Yas sengaja update hari ini, soalnya mulai senin Yas bakalan sibuuuuk banget sama acara kampus. Jadi mumpung hari ini lagi nyantai Yas jadi langsung buat chapy 3 n langsung update.
Maaf bila masih banyak typo.
Selamat membaca~
.
.
Disclaimer : Masashi Kisimoto
Genre : Romance & Drama
Main chara : SasuFemNaru/ ShikaFemNaru, slight SasuSaku
Rating : T
Story by : Yashina Uzumaki
WARNING : Abal, gaje, AU, Typo, gender bender, (agak) OOC, dll
Summary : Jangan salahkan aku bila menggantikanmu. Jangan tuduh aku melupakanmu bila kau yang lebih dulu membuangku. Dan jangan usik hidupku kala aku bisa hidup tanpamu.
.
.
Bila boleh jujur, Naruto sama sekali tak ingin hari ini datang. Hari dimana orang yang sangat dia cintai, orang yang berharga baginya, suaminya datang berkunjung ke apartemen sederhananya untuk memberikan sepucuk surat yang sama sekali tak pernah ia bayangkan akan ia terima, surat cerai.
Apa mau di kata, semuanya telah jelas di matanya. Sasuke dengan terang-terangan lebih memilih wanita jalang yang entah darimana asal-usulnya. Merasa bahwa Sakura jauh lebih membutuhkannya, maka Sasuke harus berada di sisinya.
Pada dasarnya orang yang tak tau apa-apa di sini adalah Sasuke. dia tak tau bahwa yang telah di pilihnya adalah sebuah kesalan. Dia tak tau bahwa yang di tinggalkannya adalah sebuah kebahagiaan yang utuh dan nyata. Dia tak tau, sungguh, semua hal yang dia anggap benar adalah sebuah jalan takdir yang sedang mempermainkannya. Mempermainkan seorang Uchiha Sasuke dengan mengatas namakan cinta.
.
Hanya butuh satu minggu (ini ngarang, sebenarnya Yas gak tau seberapa lama proses mendaftarkan suatu perceraiaan) untuk mendapatkan surat cerai dari pihak pengadilan. Tinggal menjalankan proses di pengadilan dan, selesai sudah. Tak akan ada ikatan lagi antara dua orang yang sedang berhadapan dengan hanya di batasi oleh satu meja kecil.
"Aku tak akan menintamu menandatanginya sekarang. Aku bisa menunggu satu atau dua ming-"ucapan sang Uchiha langsung di potong oleh Naruto. Untuknya semua pasti akan berakhir dengan perceraian, cepat atau lambat. Maka, untuk apa ia undur-undur lagi, sedangkan pihak yang lain begitu dengan cekatannya mendapatkan surat cerai itu.
"Kau tak perlu takut aku akan bimbang dan perlu banyak waktu berminggu-minggu hanya untuk mendatangani sebuah surat cerai yang begitu sangat kau harapkan. Aku akan menandatanganinya sekarang."Naruto bangkit dari duduknya dan masuk ke satu-satunya kamar yang ada di apartemen itu untuk mengambil pulpen. Setelahnya Naruto langsung kembali ke ruang tamu dan kembali duduk di kursi yang tadi ia duduki.
"Aku tanda tangan sekarang ya?"Naruto berujar santai dan dengan raut wajah sedatar mungkin. Padahal dalam hatinya ia menjerit ingin keluar dan melarikan diri dari semua rasa sakit ini. Matanya pun sudah sangat perih menahan airmata yang siap untuk keluar.
"Apa kau begitu menginginkan kita berpisan?"tinggal satu mili lagi pulpen yang Naruto pegang akan menggoreskan tandatangan persetujuannya. Tapi gerakannya sukses terhenti di udara dengan hanya satu kaliamat tanya yang Sasuke tujukan padanya.
Naruto mendongak. Menatap tajam oniks milik Sasuke. "Apa kau bilang? Tidakkah seharusnya pertanyaan itu aku tujukan untukmu? Sikapmu malam itu, minggu lalu di rumah sakit, dan saat ini kau datang dengan sebuah surat cerai, dan sekarang kau bilang aku begitu menginginkan hal yang di namakan perceraian? Kemana otak jenismu tuan Uchiha?"Naruto tidak habis fikir, kenapa Sasuke bisa bertanya hal yang jawabannya bahkan berbeda untuk keduanya.
