Leeteuk's pov

Hari ini sungguh berbeda. Saat dimana aku, Kanginnie, dan Sungminnie duduk bersama di ruang makan seperti biasanya, tetapi suasana yang begitu canggung menyergap kami bertiga. Kulihat anakku mengerjap kebingungan menyaksikan kontak mata antara kedua orang tuanya yang mungkin terlihat begitu mencurigakan. Iya, beberapa kali Kangin memang menatapku seolah berkata ayo-kita-pasti-bisa-melakukannya. Sedangkan aku, entah sudah berapa liter ludah yang kutelan gara-gara gugup tak berkesudahan.

Apa aku bisa mengatakannya?

"Sungmin-ah, bagaimana kuliahmu?"

Suamiku membuka percakapan dengan gayanya yang sok santai, padahal kutahu jantungnya pasti sedang berteriak minta dicopot sekarang.

"Ya begitulah appa, biasa-biasa saja. Mulai dari membaca materi, mengerjakan kuis, sampai menyetor nilai semua kulakukan di depan laptop. Memangnya apa lagi yang bisa kuceritakan?"

Kangin mengangguk paham sementara suasana hati Sungmin sepertinya memburuk. Topik seperti ini memang sedikit sensitif baginya.

"Memangnya kenapa kau memilih kuliah online lagi? Dari sekolah dasar sampai menengah atas kau kan sudah di home schooling. Apa kau tidak mau bersosialisasi dengan yang lain?"

"Bukannya tidak mau appa, tapi tidak bisa."

Seharusnya topik ini berhenti dibahas sampai di sini. Namun sayangnya, aku dan Kangin sama-sama tidak bisa menahan diri untuk memberondongnya dengan pertanyaan.

"Memangnya apa yang terjadi saat hari pertamamu di kampus?"

"Apa ada hal buruk terjadi?"

"Katakan sesuatu Lee Sungmin."

"Saat pulang ke rumah kau terlihat ketakutan. Kau juga belum menjawab pertanyaan umma waktu itu. Memangnya apa yang terjadi?"

"Apa aku terlihat seperti sedang ingin membahasnya? Jadi kalian memanggilku hanya untuk ini?"

Sungmin bangkit dari kursinya sambil cemberut. Uh-oh! Sepertinya kami sudah membuat emosinya memuncak sampai ke level teratas. Kangin pun memaksa Sungmin untuk kembali duduk di tempatnya.

"Bukan seperti itu chagi. Kau dipanggil karena ada hal penting yang ingin umma bicarakan."

Tunggu sebentar.. Apa Kangin bilang? Ada hal penting yang ingin UMMA bicarakan? Kenapa hanya aku? Aisssh perasaanku mulai tak enak.

"Jadi karena ini pembicaraan antar wanita, sebaiknya aku memberi kalian ruang untuk bicara empat mata disini. Appa pergi main golf dulu ne? Annyeong~"

Lelaki tambun itu pergi dengan cengiran tanpa dosa di wajahnya. Bahkan dia sempat mengedip genit ke arahku yang mulai berasap.

AFDHGKGLAGKAFKLSSHH! -_-

Beraninya dia lepas tanggung jawab begitu! Haisssh lihat saja Youngwoon-ah, kupastikan nanti malam kau akan tidur di lantai!

"Jadi.. ada apa umma?"

Deg.

Jantungku longsor seketika.

Sepertinya tak ada pilihan lain untukku selain mulai berbicara. Aku pun menghela napas berat sebelum membuka mulut.

"Umma dan appa sudah membuat keputusan penting tentangmu."

"Apa itu? Kalian mau memasukkanku ke kampus reguler lagi?"

"Bukan itu. Begini, kau tahu umma dan appa sangat sayang padamu, kan? Apakah salah kalau kami khawatir terhadap kondisimu yang-"

"Tidak punya teman? Jangan khawatir tentang itu, umma! Aku tak butuh teman. Yang kubutuhkan hanya umma dan appa! Bagiku kalian berdua juga sudah lebih dari cukup."

