katekyo Hitman Reborn! By Amano Akira
-Except, Mukuro and Hibari belongs to each other—
Thank's to review chapter 4:
Zoealya and Authorjelek
And thank's for read, fave, follow and reviews, Ladies!^^
Warning:
Gender blending/shounen-ai/gaje/lebay/kemungkinan OOC & typo(s)
.
Chapter 5
[ Date with Bucking Bronco – part I ]
.
Previous Chapter
"Sebenarnya kedatanganku kemari ada kaitannya dengan Aoi-chan…"
Dan di detik itu juga Mukuro merasa bahwa kedatangan Dino sekarang benar-benar bukan pertanda baik, padahal tadi pagi saja sudah cukup menghebohkan saat mengingat kenyataan bahwa si pirang itu jatuh cinta pada sosoknya versi perempuan—dan sekarang apa lagi?
Sementara Hibari langsung menaikkan level deathglare-nya—entah bagaimana caranya—herbivora Cavallone itu berani memanggil mangsanya dengan embel-embel menjijkkan itu? Padahal ia saja tidak pernah, lho!
Apalagi saat Dino melanjutkan kalimatnya yang tadi dengan mata berbinar seraya menatap sang gadis. Yang lansung membuat pairing ter-extreme kita—hampir—jantungan, dan kalimat itu adalah-
"Ehehe… besok aku ingin mengajak Ao-chan kencan, kau mau tidak?"
.
.
.
~X0X~
Kediaman Mukuro-Hibari
"Bagaimana Mukuro-sama? Cocok untukmu, kan?"
Seorang pria—err gadis bermabut indigo, tengah mematut diri di depan cermin. Dahinya berkerut; sedikit menggambarkan bagaimana mood-nya saat ini. sementara gadis lainnya (yang ini asli, lho!) yang berdiri tak jauh dari uhuk—gadis pertama, hanya menahan senyum sembari menggelengkan kepala atas respon yang diberikan sang tu—cough, nonanya.
"Ini terlihat—" Mukuro terlihat kesulitan untuk menggambarkan keadaannya yang sekarang. "—sedikit aneh, mungkin? Kufufu…" ia dapat melihat dari sudut matanya, Chrome menaikkan alis.
"Apanya yang aneh, Mukuro-sama?"
Masih menatap bayangan dirinya di cermin dengan ekspresi yang kuarang lebih seperti 'what the hell?'-nya, Mukuro tak habis pikir kenapa ia yang dijuluki mantan kriminal ini malah memakai pakaian seperti ini. Mau dikemanakan gelarnya sebagai seme ter-hot sekaligus ter-mesum se-Vongola?
Ngomong-ngomong sebenarnya pakaian apa sih yang Mukuro pakai sampai yang bersangkutan berekspresi seperti habis melihat hantu?
Hell—sebenarnya hanya atasan lengan panjang sewarna lavender yang terbuat dari bahan kaos yang agak longgar, sementara bawahannya short-pants hitam, kira-kira 10 cm di atas lutut—hingga memperlihatkan kaki jenjangnya yang mulus.
Cukup mengherankan memang, mengingat bahwa Mukuro itu lelaki, tetapi justru berkaki mulus—full tanpa bulu sedikitpun. Bahkan tidak hanya kakinya saja yang yang tanpa bulu, seluruh tubuhnya pun juga sama, lho!
Cough—lupakan.
Sedangkan untuk alas kakinya, Ia menggunakan stocking hitam dan sepatu boots berwarna sama yang panjangnya tepat di bawah lutut. Untuk gaya rambut, Chrome-nya itu sudah membantunya berdandan dengan cara mengikat satu surai indigonya dengan pita putih. Membuatnya tampil lebih 'segar' dengan gaya kuncir tinggi di kepalanya. Manis, bukan?—coughcough.
Sumpah demi apa coba, kenapa ia harus berpenampilan seperti ini hanya untuk seekor haneuma, sih? padahal ia kan tadi malam bisa menendang Cavallone itu ke luar dari rumahnya, lalu bersikap seperti tidak tahu apa-apa. Terus kenapa ia sampai mau melakukan hal ini, coba?
Mukuro berjalan ke arah pintu kamarnya kemudian membukanya perlahan, hanya untuk mendapati sosok skylark kesayangannya yang masih terlelap di balik buntalan selimut. Ia menghampiri Hibari di atas tempat tidur mereka; mengulurkan tangannya hanya untuk membelai pipi lembut sang kekasih.
