Katekyo Hitman Reborn! By Amano Akira
-except, Mukuro and Hibari belongs to each other—
Thank's to:
Tsukimori Len 00, Rokudo Renna, DaeAl. 6918. PineappleSkylark, Monochrome-Live, Authorjelek, Enzan Blaze, Neliel Minoru, Amrts 7227, sheila-ela, Minazuki. Amaya, takukai, shizuo Miyuki, Demoneolith Ravena
Thank's for read, fave, follow and reviews, Ladies~!
.
Chapter 04
[ Blue Princess From The Hell ]
.
Previous Chapter
Namun pada akhirnya, dugaan mereka—MukuHiba—tentang terungkapnya jati diri(?) Mukuro oleh Dino lansung terbantahkan. Sebuah kalimat abnormal yang menurut mereka termasuk—kalian (mungkin)—meluncur begitu saja dari makhluk pirang satu itu karena ia berkata—
.
.
.
"Cantik sekaliii! Siapa gadis itu, Kyoya?"
Krik.
EEEEEEHHH?
.
~X0X~
Namanya Rokudo Mukuro (mungkin). Seorang lelaki yang saat ini sedang memasuki masa kedewasaannya. Ia yang katanya telah menjalani enam kehidupan itu, kini merasa di kehidupannya yang sekarang ini lebih buruk dari kehidupan-kehidupan sebelumnya. Bukan. Bukan masalah kesulitan dalam asmara yang membuat lelaki berusia dua puluh lima tahun tersebut, merasa hidupnya saat ini menjadi buruk.
Maaf saja, ya. Bukannya bermaksud menyombongkan diri atau apalah. Kalau hanya soal percintaan, lelaki bersurai biru indigo itu tak pernah punya kesulitan berarti. Sedikit pengecualian saat ia—kalau memakai bahasa gaulnya—pedekate dengan Hibari Kyoya yang merupakan rival abadinya mungkin. Karena saat itu Mukuro memang sedikit kesulitan untuk menaklukkan pemuda yang katanya paling kuat se-Namimori tersebut. Tetapi selebihnya tidak ada masalah, bukan? Buktinya sekarang pemuda itu kini sudah—ehem, resmi menjadi pasangan sehidup sematinya. Jadi, tidak ada masalah, kan?
Eh? Jadi kalian juga mengira Mukuro itu tak laku di kalangan para wanita, ya!
Jangan salah, lho. Mukuro itu sangat popular; bahkan bukan hanya menarik perhatian para gadis, para pria pun mau tak mau akan menaruh perhatian padanya. Entah menaruh perhatian dalam hal apa. Bahkan jika pria beriris dwiwarna itu mau, ia bisa dengan mudahnya mendapatkan gadis seperti apapun yang ia kehendaki hanya dengan mengedipkan sebelah mata, lho. Hebat kan?
Mukuro memiliki wajah yang tampan. Rambut panjangnya yang sebiru langit malam itu selalu tampak berkilau kala diterpa cahaya, dan anehnya kulitnya tetap halus dan putih bersih padahal jika mengingat apa pekerjaannya hal itu jelas mengherankan. Otaknya cerdas—jika tak ingin dibilang licik, ia juga lumayan mahir ilmu beladiri. Dan berbagai macam kelebihan lainnya—yang jika aku sebutkan di sini mungkin akan memakan banyak halaman.
Namun sayangnya—atau untungnya?—ia justru memilih untuk memilih pendamping hidup yang juga bergender sama sepertinya. Dan karena itu hal ini perlu di garis bawahi 'Rokudo Mukuro hanya tertarik pada Hibari Kyoya'. Nah, karena itu Mukuro tak pernah melirik pada yang orang lain.
Terus—kenapa tadi ia bilang kehidupannya buruk, coba?
Oh, itu pasti tidak lain dan tidak bukan karena hal ini.
"Kyoya, Kyoya… siapa nama gadis itu?" Cavallone Decimo itu bertanya sembari merajuk pemuda berambut hitam di dekatnya. "E-EEHH~ kok pertanyaanku tidak dijaw—" dan hantaman tonfa dari yang berambut hitam menjadi jawabannya. Tak lupa dengan deathglare khasnya.
"Berisik kau, Haneuma."
