Chapter 2

Maaf lama update..Yas beneran di sibukkan sama UAS. Tapi Alhamdulillah udah selesai dan tinggal nunggu hasilnya.

Okeh,,gak akan banyak ngomong deh. Silahkan di baca~

#

#

_sebelumnya_

Drrtt..drrtt..

Getaran ponsel Naruto membuatnya mengalihkan perhatiannya. Naruto meraih ponsel yang ada di sakunya dan menerima panggilan tanpa melihat siapa yang menelponnya terlebih dahulu.

"H-hallo-"

"Percaya padaku. Aku akan membahagiakanmu dan calon anakmu, lebih dari yang pernah Uchiha itu lakukan."

...

Disclaimer : Masashi Kisimoto

Genre : Romance & Drama

Main chara : SasuFemNaru/ ShikaFemNaru, slight SasuSaku

Rating : T

Story by : Yashina Uzumaki

WARNING : Abal, gaje, AU, Typo, gender bender, (agak) OOC, dll

Summary : Jangan salahkan aku bila menggantikanmu. Jangan tuduh aku melupakanmu bila kau yang lebih dulu membuangku. Dan jangan usik hidupku kala aku bisa hidup tanpamu.

.

.

"Hah?"Naruto jadi terbengong-bengong sendiri. Bingung dan syok atas pernyataan dari seseorang yang menelponnya membuat Naruto melupakan rasa sakitnya oleh Sasuke.

Naruto melihat nama si penelpon, dan alangkah terkejutnya dia saat tau siapa yang menelpon. "Dokter Shika?"mencoba memastikan dengan menyebut nama si penelpon.

"Iya ini aku Naru. Cepat ke kamarku. Ada yang inginku bicarakan."tanpa menunggu persetujuan dari Naruto, Shikamaru langsung memutus sambungannya.

"Apa-apaan orang ini?"tidak mau tambah bingung dengan semua pertanyaan yang di tanyakan otaknya, Naruto lantas berdiri, menghapus bekas air matanya dan melangkah menuju kamar Shikamaru.

.

Tok..tok..tok..

"Masuk"setelah mendapatkan ijin, Naruto masuk ke dalam kamar rawat Shikamaru.

Seorang dokter muda, memiliki mata yang sipit dan bolamata berwarna coklat. Selalu berwajah malas, walau tak dapat di pungkiri otaknya yang memiliki IQ 200, jenius. Sedang berdiri menghadap jendela yang ada di kamar itu.

"A-ada apa kau memanggilku?"Naruto bertanya dengan gugup. Pasalnya dia merasa malu dengan sebuah pernyataan yang dokter Nara ini ungkapkan tadi lewat telpon.

"Tidak. Aku hanya ingin melihatmu. Apa kau baik-baik saja setelah tadi-"Shikamaru tak melanjutkan kata-katanya. Dia yakin bahwa orang yang bersangkutan pun pasti mengerti dengan kalimat ambigu yang dirinya ucapkan.

"Ti-tidak ada masalah yang serius. Dia hanya bilang kalau surat cerainya akan dia kirim-"memainkan jempol kiri dengan tangan kanannya adalah suatu kebiasaan Naruto bila ada seseorang yang bertanya hal yang membuatnya gugup.

"dan, kau tak perlu tau banyak tentangku. Cukup kau tau bahwa aku akan menjadi mantan istri dari seorang Uchiha, mengandung anaknya, dan-"Naruto semakin menundukkan kepalanya sembari menutupi lelehan airmata yang terus menerobos ingin keluar dari tempatnya. Lalu melanjutkan "dan di tinggalkan"

Shikamaru tertegun dengan nada lirih yang Naruto keluarkan. Shikamaru tak bisa melihat orang yang dia sukai terpuruk gara-gara laki-laki yang menurutnya tak pantas dengan malaikat pirang yang sungguh sangat bersinar dimatanya.

Setelah keheningan yang lumayan cukup membuat Naruto bosan, Naruto lantas menegakkan kepalanya, menghapus jejak airmatanya dan mulai meninggalkan ruang rawat itu sebelum sebuah suara membuat hatinya bergetar dengan rasa nyaman dan aman yang mau tak mau harus dia akui.

