Hai..haii..haiii..Yas kembali dengan membawa chapy 5!

Oya,,,Yas mohon pada semua readers yang ngikutin fic ini dari awal sampe akhir, tolong baca ulang 'I'm Sorry, and Goodbye', soalnya –aduh malu aku ngomongnya– kayaknya fic itu gak nyambung sama sequelnya yang ini. Jadi Yas merubah sedikit fic I'm Sorry, and Goodbye biar nyambung sama sequelnya ini. Padahal waktu itu ada reader yang bilang kalo fic ini gak nyambung sama I'm Sorry, Yas yang gak percaya ya PeDe aja ngelanjutin Fate Game, dan ternyata, aaaahh malu aku pas baca ulang fic I'm Sorry.

Juga Thanks buat yang udah RnR fic Yas yang 'One Love For You'.

_namikaze noah_Nakamura Nezumi_freakG_Nasumichan Uharu_La Nina Que ' Aru-chan_

Okelah, langsung aja. N sekali lagi, sempetin baca ulang I'm Sorry, and Goodbye yooo~~

#

#

Disclaimer : Masashi Kisimoto

Genre : Romance & Drama

Main chara : SasuFemNaru / ShikaFemNaru slight SasuSaku

Rating : T

Story by : Yashina Uzumaki

WARNING : Abal, gaje, Typo(s), gender bender, (agak) OOC, dll

#

#

"Perawat yang bernama Uzumaki-san, dia sudah tidak bekerja lagi. Em…dua hari yang lalu dia mengundurkan diri. Sedangkan Dokter Nara sudah di pindah tugaskan, tuan."

"Kemana dokter Nara di pindah tugaskan?"

"Kami dilarang memberikan info apa pun tentang dokter Nara. Maaf tuan."

"Hn."Sasuke langsung meninggalkan receptionis wanita itu tanpa bilang terimakasih sedikit pun. Niatnya ingin bertemu Naruto hilang sudah saat di ketahuinya bahwa wanita itu sudah tidak bekerja lagi di rumah sakit ini. Dan juga, dokter Nara yang selalu berada di dekat Naruto juga di pindah tugaskan entah kemana, itu membuat Sasuke mengernyitkan dahinya, berfikir ada apakah gerangan antara Naruto dan dokter itu.

Sasuke kembali ke parkiran. Mengambil mobilnya dan kembali ke rumahnya dengan masih berbekal sebuah kabar. Kabar yang mungkin bahagia untuknya, kabar pernikahan keduanya dengan seorang Haruno Sakura.

"Aku pulang…"melangkah malas, Sasuke memang harus tetap pulang ke rumah. Kalau tidak, Sakura yang sedang hamil muda itu pasti mengomel tidak jelas.

"Selamat datang Sasuke-kun. Sudah memberi tahunya?"Sakura membantu Sasuke yang sedang membuka jas berwarna biru dongker miliknya dan melonggarkan dasi yang melilit leher putih bak porselen suaminya itu.

"Dia tidak bekerja lagi di sana."

"Ooh…ya sudah. Ayo kita makan siang."di tariknya lengan Sasuke menuju meja makan yang sudah tersaji berbagai menu makan siang yang siap di santap. Sasuke tersenyum sekilas, senang juga punya Sakura di dekatnya. Wanita itu selalu bersikap lemah lembut padanya. Hampir sama dengan Kaasannya, lembut dan manis.

Aaah~Kaasan, Sasuke jadi merindukan Kaasannya itu. Sudah lebih dari setengah tahun ia tak mengunjungi kediaman Uchiha yang sejak kecil ia tinggali dengan orang tuanya. Saat berpacaran dengan Naruto, Sasuke tau kalau keluarganya kurang setuju dengan hubungan mereka, jadinya Sasuke menikah diam-diam dengan Naruto.

Dan terakhir ia ke sana adalah saat usia pernikahannya dengan Naruto menginjak lima bulan. Kaasannya , Mikoto, begitu senang melihat Sasuke membawa seorang istri yang cantik seperti Naruto, begitu juga dengan anikinya. Tapi berbeda dengan Tousan'nya, Fugaku, beliaw malah terlihat malas meladeni keduanya saat berkunjung dan malah mengatakan, "Aku tidak suka kau menikah dengan dia"sambil menunjuk Naruto yang langsung diam terpaku di tempat.

