Disclaimer :

All character belongs to God, themselves and SMEnt

This Fict is mine © Kim Minra

Rated T

Pair : Yesung x Ryeowook

Warning : Genderswitch, Gaje, Abal, OOC, Hancur, Typo bertebaran, Alur gk nyante, de el el.


_My Girl_


Kembali seperti semula. Seperti pada awal pertama cerita ini dimulai, pemuda itu—Kim Yesung berdiri di atap gedung sambil memandang lurus ke depan tanpa maksud apapun. Tidak ada yang menemaninya. Dan akhir-akhir ini, semenjak waktu itu, hanya inilah yang sering ia lakukan. Mungkin terlihat sangat konyol bagi ukuran pemuda dewasa sepertinya, tapi, tidak ada yang bisa merasakan perasaannya saat ini, bukan?

Ia menghela nafas seraya menutup matanya merasakan semilir angin yang sedari tadi membelai wajahnya. Pikirannya berkecamuk. Entah mana yang akan ia pilih selanjutnya. Sungguh—

"Sungguh, aku merindukanmu…" gumamnya.

"Kau merindukannya?" ia membuka matanya dengan kasar saat mendengar suara yang menyahutinya. Dan tiba-tiba mendapatkan Kyuhyun yang entah sejak kapan sudah berada di sampingnya. Pemuda manis itu tersenyum tipis kepada sahabatnya.

"Sejak kapan kau di sini?" tanya Yesung yang mengharuskan Kyuhyun menghilangkan senyumnya.

Kyuhyun memalingkan wajahnya seraya menatap langit yang cerah. "Sudahlah, itu tidak penting. Apa yang kau pikirkan sekarang?"

Mendengar pertanyaan itu, Yesung menundukkan wajahnya. Menyembunyikan cahaya redup dari matanya. "…"

"Aku mengerti. Kau ingin menemuinya?"

"A—pa?" tanya Yesung sambil memandang bingung. "menemuinya? I—itu gila," Kyuhyun hanya tersenyum mendengar respon sahabatnya itu. Ia pun memegang pergelangan tangan Yesung lalu menariknya keluar dari atap gedung.

"Sudahlah, ikut aku!"

"Hei!"


Kyuhyun tersenyum senang melihat sahabatnya memandang ke satu titik tanpa mengedipkan matanya sedetik pun. Ia tertegun. Tertegun melihat sosok gadis yang begitu disayanginya kini sedang tertawa lebar. Entah karena apa. Tapi, melihatnya seperti itu, ia menjadi sangat yakin jika gadisnya itu benar-benar melupakannya.

"Dari mana kau tahu semuanya, Kyu?" tanya Yesung masih belum mengalihkan pandangannya. Bahkan, banyak orang yang melihat padanya karena mengintip di luar restaurant. Kau tahu tatapan apa? banyak orang yang menatapnya kasihan.

Poor! Mereka bukan orang miskin yang ingin makan makanan restaurant.

"Hehe, aku penggemarnya. Jangan kaget kalau setiap detik aku update tentangnya," ucap Kyuhyun sambil tersenyum bangga.

Sudut bibirnya terangkat. Senyum ketulusan terbentuk dari bibir pemuda tampan itu. Sungguh ia tidak bisa mengelak. Ia sangat merindukannya. Mengingat apa yang pernah ia lakukan terhadap gadis itu—

"Kyu, sepertinya kita harus pergi sekarang! ayo!" mereka bertemu pandang. Gadis itu mengernyitkan dahinya dan segera beranjak dari duduknya. Dengan sigap, Yesung menarik tangan Kyuhyun lalu menjauh dari tempat itu. Melarikan diri dari sebuah kenyataan pahit yang harus ia terima.

Kini Ryeowook berada di luar restaurant, melihat ke sana ke mari mencari sesuatu yang ia rindukan pula. Matanya memanas entah karena apa. Tidak menghiarukan keluarganya yang terlihat khawatir dengan kelakuan putrinya yang terlihat sangat aneh. Namun, rasa rindu itu terlihat sangat jelas saat setetes air jatuh dari mata indahnya.

