Title: Dosed

Title credit © Red Hot Chili Peppers

Naruto © Masashi Kishimoto

Pair: SasuNaru, NaruSaku

Rate: M

Warn: heavy themes and word, Boys love, author hanya terima flames dan kritik yang membangun cerita

Catatan: ketiga tokoh disini duduk di kelas tiga SMA, namun hanya Naruto yang berusia 17, sisanya 18 tahun.

Don't like, don't read


Chapter 2

Being Boiled

Mungkin ia harus putar ulang keadaan ini dari awal, kisah ini terlalu rumit selaksa sulur tak berujung. Sasuke dibesarkan dalam lingkungan terpelajar dan tumbuh menjadi pemuda cemerlang namun memilih lebih banyak diam. Ia seperti berada dalam keluarga mapan yang tipikal, memiliki segalanya namun kekurangan hangatnya kasih sayang orang tua. Ayahnya memiliki watak keras dan membesarkannya dalam otoritas absolut. Tidak berarti tidak dan ya adalah ya. Sementara ibunya tadinya seorang tipe wanita yang kuat namun mulai menjadi rapuh seiring berjalannya waktu. Keduanya sama-sama tipe dengan pendirian tak tergoyahkan dan menyebabkan perang adu mulut hingga teriakan-teriakan amarah hampir selalu memenuhi rumah. Keluarganya tak memberi banyak ruang lebih bagi suaranya, ia sibuk membenci ayahnya sebagai seorang antagonis yang membuat ibunya perlahan berubah menjadi kacau karena pertengkaran terus menerus.

Not much of a 'time out' for him.

Ia putuskan sekolah adalah tempat terakhir yang bisa ia jadikan sebagai hiburan, dengan pelajaran dan siswa-siswa lain yang menjadi objek observasi diamnya.

Sasuke ingat benar, saat itu usianya baru empat belas tahun, ia lebih dikenal sebagai murid pindahan yang tak banyak bicara. Tak cukup peduli dengan lingkungan barunya. Dan setelah dua setengah tahun, sekonyong-konyong dengan gilanya, dengan canggung dan tak tahu malu, ia jatuh cinta pada sesosok gadis. Uchiha muda itu tak cukup mampu menebak permainan nasib manakah yang membuatnya terus-terusan satu kelas dengan gadis yang sama, hingga membuatnya begitu familiar. Hinata, gadis yang ia sadari menjadi dasar dari pembawaannya yang menyimpang ini.

Ia mampu menggambarkan Hinata dan Naruto dalam dua cara yang berbeda. Hinata dengan kata-kata yang sekedar terlintas karena sudah termakan waktu (seperti "manik sewarna krim", "kulit mulus bagai susu", dan "surai biru kelam yang halus") namun yang lainnya merupakan sosok terkasih yang membangkitkan replika optik begitu saja saat mata terpejam, muncul ke permukaan seakan terapung dari kegelapan, membuat jantungnya mendadak mencelos dan bola mata terasa nanar.

Ia tak bisa tak mengakui bahwa dirinya begitu jatuh cinta pada sosok Naruto karena kecewa yang mendalam dengan Hinata. Sasuke tidak gagu, ia bisa pastikan itu. Hanya saja keberanian dirinya yang berusia enam belas tahun tak cukup mampu membawanya mengungkapkan perasaannya pada Hinata. Ia berakhir kecewa bahkan sebelum cinta itu dimulai.

Dan Naruto pun ada disana, di sudut ingatannya saat masih menginjak usia lima belas. Pemuda itu begitu tipikal—ceria, bodoh, dan polos. Ah, sungguh ia tak pernah cukup observan. Bagaimana bisa ia melewatkan detil mempesona yang dimiliki Naruto begitu saja dan baru menyadarinya bertahun kemudian?

Ia ingat percakapan pertamanya dengan Naruto, disaksikan papan tulis kelam yang kotor oleh sisa hapusan kapur.

"Hei, mau temani aku?," kepalanya menengok perlahan untuk menemui cengiran si pemuda pirang.

Entah kenapa ia merasa tak bisa menolak, "Hn"

Lalu masa SMPnya berakhir begitu saja, sedangkan tahun pertamanya di SMA berakhir tanpa kesan. Saat selubung kebosanan mulai menghantamnya lagi sosok Naruto mendadak mengunjungi kelasnya lebih sering daripada sebelumnya.

Sama seperti waktu istirahat siang sebelumnya, Sasuke lebih memilih duduk di bangkunya, oniksnya bermanuver untuk mendapati teman sebangkunya dan beberapa pemuda lain sibuk berbincang dengan si pemuda pirang. (Saat itu) ia bukannya merasa tertarik pada sosok tak jauh darinya itu, hanya saja Naruto cukup dekat dengan sekeliling tempatnya duduk. Ah, dan ditambah pandangan serta langkah mereka yang menuju ke arahnya saat ini.

