Katekyo Hitman Reborn! By Amano Akira
-except, Mukuro and Hibari belongs to each other, ever after-
Special update for:
Akakuo and den0den
Terima kasih sudah membaca, review dan fave-nya, Dear!
Warning:
Dfem!69 (kemungkinan, akan ada adegan mengundang)/18fem!69 (nanti).
Hati-hatilah, dengan kemungkinan adegan lebay di dalamnya!
.
Chapter 7
[ What? Wedding Proposal? ]
.
.
.
~X0X~
Minggu: pukul 17.00 p.m – Namimori Cinema
Mukuro menghela napas kesal melihat—atau mendengar—tingkah laku pria pirang di hadapannya yang sejak tadi selalu meributkan hal-hal yang tak penting. Yah, misalnya seperti "Kau mau membeli minuman atau makanan apa?" dan saat Mukuro berkata "Tidak" maka pria pirang itu membalas, "Kalau kau tidak membeli sesuatu, nanti kau bisa lapar atau haus di dalam sana!".
Atau saat Haneuma itu bertanya, "Kau mau ke toilet tidak?" lalu, jika ia menjawab "Tidak" lagi, maka makhluk pirang itu akan menjawab "Kau harus ke toilet sebelum kita masuk, Ao-chan. Tidak baik menahan buang air kecil"—demi apa, coba? Ia juga tahu akan hal itu kok.
Yang lebih membuatnya mengerutkan dahi, saat Cavallone itu berkata akan menemaninya sampai di depan toilet—tentunya.
Posesif?—cough.
Mungkin semenjak kejadian bertemu Byakuran, yang bersangkutan merasa harus melindungi coughkekasihnyacough. Apalagi, jika sampai adegan tindih-menindih bak roti sandwich(?) terulang lagi.
Intinya ia akan melindungi batas wilayah(?) ngomong-ngomong.
Sebenarnya mereka ada di mana dan sedang apa, sih. Sampai-sampai, Dino meributkan soal makanan dan toilet?
Mereka berdua—Mukuro dan Dino—kini ada di sebuah bioskop yang terletak di salah satu distrik Namimori. Karena Cavallone itu ngotot ingin mengajak Mukuro nonton film, berdua—atau lebih tepat dibilang kencan. Sejujurnya Mukuro seratus persen keberatan dan tidak setuju, tetapi karena ia sudah terikat janji dengan Dino kemarin, ia terpaksa menurutinya.
.
Flashback
"Aku mau pulang."
"E—eehh? Tunggu dulu, Ao-chan!"
Dino bergegas mengejar calon kekasihnya yang ia duga terkena sindrom(?) ngambek. Bagaimanapun juga, mereka datang kemari karena ingin bersenang-senag, lho!—khusus untuk Dino, hitung-hitung sekalian PDKT-lah—cough. Mana mungkin hanya karena kedatangan Byakuran semua langsung hancur total?
Oh—mungkin benar juga, sih…
Mendengar panggilan bernada memelas dari Dino membuat Mukuro menoleh sedikit dari balik pundaknya.
"Kau mau mengatarku atau tidak? Kalau kau tidak mau, aku akan pulang sendiri." Kemudian yang berambut biru berjalan menjauhi lawan bicaranya. Merasa tak punya pilihan, akhirnya Dino pun berkata.
"Baiklah, kita pulang sekarang. Tapi ada syaratnya…"
Sementara Mukuro menoleh dengan tampang bosan ke arah mantan home tutor kekasihnya. "—Apa?"
"Syaratnya adalah…"
.
.
.
End of flashback
Dari pembicaraan itulah yang mendasari mengapa ia bisa berada di bioskop hari Minggu ini bersama Dino—lagi. Jika boleh memilih, sebenarnya sejak tadi ia sudah gatal ingin mendepak Cavallone itu dengan trident-nya. Tetapi, tentu saja ia tidak lakukan, karena itu bisa membuat identitas aslinya terbongkar yang artinya tidak ada adegan Hibari cemburu atau sejenisnya. Kalau bukan sekarang, kapan lagi bisa melihat karnivora Namimori itu cemburu kan? masa bodoh tentang Vongola dalam bahaya—atau apalah, karena yang lebih penting memang hanya Kyoya-nya.