Aigooo..

Mata anakku yang biasanya berbinar mulai meredup sendu. Ah, aku benci ini. Sangat-sangat-benci. Kumohon jangan menangis Sungmin-ah. Baiklah, pemberitahuan hari ini sepertinya batal. Aku tidak akan jadi menjodohkanmu. Iya, tidak akan pernah. Semuanya batal.

-Batal? Yaa GaeTeuk pabbo! Ini semua demi kebaikan Sungmin, ingat?

Tapi dia akan menangis sebentar lagi!

-Menangis sehari tak akan membuatnya mati! Pikirkan lagi! Kesempatan ini tidak akan datang dua kali. Anak Kim Heechul itu sudah cukup sempurna untuk Sungmin-mu.

Tapi kalau nanti dia marah lalu kabur dari rumah bagaimana? Aku bisa mati berdiri kalau itu sampai terjadi!

-Berlebihan sekali kau ini! Bagaimana bisa kabur kalau melihat orang lain saja anakmu takut. Kau mau dia selamanya sendirian? Apa kau pikir kau dan Kangin bisa selamanya menemani Sungmin? Hah?!

Ah iya kau benar! Baiklah kurasa aku bisa melakukannya.

Tapi tunggu dulu..

Aku ini sedang apa, huh?

Apa dari tadi aku sibuk berdebat dengan diriku sendiri? Apa yang terjadi padaku? Mungkinkah selama ini ternyata kepribadianku ganda? Atau jangan-jangan aku sudah gila? Hiyaaah andwaeee! Baiklah, bertemu psikiater sepertinya harus ditambahkan dalam jadwalku besok.

"Umma?"

"Eh?"

"Bicara saja."

Aku menghela napas lagi dan mulai memposisikan diri senyaman mungkin di tempatku.

"Begini.. Kau itu sekarang sudah dewasa, Sungmin-ah. Umma dan appa juga semakin menua. Tidak selamanya kami bisa menemanimu terus kan? Kau sungguh butuh orang lain, chagi."

"Apa kalian mulai lelah denganku?"

Aku mengutuk diriku sendiri dalam hati. Astaga, bagaimana bisa dia berpikir seperti itu? Melihat wajahnya yang kini mulai merengut hatiku jadi semakin sakit. Namun aku bisa apa? Bukankah semua ucapanku itu kenyataan?

"Aisssh bukan begitu. Coba kau pikirkan baik-baik dan jangan menyangkal sesuatu yang sudah jelas. Umma tahu kau sendiri pasti sudah menyadari kalau suatu saat umma dan appa akan pergi ke surga. Umma tidak mau kau kesepian setelah hari itu tiba, Sungmin. Maka dari itu-"

"Lalu apa? Umma mau menjodohkanku? Begitu?"

"Eh? Tahu darimana?"

"Hmm.. tebakan beruntung, mungkin?"

"Oh."

Ada keheningan menyergap kami berdua. Perlu diketahui kalau aku memang benar-benar bodoh dalam hal mencairkan suasana, sangat berbanding terbalik dengan Kangin. Namun saat baru saja aku mau berbicara sesuatu, Sungmin sudah berteriak keras dan membuatku hampir terjungkal dari bangku. Ommo.. Apa dia baru menyadari arah pembicaraan ini?

"MWOOOO? JADI BENAR KALIAN AKAN MENJODOHKANKU?! NAN JEONGMAL SHIRREO UMMAAAA!"

"Aissssh! Apa kau mau membuat jantungku kabur, eoh?! Ini tidak seburuk yang kau pikir, Sungmin-ah! Calonmu anak teman Umma, scorenya 99! Tampan, tinggi, pintar, pokoknya hampir sempurna!"

Sungmin menelungkupkan kepalanya di atas meja sambil terus bergumam shirreo puluhan kali. Ah~ bukan berita baru kalau anakku memang keras kepala.

