GENDER BLENDING
.
Katekyo Hitman Reborn! By Amano Akira.
A 691869's Fanfiction by Higarashi Yumiko.
.
Warning: fem!69, shounen-ai, lime (mungkin) nanti.
Hati-hati dengan kemungkinan OOC & typo's.
-Harap berhati-hati untuk yang berpuasa!-
Pairing: [TYL] 6918, Dfem!69 & 18fem!69 (mungkin)
~[ Semi – Alternative Universe ]~
.
Summary:
Kenapa Haneuma satu itu wajahnya memerah tidak jelas saat melihat dirinya begitu, coba? Hingga membuat seorang Rokudo Mukuro sampai dibuat merinding disko.
.
Happy Reading, Ladies!
Chapter 03: Haneuma it's Falling in Love?
.
.
.
.
~X0X~
Seandainya, Kalian diberi kesempatan untuk mengulang kembali ke waktu yang suah lewat; apa yang akan kalian lakukan?
Tentu saja jika diberi kesempatan seperti itu kalian akan memanfaatkan dengan sebaik mungkin untuk kegiatan yang tidak bisa atau kita lakukan, agar mendapat hasil yang lebih baik dari yang kita lakukan di waktu sebelumnya, bukan?
Begitupun juga untuk Mukuro; yang baru saja tertimpa musibah(?). Surai biru indigo itupun pastinya akan melakukan hal yang sama dengan yang akan dilakukan kebanyakan orang. Jika ia bisa mengulang waktu yang telah terjadi, hari ini—tepatnya tadi pagi—ia tidak akan datang ke markas Vongola, mendengarkan—sebenarnya tidak, sih—curhatan(?) mekanik Vongola tentang obat—entah apa itu, kemudian karena bosan ia malah ke luar dari gedung markas; duduk di taman dengan Hibari.
Lalu karena duduk di sana ia malah menghirup gas dari cairan obat itu—yang katanya, botol obatnya kemudian menjadi seperti… ini?—OH, Lord!
Hoy, Mukuro itu normal(?) tahu! padahal, mana ada orang normal yang bisa gendernya bisa berubah hanya dalam waktu hitungan detik. Lagipula, mana ada laki-laki normal yang malah berpasangan dengan sesama laki-laki, kan?
-Yaterus, bagian mananya yang normal, coba?
…
Krik.
Oh, baiklah… jadi, apa yang akan Mukuro lakukan sekarang?
Maksudnya, apa yang harus Mukuro lakukan sekarang dengan pakaian yang ala wanita sekarang? Ck—hanya baju terusan mirip pakaian tidur sewarna violet, dengan lengan panjang disertai aksen renda di ujung lengan baju juga bagian bawah baju terusan tersebut. Panjang terusan itu sendiri kira hingga di bawah lututnya. Di bagian belakang dress-nya itu dihiasi tali yang bisa dibentuk pita berwarna putih. -
-Manis, eh?
Sayangnya meski pakaiannya sudah begitu manis, sang pemakai malah berwajah asam(?). bahkan mungkin kadar kemanisan baju violet Mukuro itu akan membuat seseorang berambut pirang keriting dikuncir dua dari fandom sebelah iri karena melihatnya.
Itusiapadeh? –Lupakan.
Yang jelas Mukuro tidak suka dengan ini—bukan dengan pakaiannya, maksudnya. Tetapi dengan keaadaannya yang sekarang ini. Padahal ia juga tahu persis kalau hingga tiga hari ke depan ia akan terus seperti ini.
"Mukuro-sama, kau cocok sekali memakainya!" Chrome langsung berkomentar begitu Mukuro selesai memakai baju di kamarnya.
Dan sebagai lelaki gentle(?) ia pastinya harus membalas dengan baik. "Oya? Seharusnya kau tak perlu memujiku seperti itu, Chrome. Ku-kufufucough."
