Jika cinta itu pada akhirnya harus melepaskan, mengapa perlu berkorban?

Mengapa perlu berkorban untuk sesuatu yang hanya akan memberikan kesakitan?

Lantas, untuk apa cinta itu ada?

.

.

Bizzare Love Triangle

© 2013

Standard Disclaimer Applied

.

.

Harus berapa lama aku menunggumu?

.

.

Sepasang jade milik Sabaku no Gaara menatap kosong hamparan rumput hijau di hadapannya. Sejak seratus dua puluh menit yang lalu, pemuda itu masih berada pada posisi yang sama. Menyender pada pohon maple musim semi dan bernapas. Tak ada pergerakan berarti selain dadanya yang naik turun seiring paru-parunya yang berkontraksi dan relaksasi serta kelopak matanya yang mengedip sesekali.

Seratus dua puluh menit. Sendiri.

Menunggunya.

Untuk pertama kali dalam waktu yang dilaluinya seorang diri di sana―di tempat itu―ia melirik iPhone yang tergeletak tak jauh dari raganya yang seolah melepas jiwa, lalu jemarinya bergerak menekan satu-satunya tombol di muka layar ponsel itu.

Tidak ada satupun notifikasi.

Tidak ada. Tidak ada dari wanitanya.

Lagi-lagi ia menunggu sesuatu yang tak pasti.

.

.

Kau tahu, Sakura, terkadang aku merasa lelah.

Tapi aku tetap menunggu.

Harus berapa lama lagi?

.

.

"Sakura."

Sang pemilik nama berjalan mendekat, memaksakan seulas senyum terpatri dari bibir tipisnya yang terpoles lipgloss berwarna alami. Tubuh ramping wanita muda itu terbalut gaun sederhana yang terkesan elegan berwarna hitam yang kontras dengan warna alami helai rambutnya, tapi sanggup menonjolkan kecantikan dan keanggunan sosok itu.

Gaara masih menatap datar sosok itu meski sejujurnya detak jantung pemuda itu mulai menggila.

Di hadapannya. Wanita itu.

Seseorang yang telah ia tunggu dalam menghabiskan waktu.

Sepasang emerald yang sanggup menghancurkan jiwanya.

.

.

"Selamat malam, Gaara."

.

.

Seingatnya, malam sebelum hari ini mereka telah bertatap muka―meski dalam kondisi dan suasana yang tidak seharusnya―tapi Gaara sangat merindukan sosok itu. Wanitanya. Orang yang secara resmi akan menjadi miliknya―milik pemuda itu seutuhnya.

Milikmu seutuhnya, Gaara? Apakah kau yakin?

Ujung bibir pemuda berambut merah itu membentuk seringai tipis.

.

.

"Bukankah pada akhirnya kau tetap akan jadi milikku?"

.

.

Malam itu, perbincangan mengenai hari pertunangan Sabaku no Gaara dan Haruno Sakura mengalir di antara pertemuan kedua keluarga yang berniat meleburkan diri.

.

.

Kali pertama Gaara mengenal gadis cherry itu adalah saat ia duduk di bangku sekolah menengah atas. Gadis yang memperkenalkan diri sebagai Haruno Sakura itu mampu mencuri perhatian sosok dingin yang duduk menyembunyikan diri di kursi paling pojok kelas―suaranya yang terdengar hangat dan senyumnya yang mampu menembus barikade kokoh tanpa emosi milik seorang Sabaku no Gaara hingga mengalihkan sepasang jade yang memandang jendela kelas bosan dan membuatnya terfokus pada sosok gadis manis itu.

Sepasang emerald yang berbinar indah.

Saat itu mungkin Sabaku no Gaara adalah pemuda polos yang jatuh cinta pada pandangan pertama.

.

.

Secret admirer.

Begitu orang-orang memberi julukan bagi manusia yang jatuh cinta diam-diam.

Hal yang tak pernah terlintas sedikitpun dalam benak seorang Gaara―pemuda yang berpikir rasional dan nyaris tak pernah melenceng dari jalur logika. Menjadi seorang secret admirer―atau jatuh cinta diam-diam―adalah salah satu hal paling mustahil dalam hidup pemuda itu yang penuh rencana.

Tapi lantas rasionalitas pemuda itu menumpul dan ia dipermainkan instingnya sendiri untuk selalu memperhatikan Sakura―gadis berambut merah muda yang hampir setiap waktu tertangkap retina matanya.

Gadis itu. Gadis yang selalu tampak ceria dengan senyum yang mampu membuat dunia monokrom menjadi lebih berwarna.

Meski mungkin ia tak punya celah untuk berjalan mendekat. Berada tepat di samping gadis itu.

Seperti ada sebuah sekat tak tampak yang menahan langkahnya untuk satu demi satu langkah mengeliminasi jarak di antara sepasang anak manusia itu.

.

.

Kuharap kita bisa bertukar tempat karena kemudian kau akan menyadari bagaimana perasaanku terhadapmu.

.

.

Sakura tak pernah dapat disingkirkan dari otak pemuda berambut merah itu. Gaara terlanjur terpaut hatinya―mungkin pula secara sepihak menyerahkan hatinya―dan benar-benar terikat tanpa berniat lepas.

Kali ini, orang-orang menyebut manusia seperti Gaara sedang dimabuk cinta.

.

.

"Aku selalu ada di sampingmu. Kenapa kauulurkan tanganmu kepada yang lain?"

.

.

Kautahu, tulang rusuk tak pernah tertukar. Maka jika kita ditakdirkan bersama, tak satupun dapat menyangkalnya.

.

.

"Aku menyukaimu, Gaara."

"Menyukaiku?"