"Sasuke,"

"Hn?"

"Kau banyak waktu senggang kan?"—Neji, teman sebangkunya berkata sambil menghempaskan tubuhnya perlahan.

"Lumayan"

"Ikut role play forum yuk Sasuke," Naruto berkata riang sambil menopangkan dagunya di meja depan Sasuke.

...

Pemuda ini memilih mengerutkan dahi, what did he say?

"Ah, itu forum mengarang dengan karakter buatan sendiri, Sas," pemuda pirang dihadapannya menyadari tatapan aneh yang dilempar Sasuke tadi. "Nanti kuajari," tambahnya ceria.

Masih segar dalam ingatan Uchiha muda saat Naruto meminta emailnya dalam pertemuan tak disengaja mereka yang kedua hari itu. 'Oh, kau tahu, agar aku bisa mengajarimu kapan saja' kata pemuda bermanik ocean itu sambil lalu dengan nada sedikit berlebihan dalam kalimatnya. Sasuke sama sekali tak mempermasalahkan apapun itu yang coba teman-temannya tularkan padanya, ia tak punya banyak hal untuk dilakukan lagipula, hanya saja tanpa sadar saat itu oniksnya mulai memberi perhatian lebih pada sosok hangat Naruto. Ia biarkan dirinya berada di bawah kontrol Naruto tiap kali pemuda pirang itu—sepertinya—sedang merasa kesepian. Sasuke sempat menghindar, ia buat dinding tinggi yang ia kira mampu menghalaunya dari kemungkinan-kemungkinan tak diinginkan. Sayangnya pesona Uzumaki muda terlalu kuat untuk dinding usang Sasuke.

Harusnya tak ia biarkan pemuda beroniks ocean itu memasuki ruang pikirannya yang selama ini kosong. Sasuke sudah membuat kesalahan pertama yang bodoh dengan memberikan Naruto nomor telepon genggam dan alamat emailnya. Lalu tanpa merasa kalau si surai pirang itu kurang ajar dengan mengontaknya tanpa henti, Sasuke biarkan Naruto mengambil kontrol dari dirinya. Makhluk mempesona itu menyetirnya tanpa bisa Sasuke hentikan.

Ah, dan lihatlah sekarang pertahanannya yang kuat itu runtuh perlahan karena Naruto dengan beraninya melewati garis batas terakhir keintiman antara seorang teman dan kekasih. Hubungan terlarang mereka harusnya tak pernah terbawa ke kenyataan, harusnya itu hanya menjadi prosa panjang tanpa arti lebih di dalam hatinya. Sungguh rencana awal yang brilian namun harus rusak begitu saja. Ia tak bisa bilang hubungan tak langsung mereka lewat telepon dan email membawanya pada trauma karena hanya dengan mengingat percakapan mereka saja perasaan rindunya sudah terasa makin mendalam.

Oh, biarkanlah pemuda ini mengingat kilas balik salah satu percakapan pertama mereka. Kenangan yang tak pernah berhasil ia lupakan sampai sekarang.

Ramen_kit: Aaaa Sasukeee *hugs* tehehe

Leorijncz: Ternyata lewat email pun kau juga berisik ya, Dobe

Ramen_kit: Hiih Sasuke dingin sekali :( coba pakai emote, Sas, apa saja boleh

Leorijncz: ...tidak mau

Ramen_kit: Buh pelit (:|

Lalu Sasuke sendiri tak bisa ingat bagaimana dari percakapan biasa seperti itu bisa berubah jadi semacam sandiwara semu, literally.

Ramen_kit: Terima kasih, Sasukee :3 *cium* —berapa kalipun Sasuke coba ia tak pernah bisa ingat apa yang membuat pemuda pirang di seberang sana berterima kasih.

Leorijncz: Tak masalah, Kit *kiss back* Ah, panggilan sayangnya bagi Naruto yang begitu disukai Uzumaki muda itu.

Ramen_kit: Umm *duduk di pangkuan Sasuke*

Ini sungguh tak terelakkan, karena sirkuitnya—tanpa ampun—dengan sendirinya akan memainkan semua sandiwara palsu itu. Merealisasikannya seakan semua terjadi tepat di depan hidungnya, dengan sosok Naruto berada di pangkuannya yang nyata namun sesungguhnya semu.

Leorijncz: *peluk, cium perlahan*

Bisakah kau tebak ke mana arah obrolan yang tadinya ringan ini mengarah? Karena sesungguhnya pemuda bersurai gelap itu tak pernah berintensi membawa semua gerakan tak nyata itu ke arah 'sana'. Hmph, dan lagi-lagi ia dikhianati nafsunya yang tak tahu diri.

Ramen_kit: *kiss back, peluk leher Sasuke* nhh..

