_My Girl_
…
Disclaimer :
All character belongs to God and SMEnt
.
This Fict is mine © Kim Minra
.
Rated T
.
Pair : Yesung x Ryeowook
.
Warning : Genderswitch, Gaje, Abal, OOC, Hancur, Typo bertebaran, Alur gk nyante, de el el.
.
.
.
IF YOU DON'T LIKE, DON'T READ. JUST PRESS 'BACK'. OKAY?
.
.
.
Enjoy!
.
.
.
_My Girl_
.
.
.
"Ini. Makanlah yang banyak." suruh seorang pemuda tampan itu sambil menyimpan sebuah nampan di atas meja di samping tempat tidur. Sedangkan, gadis mungil yang kini duduk di tepi tempat tidur hanya tersenyum senang menatap pemuda tampan di depannya.
"Oppa…" panggil gadis mungil itu. Pemuda yang diketahui bernama Yesung itu menoleh padanya.
"Ya, ada apa?" tanyanya.
"Apa aku merepotkan, oppa?" gadis itu –Ryeowook bertanya dengan menundukkan kepalanya. Yesung menghela nafas panjang.
"Tidak." Jawab Yesung singkat. Ia mengambil sebuah kursi lalu duduk di hadapan Ryeowook. Ia menatap makhluk cantik alami di depannya dari atas sampai bawah. Benar-benar, sama sekali ia belum percaya bahwa gadis di depannya adalah artis terkenal.
'Tinggal kau sendiri yang belum mempunyai kekasih.'
Ia kembali teringat dengan kalimat itu. Kalimat yang membuatnya merasa terpojok. Entah kenapa, saat melihat gadis cantik di depannya ini, kalimat itu selalu saja muncul dengan tiba-tiba. Pertanda apakah itu? Entahlah.
"−Oppa…" didengarnya kembali suara yang benar-benar merdu itu. ia sangat menikmatinya. Ia sangat suka di panggil seperti itu oleh gadis di depannya.
"…oppa," panggil Ryeowook sambil mengibas-ibaskan tangan mungilnya di depan wajah Yesung. Yesung pun sadar dari lamunannya.
"Hn? Apa?"
"Aku…"
"Kenapa tidak makan? Maaf, kalau makanannya tidak enak−"
"Tidak, oppa." ucap Ryeowook sambil menundukkan kepalanya melihat tangannya yang lebam. Yesung pun memukuli jidatnya karena tidak melihat keadaan. Mana bisa Ryeowook menyuapi dirinya sendiri sedangkan tangannya masih lebam di sana-sini.
"Oh, maaf." Yesung pun mengambil sepiring nasi goreng dari nampan itu dan kemudian menyuapi Ryeowook. "Buka mulutmu,"
"Aa," Ryeowook membuka mulutnya lalu melahap nasi goreng itu. Mereka terlihat seperti anak kecil saja.
"Hehe, uoppoa−"
"Telan dulu makanmu lalu bicara, kalau tersedak bagaimana?" potong Yesung kala melihat Ryeowook berbicara padahal mulutnya masih penuh makanan. Mendengar itu, Ryeowook malah nyengir-nyengir tidak jelas.
"Ah, oppa? aku ingin bertanya." ucap Ryeowook. Mulutnya sudah tidak penuh lagi.
Yesung mengangguk. "Apa?"
"Eum… oppa tinggal bersama siapa di rumah ini?"
"Hn, sendiri," Jawab Yesung sambil menyuapi Ryeowook. "Keluargaku menetap di Chunan. Jika ada waktu luang, aku akan ke sana."
Ryeowook mengangguk mengerti.
Melihat gadis cantik di depannya ini, apakah Yesung akan rela mengantarnya pulang pada orang tuanya dan kembali menjadi artis sebagaimana awalnya? Jika dipaksakan untuk mengingat ingatannya, bisa-bisa gadis cantik ini hanya merasakan sakit di kepalanya dan semakin tidak mengingat ingatannya. So?
Yesung meletakkan piring yang sudah berisi setengah nasi goreng itu. Memberikan jeda pada Ryeowook yang masih belum pulih total.