"…oppa…" ia menangis sejadi-jadinya, membuat orang yang lalu lalang di sekitarnya menjadi bingung. Bahkan, pipinya yang telah ia usap masih akan tetap basah karena air matanya yang tidak akan reda.

"Oppa! hiks... oppa…"

Bahkan, kau menyembunyikan dirimu sendiri.

Saat Ryeowook melangkahkan kakinya dan bersiap untuk berlari—mencari sesuatu yang ia rindukan namun tidak pasti, seseorang menahannya dan kembali menyeretnya masuk ke dalam restaurant. Ayahnya. Ia bahkan tidak tahu apa yang putrinya rasakan.

"Ck, sial. Ayah macam apa itu!?" dengus Yesung yang berada di balik dinding pembatas restaurant itu. Ia merasakan semuanya. Sakit. Merasa bersalah.

"Oppa! a—aku melihatnya di sana, ayah—hiksoppa!" teriaknya.

Tidak bisa. Ia tidak bisa membiarkan semua ini. Ryeowook tersiksa. Gadis yang ia sayangi sangat jelas merasa tersiksa dengan semuanya. Dan ia benar-benar sudah sangat sadar bahwa jalan yang ia pilih itu salah. Bukankah yang membuat gadisnya tersiksa adalah dirinya sendiri?

Ia menggigit bibir bawahnya dan perlahan pergi dari tempat itu.

"Wookie…"


Kalian semua mengerti. Tidak ada hal yang lebih menyakitkan dibanding dengan semua ini. Kalian pasti berpikir bahwa ini adalah hal yang konyol. Bukan. Ini benar-benar sakit.

Ada saat di mana kesakitan itu akan sembuh, bukan?

Itu pasti.

Entah kesakitan itu terlupakan atau mungkin kesakitan itu akan digantikan dengan sesuatu yang baru yang tidak akan membuatmu sakit. Tapi, pada awalnya memang tidak akan kau terima dengan baik.

Kesakitan akan terus berbekas. Meskipun telah terlupakan bahkan tergantikan.

Kau hanya perlu yakin, kesakitan itu suatu saat pasti akan sembuh.


Tidak ada kegiatan. Ia hanya duduk di atas kursi panjang taman sambil memasang sepasang earphone di telinganya. Sangat datar tidak berekspresi. Bahkan, ia hanya bisa memandang lurus dengan tatapan kosong.

Sesekali ia menelan saliva, merasakan sesuatu yang sedari tadi berputar di otaknya. Tidak adakah hal yang lebih berguna daripada terus memikirkan itu? Kehidupan harus tetap berjalan. Begitu pula dengan ini, ia tidak mungkin akan terus menderita seperti ini jika ia tidak bergerak. Semuanya tergantung pada dirinya, bukan?

There's one chance to move on, right?

Ia membuka earphone yang tadi bertengger di daun telinganya lalu memasukkannya ke dalam tasnya. Ingin beranjak dari kursi itu namun sesuatu mengharuskannya untuk duduk kembali.

"A—aku… boleh bicara sebentar?" terdengar suara yang terdengar parau di sampingnya. Ia menoleh dan mendapatkan Yoona tengah menatapnya takut-takut. Melihat Yesung memperbaiki posisinya kembali, ia pun duduk di kursi itu.

"…maaf atas kejadian itu. Aku mohon maafkan aku…" sahutnya seraya menunduk dalam.

Yesung menoleh menatapnya datar.

"Aku sadar apa yang selama ini kulakukan itu salah. Aku menyesal. Dan… aku tidak ingin kau membenciku. Aku salah, tidak pernah mengetahui bahwa… kau menyukai gadis lain. Bukan aku, tapi…"

Mendengarnya, Yesung mengernyitkan dahinya. Mencoba meneliti dari mana gadis itu tahu. Apa ia juga mengetahui tentang Ryeowook?

"…Kim Ryeowook," lanjutnya.

Yesung membuang muka. Namun, belum selesai di situ.

"…aku iri dengan Kim Ryeowook yang bisa serumah denganmu. Tapi… aku bodoh. aku bodoh telah iri terhadap sesuatu yang sama sekali tidak pantas untuk aku jadikan alasan. Kenapa? Karena aku memang buruk dari awal. Memberitahuku pun kau tidak mau…"

"…"

"…sejak aku ke rumahmu waktu itu. Aku melihatnya. Dan saat aku tahu bahwa Kim Ryeowook mengalami amnesia, aku mencoba membuatnya… mundur,"

"Apa?"

