GENDER BLENDING

.

Katekyo Hitman Reborn! By Amano Akira.

A 691869's Fanfiction by Higarashi Yumiko.

.

Warning: fem!69, shounen-ai, lime (mungkin) nanti.

Hati-hati dengan kemungkinan OOC & typo's.

Pairing: [TYL] 6918 & 18fem!69 (maybe).

#[ semiAlternative Universe ]#

.

[Sebagai permintaan maaf sudah membuat menunggu. Saya kasih chapter yang lebih panjang deh!

Sekali lagi, Terima kasih~]

.

Summary: "Ku—kufufu… kau yakin aku harus memakai benda 'itu'?" Mukuro bertanya sembari menunjuk benda—yang menurutnya—nista itu di tangan Chrome. Sementara yang ditanya hanya mengangguk dan menjawab. "Tentu saja Mukuro-sama. Pastinya tak akan ada wanita yang tidak memakai ini, kan?"

.

Please Enjoy, Minna! wd

Chap 02: Permulaan Yang Buruk.

.

.

.

.

~X0X~

Markas Vongola

"MAAFKAN KAMI, JUUDAIMEEE!"

Permintaan maaf yang lantang dari kedua orang di hadapannya, justru malah membuat Tsuna semakin mengurut keningnya. Entah sudah yang keberapa kalinya mereka minta maaf seperti itu. Sebenarnya Gokudera tidak punya salah apapun sih. hanya saja isi botol obat itu tak akan sampai terhirup oleh Mukuro, jika saja Gokudera tidak melepaskan pengawasan pada hewan box weapon-nya, kucingnya itu tidak membawa botol itu keluar dari ruang kerja Giannini.

Jadi anggap saja lima puluh persen adalah kesalahannya.

-Dan juga kesalahan Uri tentunya.

"Sudahlah Gokudera, jangan berlebihan begitu. Ahaha," Yamamoto menertawai permintaan maaf mereka yang menurutnya seperti kaset rusak. Yang langsung dibalas delikan yang bersangkutan.

"Diam kau, Yakyuu-baka!"

Jadi beberapa menit yang lalu dia sudah mendengar penjelasan mengenai kasus gender blending yang dialami Mist Guardian-nya. Dan Tsuna benar-benar tak habis pikir, bagaimana mungkin 'obat pelumpuh flame' efeknya bisa melenceng sampai sejauh itu. Vongola Decimo itu hanya bisa menghela napas. "Ini ada obat penawarnya kan, Giannini-san?"—memandang ke arah ahli mekanik bertubuh tambun itu.

"E—eeh… anoo, Juudaime sebenarnya…" merilik sedikit sedikit ke arah lain, kemudian mengira-ngira apa yang akan terjadi jika ia mengatakan hal ini. "I-itu…" sumpah, ia benar-benar tidak berani bicara.

"Hei, cepat katakan saja!" Gokudera yang sudah tak sabar akhirnya bertanya. "Kau masih beruntung karena Mukuro tidak ada di sini, kan!" ia melirik Chrome yang berdiri tak jauh darinya.

Oho. Ada yang penasaran dimana Mukuro sekarang?

Mist Guardian yang malang(?) itu sekarang sudah berada di kediamannya bersama Hibari—kekasihnya. Ia dan Hibari langsung pulang setelah kejadian itu. Heh, memangnya mau ditaruh dimana harga dirinya, jika ada orang lain yang melihatnya seperti ini? Karena itu Mukuro menyuruh Chrome mewakili dirinya untuk hadir dalam rapat dadakan mengenai kejadian tadi dan memberi tahu padanya jika nanti ada solusinya.

Memilin ujung jasnya dan menatap ke bawah yang entah kenapa jadi terlihat lebih menarik daripada wajah sang Juudaime. "A—anoo… se-sebenarnya, aku belum membuat serum penawarnya…"

-EH?

.

.

.

Krik. Krik. Krik.

"UUAPAAA?"

Sungguh sebuah reaksi terkejut yang lambat dari semua Guardian Vongola yang ada di sana. Kecuali Chrome yang hanya menutup mulutnya, Lambo yang tidak ada di tempat dan Sasagawa Ryohei yang kebetulan sedang menjalankan misi ke Itali, tepat setelah pengenalan 'obat pelumpuh flame' tadi pagi.

Tsuna yang sudah sadar dari keterkejutannya kembali bertanya. "Kenapa kau tidak membuat serumnya, sih?"

