnya. Ia menggelengkan kepalanya. Tersadar ia tidak seharusnya terlarut dalam pesona pemuda di hadapannya ini.

"Hinata…Kau kenapa?"

Hinata kembali menggelengkan kepalanya. "Tidak… Kita tidak seharusnya melakukan hal seperti itu… Kita tidak boleh…"

Naruto menggeram pelan. "Kenapa? Apa lagi yang menjadi masalah, Hinata? Kenapa kau masih belum mau menerima diriku?"

Merasa sang gadis Hyuuga tidak menghiraukan pertanyaannya, Naruto mengulurkan jemari tangannya dan mengangkat wajah Hinata. Mata sapphire Naruto terbelalak begitu melihat air mata yang turun meluncur melewati pipi Hinata.

"A-Aku tidak pantas untukmu, Naruto... Ki-Kita berdua terlalu berbeda… Lagipula… Bukankah begitu banyak gadis yang ada di sekitarmu? Se-Setiap hari kau selalu mendapat telepon dari gadis-gadis itu kan? Me-Mereka pasti jauh lebih baik dan menarik daripada aku. Kau… Seharusnya memilih salah satu dari mereka… Bukan aku…"

"Hinata!" Naruto nyaris membentak gadis di hadapannya. Ia tidak bisa mempercayai kata-kata yang keluar dari mulut Hinata. Bagaimana bisa Hinata memikirkan hal seperti itu? "Kenapa kau bisa berpikir seperti itu? Sebenarnya kau ini kenapa?"

"Ti-Tidak… Hanya saja… Kau seharusnya memilih gadis lain yang lebih pantas untukmu… Kau pasti bisa tertarik dengan gadis seperti mereka… Mungkin seperti… Shion?"

Naruto menjambak rambutnya dengan penuh rasa frustasi. "Baiklah, Hinata. Sepertinya kau salah paham lagi tentang diriku. Sekarang, ikut aku, Hinata. Kurasa aku harus segera meluruskan semua ini."

Tanpa mendengar ataupun menghiraukan balasan dari Hinata, Naruto menarik tangan gadis itu dan membawanya menuju mobilnya yang terparkir di halaman depan rumah.

.

.

.

Naruto menyetir selama setengah jam, kemudian berbelok menuju jalan yang kedua sisinya ditumbuhi pepohonan, mengarah ke rumah tua yang indah.

"Naruto?" Hinata memadang Naruto bingung. "Tempat apa ini?"

"Tunggu dan lihatlah." Naruto memarkir mobil dan Hinata mengikutinya menaiki tangga menuju pintu depan.

Naruto menekan bel dan menunggu, bahu lebarnya sedikit menegang saat pintu dibuka. Seorang wanita berambut pirang berumur awal tiga puluhan berdiri di depan pintu. Wajahnya berseri ketika mengenali Naruto.

"Naruto!" Senyum muncul di wajahnya, lalu wanita itu mundur untuk mempersilahkan mereka masuk. "Kenapa tiba-tiba kau datang malam-malam seperti ini? Tidak seperti biasanya."

"Aku tahu, tapi aku ingin memperkenalkanmu pada seseorang." Naruto berbalik dan menggandeng Hinata, menariknya dengan lembut sehingga gadis itu berdiri di sebelahnya. "Aku ingin kau bertemu Hinata. Hinata, ini Shion."

Hinata tercengang saat melihat wanita di hadapannya. Inikah Shion? Padahal Hinata mengira Shion adalah gadis muda cantik dan seksi, tapi justru ia melihat wanita dewasa yang tampak bijaksana, dengan mata ramah dan senyum pengertian.

"Senang bertemu denganmu, Hinata." ucap Shion hangat sambil mengulurkan tangan yang dengan segera dijabat oleh Hinata. "Sudah lama aku ingin melihatmu. Aku senang sekali kau mau datang ke tempat ini. Silahkan berkeliling sepuasmu, Hinata."

Hinata membungkukkan badannya dengan sedikit canggung. "Aku juga berterima kasih kau mengizinkanku berkeliling di sini, Shion."

Shion tertawa pelan. "Jangan terlalu sopan seperti itu, Hinata. Lagipula tempat ini adalah milik Naruto. Aku hanya mengawasi rumah dan anak-anak di sini."

Mata Hinata mengerjap beberapa kali. Pandangannya beralih ke arah Naruto yang berada di sampingnya. "Anak-anak?"

Shion tertawa pelan melihat wajah bingung Hinata. Ia menggandeng tangan Hinata dengan lembut. "Ayo kemari dan lihatlah."

Shion mengajak Hinata melalui lorong luas yang tampak nyaman, memasuki ruang bermain besar yang dipenuhi oleh mainan. Beberapa anak tampak bermain dengan ceria, didampingi oleh tiga wanita yang tersenyum.