"I-itu-"
"Sudahlah Sasuke. aku tau kau begitu ingin bercerai dariku. Dan bila hal itu dapat membuatmu bahagia bersama wanita bernama Sakura, aku rela. Aku tau aku tak mungkin bisa memaksamu mencintaiku. Dan aku salah telah menyangka semua yang telah terjadi selama ini antara kau dan aku itu sebuah ketulusan. Aku memang naïf, kan?"Naruto tertawa meremehkan dirinya sendiri yang telah berharap dengan akhir yang sudah di tetapkan takdir, tersakiti.
"Tidak. Setidaknya semua hal dulu yang telah kita lalui bukanlah sebuah kepalsuan. Aku benar-benar tulus menci-"
"Stop, hentikan itu. Aku tak ingin mendengar bualan darimu. Aku tandatangani sekarang."dan Naruto langsung menandatangani surat cerainya. Setelah yakin itu tandatangan yang sempurna untuk suatu pesakitan yang tak bercelah, Naruto langsung menyodorkannya pada Sasuke. "Kita tinggal menghadiri proses pengadilannyakan? Jadi silahkan anda keluar dari rumah saya tuan Uchiha."suaranya sangat tenang, tapi bagi seseorang yang ada di hadapannya yang dapat sempurna belihat raut wajahnya, bola matanya, bibirnya dan pipinya, semua jelas. Naruto menangis dalam ketegarannya. Naruto menangis dengan seulas senyum di bibirnya. Dan Naruto menagis tidak lain dan tidak bukan, karna seorang yang ada di hadapannya.
Sasuke tertegun melihat airmata yang mengalir mulus dari kedua bolamata yang begitu ia kagumi dulu, sekarang? Entahlah. Sasuke terlalu bodoh untuk menyadarinya. Dan Naruto begitu tegar, tak ada isakan, bahunya pun tak bergetar. Ia menangis dalam diam. Tapi justru itu lah yang membuat Sasuke tambah merasa bersalah. Seandainya Naruto menangis meracau dan memukul dirinya, berteriak padanya itu jauh lebih baik untuk batinnya. Tidak dengan hanya airmata yang mengalir tanpa suara. Tidak. Itu bahkan lebih menyakitkan untuk di lihat. apa lagi dengan yang merasakannya.
"Maafkan aku."hanya itu yang mampu Sasuke katakan pada Naruto, pada calon mantan istrinya, dan orang yang sepenuhnya ia sakiti.
Setelah mengatakan itu, Sasuke langsung keluar dari apartemen kecil yang di tempati Naruto. "Dan selamat tinggal."itulah kalimat yang tak mampu Sasuke ucapkan, karna sesungguhnya ia tak rela meninggalkan Naruto.
.
Kosong. Sungguh, dirinya benar-benar merasa kosong saat ini. Semuanya sudah berakhir, mungkin belum, tapi tinggal melakukan prosesnya akhir yang di maksud pasti akan langsung terlihat.
"Aku kuat, hiks,,aku kuat. Aku bisa hidup tanpa Sasuke. hiks,,aku masih punya kau kan sayang?"Naruto menangis meringkuk di dalam selimutnya setelah kepergian Sasuke dari apartemennya itu. Sambil memegang perutnya yang sama sekali belum terlihat buncit, Naruto terus mengucapkan mantar `aku kuat` untuk menenangkan hatinya.
Tok..tok..tok..
Suara ketukan pintu apartemennya membuat Naruto tersadar dari keterpurukannya. Ia tak boleh lemah, ya, ia wanita yang kuat. Maka Naruto bangkit dari meringkuknya, menyeka airmata yang terus mengalir dari kedua bolamata indahnya, dan memasang senyum manisnya, tapi bukan senyum tulus melainkan senyum sisa pesakitan yang Sasuke tinggalkan untuknya.
Tok,,tok,,tok..
"Ya tunggu sebentar."Naruto membenarkan ikat rambutnya yang berantakan dan berjalan gontai kearah pintu depan untuk melihat siapa orang yang mengganggunya di hari sabtu yang notabeni adalah hari liburnya.
