Hai minna~ akhirnya saya kembali update! Jadi, bagaimanakah liburan anda? Menyenangkan? Saya enggak. #teruskenapa #jder.
Tapi aku merindukan liburanku ;A; KEMBALIKAN LIBURANKU KEPADAKUUUU QAQ #woiudah!
Ehem, jadi mari kita bahas mengenai Lembar Kedua ini. Lembar ini mengandung unsur kegalauan yang teramat sangat, namun manis di akhir kok :) ini adalah tahap di mana akhrinya sang gadis mampu memberikan hatinya (lagi) pada orang lain~
Jadi, silakan dibaca, minna!
Enjoy~
The Book of Love Story 2
a VOCALOID FANFIC
By : EcrivainHachan24
Desclaimer : Yamaha©Crypton Future Media
Sequel of "The Book of Love Story"
Len x Miku
WARNING!
Dramatically Romance, abal, disarankan membaca The Book of Love Story yang pertama dulu, etc
DON'T LIKE, DON'T READ!
2 of 5
.
.
.
.
.
Dia berjalan sedikit tergesa di lorong koridor yang menghubungkan pintu masuk dengan ruangannya. Mengabaikan panggilan dan sapaan selamat siang dari teman-temannya dan hanya berjalan begitu saja melewatinya. Sambil berdecak, dia memandang jam tangannya. Pukul satu siang lewat empat puluh menit. Dia sudah telat setengah jam!
"Sial," desisnya saat memasukkan absen ke dalam mesin absensi.
Ckring!
BRUK!
Lalu dilemparnya tas yang dia bawa ke atas mejanya sendiri dan duduk di atas kursi kebangaannya dengan nafas memburu. Gila, ini lebih melelahkan daripada yang ia kira!
"Jam berapa ini, Len Kagamine?" suara yang ia kenal membuatnya menelengkan kepala lalu mendapati sudut cengiran dari seorang Leon Koejima yang terkekeh padanya.
"Jam dua lewat empat puluh menit, Koejima-san," cengir Len balik. Leon menyilangkan tangannya di depan dada lalu mengangkat kedua alisnya.
"Mana boleh Jendral berlaku seenaknya begini?" ketusnya. "Letnan Gumone takkan menyukainya."
"Oh, tidak." Len menggelengkan kepalanya dengan wajah horror yang dibuat-buat. "Jangan dia."
Leon tertawa lalu menepuk bahu kawannya tersebut dengan hangat. "Memangnya apa sih yang kau lakukan di pemakaman? Ada hal yang menarik di sana?"
"Tidak ada," geleng Len lalu meraih beberapa kertas dari laci mejanya. "Hanya berdiam diri memandangi batu nisan Kaito saja. Silakan bayangkan sendiri bagaimana rasanya."
"Oh, pasti menyenangkan," cengir Leon. "Maksudku, walau hanya berdiam diri, kau diam-diam memerhatikan gadis yang bersamamu, ya 'kan?"
Len kini menatapnya dengan ekspresi datar. "Leon, hentikan itu."
"Oh, ayolah," cengiran Leon semakin lebar saja. "Dia cantik juga, ya kan? Lagipula, cinta bisa datang karena terbiasa, Kawan."
"Aku tidak jatuh cinta padanya." tukas Len tak senang.
"Pada siapa?" pancing Leon dengan wajah sok polos. Len menghela nafas lalu memutar matanya.
"Pada Miku, tentu saja!" katanya dengan tak sabar. Leon mengerjap sok kaget lalu memasang wajah menganga yang selebar-lebarnya.
"Miku?" dia mengernyit. "Lhooo... tadi aku tidak bilang jatuh cinta pada Miku, lho, yaa…"
Terjebak.
"Leon!" seru Len saat Leon tertawa keras lalu meninggalkan Len yang jengkel setengah mati merasa dikerjai.
"Sialan," maki Len semakin tak senang saja mendengar gaungan tawa Leon. Lagipula, kenapa juga dia harus terpancing pada 'permainan logika' milik Leon itu, sih? Benar-benar tidak berguna!
Len mendengus lalu membuka laptop dan mulai bekerja.
Gadis berambut hijau tosca dengan model twin tails itu berjalan gontai di sepanjang jalanan yang amat dikenalnya. Sepanjang jalan kenangan yang dia lewati, dia sudah mati-matian menahan segalanya selama ini. Dia terus berjalan, tidak memedulikan anak-anak poni rambutnya mulai menampar-nampar wajah cantiknya karena angin yang terbilang kencang tersebut.