Ya—kau benar. Alasan Mukuro menerima ajakan kencan Dino bukan karena ia ada perasaan pada pria pirang itu. Tetapi lebih karena ia ingin Kyoya-nya itu jujur terhadap perasaannya sendiri, atau bagaimana perasaannya saat melihat Mukuro ia didekati orang lain. Yah, walaupun tanpa hal itu, sebenarnya Mist guardian itu sudah tahu apa yang dirasakan Hibari.
Pemilik surai berwarna indigo tersebut menatap wajah lelap sang kekasih dengan tatapannya yang lembut—tatapan yang hanya untuk Kyoya-nya seorang. Bibirnya mengeja kata demi kata yang membentuk sederet kalimat indah yang berbunyi…
"Ti amo, Kyoya…"
Sepertinya serentetan adegan romantis di beberapa paragraf di atas langsung runtuh, saat Mukuro mengubah raut wajahnya menjadi masam. Dan itu ketika ia mendengar suara klakson mobil yang—tanpa dilihat siapa pemiliknya—ia sudah tahu.
Ya, ya, ya—kalian benar. Siapa lagi kalau bukan bos berambut pirang yang biasa dipanggil Dino(saurus) itu?
"Mukuro-sama, Dino-san sudah—" interupsi.
"Ya, aku sudah tahu," dengan ekspresi wajah 'ogah-ogahan'nya, Mukuro menjawab dengan nada malas. "Kau lebih baik ke baw—"
Din! Din! Diiin! Diiiiiin!
-Demi kecoa kecebur got. Apa sih yang dipikirkan si haneuma itu sampai mengklakson berkali-kali seperti itu? Memangnya ia pikir Mukuro itu tuli apa? Ditambah lagi, ini adalah weekend yang artinya banyak orang menghabiskan waktu mereka di rumah untuk istirahat. Memangnya ia mau membangunkan seisi komplek?
Menghela napas kemudian Mukuro berkata. "Chrome, cepat kau temui makhluk itu. Kalau tidak, bisa-bisa ia membangunkan seisi komplek perumahan ini."
"Baiklah, Mukuro-sama…" dan tubuh gadis bersurai ungu tua itupun tertelan di balik pintu kamar sang majikan.
…
Mengalihkan perhatiannya kembali ke arah wajah pangeran tidur-nya, yang—entah kenapa tidak terganggu sama sekali dengan suara klakson mobil si kuda pincang(?). Mukuro tentu mengerti dengan benar, haneuma itu pasti tak akan pergi dari sini sebelum ia ke luar. Dan kedatangan Dino tentunya tak akan membawa dampak positif bagi kekasihnya; baik saat tidur, maupun saat ia terbangun.
"Kufufu… aku pergi dulu ya, Kyoya."
Sumpah. Lagaknya Mukuro barusan itu, sudah seperti seorang suami yang hendak meninggalkan sang istri bekerja di negeri antah-berantah saja.
Pengguna ilusi itu mencuri sebuah ciuman dari bibir pucat sang kekasih. Kemudian ia beranjak dari posisi duduknya, enggan rasanya ia turun ke bawah menemui si pirang itu. Meraih knop pintu kamarnya—dan Hibari—kemudian menutupnya dengan perlahan.
Tanpa Mukuro ketahui bahwa sejak tadi seseorang yang ia kira sedang tidur ternyata mendengar seluruh kata-katanya sampai akhir dalam diam. Dua iris abu-abu itu mengikuti gerakan Mukuro hingga ia menutup pintu kamar mereka dengan tatapan sulit ditebak.
"Kamikorosu, Rokudo Mukuro."
.
.
.
.
.
Sumpah—jika bukan karena perkara "ingin mengetes kecemburuan Kyoya" ia tak akan pernah mau melakukan hal ini. Berapa pun bayarannya. Tapi ngomong-ngomong, memangnya siapa yang mau membayarnya, sih?
"Mukuro-sama, kau masih ingat 'kuliah' yang aku berikan tadi pagi, kan?" kemudian ia tersenyum hangat saat dilihatnya sang majikan yang mengangguk kepala. "Kalau begitu, bawa ini."
Ia menyordorkan tas selempang mungil berwarna hitam dengan aksen pita putihnya yang manis pada Mukuro. Yang berambut bak blueberry ranum itu akhirnya meraih tas yang di sodorkan padanya dengan berat hati.
"Memangnya untuk ap—"
"AOI-CHAN~~~"
-Demi kuda lumping naik motor(?). Ngapain coba, si haneuma pirang itu teriak-teriak segala? Memangnya Mukuro itu tuli apa? Eh—kok, terasa de javu ya?
Lupakan.
Sang gadis muda bersurai indigo itu hanya mendengus kesal terhadap sikap makhluk pirang di dekatnya itu.