Dan saat Naruto membuka pintu, yang terlihat pertama kali adalah wajah malas dari seorang laki-laki yang sangat ia kenal. Lalu pandangannya beralih pada rambut nanasnya `Sudahku duga`batin Naruto.
"Kau. Ada apa?"pertanyaan bernada yang tak kalah malasnya Naruto lontarkan pada Shikamaru.
"Kau habis menangis?"Naruto tersentak sesaat sebelum menunjukkan senyum mirisnya pada Shikamaru.
"Ayo masuk."tanpa menjawab pertanyaan Shikamaru, Naruto malah menyuruhnya masuk. Dan untuk Shikamaru itu tak masalah, toh dia nanti juga akan tetap bertanya sampai Naruto mau mengatakannya.
Setelah mereka berdua masuk ke dalam apartemen Naruto, Shikamaru langsung mendudukkan diri di sofa yang tersedia disana sembari menunggu Naruto mengambilkan air untuknya.
"Aku tak punya apa-apa disini. Hanya ada sedikit cemilan dan kopi susu. Kau suka kopi, kan?"Naruto datang dari arah dapur dengan dua cangkir kopi dan sedikit cemilan. Berhubung sekarang sudah sore secangkir kopi mungkin bisa menghangatkan tubuh dari dinginnya udara pergantian malam, mungkin?.
"Ya, aku suka."hening menjadi latar dari suasana keduanya. Keduanya sibuk dengan pemikirannya masing-masing. Naruto dengan masalah perceraiannya, dan Shika dengan pertanyaan `kenapa tadi Naruto menangis?` Dan `apa yang telah terjadi ?`.
Shikamaru yang jengah dengan keheningan itu lantas menanyakan pertanyaan yang tadi belum sempat di jawab oleh Naruto.
"Kau tadi habis menangis?"di tatapnya Naruto yang duduk menunduk memandangi cangkir kopinya, seakan kopi di hadapannya lebih menarik daripada memandang Shikamaru.
"Haaah~"Naruto menghelah nafas, `percuma berbohong`batinnya. "Apa begitu terlihat."lanjut Naruto.
"Sangat jelas."
Hening lagi. Shikamaru terus saja memperhatikan Naruto yang tengah menyeruput kopinya dalam diam. Sedangkan yang di perhatikan tampak biasa dari luar padahal dalam hatinya sedang gelisah, perasaannya tak karuan, antara memikirkan Sasuke dan merasakan gejolah yang berbeda di hatinya kala Shikamaru terus memperhatikannya.
"Apa ada sesuatu yang telah terjadi?"Shikamaru bertanya lagi, sepertinya rasa pernasarannya belum hilang juga.
Dan untuk Naruto, entah kenapa ia jadi begitu dekat dengan laki-laki nanas di depannya ini. Padahal mereka bertemu dan berteman baru sekitar dua minggu ini. Sesuatu di hatinya membuatnya begitu terbuka pada Shikamaru, tak perlu dua tiga kali Shikamaru bertanya `apa` `kenapa` `bagaimana` dirinya, bibir Naruto akan dengan senang hati terbuka dan menjawab langsung jawaban apa yang di inginkan Shikamaru. "Sasuke, dia tadi kemari."
Tubuh Shikamaru menegang karna terkejut, tapi itu hanya sesaat. "Untuk apa dia kemari? Bukannya kau sudah tak-"ucapannya terpotong oleh satu kalimat pernyataan dari Naruto.
"Dia masih suamiku."Naruo melayangkan tatapan tajamnya pada Shikamaru. Ia sadar bahwa yang ia ucapkan itu hanya sebuah status tanpa makna. Ia tau walau Sasuke suaminya tapi tidak dengan hatinya. Iya tau, ia sangat tau, bahwa apa yang ia ucapkan tadi tidak mungkin akan ia sandang lebih lama lagi. Mungkin hanya tinggal beberapa bulan? Dan semuanya akan di awali dengan kata `mantan`.
"Tapi dia menghianatimu."`ya benar, Sasuke menghianatiku` batin Naruto.
"Aku tau."Naruto kembali menunduk. Ia sungguh sadar yang di ucapkan Shikamaru memang benar.
"Lantas untuk apa dia kemari?"Shikamaru kembali bertanya.
