Katekyo Hitman Reborn! By Amano Akira

-except, Mukuro and Hibari belongs to each other, ever after—

Special update for:

Akakuo, shikitsu and Zoealya

.

A/N:

Terima kasih sudah membaca, me-review, sekaligus mengingatkan kesalahan saya kemarin. Saya mohon maaf sebesar-besarnya, karena membuat kalian lama menunggu m(_ _)m. Dan juga sudah bersedia mendorong(?) saya~ maap yak, saya berat! ^w^'v *apaanseeh*

Warning: Semi-rate M for 18fem!69 / Agresif!18 / 6918 / serta sedikit hint D69 / 10069

Hati-hati dengan kemungkinan adanya adegan OOC/lebay di dalamya!

.

Chapter 10

[ Their New ProblemAgain! ]

.

.

.

~X0X~

11.30 a.m, siang hari di Vongola HQ…

"Giannini-san…"

Sumpah—Decimo itu benar-benar tak tahu bagaimana harus mengawali kalimatnya. Namun, pada akhirnya ia memulainya juga.

"… Mengapa serum yang kau buat tak berhasil, hmm?" ujarnya seraya menatap langsung sang mekanik bertubuh tambun. "Kuharap kau punya penjelasannya."

Sementara yang ditanya hanya mengucurkan keringat dingin dengan wajah pucat pasi.

"A-anu, Juudaime… rasanya a-aku juga kurang mengerti dibagian ini," pria malang itu menggaruk tengkuknya dengan canggung. "Aku yakin 100% telah mencampurkan ramuannya dengan benar. Dan tentu saja tak ada bagian yang terlewatkan, kok!" jelasnya membela diri begitu melihat deathglare Gokudera yang mengarah padanya.

"Ka—"

"Lalu, bagaimana mungkin serum itu bisa gagal, jika kau yakin semuanya sudah benar?" Yamamoto langsung berbicara terlebih dahulu begitu melihat Sang Badai hendak mengamuk. Menyebabkan pemuda berambut silver tersebut mendecak kesal.

Mekanik itu hanya bisa menggeleng sebagai respon.

Helaan napas penjang terdengar serempak dari empat orang yang berada di sana.

Sekitar tiga jam yang lalu markas mereka nyaris hancur—bahkan mungkin nyawa pun akan melayang—begitu kenyataan bahwa Mist guardian berambut indigo itu gagal kembali ke wujud semula telah disadari oleh Sang empunya tubuh. Dan keadaan ini diperparah oleh Hibari yang—entah kenapa—ikut mengamuk juga.

Tetapi, untunglah Chrome—juga Tsuna dengan HDW-mode (lagi)-dapat sedikit membantu, dengan cara menenangkan kedua makhluk barbar tersebut. Serta-merta, Chrome langsung mengajak mereka pulang ke rumah—yah, meski pastinya akan terjadi penolakan keras dari keduanya. Namun, pada akhirnya ia berhasil mengajak pasangan aneh bin ajaib tersebut kembali ke sarang mereka.

Mari kita kembali pada empat orang malang(?) tadi.

Tsuna memijit dahi dalam upaya untuk menjernihkan pikirannya. Decimo berambut cokelat muda itu sudah menduga bahwa hal ini tidak akan berakhir indah begitu saja, layaknya cerita di negeri dongeng. Inilah alasan, mengapa ia dulu selalu menolak saat Reborn berkali-kali memintanya menjadi Bos Vongola ke-10. Pekerjaan ini penuh dengan berbagai resiko. Apalagi, dengan adanya dua orang anggota keluarganya memiliki sifat keras dan susah diatur. Lupakan saja dulu Gokudera. Karena pemuda berambut silver itu masih mau mendengarkannya, kok. Helaan napas terdengar lagi dari pria muda itu.

"Kau yakin, Giannini-san?"

"Iya, aku... ah-!" sontak, semua orang menoleh dengan tatapan bertanya pada pria setengah baya tersebut. "A-aku tahu kemungkinan mengapa serumnya bisa gagal. Aku rasa, itu karena kemungkinan tubuh Mukuro-san sudah membentuk sistem anti-bodi dengan sendirinya."

"Benar juga. Aku pernah dengar hal itu," Gokudera akhirnya ikut mengutarakan pendapatnya. "Tubuh manusia memang dikaruniai sistem anti-bodi yang hebat. Sehingga, jika di dalam tubuh mereka terdapat racun, secara otomatis akan membentuk proteksi diri secara alami," ujarnya cepat.

"Tapi, dalam hal ini kita akan memberi Mukuro serum penyembuh—dan bukan racun. Lalu, kenapa tubuhnya menolak, ya?" Yamamoto bertanya dengan bingung.

Seakan menjawab pertanyaan pertanyaan Yamamoto yang berambut perak itu bersua. "Itu pasti karena di dalam serum tadi, sedikitnya masih terkandung bahan yang sama dengan yang ada di racun yang Mukuro hirup tiga hari yang lalu—benar, 'kan?" tanyanya pada sang Mekanik. Gokudera menyeringai saat pria tambun itu menjawabnya dengan anggukkan kecil.