"Wookie… setelah ini, kau ingin pulang ke rumahmu?" tanya Yesung.
"Err… apakah oppa tahu rumahku? Aku tidak mengingat apa-apa." Jawabnya sambil memegang kepalanya.
Yesung menerawang, sebenarnya ia juga tidak tahu alamat rumah Ryeowook. Siapa yang tahu alamat rumah artis terkenal sepertinya? Dan kali ini ia harus menepuk jidatnya kembali.
"Aku juga tidak tahu, Wookie."
Ryeowook tersenyum sembari memegang tangan Yesung dengan kedua tangannya. "Oppa mau 'kan membantuku mengingat ingatanku kembali?"
Deg
Entah kenapa, jantungnya sangat bersemangat untuk memompa darah. Jantunganya berdegup kencang kala tangan mungil gadis itu menyentuh tangannya. Tak lupa pula mata sayu gadis itu menatapnya penuh keyakinan. Tangannya yang hangat mampu membuat dirinya meleleh.
"Ya, tentu," jawab Yesung setelah sekian lama terhanyut dalam pikirannya.
Senyum yang mampu membuat siapa saja terhipnotis itu tak kunjung hilang dari bibir manis gadis itu. Matanya membentuk bulan sabit kala ia tersenyum serta menyembunyikan caramel indahnya.
.
.
.
Masih sangat pagi. Sesuatu yang bisa dibilang berisik itu membangunkannya. Cukup kesal juga dengan sesuatu yang mengganggu tidur nyenyaknya –yang barusan ia alami− di pagi buta ini.
Pemuda berkaos putih oblong itu menggertakkan giginya saat bunyi tidak bersahabat itu kembali muncul kala ia ingin kembali meringkuk di dalam selimut tebalnya. Ia pun menghela nafasnya karena tidak dapat terhubung lagi dengan alam mimpinya.
Dengan wajah gusar ia bangun dari tidurnya. Kaki-kakinya memakai sepasang sandal rumah yang selalu setia menunggu untuk dipakai. Perlahan namun pasti ia berjalan dan membuka gorden kamarnya dengan kasar. Tidak biasanya ada suara yang begitu berisik yang baru saja ia tahu ternyata berasal dari rumahnya sendiri. Saking kesalnya, ia membanting pintu kamar mandi dengan keras. Hanya untuk membasuh wajahnya yang masih kusut karena bangun tidur.
Pemuda tampan itu pun membuka pintu kamarnya setelah membersihkan wajahnya dengan handuk putihnya. Menuruni tangga dengan pelan agar tidak menimbulkan suara, jika saja seorang pencuri masuk ke dalam rumahnya.
Ia bingung. Kalau misalnya pencuri yang menimbulkan suara berisik itu, darimana pencuri itu tahu tombol lampu rumahnya? Lampunya menyala. Mana ada pencuri melakukan aksinya sambil menyalakan lampu.
TAAKK
"Kyaaaa!"
Pemuda yang bernama Yesung itu semakin bingung saat di dengarnya bunyi barang jatuh disambung teriakan seorang wanita. Ia semakin mengendap-endap. Apa-apaan suara teriakan wanita? Masa ada pencuri yang melakukan pemerkosaan di rumahnya? Tidak mungkin. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya seraya membuang jauh-jauh argument tidak masuk akalnya.
"Tunggu sebentar," ucapnya seraya menajamkan pendengarannya. Suara berisik yang sedari tadi mengganggunya itu ternyata berasal dari dapur rumahnya. Ia pun berjalan menuju dapur yang ternyata lampunya juga menyala.
Secara perlahan, ia menengok ke dalam dapur yang tidak berdaun pintu itu.
"Haahh…" ia menghela nafas panjang. Keributan yang sempat mengganggunya itu adalah perbuatan seorang gadis mungil yang melakukan suatu kegiatan memasak di dapur. Bahkan gadis itu masih memakai piyama tidurnya yang bisa dibilang sangat tidak cocok dengan badannya yang mungil.
