Pilihan
.
(Birthday fic for Aika Yuki-chan)
Bagaimana perasaan Sakura ketika ia menyukai sahabatnya sendiri? Apalagi sahabatnya menyukai orang lain. Apakah yang akan dipilihnya? Persahabatannya atau cinta yang belum pasti?
Disclaimer: Naruto Masashi Kishimoto
But this story is mine.
Have a nice read!
3
2
1
ACTION!
Sampai pagi, Sasuke belum bisa menutup matanya untuk tidur. Sejak malam ia hanya mengerjap-ngerjapkan mata sambil berfikir kejadian semalam. Pikirannya sangat kacau, ia bingung.
Siapa yang sebenarnya dia suka?
Lelaki berambut raven ini bingung. Padahal sebelumnya ia merasa ia menyukai Karin, tapi setelah membaca catatan—diary—Sakura kenapa ia jadi ragu akan perasaannya pada Karin?
Sementara Sasuke frustasi karena perasaanya sendiri, ia tidak menyadari kalau Sakura sudah bangun. Sakura menatap Sasuke yang saat ini berantakan dan seperti kurang tidur tersebut. "Sasuke? Kau kenapa? Wajahmu seperti orang yang belum tidur semalaman. Kau begadang ya?" tebakan Sakura tepat sasaran.
Sasuke menaikkan alis, tapi ia dengan cepat mengendalikan situasi. "Hn,"gumamnya tak jelas kemudian bangkit dari pembaringannya. "Pinjam handuk," katanya datar.
Sakura mengambil handuk dari lemari dan memberikannya pada Sasuke, "Apa kau bawa seragam?" Ia membereskan selimut yang dipakai Sasuke semalam.
"Hn," gumamnya sekali lagi sambil membongkar tas yang ia bawa semalam di seberang sofa. Ia mengeluarkannya dengan cepat dan tepat.
"Baiklah kalau begitu. Kau pakai kamar mandi di depan ya. Aku juga harus mandi dan menyiapkan sarapan," tutur Sakura selesai membereskan selimut dan beranjak mengambil handuk merah miliknya sendiri.
"Hn," ia beranjak keluar tapi berbalik lagi. Ada yang ingin ditanyakannya pada gadis berambut merah muda itu.
"Hmm?" belum sampai Sasuke berkata sesuatu, Sakura sudah bergumam duluan, seolah ia tahu apa yang akan dikatakan Sasuke.
Sasuke menggeleng datar dan menyampirkan handuk di bahunya. "Mandi sana," katanya singkat. Padahal ia mau bertanya soal perasaan Sakura, tapi ia mengurungkan niatnya.
"Aku mandi, tapi kau keluar dari kamarku dulu," ucap Sakura dengan nada aneh. Ia heran mengapa sahabatnya ini masih tetap berdiri mematung di ujung pintu.
"..."
*Pilihan*
Sakura yang telah menyelesaikan mandinya langsung menuju dapur untuk membuat sarapan. Kebiasaan kalau saat memasak, ia akan menyanyikan lagu sesuai dengan perasaannya saat ini. Suara Sakura sangat merdu. Dan kebetulan Sasuke mendengarnya saat ia keluar dari kamar mandi. "Bagaimana caranya agar kamu tahu bahwa, kau lebih dari indah di dalam hati ini. Lewat lagu ini, kuingin kamu mengerti aku sayang kamu kuingin bersamamu..."(*)
"Aku tahu kok," gumam Sasuke pelan, tapi terdengar oleh telinga Sakura.
"Eh, tahu apa?" Sakura menoleh sambil memegang spatula di tangan kanannya.
"Tidak." Sasuke mendadak gugup. 'Heh? Uchiha Sasuke gugup? Yang benar saja.' katanya dalam hati.
Sakura diam dan mulai sibuk dengan masakannya. Ada keheningan yang menyelimuti mereka saat ini.
Mereka sarapan dalam diam. Menggeluti perasaan masing-masing. Hingga di sekolah, mereka tetap diam tanpa banyak kata. Anak-anak sampai bingung. Biasanya mereka sering bertengkar, tapi kali ini mereka berdua jadi diam begini. Kalau Sasuke masih wajar, dia kan anaknya tidak banyak bicara. Tapi Sakura ini yang mencemaskan, dia kan anaknya ceria.
"Oy, forehead! Kok diam saja?" Ino ikutan bingung karena sahabatnya mendadak diam. Ia mendekati sahabtnya yang berambut merah muda dan duduk di sampingnya.
"Haaaah..." Sakura hanya menghela nafas tidak mengindahkan perkataan Ino. Pikirannya sedang penuh saat ini.