"Bersandar padaku."Naruto menghentikan langkahnya di depan pintu yang siap untuk di buka. "Aku menyukaimu, ah bukan, aku mencintaimu."wajah Naruto langsung di jalari oleh warna merah dan detak jantungnya yang terus berdetak melebihi yang seharusnya `aku bisa mati` batinnya menjerit. Dan tampa memikirkan kondisi Naruto yang hampir meledak, Shikamaru tetap melanjutkan "Dan lupakan Uchiha itu."

Seketika Naruto langsung berbalik dan menatap Shikamaru yang kini memasan wajah serius. "A-apa maksudmu?"susah payah Naruto mengucapkan sebuat kalimat tanya itu dan hanya dibalas dengan helaan nafas dari orang yang di pertanyaan tersebut.

"Haaah~aku tau kau tak sebodoh itu Naru. Perasaan merepotkan ini selalu menghantuiku semenjak aku melihatmu. Cinta pertama, itu yang ku rasakan kepadamu. Jadi jangan tanya apa maksudku karna aku yakin kau pasti tau maksudku bicara hal-hal merepotkan seperti ini."

"Kau-kau apa-apaan kata-katamu itu? Kau bicara hal romantis tapi selalu di akhiri dengan kata merepotkan. Dan-dan wajahmu itu, kenapa kau berwajah malas? Aku jadi-"

"Jangan meragukanku. Karna aku sungguh-sungguh. Walau ini masih terlalu cepat tapi cepat atau lambat aku akan membuat hatimu di penuhi hanya olehku."Naruto benar-benar kehabisan kata-kata. Semula Shikamaru bicara dengan wajah serius, tapi hanya sepersekian detik, detik berikutnya sudah memasang wajah jeleknya lagi. Dan sekarang dia menatapnya dengan tatapan tajam dan ketulusan di dalamnya. Sungguh membuat Naruto tak habis fikir. Tapi jujur di dalam hatinya, Naruto merasakan rasa hangat yang begitu nyaman. Mungkin sama nyamannya kala dulu Sasuke melamarnya.

Sasuke, nama itu langsung mengembalikan moodnya yang buruk. Tidak mau menambah galau hatinya Naruto hanya menjawab semua penuturan Shikamaru dengan satu kalimat yang mampu membuat Shikamaru sembuh hanya dalam dua detik.

"Aku harap kau berhasil membuatku mencintaimu."setelah mengatakannya, Naruto langsung berlari keluar dari ruang rawat Shikamaru tanpa sempat melihat senyum tulus dari sang dokter muda kita.

"Satu langkahmu sukses, Shikamaru"gumamnya dengan seringai kebanggaan yang berkembang di wajah tampannya.

.

Di luar, di depan pintu kamar rawat Shikamaru, Naruto bersandar pada tembok dan tangannya mendekap dadanya yang terus-menerus berdebar tak karuan. `Aku sakit jantung. Dokter, aku butuh dokter` itu lah mantra yang terus di ucapkan Naruto di dalam hati. `Ini memalukan. Shika kurang ajar. Dan kenapa aku malah menantangnya? Aaaarrrggh..bodoh…`. Langkanya ada orang bodoh yang mengakui bahwa dirinya bodoh. Ck,,ck,,ck,,

.

.

Di tempat parkir tepatnya tempat keberadaan Sasuke dan Sakura, Sakura terlihat anteng menunggu kedatangan Sasuke calon suami dan calon ayah dari anaknya. Benarkah? Entahlah, hanya sakura dan Kami-sama yang tahu.

"Lama menunggu?"tanya laki-laki yang sedari tadi di tunggu oleh Sakuran

"Tidak. Orang hamil tidak boleh marah-marah bukan? Nanti anak kita jadi suka marah-marah."dengan senyum mautnya Sakura mencoba untuk membuat calon suaminya itu tetap berpaling padanya.

"Ya~kau memang wanita yang lemah lembut." `tidak sepertinya` batin Sasuke melanjutkan. Dia tidak tau bahwa yang dia pikirkan akan menjadikan rindu yang mendalam untuknya. Tidak bisa mendengar omelan dari sang malaikat pirang, ocehannya, wajah merajuknya, dan semua kasih sayang yang biasa sang malaikat berikan.