"Bisakah kau tidak membuat keributan di sini Tuan Cavallone? Kau tahu Kyoya-san masih tidur?"
Sebisa mungkin ia menyembunyikan kekesalan yang mungkin saja terpeta di wajahnya dengan senyum kecil. Tetapi, karena sangking dipaksakan, justru yang muncul malah senyum aneh dengan kedutan kecil di sudut bibirnya.
Entah karena tidak dapat menangkap unsur sebal di wajah Mukuro malah membuatnya berpikir bahwa wajah seperti itu adalah wajah termanis milik sang biru. EH?
Seperti anjing yang hendak dielus majikannya, Dino langsung menganggukkan kepalanya saat mendengar permintaan sang gadis biru plus antusiasme kelewat over.
"Tentu saja, Aoi-chan! Apapun untukmu seorang~"
Kata-kata itu sukses membuat Mukuro merinding disko serta sweatdrop sebesar jagung bertengger di sisi kepalanya.
"Tsk. Ya sudah, ayo berangkat!" dengusnya sebal.
Ia berjalan mendahului Dino ke luar rumah—dan semakin sweatdrop saat melihat sebuah mobil mewah yang berasal dari negara tempat tinggal pria itu, bertengger apik tepat di depan pintu pagar rumahnya.
Dasar haneuma. Pergi ke taman bermain Namimori, yang berjarak tak sampai 10 km saja pakai Ferrari. Kamikorosu.
Tapi dibanding pergi dengan sebuah mobil Ferrari, ia justru lebih heran dengan yang ini-
"Bos, ada yang perlu saya bantu?"
-Ia tak habis pikir, bahkan saat Dino kencan dengan seorang gadis (pura-puranya begitu!) ia malah membawa bapak-bapak itu ikut serta degannya?
Sudah—cukup. Ia benar-benar malas memikirkan segala hal yang berhubungan dengan kuda jingkrak itu. Jadi jangan ada pertanyaan lagi, oke?
…
Gelengan kepala dari sang atasan, rasanya bagi Romario sebagai jawaban mutlak. Ia mengangguk mengerti. Kemudian dengan segera membukakan pintu mobil penumpang bagi Dino setelah atasannya itu membukakan pintu untuk Mukuro. Ia pun duduk di kursi kemudi, dan mulai menyetir setelah menutup pintu mobil. Krik—kenapa jadi repot begitu sih?
Mobil berwarna mencolok itu pun berlalu pergi, meninggalkan Chrome yang berdiri di ambang pintu rumah seraya berharap Mukuro tak lupa 'kuliah' yang tadi pagi ia berikan dan saat Hibari terbangun nanti, ia tak akan mengamuk lantaran pasangannya pergi dengan orang lain.
…Krik.
~X0X~
Vongola HQ
"Percepat jalanmu, Yakyuu-baka. Kita sekarang harus menjemput Juudaime di ruangannya!"
Seorang pria berambut perak yang terdaftar dengan nama Gokudera Hayato mempercepat langkahnya. Sementara pria yang lainnya hanya tertawa renyah melihat tindakan buru-buru si rambut perak.
"Ahaha. Kurasa kau tak perlu sampai seperti itu, Gokudera."
Meski bicara begitu, pria yang dipanggil 'Yakyuu-baka' atau bernama asli Yamamoto Takeshi oleh si perak tetap saja ia berjalan dengan langkah lebar; seakan berusaha menyamakan gerakan dari Gokudera.
"Dasar bodoh! Membuat bos menunggu lama, adalah sebuah hal yang tabu bagi seorang tangan kanan tahu!" ujarnya cepat, diiringi langkah kakinya yang semakin melebar.
Tak lama kemudian mereka telah sampai di sebuah ruangan berpintu dua dengan ornamen mewah terukir di hadapan mereka. Gokudera mengambil inisiatif untuk mengetuk pintu ruangan sang Juudaime. Ia pun langsung masuk diikuti Yamamoto, setelah mendengar suara bernada halus milik sang bos.
"Juudaime, apa kau ingin kita berangkat sekarang?"
"Ahaha. Tapi, kelihatannya kau sibuk sekali, Tsuna. Apa perlu kubantu?" ia dapat melihat Tsuna yang tengah membereskan tumpukan kertas-kertas di atas meja; terlihat sibuk.
Seakan mengabaikan pemuda deathglare si rambut perak yang jelas-jelas ingin mengatakan itu juga. Bagaimanapun juga, ialah tangan kanan Tsuna, lho! Dan tentu sudah menjadi kewajibannya untuk membantu pekerjaan sang bos.