"Ka-karena aku berpikir obat itu digunakan untuk melumpuhkan musuh, jadi aku tak perlu membuat serum penawarnya, Juudaime…" kemudian ia melanjutkan. "Dan lagi ternyata aku salah mengkombinasikannya dengan campuran lain, makanya hasilnya jadinya… seperti itu deh. A—ahaha…"

Dengan tampang nelangsa.

'BU-BUKAN SAATNYA TERTAWA, KAAAN?'

"Kau itu—" Gokudera yang juga kesal, agaknya jadi was-was sekarang. Karena jika Giannini tidak membuat penawarnya dan mengembalikan Mukuro ke bentuk(?) semula. Bisa dipastikan keselamatan jiwanya—dan Uri—tentu akan terancam, kan? "Lebih baik cepat kau buat penawarnya, Baka!"

"Gokudera-kun benar, Giannini-san…" ia benar-benar khawatir jika sampai terjadi sesuatu pada kedua orang di depannya ini karena Mukuro mengamuk pada mereka. "Kau cepat selesaikan penawarnya, kemudian berikan pada Muku—eh, pada Chrome saja maksudku," Tsuna menoleh pada gadis berambut ungu yang sejak tadi diam saja, entah kenapa. Mungkin karena majikannya yang tampan itu sekarang sudah 'sejenis' dengannya. Mungkin.

"Dan untuk semua Guardian yang ada di sini diwajibkan untuk merahasiakan tentang perubahan gender Mukuro ini kepada siapapun juga, ya!" Tsuna menatap semua Guardian-nya secara begantian dengan tatapan serius. "Ada apa, Yamamoto?" ia bertanya pada Yamamoto yang mengajukan tangannya.

"Apa Senpai, Lambo, dan juga anggota Vongola lainnya juga tidak diberi tahu?" kemudian ia melihat Tsuna mengangguk.

"Yang lain tak perlu tahu, cukup kita ada di sini saja yang tahu. Karena semakin banyak orang yang tahu tentang hal ini, maka semakin besar juga kemungkinan rahasia ini akan bocor," lanjut Tsuna.

Gokudera yang ada di sisi kanan bos-nya itupun ikut menjawab. "Benar juga. Bisa saja jika masalah ini diketahui oleh pihak musuh, kemungkinan mereka akan memanfaatkan situasi yang ada lalu menyerang kita, bukan?" yah—walaupun ia yakin sepenuhnya Mukuro tidak akan semudah itu dapat dilukai oleh musuh hanya karena keadaan fisiknya sekarang sudah berubah sih.

Sementara sang mekanik Vongola yang diduga tersangka utama kasus ini hanya bisa menelan ludah. Tak menyangka kejadian sepele, malah berakhir serius seperti ini. Dan sepertinya mau tak mau ia jadi merinding sendiri saat mengingat jika ia tak bisa membuat serum penawar yang tepat dan mengembalikan Mukuro seperti semula, maka dapat dipastikan bukan hanya nyawanya yang terancam—karena Mukuro, tentunya—tapi seluruh Vongola kini dalam bahayaaa!

O-oke, Itu berlebihan memang.

Asal tahu saja ya, ia bahkan belum pernah bicara secara langsung dengan Mist Guardian itu, lho. Terus—dari mana coba, ia bisa mendapat kesimpulan begitu? Dari G**gle, kah?

EEEH?

-Abaikan saja yang terakhir.

"Ini adalah misi baru kalian semua; yaitu jangan sampai 'pihak luar' mengetahui hal ini, bagaimanapun caranya!" dan Vongola Decimo itu melihat semua bawahannya mengangguk patuh. "Kuberi nama misi ini 'Gender Blending'!" ujarnya lantang.

Ada yang berpendapat, rasanya pemberian nama misi itu tidak penting, ya.

Icon;sweatdrops…

"Hoi! Kau bisa menyelesaikan serum penawarnya berapa lama?" Strom Guardian Vongola itu bertanya pada Giannini.

Mengusap dagunya, Giannini membalas. "Uhm… aku rasa, tiga hari cukup."

Yamamoto menjentikkan jarinya, lalu memandang Chrome. "Apa dua orang yang bersamamu dan Mukuro itu juga tidak diberi tahu?"

"Ken dan Chikusa maksudmu?" dan Chrome meihat Yamamoto mengangguk.

