Katekyo Hitman Reborn! By Amano Akira
-except, Mukuro and Hibari belongs to each other-
Thank's to:
Akakuo and Demoneolith Ravena
Terima kasih sudah membaca dan me-review, Ladies~
Warning:
Dfem69/100fem69/18fem69 (nanti).
Hati-hati dengan kemungkinan adanya adegan lebay di dalamnya!
.
Chapter 7
[ Date with Bucking Bronco – part III, last part ]
.
Previous chapter
Iseng, ia pergi ke arah bagian belakan bangunan toilet di Taman Bermain Namimori itu hanya untuk mendapati gadis yang sedari tadi ia cari ada di sana. Terbaring di atas rumput dengan seseorang yang sejak tadi ia curigai.
Yup—sang gadis, Aoi berbaring dengan Byakuran tepat di atas tubuhnya. Tubuh dan wajah mereka berada dalam posisi yang sangat dekat. Dalam posisi yang membuat siapapun langsung salah paham. Termasuk makhluk berambut pirang satu itu. Merasa ada seseorang yang datang, keduanya pun menoleh mendapati Dino yang berdiri di belakang mereka; yang kini entah kenapa, mengeluarkan aura hitam di sekujur tubuhnya.
Dengan nada suara berat Dino berkata…
"APA YANG KALIAN LAKUKAN DI TEMPAT SEPERTI INI?"
.
~X0X~
Dino.
Pria berambut piran cerah itu tengah mengatur napasnya yang tak beraturan; menahan emosi yang kapanpun bisa meledak. Saat melihat gadis yang akan menjadi (calon) kekasihnya sedang dicorettindihcoret oleh mantan bos Millefiore berambut salju.
Ia benar-benar tak habis pikir, apa coba yang tadi dilakukan oleh dua orang tersebut di area umum seperti itu.
"Apa yang kalian lakukan tadi, eh?" mengulangi pertanyaannya tadi Dino bertanya dengan aura cemburu yang sangat kentara. Yang membuat Mukuro sukses ber-facepalm ria. Urusannya akan panjang sepertinya.
Mukuro bangkit dari posisi 'mengundang'nya, setelah menendangi Byakuran yang seakan betah di posisi tadi dengannya.
"Cavallone-san, ini tidak se—"
"Oh, Haneuma Dino? Apa kau sudah bersenang-senang saat kami tak ada? Fufu~"
seakan tak mempedulikan ekspresi si pirang, pria berambut salju itu memotong kalimat Mukuro. Dan langsung dibalas dengan nada sarkatis yang—bahkan belum pernah Mukuro lihat sebelumnya.
"Ya-tapi saat melihat adegan tadi aku berubah pikiran." Melihat (calon) kekasihnya dirangkul oleh Byakuran, Dino menggeram. "Lepaskan dia!"
Sang pemilik rambut salju tahu benar bahwa pria pirang di depannya sedang mengalami fase cemburu tingkat labil(?). Karena itu Byakuran penasaran dengan reaksi pria bersenjatakan cambuk tersebut.
"Kalau aku tak mau, bagaimana~?"—mengabaikan ekpresi Dino yang seakan hendak menelannya(?), Byakuran justru semakin berani menggoda bos Cavallone tersebut melalui sang objek perebutan—Mukuro.
Mari saya jabarkan apa saja yang Byakuran lakukan saat itu…
Pertama: Byakuran menggenggam jemari Mukuro.
Reaksi Dino?
…Tenang, Dino masih bisa bertahan, kok.
Kedua: Maniak Marshmallow tersebut meraba pinggang ramping Mukuro dengan dengan intens.
…Oho—dia masih cukup TENANG dan WARAS untuk tidak melemparkan kursi taman di dekatnya ke arah pria itu, kok~
Ketiga: Byakuran mendekap tubuh sang gadis berambut indigo tersebut dengan erat—hingga tubuh keduanya menempel. Mengabaikan aura monster kuda(?) Dino yang mulai keluar.
…Belum belum~ Dino masih bisa TAHAN, kok~!