"Ya—sistem anti-bodi di setiap manusia bekerja berbeda-beda, tergantung usia, jenis kelamin, dan yang pasti kesehatan fisik. Karena itu, memperkirakan secara pasti kapan sistem anti-bodi pada tubuh seseorang akan bekerja rasanya… sulit," pria malang itu hanya bisa menunduk dengan wajah kuyu. "Dan aku tak menyangka anti-bodi Mukuro-san bekerja dengan cepat terhadap bahan campuran serum yang kubuat…"

Semua yang ada di ruangan pribadi milik Tsuna tersebut, hanya bisa terdiam dengan wajah serius. Namun sedetik kemudian mereka baru mneyadari sesuatu hal yang penting. Dan dalam hal ini, Tsuna-lah yang memulainya.

"Tu—tunggu dulu…" wajah Tsuna terlihat memucat perlahan; ia menelan ludah dengan gugup. "Jika memang benar Mukuro sudah kebal dengan kandungan yang ada dalam serum itu—atau apalah, dan itu artinya… di-dia tak akan mempan dengan serum yang kau buat bagaimana pun kita mengusahakannya, ya?"

"Benar. De-dengan kata lain, Mukuro-san tidak akan kembali ke wujudnya semula…" ujar Sang mekanik Vongola.

Serta-merta, semua yang ada di ruangan itu hanya bisa kembali terdiam. Namun kali ini dengan wajah putih pucat seperti cat tembok—memikirkan apa saja yang mungkin terjadi, jika Mukuro tahu hal ini. Dan apapun itu, yang jelas bukanlah sesuatu yang baik.

"Ho—hoi! Lakukan sesuatu, Bodoh! Memangnya kau akan membiarkan ini terjadi, hah?" Gokudera yang geram menarik kerah kemeja milik Giannini, sehingga membuat yang bersangkutan ketakutan.

Baru saja Tsuna hendak memisahkan mereka, tiba-tiba, tawa sang Hujan terdengar. Mengakibatkan tiga orang yang ada di sana menoleh dengan wajah heran pada sang pemilik suara.

"Ahaha, bukankah itu bagus?" ahli pedang di Vongola tersebut bertanya dengan santai.

"Geh! Apanya yang bagus, Yakyuu-baka?"

"Dengan ini, Hibari akan mendapat pasangan perempuan 'kan? padahal , dulu sebenarnya ia menikah dengan laki-laki." Mantan pemain baseball itu meletakkan tangannya di belakang kepala dengan santai. "Lagi pula menurutku, Mukuro versi perempuan cantik, lho! Ahaha…"

Krik.

Dengan tampang suram-

"BUKAN SAATNYA BICARA BEGITU, 'KAAAANN?"

.

.

.

~X0X~

20.00 p.m, malam hari di kediaman Mukuro-Hibari…

Suara gemericik air kran wastafel menyapu indera pendegaran Mukuro yang kini tengah membasuh wajahnya dengan kran yang dinyalakannya itu. Berharap setidaknya, dapat sedikit menyegarkan pikirannya yang—jauh dari kata baik. Intinya, ia benar-benar tak menyukai keadaannya yang sekarang. Rasanya jadi ingin menghancurkan sesuatu jika mengingat kejadian tadi. Mukuro mematikan kran air wastafel tersebut dengan tangan kanannya begitu acara membasuh mukanya usai.

Hemat air, tahu!

Illusionis yang—semula—berwajah tampan tersebut meraih handuk yang tersampir di tak jauh dari wastafel tempatnya berdiri. Mengeringkan wajahnya perlahan. Setelah selesai, ia langsung mengembalikan benda tadi ke tempatnya. Mukuro menatap refleksi dirinya di cermin yang kini tak sama lagi dengan yang dulu. Memang 'sih, warna rambut, corak khas yang ada di mata kanannya masih sama seperti sebelumnya. Yang membedakan hanya, ia tak lagi setinggi se-gagah dulu; dikarenakan tubuhnya mungil dan ramping kini. Tak ada lagi suara berat yang menjadi ciri khas setiap pria dewasa, sekarang hanya ada suara lirih dan lembut milik seorang wanita.

Mukuro beranjak ke luar dari kamar mandi. Hanya untuk mendapati sang kekasih—Hibari Kyoya—tengah terduduk nyaman di atas tempat tidur mereka sembari membaca buku. Yang berambut sebiru buah blueberry itu, mendekati tempat tidur dan langsung menghempaskan tubuhnya dengan kasar di atas bantalan empuk tersebut; membenamkan wajahnya pada bantal. Sukses membuat Hibari mendelik kesal karena goncangan yang diakibatkan tubuh Sang illusionis.

"Kyoyaaa~"

Tiga kali panggilan bernada manja dari Mukuro tak luput dari pendengaran sang prefek, namun yang bersangkutan tetap bergeming; menekuri buku di tangannya. Mengabaikan Mukuro, seakan suara barusan hanyalah kucing lewat saja.