"Shirreo.. Shirreo.. Shirreo.. Shirreo... Shirreo.. Shirreo.. Shirreo eommaaaa!"

"Anni, Sungmin-ah. Kau baru boleh menolak rencana ini setelah pertemuan pertama dilakukan. Sebelum itu anggap saja eomma tidak pernah membicarakan ini padamu, arrasseo? Jangan terlalu dipikirkan, nanti kau bisa stres. Ingatlah keputusan ini belum final, kau masih bisa menolak kalau kau memang tidak suka padanya nanti."

Aku menepuk pundaknya dua kali lalu beranjak masuk ke kamar. Kau pasti bisa melakukannya dengan baik, Sungmin-ah.

Leeteuk's pov end

oOo

Sungguh sebuah hari yang sempurna bagi seorang Cho Kyuhyun. Tidak ada jadwal kuliah, dosen menyebalkan, ataupun yeojadeul manja yang biasa mengganggunya, kini hanya ada dia dan game starcraft tercinta. Entah sudah berapa jam ia berhadapan dengan macbook keramatnya itu. Tidak ada kata lelah bagi seorang Kyuhyun, terlebih di hari yang terlalu sempurna seperti sekarang.

Namun semua tahu kalau di dunia ini tidak ada yang abadi.

Karena tiba-tiba semuanya berubah saat..

DDAN DARANDDAN DDAN DARANDDAN DAN~

Ringtone bonamana dari ponsel ummanya berdering nyaring dari kamar sebelah. Kyuhyun mulai bergusar frustasi saat benda laknat itu tetap tidak mau diam. Ia pun berusaha mengabaikan ponsel ummanyayang sudah berteriak minta diangkat itu.

"KYUHYUN-AH! TOLONG AMBILKAN PONSEL UMMA!"

Sahutan keras dari lantai bawah mulai terdengar. Namun yang namanya Cho Kyuhyun, saat sudah bersama starcraft siapa lagi yang bisa mengusiknya?

"AKU SIBUK! DEMI TUHAN CEPATLAH ANGKAT BENDA BERISIK ITU, UMMA! PONSELMU BENAR-BENAR MENGANGGU!"

"MAKANYA CEPAT AMBILKAN! UMMA JUGA SEDANG TIDAK BISA BERGERAK! KUTEX DI KAKI UMMA BELUM KERING, CHO!"

DDAN DARANDDAN DDAN DARANDDAN DAN DARRANDANAN~

"Aiiish! Seharusnya kau tinggalkan ponselmu dalam kondisi silent!"

"Mana kutahu kalau ada yang mau menelepon! Sudah cepat ambilkan!"

Teriakan Heechul dari ruang TV di lantai satu saling bersahutan dengan lengkingan keras dari mulut Kyuhyun yang sedang berada di kamarnya di lantai dua. Bisakah terbayang betapa ributnya suasana rumah itu? Kalau belum, pejamkan matamu dan bayangkan suasana prajurit yang sedang saling berteriak memberi komando di medan perang. Ya, kurang lebih seperti itu nuansanya. Mengerikan.

Kyuhyun bangkit dari zona nyamannya dan merusuh masuk ke dalam kamar sang eomma. Dengan gusar, ia raih ponsel berisik itu yang masih saja berdering keras. Kemarahannya naik beberapa strip saat melihat rentetan nomor penelepon yang ternyata tidak tersimpan di phonebook eommanya.

Kebahagiaanku dirusak oleh penelepon asing. Awas saja kalau tidak penting.

Namja ikal itu menjejakkan kakinya keras-keras, pertanda ia sedang kesal. Saat mencapai pinggiran tangga sosok Heechul sudah mulai terlihat di bawah sana. Kyuhyun yang malas turun ke bawah akhirnya hanya berteriak memanggil eommanya dari atas.

"Eommaa~ ...tangkap!"

Ssssuing~

Kepala Heechul teralihkan dari plasma besar yang sedang ditontonnya menuju ke sumber suara. Namun baru sedetik menoleh, dahinya langsung disambut oleh sebuah benda berisik yang masih bergetar heboh.