Mengacuhkan Hibari, si rambut pirang itu malah dengan beraninya masuk lebih dalam; menghampiri Mukuro yang termangu di depan pintu—tidak tahu harus melakukan apa. Haneuma itu tadi tidak menyebut namanya. Yang itu berarti-
"Siapa namamu, Nona?"
Wao. Identitasnya tidak ketahuan, lho!
Tapi sepertinya justru itu malah menjadi pembukaan masalah baru. Inilah dia masalah yang tadi Mukuro anggap sebagai bagian dari enam kehidupan masa lampaunya yang terburuk. Dan masalah barunya itu adalah si Haneuma itu kelihatannya naksir pada sosok versi perempuan miliknya.
Mengabaikan deathglare Hibari yang jelas-jelas tak menyukai kehadirannya di sini. Dino yang sudah sampai di depan Mukuro melebarkan senyumnya. "Kok nggak dijawab, siiiih~?"
Yang sontak membuat Mukuro—bahkan Hibari juga—ikut merinding mendengarnya. Bukan kata-katanya, tapi nada suara si pirang itu yang—entah kenapa—terdengar seperti om-om pedofilia sedang menggoda gadis remaja.
Krik.
-padahalmemangbenarkok.
…
EH? Bagus sih, sebenarnya Cavallone itu tak menyadari ia Mukuro. Dan ia harus memanfaatkan kesempatan ini.
"E—Eh, namaku…"
Bagus sekali Mukuro! Sekarang ia tak terpikirkan nama apapun untuk dirinya.
"He? Masa kau lupa namamu sendiri?" Dino kembali bertanya pada gadis cantik berambut indigo di hadapannya; tanpa melepaskan nada suara plus senyum pedofil-nya.
"Tsk. Namanya 'Ao'…"
Dua orang yang ada di dekatnya kompak menoleh begitu mendengar suara Hibari yang—akhirnya- menimpali pembicaraan mereka. Yang berambut hitam sudah merasa risih karena pagi harinya tergangggu oleh kedatangan (mantan) tutornya.
"Eh? 'Ao', Kyoya?" Dino bertanya pada Hibari sembari menggaruk kepalanya.
Mungkin wajar sebenarnya jika Dino sampai menggaruk kepalanya seperti itu. Bahkan Mukuro pun tak habis pikir, kenapa Kyoya-nya memberinya nama yang terdengar seperti anak laki-laki itu padanya, coba? Padahal sekarang ia jelas-jelas sedang versi(?) perempuan. Tetapi keraguan Mukuro pada sang kekasih yang tadinya ia tidak punya 'sense of name' itu langsung hilang begitu Hibari melanjutkan perkataannya yang tadi sepertinya tertunda.
"… Namanya 'Aoi'[1]."
Bos berambut pirang cerah tersebut menepukkan kepalan tangannya sambil berseru. "Oh—begitu…" seraya mengangguk-anggukkan kepalanya, setelah melihat penampakan luar sang gadis. "… Pantas saja namamu 'Aoi', ya!" Oho. Jadi ternyata maksud Hibari itu toh, kirain apaan. Krik.
Sementara yang berambut hitam mendengus kesal. "Kalau kau tidak ada urusan, lebih baik kau per-"
"Tapi—memangnya, gadis itu siapa-mu, Kyoya?" Cavallone kembali. Memotong kata-kata Hibari. Sumpah, ia benar-benar penasaran dengan gadis manis berambut biru itu. Entah kenapa, Dino merasa familiar pada rambut sang gadis. Apa mungkin mereka pernah bertemu ya? Matanya cokelatnya menyipit curiga; lagaknya sudah seperti seorang ibu yang mencurigai anak gadisnya sedang hamil di luar nikah saja.
Dengan asal, plus tidak pakai pikir panjang Hibari langsung menjawab. "Dia saudara jauhku," ia benar-benar tak punya ide lain tentang hal ini lagi pula, dan ia tak mengira Haneuma itu akan menginterogasinya sampai seperti ini. "… Kebetulan ia sedang ingin berlibur di sini."
Mukuro mengerjap tak percaya setelah—sejak tadi-hanya terdiam mendengar penuturan meyakinkan—tapi penuh kebohongan—yang Hibari ucapkan dengan ekspresi plus nada datar khasnya. Mukuro berpendapat, kekasihnya itu cocok jadi bintang film.
… Bintang film sebagai pemeran patung, maksudnya.
Yang tetapi, justru membuat Dino semakin penasaran. "Hoe? Masa, sih? Bukannya kau tidak punya saudara, Kyoya?"—dan hantaman keras tonfa metal sukses mengenai sang bos Cavallone.