Dia menghela nafas. Semuanya... suasananya bahkan masih sama. Dia merapikan sweater birunya dan memandangi lalu-lalang di hadapannya—ibu dan anak yang memegangi kantong belanjaan; mereka pasti akan menyiapkan makan malam. Sepasang kekasih yang bergandengan tangan, pria-pria setengah baya yang sibuk dengan ponsel mereka dan beberapa anak muda yang tertawa-tawa dengan bebasnya.
Kapan terakhir kali dia tertawa?
Miku Hatsune, nama gadis itu terdiam dalam naungan dinginnya udara sebelum menghela nafas untuk yang kedua kalinya. Dia lelah, lelah dengan semua ini. Lelah hati, batin... semuanya. Dia sudah menanggungnya selama lima tahun dan dia belum bisa menyelesaikan semua permasalahan konflik batinnya sendiri. Betapa menyedihkan.
Apakah dia selemah itu?
Entahlah.
Kini langkah kakinya berhenti di persimpangan jalan yang amat dikenalnya. Dia sedikit menemukan keraguan dalam hatinya sebelum akhirnya rasa rindu yang mengalahkan segalanya. Dia melangkah, berbelok ke kiri dan mendapati sebuah bangunan berupa rumah yang tidak terawat—dengan sarang laba-laba dan ilalang yang tumbuh dengan liar di pekarangan rumah tersebut.
Luka hatinya mulai terbuka lagi.
Pagarnya... tamannya... cat tembok... semuanya masih sama.
Dia memejamkan matanya untuk menelan air mata yang dibendungnya. Dia sudah tidak pernah menangis lagi selama tiga tahun terakhir 'kan? Untuk apa dia menangis lagi?
Dia melangkah mendekat—membuka pagar putih dari besi dan mendorongnya sehingga menimbulkan sedikit bunyi besi berkarat yang khas. Dia memandang plang besar dari agen penjual rumah di sebelah pagar itu. Tulisan 'DIJUAL' dan nomor telepon agen penjual rumah berada di bawahnya. Dia menatap datar plang itu lalu berjalan melewatinya dan mendekati pintu kayu yang kini sedikit rusak di sana-sini termakan usia. Dia memutar kenop pintu dan mendorongnya—untuk membukanya.
Krieet...
Blam.
Dia memandangi isi rumah itu. Masih sama. Posisinya, letak dan keseluruhan barang-barangnya... semuanya masih sama. Walau titik-titik hitam—kotoran rayap—dan sarang laba-laba di mana-mana, keadaannya masih sama. Dia menatap sofa biru tua di dekat perapian yang mati di sebelah kanannya. Ruang tamu.
Dia berjalan perlahan lalu duduk di atas sofa itu. Kemudian dia mengelus sisi permukaan sofa yang kosong di sebelahnya dengan sebelah tangan. Dia ingat, dia sering ketiduran di sana jikalau menunggu Kaito pulang dari lemburnya yang panjang dan melelahkan. Kemudian dia akan menyiapkan makan malam untuknya.
Betapa diingatnya semua itu.
Lalu cairan bening itu turun dari pelupuk matanya. Dia tidak menahannya lagi.
Semua ini terlalu memorial untuknya. Kenangannya...
Kemudian dia berdiri dan berjalan menuju tangga kayu yang menghubungkan lantai ini dengan sebuah kamar di atas sana.
Kamarnya. Kamar Kaito. Kamar mereka.
Dia menjejakkan kakinya di atas anak-anak tangga itu satu persatu dengan gerakan lambat. Dia menghapus setitik air matanya yang tadi jatuh. Dia menarik nafas dalam-dalam demi mengisi asupan udara di paru-parunya. Dia memejamkan matanya lalu menyentuh kenop pintu kamar itu dan memutarnya—mendorongnya sehingga terlihatlah pemandangan di dalamnya.
Kali ini dia membiarkan dirinya terbawa oleh kenangan masa lalu.
Tempat tidur dua buah dengan sebuah meja kecil di tengahnya, lampu pijar sederhana serta lemari yang bersisian satu dan lainnya, serta meja kayu besar milik Kaito... posisinya, semuanya masih dalam keadaan sama. Tidak berubah walau semili-pun. Begitupun kenangan Miku. Semua dalam keadaan sama. Tidak berubah sedikitpun.
Lalu dia memberanikan diri berjalan ke dalam—menghiraukan debu yang menyambutnya serta kotoran rayap yang berada di bawah alas kakinya. Dia tidak peduli.