"…"

Mukuro cemberut.

"Kyo—"

"Apa maumu, Herbivora."

Sudut bibir Mukuro terangkat membentuk seringai khasnya. Akhirnya Kyoya-nya itu menyerah juga, eh? Tidak bermaksud untuk membuat mood Hibari memburuk, illusionis berambut indigo itu memulai.

"Kufufu. Memangnya kau tidak keberatan dengan keadaanku yang—cough seperti ini, Kyoya?" tanpa bangkit dari posisi berbaringnya, Mukuro melepas celana panjang hitam longgar yang tadi ia pakai. Menyisakan kemeja putih yang—sudah pasti—longgar juga. Karena panjang kemeja tersebut, hingga menutupi setengah lututnya, lho!

Hibari terdiam. Tidak merespon pertanyaan Mukuro.

"…"

Menutup buku yang yang tengah ia baca, kemudian meletakkannya di atas meja di samping tempat tidurnya, pria Jepang itu mengulas seringai tipis di bibirnya. Menatap sang kekasih dengan tatapan mengejek, "Hn. Mungkin itu karma atas perbuatanmu di masa lalu padaku."

Alhasil, respon hibari justru membuat wajah Mukuro semakin mengeruh.

"Memangnya kau mau dengan wujudku yang seperti ini? Bukankah kau bilang tidak menyukai perempuan, eh?" sindirnya.

Ah—kalau dipikir-pikir, memang ada benarnya juga. Hibari memang tidak menyukai perempuan yang dinilainya sebagai herbivora berisik, dan karena itu juga ia memilih bersama dengan Mukuro—yah, selain karena beberapa alasan tertentu juga sih.

Lalu—

Masihkah sekarang ia bersedia bersama dengan Mukuro meski yang bersangkutan kini sudah tak sama lagi seperti dulu?

Bukankah sebagai seseorang yang telah mengikat janji di altar beberapa waktu yang lalu, membuat Hibari sadar bahwa ia harus menerima apapun keadaan pasangannya yang sekarang—karena itulah yang dinamakan cinta sejati, sekali seumur hidup.

Karena itu, pada akhirnya Hibari berkata, "Terus, kenapa memangnya kalau kau menjadi perempuan?" dengan datar ia kembali melanjutkan, "Aku tak keberatan."

Bohong.

Sebenarnya Hibari tentu saja keberatan.

Dan perkataan Hibari barusan, sukses membuat Mukuro tercenung. Tidak percaya akan penuturan sang kekasih. Pemilik rambut indigo tersebut langsung menegakkan tubuhnya; bermaksud mencari kebenaran kata-kata Hibari lewat sepasang iris kelabunya. Dan karena Hibari itu pandai berakting wajah datar(?), membuat semua kalimatnya barusan terdengar begitu meyakinkan.

"Ka-kau yakin, Kyoya? Kufufu—cough." Dengan nada setengah bergurau ia melanjutkan, "Kalau aku seperti ini, aku tak akan bisa menemanimu disetiap malam kita berdua."

Picingan mata tajam sebelum sebuah respon telak telontar dari sang kekasih.

"Memangnya sejak kapan aku ragu-ragu padamu, Herbivora?" tak lama, seringai bak singa kelaparannya muncul. "Kalau begitu mulai hari ini kau yang di bawah."

EH?

Itu adalah ketika Hibari menindih tubuh sang ilusionis tersebut; memasang ekspresi wajah yang mampu meruntuhkan iman siapapun, tetapi justru membuat seorang Rokudo Mukuro gegap-gempita(?).

"Kalau kau tak bisa jadi yang di atas, mulai sekarang, akulah yang akan menggantikanmu, Herbivora." Ujarnya seraya membelai pipi Mukuro dengan lembut.

Mukuro tercekat.

Gawat. Alarm siaga satu dibunyikan.

Karena, apapun yang dikatakan seorang Hibari Kyoya, pastilah akan dilakukan olehnya. Yang berarti bukan mustahil lagi jika nanti tersiar kabar "Mist guardian Vongola, Rokudo Mukuro kini dikabarkan telah hamil satu bulan. Disinyalir yang bersangkutan dihamili oleh uke-nya sendiri," begitu.

Tragis, eh?

Karena seharusnya, ialah menghamili dan bukannya 'dihamili'! ingat? Mukuro itu adalah seme sejati. Seorang seme pantang untuk menyerah kalah pada uke-nya sendiri. Maju terus pantang munduuuuuuurrr! *sumpahgapentingbanget*

…Krik.

Lupakan.

Mukuro hanya bisa tersenyum miris mendengar uke-nya yang minta naik jabatan itu. Ia merasa kemalangan(?) berkali-kali menimpanya dari kemarin. Mulai dari ia mendadak berubah gendernya, ditaksir seekor Haneuma, digrepe-grepe kakek tua maniak marshmallow. Dan kalau kemarin ia masih bisa selamat dari ancaman Dino yang hendak menodainya kesuciannya(?), maka mungkin sekarang ia sudah tak bisa menghindar lagi. Salah apa bunda mengandung?

