"Heh, Teme sudah mulai gila! Senyum-senyum sendiri," wajah Naruto mulai ketakutan. Dikiranya Sasuke sedang kerasukan di koridor ini.
"Dobe, kau harus membantuku," tegasnya sambil memandang Naruto datar.
Pilihan
Disclaimer: Naruto Masashi Kishimoto
(For Aika Yuki-chan)
Warning: Sasuke and Sakura OOC, gaje, typo, dll.
Have a nice read!
3
2
1
ACTION!
.
.
Sakura P.O.V
Sudah beberapa hari aku tidak sekolah dan juga sudah seminggu aku tidak mau mendekati Sasuke lagi. Aku sudah membulatkan tekad, aku akan menjauhinya. Hari ini-pun aku tidak sekolah. Aku sedang di Suna untuk berlibur, kabur lebih tepatnya. Aku tidak mau melihat wajah Sasuke untuk sementara, jadi ketimbang stres di rumah sendirian *orang tua Sakura sering ke luar negeri* mending aku refreshing. Aku juga sudah ijin kepada kepala sekolah, yang kebetulan ayah Naruto.
Pagi ini aku memakai kaus berwarna merah muda dan celana jeans selutut. Tak lupa keranjang kecil berisi makan siang, karena hari ini aku ingin berjalan-jalan di kota ini. Kebetulan paman dan bibi tinggal di Suna, sehingga aku bisa menginap di rumah mereka. Mereka sangat baik kepadaku, dan juga anak mereka yang bernama Temari. Hari ini dia juga akan menemaniku untuk berjalan-jalan sekeliling Suna. Ia memakai kaus berwarna cokelat tua dengan jeans hitam selutut yang ketat, katanya dia mau mengajakku ke taman.
"Sakura, tumben kamu ke Suna di saat musim panas seperti ini?" tanya Temari saat kita mengayuh sepeda ke arah utara.
"Aku, sedang refreshing. Jenuh sekolah terus," kataku sambil terus menatap jalan. Aku tidak berani memandang matanya karena takut ketahuan bohong.
Temari tertawa geli. "Kau ini aneh."
"Aneh kenapa?" Aku mengerutkan dahi bingung sambil menengok sedikit kearah kiri. Sedikit sekali, solanya masih takut ketahuan.
"Suna di saat begini kan sedang panas-panas nya. Kok kamu mau kesini," katanya sambil tersenyum. Ia diam sambil mengulum senyum, aku mulai lega dan bersyukur dalam hati.
"Atau jangan-jangan kau sedang menghindari seseorang ya?"
Aku membelalakkan mata kaget mendengar pertanyaannya. "Kata siapa? Omong kosong," tatapku seolah tidak percaya akan perkataannya. Kenapa dia bisa tahu? Apa jangan-jangan wajahku seperti orang yang menghindar dari masalah?
Normal P.O.V
Sakura terus memandang wajah Temari tidak percaya, dia jadi tidak fokus pada jalan di depannya. Temari tiba-tiba melotot kaget dan berteriak, "Awas Sakura!" Ia berusaha menarik tangan Sakura agar cepat tersadar dengan apa yang ada di depannya.
BRAKK
Belum sempat Sakura mengerti maksud Temari menarik tangannya, tiba-tiba ada sesuatu yang menabrak sepeda dan dirinya sehingga membuat tubuh Sakura terjatuh dan pantat nya mendarat mulus di tanah. "Aduuh, sakit," rintihnya ketika sikunya bergesek dengan tanah yang berkerikil tajam.
Ia menatap ke arah sepedanya yang sedikit terpental jauh dari dirinya dan di samping sepedanya ada seorang lelaki yang err... Cukup imut sehingga membuat Sakura terpesona sesaat karena wajahnya yang sepolos anak bayi. Lelaki itu juga mengaduh kesakitan manambah kesan manis di wajahnya yang putih.
Lelaki itu memandang Sakura membelalak, sehingga Sakura berfikir lelaki imut itu akan memarahi dirinya. Ia menutup mata tidak mau menatap lelaki tersebut yang berjalan ke arahnya.