Kini dia duduk di kursi yang menghadap ke meja Kaito lalu menarik sebuah laci dari sana.
Pulpen-pulpen yang sudah kering, kertas-kertas memo, rautan pensil yang dibuang sembarangan ke dalam sana dan beberapa foto usang ada di sana. Foto-foto yang Kaito lampirkan di buku cerita cinta mereka. Di sebuah buku yang masih disimpan Miku baik-baik.
Buku cintanya.
Lalu matanya beralih pada sebuah kamera tua yang berdebu di paling bawah. Dia meraihnya dengan jemari tangannya dan membersihkan debu dari lensanya. Dia memandangi kamera itu sesaat dan kurva bibirnya melengkung sedikit membentuk seulas senyuman kecil. Potretan Kaito selalu indah. Iya 'kan?
Pik.
Dia menekan tombol 'ON' pada kamera itu dan layarnya berubah menjadi putih sebelum peringatan bahwa kamera itu dalam keadaan low battery dan hanya tersisa 2% energi untuk kamera itu tetap hidup. Dia menyunggingkan senyum kecil. Kaito memilih kamera yang tidak bisa mati kali, ya?
Dia membuka gallery dalam kamera itu dan mendapati banyak sekali foto di dalam sana. Ada foto dirinya sendiri yang sedang cemberut, makan siang, tersenyum lebar, tertawa, sampai dirinya yang sedang melamun. Seolah kamera itu selalu merekam setiap gerak-geriknya tanpa terkecuali.
Seolah kamera itu adalah wujud mata Kaito saat melihatnya.
Dia terrus menekan tombol-tombol untuk melihat-lihat foto sebelum ibu jarinya berhenti memencet terhadap satu foto yang disukainya.
Foto dirinya dan Kaito melihat sunset yang cantik sore itu.
Tes.
Tes.
Dua titik bening menjatuhi layar itu. Ternyata pelupuk matanyalah yang menghasilkan kedua titik bening tadi.
Dia menangis. Lagi.
Tes.
"Uhk...," dia menjatuhkan dirinya ke atas lantai yang dingin lalu menyandarkan punggungnya ke tembok di belakangnya. Dia memandangi foto tadi dengan berurai air mata. Dia membekap mulutnya dengan telapak tangannya—menahan segala rasa yang terbendung memuncak di benak dan hatinya.
Tes.
Tes.
Seandainya, dia bisa kembali ke masa itu—saat dirinya dan Kaito belum terpisah oleh golek ruang waktu dan dunia, dia akan mengulang kenangan itu. Terus, terus, dan terus. Sampai dia merasa lelah untuk mengulang semua kenangannya. Terus dan terus, sampai dia merasa Kaito selalu di sisinya. Selalu tersenyum padanya.
Memandang sunset bersamanya seperti yang ada di dalam foto tersebut, menghirup udara musim semi di hari pertama, merasakan hangat tubuh satu sama lain dalam gaungan musim salju yang membeku.
Dia akan mengulang semuanya.
Tes.
Walau dia harus memasuki ruang waktu, dan dia takkan merasa semuanya sendiri lagi.
Ada Kaito.
Karena ada Kaito.
Tes.
Tes.
"Onii-san takkan meninggalkanku, iya kan?"
"Ya."
"Kau berjanji?"
"Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu..."
"Bagaimana kalau kau melanggar janjimu?"
"Hukum aku."
Gletak.
Dia menjatuhkan kamera itu dari genggamannya dan meraih lututnya sendiri—memeluknya—berharap menemukan sedikit kekuatan dari sana. Badannya bergetar hebat seiring isakannya terdengar—begitu sedih, begitu memilukan.
Begitu tersiksa.
"K—Ka... ii... ito... O—oni... onii—s-s... san...," panggilnya susah payah di tengah tangis isaknya yang meledak bersama kenangannya. Dia berteriak hampa dalam ruangan yang menjadi saksi bisu atas tangisannya ini.
Tes.
Tes.
Tangisan pertamanya setelah akhirnya dia lelah berpura-pura kuat.
Setelah akhirnya dia lelah dengan kenyataan.
Setelah akhirnya dia menyerah pada kenangan. Dan tak bisa keluar dari kubangannya.
Kriiing... kriiing...
Suara ponselnya terdengar. Namun dia mengabaikannya. Dia terus saja menangis dalam gaungan kehampaan hatinya yang kosong. Tidak ada. Tidak berarti.