Sialnya, sebelum pemilik iris dwiwarna tersebut melontarkan protes, bibirnya telah dibungkam oleh Hibari. Bukannya ia tak suka jika Hibari mengambil langkah pertama. Ia senang, tentu saja. Namun kali ini, ia tak bisa berada di posisi superior kebanggaannya lagi, lho! Dan tanpa bermaksud merusak mood kekasihnya, Mukuro berusaha menikmati kegiatan ini sampai akhir.

Semula, itu hanya berupa ciuman ringan. Kemudian, mendadak berubah ketika mantan Prefek itu menjilati bibir Mukuro. Dilanjutkan dengan ciuman kedua yang kali ini terasa lebih panas. Berusaha merebut dominasi Mukuro yang seakan tak mau kalah darinya, jadilah mereka saling bertarung—dalam artian lain—dengan seru. Dikarenakan aktifitas mereka, membuat tubuh keduanya menempel satu sama lain. Dan hal itu tentunya, membuat Sang illusionis merasa tak nyaman lantaran tubuh Hibari yang menindih—cough, dadanya yang kini tak lagi rata seperti dulu.

Reaksi Mukuro itu rupanya disadari oleh Hibari. "Kau takut, Herbivora?" Tanyanya dengan dengan nada mengejek. Ya—Hibari sudah memutuskan. Apapun bentuknya(?) Mukuro saat ini, ia akan berusaha menerima apa adanya. Karena bagaimanapun juga, itu tetaplah kekasihnya.

*Duileee, setia amat, yak! ehehe*

Hibari dapat melihat dengan jelas bekas merah tipis yang—Hibari yakini—bukan darinya di leher Mukuro. Ini—siapa lagi kalau bukan perbuatan si Haneuma?

Tak ada yang boleh menyentuh mangsanya sedikitpun.

Pria berdarah Jepang itu mendekatkan wajahnya di leher Mukuro. Dan tanpa banyak bicara, ia langsung menggigit bagian kemerahan itu; berusaha sebaik mungkin menutupi tanda yang diberikan Dino kemarin malam pada Mukuro. Mukuro mengerang pelan saat merasakan gigi-gigi tajam Hibari menembus kulit lehernya. Setelah dirasa cukup, ia melepaskan gigitannya kemudian menyapukan lidahnya di area bekas gigitannya barusan, dan menghisap bagian tersebut dengan intens.

Hibari kembali mengurai jarak di antara mereka—hanya untuk menangkap ekspresi Mukuro yang tak biasa. Ekspresi yang mungkin hanya ada saat ilusionis itu berada di posisi sekarang.

Hibari menyeringai tipis. "Hnf. Aku tahu kau menikmatinya, Herbivora."

Mukuro memalingkan wajahnya yang sedikit memerah.

Eh—tapi hanya sedikit, lhoo! Entah kenapa, ia merasa sudah benar-benar jadi seperti uke sekarang. Ilusionis itu mengutuki semua orang yang menjadi penyebab gender-nya berubah seperti ini.

Dan asal tahu saja, ya—sebenarnya kalau boleh jujur, ia memang benar menikmati kegiatannya barusan.

E—EEEHHH?

Cough.

Akhirnya, impian terpendam Hibari untuk menjadi seme dari makhluk berambut unik itu terkabul juga oleh-Nya. Mari kita panjatkan puji syukur yang sedalam-dalamnya. Dan kalau perlu, Hibari harusnya mengadakan syukuran besar-besaran dengan tema, "Syukuran atas kenaikan pangkat Hibari Kyoya menjadi seme tulen". *halah*

Lagi pula, kalau saya selaku author boleh bicara jujur. Sebenarnya Mukuro versi sekarang itu tetap menarik, kok—tak kalah deh, dari wujudnya dulu. Sama-sama seksi, meskipun kini dalam artian yang berbeda, 'sih.

Mengabaikan lamunan tak jelasnya, Mukuro sepertinya harus mengambil tindakan. Masalahnya, sekarang ia dalam wujud perempuan, lho! Dan kalian semua tentu tahu 'kan, apa akibat yang akan ditimbulkan pada seorang gadis jika berada dalam 'posisi' Mukuro saat ini?

Tentunya, Mukuro tak akan siap dengan hal ini. Yang benar saja—masa' mantan kriminal sekaligus illusionis terhebat ternyata bisa hamil?

Apa kata dunia?

Kembali ke permasalahan awal.

Hibari menyentuhkan jemarinya di pipi Mukuro. Bibirnya terbuka merangkai kata dalam bentuk pertanyaan. "Kemarin di mana saja dia menyentuhmu?" gerakan tangan itupun terhenti di bekas tanda yang ia buat barusan. "—Katakan."

