CHAPTER 2
Hyukkie's pov
Arloji di pergelangan tanganku sudah menunjukkan pukul empat lewat tiga puluh menit. Itu berarti waktu yang kuhabiskan untuk menunggunya disini sudah sekitar lima belas menit.. ah, bahkan kurasa lebih. Sigh, Apa dia tidak tahu kalau aku hampir mati bosan disini?!
Aigoo..
Terkutuk kau setan fashion!Apa perlu memakan waktu sebanyak ini hanya untuk sekedar mengganti pakaian rumah? Menjengkelkan!
"Heii~ Mian lama."
Zhoumi mengambil posisi di sampingku setelah meletakkan nampan bawaannya di atas meja. Namja jangkung itu kini sudah berganti tampilan –dan sesuai dugaanku– membuatnya jadi tambah enak dipandang mata. Mari kita lihat; kaus long sleeve berwarna baby blue dengan singlet hitam di dalamnya dan dipasangkan dengan jeans senada dan juga dua buah bracelet dan kalung perak, terkesan santai tanpa menanggalkan kesan modis yang seperti sudah tertulis jelas di keningnya. Benar-benar tidak berubah -_-
"Kenapa lama sekali?!"
"Tadi jeans ku terselip di lemari. Jadi butuh sedikit waktu untuk menemukannya."
"Memangnya tidak ada yang lain?"
"Cuma ini yang warnanya cocok dengan kausku."
Lihat? Memangnya siapa lagi di dunia ini yang mau menaruh perhatian lebih untuk mencocokkan warna pakaiannya hanya untuk sekedar bersantai di rumah? Aigoo~ Pasti repot sekali punya hidup seperti itu, ckck.
"Hmm.. Lalu kau taruh di mana pakaian kotor yang tadi?"
"Eh? Memangnya mau kau apakan?"
"Bukannya kau memintaku kesini untuk mencucinya? Aku yang mengotorinya, kau ingat?"
Dia tertawa lalu mengacak rambutku gemas. Sigh~ mahkota kepalaku jadi hancur sekarang. Terima kasih banyak untuk tangan besarnya. Aku pun menata kembali rambutku sambil cemberut.
"Baju brandedku bisa hancur kalau kau yang cuci. Lagipula aku memintamu kesini untuk menemaniku. Apa kau keberatan?"
"Seharusnya kau bertanya itu sebelum menyeretku kesini, tuan."
Aku mempoutkan bibirku dan mulai meraih cangkir berisi cokelat hangat yang sudah disiapkannya tadi, menenggaknya sampai setengah habis dan merasakan sensasi nyaman di seluruh tubuhku setelahnya. Aku melirik Zhoumi, dan menangkapnya sedang memandangiku. Mendadak pipiku memanas, kenapa dia seperti itu?
"Wae?"
"Apa kau melakukan operasi plastik?" Zhoumi bertanya dengan wajah tanpa dosa, membuatku hampir memuntahkan kembali cokelat cair yang sepertinya baru saja tergenang di lambungku.
"MWO?! MUSUN MARIYA?!"
Jerapah gila! Apa dia pikir pantas bertanya se-frontal itu di hadapan wanita? Walaupun aku temannya, tetap saja dia tidak boleh seperti itu!
"Chill girl! Aku kan cuma bertanya, kenapa harus semarah itu?"
"KARENA. AKU. TIDAK. MELAKUKANNYA!"
Aku melotot horor, rasanya ingin sekali mengunyah kepala Zhoumi yang menyebalkan itu.
"Oh ya sudah. Habisnya aku heran.. mulai dari rambutmu, matamu, hidungmu, bibirmu.. semuanya tampak berubah. Kau terlihat cantik sekali, kau tahu?"
SESEORANG TOLONG POTONG JARI TELUNJUK NAMJA INI!
Aku benci fakta bahwa aku tidak bisa melakukan apa-apa selain merona mendengar penuturannya barusan. Belum lagi jarinya yang bergerak menyentuh rambutku, mataku, dan bagian-bagian yang ia sebut tadi, membuatku meleleh sesaat. Astaga~ Sejak kapan ia jadi pandai menggombal begini?
"I-Ini.. karena aku lebih merawat diri sekarang. Tapi aku tidak melakukan operasi! Kau lupa kalau aku takut jarum suntik?"