Oh ya, pemuda—eh, pemudi itu juga sudah memakai pakaian dalam yang tadi diberikan Chrome, lho. Dan sekarang mungkin di antara kalian ada yang bertanya-tanya, darimana Mukuro bisa bisa tahu cara memakai bra, padahal ia tadi tidak diajari Chrome. Cukup kita anggap saja jika Mukuro di kehidupan sebelumnya pernah menjadi wanita mungkin? –Entahlah, hanya Mukuro yang tahu.
Mukuro memandang ke luar jendela ruang tamu rumahnya. Langit kini sudah bertranformasi menjadi oranye kemerahan; senja telah tiba di Namimori. tak terasa ia hampir seharian ia berpenampilan seperti ini.
"Mukuro-sama," suara lembut seorang gadis membuyarkan lamunan Mukuro. "Kurasa sudah saatnya aku pulang," sebenarnya ia masih mau lama-lama di sini. Tapi jika ia berlama-lama di sini dan Hibari bangun dan kemudian melihatnya, gadis berambut ungu itu yakin Hibari tak akan suka. Dan membuat seorang Hibari Kyoya marah adalah hal terakhir yang akan ia lakukan dalam hidupnya. Mungkin. Tiba-tiba ia teringat sesuatu yang belum diserahkan pada Mukuro.
Mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya Chrome berkata. "Mukuro-sama, pakailah ini untuk menutupi mata kananmu," dan menyerahkannya pada majikannya.
Membuka kotak itu, kemudian mendapati sebuah kontak lens berwarna biru—yang sama dengan mata kirinya. "Baiklah, kau boleh pulang sekarang."
Yang berambut ungu mengangguk patuh. "Aku pulang dulu, Mukuro-sama," kemudian membuka pintu ruang tamu dan menutupnya perlahan.
Mukuro melangkahkan kakinya menuju ke lantai atas—kamarnya dan Hibari.
~X0X~
Dan begitu sampai di sana, pemandangan yang ia lihat sekarang tak ada bedanya dengan saat tadi ia sedang berganti baju, yang berarti—"Oya oya, Pangeran Tidur rupanya belum bangun, eh?"
Mukuro naik ke atas ranjang, kemudian menjawil pipi lembut Hibari; berusaha membangunkan skylark-nya yang sedang hibernasi. Dan langsung ditepis oleh yang bersangkutan. "Oya. Masa kau mau tidur terus, Kyoya-sayang? Kufufu~"
yang berambut biru menyeringai senang ketika melihat kekasihnya mulai merespon. "Berisik…" Hibari menepis tangan Mukuro dari pipinya. "Aku mau tidur…" mantan Prefek itu membalikkan posisi tubuhnya membelakangi Mukuro, kemudian merapatkan selimutnya.
Mukuro sukses dibuat sweatdrop.
Asal tahu saja ya, Kyoya-nya itu sudah tidur sejak kepulangan mereka sekitar jam 9 tadi pagi. Pemuda—eh, pemudi beriris dwiwarna merilik jam dinding di sudut kamar mereka; waktu menunjukkan pukul 7 malam. Yang artinya—
Kekasihnya sudah tidur hampir sebelas jam, lho! Bahkan sampai melupakan jadwal makan siangnya juga. Mukuro jadi bertanya-tanya, Hibari sebegitu hobinya-kah tidur? Atau jangan-jangan Kyoya-nya itu jelmaan beruang yang sedang hibernasi?