Tawa kecil Sang ilusionis pun terdengar tak lama berselang. "Kau cemburu, Kyoya-sayang?" namun, ternyata jawaban Hibari kemudian tak ayal membuatnya sedikit terkejut.

"Ya. Aku cemburu."

Mukuro menyeringai.

Ah—inilah salah satu alasan mengapa ia tertarik pada Hibari. Sifat Sang karnivora yang moody dan sulit ditebak-lah yang membuatnya sulit melepas pria Jepang itu. Yah, walaupun Mukuro tak menyangka bahwa kekasihnya itu akan berkata se-implusif barusan; apalagi mengenai perasaannya. Pemilik surai biru indigo tersebut tersentak sedikit kala mendapati Hibari menyentuh paha bagian dalamnya dengan gerakan menggoda. Sukses membuyarkan lamunan Mukuro.

Seakan tak puas hanya dengan itu pria Jepang kembali membungkam bibir Mukuro dengan bibirnya. Menutupi segala protes yang mungkin hendak di keluarkan Sang kekasih. Mukuro membuka mulutnya secara terpaksa lantaran Hibari barusan menggigit bibirnya, dan tentu saja kesempatan itu tak disia-siakan oleh Sang karnivora. Lidahnya menyusup masuk ke dalam rongga mulut Mukuro; mulai dari mengabsen deretan gigi rapi itu sampai menggelitik pangkal lidah gadis(?) tersebut. Lidah keduanya bertaut—bertarung seru, saling memperebutkan dominasi.

Sementara bibirnya bekerja, tangan Hibari pun tak mau kalah; ia melepas semua kancing kemeja putih kebesaran yang tadi pagi Mukuro kenakan. Melepas dan kemudian membuangnya ke sembarang arah. Mengakibatkan Mukuro hanya berpenampilan memakai bra dan celana dalamnya saja. Kalian ingat 'kan? celana panjang hitam Mukuro sudah dilepas oleh pemiliknya sendiri tadi.

Ciuman panas itu berakhir, sampai akhirnya keduanya menyadari bahwa mereka manusia yang tentunya tas bisa hidup tanpa pasokan oksigen. Hibari menjauhkan wajahnya dari Mukuro. Namun hanya menyisakan sedikit spasi di antara mereka. Napas keduanya memburu—seperti habis lari marathon. Hibari membuka mulutnya untuk memulai pembicaraan. "Aku tahu kemarin kau kemarin melakukannya dengan Haneuma itu, bukan?"

What the-

Mukuro mengerjap tak percaya dengan dugaan Hibari barusan. Jadi, Kyoya-nya itu mengira ia sudah melakukan—ehem—dengan si Haneuma, begitu?

OH—Lord!

"Aku tid—akh!"i

Itu adalah ketika Hibari kini membelai perut rata Mukuro, kemudian belaiannya tersebut naik ke area dadanya. Sukses membuat Mukuro menatap horor—apa dengan ini riwayatnya(?) sebagai seme sepanjang masa pudar sudah? Dan yang pasti tak ingin hamil! Yang beriris dwiwarna tersebut hanya bisa melebarkan kelopak matanya tatkala jemari kekasihnya itu mulai melepas pengait bra berenda-renda yang Mukuro kenakan.

MukuronggkamauMukuronggakmau Mukuronggakmauuu!

Dalam hitungan tiga detik saja, benda legendaris yang Mukuro kenakan itu akan melorot terbuka—menampilakan penampakan indah yang sangat dikagumi para pria (normal).

Satu detik—

Dua detik—

Tiga det—namun tiba-tiba…

BOOFF!

Bersamaan dengan hadirnya suara itu, sosok Mukuro tertutupi gumpalan asap aneh berwarna ungu muda. Yang entah kenapa, terasa de javu. Kemudian saat asap itu mulai menipis dan menampilkan sosok yang ada di dalamnya-

Entah kenapa Hibari cemberut.

Entah kenapa Mukuro bersorak.

Dan entah kenapa Mukuro kembali ke wujud asalnya. Ya, wujudnya versi seorang pria dewasa, tentunya. Dan bukannya seorang gadis muda seperti tadi.

Wah, itu artinya anti-bodi—atau apalah itu, yang dikatakan Giannini belum sepenuhnya terjadi. Mungkin serum buatan Giannini, efeknya tak langsung bekerja saat itu juga, sehingga membuat mereka semua salah paham mengira ini-itulah.

Rasanya Mukuro ingin melonjak-lonjak kegirangan—jika saja hal tersebut wajar untuknya. Pria berambut indigo tersebut menoleh dengan semangat ke arah Hibari yang kini tengah merengut kesal.

"Lihat Kyoya, aku sekarang aku sudah kembali ke wujud semula!" menyadari maksud ekspresi Sang kekasih membuat Mukuro melebarkan seringainya. "Bagaimana kalau kita lanjutkan yang tadi, Kyoya? Tapi, tentu saja aku yang di atas. Kufufu…"

Tanpa perlu mendengar respon Hibari, pria berdarah Itali tersebut mempersempit jarak keduanya. Dan malam itupun dilanjutkan dengan erangan Hibari sebagai awal dari kegiatan mereka…

.