"Dia memintaku menandatangani surat cerai."jawab Naruto dengan nada sinis. Naruto tidak habis fikir `Kenapa nanas ini banyak tanya sekali sih?`
Dan kembali Shikamaru menyuarakan tanyanya. "Apa kau-"tapi sebelum Shika menyelesaikan pertanyaannya Naruto keburu memotongnya.
"Ya, ya aku menandatanganinya. Aku tak membuang banyak waktu untuk menandatanganinya, karna tidak mungkin ada gunanya pula bila aku terus bimbang dan memikirkan semuanya. Pada akhirnya akan tetap aku yang di tinggalkan."Naruto tersenyum miris dengan mata yang mulai berkaca-kaca siap mengolah airmata dan melelehkannya.
Naruto mulai terisak dengan bahu yang bergetar. Kakinya ia lipat dan wajahnya ia sembunyikan di lipatan kakinya.
Naruto paling tak ingin terlihat lemah, tapi entah mengapa Naruto begitu bisa menunjukkan rasa sakitnya di hadapan Shikamaru. Naruto bisa menunjukkan ekpresi sakit dan airmatanya hanya pada Shikamaru, padahal dengan Ino pun Naruto tak pernah seperti saat ini.
"Ada aku. Kau tak perlu takut."Shikamaru mendekat, duduk di samping Naruto dan merangkul bahu wanita yang telah merebut hatinya itu. Mencoba menyalurkan kehangatan yang ia punya untuk sang terkasih.
Kehangatan yang Shikamaru berikan malah membuat Naruto semakin terisak dalam perih hati yang ia rasakan sendiri. "Hiks,,Aku wanita tak berguna. Aku tak bisa menjaga keutuhan keluargaku. Aku tak bisa menjaga hati Sasuke tetap berpaling padaku. Hiks,,Semua salahku-"
"Bukan, ini semua bukan salahmu Naru. Uchiha brengsek itu yang tak bisa menjaga hatinya. Kau wanita baik. Kau wanita sempurna untuk setiap laki-laki. Kau layak dicintai, cinta tulus, bukan yang rapuh dan mudah hancur seperti milik Uchiha bodoh itu. Aku, aku akan menggeser Uchiha itu dari hatimu, karna hati dan jiwamu tak pantas dimiliki oleh orang sepertinya."Naruto tertegun dengan kata-kata yang Shikamaru ucapkan untuknya. Kata-kata yang penuh dengan kesungguhan dan ketulusan di setiap nadanya. Kata-kata bermakna permohonan untuk suatu kepercayaan yang baru. Percayanya untuk hati Shikamaru.
Naruto mendongak menatap mata Shikamaru, mencoba meyakinkan dirinya bahwa Shikamaru tak sedang membual padanya.
"Tapi aku-"Naruto kembali menunduk sembari tangannya memegang perutnya yang terdapat buah cinta Sasuke dan dirinya. Cinta? Entahlah, apa dulu Sasuke mencintainya? Naruto terlalu takut untuk mengetahui kebenaran perasaan Sasuke padanya.
"Ah benar, satu lagi. Dia-"dan Shikamaru malah ikut mengusap perut Naruto, membuat yang bersangkutan kembali dari alam khayalnya. "Dia misi ke duaku. Setelah aku mendapatkan hatimu, aku juga akan, ah tidah tapi pasti akan membahagiakan calon anakmu."
Kali ini Naruto benar-benar tak percaya dengan apa yang di ucapkan Shikamaru. Dua minggu, dirinya dan Shikamaru baru berkenalah dan mungkin berteman dalam waktu dua minggu. Tapi ucapan Shikamaru barusan sungguh membuat hatinya menghangat, tenang dan merasa di lindungi.
Dan Naruto kembali terisak, tapi ini isak tangis kebahagiaan. Bahagian karna ia tau masih ada orang yang begitu peduli dan mencintainya seperti Shikamaru. Ia begitu bahagia saat menyadari kehangatan yang Shikamaru berikan mungkin akan terbalas oleh hatinya.
"Terimakasih Shika."Naruto tersenyum tulus pada Shikamaru setelah menghapus airmatanya dan melepas pelukan Shikamaru dari bahunya.
