Katekyo Hitman Reborn! By Amano Akira

-except, Mukuro and Hibari belongs to each other—

Thank's to:

Akuoku, Rhiani, Demoneolith Ravena, Nato Apple, Nobarachan

Thank's for read, review and fave, Ladies~!

Warning:

Dfem69/100fem69 (mungkin)/18fem69 (nanti).

Hati-hati dengan kemungkinan adegan lebay di dalam sini, Ladies!

.

Chapter 6

[ Date with Bucking Bronco – part II ]

.

Previous chapter

Namun saat mereka baru saja sampai, terdengar sebuah suara yang tak asing di telinga; suara khas yang hanya dimiliki satu orang yang mereka (sangat) kenal. Suara yang membuat Mukuro menoleh dengan ekspresi horor saat melihatnya.

Orang yang kalian ketahui memiliki rambut putih salju dengan gaya acak-acakan, iris ungu terang, dan tak lupa sekantung marshmallow di tangannya. Nama orang itu adalah-

"Lama tak jumpa, Haneuma. Fufu~"

-Byakuran.

Dan kini sepertinya, sekarang Mukuro harus menarik kata-katanya di bagian- "Tak semua hal buruk saja yang menimpanya". Karena pada kenyataannya, justru lebih banyak hal buruk lainnya yang akan ia hadapi di hari kedua gender blending-nya…

.

~X0X~

Namimori Park

Gawat.

Itulah satu kata yang terbayang di benak Mukuro saat melihat kehadiran Byakuran saat ini. Yang berambut biru sama sekali tidak menyangka bahwa maniak marshmallow itupun turut serta memeriahkan penderitaannya saat ini. Iya—jangankan Mukuro, yang sedang mengetik fic ini juga sebelumnya tidak pernah berpikir akan memasukkan si rambut putih itu dalam fic-nya, lho.

Lupakan.

Pokoknya, ia harus buru-buru menghindar. Sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan Mukuro, tetapi diharapkan para Ladies.

Saat ini ia berdiri di belakang tubuh Dino—yang saat ini sedang mengobrol entah-apa dengan Byakuran—dengan ukuran tubuhnya saat ini, karena memungkinkan dirinya tertupi sedikit. Tapi bukan berarti ia bisa tenang, bukan? Karena cepat atau lambat, haneuma itu pasti akan mengenalkan dirinya pada Byakuran—dan otomatis mereka akan bertatap muka. Asal tahu saja ya, menipu Byakuran lebih sulit dibanding Dino.

Buktinya?

Kalian ingat kan, dengan kejadian sewaktu Mukuro menyamar menjadi si Leonardo Lippi atau Guido Greco? Padahal ia sudah menyamar plus berakting menjadi seorang pemuda lugu—yang jelas-jelas berkebalikan dengan sifat aslinya—dengan sempurna, tetapi kenapa pria dengan surai biru gelap itu tetap saja ketahuan, ya?

Kalau yang waktu itu saja ketahuan, apalagi yang sekarang, coba?

Membuka tas selempang mungil yang dibawakan Chrome tadi, dan ia bersyukur menemukan sapu tangan biru. Yang penting, ia harus menghindar dulu!

Sambil menutupi kepalanya dengan sapu tangan tadi, ia sengaja berkata dengan nada yang dilembut-lembutkan—supaya tidak ketahuan— "A-ano… boleh aku permisi ke toilet sebentar?"

Dino menoleh saat mendengar suara sang pujaan hati(?), sambil menampilkan senyum blink-blink, ia berkata. "Tentu saja, silahkan Ao-chan." Dan tanpa banyak babibu lagi, ia langsung berlari ke arah toilet yang kebetulan letaknya tak jauh dari tempat mereka berdiri. Cavallone Decimo itu tertawa. "Sepertinya benar-benar sudah tidak tahan, ya?"

Sementara Byakuran hanya melongo. "Itu siapa?"

"Oh—itu Aoi, dia saudara jauh Kyoya. Untuk sementara waktu, sekarang ia tinggal di rumah Kyoya untuk liburan."

Yang berambut putih salju itu mengerutkan dahinya. Meski tadi gadis itu menutupi kepalanya dengan sapu tangan, tetapi Byakuran bisa melihat rambut ekor kudanya yang tak tertutupi sapu tangan; dan mendapati warna biru indigo yang tak asing untuknya.

.

.

.