.

.

~X0X~

23.00 p.m, malam hari di tempat lain…

Pria berambut putih salju yang kita kenali dengan nama Byakuran itu kini tengah memakan cemilan favoritnya—ya, apalagi kalau bukan marshmallow. Seringai manisnya kembali muncul kala mengingat kejadian dua hari yang lalu. Kejadian dimana ia bertemu dengan sasarannya; orang yang tak pernah berhenti membuatnya berdecak kagum saat melihatnya. Apalagi saat ia mendapati kenyataan bahwa ilusionis itu kini berubah wujud menjadi seorang gadis.

Byakuran memang belum tahu apa penyebabnya, tapi tentu saja bukan berarti ia tidak akan mencari tahu, lho!

Pergulatan pikirannya pun seketika buyar, saat mendengar suara yang tak asing di telinganya.

"Byakuran-san, kau sudah meminum obatnya belum?" Irie Shouichi mengulurkan dua botol obat pada Byakuran yang tengah duduk di ranjangnya. "Jangan lupa juga untuk mengoleskan salepnya juga, ya!" ujarnya agak cerewet seperti seorang ibu yang tengah menasehati anaknya.

Oh—iya. Aku lupa bercerita tentang 'kondisi' Byakuran, ya?

Jadi, semenjak insiden 'tendangan maut Mukuro' dua hari lalu itu, Byakuran langsung diantar Shouichi ke Rumah Sakit terdekat. Diagnosa dokter mengatakan bahwa bagian bawah Byakuran agak sedikit bengkak, jadi yang bersangkutan harus meminum obat yang berfungsi untuk menghilangkan mengempiskan bengkak tersebut—ditambahi salep agar bisa langsung meresap, katanya. Malah, setelah itu pemuda berambut merah tersebut sempat-sempatnya mengomelinya, karena sudah tahu Mukuro itu 'tak biasa' masih saja terus digoda. Kalau sudah begini 'kan, siapa juga yang akhirnya ikut direpotkan, coba?

"Iyaaa—aku tahu, Shou-chan~" membuka tutup botol yang berisi butir-butir obat, kemudian mengambilnya satu dan menenggaknya langsung tanpa air. Yang langsung dilanjutkan dengan membuka tutup kemasan dari salep tersebut, tapi baru saja ia hendak membuka celana panjangnya, ia menyadari sesuatu. "Shou-chan mau membantuku?"

Pemuda berkacamata itu tergeragap sejenak saat menyadari apa maksud pria di depannya. Namun tak butuh waktu lama baginya, untuk segera menguasai diri, Shouichi berjalan ke arah pintu kamar Byakuran, namun tetap berdiri di sana dengan posisi tubuh membelakangi lawan bicaranya.

Membetulkan letak kacamatanya sambil berkata. "Kurasa kau masih sanggup melakukannya seorang diri. Benar 'kan, Byakuran-san?" meski tak bisa dipungkiri, semburat merah tipis muncul di pipinya tak dapat ditutupi.

Dan bunyi pintu ditutup pun terdengar.

Selanjutnya untuk adegan berikutnya, rasanya saya tak perlu menjelaskannya di sini. Karena dikhawatirkan pikiran pembaca terkompromi.

Baykuran mengingat pahit kejadian yang hampir merenggut 'kebanggaannya'. Mukuro memang hebat—biarpun dengan sosok feminim, yang bersangkutan tetap saja kuat. Byakuran kembali melebarkan seringainya. Dan atas alasan ini pulalah, Byakuran merencanakan skenario pembalasan dendam pada ilusionis tersebut.

"Tunggu pembalasanku, Mukuro-kun. fufu~" tapi, sebelum itu—

Sembuhkan dulu 'itu'-mu, oke?

.

.

.

~X0X~

Di waktu yang sama, namun di tempat lain…

Malam mulai merajai langit. Musim semi memang saat terbaik bagimu untuk menikmati suasana apapun. Dan meski sudah larut malam, itu tak membuat Dino menutup matanya dan beranjak dari dunia nyata. Sambil berbaring di kasurnya, ia menatapi selembar foto yang berisi dirinya dan dan Mukuro dengan tatapan sedih.

Eh—tunggu dulu. Sejak kapan mereka punya foto bersama?

Sebenarnya, sehabis perkara Mukuro mengajak pulang, Dino mendapati semacam photo box yang terletak tak jauh dari tempat mereka berdiri. Sambil mengajak—atau lebih tepatnya memaksa—Mukuro disertai rengekan berlebihan, akhirnya yang bersangkutan berhasil mengajak Sang gadis. Sebenarnya Mukuro menolak to-the-extreme, tetapi luluh juga lantaran rengekan Dino yang seperti anak anak kecil yang menangis karena tak dibelikan permen. Membuat mereka menjadi pusat perhatian.