"Ao-chan, ayo kita duduk di sana!" Dino menarik tangan Mukuro—mengajaknya ke sebuah bangku panjang yang kebetulan sedang kosong saat itu. "Akhirnya bisa duduk juga, ya!"
Namun Dino menatap heran lantaran gadis berambut biru yang ditaksirnya itu malah tetap dalam posisi berdiri tegak di samping ia yang sedang duduk. "Ada apa Ao-chan? Kau tak mau duduk?"
Demi apapun juga—tentu saja Mukuro ingin segera duduk, lantaran kakinya yang sudah pegal setengah mati karena harus memaikai boots ber-hak tinggi. Tetapi rasanya ia tetap saja ia tak mungkin bisa duduk karena—karena harga dirinya. Mukuro mendecak kesal.
Sementara Dino hanya terheran-heran dengan saudara mantan muridnya itu. Tapi sedetik kemudian ia langsung menyadari mengapa gadis itu tidak mau duduk. Membuka jaket hijau panjang yang menjadi ciri khasnya, serta-merta ia melepaskan jaket itu dan memberikannya pada sang gadis.
"Nih! Kau pakai saja."—yang langsung dibalas tatapan bertanya oleh Mukuro. Dino menggaruk pipinya yang tak gatal; pose khasnya bila merasa canggung. "Err—kau tak mau duduk di kursi karena masalah rok pendekmu, kan?" begitu selesai mengucapkannya ia langsung blushing.
Sementara Mukuro sendiri hanya mengerjap tak percaya karena apa yang ia khawatirkan sejak tadi, ternyata terbaca oleh Dino. Seketika itu ia langsung memakai jaket yang disodorkan Dino padanya, dengan ukuran tubuhnya sekarang memungkinkan jaket panjang itu menutupi hingga di bawah lututnya. Sekarang Mukuro berpikir Chrome sudah gila, lantaran membiarkan dirinya pergi dengan Dino memakai pakaian cough—vulgar seperti ini.
Hmm—ada yang bisa tebak model pakaian macam apa yang Mukuro?
Sebenarnya hanya atasan seperti tank-top ketat berwarna biru tua yang membuat cough—bagian dadanya lumayan terekspos—cough, ditambahi jaket hitam yang sama sekali tak membantu menutupi area tadi. Dan tak lupa dengan rok mini hitam yang—menurutnya—kelewat mini. Untuk lebih mudahnya membayangkan se-mini apa rok yang dipakai Mukuro, coba bayangkan saja rok Kokuyo yang dipakai oleh Chrome dulu sewaktu ia masih sekolah menengah pertama.
Bagaimana? Seksi 'kan?—coughcough.
Mukuro bisa saja memakai pakaian lain daripada harus menjatuhkan harga dirinya sebagai seorang gentlemen(?), tetapi semua baju yang Chrome belikan di hari pertama tubuhnya berubah telah habis semua. Semua baju itu sedang dicuci. Dan sudah pasti Mukuro tidak mempunyai pilihan lain selain memakai pakaian serba minim ini.
Kalian harus ingat, bahwa ini semua Mukuro lakukan karena ingin membuat skylark kesayangannya itu cemburu. Jadi—jangan salah paham dulu, ya!
Ngomong-ngomong soal sang mantan prefek, kemarin rasanya ia tak merasakan kalau pria berambut hitam cemburu dan sebagainya lah. Yang bersangkutan tetap bersikap biasa-biasa saja pada Mukuro—dingin dan judes, tentunya. Mungkinkah siasat Mukuro untuk membuat pria berambut hitam itu cemburu sudah disadari yang bersangkutan? Sehingga, Hibari merasa tak perlu menanggapi segala sikap Dino pada Mukuro.