~X0X~

Sementara itu, di kediaman Mukuro-Hibari

Hibari Kyoya termangu di atas tempat tidurnya. Tak biasanya ia seperti ini, lho. Biasanya ia akan dengan otomatis baru terbangun saat Mukuro menyentuh pipinya setiap pagi, itu juga kalau ia langsung bangun. Jika Hibari tidak lagsung bangun, maka Mukuro akan membangunkannya dengan 'godaan-godaan' khasnya—yang kau-tahu-apa-itu. Tetapi, meski selalu berkata bahwa ia tak suka diperlakukan seperti itu, nyatanya sekarang ia merindukan hal-hal semacam itu.

Kalian tentu tahu benar, selama Mukuro berubah gender-nya ia tak bisa mem-piiiip Hibari, bukan? Ya iyalah—mana ada sejarahnya wanita 'menyerang' duluan. Dan sekali lagi perlu ditekankan bahwa ia merindukannya.

…Merindukan dalam artian apapun boleh, ngomong-ngomong.

Dan sekarang justru pria—eh, gadis berambut indigo itu malah pergi dengan mantan tutornya. Orang waras mana yang suka melihat kekasihnya pergi dengan orang lain, coba? Apalagi, untuk orang posesif semacam Hibari Kyoya. Pria berambut hitam itu mendengus kesal.

Memutuskan untuk mengabaikan kekesalan dalam hatinya, Hibari bergegas turun dari lantai atas tempat kamarnya—dan Mukuro berada. Ia mau ke dapur; melihat ada apa saja yang kira-kira bisa ia masak. Tapi ngomong-ngomong, kalau pun ada yang bisa dimasak, ia—jujur saja tak tahu apa yang ingin dimasak atau bagaimana cara memasaknya.

Biasanya Mukuro selalu memasakkan untuknya, full—tiga kali sehari. Dulu juga saat ia masih belum bersama dengan pria beriris dwiwarna itu, untuk urusan makan Kusakabe-lah yang bertanggung jawab.

Dan hal ini tentu mebuat para pembaca terheran-heran dan bertanya sebenarnya siapa sih, yang menjadi seme?

Biarpun begitu, kalian tak perlu khawatir. Karena Mukuro selalu dengan senang hati memasak untuk Hibari, lho. Pasangan yang baik, bukan?

Kembali lagi ke Hibari.

Hibari melanjutkan langkahnya menuju dapur hanya untuk mendapati seekor herbivora betina—yang bisa dibilang mirip dengan pasangannya. Tengah merapikan ruang tamu yang tadi diperkirakan sebagai markas pasangannya tadi pagi. Tapi tetap saja ia tak menyukai kehadiran orang lain di rumahnya—dan Mukuro, catat itu.

"Sedang apa kau di sini."

Hibari dapat melihat dengan jelas bahwa gadis berambut ungu itu tersentak sedikit saat mendengar suaranya sebelum ia membalikkan tubuh.

"A-ano… aku di-diminta Mukuro-sama tetap berada di sini sampai ia—"

"Pergi dari sini…"

Hibari berujar dengan nada dingin. Mengabaikan ekspresi wajah sang gadis yang seperti hendak menangis.

"Ta-tapi, ia yang memintaku untuk tetap di sini…"sang gadis tetap tidak menyerah, agaknya ia memang harus berbesar hati saat menghadapi mantan prefek Namimori-chuu itu.

Hibari melenggang ke dapur mengabaikan gadis yang merupakan medium kekasihnya itu dulu.

"… Dia memang memintamu tetap di sini," pria bersurai hitam itu berhenti melangkah; menatap Chrome dari bahunya. "Tetapi jika aku ingin mengusirmu, itu bukan hal yang sulit." Ia menyeringai seraya melanjutkan langkahnya kembali.

Meninggalkan Chrome yang merunduk sedih lantaran ia di usir sang monster skylark. Dan adegan ini mungkin akan membuat para pembaca ikut terharu dengan nasib gadis ber eye-patch tersebut, namun semuanya runtuh seketika saat Chrome bergumam…

"Yah… a—aku gagal lihat hints yaoi, dong?" gumamnya sangat pelan agar sang objek hobi nistanya tidak mendengar.

Chrome Dokuro 23 tahun, resmi dinyatakan sebagai fujoshi terselubung.

.

.

.

Hibari memandang ke arah meja makan dengan tatapan datar.

Tuh—kan benar, ternyata pasangannya itu sudah menyiapkan masakan untuknya. Jadi illusionis itu sebelum berangkat coretkencancoret dengan si haneuma, yang bersangkutan sudah menyiapkan makanan untuknya. Dan karena sudah memperkirakan kemungkinan 99,99% dapur rumah mereka akan hancur, lantaran ia membiarkan Hibari memasak toh?