Wah-wah~~ di luar dugaan, ternyata bos Cavallone itu tahan godaan (setan) juga, ya!
Merasa belum—atau tidak—cukup dengan tiga tantangan di atas, Byakuran merasa harus lebih gencar menggoda makhluk pirang yang kini men-deathglare-nya seakan berusaha berkata "Lepaskan Aoi-chan, Marshmallow-mesum!" begitu. Dan baru saja ia hendak menyentuhkan telapak tangannya di atas dada—yang kini tak lagi bidang—milik sang gadis, Byakuran merasakan sakit yang amat-sangat di area pribadinya.
Iya—area pribadinya.
Kau tahu? benda yang letaknya di bawah; dan berada di antara selangkangan seorang pria itu, lho.
…Cukup jelas 'kan?
Krik.
"Kau. Lakukan sekali lagi, jika beruntung kau tak akan bisa buang air selamanya."
Dengan deathglare tingkat dewa. Sang pelaku 'tendangan' tadi—Mukuro—berkata mengancam sembari berjalan pergi meninggalkan pria yang kini tengah membungkuk kesakitan dengan posisi memilukan(?) tersebut.
Yang membut Dino sukses dibuat sweatdrop plus berkeringat dingin. Namun pada akhirnya, ia tetap pergi mengikuti sang gadis.
Meninggalkan Byakuran yang meringis kesakitan. Sembari bangit dan berjalan terpincang-pincang.
"Ukh—awas kau, Mukuro-kun. Fu—fufu~"
Cough.
.
.
.
~X0X~
Di sebuah Café di sudut Namimori…
"Hmm, jadi begitu ya…?"
Tsuna bergumam setelah selesai menyeruput jus jeruknya. Mendegarkan keterangan lebih lanjut dari (mantan) alter ego milik Mist Guardian-nya. Tadi kira-kira 10 menit yang lalu, mereka baru saja diusir oleh si pemilik rumah—Hibari—karena dianggap menganggu ketenangannya. Kerena itu mereka langsung mengungsi ke Café yang letaknya tak jauh dari rumah sang karnivora Namimori.
"Dasar Hibari sialan, berani sekali dia mengusir Juudaimeee!"
Tersulut emosinya kembali, Gokudera mengingat dengan pahit bagaimana mereka di 'kamikorosu kamikorosu'-kan oleh sang empunya rumah tadi. Yang pada akhirnya membuat mereka terdampar di Café itu.
"Ahaha, sudahlah Gokudera. Lagipula justru lebih nyaman disini dibanding berada di rumah itu, iya 'kan?"
Yamamoto mencoba menenangkan sang uke galak dengan tawa khasnya yang—entah kenapa—tak pernah berubah meski 10 tahun sudah berlalu. Yang langsung dibalas delikan singkat oleh si rambut silver.
"Lalu kalian tidak mengatakan identitas asli Mukuro pada Dino-san, 'kan?" sang Decimo berwajah inosen uke tersebut melanjutkan pertanyaannya pada Chrome yang tengah memilin ujung roknya—entah kenapa.
"U—umm, iya Bossu. Karena Kumo no Hito mengatakan kepada Dino-san bahwa Mukuro-sama adalah saudara jauhnya yang sedang berlibur di Namimori untuk sementara waktu ini…"
Kalimat Chrome barusan sukses membuat Tsuna serta dua orang yang tengah bertengkar tadi—Yamamoto dan Gokudera—langsung memusatkan perhatiannya pada sang gadis ber-eye patch.
"Eh? Ja—jadi sebenarnya Hibari-san sendiri yang berinisiatif mengatakan pada Dino-san bahwa Mukuro adalah saudara jauhnya dan bukan kau yang bilang…?"
Tsuna—juga Gokudera dan Yamamoto—tak percaya Hibari yang itu—yang suka merapalkan mantra "kamikorosu" itu, punya inisiatif dalam menyembunyikan identitas baru Mukuro. Padahal mereka pikir Hibari tidak akan peduli apapun yang terjadi pada Mukuro.
Sebenarnya wajar saja 'sih, karena mereka berdua kini sudah menjadi pasangan—sekaligus rival—yang itu artinya keduanya pasti harus peduli, bukan?