Inilah salah satu permainan psikologis tanpa sadar seorang Naruto yang berhasil menghanyutkan pemuda bersurai kelam itu. Sasuke bisa saja memilih untuk mengabaikan apapun yang terpampang di hadapan manik oniksnya, namun otaknya tak mengindahkan perintah itu dan memilih mengabaikan dirinya yang berada dalam posisi demikian. Ah, dan bisakah kau bayangkan jika percakapan serupa meski tak selalu sama itu terjadi tiap hari hingga malam, hingga salah satu dari mereka tertidur tanpa sadar? Percakapan serupa kegiatan itu membawa Sasuke pada kegilaan ini. Ia menjadi begitu jatuh cinta pada sosok Naruto karena pikirannya yang terhipnotis kegiatan dunia maya mereka yang bahkan tak nyata. Oh, dan untuk terakhir kalinya ijinkan ia untuk menyelesaikan sandiwara dua arah ini, karena meskipun terkutuk pemuda ini diam-diam menyukainya.

Leorijncz: *menelusupkan tangannya ke balik kaos Naruto* *menghirup aroma tubuhnya, jilat perlahan*

Percaya atau tidak Sasuke merasakan hidungnya menangkap aroma manis Uzumaki muda seakan pemuda itu ada dalam pelukannya, dan tak lama telinganya bisa merasakan helaan nafas tertahan milik sosok yang jauh di seberang sana.

Ramen_kit: uuhh.. *mempererat pelukannya*

Leorijncz: Kurasa aku tidak akan bisa menahan diri sekarang.. *hempas tubuh Naruto ke kasur dan buka bajunya dengan kasar* *menjilati leher ke dada Naruto sambil melepas bajunya sendiri*

Ramen_kit: *kaget setelah terhempas* eh?! *senyum sambil mengelus pipi Sasuke* Tak apa.. khhh *refleks memeluk kepala Sasuke yang sedang menjilati tubuhnya*

Leorijncz: *lepas paksa celana Naruto* *menyeringai kecil menatap penisnya* Hmph, cepatnya

Ramen_kit: A-apa yang kau lihat?! *berusaha menutupi penisnya* *blushing*

Leorijncz: *senyum kecil* Jangan ditutupi, sayang.. *cium bibir Naruto, genggam penisnya, pijat perlahan*

Ramen_kit: *cium balik Sasuke, peluk erat* *tubuh menegang* aahhh..

Leorijncz: *tangan naik turun penis Naruto dengan cepat* *hisap leher Naruto sambil percepat gerakan tangan*

Ramen_kit: *mendesah tiap kali tangan Sasuke bergerak* ahh-ah! Sas—ahh—aku hampir—khh

Oke, pemuda ini harus berhenti. Sebelum nafsunya bangkit hanya karena nostalgia.

Ah, lalu yang biasanya akan dilakukan Naruto setelah sex chat mereka selesai adalah meminta Sasuke menelponnya hingga hampir pagi. Sasuke yang pada dasarnya tak cukup sanggup tidur larut malam biasanya akan berakhir meninggalkan ponselnya tanpa sadar dan mendapati puluhan pesan singkat dari Naruto yang memintanya untuk bangun. Awalnya ia tak cukup peduli pada permohonan si Uzumaki, namun mau tak mau lama-lama rasa bersalah menggerogotinya. Ia pernah terbangun dengan ponselnya masih terhubung ke seberang sana, mendapati isakan halus Naruto yang memohon dengan suara serak agar dia bangun. Namun saat Sasuke sadar ini sudah kelewat jauh, hatinya tak membiarkan ia berhenti. Pemuda itu sadar benar, ia tak lebih dari pelampiasan. Naruto hanya butuh teman yang bisa membantunya melawan hidupnya yang luar biasa sepi. Sosok ceria itu tak punya cukup banyak lawan bicara, bahkan kekasihnya sendiri.

Ya, Sasuke tahu benar itu dari salah satu pesan singkat Naruto dulu.

'Telpon aku sekarang ya, Teme'

Dan sekarang Sasuke sadar betapa kejamnya ia saat itu.

'Aku sibuk, Dobe. Nanti kutelepon setelah rapat OSIS selesai'

'Aku mau sekarang, Sasukeee. Kumohon :(( aku kesepian'

'Nanti saja, oke? Masih ada waktu'

'Tidak :( aku mau semua waktumu'

Sesungguhnya ia bisa merasakan dadanya mencelos tiap kali mengingat Naruto yang dulu, Naruto yang memohon padanya, Naruto yang selalu menginginkannya, Naruto yang manja. Sosok itu dulu ada di sana, menunggunya, namun Sasuke mengabaikannya begitu saja hingga Naruto jengah sendiri. Naruto lelah dengan perasaannya yang juga seakan dipermainkan Sasuke. Hingga pada akhirnya rutinitas telepon mereka selalu berakhir dengan pertengkaran. Naruto lelah dengan sikap tak acuh Sasuke dan memilih balas mengabaikan pemuda itu. Yang membuat Uchiha muda semakin menyedihkan adalah saat ia mendapati perubahan sikap si pirang setelah ia sadar betapa ia mencintai sosok itu. Pemuda itu tak menyangka pesan singkat yang terpampang di hadapannya akan terasa begitu menyakitkan.

