Pilihan

.

(Birthday fic for Aika Yuki-chan)

Bagaimana perasaan Sakura ketika ia menyukai sahabatnya sendiri? Apalagi sahabatnya menyukai orang lain. Apakah yang akan dipilihnya? Persahabatannya atau cinta yang belum pasti?

Disclaimer: Naruto Masashi Kishimoto

But this story is mine.

Have a nice read!

3

2

1

ACTION!

"Apa yang kalian lakukan?" tanya kedua suara itu bersamaan lagi.

Sasuke yang tidak mau menyia-nyiakan kesempatan di dekat Sakura langsung memeluk pinggang dan mencium pipi gadis itu. Sakura yang masih panik mencari alasan yang harus digunakannya langsung terkejut dengan perlakuan Sasuke, sehingga dia hanya membeku di tempat dengan wajahnya yang sudah berwarna merah.

"Sa-sasuke?" Sakura memegang pipi kirinya yang mendapat kecupan itu.

.

.

Sakura P.O.V

Tuhan, rasanya aku mau pingsan sekarang! Bagaimana tidak pingsan, Sasuke menciumku! MENCIUM! Aku saja tidak berani memimpikan hal ini terjadi! Apalagi dua orang itu melihat kejadian ini, aku harus menjelaskan apa pada mereka?! Mereka menatapku dengan pandangan seolah meminta penjelasan atas ini semua.

Aku menoleh takut-takut ke arah Sasuke. Sial, dia malah tetap stay cool sementara aku kelabakan begini. Apa sih yang sebenarnya kau pikirkan Sasuke? Kau membuatku bingung dan bimbang!

"Apa yang kau lakukan Sakura?!" teriakan itu memecah keheningan diantara kami.

"A-aku bisa menjelaskannya Karin." Aku malah menjawab terbata-bata. Aduuuh, aku harus bilang apa lagi?

"..." Sasori hanya diam, tapi kemudian ia berjalan ke arahku dan Sasuke yang masih tidak menunjukan tanda-tanda akan berekspresi.

Ia menarik tanganku dan menatapku uhm, sedih? Entahlah, kenapa kau memasang wajah seperti itu Sasori? Ia menatap Sasuke tajam dan mendesis, "Kau siapa?"

Sasuke memasukkan tangan kirinya ke dalam saku sementara tangan kanannya memegang tangan kiriku. "Kau sendiri siapa?"

Eh, eh? Kenapa aku merasa mereka menarik-narik diriku sih? Sasuke menarik tanganku yang kiri, sementara Sasori menarik tanganku yang kanan. Apa mau kalian sebenarnya? "Aduh, tolong lepaskan tangan kalian. Sakit..." Aku mencoba menengahi mereka, tapi tidak ada yang melepaskan tanganku.

Normal P.O.V

Tangan Sakura menjadi bahan tarik-tarikan kedua lelaki itu. Sementara Sakura mencoba melepaskan tangannya, kedua laki-laki itu saling melemparkan deathglare. Dan keduanya tidak sadar kalau Sakura sudah mulai kesal.

'Cih, siapa dia?' Sasuke menatap Sasori tajam.

'Beraninya di mencium Sakura!' Sasori balik menatap Sasuke dengan tajam. Tidak terima ia harus melihat pemandangan tadi.

"Kaliaaan! Lepaskan tanganku!" Sakura berteriak emosi. Keduanya berjengit kaget, karena baru kali ini Sakura berteriak marah. Khususnya Sasuke. Mereka berdua akhirnya melepaskan pegangannya pada Sakura namun tetap saling adu deathglare.

Karin mendekati Sakura, "Apa yang kau lakukan bersama Sasuke-kun di sini?!"

Sakura yang sudah kembali normal—sudah tidak emosi lagi—menatap Sasuke minta bantuan. Sasuke menyeringai sekilas dan berkata dengan datarnya, "Aku menciumnya. Kau lihat, kan?"

Karin menoleh ke arah Sasuke, "Kenapa kau lakukan itu, Sasuke-kun?!" Ia merasa kecewa dengan ulah Sasuke kali ini.