Yang Sasuke dan Naruto tau saat itu adalah, Fugaku tidak menyukai Naruto dan pernikahan mereka. Jadilah Sasuke dan Naruto tidak pernah berkunjung lagi ke kediaman utama Uchiha itu. Dan sampai mereka berpisah kemarin pun keluarganya sama sekali tidak tau apa-apa. Mungkinkah?

Sakura mengambil mangkuk nasi dan mengisinya untuk Sasuke juga dirinya. Dan saat keduanya akan menyuapkan suapan pertama ke dalam mulut suara bel lebih dulu mengintruksikan kegiatan SasuSaku.

"Aku lihat siapa yang datang dulu."Sakura beranjak dari duduknya dan langsung menuju pintu depan untuk melihat siapakan yang bertamu siang hari seperti ini. Dan Sasuke kembali melanjutkan acara makannya yang sempat tertunda. Sedang enak-enaknya menyuapkan nasi, Sasuke kembali terganggu dengan Sakura yang kembali ke meja makan dengan tiga orang lainnya mengekor di belakan.

Setelah jelas melihat siapa yang ada di belakang Sakura, Sasuke langsung tersentak kaget dan berdiri dari duduknya. Terlihat tiga orang itu adalah Itachi, aniki Sasuke dan kedua orang tua Sasuke, Uchiha Fugaku dan Uchiha Mikoto menatap Sasuke tajam.

"Kaasan, kenapa tidak mem–"

PLAKK

"Jangan berbasa basi denganku."Mikoto memberi tamparan sebagai salam pertemuan dengan Sasuke tepat di pipi kanannya.

"Kaasan. Tahan emosimu."tahan Itachi saat di lihatnya Mikoto sudah akan melayangkan tamparan kedua pada Sasuke. Fugaku yang melihat itu hanya bisa diam. Ia diam karna ia memang punya bagiannya sendiri nanti.

"Satu kali kau merahasiakan pernikahanmu dengan Naru-chan, aku mengeri, karna dia memang gadis baik-baik. Dan sekarang, kau malah menceraikannya? Dimana otak jeniusmu Uchiha Sasuke?"Mikoto begitu emosi. Menantu yang awalnya ia kira perusak anaknya dengan mengajak Sasuke untuk menikah tanpa persetujuan dari keluarga ternyata salah. Naruto begitu terlalu sempurna di matanya. Kepribadiannya yang hangat walau sikapnya yang terkadang urakan mampu membuat hati Mikoto berbalik senang padanya.

"Memalukan."cibir Mikoto sambil matanya menatap jijik pada Sakura dari ujung kaki sampai ujung kepala. "Inikah wanita pengganti Naruto untukmu? Menjijikkan. Kau benar-benar buta Sasuke. Aku sungguh malu mengetahui bahwa aku akan punya menantu sepertinya. Seorang wanita jalang"

"Kaasan–"

"Simpan kata-katamu itu Otouto. Kami sangat kecewa padamu."Itachi memotong ucapan Sasuke yang ingin membela Sakura yang sudah di hina habis-habisan oleh Kaasannya. "Kita pulang, Kaasan."Mikoto menurut saat Itachi menuntunnya keluar rumah dengan masih sempat-sempatnya memberikan tatapan kebencian dan juga jijik pada Sakura. Sakura yang di tatap seperti itu hanya bisa menundukkan kepalanya dalam-dalam. Entah ia harus marah atau menangis. Yang jelas sekarang perasaannya begitu kacau, Merasa perkataan Kaasan dari Sasuke memang sepatutnya ia sandang, kan?

"Hhaaah~ini sebabnya aku tidak suka kau menikah dengan Naru-chan. Kau bukan laki-laki yang pantas untuk wanita sebaik Naruto. Kau hanya sebagai awan mendung yang menghalangi sinarnya. Dan kau–"Fugaku menunjuk Sakura mengindahkan sopansantun yang ada dan melanjutkan, "Kau cocok bersanding dengannya. Kalian memang sama."

Setelah mengatakan itu, Fugaku ikut angkat kaki dari rumah Sasuke menyusul istri dan anak sulungnya yang sudah menunggunya di dalam mobil, meninggalkan Sasuke dan Sakura dalam keheningan ruang tamu yang begitu menyesakkan.

Terlau cepat. Kedatangan dan hinaan yang di lontarkan kedua orang tua Sasuke begitu singkat. Bahkan tidak sampai dua puluh menit ketiga orang itu menginjakkan kakinya di rumah Sasuke, tapi beribu dampak fisik dan batin yang di tinggalkan membekas dalam kesunyian.