"Hm~ayo kita pulang"

SASUKE POV

Ya, tidak seperti Naruto. Sakura adalah wanita yang lemah lembut. Mungkin ini adalah salah satu alasan kenapa aku bisa jatuh pada pesonanya. Pesona sekretaris baruku, Sakura Haruno.

Sebenarnya setelah malam semua perselingkuhanku terbongkar dan pertengkaran ku dan Naruto, aku sudah bertekad akan mengakhiri hub unganku dengan Sakura. Tapi hal yang tak ku sangka malah terjadi dan membuat semua tekadku memperbaiki hununganku dengan Naruto sirna sudah.

_fleshback_

Jam menunjukkan pukul setengah enam pagi. Masih terlalu pagi untukku bangun yang sebenarnya aku tak tidur sejak pertengkaranku dan Naruto malam tadi.

Ini semua salahku. Harusnya aku tak pernah terjerat pesona Sakura, dan Naruto pun tak perlu tau juga tersakiti olehku. Aku menyesal, sungguh, aku takkan melakukannya jika aku tau pada akhirnya malaikat pirangku tersakiti seperti ini dan membuatnya meninggalkanku.

Ya. Aku harus mengakhiri hubunganku dengan Sakura dan meminta Naruto memaafkanku dan memulai semuanya dari awal lagi. Aku yakin Naruto pasti akan memaafkanku.

Aku bangun dari acara dudukku dan langsung pergi ke kamar mansi untuk membersihkan tubuh dan pikiranku dari kekacauan ini.

.

Saat ini aku sedang dalam perjalanan ke apartemen Sakura. Aku terus meyakinkan hatiku kalau Naruto jauh lebih berharga dari Sakura, `ya, Naruto adalah belahan jiwaku. Aku mendapatkan hatinya dulu bukan dengan mudah. Sungguh penuh perjuangan. Aku tak mungkin mendapatkan wanita sebaik dia. Naruto satu-satunya wanita yang dapat mengertiku luar dan dalam.`

Aku terus merapalkan setiap kalimat-kalimat yang dapat membuat hatiku tetap teguh pada satu wanita, Naruto.

.

Aku menatap senuah pintu apartemen yang sebentar lagi tak mungkin ku singgahi. Aku memencet bel dan menunggu beberapa saat sampai sebuah suara lemnut dan paras cantik nan anggun menyapaku dan membukakan pintunya untukku. Dialah Sakura Haruno. Wanita berrambut pink sebahu, dengan mata hijaunya yang memancarkan kepolosan dan kehangatan, juga kulit putin yang membalut tubuhnya. Sungguh sebuah keindahan yang tak mungkin dapat setiap laki-laki melewatkannya, tak terkecuali aku.

"Sasuke-kun? Ayo masuk. Tumben kau datang sepagi ini?"aku tak menjawab, namun aku tetap masuk ke dalam apartemennya dan menunggunya untuk menutup pintu dan menyusulku masuk ke dalam.

"Jadi, apa gerangan yang membuatmu datang sepagi ini?"aku harus bisa. Aku harus bisa mengakhiri semua ini. Naruto jauh lebih berharga dariku. Jauh lebih membutuhkanku.

"Sakura, kita-"aku terdiam, sungguh aku bingung. Apa harus aku meninggalkan Sakura? Tapi Naruto juga akan lebih tersakiti.

"Ada apa Sasuke-kun?"Sakura mendekat padaku dan menyentuh bahuku, mencoba memelukku seperti yang biasa dia lakukan kala kami bertemu. Tapi tidak untuk saat ini. Aku langsung menarik tangannya yang akan merangkulku dan aku mundur satu langkah untuk melanjutkan pembicaraan yang belum selesai.

"Sakura, kita harus berpisah."aku bisa melihat raut wajahnya yang terkejut juga syok atas apa yang ku ucapkan. Tapi aku harus tetap memberitahunya. "Istriku tau apa yang ku lakukan denganmu di belakannya, da-"sebelum aku meneruskan ucapanku, Sakura langsung memotongnya.

"Apa?"air matanya deras mengalir dari kedua bola mata indahnnya, sungguh aku tak sanggup melihat dua wanita yang ada di hatiku menangis di hadapanku, karna aku, dan aku tak bisa berbuat apa-apa. "Tapi Sasuke, aku juga membutuhkanmu. Aku mencintaimu."