"Karena aku tahu, dia mencintaimu…"

Keduanya terdiam. terhanyut dalam pikiran masing-masing. Bahkan, karena gadis itu, Yesung tidak menyadari bahwa menyembunyikan gadis itu dari Yoona adalah sia-sia. Terlalu sia-sia.

Dan siapa yang telah membuat Yoona menjadi seperti itu? bahkan, untuk mengetahui bahwa dirinya yang salah juga terlalu menjijikkan.

Ia titik dari semua kesalahan.

"Yoona—" gadis itu menoleh. "—jangan kebanyakan diet." ucapnya seraya mengusap ujung kepala Yoona lalu beranjak pergi dari taman itu.

Yoona terperangah. Meskipun Yesung hanya menatapnya datar. Ia sangat senang Yesung kembali seperti dulu. Kembali berbicara dengannya meski hanya sebentar. Ia sangat senang.


Tidak di mana saja, semuanya sama. Kim ryeowook kembali muncul di layar kaca. Tapi, ia belum ber-akting. Ia hanya di panggil dalam sebuah acara Reality Show. Di temani dengan ayah dan ibunya. Ia duduk di depan kamera dan fans yang menonton di studio itu.

Dapat dilihat raut wajah canggung Ryeowook. Ia masih belum terbiasa setelah beberapa hari yang lalu. Sebenarnya ini maunya siapa? Bahkan, ia terlihat di paksa untuk berbicara. Yesung yang menonton acara itu hanya bisa terpaku. Ia hanya menatap kosong ke arah gadisnya.

'Aku tinggal bersama seorang pemuda yang menyelamatkanku waktu itu. dia benar-benar orang yang sangat baik. Dan aku menyukainya. Namun, aku tidak tahu alamat rumahnya. Dia benar-benar menyembunyikanku dan melindungiku,'

Yesung sedikit tersenyum mendengar penuturan gadis itu yang sangat polos. Jika dilihat-lihat, kedua orang tuanya sesekali mendengus karena keanehan putri mereka.

'Ya, putriku dalam keadaan baik,'

"Ia masih tetap cantik." Yesung terkekeh sendiri. Namun, sedetik kemudian ia kembali menatap kosong.


1 bulan kemudian…

Hari ini ia benar-benar lelah. Lelah karena terus memikirkan gadis itu. Seharusnya, ia lebih bersikap dewasa. Bukannya ini kekanak-kanakan? Bahkan, untuk pulih pun ia tidak bisa. Bagaimana dengan masa depannya jika ia tidak bergerak sedikit pun. Malah bermalas-malasan seperti ini.

Hidup bukan hanya sampai di situ. Tapi, masih ada perjalan yang panjang. Termasuk dengan rasa rindu. Rindu itu ada akhirnya, bukan? Kau hanya perlu bergerak mengikuti arus.

Sesekali ia mengganti posisi tidurnya yang tidak nyaman. Apa ini? pakaiannya pun belum ia ganti seperti biasa sepulang dari kampus.

Tok tok tok

Baru saja matanya terpejam dengan posisi tidur yang nyaman. Sebuah ketukan pintu mengharuskannya bangkit dari tempat tidur. Ia pun berjalan dengan malas menuju pintu.

"Siapa—" belum sampai ia berucap, matanya sudah melebar melihat sosok yang berada di depannya. Ia pun memasang tampang segar dan membereskan pakaiannya yang kusut.

"Kenapa ayah dan ibu ke mari?" tanyanya sambil menutup pintu rumah. Sedangkan dua sosok yang tidak ia sangka akan datang, sudah duduk di sofa sambil beristirahat. Ia sedikit canggung. Bahkan, satu butir peluh turun dari pelipisnya.

B—bagaimana ini?

Tanpa disuruh pun Yesung masuk ke dapur membuat minuman untuk ke dua orang tuanya. Anak pintar.

Anak pintar atau menghindari tatapan curiga?