"Ah iya, kenapa aku bisa lupa? Mianhae~ daibuqui~ I'm sorry."
Dia minta maaf dengan beberapa versi bahasa yang mau tak mau membuatku terkekeh geli mendengarnya. Aigoo~ Bagamana bisa dia mengejek dan memujiku di saat yang bersamaan? Membuatku meledak dan merona hanya dalam selang waktu beberapa detik. Aku sendiri bingung kenapa bisa begini. Ah, sepertinya sifat alami wanita~
"Kau tinggal sendirian di sini?"
Aku mengganti topik dan kembali meraih cangkirku. Zhoumi ber-hum singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari plasma hitam di depan. Aku menghela napas, dan kembali bertanya kenapa ia betah tinggal sendirian untuk memecah suasana hening. Lagi-lagi jawabannya singkat. Karena aku suka, begitu katanya.
Menyebalkan.
Karena merasa kalau aku terus yang berinisiatif membuka percakapan, kali ini aku memilih untuk ikut diam dan menonton acara TV itu tanpa selera. Dan benar saja, setelah itu muncul suasana hening panjang yang benar-benar canggung menyergap kami berdua.
"YAH! Kenapa diam? Aku bosan! Antar aku pulang!"
Aku mulai merengek dan mengguncang bahunya, membuat tampang Zhoumi berubah dari datar menjadi mengerikan.
"Aku akan mengantarmu setelah makan malam."
"Kalau begitu jangan buat aku bosan!"
"Kau mau aku melakukan apa?"
"Bicara saja cukup."
"Aku diam karena sedang berpikir."
"Tentang apa?"
"Tentang apa yang harus kita bicarakan."
Sigh! Dia. Membuatku. Berasap.
"BICARA SAJA KENAPA HARUS BERPIKIR?"
"Kau mau kita mengobrol tentang apa?"
"Apa saja. Aku bosaaaan!"
"Kalau begitu.. Apa kau menyukaiku?"
"Meyuk- eh- ap- kau bilang APA?!"
Sialan! Aku terkejut setengah mati mendengar kicauannya barusan. Bahkan bisa kurasakan jantungku bergeser beberapa inchi dari tempatnya semula. Apa dia tidak bisa memikirkan topik lain?! Aish! Aku jadi menyesal sudah mendesaknya untuk bicara.
"Katakan."
Aku diam, memandangi lantai apartemennya yang putih mengkilap.
"Aku sudah bicara kini malah kau yang diam."
"..."
"Ayooooo Lee Hyukkie katakan aku penasaraaan!"
Benar-benar menjengkelkan.
"Iya. Aku menyukaimu, tapi itu dulu."
Aku menggigit bibir bawahku dan semakin menunduk. Iya benar, dulu aku memang menyukainya. Bahkan SANGAT sampai aku HAMPIR GILA! Namun lihat apa yang dia lakukan? Pergi begitu saja tanpa bicara apapun, membuktikan kalau aku benar-benar tidak berarti untuknya. Waktu itu rasanya hatiku amat sangat sakit! Menangis setiap malam selama berminggu-minggu membuatku seperti orang sekarat. Dan kolaborasi antara orang tua dan kedua sahabatku lah yang akhirnya berhasil membuatku bangkit setelah beberapa waktu disekap kesuraman. Umma dan Appa, Shindong oppa, dan Kyuhyun.. mereka lah yang setiap hari menghiburku dan membuat depresiku perlahan hilang ditelan waktu. ZHOUMI CHINA JANGKUNG SIALAN KAU YANG DULU ITU MEMANG BENAR-BENAR-
"Terkutuk."
"Eh? Apa?"
"Hmm? Anni."
"Kau melamun.. dan menggumam. Ada apa?"
"Just.. nothing."
Dia mengangguk kemudian kembali memandangi TV. Kurasa ia sedang berpikir lagi sekarang. Aiiih~ aku benar-benar bodoh! Completely an idiot! Bagaimana bisa aku melupakan semua masa menyiksa itu dan kembali dekat dengannya beberapa hari belakangan inI? Aku, si bodoh yang selalu merona tiap tangannya menyentuh wajahku, yang pipinya terbakar tiap mata besarnya menatapku intens, dan si gadis tolol yang meleleh kala digombali oleh pria yang sudah menyakitinya beberapa tahun yang lalu. Dan sekarang apa? Aku sudah melupakan itu semua dengan mudahnya! Lalala~
APA AKU BODOH?! APA AKU BODOOOH?!