Mereka masih terdiam, Sakura dengan tangisannya yang mulai pecah, dan Sasuke dengan kekalutan hatinya. Seperti orang bodoh, ia merasa sedang di permainkan oleh takdir. Cinta, Keluarga, semuanya seakan menjauh darinya. Meninggalkannya dalam belenggu yang ia kira adalah jalan hidupnya.

"Baru kali ini aku melihat Kaasan menampar orang. Apa lagi itu Sasuke. Setahuku Sasuke adalah anak kesayangan Kaasan bukan?"Itachi mulai buka suara setelah limamenit keheningan terjadi di dalam mobil yang di kendarai Itachi bersama Mikoto dan Fugaku yang duduk di bagian belakang.

"Karna itu, aku tidak ingin Sasuke salah memilih pendamping hidup."jawab Mikoto sambil oniksnya menatap keluar kaca mobil.

"Itachi."

"Ya, Tousan?"

Walau bibirnya memanggil nama Itachi yang kini kebagian menjadi supir, tapi pandangan mata oniks Fugaku memperhatikan raut wajah sendu istrinya. Di genggamnya jemari Mikoto, membuat yang bersangkutan langsung mengalihkan perhatiannya dari jalanan yang ada di luar kepada sang suami yang tetap memasang tampang stoicnya walau kelembutan terlihat jelas terpancar dari oniks sekelam malam suaminya itu. "Cari Naruto. Kita tidak harus menutup mata tentang hal ini."

"Baik, Tousan."

"Hhaaah~Naru-chan"Mikoto mendesah memanggil nama menantu kesayangannya itu. Dalam hati ia juga begitu berterima kasih pada suaminya yang walau terlihat tidak suka pada Naruto, tapi jauh di dalam hatinya ia bersyukur mempunyai menantu secantik dan sebaik Naruto. 'Terimakasih, Fugaku-kun'

Di waktu yang sama tapi di kota yang berbeda.

"Kapan kau akan mulai masuk kerja Shika?"Naruto dan Shikamaru terlihat sedang bersantai di Balkon kamar apartemen mereka di kota Suna saat ini.

Ya, mereka sudah pindah kemarin lusa. Tiba-tiba, dan membuat Tsunade yang di mintai ijinnya kaget bukan main. Pasalnya pasangan dokter-suster ShikaNaru adalah pasangan favorit Tsunade di rumah sakit. Dan mereka juga sudah ia anggap sebagai saudara sendiri, apa lagi Naruto saat itu baru saja keguguran dan masih butuh istirahat penuh. Tapi mau bagaimana lagi kalau orang yang bersangkutan memang ingin pergi dari kota itu untuk menghindar dari sesuatu –seseorang- yang menyakiti Naruto. Shika juga meminta tolong pada Tsunade untuk merahasiakan keberadaan mereka pada siapa saja yang bertanya.

"Kau tidak suka melihatku berada di rumah terus, Naru?"Tanya Shikamaru sambil melirik malas Naruto yang menyeruput tehnya. Naruto langsung buru-buru menjauhkan mulut cangkir dari bibirnya sebelum ia tersedak gara-gara fonis Shikamaru.

"Bu-bukan begitu."

"Lalu apa, hm?"

"A-aku hanya malu. Kenapa kita tidak pisah apartemen saja?"menundukkan kepala, Naruto mulai memainkan cangkir di tangannya dengan gelisah.

"Kau takut aku berbuat macam-macam? Kalau begitu ayo kita lakukan sesuatu yang macam–"

"Kau! Berhenti menggodaku, pemalas."teriak Naruto, kesal. Kecemasannya pada Shikamaru langsung luntur karna Shikamaru malah menggodanya dengan pikiran yang macam-macan. Sebenarnya Naruto takut nantinya Shikamaru akan jadi bahan gossip oleh tetangga mereka di sini, karna tinggal serumah dengan seorang wanita tanpa status pernikahan. Naruto sangat tidak ingin Shikamaru di cemooh dan di pandang jelek oleh lingkungan sekitar apa lagi kalau sampai ke rumah sakit Suna tempat kerjanya nanti.