Yesung pun keluar dari persembunyiannya dan bersandar di dinding dapur itu sambil melipat tangannya di depan dada. Ia memperhatikan gerak-gerik gadis itu dalam melakukan kegiatan memasaknya. Yang ia lihat, dapurnya kelihatan berantakan dan dipenuhi dengan noda di sana-sini.
"Ya! Aiisshh… gagal!" ucap gadis itu –Ryeowook. Ia merutuki dirinya yang gagal menggoreng telur. Telurnya hangus dan hancur.
Yesung hanya bisa tersenyum dengan tingkah lucu gadis itu. Meskipun gadis itu belum menyadari keberadaannya di dapur. Bukankah itu menarik?
Kadang-kadang Ryeowook menghentak-hentakkan kakinya di lantai ubin dapur itu karena gagal membuat satu masakan. Sangat lucu dan menggemaskan. Kadang ia juga memajukan bibirnya karena saking kesalnya.
"Gagal lagi!" teriaknya. Ia sangat lucu jika dibandingkan dengan anak-anak kecil. Piyamanya yang melorot sama sekali tidak ia hiraukan. Malah memperlihatkan bahu mulusnya dan tali bra-nya.
"Bagaimana ini! Belum ada satu pun makanan yang jadi! Oppa akan memarahiku jika melihat dapurnya berantakan. Wookie bodoh!" rutuknya.
"Oppa tidak akan memarahimu,"
Ryeowook membeku di tempat. Sementara Yesung hanya tersenyum melihatnya.
"Benarkah?" tanya Ryeowook belum menyadari bahwa itu adalah oppanya.
"Ya,"
Setelah mendengar suara itu, ia langsung membelalakkan matanya dan secara perlahan berbalik ke arah Yesung yang ada di belakangnya. Yesung masih melipat tangannya di depan dada sambil menatap caramel gadis itu dalam-dalam.
"Op−oppa… maafkan aku," ucap Ryeowook. Ia menundukkan wajahnya dalam-dalam. Sementara Yesung berjalan menghampirinya.
Tepat di depan Ryeowook ia berhenti. Menatap gadis yang tengah menundukkan wajahnya yang tengah merasa bersalah bercampur rasa malu juga.
"Ini masih sangat pagi, Wookie. Kau membuatku bangun dan merasa ketakutan. Aku pikir ada pencuri yang memasuki rumah,"
Gadis berambut panjang itu hanya bisa menundukkan wajahnya dalam-dalam sembari berkata. "M-maaf, oppa… aku hanya ingin memasak sesuatu untuk oppa,"
"Hn, kau belum sembuh total."
"Tapi, aku tidak mau merepotkan oppa sementara aku hanya tidur di dalam kamar. Tidak adil,"
Yesung tersenyum. "Aku tidak merasa direpotkan. Malah aku senang, karena ada kau di sini,"
"Tapi, tetap saja. Aku tidak bisa tinggal di sini dengan cara cuma-cuma. Memangnya aku tuan putri?"
'Kau memang tuan putri, Wookie. Lihat, masak saja kau tidak bisa 'kan?' inner Yesung.
"Sudahlah. Biar aku yang membersihkan ini. Kembalilah ke kamarmu dan beristirahat. Lagipula kau membuatku khawatir," ungkap Yesung seraya memperbaiki letak piyama di bagian pundak Ryeowook yang melorot sepenuhnya. Ia tersenyum.
Menyadari itu, Ryeowook menengadah dan mendapati Yesung tengah berdiri di depannya dengan sangat sempurnanya sambil tersenyum bagai malaikat. Pipinya merona. Oppanya telah membuatnya memanas hingga pipinya memerah seperti tomat.
"Ya, oppa…" ucap Ryeowook sembari berjalan melewati Yesung. Ryeowook merutuki dirinya yang benar-benar bodoh. Yesung tersenyum sambil menatap punggung gadis itu yang akhirnya menghilang di balik dinding putih dapur itu.
Yesung pun menatap dapurnya yang benar-benar seperti tempat pembuangan sampah.
"Wow. Aku akan banyak berolahraga pagi ini,"
.
.
.