"Kau tidak ingat sekarang tanggal berapa, eh?" sahut ayahnya seraya menyalakan televisi dengan remot kontrol. Tanpa sepengetahuannya, Yesung menelan salivanya di dalam sana. "bukankah ayah dan ibu sering ke sini jika akhir semestermu? Apa yang kau pikirkan?"

Bukannya menjawab, Yesung memilih diam. Namun, sebenarnya ia merutuki kebodohannya. Ia pun membawa minuman itu dan meletakkannya di depan ayah dan ibunya.

"Aa, aku hanya terlalu sibuk," ucapnya seraya duduk di sofa lain. Dari luar memang terlihat biasa saja. Tapi, sebenarnya ia sangat hati-hati.

"Bagaimana kegiatanmu akhir-akhir ini? apakah lancar?" kali ini ibunya bertanya seraya menghampiri Yesung dan duduk di sampingnya. Ia tersenyum. Dan itu membuat Yesung sangat merasa bersalah.

"I—iya, bu…"

"Kenapa wajahmu kusut, eh?" tanya ibunya seraya memegang kedua pipi Yesung dan meneliti wajah anaknya itu. "tidak biasanya seperti ini. ada masalah, ya?"

Yesung terdiam. ia hanya menggelengkan kepalanya dan tidak berani menatap mata ibunya. Ia yakin, jika ibunya melihat matanya, terbongkarlah semuanya.

"Ya sudah, ibu ingin istirahat di kamar." ibunya pun beranjak setelah menepuk pundak anaknya itu. Sedangkan Yesung hanya pasrah. Ia menghela nafas panjang seraya mengekerutkan keningnya.

"Kau kenapa, eh?"

"Ti—tidak, ayah."


"Kyu, bagaimana ini. aku bahkan belum membereskan baju-baju Wookie," ucapnya tidak tenang kepada Kyuyun. Sesekali ia menyeruput kopinya dan menyuap sesendok cake ke mulutnya. Bahkan, Kyuhyun ikut cemas juga.

"Ini semua salahmu! kenapa bermalas-malasan! Sudah tahu ayah dan ibumu akan ke rumahmu. Bagaimana kau ini,"

Yesung mem-pout bibirnya. "Hei, seharusnya kau membantuku memikirkan jalan keluarnya. Kenapa malah membentakku?"

"Apa? aku harus membantumu dengan apa lagi? Apa aku harus berbohong, eh?" tanya Kyuhyun sambil menatap Yesung dengan tatapan tidak suka.

"Kyu~"

Kyuhyun bergidik. Sejak kapan Yesung merengek seperti ini? "K—kau kenapa, hah?!"

"Aaarrgghh! Ya sudah kalau kau tidak mau membantuku,"

Kyuhyun menaikkan satu sisi hidungnya seraya menatap Yesung. "He—hei, sejak kapan kau seperti ini, eh? Kau bukan Yesung yang kukenal. Seharusnya kau tahu apa yang akan kau lakukan!"

"Aku juga maunya seperti itu, tapi, aku benar-benar tidak tahu!"

Kyuhyun terdiam sambil memikirkan sesuatu. Sedangkan Yesung hanya terus menyuapi cake ke mulutnya dan meminum kopinya. Ckck.

"AHA! Aku tahu!"

"Uhuk—uhuk! Hei, jangan tiba-tiba begitu dong! Aku kaget bodoh."

"Hehe, otak jeniusku sudah mendapatkan jawabanya," ucap Kyuhyun seraya menyeringai ke arah Yesung. Sedangkan Yesung menyeruput habis kopinya.

"A—apa itu? cepat katakan!"

Kyuhyun tersenyum penuh kemenangan. "Bagaimana kalau kau jujur saja! Lagipula kau belum melakukan apa-apa padanya, bukan?"

Hening.

Yesung terdiam. Bahkan, mungkin Kyuhyun akan menjauhinya kalau tahu bahwa ia pernah 'itu' dengan Ryeowook. Ia pun menatap Kyuhyun hati-hati. Bagaimana ini? belum masalah ini terpecahkan, datang masalah baru lagi.

'Ukh, kenapa aku begitu bodoh.' inner Yesung seraya memukul kepalanya. Menyadari itu Kyuhyun mengernyitkan dahinya.