Benarkah begitu?
Lamunan Mukuro terputus saat ia mendengar suara Dino mengingatkannya bahwa kini giliran mereka masuk bioskop—mengajaknya pergi ke dalam bersama.
.
.
.
~X0X~
Vongola HQ - cabang Jepang
"Giannini-san, bagaimana serumnya? Sudah jadi?"
Sang mekanik Vongola bertubuh tambun itu menoleh saat mendengar suara orang yang sangat di hormatinya.
"Sebenarnya belum selesai sempurna, tapi aku yakin bisa menyelesaikannya mala m ini juga."
Tsuna menghela napas lega mendengar laporan singkat sang anak buahnya tersebut. "Kau yakin semua baik-baik saja?" ia berjalan mendekati meja Giannini yang penuh dengan tabung kimia yang di dalamnya berisi cairan-cairan aneh berwarna-warni. Sementara lawan sang lawan bicara menepuk dadanya dengan pose bangga.
"Tenang saja, Juudaime. Semua aman terkendali, ahahaha!"
Sementara Tsuna hanya tertawa kikuk mendengarnya. Entah kenapa ia agak sangsi dengan perkataan mekaniknya. "A-haha… oh, begitu ya?" yang bermata bak cokelat karamel itu berjalan ke luar ruangan seraya melambaikan tangannya. "Baiklah. Supaya tidak mengganggu, aku pergi saja. Semoga berhasil!"
Dan pintu bercat hitam itupun tertutup dengan menimbulkan debam pelan. Di balik pintu tersebut Tsuna bersandar seraya mengelus dada. Berharap semoga besok Giannini dapat mengembalikan Mukuro seperti semula. Karena-entah kenapa—ia mendapat firasat akan adanya kejadian lagi di keluarga mafia yang dipimpinnya ini.
Icon;sweadrop
.
.
.
~X0X~
Mukuro menatap horor pada interior ruangan tempat ia berada sekarang. Lampu gantung yang berhiaskan Kristal-kristal, furniture yang bergaya mewah dan elegan, lemari besar dengan ukiran-ukiran rumit, tempat tidur king size. Dan semua hal yang tadi disebutkan bergaya Eropa secara keseluruhan. Demi apa? Ini jelas-jelas bukan bioskop yang tadi ia kunjungi! Rasanya barusan ia masih ada di bioskop bersama makhluk pirang itu, kenapa sekarang ia berada di sebuah ruangan bergaya serba mewah—lebih spesifik; kamar.
Tetapi dari semua hal tadi, yang lebih membuat Mukuro semakin menatap horor adalah keadaan dirinya sendiri—lebih spesifik; pakaian. Masih ingatkan, bagaimana pakaian Mukuro tadi? Dan kenapa coba, sekarang ia tidak memakai jaket hitam bahkan sampai tank-top-nya pula? Tentunya pakaian yang masih bertahan di tubuhnya saat ini hanya bra beserta rok mini hitamnya.
…Krik.
A-APAAAAAAAA?—coughcoughcough!
Mukuro langsung menutupi tubuh bagian atasnya yang terbuka dengan selimut di tempat tidur yang ia tempati saat ini. Berusaha tetap tenang Mukuro menatap ke sekeliling sudut kamar mewah tersebut; mencari dimana kira-kira pakaiannya berada—dan nihil! Baju yang ia pakai sama tidak ada di kamar itu.
Oh—ke, tanpa perlu banyak berpikir lagi Mukuro tahu benar siapa pelaku dari semua kejadian ini dan tentu saja orang itu adalah—
"Syukurlah kau sudah sadar, Ao-chan!"