Hoi—tapi ini Hibari si karnivora Namimori itu, lho! Sebenarnya mereka sudah terbayang alasan apa yang mendasari sang karnivora bersikap seperti itu, tetapi pada akhirnya mereka tetap bertanya juga pada Chrome. Berharap setidaknya, mungkin gadis itu tahu lebih banyak.
"Kau tahu, kira-kira apa alasannya…?"
Sejenak yang bersangkutan terlihat mengerjapkan bola matanya.
"Mu—mungkin, karena Kumo no Hito ingin melindungi Mukuro-sama… tentu saja, dengan caranya sendiri." Karena memang ia tak tahu apa alasan sebenarnya, ia jawab saja sekenanya.
Yah—sebenarnya kalau kita berpikir lagi, rasanya tak mungkin 'kan jika mengatakan bahwa Mukuro (versi wanita) adalah saudara dari Mukuro (versi pria). Karena bagaimanapun, identitas asli keluarga Mukuro itu sendiri saja, mereka—juga kita—bahkan belum pernah berhasil membongkarnya sampai hari ini. Dan tentunya tidak masuk akal jika berkata bahwa fem!Mukuro adalah saudara dari Mukuro, bukan?
Hal ini juga berlaku jika kita berkata fem!Mukuro adalah saudara Chrome 'kan?
Makanya, rasanya inisiatif Hibari yang mengatakan fem!Mukuro adalah saudara jauhnya mungkin sudah cukup tepat—dalam berbagai sisi tentunya. Karena rasanya tidak mungkin jika berkata fem!Mukuro adalah saudara dari Mukuro apalagi Chrome, bukan?
Tapi inisiatif yang dilontarkan Hibari itu memiliki satu kelemahan nyata—yang justru sangat jelas, Ladies. Kalian tahu apa itu?
Yap! Wajah.
Biarpun saat ini Mukuro sudah lagi Mukuro(?), ia tetaplah Mukuro yang itu—yang konon merupakan kembarannya si Butler iblis—iris matanya tetap dwiwarna—karena itu Chrome memberikannya lensa kontak sewarna dengan mata kirinya. Rambut tetap indigo dengan ornamen(?) berupa pucuk nanas bertengger setia di atas kepalanya. Paling-paling yang membedakan hanya kontur wajah dan bentu serta tinggi badannya yang kini lebih mungil karena yang bersangkutan sudah berubah gender—ingat?
Tetapi anehnya, kenapa si Haneuma itu tak sadar juga 'sih? bahwa fem!Mukuro yang dia kenal dengan nama Aoi itu adalah orang yang sama dengan kekasih mantan muridnya. Padahal poin pentingnya—pucuk nanas—sudah terlihat begitu jelas. Dan tentu kita semua tahu 'kan, kira-kira siapa saja orang memiliki model rambut abnormal itu?
Tetapi, bodohnya kenapa Dino tak sadar juga, ya?
Atau mungkin yang bersangkutan berpikir bahwa kini model rambut seperti itu kini sedang trend, mungkin?
Mungkin istilah "Cinta itu buta" kini memang terbukti ada dan nyata ya, Ladies~
Krik.
Yah—apapun itu hanya Dino yang tahu…(?)
…
Melongo bak orang kehilangan ingatan, itulah ekspresi mereka bertiga—Tsuna, Gokudera—saat membayangkan kemungkinan-kemungkinan barusan. Tetapi langsung tersadarkan oleh suara ceria bin easy-going plus inosen-nya Yamamoto.
"Ahaha, ternyata Hibari itu pasangan yang perhatian juga, ya! Kemudian ia melanjutkan-"Kau juga harusnya begitu Gokudera. Ahaha…"
Deathglare Gokudera adalah jawaban yang menyusul tak lama kemudian. Yah—meski tak bisa dipungkiri bahwa yang bersangkutan blushing juga 'sih.
Ck, dasar Tsundere akut~
.
.
.
~X0X~
"Ao-chan, kau tidak marah padaku 'kan? Aku bersikap begitu karena mengkhawatirkanmu—sungguh!"