Saat Sasuke akan membuka suara, Sasori memotong pembicaraan mereka. "Ayo Sakura, kita pergi."

Sakura mengerjapkan matanya, "E-eh? Baiklah kalau begitu Sasori-kun." Ia menurut saja, ketimbang kena sembur gadis merah yang menatapnya penuh amarah.

'Sasori-kun?' Sasuke membatin sambil menatap Sasori dengan pandangan kesal.

"Ya, ya! Sudah sana pergi!" Karin mengibas-ngibaskan tangannya seperti mengusir kucing. Tidak sopan dan tanpa atitude.

Sasori menarik tangan Sakura untuk pergi menjauh. Sakura mengikuti langkah Sasori tanpa menoleh sedikitpun pada Sasuke.

Sasuke merasakan rahangnya mengeras seketika. Matanya memandang dua orang itu kesal. Ia marah sekarang. Marah karena Sasori mengganggu, marah karena Sakura pergi ditarik si rambut merah itu, dan marah karena Sakura memanggil Sasori dengan embel-embel 'kun'.

What? Sebenarnya apa yang ada dipikiranmu saat ini Sasuke?

'Sakura.' Sasuke menjawab pertanyaan dalam dirinya dan para pembaca saat ini. Baru kali ini Sasuke Uchiha, merasa terkalahkan oleh laki-laki lain dalam urusan perempuan. Padahal ia selalu jadi incaran nomor satu para perempun. Sementara saat ini? ia malah kalah telak oleh anak yang tidak dikenal berambut merah yang bernama Sasori.

Mau balas dendam?

'Tentu.' Sasuke menyeringai dalam hati. Sementara Karin menatap Sasuke dengan pandangan bingung. Kemudian ia tidak mau ambil pusing dan langsung memeluk lengan Sasuke manja.

Beruntunglah kau saat ini Karin, Sasuke sedang dalam mood yang baik.

.

.

.

"Aku tidak menyangka kalau dia akan melakukan hal itu kepadamu." Sasori mengajak bicara Sakura saat istirahat berlangsung.

"Aku juga tidak." Wajah Sakura merona tipis sambil memakan bento-nya. Saat ini mereka sedang berada di kantin dan makan bersama.

"Apa dia kekasihmu?" tanya Sasori hati-hati.

BLUSH

"Bu-bukan. Di-dia sahabatku," Sakura memakan bento-nya cepat untuk menutupi rasa malu dan rona yang sudah menjalar di pipinya.

"Padahal kurasa kalian cukup cocok." Tiba-tiba Ino sudah diantara mereka berdua dan duduk di samping Sakura. "Hoi, kau kemana saja forehead?"

"Ino! Berhenti memanggilku seperti itu!" Sakura memberhentikan makannya dan menatap Ino kesal. "Oh ya, Sasori-kun. Perkenalkan, ini Ino. Dia teman sekelasku."

Sasori yang awalnya sedikit kaget melihat Ino yang tiba-tiba muncul kemudian tersenyum sambil mengulurkan tangan, "Akasuna Sasori. Salam kenal."

Ino menjabat tangan Sasori dengan rona merah tipis, "Aku Ino Yamanaka. Salam kenal juga Sasori-kun."

Sakura menatap Sasori dan Ino yang bersalaman itu. Ia terkikik pelan ketika melihat Ino, merona tipis sambil tersenyum malu-malu. Sementara Sasori menatap Ino dengan senyum manisnya. 'Sepertinya mereka akan jadi pasangan yang serasi, fufufu...' pikir Sakura geli sekaligus senang.

"Hei, bagaimana kalau kita makan es krim sepulang sekolah nanti? Sekalian aku mau mengenal lingkungan Konoha," usul Sasori setelah selesai berkenalan dengan Ino.

"Waaaah! Aku mau! Iya 'kan Sakura?" sahut Ino bersemangat.

"Aku juga mau!" Sakura bersemangat sambil mengangkat tangan kanannya yang mengepal ke udara.

Sepertinya saat ini Sakura sudah melupakan kejadian tadi pagi. Terbukti saat selesai istirahat ia kembali bersemangat bahkan sudah bercanda-canda dengan Ino, Hinata, dan Sasori. Mereka terkadang terkikik-kikik kecil saat Sasori menyampaikan suatu kata yang lucu.