Tanpa banyak berpikir lagi, pria beriris kelabu itu langsung menghenyakkan pantatnya di atas kursi meja makan yang di depannya sudah terhampar menu sarapan khas jepang.

Yah—biarpun mungkin masakan Mukuro tak seenak atau semewah seperti buatan kembarannya nan jauh di sana. Yang jelas masakan Mukuro masih manusiawi(?), atau setidaknya Hibari berpikir Mukuro tak akan meracuni dirinya kok.

Saat hendak mengambil mangkuk berisi sup yang berada di sisi kanan meja, ia menemukan secarik kertas—terselip di bawah mangkuk yang barusan hendak ia ambil tadi. Kertas bertulisan tangan Mukuro, yang isinya…

Selamat Pagi menjelang siang, Kyoya-sayang~

Kalau kau sudah bangun, jangan lupa makan sarapanmu! Kau harus tetap memakan sarapanmu meski kau bangun sore sekalipun. Karena aku tak mau kau sakit, My little skylark.

Hibari mendengus saat membacanya. Memangnya ia anak kecil, apa?

Tenang, Haneuma itu tak akan berani macam-macam denganku. Jadi kau tak perlu khawatir!

69

Gerutuan kecil terdengar dari bibir pucat sang karnivora. Siapa juga yang khawatir pada illusionis mesum itu, coba?

PS: Aku (hanya) mencintaimu, Kyoya~

Tetapi saat ia membaca kalimat tambahan yang tertulis di kertas tersebut, mau tak mau, ia pada akhirnya tak dapat menahan senyum kecilnya. Detik kemudian ia mulai menyendoki sup yang dibuat Mukuro tadi pagi untuknya.

"Hmph. Dasar bodoh…"

.

.

.

~X0X~

Mukuro menatapi sekelilingnya dengan pandangan bertanya-tanya. Baru tadi ia masuk ke toilet karena ingin sembunyi dari si marshmallow berjalan, kini yang berambut indigo tersebut merasa dirinya dipandangi oleh orang-orang sekitar—lebih spesifiknya; para pengunjung toilet. Masalahnya, para pengunjung toilet itu seperti mentapinya dengan pandangan aneh—yang Mukuro sendiri tidak tahu apa maksudnya. Memangnya ia itu pemain sirkus, apa? Namun pada akhirnya ia tahu saat seorang pria paruh baya menepuk bahunya dan berkata—

"Maaf Nona, ini toilet pria. Toilet untuk wanita ada di sebelah."

Rasanya butuh waktu tiga detik bagi Mukuro untuk mencerna kalimat barusan, setelah menatapi penampilannya sendiri atas sampai bawah lewat cermin yang terpasang di toilet tersebut. Dan dengan kecepatan cahaya(?), gadis itu langsung berlari ke luar tolilet pria menuju toilet tempat seharusnya ia berada.

"Ma—maafkan aku!"

Oho—jadi ternyata Mukuro salah masuk toilet, toh? Pantas saja pengunjung toilet tersebut yang notabene para pria, menatapinya dengan pandangan aneh. Sepertinya yang bersangkutan masih mengira dirinya dalam wujud pria, jadi secara coretspontancoret ia masuk ke toilet pria.

Ckckck~ Mukuro Mukuro, malang nian nasibmu~

Krik.

Setelah memastikan bahwa kali ini ia tak salah masuk, Mukuro menghela napas lega. Illusionis itupun berjalan dengan tampang lesu ke arah wastafel; menatapi bayangan dirnya yang terpantul di cermin tersebut.

Langsung saja ia berpikir bagaimana cara agar ia tak bertatap muka secara lagsung dengan (mantan) bos Millefiore itu. Berbeda dengan Dino, kemungkinan Byakuran mengetahui identitasnya cukup besar. Dan ia merasa menghindar pun tidak akan ada gunanya, karena bisa saja Byakuran malah akan curiga padanya.

Haaah~~ kenapa jadi serba susah begini, sih! Dalam hati, Mukuro mengutuk sang ahli mekanik Vongola yang telah menyebabkan ia bernasib seperti ini. Awas saja, jika ramuan itu tidak selesai hari Senin minggu depan[1], ia berani menjamin orang bernama Giannini itu akan langsung menjadi penghuni baru di neraka.