"Hahahaha…kau lucu sekali. Aku mulai kerja besok."setelah mengatur tawanya, Shikamaru kembali melanjutkan, "Aku tidak ingin nanti ada tetangga yang mengiramu tidak ada yang punya. Jadi sebagai jaga-jaga, kita harus satu apartemen. Jadi tidak ada yang akan berniat mendekatimu."ucap Shikamaru santai. Ia memutar tubuhnya menghadap ke arah Naruto yang sekarang terlihat salah tingkah di kursinya.

"Kau ini."

"Lagi pula, apartemen ini ada dua kamarkan?"Naruto mengangguk meng-iya-kan perkataan Shikamaru.

"Hm…Terimakasih sudah mau membawaku pergi dan berada di sisiku sampai saat ini."

"Itu sebuah kesenangan untukku. Berada di dekatmu membuat tenagaku bertambah."

"Kau kira aku minuman penambah stamina?"Naruto berdiri dari duduknya dan mulai melangkah keluar dari balkon kamarnya.

"Bukan, tapi kau malaikat untukku."Shikamaru juga ikut berdiri, berjalan mendahului Naruto yang tiba-tiba saja diam terpaku di tempat karna ucapan Shikamaru yang menganggapnya malaikat.

"Aa….AH sudahlah. Ayo kita memberi salam pada tetangga kita. Kemarin kau tidur terus sih."

"Ya..ya.."tersenyum amat lebar, Shikamaru merasa sedikit lagi usahanya mendapatkan Naruto akan tercapai. Aaah~salahkan Naruto yang blushing, membuat Shikamaru bergitu percaya diri telah mengambil langkah lebar menuju pintu hatinya.

TING TONG…TING TONG

"Buka pintunya."

"Kau saja."

"Kau adikku."

"Kau hanya lahir dua menit lebih cepat dariku."

"Tapi aku tetap kakakmu."

"Jadi apa maumu?"

"Cepat buka–"

TING TONG…

"Buka pintunya, Gaara."

"Malas~"

"Gaara."

"Ada apa anikiku yang kusayang~?"

"Buka pintunya, Bodoh!"

"Ya..ya…tidak usah berteriak di depan telingaku juga, Baka-Sasori."

"Bagus adikku yang manis."

"Cih."

TING TONG..

"Tidak sabaran sekali sih…"pemuda yang di panggil Gaara oleh pemuda bernama Sasori itu berjalan menuju pintu depan apartemennya. Dan berdecak sebal karna merasa sang tamu tidak sabaran lantas memencet bel berulang-ulang. Pemuda bernama lengkap Sabaku no Gaara itu memegang gagang pintu, bersiap membuka pintu dan memelototi seseorang yang dengan seenaknya mengganggu kenyamanan bersantainya dengan sang kakak kembar duamenitnya itu di rumah. "Ya, mencari siap– Karin?"

"Lama sekali sih buka pintunya?"rengek seorang wanita dengan mata dan rambut yang sewarna darah, juga kacamata berflem hitam bertengger manis di hidungnya. Lengan wanita bernama Karin itu bergelayut manja di lengan Gaara, tapi bukannya risih, Gaara malah ikut merangkul pinggang wanita berpenampilan seksi itu.

"Aku kira tadi siapa yang bertamu. Kalau aku tau itu kau, pasti aku akan cepat-cepat membukakan pintunya."jawab Gaara sambil menggerayangi pinggang langsing Karin. Gaara mempererat pelukannya dan mulai menciumi leher jenjang Karin. Saat akan membuat kiss mark di leher itu, Karin terlebih dahulu mendorong bahu Gaara, menjauhkannya agar ia lebih leluasa bicara.

"Masuk dulu. Ini masih di depan pintu sayang~"

"Ah, aku lupa. Ayo masuk."

Mereka pun masuk kedalam dengan tak lupa menutup pintu depan yang sedari tadi masih terbuka. Terlihat Sasori, seorang pemuda duapuluh dua tahun tengah menikmati waktu santainya dengan membaca buku di sofa ruang tengah yang empuk tanpa menyadari Gaara dan Karin yang berjalan mendekatinya.

Sasori berperawakan hampir sama dengan Gaara, kalau tidak di bedakan dengan tato kanji ai di jidat juga lingkaran hitam di sekitar mata Gaara, maka Sasori dan Gaara akan benar-benar terlihat seperti saudara kembar.

"Sasori! Apa kabar~"sapa Karin dengan senyum manis yang kelewat manis ia tunjukkan di hadapan Sasori."