Sementara itu, Sasuke melihat mereka—terutama Sasori dan Sakura—yang sedang terlihat senang dengan pandangan tajamnya. Wajah Sasuke masih datar, seolah tidak melihat sesuatu yang menarik. Tapi tatapan matanya menyiratkan ketidaksukaan saat Sasori dapat membuat Sakura tertawa seceria itu, bahkan Sasori mengelus-elus kepala Sakura.

'Cih, padahal dia hanya anak baru,' batin Sasuke dengan hati yang panas.

"Sasuke-kun, sepulang sekolah nanti aku ikut kerumahmu ya," kata Karin disebelah Sasuke dengan manja.

"Tidak. Aku ada urusan." Sasuke menjawab singkat tanpa melepaskan pandangannya pada Sakura yang sedang tertawa ceria.

"Urusan? Pasti tentang Sakura lagi, kan? Kau itu, kenapa selalu memperdulikan Sakura terus. Padahal ada aku disini Sasuke-kun!" protes Karin sambil memegang lengan Sasuke.

"Hn," pada saat ia berkata seperti itu, matanya dan Sakura bertemu. Seketika itu, wajah Sasuke melunak—tidak sedatar sebelumnya—namun Sakura langsung mengalihkan pandangannya dan terdiam sejenak. 'Kenapa kau menghindar, Sakura?' Mata Sasuke berubah, kemudian ia pergi menjauh dengan Karin yang menatapnya bingung.

'Pasti dia lagi masalahnya!' Karin bergetar oleh amarah.

.

.

.

Pulang sekolah sesuai janji, Sasori, Sakura, dan Ino pergi bersama. Hinata sebenarnya sudah diajak, tapi ia ada janji dengan Naruto. Gadis itu menolak ajakan mereka dengan halus disertai semburat pink dipipinya. Membuatnya semakin manis dan imut.

"Kau tadi lihat wajah Hinata saat ditarik Naruto? Hihihi... manis sekali ya mereka." Ino berjalan di samping kiri Sakura.

"Hihihi... Kau benar Ino! Lucu sekali Hinata-chan, ia sebegitu malunya saat digandeng keluar kelas. Aku jadi iri..." canda Sakura.

"Wah, Sakura mau seperti mereka? Kalau begitu sini." Sasori yang berada di sebelah kanan Sakura menggandeng tangan Sakura dan tersenyum jahil.

"Ah, Sasori-kun!" Sakura menggembungkan pipinya kesal dan wajahnya sedikit memerah.

"Hahahaha... Sakura seperti adik yang digandeng kakak laki-lakinya! Manis sekaliii..." Ino menimpali sambil mengedip jahil kearah Sasori.

"Ino! Kau bahkan juga ikut-ikut!" Sakura makin menggembungkan pipinya dan mulai mencak-mencak.

"Bagus, kan. Kita adik dan kakak yang akur, hahaha..." Sasori tertawa senang sambil terus menggandeng Sakura.

Disaat seperti itu, mobil Sasuke lewat di samping mereka dan melihat tangan Sakura yang digandeng Sasori. Ia merasa kesal dan marah, apalagi saat melihat ekspresi Sakura yang merona. Sasuke keluar dari mobilnya dan memanggil Sakura.

"Sakura!"

Merasa dipanggil, gadis bermata emerald itu menoleh ke belakang untuk melihat asal suara. Kedua temannya juga ikut menoleh. Mata Sakura membelalak dan ia langsung menarik kedua temannya untuk segera menjauh dari sana secepatnya.

'Gawaaat! Sasuke memanggilkuu!' inner-nya berteriak cemas.

"Kenapa kita harus lari?" Ino membiarkan dirinya diseret Sakura—tapi ia tetap saja kebingungan.

"Pokoknya harus!" Sakura menyeret kedua temannya dengan paksa.

Sasuke yang melihat itu, mengejar Sakura dengan cepat dan menarik tangan kanan gadis itu. Hal itu membuat sang gadis berhenti dan meringis sesaat. Dalam hati Sakura memohon agar Sasuke melupakan kejadian pagi hari tadi.