Kriiing... kriiing...
Dia merindukan Kaito. Tidakkah dunia mengerti rasa rindu yang teramat sangat sampai kau lupa caranya bernafas dan tersenyum?
Kriiing... kriiing...
Ponsel itu bergeming menghubunginya. Akhirnya gadis itu menyerah, dia meraih ponselnya dan menatap layar.
Len Kagamine
Calling ...
Pik.
"Halo, Miku? Kau ada di mana?" suara laki-laki itu terdengar. Namun Miku tidak mengucapkan apa-apa kecuali menempelkan ponsel itu pada telinganya. Dia menatap kosong langit-langit kamar itu.
"Orangtuamu bilang kau pergi tanpa izin. Ayo katakan, kau ada di mana?" suara Len terdengar khawatir. Namun rupanya Miku tidak khawatir dengan semua orang yang sedang mencarinya saat ini. Sama sekali tidak peduli.
"Miku!"
Gadis itu bergeming. Lalu dia memandang foto yang ada di layar kamera. Dan seutas isakannya terdengar.
"Kau menangis?" suara Len berubah panik. "Miku, kau kenapa? Kau ada di mana?" suaranya terdengar kalut. Namun isakan Miku malah semakin terdengar. Dia memegangi dadanya.
Sakit.
Sakit.
Sakit sekali.
"Miku, ada di pemakaman, ya? Aku segera ke sana!" suara Len terdengar lagi. Miku menggelengkan kepalanya walau tahu Len tak bisa melihatnya.
"O—nii... s-san... hiks," isakannya terdengar lagi dengan bibir gemetar.
"Apa?"
"K—aa... Kai... to... hiks, O-oni... san... Ru... mah... hiks..." lalu dia menutup wajahnya dengan sebelah tangan.
"Kau di rumah Kaito?!" suara itu terdengar kaget dan tidak percaya.
"Untuk apa kau ke sana? Ah, sudahlah. Nanti saja menjelaskannya. Pokoknya, kau jangan kemana-mana sebelum aku datang, oke?"
Pik.
Gadis itu membiarkan ponselnya tetap di telinganya.
Dia memang tidak akan pergi kemana-mana...
Hiruk pikuk kota Tokyo seharusnya sudah jadi kebiasaan sehari-hari. Namun tidak untuk Len Kagamine hari ini.
Tiiin! Tiin!
Dengan tidak sabar, dia menekan klakson kuat-kuat. Kenapa sih mobil di depannya harus begitu lambat?!
Tiiin! Tiiin!
"Hey, sabarlah sedikit, Bung! Ini lampu merah!" seru orang yang sedang mengendarai mobil tepat di depannya. Len berdecak lalu memandang kesal lampu merah sebagai rambu jam itu. Untuk pertama kalinya seumur hidup sebagai polisi, dia begitu membenci lampu merah!
"Sial, sial, sial!" dia memukul setir yang dikemudikannya lalu menghela nafas yang memburu sedari tadi. Keringat membanjiri pelipisnya. Lantas dia memejamkan matanya.
Kejadian beberapa saat yang lalu—dia mendapat telepon dari orangtua Miku bahwa putri mereka pergi tanpa izin dan tidak tahu kemana, dan setelah dia menghubungi gadis itu, ternyata gadis itu berada di rumah Kaito.
Dan menangis.
Dia tidak percaya ini. Gadis itu kembali menangis. Dan hatinya mencelos mendengar isakan gadis itu.
Dia harus menemui gadis itu. Segera.
Lampu berubah hijau. Dan dia menginjak pedal gas sampai tandas.
Dia membanting pintu mobil, memasuki pagar putih itu dan berlari masuk ke dalamnya. Namun keadaan rumah itu kosong melompong.
Perasaannya mulai tak enak. "Miku?" panggilnya pelan. Tidak ada jawaban. Dia lalu menghela nafas dan berlari kecil ke arah tangga kayu yang menghubungkan lantai ini dengan sebuah kamar. Kamar Kaito dan Miku dulu. Mungkin Miku ada di sana.
"Mik—" suaranya berhenti begitu membuka kenop pintu kamar itu. Dia memandang seorang gadis berambut hijau tosca yang diikat twin tails tengah duduk di pojok kamar, dengan sebuah ponsel dan kamera yang tergeletak di sebelahnya. Gadis itu memeluk kedua lututnya. Bahunya bergetar hebat—menandakan dirinya tengah menangis.
Lalu hati laki-laki beriris aquamarine itu kembali mencelos.