"hhaaah~akhirnya kau tersenyum juga. Kenapa sih aku harus mengucapkan kata-kata mereponkan itu dulu baru kau mau tersenyum dengan tulus lagi seperti ini? Merepotkan"dan kembalilah sifat asli dan kata andalannya setelah sekian banyak kata romantis yang ia ucapkan untuk Naruto.
Shikamaru menyandarkan tubuhnya ke sofa yang ia duduki dan memejamkan mata bersiap untuk tidur seperti kebiasaannya setelah melakukan hal-hal yang merepotkan.
"A-apa? Kau benar-benar kurang ajar Shika. Kau merusak suasana dengan `merepotkan`-mu itu, dasar Baaakkaaaa"Naruto mencak-mencak sendiri karna kesal dengan perubahan aura yang semula romantis menjadi suram seperti ini.
"Kau berisik sekali Naru."masih dengan memejamkan matanya, Shikamaru berkomentar .
"Itu semua karna kau, bodoh."
"Sudahlah,,sebenarnya aku kemari ingin makan malam denganmu."Shikamaru membuka kelopak matanya yang sipit, menguap sekali dan membenarkan posisi duduknya.
"Bilang saja kau ingin makanan gratis dariku. Semenjak keluar dari rumah sakit kau jadi setiap malam ke sini meminta makanan dariku."Naruto bangkit dari duduknya dan berjalan kearah dapur sambil memikirkan makan malam apa yang akan ia siapkan untuk mereka berdua.
"Itu kewajiban untukmu, aku dokter disini. Sudah sana cepat buatkan."
"Baik dokter pemalas yang tidak mau di repotkan."
"Terimakasih"
"Itu bukan pujian…"sepertinya Shikamaru berhasil membuat suasana hati Naruto menbaik dan melupakan sejenak rasa sakitnya karna Sasuke.
"Senin nanti kau akan mulai bekerja menjadi asistenku seperti yang Tsunade-sensei perintahkan."
"Siap laksanakan…hehe"
Apa perlu aku ceritakan juga bagaimana makan malam `romantis` ShikaNaru? Lebih baik jangan, nanti kalian iri~
_TBC_
.
.
_balasan review_
Rose : Uuh~galak amat sih.. tapi di tunggu aja ya acara gebuk-gebukannya ya..
Makasih udah RnR~
shia naru : Naru udah luluh belum d chapy ini? Sasu menderita? Itu pasti. Di tinggu saja ya tanggal -tertawa nista.-
Naru Freak : Keren? Makasih#bungkuk-bungkuk# Sasu belum bisa di buat menderita dulu. Yas mau buat Naru jengah sama Sasu dulu, kan kalo Naru udak beneran kesel sama Sasu jadi enak nanti nyiksa Sasu-nya.
Makasih udah RnR~
Nasumi-chan Uharu : Kenapa Yas pilih Shika? Entahlah, soalnya di fic yang yang lain gak ada Shika, jd di sini ya Shika yang Yas pilih. Apa lagi Yas suka banget sama Shika. I lop lop Shika…
insyaalloh happy ending deh~
makasih udah RnR~
Hiruma Karin : Sakura hamil kok. Apa Yas salah nulis sampai Karin-chan bilang Saku gak hamil? Maaf.
Teme pasti menderita, tapi gak di chapy ini. mungkin chapy depan. Makasih udah RnR~
ryoma-chan : Iya Sasu juga gak rela pisah sama Naru, tapi karna Saku hamil, Sasu jadi harus menetapkan pilihan. Makasih udah RnR.
shiho nakahara : Uuh~gak suka Shika ya? Entahlah, Yas juga gak banyak mikir waktu pilih Shika. Cuma ada satu alasan Yas pilih Shika ketimbang Gaara, soalnya kalo Yas pilih Gaara yang sama-sama gak hobi ngomong kan jadi dialognya kurang hidup gitu. Jadinya Yas milih Shika.
Yas juga waktu nulis yang Sakura lemah lembut dan pujian-pujian lainnya, Yas sampe mogok ngetik satu jam cuma buat nguatin diri, haha lebay ya? Tapi beneran lo..
makasih udah RnR~
.
A/N : Buat chapy depan mungkin akan telat, tapi Yas usahakan update cepat kok.
Yas ucapin banyak terimakasih buat yang udah review semua fic Yas. Yas jadi semangat buat lanjutinnya. jadi review lagi ya~.
Akhir kata
RnR Please~