"Tentu saja, Yakyuu-baka! Kan tadi Juudaime sudah bilang tidak ada yang boleh tahu. cukup kita saja!" dan saat mendengar tawa renyah Yamamoto, mau tak mau wajahnya malaah memerah tanpa sebab. "Che!"

"Giannini-san, kau yakin tiga hari waktu yang cukup untuk membuat serumnya?" Tsuna bertanya dengan khawatir.

"Tenang saja, Juudaime. Serahkan semuanya padaku," pria setengah baya itu menepuk-nepuk dadanya. "Aku kan mekanik dari Vongola! Ahahaha," ujarnya bangga.

Semua yang ada di sana hanya bisa memandangnya dengan wajah suram sambil berkata;

'Memangnya ini semua gara-gara siapaaaa?'

"Karena sudah tak ada lagi yang perlu dibicarakan. Kalian semua boleh bubar," Tsuna membubarkan mereka. Tapi sesaat ia ingat akan sesuatu saat melihat Mist Guardian wanita-nya hendak pergi dari ruang rapat Vongola. "Tunggu Chrome!" merasa dipanggil, yang bersangkutan pun berhenti berjalan dan menghadap bos keduanya.

"Ada apa, Bossu?" gadis berambut ungu itu melihat bosnya berjalan ke arahnya dan berhenti beberapa meter di hapannya. Ia mengerutkan dahi saat melihat raut wajah serius kembali muncul di wajah pemuda berambut cokelat itu.

"Ini tentang Mukuro," ia melanjutkan "Dan untuk tiga hari kedepan…"

.

.

.

.

~X0X~

"Jadi ia butuh waktu tiga hari, ya?" Mukuro menghela napas lagi. Entah sudah berapa kali dalam sehari ini ia menghela napas terus.

Belum lama tadi, Chrome datang dan menjelaskan secara singkat isi dari rapat di markas Vongola tadi. Sebenarnya barusan ia sedang ada di kamarnya—dan Hibari-, yang kemudian Chrome datang.

Eh, jangan berpikir yang tidak-tidak, ya! Mereka itu di kamar hanya tidur-tiduran saja kok, bukan yang lain. Sebenarnya sih, hanya Mukuro yang tidur-tiduran sedangkan kekasihnya itu tidur betulan. Mukuro jadi bertanya-tanya kenapa Hibari bisa tidur setenang itu padahal sekarang ia sedang dalam keadaan—seperti ini. Oke, sebenarnya tak heran juga sih karena itu 'Hibari Kyoya' kan?

"Iya, Mukuro-sama."

ia hampir saja tak bisa menahan untuk tersenyum saat melihat keadaan penyelamat nyawanya itu—yang masih memakai kemeja putihdan celana hitamnya tadi—yang sudah pasti kebesaran. Tapi tentunya ia tak akan tega jika melihat Mukuro yang seperti ini malah ia tertawai, kan? Karena seharusnya saat ini ia memasang wajah prihatin(?), karena bosnya itu terancam menjadi kambing percobaan.

"Kufufu. Jika ia tak bisa menepati janjinya dan mengembalikanku seperti semula. Maka ia akan—" Mukuro meraih pulpen di atas meja ruang tamu. "—seperti ini. Kufufufu…" kemudian mematahkannya.

Chrome sukses dibuat sweadrop.

Yang berambut ungu tersenyum tipis—berusaha membuat majikannya tenang. "Karena itu Mukuro-sama ini untukmu…" ia menyodorkan kantung kertas—mirip kantung belanjaan di mall—pada Mukuro. Bukan hanya satu atau dua, tapi mungkin kira-kira ada lebih dari lima kantung belanjaan. Disambut wajah bingung Mukuro yang menerimanya.

Membuka satu kantung belanjaan, yang berambut biru itu menatap horror isi dari kantung belanjaan yang ia buka barusan. Dan tertawa miris. "Ku—kufufu… Tidak, terima kasih!" ucapnya tegas, seraya menyodorkankan kembali kantung—yang menurutnya berisi hal nista—itu pada mantan mediumnya.

Meraih kantung yang disodorkan Mukuro padanya. "Kau kan tak mungkin memakai baju seperti itu terus selama tiga hari kedepan, Mukuro-sama…" dengan sabar gadis inosen berambut ungu itu mengingatkan Mukuro. "Kau bisa sakit nanti."