Trakkkk!

DDAN DARANDDAN DDAN DARANDDAN~

Ternyata Kyuhyun –dengan pintarnya– melempar ponsel itu dari lantai dua. Beruntung setelah menubruk dahi ratu kita yang agung Cho Heechul, benda itu mendarat aman di pangkuannya.

"CHO KYUHYUUUUUNNNN!"

Tiba-tiba Kyuhyun merasa akhir hidupnya sudah di depan mata.

"Mi-mian eomma! Kau bisa bunuh aku nanti setelah mengangkat telepon itu, se-sepertinya dari orang penting."

Kyuhyun berbohong dan segera melarikan diri ke dalam kamarnya. Dengan panik ia membanting dan mengunci pintunya dua kali, mengganjalnya dengan lemari, dan mulai mengepak semua pakaiannya ke dalam koper. Namun saat ingat kalau hari itu sang appa sedang ada di rumah, ia merasa sedikit aman dan menaruh kembali pakaiannya ke dalam lemari. Lalu ia pun menyibukkan diri lagi dengan starcraftnya yang sempat tertunda.

Di lain sisi..

Heechul hanya bisa memandang kesal ke arah Kyuhyun yang menghilang ke kamarnya dengan kecepatan cahaya. Anak itu pasti akan membayarnya, lihat saja! batin Heechul seram. Amarahnya masih di ambang batas normal saat ia memutuskan untuk melirik ponsel merahnya yang masih berdering. Matanya menyipit tajam kala melihat barisan nomor yang sepertinya tidak asing. Dengan gusar ia mengangkat ponsel tersebut dan berteriak tanpa sengaja, seolah sapaannya menyemburkan lahar panas sampai ke sang penelepon di seberang sana.

"YAA! NUGUYA?!"

"Ommo kau membuat telingaku berdarah, Heechul-ah. Ini aku, Leeteuk. Bukankah kita sudah bertukar nomor saat di cafe waktu itu? Kau tidak menyimpan nomorku?"

Heechul menghela napas kesal. Ia ingat kenapa nomor Leeteuk bisa lenyap dari kontaknya, karena itu memang ulahnya sendiri. Heechul menghapus nomor temannya itu karena saat ia mengirim pesan untuk bertanya tentang perjodohan anak mereka, Leeteuk tidak membalasnya. Sepele? Tapi memang begitulah salah satu dari sekian banyak tabiat (menyebalkan) dari seorang Heechul.

"Terakhir kau tidak membalas pesanku, makanya nomormu kuhapus. Mau apa menelepon?"

"Ini.. aku mau membahas tentang perjodohan yang kita bicarakan waktu itu. Kyuhyun.. dan Sungmin."

Heechul memposisikan ponselnya dengan nyaman di telinga kanan. Setelah itu ia berhum-ria, seolah mempersilahkan Leeteuk untuk menyambung pembicaraanya.

"Ehmm.. aku dan Kangin menerimanya. Jadi.. kapan kita bisa makan malam bersama?"

Heechul terlonjak antusias seperti roti yang baru keluar dari panggangannya. Ia pikir Teuki sudah melupakan tawarannya waktu itu.

"KAU SETUJU?! HIYAAAH! Ehm, baiklah.. bagaimana kalau minggu depan? Atau lusa? Atau besok? Atau kau mau hari ini?!"

Di seberang sana, Leeteuk terkena dua serangan sekaligus. Ia terkejut.. dan juga kebingungan.

"Hmm.. terserah?"

"Jhoa! Kalau begitu lusa saja. Reservasi restaurant biar aku yang mengatur. Alamatnya akan kukirim besok, okay?"

"Hu'um. Kalau begitu.. sampai bertemu nanti?"

Leeteuk dengan ragu menunggu sapaan penutupnya dibalas oleh Heechul, tetapi nihil.. sambungan itu sudah diputus begitu saja oleh yeoja eksentrik di seberang sana.