Tolong jawab iya dan tembak aku di kepala sekarang juga.
Aish! Kurasa aku benar-benar lemah terhadap perhatian setiap namja.
"Ehm.. Hyukkie.. kalau sekarang.. apa kau masih menyukaiku?"
Apa dia berencana membunuhku sekarang?
"Eh? Uh.. hmm.. nae.. molla."
Aku memang benar-benar tidak tahu. Walaupun belakangan ini kami semakin akrab, kilasan memori yang kembali menguar beberapa detik yang lalu membuatku berpikir kembali. Dendamku terlalu besar untuk lenyap dalam waktu sesingkat ini. Dan pastinya, aku takut dia akan menyakitiku lagi kalau aku terlalu menaruh harap padanya. Apa aku gila? Tentu saja hatiku perlu bernapas! Luka dari si kepala besar itu rasanya belum kering benar.. dan sekarang?
"Kau melamun lagi."
Jari panjang Zhoumi menekan pipiku berkali-kali dan aku baru sadar kalau wajah kami sudah dalam jarak sedekat ini. Gasp! Gasp! Dengan tangan kanan yang bebas aku pun mendorong dadanya menjauh.
"Kutebak kalau kau sudah tidak menyukaiku lagi. Iya kah?"
Aku dua kali lipat lebih bingung dari yang sebelumnya.
"Kalau kubilang aku yang menyukaimu, bagaimana?"
MWO?! WHAT THE HECK IS HE TALKING ABOUT?! Apa dia sedang mabuk? Meracau? Atau jangan-jangan dia sudah gila.
"Serius? Ta-tapi kenapa cepat sekali? Maksudku.. Kau baru kembali beberapa hari yang lalu setelah sebelumnya meninggalkanku tanpa bicara apa-apa. Apa ini masuk akal?"
Kulihat sorot matanya berubah menjadi semacam.. sedih? Atau.. menyesal? Ah, pasti aku terlalu percaya diri menafsirkan pandangannya itu.
"Waktu itu aku terlalu bodoh. Maafkan aku."
"Tapi tetap saja.. ini terlalu cepat."
"Secepat inikah?"
Chu~
Dia mengecupku tepat di bibir selama beberapa detik lalu tersenyum. Mataku mengerjap dua kali untuk menyadari apa yang sedang terjadi. Ommo! Pipiku lagi-lagi seperti terbakar! Jantungku berdebar dua knot lebih cepat dari biasanya! Kurasa sebentar lagi aku akan mati! Ommo siapapun tolong akuuu! /
Sunyi lagi.
Selama aku meraih napasku kembali dan menenangkan jantungku yang sedang menggila, kami berdua hanya diam.
"A-Aku tidak mau membahas ini sekarang. Ganti topik."
Kurasa hanya itu yang bisa kukatakan saat ini. Namun dia tidak menjawab, pandangan matanya lurus ke arah sesuatu di belakangku.
"Hyukkie.. berbaliklah."
Eh? Secepat inikah dia menemukan tema baru untuk obrolan kami?
"Ada apa?"
"Barusan kulihat sesuatu hinggap di balik punggungmu."
Aku menurutinya, berbalik dan menghadapkan punggungku ke arahnya. Perlahan aku menelan ludah, perasaanku tidak enak.
"Benar. Ada serangga di punggungmu."
MWOOOOO? SERANGGGAAAA?!
Jantungku lepas. Ah Tuhan sungguh aku benci makhluk menjijikan itu!
"JAUHKAN ITU DARIKU! CEPAAAAT! TOLONG AKUUU!"
Aku mulai panik dan menggoyangkan seluruh badanku terutama bagian punggung, memberikan sensasi gempa dahsyat agar serangga itu jatuh dan segera pergi ke neraka. Namun Zhoumi? Dia tidak bereaksi apa-apa dan aku tidak merasakan sentuhan apa-apa di punggungku. Itu berarti Zhoumi tidak melakukan apa-apa terhadap serangga sialan itu. DAN ITU BERARTI MASIH ADA MAKHLUK SIALAN ITU MENEMPEL DI PUNGGUNGKU!
"KENAPA DIAM SAJA?! CEPAT USIR SERANGGANYA ZHOUMI! YAA TOLONG AKU JOOMYUK!"