"Aku tau."ya, aku tau Sakura. Tapi maafkan aku.

"Apa kau tak mencintaiku?"ini pertanyaan yang sungguh tak ingin aku dengar. `apa aku mencintai Sakura?` entahlah. Aku sungguh bingung dengan perasaanku ini.

"A-aku.."baru kali ini aku merasa aku seorang Uchiha yang sangat brengsek. Aku tak bisa mempertahankan istriku dan sekarang membuat wanita yang ada di hadapanku ini bingung akan sikapku.

"Aku mengandung anakmu Sasuke."aku langsung melotok ke arahnya. Kaget? Sangat. Syok? Sudah pasti. Tidak percaya? Ya aku tak percaya. Satu lagi hal yang menambah keharusan aku tuk tak meninggalkan Sakura. " Empat bulan. Anak di dalam perutku ini sudah menginjak empat bulan. Dan ini anakmu, Sasuke-kun".

Ya, saat ku sadari ternyata aku sudah kalah. Aku kalah dengan keadaan Sakura. Aku kalah dengan ketidak tegasan diriku. Aku kalah dari semua ikatan yang mengikatku dengan Sakura.

Anak, aku tak mungkin meninggalkan anakku dan membiarkannya tumbuh tanpa seorang ayah. Tidak, dan aku sudah memutuskan akan memulai hal baru ini dengan Sakura, tanpa Naruto di sisiku.

`Maafkan aku, Naruto`

_fleshback end_

"Kau melamun Sasuke-kun?"lamunanku langsung buyar saat Sakura menegur dan menyentuh bahuku.

"Hn"

"Apa arti `hn` mu itu? Aku benar-benar tak pernah bisa mengartikannya"

"Bukan apa-apa"padalah Naruto selalu tau apa arti `hn` ku itu. Stop Sasuke, kau sudah tak boleh memikirkannya.

"em~Sasuke-kun, kapan kau akan menceraikan Naruto? aku tak mau anakku lahir dengan ayah yang tak berstatus suami dari ibunya."dia mulai lagi. Dua minggu ini Sakura selalu mendesakku untuk menceraikan Naruto. walau tak di suruh pun aku akan menceraikannya. Hanya saja, jauh di dalam lubuk hatiku benar-benar menolak keputusan itu. Aku tak bisa dan tak mau menceraikan Naruto. tapi aku tak boleh egois, Saat ini Sakura membutuhkanku. Calon anakku membutuhkan ayahnya, yaitu aku, jadi aku tak boleh ragu.

"Aku akan mendaftar besok. Kalau sudah di terima, aku akan langsung mengirimkan surat cerainya pada Naruto."

"Baguslah~"dan setelahnya hanya keheningan yang menyelimuti kami di sepanjang perjalanan menuju kediaman Uchiha. Tempat dimana dulu aku membangun sebuah keluarga dengan Naruto dan sekarang tempatnya di gantikan oleh Sakura.

SASUKE POV END

.

.

.

"Tidak, Dok"Naruto mencak-mencak di depan sebuah meja berpapan pengenal `Dokter Tsunade`.

"Tidak perlu sungkan padaku. Aku tau semuanya kok."Tsunade menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya yang super besar dan tetap duduk tenang di kursi kebesarannya.

"Uuh~berhenti menggodaku dokter Tsunade"dan yang bisa Naruto lakukan hanya berjongkok di bawah meja bermaksud bersembunyi dari tatapan jail yang Tsunade lancarkan padanya.

"Hahahaha.."senang rasanya bisa membuat bawahannya malu karna rahasianya terbongkar oleh dirinya dan di jadikan bahan olokan.

"Aku takut-"walau pun Naruto tidak ingin orang lain tau, tapi setidaknya biarkan orang yang ada di hadapannya ini mengetahui keluh kesah dirinya.

"Tidak perlu takut. Shika laki-laki yang baik. Dan kau tidak perlu terus membuat tameng untuk hatimu. Biarkan semuanya mengalir dengan sendirinya. dan juga, calon anakmu nanti membutuhkan ayah yang tulus menyayanginya, bukan Uchiha brengsek itu. Dan aku yakin Shikamaru akan mampu membimbing anakmu nanti"dan entah mengapa Tsunade merasa begitu menyayangin suster baru di hadapannya ini. Iya sangat ingin Naruto mendapatkn kebahagiaan, dan terlepas dari penderitaan yang sedikitnya dia tau di rasakan karna seorang Uchiha yang tidak lain adalah suaminya, ah, mungkin cepat atau lambat akan berganti status menjadi mantan suami.