Ryeowook POV
Sore ini Yesung oppa membawa pulang temannya. Aku disuruh tinggal di kamarku dan tidak boleh membuat suara sedikit pun. Aku tidak mengerti. Kenapa Yesung oppa seperti itu? Kenapa menyembunyikanku?
Aku memang bukan siapa-siapa di sini. Tapi, kesempatan untuk membuatkan mereka minuman pun aku dilarang. Apa yang oppa sembunyikan dariku? Setiap kali ingin menyalakan televisi, oppa memberiku sebuah kaset agar menonton film saja. Aku semakin bingung di buatnya.
"Oppa…"
Entah karena apa, setiap berada di sampingnya rasanya sangat menyenangkan. Selama ini aku bersama oppa, belum pernah kulihat oppa pergi bersama wanita atau bisa dikatakan kekasihnya. Apa oppa belum mempunyai seorang kekasih? Orangnya 'kan baik hati, ramah tapi agak dingin 'sih sedikit, lalu wajahnya itu sangat tampan. Sangat tampan malah. Jika dilihat sekilas, pasti orang menganggapnya playboydan selalu bermain dengan wanita. Tapi, oppa sangat jarang keluar rumah selain kuliah.
"Haaaahh…" aku menghela nafas panjang. Aku bosan tinggal di kamar ini. Kakiku kram karena daritadi aku hanya duduk di tempat tidur dan tidak melakukan apa-apa. Ya, setiap kali aku meminta untuk keluar rumah, pasti oppa melarangku. Keluar di pekarangan rumah hanya untuk menyiram tanaman juga tidak diperbolehkan. Aku bosan seperti ini.
Hal yang membuatku tidak bosan hanya Yesung oppa. Yesung oppa selalu membuatku merasa terhibur. Dan oppa sangat perhatian sekali padaku. Saat kepalaku sakit tidak tertahan, aku hampir jatuh dari tangga. Jika tidak ada oppa, kepalaku mungkin sudah pecah. Oppa menggendongku ke tempat tidur dan membaringkanku. Wajahnya itu tampan sekali, seperti malaikat saja. Ah, rasanya fly to the sky. Ah, sayang sekali. Kenapa tidak meneruskan seperti orang yang akan melakukan malam pertama−
PLETAK
"Ya, apa yang kau pikirkan, Wookie?" aku menepuk kepalaku sendiri. Mana mungkin Yesung oppa melakukan itu padaku? Ya, ampun. Lebih baik aku tidur saja. Nanti oppa akan mengetuk pintu kamarku saat makan malam. Kalau aku tidak bangun, oppa akan masuk ke kamarku dan membangunkanku. Kalau aku tidak bangun juga, oppa akan menyentuhku−
PLETAK
"Selamat tidur!"
.
.
.
Tok. Tok. Tok.
"Wookie?"
Benar 'kan yang kukatakan? Oppa mengetuk pintu kamarku. Sebenarnya, tadi aku tidak tidur, hanya berbaring di tempat tidur. Kekeke.
"Waktunya makan malam, Wookie."
Ah, lebih baik aku pura-pura tidur saja. "Engh…"
"Kau tidur?"
KRIIEETT
Akhirnya Yesung oppa membuka pintu! Aku hanya bisa tersenyum-senyum gaje di dalam selimut. Wah, memang benar apa yang kukatakan tadi. Saat ini kudengar langkah kaki oppa yang mendekatiku. Kyaaa! Aku kenapa sih?
"Hei," panggilnya sambil duduk di tepi tempat tidur. Akting-ku bagus bukan? Hahaha, belajar darimana aku bisa akting seperti ini? entahlah. Aku meringkukkan badanku di dalam selimut, tidak menghiraukan oppa.
"Aku tidak tega membangunkanmu. Ya sudah, tidurlah." ucapnya lalu melangkahkan kakinya keluar dari kamar. Apa? Keluar dari kamar?
BLAM
Aku membangunkan badanku kasar. Hei! seharusnya oppa menyentuhku! Bukan meninggalkanku! Aduh, sial!
"Oppa!"
Aku pun beranjak dari tempat tidur. Sedikit menyisir rambut dan memakai lotion, aku pun keluar dari kamar dan menuruni tangga.
"Aku lapar mau makan!"