Wanita-wanita itu mendongak sekilas ketika menyadari kehadiran Naruto. "Hai, Naruto." Mereka berseru gembira bersamaan, dan Naruto tersenyum pada mereka.

"Halo Karin, Matsuri, Fuka. Apa kabar kalian hari ini?"

Karin? Matsuri? Fuka?

Kalau Hinata tidak salah, bukankah tiga gadis ini juga cukup sering menelepon Naruto? Para wanita yang sempat ia kira sebagai teman kencan Naruto selama ini.

Shion bergerak mendekati Hinata.

"Seperti yang kau lihat. Ini adalah panti asuhan sekaligus tempat penitipan anak. Kami menjaga anak-anak ini selama seminggu, kadang lebih lama, dan orang tua juga bisa tinggal di sini. Berkat Naruto, kami memiliki tim yang terlatih yang dapat menangani masalah medis, sosial, dan emosional."

Hinata memejamkan mata. Jadi ini sebabnya Naruto selalu menghubungi Shion dan ketiga wanita itu?

"Ayo, aku akan mengajakmu berkeliling. Kau juga bisa mampir ke rumahku yang ada tepat di belakang rumah ini. Akan kuperkenalkan kau pada suamiku, Aburame Shino."

Hinata mengernyit. "Kau… Sudah menikah, Shion?"

Shion tertawa. "Tentu saja. Karin juga baru saja menikah seminggu yang lalu dengan Suigetsu. Sedangkan Matsuri dan Fuka sudah bertunangan dan mungkin tidak lama lagi mereka akan menikah. Tenang saja, kali ini kami pasti akan mengudangmu ke pernikahan mereka."

Hinata tidak lagi mendengar celotehan Shion, bahkan ketika Shion menariknya dan dengan semangatnya menunjukkan ruangan-ruangan di rumah ini. Pikirannya kembali dipenuhi dengan berbagai emosi yang tidak bisa ia mengerti.

Sekali lagi ia telah salah mengira tentang Naruto.

.

.

.

Naruto menghentikan mobinya di tepi pantai tempat di mana dulu Hinata menceritakan seluruh kisah hidup kelamnya. Mereka duduk diam dengan hembusan angin yang menampar lembut wajah dua manusia yang tengah duduk menatap pantai yang ada di hadapan mereka. Entah kenapa setelah mereka kembali dari panti asuhan milik Naruto, pria itu malah membawa Hinata kembali ke pantai ini.

"Aku melakukannya lagi, kan?" ucap Hinata setelah lebih dari sepuluh menit mereka hanya diam. "Apa selama tiga hari ini kau tidak pulang… karena pergi ke tempat itu?"

Naruto menatap gadis itu dalam-dalam. "Ya. Seorang anak di sana mengalami gangguan di pernafasannya, jadi aku harus merawatnya setiap kali kita selesai bekerja. Aku menginap di sana sampai anak itu benar-benar pulih."

Hinata menggeleng perlahan. "Maafkan aku sekali lagi Naruto. Aku benar-benar seperti orang bodoh…"

"Tidak apa-apa, Hinata. Akulah yang bodoh. Aku seharusnya lebih peka dengan perasaanmu. Gadis-gadis itu selalu meneleponku setiap hari, dan aku juga selalu pulang larut malam. Wajar saja kalau kau menjadi merasa kesepian dan cemburu karena kau pasti berpikir banyak gadis yang ada di sekelilingku dan aku pergi berkencan bersama mereka."

"Ehh? A-Apa maksudmu? Kau… Kau terlalu percaya diri, dokter Namikaze!" Ingin rasanya Hinata merutuki dirinya yang sekarang bertingkah seperti seorang gadis yang baru pertama kali merasakan jatuh cinta.

Hei, tapi bukankah memang itu kenyataannya?

Mata sapphire itu menatap tepat di sepasang mata amethyst Hinata dengan sungguh-sungguh. "Jangan mengira aku tidak menyadari perubahan sikapmu belakangan ini, Hinata. Kau selalu memperhatikanku, hampir setiap saat. Setiap kali pandangan kita bertemu, kau selalu memalingkan wajahmu yang merona merah. Dan tatapanmu padaku, bukan tatapan yang sama seperti saat pertama kali kita bertemu. Kau menginginkan aku. Itulah arti tatapanmu sekarang untukku."

"Ta-Tapi…"

Naruto meletakkan jarinya tepat di bibir Hinata. "Dan asal kau tahu… Aku selalu menunggumu. Selama ini aku hanya diam melihat sikapmu itu, karena aku ingin memberi waktu untukmu. Aku ingin kau bisa menyadari dan jujur dengan perasaanmu sendiri. Tapi sepertinya, aku memang harus 'sedikit' memaksamu… Akuilah Hinata… Kau sudah jatuh cinta padaku."