"Ooh Karin. Tumben kau kemari?"Tanya Sasori sekedar basa-basi pada kekasih dari adiknya itu. Setelahnya Sasori kembali berkutat dengan buku yang ada di gengamannya sedari tadi.

"Libur kuliah, dan aku-kan merindukan Gaara-kun."Karin kembali bergelayut manja di lengan Gaara. Membuat Sasori berdecak kesal karnanya. "Wah..wah..jangan memasang wajah iri begitu dong Sasori-kun. Cari kembali saja kekasih cantikmu itu."

Sasori langsung menatap tajam Karin yang kini sudah langsung menyembunyikan tubuhnya di balik punggung Gaara. Gaara yang sekarang jadi sasaran pelototan Sasori hanya mengangkat bahunya tanda tak perduli. Dan GaaraKarin langsung meninggalkan Sasori yang berdecak kesal di tempat.

Tidak mengindahkan kikikan Karin dari dalam kamar Gaara, Sasori pun memejamkan matanya, mencoba menghilangkan sesak yang kembali menelusup hatinya sekarang.

"Karin sialan."

"Aaaarrggh…bodoh..bodoh..bodoh..!"

"Berhenti memukul kepalamu seperti itu Naru."terlihat saat ini Naruto tengah memukul-mukul kepala kuningnya karna sesuatu hal yang menurutnya harus ia singkirkan dari orang dobenya itu.

"Itu semua salahmu. Aku jadi melihat mereka ber–aaarrgghh…aku tak mau menyebutkannya."Naruto kembali mengacak rambut pirang panjangnya sambil telunjuknya mengacuk kearah Shikamaru yang hanya bisa menghelah nafas bosan.

"Kenapa histeris seperti itu sih? Lagi pula, itu salahmu, kau yang mengajak aku mengunjungi tetangga kita."

"Ya..ya..itu salahku, tapikah, waaahh…aku malu."kali ini Naruto menutup wajah blushingnya dengan kedua telapak tangannya saat otaknya kembali memperlihatkan adegan GaaraKarin yang tidak senganja terlihat olehnya dan Shikamaru saat mereka akan mengunjungi tetangganya itu. Melihat tetangganya berbuat macam-macam di depan pintu yang masih terbuka, membuat Naruto jadi sedikit takut, takut kalau-kalau tenangganya itu berbuat macam-macam padanya suatu saat nanti jika ia sedang sendirian di rumah.

"Berhenti merontah-rontah seperti itu. Kau harus duduk diam, kalau tidak nanti akan ada kontraksi di rahimmu lagi."seketika Naruto berhenti mencak-mencak sendiri dan duduk diam di samping Shikamaru. "A–ya..maaf."Shikamaru yang kembali melihat raut wajah sedih yang di tunjukkan Naruto jadi merasa bersalah juga. Jadilah ia menggenggam jemari Naruto erat.

"Jangan jadi murung lagi. Lebih baik kau istirahat."Shikamaru menarik lengan Naruto mengajak si pirang untuk ikut berdiri dan menuntunnya menuju kamarnya sendiri. Naruto yang di perlakukan selembut itu hanya bisa menurut, toh ia memang lelah sedari tadi berkunjung ke rumah tetangga.

"Ya, baiklah. Eeeh..tunggu sebentar!"Naruto melepaskan genggaman tangan Shikmaru di lengannya. "Jangan macam-macam ya. Kau tadi bilang pada tetangga kita, kalau kita itu suami-istri. Apa sebenarnya maumu, hah?"

"Merepotkan. Kau benar-benar merepokan Naruto. Bukankah kau bilang tidak ingin terdengar gossip tentang kita? Ya sudah aku bilang saja kalau kita itu suami-istri. Jadi orang tidak akan menggosipkan kita."jawab Shikamaru enteng. Ia kini bersandar di pintu kamar Naruto yang terbuka lebar, melihat Naruto yang kembali geram di buatnya

"KAU!"

"Berhenti berteriak. Sekarang istirahat dan nanti sore masakkan aku makan malam yang enak ya, Istriku~"goda Shikamaru sambil melangkah memberikan ruang bagi Naruto bila tiba-tiba ia ingin membanting pintu kamarnya seperti kemarin.

"Uuhg….aku membencimuuuu…"

"Aku juga mencintaimu kok."