Oh hebat, aku bahkan memanggilnya dengan nama Koreanya yang aneh luar biasa.
"Tidak bisa! Itu kecoa kecil! Aku tidak mau tanganku bau kalau menyentuhnya!"
Dia berteriak tak kalah panik.
"KALAU BEGITU GUNAKAN YANG LAIN SELAIN TANGANMU! AKU BENAR-BENAR TAKUT SEKARANG!"
"Kalau lepas dari punggungmu nanti kecoanya bisa terbang kemana-mana."
Aku tidak menjawab tapi terus menggerakkan badanku seperti orang gila.
"Lalu nanti kalau terbang ke lemariku.."
Aku masih bisa dengar gumamannya itu.
"Semua isi lemariku.. jadi.. bau kecoa."
OH BAGUS! Benar-benar seseorang yang bisa diandalkan!
Aku yang sudah tak tahan lagi akhirnya melepas kemeja longgarku dan melemparnya ke sembarang arah. Kecoa malang sialan itu kini sudah terkapar di lantai dengan tertindih pakaianku, hanya sebelah kakinya saja yang terlihat bebas dan bergerak naik turun, membuatku merinding luar biasa melihatnya. Hiiiiishhhh~
"Hyuk- kau- bajumu- dibuang- wae?"
Aku berbalik arah dan melihat Zhoumi yang sedang terbata-bata, lalu menoyor kepalanya sekali karena kesal.
"Karena kau tidak bisa diandalkan jangkung bodoh!"
Dia tidak menjawab, pandangan matanya kosong ke arah tubuhku yang..
Oh bagus. Aku hanya memakai tank top putih sekarang.
SIAL. SIAL. SIAL.
Kesialanku bertambah lima belas kali lipat saat tiba-tiba Zhoumi menerjang tubuh kurusku hingga terjatuh di sofa. Koala china itu kini sedang di atasku, memandangiku seakan dia tidak pernah melihat manusia sebelumnya. CRAP! Wajahnya mulai datang mendekat!
"Aku menyukaimu. Tidakkah kau tahu itu?"
Dia mengecup hidungku dan aku menahan diri untuk tidak menangis. Huweee kilat sekali! Aku sangat ketakutan sekarang! Tidak adakah yang bisa menolongku? Umma.. Appa.. Oppa.. Kyuhyun..
"Menjauhlah."
"Tidak bisa."
"Kalau begitu aku tidak akan mau bertemu denganmu lagi setelah ini."
"Kau tak akan seperti itu."
Lagi-lagi bibirnya menempel di atas bibirku, membuat badanku mulai gemetar sekarang. Rencanaku untuk menggigit bibirnya gagal karena tiba-tiba suara seseorang terdengar seiring pintu apartemen Zhoumi terbuka.
"YAA! GEGE ! SEDANG APA KAU?!"
Zhoumi menjauhkan kepalanya dariku sehingga aku cukup bebas untuk melihat ada siapa di depan pintu. Sesosok makhluk yang terlihat seperti kue beras atau mochi atau apapun itu sedang berkacak pinggang sambil memelototi Zhoumi dengan matanya yang sangat kecil.
"He- Henry? Kau datang? Kenapa tidak menelepon dulu?"
Aku bisa melihat kalau makhluk kecil itu menyeringai sekarang.
"Kalau Baba tahu, Gege pasti langsung diseret pulang ke rumah."
"I didn't do anything!"
"But you're just making out with a Korean here!"
Badan Zhoumi menegang hebat, terlebih saat makhluk-entah-siapa-itu mulai mengeluarkan ponselnya dengan gerakan slow motion. Koala mesum ini akhirnya melepaskanku dari kungkungannya dan langsung melompat ke arah namja yang satunya lagi untuk merebut ponsel. Saat mereka sedang bergelut tak jelas, aku pun menggunakan kesempatan emas ini untuk segera lari keluar tanpa sempat mengambil kemejaku yang masih tergeletak pasrah di lantai.
"Yaa! Lee Hyukkie jangan pergii!"
Persetan! Mulai dari kecoa kecil sampai KOALA MESUM BESAR SIALAN ITU.. TERKUTUKLAH KALIAN SEMUA!
Dan untuk mochi penyelamat.. terima kasih.. Tuhan pasti memberkatimu selalu bocah imut~
oOoOo
Donghae's pov
AKU BISA GILA!
