_My Girl_

Disclaimer :

All character belongs to God and SMEnt

.

This Fict is mine © Kim Minra

.

Rated T

.

Pair : Yesung x Ryeowook

.

Warning : Genderswitch, Gaje, Abal, OOC, Hancur, Typo bertebaran, Alur gk nyante, de el el.

.

.

.

IF YOU DON'T LIKE, DON'T READ. JUST PRESS 'BACK'. OKAY?

.

.

.

_My Girl_

.

.

.

"Tidak mungkin!"

Yoona membelai pipi Yesung dengan manja sedangkan Yesung berusaha agar melawan dan pergi dari keadaan ini. Peluhnya masih saja bercucuran dari pelipisnya. Saatnya otaknya harus bekerja.

Yoona menduduki perut Yesung lalu membungkukkan badannya untuk mendekatkan wajahnya ke wajah Yesung. Tangannya menghapus peluh di dahi pemuda itu dengan sangat lembut. Tangan Yesung beralih ke punggung Yoona dan membuka tali yang mengikat dress-nya itu. Yesung menarik tangan Yoona hingga keadaan berbalik, kini Yoona berada di bawah Yesung.

"Lakukanlah, Yesungie~" ucapnya.

Yesung mengepalkan tangannya. Menahan sebuah rangsang yang sedari tadi menyiksanya. Ia menundukkan kepalanya, tak berani menatap sosok gadis licik itu.

"Maaf, aku tidak bisa," ucapnya dengan paksa. Ia kembali menarik restletting celananya yang sempat terbuka. Ia berusaha menahan nafsunya dan perlahan menjauh dari Yoona. Ia mencari pakainnya dan beranjak dari tempat tidur itu.

"Kau harus melakukannya!" teriaknya. Dilihatnya Yesung yang dengan nafas memburu memakai kembali kemejanya. Sangat jelas bahwa pemuda itu sangat tersiksa. Bukan karena keadaannya sekarang, melainkan tersiksa karena memikirkan gadis yang dicintainya yang kini menunggunya di rumah.

Dengan langkah gontai bermandikan peluh di tubuhnya, ia berjalan keluar dari kamar itu. Tidak menghiraukan Yoona yang sedari tadi memanggilnya, berteriak sekencang badai. Namun, yang ia pikirkan hanyalah sosok gadis imut dan cantik yang selalu tersenyum padanya setiap hari.

Dan Yoona benar-benar tidak tahu, betapa tersiksanya pemuda itu.

"Jangan pergi!" teriak Yoona seraya merapikan dress-nya lalu berlari menuju Yesung yang hampir memegang gagang pintu. "aku belum menyuruhmu pulang! Tetaplah di sini!"

Ditariknya tangan kekar Yesung agar kembali padanya. Tapi, bukannya menurut, pemuda itu malah memberontak seraya melepaskan tangan mungil Yoona dengan kasar. Ia menatapnya tajam lalu perlahan mendekati gadis itu.

PLAK

Satu tamparan telak mengenai pipi mulusnya. Satu tamparan yang sudah jelas menggambarkan betapa marahnya pemuda itu saat ini. Dan Yoona hanya bisa meringis menikmati panas di pipinya. Air mata memenuhi pelupuknya.

"Ke−kenapa kau menamparku?" tanya Yoona seraya memegang pipinya yang kini sudah memerah karena sakit.

Yesung tersenyum kecut. "Bukannya itu PANTAS kau dapatkan, hah? Dasar tengik! kenapa kau melakukannya padaku?" bentak Yesung.

"Karena… karena aku menyukaimu!"

"Menyukaiku? Harusnya kau lihat dirimu dulu! Kau tidak pantas! Sangat tidak PANTAS, IM YOONA!"

Yoona terisak ketika Yesung membentakkan kata-kata pahit itu. "Kenapa? Dulu kau menyukaiku…"

"Itu dulu! Sekarang, aku tidak menyukaimu lagi! Dasar licik!"

"Hiks… kau…"

Yesung menatapnya sinis. "Jangan melakukan itu lagi gadis licik!" nafasnya masih memburu, ia berjalan mendekati gadis itu yang kini tertunduk malu akan perbuatannya. "Aku sedih. AKU SEDIH MELIHATMU SEPERTI INI! AKU TIDAK INGIN KAU YANG SELAMA INI KUANGGAP SEBAGAI ADIKKU SENDIRI MELAKUKAN PERBUATAN KOTOR SEPERTI INI! AKU TIDAK INGIN, YOONA!" bentaknya kasar.