Oke—itu tak mungkin. Karena Kyoya-nya itu 'Hibari' dan bukan 'Kuma' kan?[1]
…
Tak menyerah juga Mist Guardian itu mendekatkan bibirnya di dekat telinga Hibari, kemudian berbisik. "Kyoya-sayang, kalau kau tidak bangun. Aku tak akan menanggung akibatnya. Kufufufufu~" dengan nada seduktif. Dan tak perlu waktu lama sampai ia mendapat respon berupa; kepalan tangan Hibari yang mendarat di wajahnya, andai saja ia tidak reflek menghindar. "Akhirnya kau bangun juga, Kyoya…"
Lelaki berambut hitam itu bangkit dari posisi tidurnya tanpa membuka mata—duduk bersila di kasur dengan tampang semi-badmood, karena masih mengantuk. Sampai ia merasakan usapan lembut dari sebuah tangan; yang siapa lagi kalau bukan Mukuro. "Apa maumu," meraih tangan Mukuro yang sedang menepuk-nepuk kepalanya.
Sampai mantan Prefek Namimori-chuu itu menyadari bahwa tangan yang genggam itu lebih kecil dari yang pernah ia ingat sebelumnya—Hibari mengerjapkan matanya. Seingatnya, barusan ia mendengar suara Mukuro yang berbeda dari biasanya; terdengar lirih dan lembut—yang jelas saja membuatnya bingung. Sontak kelopak mata yang sejak tadi menutupi iris kelabunya mecelak terbuka. Cloud Guardian itu langsung menoleh pada satu-satunya makhluk yang berada di dekatnya.
"Siapa kau…"
EEH?
…
Sumpah. Mukuro benra-benar tak mau mengingat apalagi membahas masalah tadi siang lagi. Namun sialnya, seperti mau tak mau hal itu harus diingat dan dibahas lagi, karena kekasih tukang tidurnya ini (sepertinya) membutuhkan penjelasan secara mengulang secara rinci apa-apa saja yang terjadi tadi pagi, agar tidak menimbulkan kesalahpahaman Hibari yang mungkin nantinya akan mengira Mukuro itu penyusup yang masuk ke rumahnya.
Oh—ya, ralat kata 'sepertinya' mungkin untuk berurusan dengan Hibari Kyoya kata itu tidaklah berlaku kata 'HARUS' itulah yang lebih tepat, bukan?
Oh—ya, satu lagi.
Dan untuk kalian semua para 'Slepping-Lovers'(?). Sepertinya kalian harus mulai mengurangi porsi tidur kalian, agar tidak berlebihan dan malah mendatangkan keburukan apalagi di bulan puasa seperti ini. Karena jika kalian para 'Slepping-Lovers' tak mengurangi porsi tidur kalian, maka bukan mustahil lagi jika kalian akan kehilangan momen-momen berharga, atau malah ketinggalan informasi penting selama kalian tidur, bukan?
Yah—ambil contoh mudahnya seperti Skylark kesayangan kita ini yang baru bangun dari tidur panjangnya dan sekarang malah lupa ingatan apa yang terjadi tadi pagi padahal justru ia sendirilah yang menyaksikan secara langsung.
Makanya, lain kali jangan kebanyakan tidur, Mas!
.
.
.
Sementara itu di jauh tempat lain; sebuah bandara tepatnya, seseorang berambut pirang cerah—bersama dengan beberapa bawahannya baru saja turun dari pesawat yang di tumpanginya. Yang berambut pirang menguap lebar seraya meregangkan otot tubuhnya yang kaku. Ia tersenyum dan berkata.
"Lama tak jumpa, Namimori…"
~X0X~
Matahari bersinar cerah pagi ini, seakan melupakan bahwa kemarin seseorang berinisial 'RM' baru saja di rundung duka(?). Tetapi siapa peduli? Yang jelas, hari tetap akan terus berlanjut tanpa memikirkan si orang berinisial 'RM' itu. Kicau burung yang saling bersahutan, kelopak bunga sakura yang berguguran lambut tertiup oleh angin sejuk. Menjadi sebuah permulaan pagi hari yang benar-benar sempurna bagi semua orang yang mengerti keindahan.