Ya, kalian benar—orang itu pastilah Dino Cavallone. Pria pirang itu dengan santainya duduk di sisi tempat tidur sang gadis seakan mengabaikan deathglare Mukuro. Dan tanpa banyak basa-basi lagi, Mukuro serta merta bangkit dari posisi duduknya; menerjang Dino, hingga kedua orang itu jatuh dari kasur dengan posisi Mukuro menindih pria itu.
"Apa yang kau lakukan padaku, Haneuma Dino?"
Mukuro bertanya dengan geram pada pria berambut pirang di bawahnya yang entah kenapa justru senyum-senyum tak jelas hingga membuat seorang Rokudo Mukuro merinding disko. "Kau tak perlu khawatir, Ao-chan. Kau belum kuapa-apakan, kok!"
…Krik.
Apa tadi?—belum?
Bos mafia itu tersenyum hangat seraya meraih helaian biru tua milik Mukuro; menciuminya dengan lembut. "Masa kau tak ingat apa yang terjadi tadi?" Dino dapat melihat kerutan di dahi gadis di hadapannya, karena itu ia memutuskan untuk melanjutkan pembicaraan. "Tadi sesudah menonton bioskop, kau langsung buru-buru ke luar tanpa melihat sekeliling. Akibatnya, kau tak melihat petugas cleaning service yang sedang mengepel lantai. Dan tentu saja itu menyebabkanmu tergelincir di lantai yang basah dan kau juga menendang ember berisi air lalu-"
"Cukup!"
Yang berambut biru mengurut dahinya dengan tampang jengah, ia sengaja memotong kalimat sang bos Cavallone karena penjelasan pria pirang justru membuatnya pusing. Oke, jadi karena itu Mukuro berada di tempat yang sudah pasti milik makhluk pirang itu? Berkat intelektualnya sebagai ilusionis yang sudah terlatih, ia bisa membaca dengan benar kira-kira kenapa ia bisa sampai coughtelanjangcough seperti ini. Tapi ada satu masalah lagi.
"Lalu siapa yang melepas pakaianku tadi?" Mukuro bertanya pada Dino seraya memasang deathglare ke arah pria pirang itu. Ia bersumpah akan merebus yang bersangkutan di neraka jika saja ia menjawab "Aku yang melepas pakaianmu".
"Yah—seperti yang kau tahu, aku tak membawa pelayan wanita dari Itali. Jadi aku meminta salah satu karyawati hotel ini untuk melepas pakaianmu. Karena aku tak mau kau sakit karena pakaianmu basah ketumpahan—cough, air pel."
Meski sudah mendengar penjelasan Dino, entah kenapa ia masih merasa ada yang janggal. Kenapa ia tadi tidak begitu ingat apa yang terjadi, ya?
"Kau tadi pingsan karena tergelincir jatuh lalu kepalamu membentur lantai, jadi daripada membawamu pulang ke rumah Kyoya dalam keadaan pingsan dan baju basah, aku memilih untuk membawamu ke hotelku. Yah, setidaknya sampai pihak laundry selesai membesihkan pakaianmu."
Yang benar saja—seorang Roudo Mukuro tergelincir di lantai lalu jatuh terjeduk kemudian pingsan? Sepertinya aka nada keajaiban dunia versi terbaru.
Seakan dapat membaca pikiran Mukuro, Dino menjelaskan semua padanya. Ternyata apa yang dipikirkan Mukuro tentang pria itu ternyata tidak benar, padahal Mukuro pikir ia di*piiiip* oleh Dino.
Hayo~~ siapa di antara kalian yang juga berpikir seperti Mukuro?
…Lupakan.
Merasa sudah salah paham, Mukuro hendak bangkit dari posisi tubuhnya yang menindih Dino. Dan asal kalian tahu saja, sejak tadi mereka mereka masih bertahan(?) di posisi yang sama saat terakhir kali Mukuro menerjang(?) Dino hingga keduanya terjatuh dari kasur.