Ini benar-benar akan membunuhku!
BOKONGKU KRAAAAM!
HAIIISHHH! Kenapa lagi-lagi rumah besar ini yang terlihat? Aku sudah melewati semua jalur yang ditunjukkan layar GPS tapi kenapa aku terus saja berujung di sini? Percaya atau tidak ini bahkan sudah kelima kalinya! Dari apa yang kulihat, daerah sekitar sini sangatlah sepi. Tidak ada halte bus, stasiun, taksi, atau bahkan sekedar telepon umum. Hampir dua jam sudah aku berputar-putar di sini namun tetap saja tidak menemukan seorang pun untuk sekedar bertanya arah. Bagaimana bisa ada tempat seperti ini di pojokkan kota Seoul? Mengerikaan!
Namun di sisi lain, sepinya daerah ini juga memberiku sedikit keuntungan. Ehm.. baiklah... maksudku, BANYAK sekali keuntungan! Bayangkan saja, kalau jalanan ini ramai seperti jalanan pada umumnya, pasti sudah ada selusin lebih mobil yang hancur akibat kutabrak dengan naasnya. Ehm.. maksudku, ini sangat wajar bukan? Mengingat aku harus menyetir selama dua jam lebih dengan fokus yang terbagi-bagi. Mulai dari mengingat jalanan belokan demi belokan, lalu aku harus mencari audi putih sialan yang tadi gagal kubuntuti, mengecek setiap lahan parkir rumah-rumah yang sebagian besar seperti tak berpenghuni, dan tentu saja berkonsentrasi seadanya pada jalanan di depan. Dengan kemampuan menyetirku yang –dengan berat hati kuakui– di bawah standar, harusnya aku sudah bisa jadi mesin pembunuh berbahaya saat ini.
Mataku terus berpencar ke kanan dan kiri. Ah, andai saja aku menyimpan nomor ponselnya. Harus berapa lama lagi aku harus berkeliling tak tentu arah begini? Sigh! Ini melelahkan!
Tapi tiba-tiba aku melihat sesosok yeoja berpakaian seadanya sedang berjalan gontai sambil menendangi kaleng minuman. Siluet tubuhnya sangat tidak asing. Tapi.. apa dia gila? Dia kemanakan bajunya itu?!
Gotcha!
Aku benar! Itu memang dia.. Lee Hyukkie.
Gadis sinting yang berkeliaran di tengah udara dingin musim gugur hanya dengan tank top putihnya. Completely insane!
Donghae's pov end.
oOoOo
Hyuk's pov
Aku sekarat! Kombinasi antara kelaparan, kedinginan, dan ketakutan.. rasanya sungguh lengkap untuk mati dalam penderitaaan kali ini. Sepenuh hati aku mengutuk teman SMA ku yang sudah menjelma jadi sesosok mesum yang mengerikan itu! Ponselku mati dan tidak ada apapun di sini bahkan untuk sekedar toilet umum! Daerah ini seperti hunian untuk para vampire yang menyukai kesunyian. Hishh! Sampai kapan aku harus menunggu disini?! Bis datanglah biiiiis! Taksi atau apapun itu.. kumohon datanglaaaah!
oOoOo
Donghae's pov
Aku menepikan mobilku dengan hati-hati, mengklakson sekali lalu menurunkan kaca secara perlahan. Yeoja itu tersentak saat melirikku tersenyum bodoh ke arahnya. Aku tahu jantungnya pasti bergeser tiga senti karena kaget. Hahaha~
"LEE DONGHAE?!"
"Masuklah."
Tanpa ba-bi-bu lagi dia langsung membuka pintu mobilku dan duduk tanpa kata. Aku meliriknya sekilas dan dia masih diam. Aku mulai berdehem untuk memecah keheningan.
"Ehm~"
"Ba- bagaimana kau bisa ada di daerah sini?"
"Ehm.. EHMM.. UHUK! UHUUUGHKKK! UHUUUKGHK!"
Aku tersedak salivaku sendiri karena terkejut. Haisssh si bodoh Lee Donghae~
Setelah menenggak sebotol air aku pun menjawabnya.
"Ah, aku baru pulang dari rumah sepupu."