"Kau kenapa lagi?" tanya Kyuhyun.

Yesung menarik tangan Kyuhyun dan mengenggamnya. "Kau tidak akan marah 'kan jika aku pernah melakukan 'itu' padanya?"

"A—apa-apaan kau ini!?" bentak Kyuhyun seraya menarik kembali tangannya. "kalau aku tidak mungkin akan marah!"

Yesung menghela nafas lega seraya menyengir ke arah Kyuhyun.

"TAPI, ORANG TUAMU YANG AKAN MARAH BODOH!"

Glek


Ceklek

"Ibu?"

"Sungie, baju siapa ini?" tanya ibu Yesung seraya memperlihatkannya baju peremuan. Yesung menelan salivanya. "cepat katakan! Baju siapa ini?!"

"Ma—maafkan aku, bu…" jawab Yesung seraya tertunduk. Ia takut. Eh?

"Ibu tidak membutuhkan itu, nak. Sekarang kau katakan baju siapa ini."

Yesung menatap mata ibunya takut-takut. Ia berjalan memasuki kamar yang pernah ditempati oleh Ryeowook. Ibunya hanya bisa menatap bingung seraya ikut masuk ke dalam kamar itu.

"Bu…" panggil Yesung setelah menutup pintu kamar itu. "ada yang ingin aku jelaskan, bu…"

Ibunya yang duduk di tempat tidur itu terlihat prihatin dengan sikap anaknya satu ini. Yesung pun ikut duduk di samping ibunya.

"Aku takut pada ayah. Biar ibu saja yang memberitahunya…"

Ibunya mengusap punggung Yesung dengan lembut seraya tersenyum. "Ibu mengerti itu… sekarang katakan yang ingin kau jelaskan?"

"Sebenarnya…"


"Kau pulang dengan siapa?" tanya Yesung yang melihat Yoona berdiri tanpa ada maksud menunggu jemputan. "naiklah,"

"E—eh?" demi apa? lihat, wajahnya memerah saat Yesung menyodorkannya helm. Ckck.

"Cepat naik."

"I—iya!"

Mereka pun melesat cepat. Yoona terlihat canggung dalam keadaan ini. Bahkan, dulu saat ia diboncengi Yesung pasti akan berpegangan dengan erat. Tapi, ini? dunia sudah terbalik.

"Kau ingin jatuh? Peganganlah yang erat!" suruh Yesung.

Yoona mengernyitkan dahinya. "A—apa?"

"Peganganlah yang erat! Kau dengar tidak?"

"I—iya!"

Bagaimana? Kau sudah sadar, belum?

Hubungan ini hanya sebatas kakak-adik saja. Tidak lebih. Yesung pun merasa lebih lega dibanding harus berdiam diri.


"Ayah tidak habis pikir mendengar semuanya,"

Yesung hanya bisa tertunduk takut mendengar ucapan ayahnya. Ia benar-benar takut. Apa yang akan terjadi? apakah ia akan dimarahi habis-habisan? Ibunya terlihat santai-santai saja.

Sejenak ia mencuri pandang ke arah ayahnya yang bersandar di sofa. Kembali ia merutuki kebodohannya. Ia pun menghela nafas panjang sebelum menerima sebuah kenyataan yang—

"Kenapa tidak menikahinya saja? Bawa dia ke rumah,"

Glek

Yesung menelan salivanya. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali. Ini mimpi atau bukan? Kenapa ayahnya tidak marah?

"A—apa?" ucapnya terbata-bata.

What the?!

"Apa kau tidak menggunakan otakmu? Kepalamu saja yang besar," lanjut ayahnya. "kau harus bertanggung jawab atas semuanya. Jika tidak, kau bukanlah anak ayah."

Yesung terkaget. "B—baiklah. tapi, bagaimana caranya?"

Ayahnya memutar bola mata bosan. Dengan segara ia memegang kepala besar Yesung kemudian mengocoknya. Yesung meringis kesakitan.

"Ini antenamu rusak atau apa? dasar, kepala besar!" umpat ayahnya seraya kembali duduk di sofa.

"Aa, iya!"

Tok tok tok

"Buka pintunya," suruh ayahnya.