Sebenarnya bisa saja sih, ia kabur. Tetapi kabur dari masalah bukanlah sifatnya. Dan lagi—ia kan, sedang dalam misi "membuat Kyoya cemburu" jadi rasanya tak mungkin juga ia kabur, kan?

Mencoba menghilangkan pikiran-pikiran tak mengenakkan di kepalanya, Mukuro menyalakan air keran dari wastafel di depannya; membasuh wajahnya dengan air segar. Mengeringkannya dengan tisu yang tersedia juga di toilet (bukan tisu toilet, lho!) kemudian membuangnya di tempat sampah.

Melangkah keluar toilet—hanya untuk mendapati tangannya ditarik dengan paksa oleh seseorang yang menyeretnya ke arah belakang toilet. Dan perlu waktu lama baginya untuk menyadari siapa sang pelaku.

"A—ada apa ya, Tuan?"

Mukuro langsung saja memasang topeng inosennya agar—sedikitnya—pria berambut salju itu tak dapat mengenalinya. Membentuk senyum semanis mungkin. Namun agaknya senyum manisnya itu tak akan berpengaruh pada sang bos Millefiore, karena yang bersangkutan langsung mengucap rangkaian kata menjadi sebuah pertanyaan telak baginya; dengan senyum khas seramnya.

"Kau pandai berakting juga ya, Mukuro-kun~~"

.

.

.

~X0X~

Hibari Kyoya menatap tak minat pada kumpulan herbivora di depannya. Padahal, barusan saja pria berambut hitam itu sedang menikmati menu sarapan pagi-menjelang siang yang dibuatkan Mukuro dengan santai. Sampai acaranya itu diganggu oleh kedatangan sang alter ego kesayangan kekasihnya.

.

Flashback

"Kumo no Hito, di depan ada tamu untukmu!"

Chrome berucap dengan nada suara serak dan terengah-engah, pada Hibari yang tidak menyukai keberadaannya. Jika kita lihat dari kerutan di dahi milik sang Awan.

"Bukannya aku sudah mengusirmu, Herbivora…"

Mengabaikan ucapan sang pemilik rumah, Chrome berkata lagi.

"… Di—dia, menunggumu di ruang tamu."

Dan lagi, siapa orang yang berani bertandang ke rumahnya pagi-pagi seperti ini, sih? Apabila bukan orang penting Hibari akan langsung mengusirnya. Pria berkulit pucat itu bangit dari posisi duduknya dan berjalan menuju ruang tamu-hanya untuk menemukan herbivora lain yang mengganggu acara paginya.

End of flashback

.

"Mau apa kalian kemari?"

Mendengar sambutan tak ramah orang di depannya, mau tak mau membuat sang tangan kanan Vongola Decimo berang.

"APA KATAMUUU? BERANI SEKALI KAU BERKATA BEGITU PADA JUUDAIME!"

Langsung saja Tsuna dan Yamamoto dengan sikap menenangkan sang Badai yang benar-benar mirip badai saat mengamuk(?) itu. Setelah keadaan tenang, barulah Tsuna mengutarakan maksud dan tujuan kedatangannya ke rumah horor tersebut.

.

.

.

.

"Jadi maksud kedatangan Bossu itu, karena ingin melihat keadaan Mukuro-sama?"

Tsuna langsung saja menjawabnya dengan anggukkan.

"Ya, karena itu aku ingin menemu-"

"Dia tidak ada." Adalah jawaban yang dilontarkan sang Karnivora Namimori; memotong perkataan Tsuna.

"Eh? Tidak ada? Memangnya Mukuro pergi kemana?" Decimo itu bertanya dengan hati-hati pada Cloud Guardian-nya, yang tengah duduk dengan tangan terlipat di dada sembari menatap ke samping.

Lama tak terdengar jawaban dari Hibari, membuat Chrome berinisiatif memberikan jawaban yang diinginkan Tsuna. Antisipasi agar terjadi perang lantaran sang Badai yang terlihat seperti hendak mengamuk lagi.

"Se—sebenarnya, Mukuro-sama sedang sedang pergi dengan Dino-san…"

"E—EEEHH?"

Mau tak mau, mereka tentu saja terkejut. Kalau sampai ada orang luar yang tahu tentang keadaan Mukuro yang seperti itu, kemungkinan identitas Mist Guardian itu bisa ketahuan, bukan?