"Ohhh~"
Setelah itu hening lagi. Aku fokus menyetir sambil sesekali mencuri pandang ke arah tubuhnya yang ternyata sudah mengigil dan bibirnya yang berubah kebiruan. Apa dia akan mati?! BERAPA MENIT LAGI DIA AKAN BERTAHAN?! AAAH.. SEANDAINYA AKU BISA MENYETIR LEBIH CEPAAAT!
"Gwaenchanayo?"
"Gwaenchana."
"Ehm.. Pakaianmu.. kemana?!"
Aku tidak bisa diam dan tetap penasaran lebih lama lagi. Sebenarnya aku sangat ingin tahu kenapa si tiang listrik meninggalkannya sendirian dengan kondisi seperti ini. Awas saja kalau dia sampai berani macam-macam terhadap si bodoh ini! Aku akan... aku akan.. mendoakannya semoga ia mendekam selamanya di dalam neraka.
Aihhh, ancamanku lemah sekali -_-
"Tertinggal di rumah Zhou- Zhoumi." Dia menjawab sambil memandang kosong ke arah dashboard mobilku.
"Kalau begitu pakailah hoodieku. Ada di bangku belakang sebelah pojok kanan. Ambil saja."
"Tidak usah."
"Nanti kau mati."
"Tidak akan."
Aiiish~ Dasar keras kepala! Kepala batu! Otak udang! Gadis idiot!
"Penghangat mobilku sedang rusak, kau bisa jadi myeolchi beku kalau tetap begitu."
Dia tetap tidak bergerak. Fuuuuuh~ Sabar Lee Donghae anak ayah yang tampan, pertahankan kebaikan hatimu saat ini. Semuanya akan ternodai kalau sampai diakhiri dengan kau yang melempar keluar gadis bodoh itu lewat jendela. Jangan lakukan itu. Hajimaaa!
Aku menghentikan mobil dan mengambil hoodie yang kumaksud lalu melemparkannya ke wajah yeoja batu di sampingku. Setelah memelototinya sebentar dan memaksanya, akhirnya ia mau memakainya juga.
"Kita kerumahmu?"
"Anni~ Bawa aku ke apartemen oppaku saja."
"Oppa?"
"Ne, Shindong oppa. Kau tahu? Dia juga termasuk alumni di klub dance kita."
"Tentu saja tidak tahu. Otakku hanya menyimpan informasi yang penting saja untuk di ingat."
"Itu karena kau bodoh."
"YAAAA!"
Sudah sekarat begitu masih bisa-bisanya menghinaku. Yeoja bodoh! Kenapa juga ia tak segera ke rumahnya dan beristirahat? Dan malah pergi ke rumah namja yang kutahu selalu bersamanya dengan namja bermata kelewat besar yang aku-lupa-siapa-namanya. Apa Kwiyoong? Ryuhoon? GweeHyun? Atau siapapun itu. Namun tiga sekawan itu.. mana mungkin aku bisa tidak tahu?
Ah, soal apa yang terjadi hari ini, aku akan mencari tahunya nanti. Mengingat kondisinya yang terlihat sangat tidak memungkinkan saat ini. Maksudku.. dia terlihat tidak sehat untuk sekedar membahas apa yang baru saja terjadi padanya. Tentu saja aku kasihan padanya yang terlihat sangat lelah. Setelah memberikan alamat oppanya yang dimaksud, aku pun membiarkannya tidur sampai kami sampai di tempat tujuan.
Dan lagi-lagi fokus menyetirku terbagi menjadi dua..
Pada jalanan di depanku..
dan..
pada wajah damai yang sedang terlelap disampingku.
Tahan Lee Donghae! Tahaaaaaan!
Tapi aku bersumpah bibirnya jadi kelihatan menarik sekali saat tidur begini.
Tebal dan.. seksi?
*Gulp*
Apa aku baru saja menelan ludah? Aigooo dasar namja lemaaah -_-
TBC
Fyuuuuh such a loooong hiatuuus ~
One month? Two months?! Kekeke~
Ini hasil perdana setelah saya kena WB.. Jelek? Pendek? kelambatan? Harap dimaklumi, namanya juga orang baru bangun 'tidur'. Kepalanya kelamaan gak dipake soalnya huahaha ^^v
Chapter depan semoga lebih bagus lagi yaaak xD
Btw untuk ke depannya saya usahain bakal update lebih cepat dan rutin dari biasanya. Doakan sajaaa :D
Lastly mind to Revieeeeew?
ThanKYU 3