Namun sekali lagi tidak untuk seseorang berinisial 'RM' tadi. Ia tentu saja juga akan menyambut pagi hari yang seperti itu dengan suka cita seandainya saja fakta kejadian kemarin itu ditiadakan, kok. Yang berinisial 'RM'—atau kita sebut saja Rokudo Mukuro—ini justru menganggap bahwa permulaan pagi hari ini sepertinya justru tak akan berjalan dengan baik. Entah kenapa.
Jadi yang semalam itu ia akhirnya menjelaskan ulang pada Hibari tentang semua hal yang terjadi padanya, termasuk keputusan Tsuna untuk menyembunyikan identitas aslinya sampai si mekanik Vongola berhasil menemukan penawarnya dan membebaskannya dari kutukan laknat ini, sebelum ia tekena tabokan tonfa kekasihnya.
Bukannya ia tak benci—atau apalah, karena bagaimanapun juga ini tetap tubuhnya juga kan? Tapi, memangnya siapa sih, yang suka jika tubuhnya yang sudah sejak lahir sebagai pemilik suatu gender kemudian tiba-tiba berubah begitu saja. Siapa yang tidak kesal, coba? Asal tahu saja ya, Mukuro benar-benar mersa tak nyaman dengan kondisi tubuhnya saat ini. Terutama bagian ehemdadanyaehem, juga bagian bawah tubuhnya yang tak perlu kujelaskan lagi, bukan?
"Oya oya…"
Gadis(?) berambut indigo itu menghela napas—lagi, beranjak dari posisi duduk di kursi meja makan, ia meletakkan piring bekas sarapannya di bak cuci piring. "Kyoya, aku mandi dulu, ya."
Dan tanpa mendengar balasaan kekasihnya, pemilik surai biru panjang itu sudah melenggang ke kamar mandi meninggalkan Hibari yang sedang membereskan sisa sarapannya—dan milik Mukuro. Pikirannya kembali berputar pada permohonan Mukuro padanya.
"Jangan pernah katakan pada siapapun tentang keadaanku saat ini. Sampai semua keadaan membaik ya, Kyoya-sayang. Kufufufu…"
Hibari mendengus. Tanpa diberitahu pun ia tentu saja tak akan semudah itu bicara pada orang lain. Memangnya seorang Hibari Kyoya terlihat seperti tukang gosip, apa? Hibari masih memikirkan kejadian semalam sambil berkutat pada peralatan makannya yang tak terasa sudah selesai dicucinya. Kemudian mengelap tangannya yang basah dengan kain lap—sampai ia mendengar suara bel rumah mereka yang dari arah depan.
Yang bermata sipit itu menggerutu kesal. Siapa sih, yang bertamu jam 7 begini? Kalau bukan orang penting Hibari akan langsung mengusirnya. Berajalan menghampiri pintu depan yang bel rumahnya berbunyi semakin sering. "Tsk. Tunggu sebentar…" membuka kunci pintu rumahnya—yang langsung membuat Hibari menyesal telah membuka pintu.
Baru kali ini mungkin Hibari Kyoya menyesal telah membuka pintu pada seseorang. Menyilangkan kedua tangannya di depan dada; tak lupa dengan tatapan tajam yang di hadiahkan pada sang tamu. "Apa maumu—" tak menggunakan nada bertanya, dan malah menggantinya dengan nada suara dingin saat mendapati seseorang berambut pirang yang saat ini tengah tersenyum lebar pada seakan mengabaikan tatapan 'pergi-dari-sini'-nya. "… Haneuma."
Yang lebih tinggi itu sudah paham benar dengan sifat dan sikap lelaki berambut hitam di depannya. "Lama tak jumpa, Kyoya," dan karena sudah kebal dengan tatapan tajam Hibari itulah ia malah semakin melebarkan cengirannya. "Ahaha. Kau tak berubah juga, Kyoya,"
Mengabaikan perakataan pria yang lebih tua darinya, Hibari bertanya lagi. "Katakan apa tujuanmu datang kemari," si mata sipit mengeluakan tonfanya—entah dari mana—kemudian mengacungkannya pada san tamu tak diundang. "—atau kamikorosu."