"… Kamikorosu."
O-Oi, Tuan Cavallone. Hibari Kyoya memang tidak pernah cerita tentang keluarganya, tetapi bukan berarti ia tak punya saudara, kan?
Mengeratkan genggamannya pada tonfa, Hibari menatap tajam pada ia yang tengah meringis kesakitan. "Pergi dari sini."
Ucapannya tak terdengar main-main. Hibari Kyoya tentunya akan melakukan segala hal demi apapun—terutama demi ketenangannya. Jangankan menggigit sampai mati seekor Haneuma, satu peleton gajah-pun pasti sanggup ia bereskan sendirian. For your information, nih ia pasti akan menumpas-tuntas sampai ke akar-akarnya(?) apalagi jika menyangkut soal pengganggu mangsanya, seperti yang satu ini contohnya.
"Huuuh~ Ya sudah, kalau begitu…" Dino merengut sambil mengusap-usap kepalanya yang jadi korban 'ciuman' tonfa mantan muridnya. "Aku pulang saja~" yang entah kenapa nada suaranya seperti sedang merajuk.
"Hmph. Bagus kalau begitu."
Mengerucutkan bibirnya, Dino berjalan ke arah pintu; melewati Hibari yang masih memasang deathglare andalannya. Namun sebelum benar-benar menghilang di balik pintu pagar pasangan yaoi kesayangan kita ini, Dino membalikkan badan; menatap Mukuro langsung tepat di matanya. "Kapan-kapan kita ketemu lagi ya, Cantik~"
Dan ia buru-buru lari menghindar saat tonfa Hibari melayang ke arahnya; hampir mengenai wajahnya. Kemudian tonfa metal itu sukses menabrak tembok rumah seberang; dan menimbulkan dentingan saat jatuh di jalanan beraspal. Yap! Herbivora Cavallone itu suda berlari kabur entah kemana. Meninggalkan Hibari dengan mood buruknya.
"Kamikorosu."
~X0X~
Vongola HQ – Ruang penelitian
"Giannini-san, bagaimana serumnya?"
Decimo bersurai cokelat saat ini sedang berada di ruangan khusus milik ahli mekanik dari Vongola itu. Ia ingin memastikan bagaimana perkembangan hasil penelitiannya mengenai serum untuk Mukuro. Merasa kedatangan tamu, yang ditanya pun menoleh dan tersenyum.
"Sejauh ini semuanya lancar-lancar saja kok, Juudaime." Pria bertubuh tambun tersebut dapat melihat bosnya menghela napas lega sambil mengelus dada.
"Syukurlah kalau begitu…" Tsuna agaknya merasa sedikit lega mendengar pernyataan ahli mekanik tersebut. Ia khawatir terjadi sesuatu yang buruk di keluarganya ini, apalagi jika sudah menyangkut perkara Mist Guardian dan Cloud-nya. Dan karena didasarkan perasaannya itu ia mencoba mengecek perkembangan hasil kerja Giannini.
"Heh! Awas saja ya, kalau sampai serumnya gagal!" penyandang nama 'Gokudera' tersebut mengancam sang mekanik malang.
Oh—kalian tanya kenapa dia ada di sana? Padahal jawabannya sudah jelas kok, karena Gokudera Hayato adalah tangan kanan sang Vongola Decimo—benar, kan? Lagipula selain itu, seperti yang sudah ditegaskan di chapter kemarin(?), sedikit banyak kasus ini juga disebabkan olehnya. Dan jika kita bicara soal Gokudera, pasti dimanapun sang Badai berada di sana pasti ada—
"Ahaha… Jangan begitu Gokudera."
-Yamamoto Takeshi. Tawa renyah dari mantan pemain baseball tersebut nyaring seperti biasa.
"Diam kau, Yakyuu-baka!"
"Sudah, kalian jangan bertengkar…" Tsuna berusaha melerai mereka. Sebenarnya sih, hanya Gokudera yang paling mudah terpancing emosinya.
"Che!"
"Ahaha…"
Tsuna menghela napas panjang melihat mereka berdua yang selalu seperti ini; tak pernah berubah juga meski sudah sepuluh tahun berlalu. Untungnya saja, meskipun Strom Guardian-nya kurang menyukai sang Rain Guardian, tetapi mereka tak pernah terlihat sampai benar-benar bertengkar seperti Mukuro dan Hibari. Tsuna juga mengetahui bahwa biarpun pasangan rival itu itu sudah menikah secara resmi di gereja waktu itu[2], mereka tetap baku hantam—meski sudah tak sesering dulu lagi sih.