Normal POV
.
.
.
"Ya, kami sangat berduka cita. Apa harapan anda sebagai orang tua Kim Ryeowook melihat selama ini pencarian sudah dua minggu berlalu, namun Kim Ryeowook belum ditemukan?"
"Hiks… kami hanya bisa berdoa agar anak kami bisa ditemukan dalam keadaan baik…"
"Dan… kami sangat berharap ia akan ditemukan secepatnya…"
"Baiklah, marilah kita berdoa−"
KLIKK
Televisi yang tadi menampakkan dua orang yang sedang berduka kini telah dalam keadaan turn off. Seorang pemuda tampan mematikannya dengan sebuah remot control di tangannya sambil duduk santai di sofa. Kelihatannya memang santai, tapi wajahnya terlihat gusar dan khawatir. Ia menghela nafas panjang.
"Aku sudah tidak tahan melihat berita itu setiap hari," gumamnya. "Apa yang harus aku lakukan?"
Ia beranjak dari sofa.
"Ya, tetap di situ, oppa!" teriak seorang gadis sambil membawa sebuah nampan berisikan makanan. "Oppa, duduklah kembali,"
"Hn?"
Pemuda tampan itu pun menurutinya, ia kembali duduk di sofa empuknya. Sedangkan gadis dengan rambut terurai itu meletakkan nampannya di atas meja lalu duduk di samping pemuda itu.
"Yesung oppa mau mencoba masakanku?" tanya gadis itu kepada pemuda bernama Yesung.
Yesung mengangkat satu alisnya. "Masakanmu? Kau pandai memasak?"
"Eum… tidak juga, oppa."
Yesung memandangnya sejenak lalu mengambil sesendok dari makanan yang berbahan mie itu. Gadis itu hanya tersenyum sambil menatap 'oppa'nya yang kelihatan menikmati pastanya.
"Bagaimana oppa?" tanya gadis itu dengan mata berbinar-binar saat Yesung telah selesai mencoba pastanya.
Yesung memandangnya takjub. "Wookie… ini benar masakanmu?" tanya Yesung memastikan. Beberapa hari yang lalu, baru saja ia lihat Ryeowook gagal jika memasak. Kali ini ia harus bertakjub-takjub ria karena masakannya benar enak.
"Kenapa, oppa? Pasti tidak enak." ucap Ryeowook bersamaan dengan matanya yang tidak berbinar-binar lagi.
"T−tidak! Bukan begitu. Hanya saja…"
"Hanya saja apa, oppa?"
"Hanya saja…"
"Iya…"
Tangannya bertaut menunggu ucapan Yesung sedangkan Yesung menatapnya dengan lembut. Sangat lembut.
"Kau cantik sekali," ucapnya sambil menatap Ryeowook.
"A−apa, oppa?" Ryeowook bingung dengan ucapan Yesung barusan. Sungguh aneh.
"Aa, mak−maksudku… masakanmu sangat enak. Iya… sangat enak." ucap Yesung sambil mencoba untuk tidak panic. Ia memalingkan wajahnya ke arah lain. Benar, ucapannya tadi keluar begitu saja dari mulutnya saat menatap Ryeowook yang ada di depannya.
'Ya! Kau memang sangat cantik,' inner Yesung.
"Oppa?" panggil Ryeowook pada Yesung yang tiba-tiba melamun. Ia mengibas-ibaskan tangan mungil di depan wajah Yesung.
"Aa, ya, ada apa?"
"Kenapa oppa selalu mematikan televisi jika aku sudah berada di sini?" tanya Ryeowook.
Yesung terkaget. Apa yang harus ia katakan pada Ryeowook? Jika begini, dari awal sudah ia katakan. Tapi, entah kenapa ada perasaan tidak rela jika harus melepaskannya. Makanya itu, ia harus menyembunyikannya sampai ingatan Ryeowook benar-benar pulih.
Hening.
Tidak tahu harus mengatakan apa, Yesung hanya bisa menatap Ryeowook sambil tersenyum tipis.
.TOK.