"Woi, kau kenapa?" Ino makin cemas saat pertanyaan darinya tidak dipedulikan sang sahabat.
"Pig, aku ingin melupakannya," katanya—Sakura—tiba-tiba. Ia memangku dagunya dengan kedua lengan tangannya.
Ino terkejut, "Sasuke? Bukannya kau sangat menyukainya?" Ino sudah mengetahui kalau Sakura suka pada Sasuke, karena ia juga sahabat dekat Sakura.
"Iya, tapi aku tidak bisa terus begini. Dia 'kan suka pada Karin, aku tidak mau membebani perasaanku lagi," katanya sambil menatap ke arah jendela. Matanya menerawang ke arah langit biru.
"Sakura, aku mengerti perasaanmu. Tapi setidaknya kau harus bilang perasaanmu ke Sasuke," kata Ino mencoba bijak di hadapan Sakura. Bagaimanapun juga, ia merupakan sosok sahabat yang masih setia kawan.
"Entahlah. Akan kupikirkan saranmu. Terima kasih ya Pig," kata Sakura mencoba tersenyum. Hari ini perasaannya sedikit membaik oleh hiburan dari sahabat perempuannya ini.
"Tentu forehead," kata Ino sambil tersenyum lebar. "Laper nih. Anterin ke kantin yuk," rengeknya kemudian sambil menarik Sakura ke kantin.
"Ok," Sakura tersenyum cerah. Padahal dibalik senyumnya, ia sedang galau soal perkataan Karin beberapa saat yang lalu, setelah ia dan Sasuke tidak bersama.
'Biarlah...'
*Pilihan*
Sakura baru saja meletakkan sapu piketnya kedalam lemari di ujung tangga. Ia merentangkan kedua tangannya sambil tersenyum lega. Ternyata piket sendirian memang melelahkan.
Ia berjalan sambil tersenyum kecut. Beberapa hari setelah Sasuke menginap dirumahnya, ia lebih menjauhkan dirinya dari sang Uchiha bungsu.
Ia malu, ia malu jika mengingat kejadian itu lagi. Dimana ia menangis dan mengakui perasaannya secara tidak langsung. Ia malu sekali.
Sejak saat itu, setiap sang Uchiha berjarak kurang dari dua meter dari dirinya, sontak ia akan menjauh dan membuat dinding kasat mata. Menjauh sejauh dan sewajar yang ia bisa.
"Sakura."
Gadis berambut merah muda itu mendongakkan kepalanya.
"Aku ingin bicara denganmu."
Sakura mengigit bibir bawahnya, "Baiklah. Disini saja ya."
Ia mengangguk dan tersenyum gugup, "Bisa kau lepaskan Sasuke?" matanya berusaha awas terhadap sekelilingnya—walau ia tahu sekolah sudah sepi akan murid maupun guru.
Sakura membelalakkan matanya, "Maksudmu?"
"Aku suka Sasuke-kun dan aku juga tahu ia menyukaiku," kata Karin sambil menyampirkan rambut merahnya ke bahu. "Masalahnya itu di kamu."
Sakura menunjuk dirinya, "Aku? Aku bahkan tidak berbuat apapun." Ia tidak habis pikir, bisa-bisanya gadis berambut merah ini menuduhnya sedemikian beraninya.
Karin mendecih dan berkata, "Kau pikir siapa yang membuatnya tidak segera menyatakan cintanya padaku?" Ia mendekati Sakura dan memicingkan mata, "Jadi, segera jauhi dia. Aku bisa mengatasi segalanya kalau kau tidak ada."
Sakura merasa terhina akan kata-kata Karin. Apakah ia memang terlalu tidak penting?
"Tanpa kau suruh, aku sudah menjauhinya," Sakura tersenyum sinis dan melewati Karin dengan sekali langkah. Ia tidak mau lama-lama di tempat ini.
Karin mengerutkan bibir sebal dan menoleh pada Sakura yang terus berjalan maju.
"Pegang janjimu!"
Sakura diam saja.
Lagi-lagi ia terlalu cengeng, hingga air mata sudah menggenang di pelupuk matanya. Perasaannya tercampur aduk—sedih, kesal, marah, panas, rendah diri dan itu bercampur membentuk suatu tekad baru.
Sakura mengepalkan kedua tangan di samping tubuhnya.
'Aku tidak bisa lagi...'
*Pilihan*
Sudah seminggu sejak kejadian itu, Sakura berusaha menjauh dari Sasuke. Tidak datang kerumahnya, tidak menyapanya, bahkan tidak mau memandang matanya. Sasuke awalnya biasa saja mulai tidak biasa. Ia merindukan wajah dan senyum Sakura. Walau mereka sekelas, Sakura yang duduk di depan Sasuke sama sekali tidak menoleh ke belakang.