Pria itu memegang sebelah tangan Sakura yang terluka. Bagus Sakura, sekarang ia akan membunuhmu karena telah menabraknya. Ia meringis takut dan mengeratkan tangannya tiba-tiba sebuah suara lembut terdengar, "Kau baik-baik saja? Lihat kau terluka."
Sakura membuka mata dan menatap wajah lelaki berambut merah itu, "A-aku tidak apa-apa. Maafkan aku karena menabrakmu, aku benar-benar tidak sengaja. Maaf!" kata Sakura cepat sambil berdiri dan membungkuk-bungkukkan badan untuk meminta maaf.
Lelaki berambut merah itu cengo dengan sikap Sakura yang kelewat semangat dan saking takutnya, sementara Temari yang hanya menononton kejadian itu sejak tadi hanya terkikik geli melihat tingkah Sakura.
"He-hei, tenang saja. Aku tidak marah kok, aku juga salah karena sibuk sendiri tanpa melihat ke depan." Lelaki itu berdiri dan membersihkan bajunya yang kotor karena debu. Lalu ia mengulurkan tangan kanan nya ke arah Sakura, "Namaku Sasori, salam kenal."
"Sa-Sakura. Haruno Sakura. Salam kenal juga," katanya sedikit gugup dan mengulurkan tangan menjabat Sasori.
"Ehem, sebaiknya kita segera ke taman sebelum tamannya akan berpindah karena kalian berjabat tangan terus dan saling memandang terus. Dan kau Sasori, apa kau mau ikut bersama kami?" Temari menengahi mereka yang sedang terdiam memandang wajah di depan nya.
"Eh, baiklah Temari," kata Sasori salah tingkah. Ia melepaskan jabat tangannya dengan Sakura kemudian tersenyum kaku.
Sakura mengerjapkan matanya, "Kalian saling mengenal?" Ia tidak menyangka kalau Temari punya kenalan seimut ini.
Temari dan Sasori tersenyum kaku. Temari menjawab pertanyaan Sakura, "Kita mantan teman sekelas, ayo jalan." Ia mengambil sepedanya dan membangkitkan sepeda Sakura dengan sigap.
Karena Sakura terluka, Sasori menawarkan diri untuk membonceng Sakura. Sakura menerimanya daripada ia harus mengayuh dengan keadaan seperti ini. Sebelumnya ia sudah menempelkan plester ke siku kanan nya yang terluka sehingga rasa sakit nya sedikit berkurang. "Kau, mantan teman Temari? Apa maksudnya?" Sakura memberanikan diri untuk bertanya ketika mereka sampai di taman.
Sasori melangkah ke arah samping bangku dan menaruh sepeda Sakura di sana dan berkata, "Iya. Aku akan pindah sekolah setelah ini. Aku harus ke konoha mengikuti nenekku."
Temari memotong pembicaraan mereka ketika ia melihat handphone-nya dan berkata dengan cemas, "Maaf teman-teman, aku harus pergi sekarang. Aku lupa kalau aku ada sedikit urusan siang ini. Sasori, bisakah kau menemani Sakura berjalan-jalan?"
Sasori tersenyum manis, "Tentu saja." Ia menepuk pundak Sakura memastikan semua baik-baik saja.
Sakura pun tersenyum menatap Temari yang mengayuh sepedanya cepat ia berteriak keras ke arah Temari, "Hati-hati di jalan! Awas kesandung!" dan pada saat itu pula Temari langsung tersandung dan jatuh dari sepedanya.
"Hu-uh! Terlambat, aku sudah jatuh!" kata Temari sebal dan mengayuh sepedanya kembali. Tak lama, ia menjauh, menjauh dan hilang tak terlihat lagi.
Sementara kedua orang yang beru saling mengenal ini terkikik geli melihat ulah Temari.
*Pilihan*
Naruto melangkah gugup menuju Karin yang sedang duduk di kantin. Keringat dingin mengucur pelan di pelipis kanan nya karena ketakutan. Kalian tahu kenapa?
Flashback.
"Apa yang harus dibantu Teme?" Naruto berkata sambil memandang wajah teman di sampingnya.
"Kau harus mengorek informasi tentang kegiatan Karin seminggu yang lalu," katanya sambil menatap lurus ke depan. Matanya menelusuri jalan, seraya mencari gadis berambut merah yang ia maksud.