Hinata menunduk. Panas di tubuhnya meningkat berkali-kali lipat, membuat wajahnya memerah dengan sempurna. "Ke-Kenapa kau bisa yakin kalau aku mencintaimu?"

Naruto tersenyum. Jemari tangannya turun menyusuri wajah gadis di hadapannya. "Wajahmu yang memerah, tatapanmu padaku, dan air matamu saat kau mengatakan nama Shion tadi… Kurasa itu semua sudah cukup untuk menjadi bukti."

Menggigit bibir bawahnya, perlahan-lahan Hinata mengangkat wajahnya. Menatap kesungguhan dan permohonan yang tersirat di mata seindah laut itu.

"Apa kau yakin… Kau… benar-benar ingin bersamaku? Apa kau… tidak akan menyesal? Kita benar-benar berbeda… Dan aku… Aku punya banyak kekurangan… Aku juga sudah tidak perawan… Aku sudah kotor… Aku-"

Perkataan Hinata terputus saat Naruto menarik tubuhnya ke pelukannya dan mencium kening Hinata dengan penuh kasih sayang.

"Itu semua tidak penting untukku, Hinata. Kau tidak perlu memikirkan hal-hal seperti itu lagi. Aku menerimamu seutuhnya, seluruh kelebihanmu, kekuranganmu, masa lalumu, dan semua perbedaan yang ada di antara kita. Aku yakin kau juga mau menerimaku apa adanya. Iya kan, Hinata?"

Tidak ada jawaban yang keluar dari bibir Hinata, tapi satu anggukan cukup untuk membuat Naruto tersenyum bahagia dan kembali menarik Hinata ke dalam pelukannya.

"Tapi… Aku takut. Aku belum siap…"

"Shhttt…" Naruto menggeleng sambil mengelus punggung Hinata dengan lembut. "Kau tidak usah takut, Hinata. Aku mengerti kau masih dibayangi oleh masa lalumu. Kita tidak perlu terburu-buru. Walaupun sebenarnya aku sudah tidak sabar untuk menikah denganmu, tapi aku akan menunggumu sampai kau benar-benar siap. Dan jika saat itu tiba, aku akan langsung melamarmu."

Hinata tersentak dan segera menjauhkan tubuhnya. "A-Aku tidak mengatakan soal pernikahan, Naruto!" rajuk Hinata dengan wajah yang masih memerah sempurna dan memukul-mukul dada Naruto. Ia benar-benar tidak percaya kata pernikahan akan keluar dari bibir pemuda di hadapannya ini.

Naruto tertawa. Sekali lagi ia menarik Hinata ke dalam pelukannya. Dengan perlahan bibirnya menyusuri seluruh wajah Hinata. Berusaha menunjukkan betapa ia sangat menyayangi gadis yang ada di pelukannya ini.

Hinata memejamkan mata. Mencoba menikmati sentuhan lembut bibir Naruto. Sekarang ia benar-benar merasa bahagia. Meskipun ia belum sepenuhnya siap untuk kembali menjalin suatu ikatan, tapi ia percaya semua pasti akan baik-baik saja. Ia hanya membutuhkan sedikit waktu untuk kembali membangun kepercayaan dan rasa percaya diri dalam hatinya.

Ya, karena kini pria yang dicintainya akan selalu berada di sisinya. Semua pasti akan baik-baik saja.

.

.

.

THE END

A/ N: Tamat, tamat, tamat, ta- #dibekep#

Akhirnya fic ini bisa tamat, hore! ^_^, percaya atau enggak, ini fic multichapter pertamaku yang berhasil tamat!

Terima kasih banyak minna-san, dan para reader yang sudah memberikan review, alert, dan fav untuk fic ini, untuk semua dukungannya juga, arigatou gozaimasu! ^_^

Setelah ini… Saya berencana membuat oneshoot fic untuk NHTD tanggal 7 Juli nanti. Semoga aja bisa! Yosh! Ayo yang lain juga ikut meramaikan NHTD tanggal 7 Juli nanti!

Untuk eternal flame, saya belum bisa menjanjikan kapan bisa diupdate, karena saya akan Hiatus mulai bulan Juli sampai September mungkin. Doakan aja deh ya #geplaked#

Oh ya, buat suka snsd: Shion itu bukan sepupu Naru. Memang saya membuat sepupu Naru itu berambut pirang, tapi itu bukan Shion. Semoga enggak membingungkan yah…

Sampai ketemu di fict saya yang lain… ^_^

Still mind to teview for this last chapter?