Decimo berwajah moe itu heran, kenapa mereka—Mukuro dan Hibari—yang tak pernah terlihat akur, justru pada akhirnya malah mengikat janji di altar? Tsuna jadi berpikir ulang pada istilah 'Benci Jadi Cinta' itu ternyata ada. Buktinya? tentu saja dua orang rival yang selalu tiada hari tanpa bertarung itu. Ahaha. Tsuna tidak tahu ya, kalau ternyata Yamamoto dan Gokudera juga punya hubungan lain dibalik pertengkaran mereka. Terimalah nasib, bahwa yang namanya orang cakep itu suka seenaknya sendiri, Tsuna!
"Oh iya! Karena kemarin Mukuro langsung pulang, aku jadi tak bisa melihatnya." Yamamoto akhirnya memecah keheningan yang tadinya hanya diisi oleh suara alat-alat yang Giannini gunakan dalam eksperimennya. "Aku sebenarnya penasaran ingin melihat. Ahaha… pastinya cantik, ya?"
Yang sekilas langsung dibalas delikan dari Gokudera.
Teriakan frustasi Giannini membatalkan niat Gokudera untuk melempari Yamamoto dengan dinamitnya.
"BISA KALIAN PERGI DARI SINI? AKU TAK BISA KOSENTRASIIII!"
~X0X~
Sekali lagi—untuk yang kedua kalinya, Mukuro merasa ingin memutar waktu. Agar ia tak perlu di hadapkan pada situasi seperti ini. Tadi ia baru saja selesai makan malam dengan Hibari, dan begitu mendengar bel rumah mereka berbunyi yang bersurai biru indigo langsung mengambil inisiatif membuka pintu. Dan di detik itu juga, ia lansung menyesal telah membuka pintu.
Karena orang yang sangat tidak ia sukai—dalam berbagai hal—muncul kembali. Pria berambaut pirang cerah, dengan mata cokelatnya dan juga tak lupa senyum lebarnya; apalagi saat ia tahu yang membuka pintu, adalah orang yang menjadi tujuannya datang kemari malam-malam seperti ini.
"Ada perlu apa kemari lagi, hmm… Tuan Cavallone?"
"Ehehe… selamat malam, Aoi-chan." Seakan tak mempedulikan (lagi) nada ketus yang sengaja Mukuro pasang padanya, Dino tersenyum lebar pada gadis—yang menurutnya—sangat manis apalagi saat yang bersangkutan sedang berwajah galak seperti ini.
Mukuro mengerutkan dahi. Sejak kapan ia mengizinkan Cavallone itu memanggilnya dengan embel-embel 'chan'? Sepertinya orang ini memang tidak mempan hanya dengan kata-kata ketus saja—sepertinya memang perlu menggunakan kekerasan jika ingin mengusirnya.
Eh, tunggu dulu! Ia kan tidak punya alasan untuk mengusirnya. Justru jika ia mengusir si pirang ini, maka akan timbul kecurigaan padanya seperti; untuk apa ia mengusir Cavallone? Berarti ada sesuatu yang terjadi, dan otomatis akan lansung tersambung pada masalah perubahan gendernya ini. lalu terjadilah keributan—mengingat bagaimana sifat Dino tentunya. Itu artinya Mukuro harus tetap berpura-pura sebagai gadis biasa(?) yang inosen, lalu menjalankan sandiwara ini sampai waktu serumya selesai?
-Merepotkan.
"Hoe? Kok bengong, sih?" Mukuro mengerjapkan matanya saat Dino melambaikan tangan di depan matanya. "Jadi aku boleh masuk? Ada yang ingin kubicarakan."
Mukuro menaikkan sebelah alisnya. 'Ada yang ingin dibicarakan?' memangnya apa itu? Namun setelah mengabaikan tanda tanya dalam pikirannya ia pun membuka pintu rumahnya lebih lebar dan berkata. "… Baiklah, kau boleh masuk."
.
.
.
.
.
"Ehehe… Kau tidak menyuguhkan minuman untuk tamumu ini, Kyoya?"