"Oya? Itu—lebih baik menurutku, kufufu… daripada memakai benda 'itu', bukan?" Mukuro menunjuk kantung yang tadi ia pegang, dan sekarang sudah berpindah tangan.

Tentu saja apa yang Chrome katakan barusan itu akan menjadi nyata jika Mukuro tetap bertahan dengan memakai pakaian seperti itu selama tiga hari yang akan datang, bukan? Kemeja tipis plus celana panjang yang kelonggaran seperti itu akan dapat membuatnya masuk angin dalam waktu cepat. Apalagi sekarang masih musim semi.

Penasaran karena melihat reaksi berlebihan Mukuro itu ia pun melongok isi dari kantung yang ada di tangannya. Oh—pantas saja reaksi Mukuro sampai sebegitunya ternyata karena ini, toh? "Tapi kau tetap harus memakainya, lho, Mukuro-sama," ungkapnya sembari tertawa kecil.

"Ku—kufufu… kau yakin aku harus memakai benda 'itu'?" Mukuro bertanya sembari menunjuk benda—yang menurutnya—nista itu di tangan Chrome.

Sementara yang ditanya hanya mengangguk dan menjawab. "Tentu saja Mukuro-sama. Pastinya tak akan ada wanita yang tidak memakai ini, kan?"

Ya—itu memang wajar untuk wanita normal, Chrome. Tapi jelasnya untuk wanita yang satu ini, kata 'normal' agaknya patut dipertanyakan.

Oke, ini benar-benar tidak baik. Jadi sekarang ia tak punya pilihan lain sepertinya. Dan ngomong-ngomong, ia memang sudah tidak nyaman memakai pakaian kelonggaran seperti ini. Takdir sepertinya senang bermain-main dengannya sejak dulu. Namun ia juga tidak menyangka, bahwa takdir akan membawanya pada situasi dimana ia yang seorang pria normal(?) malah henshin jadi perempuan jejadian.

"Jadi—Mukuro-sama pakai pakaian dalam ini, ya," Chrome memberikan benda itu pada pemuda—eh, pemudi di hadapannya. "Tolong jangan lupa bajunya, ya."

,coba?

-Cough. Cough. Cough.

Dan bagi Mukuro kelihatannya tiga hari kedepan tidak akan berjalan dengan lancar begitu saja. Ia punya firasat tiga hari kedepan akan terjadi serentetan hal yang pastinya ia tak akan suka, tapi takdir sukai(?). entah kenapa.

-TBC

A/N:

Ha-haloo, saya kembali, Minna~ maaf untuk updatet yang kelewat lama! m(_,_)m *bungkuk2* maaf juga sudah membuat kalian yang menunggu kelanjutan fic ini, ya. Ngomong-ngomong, saya udah bales review kalian belum, sih? 0,o'. lupa saya~ #dibuang. Oke, saya bales di sini aja ya. Klo pun waktu itu udah bales—yasudlah~ #ngomongapasih.

Thank's For:

Rokudo Renna: ehehehe makasih ah! Itu kebetulan aja saya lagi gak buta typo. Mudah-mudahan aja seterusnya gitu ya. Eh, bayangan fem!69 Anda menarik, lho. Boleh saya pakai? Dan untuk rate-M nya, karena saya belum bisa bikin jadi sementara 'semi-M' dulu yaaa. Eh, 1869, 6918, fem!6918(?)/ 18fem!69 yaaa~ #ditendang. Itu apdetannya~ sekali lagi makasih ya!^^v

Author Jelek: wah, ini Anda saya panggil apa nih? Gak mungkin saya panggil 'Jelek-san' kan? #dicolok. Ahahaa makasih, makasih~ yosh, itu apdetannya #nunjuk ke atas. Semoga puas(?)

Neliel Minoru: ohohoho(?) ini udah apdet kok. Eh? Lucu? Masa sih? saya pikir malah humornya garing tuh 0,o. makasih yaaa.

Untuk semua yang sudah menunggucoretdengansabarcoret saya ucapin terima kasih bayaaaak~~~

Oya, buat yang islam: Selamat menunaikan ibadah puasa yaa! Hati-hati klo baca ini—khususnya chap depan mungkin agak sedikit mengundang, jadi—

WASPADALAH YANG PUASAAA~! #woilojugapuasatahu#

Yosh, sampai ketemu di chap depan (saya usahain cepet, deh!) *halah*

See you next again and

Review, please?