"Oi, itu bagaimana bisa terjadi, sih?" Gokudera bertanya pada Chrome yang justru ketakutan padanya karena dibentak. "Memangnya kalian berdua tidak menjaganya, apa?" namun saat melihat ekspresi sang gadis, pada akhirnya Strom Guardian itu melunakkan cara bicaranya.

"I—itu…"

"Gokudera-kun benar, Chrome… kenapa Dino-san bisa ada di Jepang? Dan lagi kenapa sekarang ia pergi dengan Mukuro?" sang Decimo ikut bertanya dengan panik lantaran khawatir akan terjadi sesuatu dengan Mukuro-nya.

EH? Apa tadi?

…Lupakan.

"Ahaha. Kalian berdua tenang dulu! Kurasa jika kalian bertanya terus seperti itu, Chrome tidak akan bisa memberikan jawabannya."

Sepertinya hanya Yamamoto yang masih bisa berpikir jernih disaat seperti ini. Dan kedua orang itupun (akhirnya) sadar atas kesalahan mereka.

"Maafkan kami, Chrome. Kami tak bermaksud membuatmu takut…"

"Tidak apa-apa, Bossu."

Sebuah kedutan muncul di sisi wajah sang karnivora. Kekesalan yang bercokol di hatinya sejak tadi pagi kembali muncul saat mendengar celotehan empat orang yang ia sebut herbivora itu. Kesal karena haneuma datang dan mengangkut(?) Mukuro seenaknya. Kesal karena Mukuro seenaknya pergi tanpa izin resmi(?). dan semakin kesal lagi, saat ia—mau tak mau—mendengarkan celotehan para herbivora di hadapannya.

Kesal kasal kesal!

"Diam, Herbivora."

Langsung saja keempat makhluk di rumah itu merasakan hawa dingin karena efek dasyat(?) dari 'Dark-Hibari'. Menelan ludah dalam kegugupan.

"Hi—Hibari-san…?"

"Kalian. Keluar dari sini atau—" ia yang berambut hitam mengangkat tonfanya dalam posisi mengancam. "—Kamikorosu."

Dalam hitungan kurang dari 10 detik saja empat makhluk tersebut langsung mengambil langkah seribu; menghindari amukan sang mantan prefek. Takut digigit mungkin?

Dan sekiranya mungkin memang hanya mantan ace baseball Namimori itu saja yang (kurang) terpengaruh aura sang karnivora, karena yang bersangkutan—lagi-lagi—hanya tetawa renyah seraya berkata. "Ahaha. Rasanya Hibari semakin lama semakin galak saja. Ahaha... Iya, kan?"

Hoi, Yamamoto-san~~ Hibari Kyoya yang galaknya seperti dulu saja sudah bikin pusing. Apalagi jika tingkat ke-galakan sang karnivora bertambah, bisa-bisa baru saja mendekat kita sudah digong-gongngin(?), toh?

"BUKAN SAATNYA BERCANDA, KAAAN?"

.

.

.

~X0X~

Mari kita kembali pada sang Cavallone Decimo nan polos(?) kita satu ini, yuk!

Rasanya sudah lebih dari sepuluh menit bos berambut pirang cerah itu menunggu coretcaloncoretkekasihnyacor et, ia tak mendapati tanda-tanda si gadis akan muncul, tuh. Dan ngomong-ngomong, tadi itu bukan hanya sang gadis yang pergi dari hadapannya, bahkan mantan bos Millefiore itupun ikut pamit mau pergi. Katanya sih, karena "ditunggu Shou-chan".

Dino jadi sangsi pada Byakuran. Mungkin saja pria berambut salju itu berbohong karena ingin menemui Aoi, kan?

Eh—tapi kalau dipikir-pikir tidak mungkin juga Byakuran menyusul Aoi yang notabene baru dikenalnya hari ini, kan? Sekedar tambahan, entah kenapa Dino merasa yakin kalau Byakuran tak akan tertarik pada Aoi lantaran yang bersangkutan sepertinya memiliki ketertarikan pada pasangan mantan muridnya.

Ya iyalah-Mukuro yang dimaksud Dino. Masa Kusakabe?

Yang bilang Kusakabe pasangannya Hibari berarti ia sudah bosan hidup. Lantaran salah mengira kekasih sang karnivora Namimori.

Krik.

Setelah berpikir sampai sepuluh kali—yang sebenarnya sangat tidak perlu—akhirnya Dino memutuskan untuk menyusul ke toilet wanita.

Awas jangan ngintip, Mas!

Sampai di depan toilet pria berambut pirang cerah itu melongok sedikit ke dalamnya. Habis kalau masuk nanti dikira banci lagi!