"Ya. Kau tak seperti yang teman-teman perbincangkan, yeah, mereka bilang kau terlalu pendiam. Awalnya aku berpikir kau orang yang kaku. Tapi ternyata aku salah. Kau menyenangkan."

"Kau menyukaiku?"

"Seperti yang kukatakan."

"Menyukai seperti―"

"Teman."

.

.

Gaara nyaris tertawa―miris―saat sekeping ingatan masa lalu menghampiri lamunannya. Ia menatap wanita di sampingnya, wanita yang sama yang telah mengatakan menyukainya beberapa tahun lalu. Wanita yang sama dengan gadis yang dahulu memberinya pengharapan.

Hey, bahkan sejak awal dia hanya berkata menyukaimu sebagai seorang teman, Gaara. Lantas, siapa yang terbodohi di sini?

"Kau boleh memberhentikan mobilnya di ujung persimpangan jalan itu, Gaara," Sakura menatap lurus, tanpa bayangan Gaara di manik matanya.

"Aku sudah berjanji pada ayahmu untuk mengantarmu pulang."

"Tidak apa. Aku akan menghubungi ayahku nanti."

Gaara mendengus.

"Kau ingin menemuinya, bukan?" Pemuda itu berkata dengan nada rendah, nyaris berbisik.

Tanpa mengalihkan fokusnya dari jalanan, Sakura menjawab, "bukan urusanmu."

Satu injakan. Laju mobil itu berhenti dalam sekejap, menimbulkan sedikit hentakan pada dua penumpang di dalamnya.

"Bukan urusanku, kau bilang?"

Hening sesaat. Sampai akhirnya retak karena tawa pemuda berambut merah itu. Tawa yang melebarkan luka di hati keduanya.

"Bahkan setelah resmi menjadi tunanganku, kau masih menemuinya?"

Emerald milik Sakura tersembunyi sesaat di balik kelopak matanya, menutupi sinarnya yang kian meredup. Kali ini, ia tak sanggup berkata lagi.

Tawa milik Gaara terdengar lagi. Kali ini lebih mirip seperti orang frustasi.

"Apa yang harus kulakukan?"

Telapak tangan pemuda itu mengepal erat, menanti jawaban yang mungkin dilontarkan wanita di sampingnya.

Tapi tidak ada. Sakura tak memerintah apapun pada pemuda itu. Tidak ada permintaan. Tidak ada jawaban untuk pertanyaan penuh pengharapan pemuda Sabaku itu.

"Apa yang harus kulakukan, Sakura?" ia berbisik, nyaris frustasi. "Apa yang harus kulakukan untuk membuatmu benar-benar melihatku?"

Setetes liquid bening mengalir bersamaan dari kedua iris senada sepasang manusia itu, di antara keheningan yang semakin membuat sesak.

.

.

"Apa kau percaya cinta, Gaara?"

"Hn?"

"Ya, cinta. Seperti yang orang-orang bicarakan."

"Aku tidak tahu."

"Kalau aku, hanya satu hal yang kupercayai tentang cinta―"

"―cinta itu, meninggalkanku."

.

.

.

.

"Aku mencintaimu segini banyak, menunggumu untuk waktu yang begitu banyak―"

.

.

"―dan sakit yang begitu banyak―"

.

.

"―tanpa pernah mendapat cintamu, walau hanya sedikit saja."

.

.

"Jadilah kekasihku, Sakura."

"Tapi aku―"

"Setidaknya, beri aku kesempatan. Beri aku waktu untuk membuatmu―"

.

.

"―sedikit saja menyukaiku."

.

.

Every time I think of you

I get the shot right through into a bolt of blue

It's no problem of mine, but it's a problem I find

Living the life that I can't leave behind

.

.

To Be Continued

.

.

Bizzare Love Triangle

Song by Frente

.

.

Author's note:

Sedikit bahasan untuk cerita, seperti yang telah saya jelaskan pada chapter sebelumnya, Bizzare Love Triangle ini terdiri dari beberapa bab dimana setiap bab akan mengambil sudut pandang dari satu diantara tiga tokoh utama dalam fanfiksi ini. Untuk bab 2 ini, Gaara lah yang menjadi tokoh sentris. Untuk bab selanjutnya, giliran Sasuke. Jadi, untuk yang menantikan SasuSaku, harap bersabar menunggu chapter selanjutnya. Dan, sedikit mengingatkan, alur kisah ini maju-mundur, sehingga mungkin terasa sedikit membingungkan. Semoga gaya penulisan saya cukup bisa menjelaskan alur dengan baik.

Akhirnya, saya memutuskan untuk melanjutkan fic ini ditengah keputusasaan serangan writer's block yang terasa begitu lama. Rasanya, sulit sekali memulai menulis kembali. Semuanya jadi terasa hambar, seperti tidak mendapat feel dari apa yang saya ceritakan sendiri. Saya minta maaf, chapter ini mengecewakan. Tidak cukup pula untuk menjelaskan dan memberikan gambaran tentang cerita yang ingin saya sampaikan. Saya bahkan merasa ini berantakan dan abstrak...

Tapi, saya memberanikan diri. Bukan bentuk pembelaan dari saya, saya hanya ingin melawan rasa tidak-bisa-mencari-ide dan tidak-bisa-merangkai-kata. Bagi saya, yang terpenting saya bisa menulis lagi. Bagus atau tidaknya, itu urusan nanti.

Untuk itu, saya mohon bantuan dari kalian―yang telah sudi membaca serta berniat menyampaikan sepatah dua patah kata―untuk memberikan masukan dan perbaikan untuk saya, baik dari segi teknis maupun keseluruhan cerita.

Terima kasih telah membaca. Saya sangat menanti kritik membangun dari kalian.