Bunyi gedoran pintu gerbang di luar rumahnya memecahkan keheningan yang sempat tercipta. Entah siapa pelakunya. Dan itu membuat Yesung harus meninggalkan tempatnya sekarang.
"Jangan kemana-mana, tunggu aku kembali lagi ke sini." ucap Yesung sambil bangkit dari duduknya setelah memegang pundak Ryeowook.
Ryeowook tidak dapat menyembunyikan raut wajah bingungnya terhadap pemuda tampan itu. Setiap kali ada orang yang berkunjung di rumahnya, Yesung selalu saja menyuruhnya agar tidak ke mana-mana. Bahkan Yesung pernah menguncinya di dalam kamar.
Yesung pun membuka pintu rumahnya dan kembali menutupnya. Ia berjalan menuju pintu gerbang rumahnya yang terkunci dan di luar sana ada seorang wanita yang tengah berdiri. Yesung pun berjalan mendekati wanita itu.
"Ada apa?" tanya Yesung dengan wajah dinginnya.
"Yesungie, buka dulu pintunya. Aku mau masuk," jawab wanita itu yang ternyata adalah Im Yoona. Seorang gadis yang selalu mengikuti Yesung. Ditambah lagi, sepertinya ia kekurangan bahan kain saat pembuatan bajunya. Sangat minim.
Mendengar suara wanita di luar sana, Ryeowook penasaran. Ia pun berjalan menuju jendela dan mencoba untuk mengintip orang yang tengah bercakap di luar sana.
"Mau apa kau kemari?" tanya Yesung lagi. Yoona hanya tersenyum sambil berjalan menuju Yesung yang sudah selesai membuka pintu gerbang rumahnya.
Yesung tersentak saat tiba-tiba Yoona memeluknya erat dan menggelantungkan tangannya di leher Yesung. Dan terlebih lagi Ryeowook, ia kini menutup mulutnya sendiri agar tidak mengeluarkan suara. Hatinya seperti tertohok saat dilihatnya Yesung begitu dekat dengan gadis yang belum pernah ia lihat datang ke rumah ini.
"Siapa dia?" tanya Ryeowook.
"Yesungie, kenapa kau tidak pernah menghiraukanku," tanya Yoona. Meskipun ia memeluk Yesung dengan sangat mesra, tapi Yesung tidak bergeming sedikit pun. Malah ia mencoba melepaskan tangan gadis ini.
−Ia khawatir, jika di dalam sana Reowook melihatnya melakukan ini. Tapi, nasi sudah menjadi bubur. Ryeowook melihatnya.
"Lepaskan, Yoona!" bentak Yesung. Mendengar itu, Yoona pun melepaskan tangannya. Ia memajukan bibirnya sebal. Namun, itu tidak berlangsung lama. Kali ini, ia bergerak menuju pintu rumah Yesung. Sambil berlari-lari kecil ia meninggalkan Yesung.
"Y-Yoona!" teriak Yesung saat dilihatnya Yoona memasuki rumahnya. Ia pun dengan sigap berlari ke arahnya.
"Yesungie−"
Grep
Omongannya terpotong. Dengan tiba-tiba Yesung menarik tangannya lalu menariknya dalam pelukannya. Sontak saja Yoona tersenyum dan membalas pelukan Yesung.
"Yesungie, aku tahu kau merindukanku. Hanya saja kau tidak ingin melakukannya di luar." ucap Yoona.
Tapi, saat ini lawan bicaranya itu sedang menatap seorang gadis mungil yang berada di depannya yang di belakangi oleh Yoona. Untuk itulah Yesung melakukan itu. Tidak ingin Yoona melihat seseorang yang bernama Kim Ryeowook.
Yesung menatap Ryeowook dengan tatapan lembut sambil memberikannya intruksi agar masuk ke kamarnya, sementara ia menangani Yoona yang sekarang berada dalam pelukannya. Tapi, tidak seperti yang ia pikirkan. Ryeowook malah balik menatapnya. Tatapan matanya begitu miris mengatakan bahwa hatinya saat ini sedang ditusuk-tusuk.