… Ia menyeringai.
"Huwaa—tu-tunggu dulu, Kyoya! Aku datang ke mari kan, karena ingin mengunjungi mantan muridku. Hanya itu." Panik melanda Cavallone Decimo itu saat lelaki yang disebut mantan muridnya itu sudah mengeluarkan senjata kesayangannya. Masa, begitu datang sambutannya malah seperti ini sih?
"Aku tak menerima alasan." Genggaman pada tonfanya semakin mengerat. "Siapapun yang sudah mengganggu ketenanganku. Harus digigit samp—"
"Oya. Ada siapa, Kyoya?" Suara Mukuro menginterupsi pembicaraan kedua orang di depan pintu rumah mereka. Penasaran ada ribut-ribut apa, gadis berambut biru itu menghampiri kekasihnya hanya untuk menyadari kehadiran seseorang yang dikenalnya. Dan karena sudah berada di sana mau tak mau kedua orang sumber ribut itupun ikut menoleh.
Hibari ber-facepalm ria. Sementara Mukuro sudah berkeringat dingin duluan—apalagi saat melihat Cavallone itu hanya menganga lebar dengan kedua mata yang juga sama kondisinya, menatap ke arah si rambut biru. Tetapi yang membuat pasangan kekasih berkode '6918'(?) itu mengerutkan dahi adalah keadaan si pirang yang—entah kenapa—kurang lebih ciri-cirinya seperti ini:
Matanya terbelalak, tubuhnya bergetar—seperti habis melihat fenomena misteri, mulutnya mengeluarkan kalimat yan tidak koheren; serta sulit dimengerti. Tangannya menunjuk-nunjuk kea rah Mukuro yang semakin heran plus mau tak mau sweatdrop juga dikarenakan tingkah makhluk pirang di hadapannya itu. Namun, dari kesemua ciri-ciri yang tadi disebutkan yang paling aneh adalah—
-Kenapa Haneuma satu itu wajahnya memerah tidak jelas saat melihat dirinya begitu, coba? Hingga membuat seorang Rokudo Mukuro sampai dibuat merinding disko.
Mukuro sudah siap menerima—mau tak mau—jika Dino mengetahui identitas aslinya. Maka dengan begitu hancur sudah reputasi Mukuro sebagai seme ter-seksi sekaligus termesum versi KHR(?), dengan satu kalimat dari Dino yang nantinya akan mengungkap identitasnya. MukurogamauMukurogamaugamauuu!
Namun pada akhirnya, dugaan mereka—MukuHiba—tentang terungkapnya jati diri(?) Mukuro oleh Dino lansung terbantahkan. Sebuah kalimat abnormal yang menurut mereka termasuk—kalian (mungkin)—meluncur begitu saja dari makhluk pirang satu itu karena ia berkata—
.
.
.
"Cantik sekaliii! Siapa gadis itu, Kyoya?"
Krik.
EEEEEEHHH?
.
.
.
.
TBC
Translate:
[1] Dalam bahasa Jepang, Hibari skylark, Kuma= beruang.
A/N:
Yosh, ketemu lagi dengan sayaaaa!
Hei, kan udah saya bilang jangan bosen-bosen liat fic saya ini yang (mungkin) selalu ada di urutan daftar pertama di FFN bagian 6918. Ehehe~ #ditampol.
Hmm… padahal saya udah punya ide bikin fic oneshoot 6918—bahkan udah diketik setengahnya kok! Tapi mood saya belum juga kembali buat lanjutin fic oneshoot itu. Jadi—yah, gitu deh *maksudnyaapa*
Pokoknya tolong kalian baca dan review saja yak lo udah publish. #sujud2
Oya, satu lagi. Klo kalian melihat ada typo atau semacamnya langsung bilang aja ya? Saya terima kritik & saran, kok. Akhir kata,
Mind to Review, please? #sodorin review