BLEM

Pintu itu pun sukses di banting oleh Naruto tepat di depan hidung Shikamaru yang tertawa lepas, merasa terhibur dengan melihat Naruto yang kesal seperti itu.

Udara sejuk, Matahari yang menyinari bumi dengah hangatnya dan kicauan burung yang menjadi musik pelngkap pagi ini tak mampu membuat seorang Nara Shikamaru bangun dengan tenang. Ia lebih memilih tetap tidur dan di bangunkan dengan suara yang gemanya bisa mencapai Indonesia#okeh, itu terlalu lebay, gara-gara Luti tuh smsin Yas terus#.

Dan benar saja, suara yang melengking itu kini sudah akan menunjukkan kebolehannya.

Brakk

"BANGUN PEMALAS! Kau mau telat masuk kerja, hah?"Apa ada yang merasa mereka sudah seperti suami istri? Kalau ia, kalian berarti sependapat dengan author.

Naruto melangkah mendekati ranjang Shikamaru dan langsung menyibakkan selimut yang memlilit tubuh kekar sang Nara. "Jadi ini yang membuatmu selalu telat menjemputku? Dasar pemalas, cepat banguuuun…"jerit Naruto tepat di telingan Shikamaru yang langsung membuka matanya.

"Hah…iya..iya…dasar wanita merepotkan."

"Kau yang merepotkan, Cepat cuci muka, kita sarapan."Naruto berjalan keluar terlebih dahulu untuk kembali menata sarapan yang ia buat di meja makan sebelum telinganya kembali mendengar godaan dari mulut Shikamaru.

"Baik istriku. Hehehe~"

"KAU…!"

"Bangun Sasuke-kun."suara lembut itu berasal dari Sakura yang tengah membangunkan Sasuke dari tidurnya yang sama sekali tidak nyenyak, karna di otaknya terus saja memutar semua perkataan kedua orang tuanya dan anikinya.

Bertolak belakang dengan cara Naruto membangunkannya dulu, Sasuke sangat suka cara Sakura membangunkannya sekarang. Dan bila nanti ia sudah resmi menikah dengan Sakura, ia sudah tidak usah mempermasalahkan cibiran tetangga padanya. Tapi, kunjungan keluarganya kemarin membuat ia jadi sedikit eer…takut?

Sasuke berjalan ke kamar mandi, membasuh wajahnya dan menemui Sakura di dapur untuk sarapan. Sasuke terus berfikir keras. Mencoba mencari kata-kata yang tepat untuk memulai pembicaraan yang mungkin sulit di terima oleh Sakura nantinya.

"Cepat duduk. Kita langsung sarapan, setelahnya kau mandi dan langsung ke kantor ya, Sasuke-kun?"

"Hn."Sasuke mulai sarapan dengan Sakura. Suasana begitu hening sampai Sasuke membuka suara dengan kalimat yang membuat Sakura mematung di tempatnya.

"Menurutku, kita undur saja hari pernikahan kita, Sakura."

_TBC_

#

#

Chapy 5 ini Sasu udah mulai Yas buat menderita. Yang nanyain Itachi juga udah muncul tuh, tapi masih sedikit. Dan ada beberapa tambahan chara lagi, Yaitu Sasori, Gaara, dan Karin. Sasori dan Gaara Yas buat jadi saudara kembar. Gaara pacaran sama Karin, dan untuk Sasori, ada yang bisa nebak apa perannya? Pasti bisalah. Soalnya Yas tuh bukan author yang pandai buat cerita yang terlalu misteri atau apalah itu yang bisa bikin readers penasaran.

Thanks buat yang udah review. N sekali lagi Yas gak sempet balas review dari readers, tapi Yas sangat-sangat berterimakasih karna udah menyempatkan RnR fic ini.

_Miki Hibiki_Nakamura Nezumi_narusaku20_yuchan desu_Queen The Reaper_Uchiha no Luti_The Devil's eyes_Aoi Namikaze_Hiruma Karin_xxruuxx_mitsu-tsuki_Imperiale Nazwa-chan_DheKyu_anon_Nasumichan Uharu_

Terimakasih semua~~

Sekali lagi maaf ya Yas gak bisa balas review, update ini aja ragunya minta ampun. Kayaknya ada yang gimana gitu di chapy ini. Tapi udah Yas pelototin juga masih gak ngeh. Temen Yas Queen aja sampe ikut

Akhir kata, saran dan kritik Yas terima dengan lapang dada, N

Review Please~~