Saat Yesung baru saja beranjak dari duduknya, ibunya sudah duluan membuka pintu. Yesung menghela nafas lagi. Entah karena apa. Sebuah firasat aneh tiba-tiba saja datang menghampirinya. Ia mengkerutkan dahinya.

Apa ini?

Dan Yesung memutuskan agar melihat siapa sebenarnya yang datang ke rumahnya. Karena sedari tadi, ibunya belum mempersilahkan orang itu masuk. Sebenarnya siapa?

"Bu, siapa yang da—" belum sampai ucapannya, sesuatu mengharuskan agar matanya melebar. Jantungnya serasa berhenti berdetak. Rasa senang menyelimutinya. Ia tidak bisa berkata-kata. Bahkan, untuk mengedipkan mata sekali pun ia tidak bisa.

Oh, Tuhan. Firasat yang kau berikan itu… ternyata benar.

Ia masih belum bisa percaya dengan apa yang ia lihat sekarang. Tenggorokannya tercekat.

"Oppa…" panggil seorang gadis yang ada di hadapan ibunya. Melihat situasi ini, ibunya langsung saja meninggalkan mereka berdua dan masuk ke dalam rumah.

Ia menelan salivanya dengan susah payah. "Wookie…?" gumam Yesung masih sangat belum percaya apa yang tengah dilihatnya sekarang. Seorang gadis yang sangat ia rindukan kini berada di hadapannya. Gadis itu menyunggingkan senyum termanis yang pernah ada untuknya.

Dengan perlahan, ia menggerakkan tangannya dan menyentuh pipi tirus gadis cantik itu. Perlahan mengusapnya dengan lembut. Sangat lembut. Bahkan untuk lari dari tatapan mata itu ia tidak akan mampu.

Mengingat bahwa ada orang tuanya di dalam sana, ia pun menarik kembali tangannya. Dapat dilihat raut wajah kecewa dari Kim Ryeowook.

"Ke—kenapa kau ke sini?" tanya Yesung.

Ryeowook tersenyum lalu dengan pelan menggenggam tangan Yesung. Menggenggamya sangat erat dan sangat takut jika lepas. Ia melangkah agar bisa sedekat mungkin dengan Yesung.

"Kau tahu oppa? aku seakan melihatmu setiap hari di hadapanku. Dan itu membuatku tidak bisa melupakanmu. aku… sangat merindukanmu, oppa…" ucap Ryeowook masih setia dengan senyumannya.

Yesung menggelengkan kepalanya. "Tidak. Kau harus kembali ke—"

"Aku berhenti. Aku melepaskan semuanya hanya untuk oppa…"

Glek

"…tapi kenapa?" tanya Yesung. "bahkan aku tidak pantas hanya untuk dijadikan alasan—"

"Sssssttt…" jari telunjuknya membungkam bibir yesung agar tidak bicara lagi. "jangan bicara seperti itu,"

Yesung tertunduk. "Ini semua salahku…"

Mereka berdua tiba-tiba terkejut karena mendengar suara yang kelewat cempreng menyuruh mereka agar masuk dan duduk di sofa. Rasa canggung menyelimuti Yesung. Tapi, lihat Ryeowook, ia masih saja tersenyum. Ada apa sebenarnya?

"Duduklah," suruhnya.

Ryeowook melemparkan senyuman kepada ayah dan ibu Yesung. Dan kedua orang tua itu hanya bisa membalas dengan senyuman manis juga. Tiba-tiba, ayah Yesung bersorak.

"Kau… kau artis yang cantik itu! ibu! Dia artis! Hahaha." sorak ayah Yesung seraya tertawa terbahak-bahak. Sang ibu tersenyum manis seraya memegang pundak Ryeowook.

"Cantik sekali…" decak ibu sembari membelai helai rambut Ryeowook. "apa kau mencintai Yesungie?"

Ryeowook mengangguk mantap. Ia lalu menggenggam kedua tangan ibu Yesung. "Aku… eng… iya… hehe~" jawabnya dengan malu-malu.

'Aku… malu. Tolong aku!' inner Yesung saat melihat kedua wanita itu membicarakan dirinya. Semburat merah menghujani pipinya saat ini. Sedangkan ayahnya sedari tadi memandang Ryeowook sambil senyum-senyum sendiri. Namun sejurus kemudian, Yesung tersenyum tipis melihat keluarganya seperti ini.