"Untuk apa? Kau suka Karin ya?" katanya mulai tersenyum jahil. Tubuhnya ia miringkan ke arah Sasuke dan menatap Sasuke yang masih menelusuri koridor.
"Bukan urusanmu." Sasuke mulai berhenti berjalan dan menatap tajam Naruto. Ia mulai kesal oleh ekspresi sahabatnya ini.
"Ah, ba-baiklah. Tapi kau harus mentraktirku ramen ya!" katanya kewalahan oleh deathglare Sasuke, tapi masih nyengir dan menggaruk belakang kapalanya yang tidak gatal.
Sasuke hanya kembali berjalan dan menjawab, "Hn."
"5 mangkuk ya Teme." Naruto berbinar ketika mendengar jawaban Sasuke, karena jarang-jarang sahabatnya ini mau membayari maupun mentraktir ramen-nya
"Ya, mangkuknya saja kalau begitu." Sasuke berkata cuek.
Naruto mengerucutkan bibirnya membuat matanya menyipit, "ah, Teme ga asyik!" tapi segera ia tersenyum dan mengejar Sasuke yang sudah jauh di depannya. 'Ternyata Teme bisa bercanda juga. Syukurlah, kukira dia itu kerasukan setan selama ini.'
End of the Flashback.
Sekarang Naruto sudah berada di hadapan Karin, ia masih memikirkan cara agar bisa memperoleh informasi tentang Karin seminggu yang lalu. Kepalanya mendadak mucul bolham dan ia menjentikkan jari sambil tersenyum senang, ia tahu apa yang harus dilakukannya.
Naruto tersenyum lebar sambil menyelonong duduk di samping Karin, membuat gadis itu terlonjak dan menatapnya sinis, "Mau apa kau?"
Naruto mulai menjalankan rencananya, "Hai Karin. Sendirian aja nih?" Ia memulai jurus-jurus-mengorek-ngorek-informasi.
Karin memutar bola matanya bosan, tetapi ia mendadak ingat kalau Naruto adalah sahabat baik Sasuke sehingga dia harus baik pada Naruto agar ia bisa mendapatkan info tentang Sasuke. "Ahahaha... Iya Naruto-kun, memangnya kenapa?"
'Naruto-kun?' Naruto begidik mendengar suara karin yang centil, tapi ia harus terus menjalankan misinya mengingat Karin yang biasanya suka marah jika didekati –kecuali Sasuke- mendadak jadi baik. "Ah, bukan apa-apa. Oh ya, kau minggu lalu tidak kelihatan sama sekali seharian. Sasuke mencemaskanmu sepertinya, dia bertanya padaku kemarin," katanya ngawur.
"Benarkah?!" Karin mendadak Berbinar-binar mengetahui Sasuke mencemaskannya. Ia merasakan dewi Fortuna sedang berada di pihaknya saat ini, sehingga Sasuke rela mencari tahu tentangnya.
"Iya, memangnya kau seharian kemana saja dan melakukan apa saja?" Naruto memulai menyelidik. Diam-diam ia menyalakan perekam suara di aplikasi handphone-nya.
"Aku kemarin masuk kelas lalu ke toilet, lalu bertemu Sa—" kata-kata Karin terputus, ia hampir keceplosan mengucapkan Sakura. Kalau nanti Naruto tahu ia mengancam Sakura dan memberitahukan pada Sasuke, lelaki itu akan sangat marah padanya.
"Bertemu Sa- siapa?" tanya Naruto penuh selidik. Ia mendekatkan sedikit tubuhnya pada Karin agar perekam suaranya lebih jelas menangkap suara gadis berambut merah itu.
Karin memutar otaknya mencari alasan yang tepat, "Ber-bertemu Sasame! Haha... Iya kemarin aku bertemu dengannya sebelum masuk dan mengobrol, lalu bla, bla, bla..."
Mendengar ocehan Karin yang panjang lebar tersebut membuatnya bingung, masa sehari saja bisa melakukan kegiatan sebanyak itu?
'Wanita memang sulit di mengerti, apalagi yang satu ini,' kata Naruto sambil menggaruk tangannya bosan.