"CHO KYUHYUUUUUNNN!"

Heechuk meniti satu-persatu tangga dengan langkahnya yang panjang. Tak butuh waktu lama baginya untuk sampai di depan kamar sang target. Ia pun mengetuk pintu tersebut dengan brutal. Kyuhyun yang panik mulai mempertimbangkan opsi untuk keluar lompat lewat jendela. Namun berhubung ia takut ketinggian, niat tersebut batal seketika.

Krieeeet

Pintu itu dibukanya secara perlahan, dan Kyuhyun merasa seperti sedang berhadapan langsung dengan malaikat pencabut nyawa. Heechul–dengan dahinya yang masih merah– mengintip sekilas ke kamar anaknya. Matanya membulat kala melihat sepotong celana pink yang masih tergantung rapi bersama bandroll dan plastik pembungkusnya. Mendadak topik yang ingin disampaikannya seperti terbang begitu saja.

"Eh? Celana yang waktu itu eomma belikan.. belum kau sentuh sama sekali?"

Kyuhyun membuang napas lega. Ia pikir sang eomma akan langsung menghantam kepalanya balik menggunakan ponsel.

"Nde. Celana itu terlalu pendek dan menggelikan. Lagipula aku tidak pernah minta dibelikan celana padamu, bukan? Tidak perlu repot-repot, sih."

Heechul membuang napasnya kasar dan men-deathglare sang anak yang kini terlihat seperti ingin meringkuk ke dalam selimutnya dan mati ketakutan.

"Baiklah, ditambah ini.. eomma jadi punya tiga hal penting yang ingin disampaikan."

"apa itu?"

"Pertama.."

Slap! Heechul memukul belakang kepala Kyuhyun dengan segenap jiwa. Yang jadi korban hanya mampu mendesis kesakitan dengan napasnya yang tertahan.

"Bayaran untuk lemparan-tidak-terlalu-sukses-mu yang tadi. Kau tidak berbakat jadi pemain baseball, Kyu. Jadi jangan pernah coba memainkannya."

Kyuhyun mendengus kesal.

"Yang kedua.. celana itu harus kau pakai. Kalau tidak, kau tidak akan pernah punya celana baru lagi seumur hidup. Arrachi?"

Luncuran protes yang baru saja mau meluncur dari mulut namja tinggi itu terputus begitu saja saat sang eomma kembali membuka suara.

"Dan yang terakhir, lusa kita akan pergi makan malam dengan Teuk ahjumma dan anaknya. Dia sangat manis, dan akan jadi calon tunanganmu nanti. Jadi, bersiaplah."

"MWOOOOO?!"

"Telan dulu protesmu itu, Cho. Semburkan lagi setelah kalian berdua bertemu dan kau tidak tertarik padanya. Sigh, yang tentu saja tidak akan pernah terjadi. Aku bertaruh kepalaku kalau kau pasti jatuh cinta, Kyu. Hahaha~"

Sebenarnya Kyuhyun ingin melotot dan berteriak tidak terima. Namun apa daya, lebih baik menuruti keinginan sang eomma daripada hidup menderita di tengah jalanan, bukan? Lagipula Kyuhyun tahu kalau selera eommanya bisa dibilang tinggi, jadi bocah itu memutuskan untuk berhenti menolak dan pasrah mencobanya.

TBC

xXx

Giyaaah yang barusan itu apaaaaaaaa? -_-

Secuil bagian buat nunjukkin kalo saya masih hidup.

Iya, author yang bikin ff ini masih hidup kok.

Jadii.. ehm.. hallo semuanya, apakabar?

Gatau deh mau berkicau apalagi,

Yang jelas please keep reviewing yaa.. biar semangat main ke sini lagi.

Biar semangat bikin kyumin n haehyuk nongol di chap selanjutnya.. selanjutnya.. dan selanjutnyaaa..

Pokoknya biar semangaaat deh~ hwaiting (_)9

~ThanKYU~