'Aku menyukai ini…'

"Selama berpisah dengan oppa, aku menjalani terapi selama dua bulan. Dan aku sudah sembuh sekarang… tapi…" Ryeowook menatap mereka satu-persatu.

Yesung mengkerutkan keningnya menunggu perkataan dari Ryeowook. "Tapi apa?"

Ia tersenyum lagi. Namun, kali ini tersenyum sangat tulus dan terlihat sangat bahagia. Mereka semua semakin bertanya-tanya. Kenapa sedari tadi Ryeowook tersenyum seperti itu?

Wajah Ryeowook seketika itu menjadi sangat polos. Membuat Yesung ingin menggigitnya sekarang juga.

"Aku… aku hamil, hihi."

"APA?!"


2 tahun kemudian…

"Ssssttt, jangan ribut oppa~" ucap Ryeowook seraya menutup mulutnya dengan jari telunjuknya sendiri. Sedangkan tangannya yang satu menutup pintu bercat biru itu dengan sangat pelan dan hati-hati.

Yesung yang bersandar di dinding hanya bisa mengerucutkan bibirnya. Sejak tadi ia hanya diam di tempat. Bahkan, tidak melakukan apa-apa. Tapi, Ryeowook menegurnya terus agar tidak berisik. Intinya, ia kesal dengan sikap istrinya sekarang.

"Fiuuuhhh~" Ryeowook menghela nafas lega saat selesai menutup pintu kamar putranya. Ia senyum-senyum sendiri dan saat melihat wajah horror Yesung, tiba-tiba senyumnya menghilang. "kenapa menatapku seperti itu?"

Bukannya menjawab, Yesung malah membuang muka seraya berjalan meninggalkan Ryeowook. Terlihat mulutnya sedang mengumpat sekarang.

Ia memasuki kamar dan membanting pintunya sedikit keras. Dan tidak lama kemudian, Ryeowook masuk di kamar itu juga.

"Kau kenapa oppa?" tanyanya bingung. "apa aku membuat kesalahan lagi?"

"Tidak," jawab Yesung dingin seraya melepas kaos putih oblongnya lalu melemparnya ke keranjang.

Blush!

Semburat merah memenuhi wajah Ryeowook saat melihat suaminya itu bertelanjang dada dan sekarang berbaring di atas tempat tidur. Mau tidak mau ia harus membuang muka. Tapi, karena penasaran dengan suaminya itu, ia kembali bertanya seraya berjalan pelan menuju tempat tidur.

"Oppa? Ka—kau… marah?" tanyanya sambil duduk di samping Yesung. "beritahu aku jika aku salah!"

Yesung menggeleng. "Tidak,"

"Tapi, kenapa kau bersikap dingin lagi?" ia semakin tidak sabaran.

Mendengarnya, Yesung membuang muka lagi. "Kau tidak memikirkanku lagi,"

"Apa?"

"Ya, semenjak anak kita lahir, kau melupakanku. Kau seharian menemani Kibum bermain, sedangkan aku? Saat pulang saja aku tidak di sambut," gumamnya seraya menatap mata Ryeowook.

"Haha, oppa… dengarkan aku~" suruh Ryeowook sembari memegang kedua pipi Yesung yang sempat menggembung. "anak kita masih kecil. Dia butuh kasih sayang. Sedangkan kau? kau sudah besar—"

"Aku memang sudah besar dan kau tahu apa yang dinginkan orang yang sudah besar sepertiku." potong Yesung.

"Apa…"

"Apa?"

Yesung tertawa renyah. "Aku menyukaimu, chagi…" gumamnya seraya mengelus pipi tirus Ryeowook.

"Tapi, aku lelah sekarang…" ucap Ryeowook sambil berbaring di samping Yesung lalu memeluk gulingnya erat. Melihat itu, Yesung kembali menggembungkan pipinya dan mengerucutkan bibir tipisnya.

"Kalau besok bagaimana?" tanya Yesung seraya memeluk Ryeowook dari belakang.

"Aku juga tidak bisa," jawabnya.

Yesung menghela nafas. "Kalau besoknya lagi?"