Dan bagaimana mungkin ia tak menyadari bahwa orang yang ditaksirnya itu adalah Mukuro? Pria pirang itu menghela napas panjang. Tawa kecilnya terdengar kala mengingat kejadian kejadian saat mereka di photo box. Gadis berambut biru itu tak mau menyunggingkan senyum sama sekali—digantikan dengan ekspresi merengutnya yang manis.

Apakah ini pertanda, bahwa ia akan kehilangan cinta pertamanya?

Tidak—justru ini adalah awal dari kisah cintanya. Dino bertanya-tanya dalam hati, apakah ia betul-betul mencintai gadis itu? Ataukah ini hanya perasaan sekilas yang ia rasakan dalam hidupnya?

Tapi—entah kenapa ia tak terlalu kaget dan bisa menerima begitu saja kenyataan bahwa gadis yang ditaksirnya, ternyata orang yang sama dengan pasangan mantan muridnya. Mungkinkah itu artinya ia benar-benar mencintai gadis itu meski sosok aslinya adalah seorang Mukuro?

EH?

Tiba-tiba dan entah bagaimana, wajah Dino bersemu merah saat mengingat kejadian kemarin malam. Mengingat bagaimana halusnya kulit calon gebetannya itu, suaranya, ekspresinya. Ah—ia benar-benar tak bisa melupakan semua momen tersebut. Serta-merta, ia melebarkan senyumannya, yang nyaris membuatnya serupa dengan Mist guardian Vongola generasi pertama.

Dan apabila mengingat kenyataan bahwa pemilik semua keindahan itu adalah seorang lelaki tulen, membuat Dino sadar bahwa Mukuro itu… sempurna!

Kedengaran lebay dan berlebihan, mungkin. Tapi, yah maklumi saja—namanya juga sedang jatuh cinta. Mungkin seperti itu kali ya, tingkah laku orang yang jatuh cinta. Mendadak sarap?

Dino menyadari alasan mengapa mantan muridnya itu begitu keukeh sekali mengincar Mukuro. Mungkin karena ilusionis itu begitu menarik perhatian? Makanya, karnivora Namimori tersebut sampai bisa menggonggongi(?) orang lain yang berani mendekati—apalagi merebut—Mukuro dari tangannya.

Tapi, justru bagian yang lebih sarap lagi itu adalah ketika Dino dengan mantap berdiri dari posisi tidurannya. Dengan penuh semangat membara, ia mengepalkan tangannya ke udara dan berseru-

"Mulai hari ini, kau adalah rival-ku, Kyoya!"

.

.

.

~X0X~

08.30 a.m, pagi hari di kediaman Mukuro-Hibari…

Mukuro memandangi wajah Hibari yang tengah tertidur pulas—kelelahan akibat aktifitas mereka semalam. Wajar sebenarnya jika Hibari sampai tepar begitu, habisnya semalam Mukuro benar-benar 'mengerjai' pasangannya itu. Bayangkan—dua belas ronde, hingga pagi!

Tepar tepar, deh!

Illusionis itu pipi putih mulus pasangannya dengan seringai jahil. "Kyoya, masa' kau mau tidur terus, sih? sekarang sudah pagi, kufufu…" Mukuro menggelengkan kepalanya saat respon dari Hibari hanya berupa erangan kecil saja. Ia yang pada dasarnya memang suka menganggu Hibari tidur, berinisiatif mencium Skylark-nya itu dengan cepat di bibirnya. Karena ia tahu Hibari pasti akan langsung terganggu.

Dan benar saja dugaan Mukuro, pria Jepang itu otomatis langsung terbangun dari tidurnya. Bangkit dari posisi berbaringnya. Karena—entah kenapa—sekecil apapun sentuhan yang diberikan Mukuro padanya, rasanya seperti terdapat getaran-getaran kecil aneh—namun tak membuatnya merasa tidak nyaman, 'sih.

Baru saja Hibari hendak melontarkan protes atas gangguan yang diterimanya barusan, ia merasa perutnya bergejolak aneh. Serta-merta, ia beranjak dari tempat tidur, dan langsung berlari ke arah toilet kamar mereka sambil menutupi mulutnya dengan sebelah tangan. Mengabaikan tubuhnya masih polos, tanpa sehelai benang pun. Hal itu tentu membuat Mukuro terheran-heran melihatnya. Namun pada akhirnya, ia memutuskan mengekor Hibari ke kamar mandi setelah memakai kemejanya.

Sementara itu, di wastafel kamar mandi, Hibari mengeluarkan isi perutnya. Makan malamnya terbuang sia-sia. Dan hal tersebut tidak terjadi sekali, namun berkali-kali. Sukses membuat mantan ketua komite kedisiplinan itu lemas. Mukuro membantunya melancarkan ritualnya itu dengan cara memijat tengkuknya. Hibari tak ingat, sebenarnya ia makan apa kemarin, sampai bisa masuk angin seperti ini.

Padahal, dari kemarin nafsu makannya melonjak tinggi, lho!