Pria berambut pirang yang kita kenal dengan nama Dino Cavallone itu kini sedang merayu(?) pujaan hatinya yang disinyalir tengah ngambek. Mereka sekarang duduk di salah satu bangku Taman Bermain Namimori; setelah insiden 'tendangan maut' Mukuro barusan.
Sementara yang diajak mengobrol malah melengos ke arah lain; tak ingin bertemu muka dengan si pria pirang.
"Masa bodoh. Kau sama menyebalkannya dengan si Tua tadi!"
"Habisnya tadi kau berada err—di posisi seperti itu 'sih, jadi wajar 'kan kalau aku khawatir…"
Dalam hati Mukuro mendengus kesal. Demi apa, coba—memangnya ada hubungan apa antara ia dan Cavallone itu, sih. Sampai-sampai yang bersangkutan berbicara seakan Mukuro—atau kita sebut Aoi—itu adalah pasangan resminya.
Dan bicara soal tragedi 'tindih-menindih'(?) antara ia dan Byakuran, sebenarnya itu adalah murni kesalahpahaman; atau lebih tepatnya kecelakaan.
Mukuro memutar ulang rekaman memori pikirannya—kira-kira 2 jam yang lalu…
.
Flashback
"Kau pandai berakting juga ya, Mukuro-kun~~"
Mukuro melebarkan kedua bola mata birunya saat mendengar pnuturan singkat-namun penuh intimidasi dari pria berambut salju di depannya. Tetapi ia mencoba untuk bersikap biasa.
"Ma—maksud Anda apa, ya?"
"Hm? jangan pura-pura bodoh, Mukuro-kun." Byakuran meraih poni rambut Mukuro yang terurai di samping wajahnya; membawa helaian rambut sewarna blueberry itu ke depan bibirnya—menciumnya.
"Aku tahu, kau tahu jelas apa yang kumaksud. Benar 'kan, Leo-kun~?"
Mukuro merasa tak ada gunanya berdebat dengan makhluk ini lebih lama. Yang pada akhirnya mengantarkan dirinya agar membuka identitas asli.
"Kufufufu—" akhirnya tawa khas miliknya terdengar setelah sekian lama menahan diri. "Oya, bagaimana kau bisa tahu kalau ini aku?"
Byakuran mendekatkan dirinya dengan mantan kriminal itu. Ia dapat merasakan wangi bunga Lotus yang menguar dengan lembut dari sekujur tubuh gadis di depannya.
"Aku selalu tahu apapun tentang Mukuro-kun~"
Mukuro merasa jarak di antara mereka semakin menipis, karena itu ia berinisiatif untuk mendorong tubuh yang lebih besar itu. Meski begitu ia tetap tenang.
"Itu tak menjawab pertanyaanku, kau tahu?"
"Fufu~ kau benar."
.
.
.
Sementara itu dari arah berlawanan, datanglah seorang wanita gaje berdandanan menor yang kini tengah berjalan menghentak-hentakkan kakinya ke arah Byakuran dan Mukuro. Dan dengan tanpa dosanya, ia menyenggol—atau lebih tepatnya menubruk tubuh Byakuran yang notabene sedang berdekatan dengan Mukuro.
Untuk adegan selanjutnya tentu kalian tahu sendiri apa yang terjadi 'kan?
Yup—dengan posisi Byakuran yang menghimpit tubuh Mukuro yang kini lebih mungil darinya, ditambah tubrukan truk tronton nyasar (ngggak deh, boong, kok!), juga keseimbangan tubuh keduanya yang tak stabil. Membuat tubuh Byakuran ambruk menimpa Mukuro.
Sialnya lagi, Dino datang disaat yang tidak tepat.
"APA YANG KALIAN LAKUKAN DI TEMPAT SEPERTI INI?"
Oke—para Ladies, mari kita salahkan wanita menor itu, oke?
End of flashback
.
Menghela napas berat dengan tingkat kekesalan di atas rata-rata, Mukuro bangkit dari posisi duduknya—dibalas dengan tatapan bingung oleh Dino.