'Siapapun, tolong aku! Aku tidak sanggup memandangnya sekaraaang!' Sakura menutup kedua matanya sambil memohon pada dirinya sendiri.

"Ikut aku!" Sasuke menariknya pergi. Tapi tangan Sasori mencegahnya.

"Lepaskan Sakura!" ucap Sasori tegas.

"Tidak akan." Sasuke menatap Sasori dingin. Mencoba menusuk tatapan mata cokelat di hadapannya.

"Ia bersamaku." Seakan tak berpengaruh akan tatapan tajam lelaki di hadapannya ia terus membala tatapan Sasuke.

"He-hei kalian!" Ino berusaha melerai mereka berdua yang sedang beradu deathglare. Wajahnya sedikit panik melihat perang kasat mata keduanya.

'Aduh, mau tidak mau aku harus ikut dengan Sasuke! Jika tidak mereka berdua bisa berkelahi,' batin Sakura ngeri kemudian menatap Sasori. "Sasori-kun, kau pergilah bersama Ino. Aku akan ikut dia dulu."

Sasuke mendengus puas sambil memandang remeh Sasori. 'Huh, Uchiha tidak pernah kalah,' batinnya dengan angkuh.

"Tapi—"

"Sudahlah Sasori-kun. Aku akan baik-baik saja dengan Sasuke." Sakura mengelus lengan Sasori dengan sebelah tangannya dan medorongnya pelan, "Sudah, sana pergi. Ino, ajak dia ya!"

Belum sempat Ino menjawab dan Sasori mencegah, Sakura sudah ditarik Sasuke menjauh dan pergi dengan mobil milik Sasuke. Mereka berduia menghela napas, kemudian melanjutkan perjalanan tanpa Sakura.

.

.

.

Di dalam mobil, Sakura hanya diam dan meremas roknya pelan. Ia belum siap bertemu Sasuke sekarang. Rencana untuk menjauhi Sasuke sudah gagal total dan hilang entah ke mana. Keduanya terlarut dalam keheningan, sampai Sasuke membuka suara.

"Kau punya hubungan apa dengan rambut merah itu?" Sasuke berkata sambil memegang stir kemudi.

"Dia temanku di Suna waktu liburan, dan ia baru pindah kemari beberapa hari yang lalu. Namanya Sasori," jawab sakura gugup.

"Aku tidak tanya namanya." Sasuke menanggapi perkataan Sakura dengan nada sedikit cemburu, namun tidak dirasakan Sakura.

"Aku hanya memberitahu kok." Sakura semakin meremas roknya erat.

"Kau takut padaku sekarang?" tanya Sasuke ketika melihat Sakura meremas roknya sambil sedikit menunduk.

"Ti-tidak. Aku tidak takut." Ia melepaskan remasannya dan menatap Sasuke diam-diam dari sudut matanya. Juur, kegugupan melanda hatinya sekarang.

"..."

"Sas ..."

Sasuke melirik singkat. "Hn?"

Sakura menatap jalan takut-takut dan bertanya, "Ini di mana?" Segera ia membuka power window mobil Sasuke dan sedikit melongok mencari nama jalan. "Kau ..."

Sasuke mengernyitkan alisnya. Matanya mencuri-curi pandang Sakura yang terus melongok ke arah jalan.

"... jangan bawa aku kabur, ya? Aku belum makan," lanjut Sakura polos sekembalinya ia menutup jendela mobil sahabatnya. Ia raba perutnya yang sedikit berbunyi karena sedari tadi belum di isi.

"..." Untuk pertama kalinya Sasuke merasa ia ingin tertawa geli melihat ulah konyol gadis itu. Laparkah ia?

.

.

.

"Arigatou."

Sasuke mengangguk singkat lalu beralih duduk di sebelah sahabatnya yang berambut merah muda. Tangannya memegang sekotak takoyaki dan botol mineral.

Sakura segera menyerbu susu kotak yang diberikan padanya beberapa saat yang lalu kemudian menatap sekeliling. Heran sekaligus bingung.