Hanya isakanlah yang terdengar dari gadis itu. Tertunduk dan tak ingin menatap mata tajam yang kini sedang marah besar di hadapannya. Ia sudah sadar. Dan seharusnya ia tidak melakukannya terhadap Yesung. Ia hanya bisa terisak sedangkan Yesung menatapnya dengan kilatan marah di matanya.

"Ma−maafkan… aku—hiks," gumam Yoona.

Perlahan tatapan matanya melembut. Amarahnya mereda. Ia membelakangi Yoona dan tetap melangkah dengan gontai. "Dan kau telah membuat seseorang menungguku lama…"

Dibukanya gagang pintu itu lalu keluar sambil menghela nafas. Tiba-tiba, ia mendapati Jessica yang tengah tertunduk. Namun, ia tidak menghiraukannya, hanya tatapan kosonglah yang dikeluarkannya sebelum pergi dari rumah itu dengan motor sport-nya.

.

.

.

Gadis bersurai hitam kecoklatan itu tertidur di atas sofa dengan nyamannya. Tapi, dirinya tiba-tiba terjaga setelah mendengar langkah kaki yang sangat berat dipaksakan untuk melangkah. Kelopak matanya terbuka sempurna. Ia berdiri dari sofa setelah kesadarannya kembali utuh. Dilihatnya sosok yang dicintainya berjalan dengan gontai dan pakaian yang berantakan. Jaketnya ia hinggapkan di pundak kokohnya seraya menyapu peluh yang ada di dahinya.

"Kapan kau pulang, oppa? kenapa tidak membangunkanku?" dihampirinya pemuda itu sembari memberinya pertanyaan. Namun, sama sekali tidak ada respon dari pemuda itu.

"Eng… oppa? Apa yang kau lakukan tadi sehingga pakaianmu berantakan seperti itu?" tanyanya. Ia tetap tidak berputus asa meski Yesung tak menjawabnya. Ia berjalan di belakang Yesung yang terus melangkah pelan menuju tangga.

Diraihnya punggung pemuda itu dan mengusapnya dengan lembut. "Kau tidak apa-apa 'kan?"

"…"

"Oppa baik-baik saja?"

Sesaat dirasakannya tubuh pemuda itu bergidik. Entah karena apa. Ia tidak tahu. Ia hanya terus mengusap punggungnya karena khawatir.

"Oppa… kenapa tidak menjawabku?"

"…"

"Yesungie oppa…?"

"…"

Ia berhenti ketika pemuda itu hampir masuk di kamar kesayangannya. Namun, rasa khawatirnya tak juga berhenti ketika dilihatnya pemuda itu semakin tak menjawabnya. Yang ia dengar hanyalah helaan nafas hangat keluar dari rongga pernafasannya. Apa yang harus dilakukannya. Ia tidak cukup hanya melihat pemuda itu tiba. Ia harus mengetahui keadannya.

"Kau kenapa oppa? kau tak apa 'kan? jawab aku!" ucapnya dengan nada yang cukup tinggi. Entah kenapa perasaan kecewa sedikit mendominasinya. Apa penantiannya tadi sia-sia? Itu sudah cukup jelas bahwa Ryeowook sangat memperhatikannya.

Dan karena itu, langkah Yesung berhenti. Ia berhenti saat Ryeowook benar-benar menunggu jawaban darinya. Namun, ia tidak menjawab. Ia hanya menghela nafas berat. Diremasnya jaket yang sudah dipeganya sejak tadi.

"Kau melakukan apa sehingga berantakan begini, oppa?"

"…"

"Kau baik-baik saja, 'kan? Aku… mengkhawatirkanmu, oppa…" tiba-tiba suaranya mengecil. Namun, masih terdengar oleh indra pendengaran pemuda yang tengah menutup mata itu.

Perlahan namun pasti, ia berbalik dan mendekati Ryeowook yang menatapnya kecewa. Ia membingkai pipi tirus gadis itu dengan kedua tangannya. Tanpa sepatah kata yang keluar dari mulutnya, ia mengecup kening gadis itu.

"Aku… baik-baik saja," sahutnya.