"Mau keman—"
"Pulang."
Setelah mengucapkan kata itu yang berambut biru langsung melenggang pergi begitu saja meninggalkan Dino yang masih duduk di bangku taman.
"E—eeehh? Tunggu dulu dong, Ao-chan!"
.
.
.
~X0X~
Hibari Kyoya, adalah nama dari pria berambut hitam arang yang kini tengah duduk di tepi kasur king size-nya—kasur yang biasanya ia gunakan dengan Mukuro jika tidur.
Hei—jangan berpikiran ngeres dulu, Ladies!
Mantan ketua komite kedisiplinan Namimori, meraih sebuah figura yang tergeletak di samping meja samping tempat tidur. Foto pernikahannya dengan Mukuro dulu. Tanpa ia sadari, senyum tipis terbentuk di bibirnya kala mengingat momen lama tersebut.
Di foto itu ada ia dan Mukuro tentunya. Ia memakai jas setelan serba putih, sementara pasangannya memakai warna yang berkebalikan dengan dirinya—hitam. Senyum tergambar di wajah sang illusionis kala kamera mengabadikannya. Sedangkan ia sendiri malah memasang wajah datar yang menjadi ciri khasnya.
Tetapi, ia masih ingat dengan baik bahwa saat itu adalah hari yang paling membahagiakan dalam hidupnya. Yah—meski dirinya tak menunjukkan secara langsung. Ia juga masih ingat, beberapa bulan setelah pernikahan itu mereka berdua bulan madu.
Meski (lagi-lagi) penuh dengan penyangkalan, pada akhirnya ia ikut menikmatinya juga.
Harap maklum sajalah—namanya juga uke kuudere merangkap tsundere. Jadinya ya, begitulah deh. Ahahaha~
…
Membaringkan tubuhnya di atas kasur—sambil tetap membawa figura itu, Hibari meraba sisi tempat tidur kosong yang biasanya di tempati oleh Mukuro; merabanya. Seakan pria itu tengah berada di sana. Hibari tak bisa memungkiri, bahwa ia rindu pada pria itu.
Maksudnya ia rindu pada Mukuro yang asli, bukan Mukuro dalam wujud gadis. Meski malas mengakui, ia juga rindu pada 'godaan-godaan' Mukuro yang kerap kali menghampirinya.
"Cepat kembali, Herbivora. Aku merindukanmu…"
.
.
.
TBC
A/N:
Haihaihai~~ apa kabar, Ladies?
Khusus untuk Akakuo saya minta maaf ya, sudah dengan begitu sembrononya mengganti pen-name Anda. *bungkuk2* saya bener-bener minta maaf! Lain kali saya akan lebih hati-hati. Orz
Makasih juga Demoneolith Ravena yang udah review. Juga nggak lupa buat para Ladies yang sudah berbaik hati mampir dan baca.
Makasih banyak~ #lambai2 sapu tangan
Gimana, Ladies? Sudah puas 'kan dengan adegan 100fem!69-nya? Btw, chap ini merupakan part akhir dari "Date with Bucking Bronco".
Dan di chap depan kemungkinan Byakuran besar nggak akan muncul. Untuk Dino, saya masih beri dia 'kesenangan', karena chap depan dia masih muncul, kok! jadi buat penggemar Dfem!69, masih bisa seneng tuh!
Seneng nggak~? #slapped
Tadinya, chap ini mau di publish 06 Oktober-hari Sabtu kemarin. Sekalian negerayain ultah saya gitu. Tapi-yah, karena banyak kendala, akhirnya baru selesai hari ini. #ditendang
Tapi, kalau ada yang mau kasih kado buat saya, sekarang juga boleh, kok~!*sapajugayangmau*
Lupakan.
.
Nah-apa yang akan terjadi selanjutnya? Mari kita tunggu kedatangan chap 8 minggu depan!
Karena itu saya sangat butuh review yang lebih banyak dari para Ladies. Buat tambah tenaga nih! Biar bisa ngetik lagi *halah* #dilempar
Akhir kata—
Mind to review, Ladies?