*Pilihan*
Sakura dan Sasori berbicang akrab seperti kawan lama. Sesekali Sakura tertawa geli mendengar cerita lucu Sasori. "Oh ya, katamu kau akan tinggal di Konoha. Dan kau akan sekolah di mana?" tanya Sakura sambil tersenyum.
"Aku akan sekolah di Konoha High school. Aku akan segera kesana lusa," jawab Sasosri sedikit lesu. Ia mulai merasa nyaman di dekat Sakura, dan baru saja mengenalnya. Tapi ia harus pergi setelah ini. Andai saja ia bertemu Sakura lebih cepat.
"Wah, berarti kau akan satu sekolah denganku! Aku juga bersekolah disana. Wah,dunia benar-benar sempit ya." Sakura tertawa kecil mendengar pernyataan Sasori. Ia senang Sasori akan satu sekolah dengannya, dengan begitu ia akan mempunyai teman baru. 'Dan juga menjauhi Sasuke,' pikirnya sedih.
Sasori terkejut dengan penuturan Sakura, hatinya sangat senang. Ternyata dia bisa bertemu Sakura lagi setelah ini. "Wah, syukurlah kalau begitu. Kita bisa terus bersama," katanya riang.
Sakura tersenyum sambil merona mendengar perkataan Sasori, "Iya. Kau benar."
Sasori terpana melihat wajah Sakura yang sedang tersenyum sambil merona tersebut, 'Manis,' pikirnya. Sesaat kemudian ia menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata, "Sudah sore. Kau mau kemana lagi setelah ini?"
"Eh, benar juga. Aku ingin pulang saja." Sakura menatap awan di atasnya yang berubah warna menjadi jingga. 'Setelah ini aku harus menghadapi Sasuke dengan wajar,' tekadnya.
"Ayo, biar kuantar kau pulang." Sasori mengambil sepeda Sakura dan menaikinya.
"Baiklah." Rambutnya sedikit bergoyang karena angin saat ia berdiri kemudian beranjak menuju bocengan Sasori.
*Pilihan*
Sasuke mengendarai sepedanya dengan frustasi. Ia tidak mendapat informasi tentang Sakura dari Karin. Apa Hinata berbohong? Tidak mungkin gadis itu berbohong. 'Mungkin dia salah lihat.' Sasuke mencoba meyakinkan dirinya. Sejak seminggu yang ia pikirkan hanyalah satu nama. Sakura. Ia bingung, padahal yang disukainya Karin tetapi kenapa hanya nama Sakura yang terngiang-ngiang di otaknya?
Sampai di depan rumahnya, Sasuke tidak langsung turun. Tetapi dia berhenti sejenak untuk menjernihkan pikirannya. Kepalanya ia letakkan di stir dan memukul stang sepedanya. 'Apa yang terjadi denganku?' ia bertanya pada dirinya sendiri. beberapa menit setelah itu ia turun dari sepedanya dan masuk kedalam rumahnya.
"Kau sudah pulang, Sasuke." Ibunya datang dengan memakai celemek masaknya. Ia mengerutkan keningnya ketika melihat Sasuke yang terlihat berantakan. "Kau kenapa Sasuke? Berceritalah pada ibu," kata Mikoto lembut.
Sasuke menatap ibunya dengan pandangan lemah. "Sakura."
"Kenapa dengan Sakura? Apa dia sakit? Ibu tidak melihatnya kemari akhir-akhir ini." Ibunya makin cemas. Ia mendekati anak bungsunya dan berdiri di depan anaknya itu.
"Bukan, Sakura menjauhiku. Dia menghindar dan tidak masuk. Dia juga tidak menghubungiku sama sekali." Sasuke panjang sambil mengacak rambut raven depannya. Sungguh, sekarang ia bukan seperti Sasuke yang biasanya.
Ibunya sedikit terkejut, tapi kemudian ia tersenyum lembut. Ia mengerti perasaan sasuke saat ini ia bergerak mendekati Sasuke kemudian memeluknya perlahan. "Anakku belum pernah seperti ini sebelumnya. Kau harus sabar Sasuke, mungkin Sakura-chan ada sedikit masalah. Terkadang anak perempuan memiliki masalah pribadi, kau harus mengerti."