Raut wajah Ryeowook begitu menyedihkan. Sesuatu yang sangat tidak ingin Yesung lihat. Untuk apa Yesung memperlakukannya seperti itu? Ia sungguh bingung saat ini. Ia sudah salah mengira bahwa oppa-nya adalah miliknya sendiri. Tapi apa?
Yesung semakin mempererat pelukannya pada Yoona yang kini kehabisan nafas minta dilepaskan. Tapi, biarkan saja ia kehabisan nafas. Perhatian Yesung sepenuhnya tertuju pada Ryeowook.
"Masuklah ke kamarmu. Aku mohon…" seperti itulah yang terucap dari bibir Yesung. Meskipun tanpa suara, Ryeowook tahu apa yang Yesung katakan. Dan juga tatapan Yesung sangat lembut padanya.
Ryeowook pun tersenyum miris pada Yesung dan setelah itu mengendap-endapkan kakinya menuju kamarnya. Pikirannya kacau. Hatinya entah kenapa merasakan sakit yang luar biasa. Dan ia pun berhasil masuk di kamarnya sambil membawa pasta buatannya.
Yesung menghela nafasnya lalu di lepaskannya Yoona yang sedari tadi (mungkin) meronta-ronta.
"Ye-Yesungie… hosh… aku kehabisan nafas," ucap Yoona.
Yesung hanya menatapnya dingin lalu meninggalkannya. "Mau apa kau kemari?
"Aku hanya ingin mengunjungimu. Memangnya tidak boleh?"
"Kenapa tidak memberitahuku dulu?"
Yoona tersenyum lalu mendekati Yesung yang sedang duduk di sofa. "Kau marah? Aku hanya memberimu kejutan, Yesungie…"
Lagi-lagi Yoona memeluk lengan Yesung dengan manja. Yesung hanya menurutinya agar nenek sihir itu tidak curiga. Dan itu kebaikan untuk Ryeowook juga. Tapi, Ryeowook belum mengetahui apa-apa tentang ini. Karena itu, sementara ia akan sedikit terluka.
Gadis cantik itu kini duduk di depan cermin kamarnya, alisnya bertaut kala ia memikirkan Yesung dengan wanita berpakaian minim itu. Pikirannya kacau, bagaimana jika mereka berdua melakukan yang tidak-tidak di belakang Ryeowook? Dan juga Yesung menyuruhnya masuk ke kamarnya. Bukankah itu menyatakan bahwa mereka berdua tidak ingin diganggu?
Ryeowook menggeleng-gelengkan kepalanya, mengusir jauh-jauh pikirannya tadi. Mana mungkin Yesung akan melakukan itu.
"Aku kenapa?" tanyanya.
"Aku menyukai Yesung oppa…?"
.
.
.
.
.
_To Be Continued_
.
.
.
.
.
Annyeong haseyoooooooooo! *tereak pake toa tetangga*
Mianhamnida! ceritanya semakin abal ya chingu? Semakin hancur ya chingu? Typo semakin bertebaran ya chingu? Silahkan pukul Soo Man –ehem maksud author silahkan gebukin author kalau ceritanya tidak berkenan di hati chingu… *Sok dramatis*
Wawawawaw! Gomawoo! Kamsahamnida! Buat reviewer dan reader sekalian! Feedback kalian sangat membantu author dalam meneruskan fic ini!
Special thanks to reviewer chap 1:
Wiikimyesung, Yewookieyeoja, Kha putrid, RyeoRim, UthyDianRyeosomnia, Ddhanifa aaolfa, LeeHaeNa, Redpurplewine, cloud3024, Uchiha Michiko-chan 'Elf, Verravrl, Ryeoliy, Shin Hyu Ra, CloudsomniaElf, Lya Clouds, Lin Narumi Rutherford, yeyeaddict, orenzCloudsomnia, YesyesungPaoppa, Drabble Wookie, Wookie, Kim Jung Min.
Oh ya, ngomong-ngomong, kekurangan pada chap ini apa aja chingudeul? Mohon diberitahukan karena author bingung kayaknya ada yang kurang. Hahaha *ketawaepil*
Jadi, mohon FEEDBACK-nya lagi ya, chingudeul^^
.
.
.
REVIEW?^^v