Ditatapnya karamel itu dalam-dalam. Dan dalam hitungan detik, ia langsung saja melumat bibir tipis gadis itu dengan lembut. Namun, beberapa detik kemudian, Yesung seperti orang kelaparan yang tidak makan selama berbulan-bulan. Disandarkannya tubuh mungil gadis itu di dinding rumahnya seraya memperdalam ciumannya. Tangannya mulai meraba permukaan tubuh gadis itu yang masih terbalut pakaian.

"Oppahh~~" desahnya sembari mendorong tubuh Yesung dengan pelan. Menandakan bahwa ia kekurangan nafas saat ini. Perlahan ciuman yang sempat memanas tadi kini sudah terlepas. Mereka memandang satu sama lain.

"Aku sangat menginginkanmu, sayang. Tidurlah denganku malam ini…" gumam Yesung di telinga Ryeowook lalu menjilatnya penuh nafsu. Ternyata perangsang itu belum hilang. Dan Ryeowook tidak bisa melaukan apa-apa ketika Yesung menarik pergelangan tangannya masuk ke kamar dan menguncinya rapat.

'Sudah cukup aku menahan semuanya,' ucap Yesung dalam hati seraya menghempaskan tubuh mungil Ryeowook di atas tempat tidur empuknya. Ditindihnya tubuh mungil itu sambil perlahan melepaskan pakaian yang dipakai gadis itu. Nafasnya kembali memburu. Begitu juga dengan Ryeowook.

"Maafkan aku, Wookie…" gumamnya seraya mengecup kening Ryeowook.

"Engh~ ta—tak apa, oppa…"

.

.

.

Dalam penerangan yang remang-remang, terdengar dua nafas berbeda yang tengah memburu. Terengah-engah sambil berusaha agar menstabilkan keadaan masing-masing. Entah berapa jam mereka menghabiskan waktu bersama dengan berbagai desahan erotis yang terdengar begitu merdu bagi pemuda seperti Yesung itu. Namun, jam kini menandakan pukul 4. Sudah jelas bahwa itu sangat lama.

Rasa hangat memenuhi tubuh Ryeowook ketika Yesung dengan sekuat tenaga memasuki lubangnya tadi. Dorongan dan tarikan yang bertempo cepat membuat keduanya berkali-kali merasakan klimaks. Rasa nikmat pun tak terelakkan bagi dua insan ini.

Ryeowook menghapus peluh di dahi Yesung seraya tersenyum. Meskipun ia tidak melihat wajah Yesung dengan jelas, tapi ia tahu, pemuda itu juga tersenyum padanya. Kamar yang hanya bermodalkan penerangan lampu jalan yang masuk melalu celah-celah jendelanya ini menjadi saksi bisu akan apa yang telah terjadi beberapa menit yang lalu.

"Tidurlah… pagi ini, kita akan kesuatu tempat…" ucap Yesung seraya menutup tubuhnya bersama Ryeowook dengan selimut tebalnya. Ia menyentuh pipi Ryeowook seraya mengecup keningnya untuk yang kesekian kalinya.

"Kita akan kemana, oppa?" tanya Ryeowook.

Yesung menghela nafasnya. "Aku tidak ingin memberitahumu sekarang, sayang," sahutnya dengan nada yang dibuat manja.

"Kau jahat, oppa! ayo beritahu aku!" suruh Ryeowook seraya memukul kecil dada Yesung.

"Tidak mau. Sudahlah, kau harus tidur supaya besok tidak mengantuk,"

"Aku tidak mau,"

Yesung terkikik geli mendengarnya. "Kau masih mau melakukannya, eoh?" goda Yesung sembari menarik pinggang Ryeowook.

"Su−sudah cukup, oppa…" jawabnya seraya menutup wajahnya yang memerah. Sedangkan Yesung semakin memeluk erat tubuh gadisnya. Dibukanya kedua tangan yang menutup wajah gadisnya itu.

"Terima kasih, Wookie…" ucapnya. Kembali dilumatnya bibir gadis itu sampai saliva mereka jatuh di atas kasur. Namun, tidak berlangsung lama, Yesung memutuskan untuk segera tidur. "Tidurlah …"

"Baiklah, oppa…"

'Maafkan aku, Kim Ryeowook…'

.

.

.