Sasuke menaruh kepalanya di bahu ibunya dan membalas pelukan ibunya itu, "Tapi kenapa dia diam saja?" Suara Sasuke sedikit menggeram karena kesal, tapi wajahnya tetap datar.
"Sakura-chan juga pasti memiliki masalah pribadi. Misalnya percintaan, dan hal-hal perempuan lainnya." Ibunya tersenyum melihat anaknya manja karena seorang gadis. "Kamu juga, masa ditinggal Sakura-chan sebentar sudah seperti orang patah hati saja, kau menyukai Sakura-chan, ya?" goda ibunya.
Sasuke sedikit tersentak dalam hati. Ia menyukai Sakura? Yang dia suka kan Karin. Yang benar saja, walau Sakura menyukainya tapi ia lebih dulu menyukai Karin. "Mana mungkin." ia melepas pelukannya dan menatap wajah ibunya.
"Ibu cuma menebak. Karena kau bersikap tidak kau yang tahu perasaanmu sendiri." Mikoto tersenyum geli dan menyentil dahi Sasuke. Perlahan, ia melepaskan pelukannya pada Sasuke.
"Hn, terima kasih bu." Sasuke berkata tulus dan sedikit menyunggingkan senyum. Ia segera naik ke lantai dua dan masuk ke kamarnya.
"Dasar anak muda." Mikoto terkikik geli sambil kembali ke dapur.
.
.
Selesai mandi Sasuke merebahkan dirinya ke kasurnya yang empuk. Ia masih memikirkan perkataan ibunya. "Aku? Suka Sakura?" ia bicara pada dirinya sendiri. Matanya menerawang ke arah jendela kamarnya yang berada di samping meja belajar warna biru. Saat matanya menatap ke arah meja belajar, matanya tertuju pada sebuah foto. Foto dirinya dan gadis berambut merah muda.
Foto lama, sekitar saat mereka berumur 10 tahun. Foto dirinya sedang melipat kedua tangannya cuek, sementara gadis di sebelahnya tersenyum sambil memeluk boneka beruang. Bibirnya sedikit terangkat mengingat masa kecil mereka.
Mendadak ia jadi sangat merindukan Sakura. akhirnya dia bangkit dari tidurnya dan menuju keluar. Ia ingin bertemu gadis itu. Tanpa sadar kakinya telah melangkahkan dirinya ke depan rumah Sakura. Rumah Sakura berjarak tidak jauh dari rumahnya. Di samping rumah Sakura ada sebuah taman, tempat mereka dulu sering bermain.
Matanya menatap rumah Sakura. Ia melihat wajah Sakura tersenyum dan melambaikan tangan ke arahnya. Tapi saat Sasuke tersenyum, tiba-tiba wajah itu lenyap. 'Huh, bayangan,' gerutunya dalam hati.
Ia melihat jalan yang dilaluinya, mucullah Sakura berlari kearah dirinya yang menggerutu di depan rumahnya sendiri karena Sakura terlalu lama, kemudian mereka berjalan bersama ke sekolah. 'Fatamorgana.' Sasuke mengucek sebelah matanya sambil berlalu.
Mustahil ia dapat bertemu Sakura dan DIRINYA SENDIRI di jalan. Kaki itu terus melangkah tanpa arah, sampai di depan sebuah minimarket. Saat wajahnya menoleh ke dalam minimarket tersebut, ia menemukan sosok gadis yang tak asing lagi baginya.
"?"
*Pilihan*
"Sasori-kun, terimakasih atas tumpangannya ya. Haha, aku berat ya?" Sakura tertawa ketika melihat Sasori megap-megap. Ia merasa sungkan juga membuat teman barunya capai sampai seperti ini.
"Haah... Haah... Tidak juga, kurasa karena jalan menanjak tadi. Aku sampai kehabisan nafas. Huft..." Sasori menghela dan mengusap peluh di pelipisnya. "Aku duluan ya Sakura-chan, kurasa nenekku akan mencariku kalau aku pulang terlalu larut. Jaa!" Sasori berdiri tegak dan melangkah untuk keluar, tapi sebuah tangan menggapainya agar berhenti sejenak.