Sementara yang ditanya hanya menatap tajam makhluk pirang di hadapannya. "Aku tak pernah merasa mengundangmu ke rumahku,"
Dino menunduk dengan sweatdrop menggantung di kepalanya. Jawaban yang sudah ia duga sebenarnya, tapi entah kenapa tetap saja rasanya menusuk juga saat sang mantan murid mengatakan hal itu dengan wajah datarnya. Saat ini Dino dan dua orang pemilik rumah sedang duduk di sofa ruang tamu. Hibari dan Mukuro duduk bersebelahan di sofa panjang, sementara Dino duduk di sofa single tepat di hadapan mereka berdua.
Menyilangkan kedua tangannya di depan dada, sang mantan prefek berkata dengan nada dingin khasnya. "Cepat katakan apa urusanmu, dan enyahlah dari sini."
Dino tersenyum miris; entah ia harus senang atau tidak, karena mantan muridnya itu tak berubah sedikitpun. Sedetik kemudian senyum sang bos Cavallone itu melebar kembali, saat mengingat tujuan utamanya datang kemari. Pemilik rambut pirang cerah tersebut menggaruk kepalanya yang tak gatal—bingung mau langsung bicara atau basa-basi dahulu, tapi melihat deathglare Hibari yang sudah terpasang sejak tadi, sepertinya ia memang harus to the point.
"Sebenarnya kedatanganku kemari ada kaitannya dengan Aoi-chan…"
Dan di detik itu juga Mukuro merasa bahwa kedatangan Dino sekarang benar-benar bukan pertanda baik, padahal tadi pagi saja sudah cukup menghebohkan saat mengingat kenyataan bahwa si pirang itu jatuh cinta pada sosoknya versi perempuan—dan sekarang apa lagi?
Sementara Hibari langsung menaikkan level deathglare-nya—entah bagaimana caranya—herbivora Cavallone itu berani memanggil mangsanya dengan embel-embel menjijkkan itu? Padahal ia saja tidak pernah, lho!
Apalagi saat Dino melanjutkan kalimatnya yang tadi dengan mata berbinar seraya menatap sang gadis. Yang lansung membuat pairing ter-extreme kita—hampir—jantungan, dan kalimat itu adalah-
"Ehehe… besok aku ingin mengajak Ao-chan kencan, kau mau tidak?"
… krik.
APAAAAAAAAA?
TBC
Ket:
[1] Rasanya saya seharusnya ga perlu ngejelasin lagi kan, klo nama Mukuro 'Aoi' itu artinya warna biru? Karena tentunya kalian ladies sekalian pasti udah pada tahu. soal nama si papa (baca: Mukuro), tadinya saya mau kasih nama 'Sora'. Saya mau kasih nama 'Sora' karena nama itu punya arti yang indah. Biru-merah di mata Mukuro, menurut saya seperti dua warna langit yang berbeda; biru untuk langit di pagi/siang hari, sedangkan merah untuk langit senja—gimana? Pas banget kan! *bangga sendiri* Tapi ga jadi, soalnya takut malahan merujuk ke arah si Tsuna—kalian ngerti to, maksud saya? #Plakk!
Akhirnya saya berubah haluan(?) jadi 'Aoi' aja. Lagian menurut saya ya, nama 'Sora' itu rasanya lebih klop untuk cowok deh. Yah—ini sih pendapat masing2 ;) eh, tapi nama 'Aoi' juga bagus kok! klo liat warna biru ga tau kenapa saya langsung kepikiran Mukuro. Makanya, akhirnya nama (palsu) Mukuro jadi 'Aoi'. Selamat ya, Papa~! *nyalamin Mukuro* #diceburinkeneraka
[2] Untuk lebih jelasnya, silahkan baca fic saya yang berjudul 'Ikatan Abadi':D Itu semacam cerita sebelum kejadian gender blending-nya Mukuro dimulai. Jadi baca aja sendiri, ya! *lohkokmalahpromosi*
.
.
Dan- mohon maaf sebesar-besarnya, bagi para ladies yang udah nunggu chapter lanjutannya *sapajugayangnungguin* #dijejelin tonfa
Saya akan selalu mengusahakan agar cepat update, kok! jadi, jangan bosan2nya membaca fic ini ya? ^_^b
Masih bersediakah para ladies membaca, menikmati(?) serta me-review fic ini *kedip2 nista* #dikemplang
Akhir kata(?)—
Mind to Review, please?