Jendela itu terbuka lebar menampakkan cahaya matahari yang menyilaukan mata. Sosok gadis yang tertidur di atas tempat tidur itu sedikit menggeliat karena cahaya matahari yang menerpa wajah imutnya. Sedangkan pemuda yang membuka jendela tadi kini memakai sebuah jaket dan terlihat sangat rapi.

Perlahan ia mendekati gadisnya yang masih tertidur. Ia duduk di tepi tempat tidur seraya membelai lembut pipi gadis itu sambil tersenyum tipis. Dibelainya rambut panjangnya yang sempat menutupi wajah cantiknya.

"Hei… sudah pagi, ayo bangun…" bisiknya di telinga Ryeowook seraya menggoyangkan tubuh gadisnya yang masih terbalut selimut tebal. "Bangunlah, Wookie…"

"Engh~" desahnya sambil menggeliat. Tapi, bukannya bangun, ia malah memperbaiki posisi tidurnya dan membelakangi Yesung. Ia menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Tidak berniat untuk bangun.

Yesung menghela nafas, padahal ia sudah bersiap-siap ingin pergi. Ia pun sudah sangat rapi.

"Wookie, kau tak mau ikut?" tanya Yesung seraya menyentuh Ryeowook di balik selimut. Entah apa yang ia sentuh di situ. "Oh… kau tidak menghiraukanku? Ya sudah. Aku pergi. Aku mau pulang ke Chunan,"

"…"

Tidak ada respon dari Ryeowook. Tiba-tiba, otak Yesung berputar laknat. Diraihnya tubuh Ryeowook dengan selimut lalu menggendongnya ala bridal style. Dan bingo! Ryeowook terbangun dan bingung karena mendapati dirinya berada di gendongan Yesung yang hanya tertutupi dengan selimut. Ia mengucek-ngucek matanya.

"Engh… ya! Kenapa oppa menggendongku?" tanya Ryeowok sambil berusaha menutupi dadanya yang setengah kelihatan.

"Tidak usah ditutup, aku 'kan sudah merasakannya," sahut Yesung sembari tersenyum mesum. Ryeowook merona mendengarnya.

"Tapi, aku mau dibawa kemana?"

"Ke kamar mandi, aku ingin memandikanmu karena tadi kau tidak mau bangun saat kubangunkan,"

Ryeowook melotot tak percaya. "YA! Jangan! Turunkan aku! Aku bisa mandi sendiri!"

Braaak

Karena banyak ulah, Ryeowook akhirnya jatuh sendiri. Bukan karena Yesung yang menghempaskannya ke lantai, tapi karena dirinya yang kebanyakan goyangnya. Yesung terkikik geli saat Ryeowook terus saja berusaha menutupi tubuhnya. Ada kissmark di sana-sini, merah hampir berdarah. Dan Yesung hanya bisa terdiam melihat semua ulahnya.

"Cepatlah mandi," suruh Yesung seraya meninggalkan Ryeowook yang sudah berdiri dan masuk kamar mandi.

Yesung duduk di tepi tempat tidurnya sambil memandang layar handphone di tangannya. Namun, ia masih saja terpikir tentang tadi malam. Dan ia kecewa tidak sempat melihat secara keseluruhan gara-gara lampunya tidak dinyalakan. Ia menoleh ke belakang, melihat permukaan tempat tidurnya yang ada bercak darah Ryeowook. Ia menggigit bibirnya, ia tahu betapa sakitnya Ryeowook waktu itu sampai ia mengeluarkan darah.

"Oppa, tolong ambilkan handuk!" suruh Ryeowook yang berada di dalam kamar mandi. Yesung pun hanya bisa menurutinya dengan senyum evil di bibirnya. Ia mengambil handuk merah dalam lemari lalu mengetuk pintu kamar mandi itu.

Ceklek

"Ini," ucap Yesung seraya mencoba mengintip di dalam sana. Ryeowook menatapnya sinis sambil mengambil kasar handuk itu.

"Apa yang kau lihat!" bentak Ryeowook.

"Wookie, sekali saja—"

"TIDAK!"

BLAAMM

.

.

.

"Kau mendapatkannya, Kyu?" tanya Yesung dengan handphone yang menempel di telinganya. Ryeowook baru saja turun dari tangga dan langsung menatap Yesung dengan bingung.

'Iya. Tapi, apa kau yakin?' jawab Kyuhyun di seberang sana.