Di mana ia sekarang?

"Lapar Sasuke," rengek gadis bermata emerald itu sambil terus menatap takoyaki hangat yang masih dipegang sahabatnya. Peduli amat mereka di mana, yang penting perutnya harus diisi dulu.

Lelaki itu langsung membuka kotak penutupnya dan menyorongkan sebuah tusukan pada Sakura. Dengan penuh semangat gadis itu menerimanya. Harum takoyaki membuat ruang di perutnya makin bergejolak.

"Selamat makan!" Sebutir takoyaki masuk ke dalam rongga mulutnya, tidak perduli itu panas atau tidak. Toh, lidahnya cukuplah kebal. "Tidak mau makan, Sasuke?" ia bertanya setelah melahap tiga butir bola lezat tadi.

"Tusuknya kau bawa," jawab Sasuke singkat seraya menatap tusuk yang sedari tadi digigit gadis berambut merah muda di hadapannya.

Bohong. Yang ditatapnya bukan tusukan itu, tapi bibir merah muda Sakura.

"Oh," komentar gadis itu singkat. Ia segera mengambil sebutir takoyaki lagi dan melahapnya cepat. "Benthar akhu mau—"

Terlambat. Belum sempat gadis itu berkata apapun ia dikejutkan oleh suatu benda lembut nan hangat yang memasuki sudut mulutnya secara perlahan.

Ah, rupanya jempol tangan sahabatnya yang menekan masuk takoyaki besar agar masuk ke mulutnya sendiri.

Sakura segera mencecap makanan bundar itu. Lidahnya menyeruak hendak merebut semua lapisan makanan tersebut agar dapat segera ia kunyah dan telan. Namun ia malah salah menyerang jempol tangan Sasuke yang masih mendorong makanannya ke dalam.

Gadis itu secepat kilat mundur. Ia telan bulat-bulat bola makanannya masuk ke dalam kerongkongan dan berdiri membelakangi Sasuke.

"Ku-kurasa kita harus pulang."

Lelaki itu diam saja. Matanya menelusuri rerumputan ilalang di depannya dan berenti pada punggung kecil Sakura yang membelakanginya. "Ada apa?"

Gadis itu mengusap diam-diam wajahnya dengan lengan tangannya dan berbalik dengan senyuman cerah, "Aku ada pe-er."

Ia tidak akan bilang, kalau ia baru saja mengusap air matanya.

"Hn," gumam Sasuke mengerti. Ia menutup kotak takoyaki di sampingnya dan bergegas bangkit dari tempat berangin lembut ini.

Lelaki ini merasakan ada hal yang tak beres pada sahabatnya. Sasori-kah?

Di padang ilalang ini, keduanya menyimpan perasaan dan pertanyaannya masing-masing.

.

.

.

Gadis berambut merah muda itu menyandarkan tubuhnya pada bingkai jendela kamarnya. Matanya menatap bulan sabit yang bersinar terang seorang diri dengan kerlap-kerlip bintang bagaikan berlian kecil.

Angin berhembus, menghantarkan sepi dan sunyi yang ada. Rumahnya kembali sepi, entah ke mana orang tuanya.

Beberapa rasi bintang seolah terbentang di atas sehelai karpet kelam malam. Sakura menatapnya dalam.

"..."

Lidah gadis itu kelu untuk berkomentar apapun. Pikirannya penuh oleh Sasuke, Sasori, Karin dan kedua orang tuanya

Akankah ada waktu, akankah ada sela, akankah ada kesempatan, untuk mengaku?

-TBC-

Let's see...

INI ANEH SEKALIIIII!

Harap maklumi ya ... T_T

Cerita ini ditulis ketika aku masih lagi abal-abalnya dalam membuat cerita... T_T

Saya ucapkan banyak terima kasih pada kalian yang bersedia review... Arigatou gozaimasu!

Belum bisa saya balas satu-satu karena lagi ol di warnet dan saya mau berangkat les komputer... Kesibukan melanda diri saya sekarang... ToT

Tapi, nanti pasti akan saya balas semuanya. :D

Jadi, berikan kesan pesan kalian di kotak review!

Mikakikukeko