"Tunggu! Bawalah ini agar kau kembali segar. Anggap saja ucapan terima kasih dariku karena kau sudah mengantarku sampai rumah." Sakura menyerahkan sebuah botol minum berwarna merah muda berisi jus jeruk setelah sempat masuk ke dalam.
"Terima kasih Sakura-chan." Sasori mengelus rambut Sakura dan mengambil botol tersebut. "Jaa! Sampai jumpa di Konoha ya!" teriaknya sebelum berlari menjauh dari rumah bercat kuning tersebut.
Sakura tersenyum riang dan melambaikan tangannya ke arah Sasori yang sudah tidak terlihat, "Jaa! Sampai jumpa Sasori-kun!" Ia memandang rambutnya yang sempat dielus Sasori tadi dan bergumam, "Andai dia seramah Sasori-kun." Kemudian menggeleng perlahan dan memantapkan hatinya. 'Tidak, aku harus melupakan perasaanku padanya. Dia memiliki Karin.'
*Pilihan*
"?"
"Sasuke-kun? sedang apa kau disini? Berbelanja?" Karin terkejut sekaligus senang dapat bertemu dengan Sasuke. Ia mendekati Sasuke dengan langkah riang.
Sasuke menggeleng datar.
"Mau jalan denganku Sasuke-kun?" tanya Karin mencoba mendapat lebih banyak waktu dengan orang yang disukainya itu. Dikerahkannya senyum manis andalannnya.
Si bungus Uchiha itu diam saja, tapi ia mengisyaratkan mata menyetujui.
'Asyiiik! Jalan dengan Sasuke-kun!' inner Karin menjerit dalam hati. "Ayo!" katanya riang sambil menarik tangan kanan Sasuke dan memeluk lengan Sasuke. Sasuke tidak melawan dan mengikuti Karin.
Mereka menuju ke arah taman yang tidak jauh dari mini market tersebut dan duduk di sebuah bangku. Karin begitu bersemangat dan genit ketika bersama Sasuke, ia berani seperti itu karena mendengar perkataan Naruto tadi siang soal Sasuke menanyakan dirinya. Ia merasa percaya diri dekat dengan Sasuke, merasa Sasuke menyukai dirinya.
Sementara Sasuke, dia senang bersama Karin yang disukainya. Tapi entah kenapa hatinya tidak merasa nyaman. Ia hanya merasa nyaman ketika bersama Sakura, dan bersama Karin ia hanya merasakan kekosongan. Tidak seperti dulu saat ia menyadari kalau dirinya menyukai Karin, hatinya merasa senang dan sedikit berdebar.
Kemana perasaanmu itu Sasuke?
Merasa dari tadi hanya diam Karin membuka topik pembicaraan, "Sasuke-kun sering berjalan-jalan di sini?" Ia memeluk Sasuke lebih erat, seolah Sasuke akan pergi jika tidak dipeluk lengannya.
Sasuke hanya melepaskan pelukan Karin dan menjawab dengan wajah datar, "Jarang."
"Kau biasa dengan siapa kalau berjalan-jalan?" karin menyelidik. Ia sudah menduga satu nama di pikirannya saat ini.
"Sakura," Sasuke menjawab pelan. Si bungsu Uchiha itu kembali teringat pada sahabat kecilnya.
Karin langsung sebal mendengar kata Sakura, 'Cih, selalu dia!' Tapi ia mencoba untuk tersenyum dan menatap Sasuke. "Sakura sepertinya menjauhimu ya Sasuke-kun,"
"Kau tahu dari mana?" Sasuke menoleh dan menatap Karin tajam. Ia ingat percakapannya dengan Naruto, kalau sahabat kuningnya tidak mendapat petunjuk yang ia butuhkan.
"Ya, karena aku selalu memperhatikanmu. Mulai sekarang kau bersamaku saja Sasuke-kun, aku akan selalu bersamamu. Biarkan saja Sakura pergi, karena aku yang akan menggantikannya!" Karin berkata dengan penuh percaya diri.
Sasuke hanya diam, tidak membalas perkataan Karin. "Kuantar kau pulang," ia berdiri dan berjalan pergi, mendahului gadis bermata ruby di belakangnya.