"Ya, begitulah," ia menundukkan kepalanya seraya menggigit bibir bawahnya.

'Aku harap kau tidak menyesal, Kim Yesung,'

"Hn… entahlah. Baiklah, nanti kau kirim melalui pesan, ya. Terima kasih,"

Klik

Yesung mengakhiri pembicarannya dengan Kyuhyun. Dan Yesung hampir saja terjungkang ke belakang saat Ryeowook sudah berada di dekatnya sembari mengintip handphone miliknya.

"Siapa itu, oppa?" tanya Ryeowook ketika Yesung dengan cepat memasukkan handphone-nya ke dalam saku celananya. "Kekasihmu, ya?"

"Bu−bukan!" sahut Yesung.

"Lalu, kenapa menyembunyikannya?"

Yesung berpikir sambil melihat ke langit-langit rumahnya. "Eng… tadi itu Kyuhyun, ada yang ia sampaikan padaku,"

"Apa yang ia sampaikan?"

Yesung mentapnya. "Kenapa kau mau tahu? Sudahlah!"

"Aku ingin tahu! Jangan-jangan itu kekasihmu,"

Mendengarnya, Yesung membingkai kedua pipi Ryeowook sambil menatapnya lembut. "Kenapa kekasihku menelponku, padahal kekasihku ada di sini," sejenak di kecupnya bibir Ryowook lalu kembali menatapnya. "Kenapa kau menanyakan itu terus, hah?"

"Eng… aku ingin membuktikan kalau kau hanya mencintaiku," jawab Ryeowook dengan wajah polos.

"Kau selalu saja seperti itu. Apa yang tadi malam kurang membuktikan? Apa lagi yang harus aku lakukan untuk membuktikannya? Apa aku harus melakukannya lagi? Apa aku harus berteriak di telingamu? Apa aku harus berlebay-lebay di hadapanmu, hah?"

Ryeowook tertawa mendengar penuturan Yesung yang bisa dibilang berlebihan. Perlahan namun pasti, ia mengalungkan tangannya di leher Yesung lalu memeluknya erat. Yesung hanya bisa membalas pelukannya.

"Oppa, kapan kita berangkatnya?" tanyanya sambil menghirup aroma maskulin yang menguar dari tubuh pemuda itu.

"Setelah aku menciummu," sahut Yesung.

Tiba-tiba, Ryeowook melepaskan pelukannya. "Hah? Tadi 'kan sudah!"

"Ahaha, aku hanya bercanda,"

Yesung pun keluar dari pintu rumah. Ia memakai helm sedangkan Ryeowook belum juga ada di dekatnya. "Wookie, keluarlah," panggil Yesung.

"Hei, oppa, jaketku. Jaketku mana?" tanya Ryeowook sambil menatap Yesung dengan bingung. Yesung hanya bisa menghela nafas panjang seraya mendekati Ryeowook. diraihnya kedua tangan mungil gadis itu sembari menatap karamelnya lekat-lekat.

'Aku tidak mungkin sanggup hidup tanpamu setelah ini, sayang…' inner Yesung masih menatap mata Ryeowook.

"Ehem," dehem Ryeowook. "kenapa menatapku begitu, oppa?"

Mendengarnya, Yesung pun kembali sadar. ia tersenyum manis dan setelah itu mengecup bibir Ryeowook dan sedikit menjilatnya.

"Kau akan terlihat sangat cantik jika tidak memakai jaket," ungkap Yesung sambil berusaha menutupi sesuatu dari sorot matanya.

Ryeowook mengkerutkan keningnya. "Oppa yakin?"

"Sangat yakin. Sudahlah, cepatlah naik,"

Ryeowook pun hanya bisa menuruti Yesung yang terus menuntunnya naik ke atas motor.

"Eng… ngomong-ngomong, aku menyukai bibirmu yang sangat manis,"

.

.

.

Akhirnya mereka pun sampai di tempat yang cukup ramai. Banyak orang di sana-sini. Banyak juga wahana permainan yang dikerumuni oleh banyak orang. Termasuk kedua pasangan ini, mereka duduk di kursi panjang di bawah pohon yang rindang dan sedang beristirahat sambil menikmati minuman dingin yang tadi dibelinya. Kerumunan orang jauh dari mereka. Namun, tak sedikit yang mencuri pandang dari Ryeowook dan setelah itu mengkerutkan kening mereka sendiri.