Mukuro menggiring Hibari untuk duduk di atas kasur setelah keadaan pasangannya itu mulai membaik. Ia membantu menidurkan tubuh HIbari supaya tubuhnya dalam posisi tertidur. Pria berdarah Itali tersebut mengoleskan minyak angin di leher dan perut Sang kekasih—dalam upaya untuk membuatnya lebih baik.

Saat hendak mengolesi minyak pada perut Hibari, Mukuro berkomentar, "Oya, oya… kutinggal tiga hari saja kau sudah mulai gemuk, ya? Kufufu, apalagi kalau kutinggal sebulan." Cuapnya santai, saat melihat perut Hibari yang agak membesar.

Namun, terjadilah keanehan saat Mukuro menyentuh perut Hibari. Semalam mungkin memang ia tak begitu menyadarinya karena gelapnya ruangan dian aktifitas mereka, tentunya. Tapi, sekarang ia yakin tak akan salah mengira keanehan ini. Kalian tahu?-perut Hibari keras. Seperti ada sesuatu di dalamnya. Ini jelas berbeda dari buncitnya orang kegemukan atau cacingan. Lagipula, kalau memang perut Hibari membesar lantaran yang bersangkutan mulai gemuk, harusnya tidak akan keras saat ditekan.

Mukuro mengingat kembali apa saja yang terjadi barusan. Pertama Hibari muntah-muntah tidak jelas, lalu diteruskan dengan kenyataan bahwa perut Hibari keras. Mukuro menoleh ke arah Hibari yang ternyata juga berekspresi tak horor darinya.

"Kyoya, kau…"

Illusionis Vongola itu kembali menyentuhkan telapak tangannya di atas perut kekasihnya—dan semakin horor kala mendapati suatu gerakan samar di daerah yang ia sentuh itu.

"Kyoya, kau… hamil?"

Pertanyaan Mukuro sukses membuat Hibari geram, ia menarik kerah kemeja pasangannya itu. "Dasar Bodoh! Aku ini laki-laki!" namun—seketika itu juga, gerakannya terhenti. Yang berambut hitam tersebut meringkuk sambil memegangi perutnya; ekspresi wajahnya seperti menahan sakit.

"Apa yang terjadi, Kyoya?" ia membantu mengembalikan lagi Hibari ke posisi tidurnya. "… Katakan padaku."

Sambil meringis, Hibari menjawab. "Pe—perutku rasanya sakit sekali. Seperti ada yang menendanginya dari dalam…"

Mukuro menelan ludah. Ini sudah jelas—tak salah lagi. Hibari hamil, Saudara-saudara. Memangnya apalagi yang bisa menendangi perut dari dalamnya kalau bukan janin, alias bayi?

Pria tampan berambut biru itu ber-facepalm ria. Seoertinya masalah baru akan datang. Baru saja kasus gender blending-nya selesai, masalah lain sudah datang menghampiri. Yang itu artinya...

Petualangan masih berlanjut, eh?

.

.

.

.

.

.

THE END

.

.

.

.

.

.


A/N:

Oh—hai, Ladies~~ lama ga bersua ya! Rasanya sudah satu bulan-kah? 0A0 #slapped.

Mau bagaimana lagi, saya itu klo ngerjain sesuatu tergantung mood aja. Jadi—yah, gitu deh! Ahaha~ #dijitak rame-rame.

Eh, tapi biarpun lama nunggu, kalian masih setia 'kan, sama fic ini? *ge'er*

Oke, lanjut—

Saya sebenarnya rencanain bikin sekuelnya. Multichap yang nyeritain lanjutan dari cerita ini, juga apa bener 'Mama' hamil atau nggaknya, terus lanjutan 'perjuangan' Dino. Tapi, yah—itu sih klo kalian mau~ *smirk* #Plakk

.

Terima kasih kepada…

Rokudo Renna, Authorjelek, Neliel Minoru, shizuo miyuki, Demoneolith Ravena, Zoealya, Penjelmaan Authorjelek, akakuo, Rhiani, Nobarachan, 6918rper, mautauaja, shikitsu, Meong the Lovely Cat, Monochrome Life, Nato Apple, Aoi no Tsuki, takukai, sheila-ela, Neliel Minoru, Eun88, Amtrs7227

.

Makasih banget yang udah mau baca dan dukung fic ini sampai akhir. SAYA CINTA KALIAN, LHOOO~~! *ciumin satu-satu* #ditendang

OH, Ya. Sebentar lagi ada MCH-event, lho! Nanti kalian jagan lupa ikut berpartisipasi yaa! ^w^b.

Ayo, yang ngerasa suka 6918—apalagi cinta—kalian WAJIB ikut sertaaaa~! *maksa*

Dan- Sampai jumpa di fic saya selanjutnya, dan—Bye bye~~!


Credit(?):

[ "I was just worried about you, that's all." -Rokudo Mukuro to Hibari Kyoya; Katekyo Hitman Reborn! Target 63: Rokudo Mukuro ]