Kembali ke Mukuro. Niatnya sih, tadi ia ingin segera bangkit dari posisi mengundang ini, tapi agaknya Dino tak membiarkannya begitu. Karena yang bersangkutan justru malah merangkul pinggang tanpa penutupnya, dan sontak Mukuro langsung menepis tangan Dino. Disentuh orang lain benar-benar membuatnya merinding, karena seperti yang kita tahu Mukuro adalah pihak 'penyentuh' bukan yang 'disentuh'.
Ingat? Mukuro itu seme, lho!
Dino hanya tersenyum melihat reaksi malu-malu-tapi-mau(?) calon kekasihnya itu, karena itu ia membiarkan sang gadis bangkit menjauh darinya dan dengan segera menutupi tubuhnya dengan selimut lagi. Sangking asyiknya(?), Mukuro sampai lupa dengan bagian itu. Tiba-tiba ia teringat sesuatu; salah satu alasan yang mendasari mengapa ia membawa gadis indigo itu ke kamar hotelnya. Dino menyentuh saku celana panjangnya; memastikan apakah 'benda itu' masih ada di sana. Kemudian, ia berjalan mendekati kasurnya yang kini di tempati oleh sang gadis.
"Aoi…" Dino yang duduk di tepi tempat tidur yang juga tengah ia duduki, tiba-tiba Mukuro merasa ada perubahan raut wajah serta cara bicaranya. "… Aku tahu ini semua terlalu mendadak untukmu, tapi itu semua kulakukan karena aku mencintaimu."
Dan di detik itu juga, Mukuro merasakan hal buruk akan datang—lagi—padanya. Apalagi saat Dino berlutut di hadapannya, kemudian meraih telapak tangannya. Pria berambut pirang cerah itu mengeluarkan sebuah kotak kecil beludru berwaran biru tua. Mukuro membelalak saat melihat Dino membuka kotak itu, dan menunjukkan isinya; sebuah cincin perak behiaskan berlian yang berkilauan!
Dengan senyum gentle tergambar di wajah cough—tampannya, ia berkata-
"Will you marry me, Aoi…?"
.
.
.
TBC
A/N:
Ohoho~ Dino ngelamar Mukuro~ Dino ngelamar Mukuro~ Dino ngge-*dibekep kain pel*
Apa kabar, Ladies? Sehat-sehat saja 'kan? ^o^v
Maaf (lagi) ya, untuk keterlambatan update-nya m(_ _)m maklum, kadang idenya suka simpang siur di kepala saya sih! Ahahaha~ #dikemplang#
Tapi, kalau soal ending, saya sudah lama memikirkan akan jadi seperti apa nantinya. :D
Oh ya, sebentar lagi fic ini akan tamat, lho. Apa dari kalian ada yang bisa tebak seperti apa endingnya? OwO
Sedikit tambahan nih, apa kalian sudah tahu kalau Amano-sensei membuat anime baru? Judulnya "Psycho-Pass", memang sih saya jadi seperti sedang promosi. Tapi saya nggak akan se-heboh ini apabila yang buat bukan Amano Akira dan lagi, chara-nya ada yang mirip 6918! Dan gaya gambar Amano-sensei versi anime jadi semakin kereeen! *heboh*
Pokoknya buat para Ladies yang mengaku suka dnegan karya Amano-sensei, sekaligus pecinta 6918 maka KALIAN HARUS COBAAAA! #dilempar sandal
Lihat dan perhatikan baik-baik, maka kalian akan menemukan ada dua pairing di KHR yang ikut masuk ke anime itu~! *sok-sok misterius*
Oke—cukup promosinya. Kembali lagi ke topik utama,
Sekali lagi terima kasih banyak untuk kalian semua yang sudah mau mampir, membaca, meriview, apalagi sampai mem-fave fic ini. Makasih, Ladies~!
Sampai jumpa di chapter 9. Ciao ciao~~
Mind to review, Ladies?
#[Btw, seiyuu 6918 kok keliatannya akrab banget, ya? *slapped*]#