Puk

Botol minuman itu tepat masuk di dalam tong sampah yang jauhnya hampir tiga meter dari kursi itu. Tanpa bergerak sedikit pun, Yesung berhasil membuat Ryeowook yang ada di sampingnya terkagum dengan bakat tersembunyi pemuda itu.

"Wah~ kau hebat, oppa," sorak Ryeowook seraya menatap Yesung dengan mata yang berbinar-binar.

Yesung hanya tersenyum manis melihat Ryeowook. "Ya, waktu sekolah aku adalah ketua basket. Jadi, aku bisa melakukannya meski tidak begitu baik,"

"Tapi, oppa tetap saja hebat,"

"Benarkah? Terima kasih," sahut Yesung dengan semburat merah tipis di kedua ppinya.

"Dan aku yakin banyak gadis yang mengejarmu, hihi,"

Yesung tersenyum tipis sambil menatap ke arah lain. "Ya, sangat banyak sehingga aku tidak bisa menampung surat cinta di lokerku," Yesung beralih menatap kedua mata Ryeowook yang juga menatapnya. "jika kau berada di antaranya, aku mungkin akan memilihmu," sahutnya sambil membelai pipi tirus Ryeowook lalu memegang tengkuk gadis itu.

"Aku sangat ingin memilikimu seutuhnya…" gumam Yesung sembari mendekatkan wajahnya dengan wajah Ryeowook. Dan sejenak bibir mereka saling bertaut untuk yang kesekian kalinya.

"Oppa, kenapa akhir-akhir ini kau sering menciumku? Dan juga kau terlihat aneh. Apa yang oppa sembunyikan," tanya Ryeowook.

"…tidak ada, Wookie. hei, apa kau masih ingin bermain?"

Ryeowook menggelengkan kepalanya cepat. "Sudah cukup, oppa. aku pusing," elaknya seraya memegang kepalanya. "tapi, tadi oppa bilang sangat ingin memilikiku seutuhnya,"

"…ya, benar," sahut Yesung.

Ryeowook mengkerutkan keningnya. "Memangnya… oppa belum memilikiku seutuhnya?" tanya Ryeowook intens.

Deg

Deg Deg

"Oppa…?"

Jantungnya serasa berhenti berdetak, darahnya serasa tidak mengalir dan peluhnya seperti air hujan saja kala mendengar pertanyaan yang keluar dari bibir tipis gadis di sampingnya itu. Entah apa yang akan ia jawab. Lidahnya kelu. Suaranya tak mampu keluar untuk membicarakan yang sesungguhnya.

Namun, wajahnya tak menandakan bahwa ia sedang gelisah dan benar-benar khawatir. Wajahnya terlihat sangat dingin tidak berekspresi. Ryeowook pun tidak mampu mengartikan apa yang dipikirkan pemuda ini.

Sexy, free and single ije junbineun wanlyo

Sexy, free and single I'm ready to, bingo

Dengan sigap Yesung merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah handphone di sana. Ia berusaha agar tidak terlihat gugup. Sungguh. Ini menyakitkan.

Terlihat ada satu pesan masuk yang tertera di layar handphone itu. Ia pun menekan ikonnya dengan ibu jarinya. Sesaat ia menghela nafas sangat dalam.

From: Cho Kyuhyun

Kau telepon saja nomor ini 0823 4681 5454. Maaf, hanya ini yang bisa aku bantu. Dan kuharap, kau tidak bermain-main dengan keputusanmu.

Yesung terdiam setelah membaca pesan itu. Ia pun menghela nafas setelah menentukan sebuah keputusan yang memang sangat berat. Jari-jari lentiknya pun menulis sebuah pesan dan mengirimnya ke nomor yang dikirim oleh Kyuhyun.

"Oppa, kau tak apa? kenapa kau diam saja?" tanya Ryeowook seraya memegang pundak Yesung. "kapan kita pulang ke rumah?"

Yesung menoleh dan menatap caramel Ryeowook lekat-lekat. "Tenang saja, beberapa menit lagi kau akan pulang ke rumahmu,"

"Eh? Rumahku? Maksud oppa rumah kita?"

Bukannya menjawab, Yesung malah tersenyum dengan arti yang tidak jelas. Ryeowook hanya bisa mengedikkan bahunya dan menyandarkan kepalanya di pundak Yesung.