"Terima kasih, Yamamoto. Kebetulan, sekali tugasku mengecek berkas-berkas ini sudah selesai semua, kok." senyum lembut khas milik sang Vongola Decimo seakan menghapus semua kekhawatiran dua orang di depannya. "Ayo, kita berangkat sekarang."
"Baik, Juudaime!"
Mereka pun tanpa banyak bicara lagi segera pergi ke luar pekarangan mansion keluarga Vongola tempat mobil yang sudah disiapkan para pelayan terparkir.
Mobil yang akan membawa mereka ke suatu tempat…
.
.
.
.
.
~X0X~
Namimori Park
Matahari yang bersinar cukup cerah di pagi musim semi Namimori ini, setidaknya tak terlalu panas jika dinikmati untuk orang-orang yang hendak liburan—atau mungkin malah ada yang hanya menghabiskan waktu untuk tidur-tiduran saja.
Why not? Semua orang memang mungkin menikmati momen seperti ini. Err—mungkin tidak semua orang juga sih. karena ada satu orang yang justru berwajah masam dan sesekali mengutuki matahari yang bersinar cerah hari ini.
Ia menganggap, bahwa dengan matahari yang bersinar cerah seperti ini, maka dapat dipastikan beberapa jam ke depan nasibnya akan merana(?).
Ya—ya, kalian benar kok! orang itu adalah Rokudo Mukuro; seorang pria muda yang kini tertimpa musibah(?). Dikarenakan gender-nya yang berubah itulah, kini ia harus terjebak dengan seorang berambut pirang yang kini tengah tersenyum lebar ke arahnya.
Eh—tunggu dulu. Tak semua hal buruk saja yang menimpanya, lho! Asal kalian tahu saja ya, ada satu sisi positif yang ia tahu berkat gender-nya saat ini. Sekarang gadis bersurai indigo itu mengetahui bahwa ternyata si kuda jingkrak itu Straight, Ladies!
Dengan terbuktinya Dino menyukai dirinya yang versi—cough—wanita, artinya ia tak perlu khawatir Kyoya-nya akan diambil oleh si kuda jingkrak itu kan?
Ahaha~ ternyata benar di balik semua musibah, pasti hidayah(?)nya, ya!
…Krik.
"Aoi-chan, ayo kita pergi ke sebelah sana!" tunjuk Dino ke tempat pengantrian jet-coaster, yang hanya dibalas dengusan oleh sang gadis.
Namun saat mereka baru saja sampai, terdengar sebuah suara yang tak asing di telinga; suara khas yang hanya dimiliki satu orang yang mereka (sangat) kenal. Suara yang membuat Mukuro menoleh dengan ekspresi horor saat melihatnya.
Orang yang kalian ketahui memiliki rambut putih salju dengan gaya acak-acakan, iris ungu terang, dan tak lupa sekantung marshmallow di tangannya. Nama orang itu adalah-
"Lama tak jumpa, Haneuma. Fufu~"
-Byakuran.
Dan kini sepertinya, sekarang Mukuro harus menarik kata-katanya di bagian- "Tak semua hal buruk saja yang menimpanya". Karena pada kenyataannya, justru lebih banyak hal buruk lainnya yang akan ia hadapi di hari kedua gender blending-nya…
.
.
.
.
.
TBC
Oya oya~ halo, Ladies! Ketemu lagi dengan saya~ ^w^/
Wah, ga terasa udah sampai chap 5 ya? Sebentar lagi (mungkin) bakal tamat ceritanya, apalagi sekarang udah hari ke-2 Muku berubah kan? Tinggal satu hari lagi menunggu, baru sehabis itu serumnya (mungkin) jadi lho! Karena ke depannya akan lebih banyak kejadian2 yg duga~ *slapped*
Untuk Rokudo Renna-san, tuh sesusai janji, saya pakai ide Anda lho! Ide tentang baju fem!Muku. ada lagi yang punya ide buat baju Mukuro? Klo ada, cukup bilang saja. Nanti klo menarik, saya akan coba masukkan ke fic ^^
[Sedikit Spoiler]
Dan sesuai janji saya di chapter2 awal, saya akan memunculkan adegan 18fem!69, karena bakal adegan semi-rate M. Tapi klo Ladies ada yg ga setuju, kasih tahu saya ya! Supaya bikin semua Ladies bahagia. Tapi saya tidak akan memberi tahu di chap mana ada adegan 18fem!69-nya. Itu masih Ra-ha-si-a! #ditendang
Klo Ladies setuju angkat tangan! Mari kita jadikan Mukuro uke sesekali.
Akhir kata,
Terima kasih sudah mau mampir dan membaca.
Sampai jumpa di chap selanjutnya~
Mind to review, Ladies?