"Aku tau...dan terimakasih."hanya itu yang mampu Naruto ucapkan untuk seseorang yang telah tulus menjadi –menurutnya- pengganti orang tuanya. Walau Naruto baru mengenal Tsunade beberapa minggu ini, tapi dia tau dokter yang ada di hadapannya ini tulus menyayanginya.

"Ya~dan aku tunggu kabar kalian berpacaran dan kiriman surat undangan pernikahannya, hahaha"

"Dokteeer~"Naruto langsung bangkit dari acara bersembunyinya dan langsung menampilkan raut wajah merajuk karna telah sukses di jahili oleh dokter yang menjadi idolanya.

.

.

_TBC_

Yapz~sekian dulu chapy ini. Maaf kalau ke pendekan dan membosankan. tapi Yas janji chapy depan akan lebih menegangkan#hahah -tertawa nista-# Yas bener-bener ngetik kilat chapy ini, soalnya tanggal 6 nanti Yas harus ngelaksanain PPBN di kampus. Uuh~menyebalkan..doakan ya semoga Yas kuat ngejalanin PPBN, ya~walau cuma satu minggu sih. tapi tetep aja~

.

.

_balasan review_

naruppy : Agak maksa ya ceritanya? #maaf# Teme menderita gak langsung di chapy satu, di chapy ini juga Sasu belum terlihat menderita, mungkin chapy depan baru mulai. Kalo soal di cerita sebelumnya Sasu menyesal amat sangat, menurut Yas mah enggak juga ya. Dan mungkin di chapy ini bisa menjelaskan kenapa Sasu plin-plan.
makasih udah RnR~

Nakazawa Ayumu : Salam kenal juga~
Buat Sasu menderita? Itu sudah pasti#tertawa ala iblis# makasih udah RnR~

Rose : Shika pasti akan hibur Naru selalu. Itachi? Mungkin gak muncul sekarang.
makasih udah RnR~

Miss no login : Gak oneshot kok. Kan ini sequelnya `I`m sorry, and goodbye. Dan ini Yas udah update, maaf lama. Review lagi ya. Makasih udah RnR sebelumnya~

Queen The Reaper : Wiiisss..galak amat.#haha# tapi Yas setuju, kita bantai sama-sama si Teme-pantat ayam itu. Dan kita pastikan Sasu bakalan menyesal seumur hidupnya.
Dan makasih pujian untuk cara nulis Yas. Yas jadi tersipu malu nih#nutupin muka pake bantal sangkin senengnya di puji# RnR lagi ya~. Maaf telat

shiho nakahara : Gak sepenuhnya bener sih. tapi….hhuuwwaa hampir ketebak alurnya#nangis sambil guling-guling#

Nasumi-chan Uharu : maaf telat update! Entahlah, SasuFemNaru atau ShikaFemNaru. Lihat minat readers ajalah kedepannya. Makasih udan RnR ya~

Nabilabila : Maaf gak kilat. Makasih udah RnR~

No name : Bagusan yang di hapus ya? Maaf kalo gitu. Yas beneran gak bisa nerusin yang sebelumnya itu. Em~apa keanehan Sasu bisa di simpulkan dari chapy ini? Makasih udah RnR ya~

Hiruma Karin : Yapz..mari kita buat Sasu-teme menderita. Tapi gak di chapy ini. makasih udah RnR,,maaf telat update..

Uciha Hikari : amin,,terimakasih. Yas udah selesai UAS, tinggal nunggu hasilnya.
uuh~jangan sampe jantungan. Ntar Yas di tuntut deh gara-gara buat anak orang jantungan sehabis baca fic yas.#hehe# iya, maaf Yas hapus fic sebelumnya.
terimakasih kalau Hikari-san bilang fic yang ini lebih seru. Yas jadi terharu -loh?-
makasih udah RnR..RnR lagi ya~

.

.

Akhir kata..

Review please~