Perlahan namun pasti, Yesung menggenggam tangan mungil Ryeowook dan menciumnya sejenak. setelah itu, ia melepaskan tangan Ryeowook dengan pelan juga.

"Wookie, aku… aku ingin ke toilet sebentar," ucap Yesung seraya mengangkat dagu Ryeowook menjauhi pundaknya. "tetaplah di sini," lanjutnya seraya mengelus pipi tirus gadis itu dan tersenyum tipis.

Ia pun beranjak dari kursi itu dan meninggalkan Ryeowook yang masih setia menunggunya. Meskipun, ada sesuatu yang mengganjal baginya, ia tidak peduli. Bahkan, tidak peduli jika ia tidak peduli.

.

.

.

Lewat 15 menit Ryeowook menunggu di tempat itu. Yesung tidak datang juga menghampirinya. Dan sudah berkali-kali ia merenggangkan otot-ototnya.

"Kenapa orang itu tidak datang juga? Ckck," decak Yesung di balik gedung yang tak jauh dari tempat Ryeowook berdiri. "aku tidak bisa meninggalkannya berlama-lama di situ," ia pun melangkahkan kakinya. Namun, sedetik kemudian ia melangkah mundur dan kembali bersembunyi di balik gedung itu.

Ada sekitar enam orang bodyguard dan beberapa orang lagi yang menghampiri Ryeowook. Ryeowook yang tidak tahu apa-apa hanya bisa kebingungan dan panik. Namun, seorang wanita paruh baya memeluknya sembari menangis tersedu-sedu. Saat itu juga, banyak orang yang berkumpul sambil melihat apa yang terjadi.

Yesung mampu melihat raut wajah ketakutan Ryeowook. Dan ia tidak bisa melakukan apa-apa saat melihat Ryeowook meronta-ronta sambil memanggil namanya. Ini lebih menyakitkan. Ia yang dulu sering menghibur Ryeowook jika kesakitan, namun, sekarang ia malah membuat gadisnya itu benar-benar merasa sakit.

Ia hanya mampu menggigit bibir bawahnya ketika melihat gadisnya itu jatuh dan tidak sadarkan diri. Tanpa suruhan, para bodyguard itu membopong Ryeowook masuk dalam sebuah mobil.

"Wookie… maafkan aku. Aku mencintaimu…"

Dengan gontai ia melangkahkan kakinya. Dan tanpa seorang gadis mungil di sampingnya. Kartu sim yang tidak bedosa pun ia buang setelah ia patahkan untuk menghilangkan jejaknya.

.

.

.

To: 0823 4681 5454

Putri kalian sangat cantik. Aku mencintainya. Namun, aku tidak pantas memilikinya. Ia ada padaku. Kim Ryeowook yang cantik ada padaku. Sangat manis jika mengingat ia tinggal serumah denganku. Maaf, tidak memberitahukannya dari awal. Aku tidak pernah memberitahunya apa-apa. Ia tidak tahu apa-apa. Jadi, jangan salahkan ia jika ia mencintaiku. Temuilah di taman wonderlands. Aku menghabiskan waktuku dengannya di sana. Aku tidak berbohong untuk ini.

Aku akan sangat merindukan senyumnya. Terima kasih.

.

.

.

.

.

To Be Continuedddd XD

.

.

.

.

.

Annyeong? Masih ada orangkah? Hehe, maaf lama apdetnya #jderr. Sumfeh, readerdeul, author bener-bener gak ada waktu #plak. Tapi, setelah ch 5 abis di ketik, giliran modemnya yang abis *maksudnya masa aktifnya*

Tapi, masih ada reader yang setia baca nih ff kan? Selahkan jujur kalo ff ini bener2 GEJE, HANCUR, apalah. Yang penting, author udah usahain ngetik ff ini buat reader sekalian. Dan juga, nomor yang dikirim Kyuhun itu nomor hand phone ku! Ahaha XD

REVIEW gk REVIEW harus REVIEW #plakkk

REVIEW YA CHINGUDEULLLL! #maksabanget

Ada pertanyaan? Silahkan PM author bagi yg punya akun^^ atau bisa juga di nomor telepon itu.

Akhir kata…

.

.

.

REVIEW, NE? muaaaaaccchhh ;*