'Heh tuli, mau kupanggil berapa kali baru bangun sih'

Serta beberapa pesan singkat lain yang menandakan pemuda Uzumaki di seberang sana marah hanya karena ia tertidur saat telepon mereka masih tersambung. Oh, dan lihatlah betapa menyedihkannya ia, setelah itu Sasuke akan mengirim berpuluh-puluh balasan yang berisi permintaan maaf. Frustasi sendiri dan hanya bisa berteriak dalam diam. Tak ada yang bisa ia lakukan selain meminta maaf langsung pada Naruto setelah mereka bertemu di sekolah. Namun paru-paru pemuda itu seakan tak mampu memberi kepalanya suplai oksigen yang cukup. Nafasnya memburu. Ia benci pada dirinya sendiri. Jari-jarinya menggenggam ponsel dengan erat hanya untuk membantingnya keras-keras ke kasur. Sasuke memilih bangkit dan berjalan mengitari kamarnya, berusaha mengatur nafasnya.

Kacau. Hatinya kacau.

Ini sungguh tak membantu.

Entah apa yang ada di pikirannya, namun saat disadarinya Sasuke telah membenturkan kepalanya keras-keras ke tembok kamar. Pipinya merasakan aliran hangat yang turun dari matanya. Pathetic. Kenapa ia bisa jadi seperti ini? Apa yang ada pada diri Naruto hingga membuatnya luar biasa kalut begini?

Ini tak bisa dibiarkan. Ia tak bisa membiarkan masalah ini membuatnya kacau lebih jauh lagi. Ia harus menemui pemilik manik ocean itu besok. Namun untuk sekarang mungkin ia harus tidur, kepalanya butuh istirahat setelah krisis luar biasa yang terlalu mendadak ini. Berulang kali dicobanya memejamkan mata sambil bersandar pada tembok. Ia enggan bangkit dan merebahkan dirinya di kasur tanpa alasan jelas. Mendadak Sasuke punya urgensi untuk menyiksa diri sendiri. Sayangnya seberapapun tersiksanya ia Naruto tak akan bisa melihat bagaimana kata-kata tadi mempengaruhinya separah ini.

Sosok mempesona itu tak akan sadar seorang Uchiha Sasuke telah menangis untuknya.

Sasuke terbangun keesokan paginya dengan kepala luar biasa pusing dan benjolan besar di pelipisnya. Biarlah sekali-sekali ia terlihat bodoh dengan penampilan seperti ini. Yang ada dalam pikirannya sekarang hanya bertemu dengan Naruto. Namun sirkuitnya justru makin kacau setelah melewati gerbang sekolah.

And he's there.

Maniknya bermanuver hanya untuk mendapati Naruto sedang duduk berduaan dengan kekasihnya: Haruno Sakura.

TBC

Dan saya kembali lagi setelah sekian lama huahahaha

Saya minta maaaf banget baru sempet update sekarang. Entah kenapa kemaren2 lagi males mikir #plak

Kalau masih berkenan mohon RnR ya. Flame ataupun kritik dan saran yang membangun sangat diterima

ChaaChulie247: udah terjawab di chapter ini hahaha

Shiki Raven-Sakuraii: udah kebiasaan pake bahasa begini soalnya :p

iAMELFujoshi: waduh saya jadi terharu dipuji begitu, terima kasih m(_ _)m

Sanpacchi: sedikit bocoran eheminibasedontruestoryehem, keep on reading :D

ttixz bebe: ahahaha tapi di chapter ini ga ada lemon dulu, cuma sampe lime aja

id 2698201: keep reading :D

lovelylawliet: yap ini dia lanjutannya :3

Vin-Vin Namikaze: makasiih m(_ _)m siapa pacar naru udah ketauan deh :))

CCloveRuki: progressnya bakal diceritain kenapa naru-chan jadi begitu

Kai Shadowchrive Noisseggra: yap to be continue :)) gomen saya baru sempet update sekarang

ukkychan: bisa dibilang begitu sih, mereka friends with benefit

Terima kasih buat yang udah mau review:D saya ga nyangka respon pembaca positif berhubung disini karakter sasu dan naru agak sedikit beda (ga sedikit juga sih sebenernya =)) )

Hontou ni arigatou gozaimasu m(_ _)m

Happy reading, minna