Tidak mendapatkan penolakan dari Sasuke, Karin memantapkan diri untuk pendekatan dengan Sasuke selama Sakura tidak ada. Ia tersenyum girang dan mengejar Sasuke yang sudah jauh.
*Pilihan*
Dua hari sejak kejadian Sasuke dan Karin bertemu, Karin semakin gencar mendekati Sasuke. Karin selalu merangkul mesra tangan Sasuke, dan Sasuke tidak menolak. Dia cuek saja ketika Karin dekat-dekat dengannya dan tidak menolak diajak jalan-jalan. Sekalian pendekatan saja, pikir Sasuke. Kejadian itu membuat gempar seluruh murid perempuan di sekolah.
"Apa? Sasuke dekat dengan Karin?!" Ino berteriak gaje ketika mendengar cerita Naruto dan Hinata.
"Iya, aku juga bingung dengan kejadian ini." Naruto menggaruk kepalanya.
"A-aku juga." Hinata menanggapi perkataan pacarnya itu. "Pa-padahal sebelum Sakura-chan tidak masuk, me-mereka tidak sedekat itu. Sejak Sakura-chan berbicara dengan Karin, ia jadi tidak masuk," ucap Hinata murung.
Ino mengernyitkan alis bingung, "Maksudmu Hinata?"
Naruto juga kaget mendengar cerita Hinata dan menggoncang-goncangkan tubuh Hinata. "Kau tahu sesuatu Hinata-chan?"
Hinata yang sedikit kaget karena wajah Naruto sangat dekat dengannya dan wajahnya memerah. "I-iya, jadi begini..."
*Pilihan*
Sakura telah kembali ke Konoha hari ini. Sebenarnya ia masih belum siap ke sekolah, apalagi nanti ia harus menghadapi Sasuke. Ia belum siap sepenuhnya. Tapi kerena ia sudah banyak libur dan tidak mungkin ia harus libur terus, ia harus masuk. ia melangkah pelan menuju kelasnya tapi ia belum siap. Jadi ia memutuskan untuk pergi ke atap sampai bel berbunyi.
Sasuke yang baru keluar dari toilet menangkap sosok perempuan berambut pink. Tidak. Ini bukan mimpi. Ini nyata, gadis itu adalah Sakura. Sasuke mendadak merasakan jantungnya berdebar dan wajahnya berubah menjadi cerah melihat gadis itu telah kembali. Ia mengejar Sakura dan menangkap tangan mungil milik gadis itu, "Sakura."
Sakura P.O.V
"Sakura."
DEG
Suara itu. Tidak. Jangan sekarang. Kumohon, aku belum siap bertemu dengannya!
"Sakura." Suara itu memanggilku lagi, terpaksa aku menoleh dan mencoba tersenyum. Tapi yang muncul adalah sebuah ringisan. "Eh, uhm... Hai sasuke," sapaku sewajar mungkin. Tapi aku dapat melihat wajahnya yang sedikit kebingungan mendengar sapaanku. Ck, sepertinya percuma membohongi Sasuke.
Tiba-tiba dia menarikku ke dalam pelukannya. Hah? Pelukannya? Tidaak! Bahkan ini pertama kalinya dia memelukku, kalau begini rencanaku bisa gagal. Aku mencoba untuk melepaskan pelukannya, tapi terlalu kuat. Ia menaruh kepalanya di pundakku dan memeluk pinggangku, aku mencoba bersuara di keadaan seperti ini, "Sa-sasuke?"
"Kau menghilang." Ia semakin mengeratkan pelukannya. Huft, untung saja di sini tidak ada orang. Aku terkejut dengan perkataanya, hei ucapannya seolah ia merindukanku! Karena aku tidak kuat lagi, aku melingkarkan tanganku ke punggungnya dan membalas pelukannya. Dia terlalu sulit untuk ditolak.
"Ti-tidak juga," kataku pelan. Ya ampun, berhari-hari aku memantapkan diri untuk menjauhinya sekarang aku kembali terperangkap pesonanya. Aku mengelus rambutnya perlahan agar dia merasa tenang, dan ia mengangkat wajahnya memandangku.
Oh. My. God.