Setelah ditunggu namun tak ada tanda-tanda sang gadis muncul, Dino memutuskan untuk bertanya kepada salah seorang wanita berdandanan menor yang kebetulan ingin keluar dari toilet.

"Maaf, apa Anda melihat gadis berambut biru indigo di dalam toilet ini?"

'Hee~~ memangnya gadis Anda cari bagaimana ciri fisik atau wajahnya, Tuan?" sang wanita berdandanan menor yang sebelas-dua belas sama badut Ancol itu malah bertanya balik; sembari memaju-majukan bibirnya di hadapan Dino. Biar seksi, kali?

"Hmm… mungkin tingginya sebahu-ku, rambutnya biru indigo—panjang dan diikat satu dengan pita putih." Entah kenapa, pria pirang itu tiba-tiba blushing. "Wajahnya manis—dagunya panjang namun lancip. Hidungnya mungil dan mancung."

Entah kenapa, satu kedutan muncul di sisi bibir wanita menor tadi, lho!

"Alis matanya panjang dan tumbuh dengan rapi. Iris matanya berwarna biru laut yang dalam… ditambah lagi, kulitnya putih bersih seperti bengkoang. Bibirnya mungil—merah muda dan ranu—"

"SUDAH CUKUP!"

"Hoe? Baiklah kalau begitu. Jadi Anda melihat—"

"TIDAK! AKU TIDAK MELIHAT GADIS YANG KAU MAKSUD!"

Tanpa banyak basa-basi, wanita menor itupun berjalan pergi dengan langkah menghentak-hentak; kesal, mungkin?

Tentunya sekarang para pembaca semua akan bertanya-tanya dalam hati; secantik itukah Mukuro versi gender blending? Ataukah itu hanya khayalan Dino karena yang bersangkutan sedang coretjatuhcoretcinta?

Saya rasa hanya Dino yang tahu…

Mengangkat bahu, pria pirang itu memilih untuk tidak terlalu peduli pada sikap abnormal si gadis badut Ancol(?). Ia lanjut saja meninggalkan toilet wanita; seraya berpikir kemana perginya gadis indigo. Bisa gawat urusannya jika terjadi sesuatu pada Aoi, rasanya bukan tak mungkin ia pulang ke Itali nanti tinggal nama saja.

Iseng, ia pergi ke arah bagian belakan bangunan toilet di Taman Bermain Namimori itu hanya untuk mendapati gadis yang sedari tadi ia cari ada di sana. Terbaring di atas rumput dengan seseorang yang sejak tadi ia curigai.

Yup—sang gadis, Aoi berbaring dengan Byakuran tepat di atas tubuhnya. Tubuh dan wajah mereka berada dalam posisi yang sangat dekat. Dalam posisi yang membuat siapapun langsung salah paham. Termasuk makhluk berambut pirang satu itu. Merasa ada seseorang yang datang, keduanya pun menoleh mendapati Dino yang berdiri di belakang mereka; yang kini entah kenapa, mengeluarkan aura hitam di sekujur tubuhnya.

Dengan nada suara berat Dino berkata…

"APA YANG KALIAN LAKUKAN DI TEMPAT SEPERTI INI?"

.

.

.

TBC

Note:

[1] Diceritakan dalam fic ini, Dfem69 itu kencan hari Sabtu. Jadi yg dimaksud Mukuro dengan "Awas saja, jika ramuan itu tidak selesai hari Senin minggu depan" itu artinya, serum yg dibuat Giannini akan selesai pada hari Senin minggu depan. Sesuai dengan perjanjian 3 hari untuk membuat penawar yg dijelaskan di chap 2, kan?

.

Gyahaha~~(?) akhirnya chap 6 ini selesai juga! *ngelap keringet* asal tahu aja ya, Ladies! Untuk chap ini lebih panjang dari chap yg lain—kayaknya- #slapped.

Makasih banyak saya ucapin untuk Demoneolith Ravena-san yg rela dengerin curhat saya tentang 6918 dari A-Z. sampai-sampai (mungkin) bikin pulsanya abis #dilempar lemari# Maaf ya, klo saya cerewet~ *baru sadar*

Saya benar-benar mohon maaf, karena minggu kemarin ga bisa update. Gomen~~ m(_,_)m

Jadi—gimana? Puas dengan hint adegan Muku dan 2 orang gaje? Harus puas, ya! *maksa* #ditampol

Makanya,

Mind to review, Ladies?