Ryeowook menggeleng.

"Lalu bagaimana kalau besoknya lagi besoknya lagi besoknya lagi besoknya lagi besoknya lagi dan SETERUSNYA!? Apa kau juga tidak bisa?" tanya Yesung sedikit membentak.

"Heh oppa, kau berisik." gumam Ryeowook sambil membalikkan badannya. Sekarang ia berhadapan dengan suaminya sendiri. Ia masih bisa melihat ada rasa kesal di mata suaminya itu. Ia pun menggerakkan tangannya menuju pipi Yesung dan mengelusnya.

"Oppa, seperti kata ayah. Kau tetap bodoh," ucap Ryeowook.

"…"

Mendengar tidak ada jawaban, Ryeowook tersenyum sendiri seraya memeluk pinggang Yesung dan merapatkan dirinya.

"Marah tidak ada gunanya oppa. Aku benar-benar lelah malam ini…"

Yesung menutup matanya.

"Apa gunanya pernikahan itu ada jika oppa tidak mengerti sama sekali? Aku akan selalu ada di samping oppa, aku tidak akan pergi kemana-mana…" Yesung membuka matanya dan menatap Ryeowook dingin.

"Tenanglah, karena selamanya aku akan ada bersama oppa. Aku milik oppa, bukan siapa-siapa. Mengerti?" selesai kata itu, Ryeowook kembali memeluk gulingnya. Membelakangi Yesung dan memperbaiki posisi tidurnya.

Tapi, Yesung masih saja menatap dingin. Ia kembali memeluk Ryeowook dari belakang. "Terima kasih… kau benar. Kau milikku selamanya, Wookie…"

"Aku tahu oppa," gumam Ryeowook.

"Tapi… apa malam ini benar-benar tidak bisa, Wookie?" rengek Yesung semakin menjadi-jadi.

"Tidak. Pasang bajumu kembali oppa, malam ini sangat dingin. Selamat tidur!"

"Ta-tapi… ukh,"

Ia pun mengurungkan niatnya untuk berduaan melakukan 'itu' dengan Ryeowook malam ini. Toh, Ryeowook memang sangat lelah. Lelah mendengar rengekan Kibum yang meminta adik perempuan. Sebenarnya, ia belum tidur. Ia hanya membayangkan bagaimana reaksi Yesung kalau tahu ia belum siap dengan anak ke-dua. Ckck!


Apa pendapatmu? Aku menemukan jalan keluarnya 'kan? Aku hidup bahagia. Karena Wookie selamanya adalah milikku. My girl. My angel.


END


A/N:

A-annyeong? Annyeong haseyo? Apa ada orang? Tidak ada ya? Ya sudah aku pergi #plak.

Haihai, ketemu lagi dengan saya! Author Gaje yang gajenya gak ketulungan sama yadongnya XD *dilempar* chapter endingnya bahkan sangat GAJE dan NISTA dan HANCUR dan BURUK dan… *kehabisan kata-kata*

Ya sudah lupakan. Tapi emang itulah. Kemampuan author Cuma sampai disitu #plak *bohong* Mianhae… lama apdetnya. Mianhae buat yang nunggu ff ini, author lagi kurang semangat. Kurang semangat apa kurang makan? *gak tau bedain* XD

Yah, karena puasa juga, author sering gak mood buat ngetik. Maaf, selama ini ff author kurang memuaskan… tapi, author seneng banget masih ada yg suka dan baca ff author. Makasih

Dan SPECIAL THANKS buat semuanya yang support author, nunggu ff ini sampe stiap hari nanyain XD makasih banget loh ya. Tanpa kalian di sisi author *hasek* author gak bakalan nyelesain ff ini. gomawo~ saranghae~~ XD

Tapi, ngomong-ngomong… author bakalan hiatus untuk bulan depan dan seterusnya. Pasti sibuk belajar. Eiittss, tapi Fic special birthday Yesung oppa gak bakalan lupa kok

Dan untuk chapter terakhir ini, bisakah author melihat kembali review kalian yang sangat berharga dan penuh cinta? *haseek*

REVIEW, NE? ^^ :******* #CIPOKSATU-SATU *CAPSKEINJEKYESUNG* XD