Tolong siapkan sesuatu untuk jantungku yang berdetak cepat ini! Matanya tajam, hidungnya mancung, dan bibirnya tersenyum tipis. Catat! Sasuke tersenyum untukku kali ini! Baru kali ini aku melihat senyumnya yang sungguh, menawan. Aku benar-benar menggagalkan rencanaku kali ini. Tolong aku Tuhan!
Normal P.O.V
Sasuke memeluk Sakura erat seperti Sakura akan pergi kalau ia tidak dipeluk erat seperti itu. Sasuke menaruh kepalanya di bahu Sakura dan menghirup wangi Sakura. Wangi yang ia rindukan. Sakura yang awalanya menolak pun akhirnya balas memeluk dan mengelus rambut raven Sasuke.
Merasakan pelukannya dibalas, Sasuke mengangkat kepalanya dan tersenyum tipis memandang wajah Sakura yang merona merah. Ia dapat mendengar jantung gadis itu berdetak sangat cepat. Ia pun memajukan wajahnya lebih dekat ke arah wajah Sakura yang semakin memerah itu. 'Manis,' batinnya. Kali ini ia sadar akan perasaanya terhadap Sakura. Saat ia diacuhkan Sakura, saat gadis itu menghilang tiba-tiba, mengingat senyum ceria milik Sakura, dan melihat wajah itu merona merah.
Ia menyukai gadis itu.
Bahkan saat bersama Karin dia tidak merasakan perasaan berdebar dan hangat dari hatinya, seperti ketika ia bersama Sakura saat ini. Ini terasa sangat benar. Sang Uchiha jatuh ke dalam lingkaran perasaan milik Haruno manis ini. Ia semakin mendekati wajah cantik Sakura, sedikit lagi akan menghilangkan jarak diantar mereka.
"Sakura,"
"Sasuke!"
Jika saja tidak ada dua orang yang menyebutkan nama mereka secara bersamaan.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya kedua suara itu bersamaan lagi.
Sasuke yang tidak mau menyia-nyiakan kesempatan di dekat Sakura langsung memeluk pinggang dan mencium pipi gadis itu. Sakura yang masih panik mencari alasan yang harus digunakannya langsung terkejut dengan perlakuan Sasuke, sehingga dia hanya membeku di tempat dengan wajahnya yang sudah berwarna merah.
"Sa-sasuke?" Sakura memegang pipi kirinya yang mendapat kecupan itu.
-TBC-
Wahahahaha... I'm back! *dilempar centong nasi karena mengganggu di saat-saat mendebarkan* hehehee... maaf ya, ceritanya harus dipotong, karena udah cukup panjang ngetiknya! Bagaimana menurut kalian? Saya rasa cukup OOC, ya? :/
Banyak-banyak terima kasih untuk kalian semua yang masih bersedia mampir dan membaca cerita ini. Pada teman-temanku, yang memberikan ide-ide secara tidak langsung.
Jujur, chapter 1-3 ini dibuat satu setengah tahun yang lalu (dengan scan seadanya). Maaf kalau banyak typo dan ke gajean lainnya. Cerita ini dibuat saat saya masih dibilang 'labil' mengenai masalah romance (sekarang pun saya merasa masih cukup labil dengan romance)
Aika Yuki-chan, maaf membuatmu banyak kecewa. Tapi aku pastikan kau akan mendapatkau karya yang terbaik. Terima kasih masih tetap setia hadir membaca dan me-review.
Special thanks to:
Always sasusaku: terima kasih review-nya... saya rasa akan lebih dari 5 chapter.. :D
Anka-Chan: sudah? Review lagi ya? :D
Sslove'yumiki: terima kasih banyak :D silahkan dinantikan di chapter mendatang.. :D
RizqiaKirana: maafkan saya ya, sekarang tidak gantung lagi, kan?
Neerval-Li: Saya pun turut berharap seperti itu... :D terima kasih review nya.. :D
Miyank: Sudah saya penuhi permintaan anda.. :D terima kasih ya ide nya?
Dan untuk para pembaca, saya juga tetap terus berusaha membuat sebuah karya indah, matang dan menawan hati tiap anda semua. Jadi nantikan terus ya!
Review!
Mikitochifuka A.K.A Mikakikukeko