Dan sudah 3 hari sakura tidak masuk, membuat mood-nya buruk.
"Pe-permisi Uchiha-san, bo-boleh kita bicara sebentar?" sebuah suara membawa Sasuke dari pikirannya. Ia menatap ke sebelah kanan, Hyuuga.
"Hn, bicaralah." Katanya bosan. Sebenarnya dia tidak tertarik bicara pada Hyuuga pemalu ini, tapi karena Hyuuga pacar si Naruto dan bukan fansnya, dia mau.
"I-ini soal Sakura-chan."
Sasuke langsung berpaling mendengar kata Sakura, "Kenapa dengan Sakura?"
"Be-beberapa hari yang lalu, a-aku melihat Ka-karin berbicara pada Sakura-chan," Hinata memberi jeda untuk Sasuke memahami maksudnya. "A-aku bercerita pada Uchiha-san karena ini sepertinya berhubungan dengan kalian—"
"Apa yang mereka bicarakan?" Sasuke merasakan ada yang tidak beres dan ini berhubungan dengan menjauhnya Sakura. Ia mulai merancang perkiraan-perkiraan di otaknya mengenai hilangnya gadis bermata hijau hutan itu.
"Aku tidak tahu pastinya, ta-tapi Karin berteriak di depan wajah Sakura." Hinata menundukkan wajahnya. "Aku menganggap Sakura-chan seperti saudaraku sendiri. maka itu aku tidak tega dengannya dan aku bercerita pada Uchiha-san."
Sasuke menggeram perlahan, orang yang disukainya, tidak. Ia jadi tidak yakin dengan perasaanya sendiri.
Ia menoleh datar pada Hinata yang masih diam di tempat. 'Baik juga gadis ini,' batin sang Uchiha.
"Thanks Hinata," ucapnya tulus kemudian beranjak pergi menemui Karin. Hinata hanya cengo karena mendapat ucapan terima kasih dari seorang Uchiha.
Saat Sasuke melangkah menuju kelas, Naruto datang dan merangkul Sasuke erat. "Hoi Teme! Sendirian aja. Mana Sakura-chan?" katanya ceria.
Selain Sakura, Sasuke juga memiliki teman -yang menurutnya mengganggu dan berisik- setia. Naruto dan Sasuke sudah berteman sejak SD membuat mereka tampak akrab, walau yang membuat semua itu Naruto.
Sasuke melepaskan rangkulan Naruto dan menatap Naruto dengan pandangan jangan-ganggu-aku-sekarang-Dobe, tapi Naruto tidak mengindahkannya dan malah cengar-cengir dengan watadosnya.
"Teme, kau belum jawab pertanyaanku!" Naruto mulai serius, tapi tetap dengan wajah cerianya.
"Hn, berisik," Sasuke tetap melangkah di koridor lantai 3 tersebut. Ia tidak mau berurusan dengan Naruto sekarang. Urusannya saat ini adalah Karin, ia akan mencari kejelasan berita Hinata. Naruto tidak akan memban—, eh tunggu dulu. Mungkin si Dobe dapat membantunya. Kalau ia sendiri yang bertanya pada Karin, ia tidak mungkin mengakuinya. 'Uchiha memang cerdas,' pikirnya sambil menyeringai dalam hati.
"Heh, Teme sudah mulai gila! Senyum-senyum sendiri," wajah Naruto mulai ketakutan. Dikiranya Sasuke sedang kerasukan di koridor ini.
"Dobe, kau harus membantuku," tegasnya sambil memandang Naruto datar. Semua rencana sudah tersusun rapi dalam otaknya.
-TBC-
Special thanks:
Ken: Happy ending…XD
Sasusakulove: Tentu…XD pasti ada saatnya kok..XD
Me: oke.. :D
Puri Chery, Lucy Uchino, cherrysakusasu, Lrynch Fruhling, Aika Yuki-chan, Neerval-Li
Alohaaa~
Apa kabar semua? :D
Aku sangat berterima kasih, karena chapter pertama telah mendapat sambutan yang cukup baik dari semuanya. Aiiih~ Lope Yu all~! #cipok satu satu
Hahahahaa... terima kasih atas concrit dan review semuanya! Tanpa kalian, aku tidak akan sampai disini... :'D
Yuki-chan, maaf aku molornya lama banget... ToT
Banyak kejadian yang terjadi dan semuanya terasa berat... #dramaqueen
Aku harap kau memahaminya... T,T tenang saja, fic ini kubuat spesial untukmu... TwTb
Review lagi?
mikitochifuka