"Miku..." panggilnya pelan sembari mendekat pada gadis rapuh itu. Gadis itu mengangkat kepalanya dan menatap Len dengan iris samudra pasifiknya yang berlinang air mata. Hati Len kembali berdarah, namun dia berusaha menunjukkan dirinya lebih tegar. Berlututlah dia di depan Miku untuk mengimbangi tinggi mereka.
"Hey, sudah... ini aku," kata Len lembut. Dia menepuk pelan kepala gadis itu lalu dalam sekali sentakan, diraihnya tubuh mungil dan ringkih gadis itu ke dalam dekapannya—memberikan sedikit kekuatan dan kehangatannya dari sana.
"Sudah..." dia mengusap pelan kepala gadis itu yang bersandar di dada bidangnya. Dia dapat merasakan tubuh gadis itu menggigil.
Dan dia tahu bukan karena dinginnya udara.
"Menangislah. Berhentilah membendung segalanya sendirian," kata Len lembut.
"Aku. Ada aku di sini..." bisik Len lembut. Miku mengangkat kepalanya sedikit untuk memandang iris teduh Len.
Lalu detik berikutnya, tangisnya pecah dalam pelukan laki-laki itu.
Dia sudah agak tenang.
Namun matanya bengkak karena menangis terlalu lama tadi. Kini dia duduk di Taman Kota yang menjadi tempat kesukaannya selama musim semi berlangsung. Wangi bunga-bungaan selalu membuatnya merasa nyaman…
Sebelum wangi kopi yang kental membuatnya mendongak dan mendapati secangkir kopi panas dalam gelas plastik yang disodorkan padanya. Dari tangan seorang Len Kagamine.
"Nih," dia menggoyangkan gelas itu. "Untukmu."
Agak ragu, gadis itu akhirnya menerima gelas plastik tersebut dan merasakan panasnya menjalari tubuh. Dia mendesah pelan sebelum dia melirik laki-laki itu lewat ekor matanya. Laki-laki itu tampak tenang dengan minumannya sendiri. Tapi diam-diam dia memerhatikan postur mukanya. Mulai dari alis yang tidak terlalu tebal yang meneduhi iris mata aquamarine-nya, hidungnya yang mancung, bibir tipisnya yang terlihat lembut dan hangat dalam balutan merah muda, dagunya yang persegi kokoh…
Merasa diperhatikan, Len ikut menatap Miku.
"Apa?"
Gadis itu tersentak lalu memalingkan wajahnya yang agak memerah ke arah yang berlawanan. Kenapa sih dia? Memerhatikan Len?
Dia pasti sudah gila.
Len menghela nafas. "Jadi," dia menepuk pundak gadis itu agar menoleh kepadanya. "Apa yang kau lakukan di sana?"
Diam.
"Miku?"
Gadis itu menghela nafas. "Tidak ada," ucapnya serak. Dia berdeham untuk membuat suaranya lebih jelas. "Aku hanya ingin ke sana…," katanya dengan nada menggantung. Laki-laki itu menatapnya iba. Gadis ini begitu rapuh…
"Apa perasaanmu sudah lebih baik?" tanya Len.
"Ya," gadis itu mengangguk. "Jauh. Jauh lebih baik,"
Len tersenyum. "Syukurlah." Kemudian dia bangkit dan mengulurkan tangannya. Sebuah senyuman lebar membuat Miku tertegun. Senyuman laksana matahari itu…
"Ayo kita segarkan pikiran," ajaknya. "Mau main ayunan?" dia menunjuk sebuah ayunan lalu meraih tangan Miku.
Deg!
Miku merasa jantungnya berdetak kencang saat dia merasakan hangat kulit Len menyentuh indera perabaannya. Kenapa dia baru sadar bahwa pemuda ini begitu…
Menenangkan.
To Be Continue
SELESAI 8'D lembar kedua ini sebenernya agak butuh perjuangan mengingat saya yang susah dapet feel terhadap suatu tokoh tuh. Tapi nggak saya sangka bakal begini akhirnya 8'D ABAL TENAAN. #woi
Btw, untuk kamu yang masih sibuk ngejuri di ajang pro-effect, aku kangen kamu! Kamu bahkan nggak ada di hari ini, di tanggal spesial ini TwT #plak. Tapi gapapa... Selamat tanggal 12 untuk yang kesekian kalinya, ya :** kita langgeng terus kok~ didoain sama readers juga, kok. Ya 'kan? #jder #plak. Tapi sebagai gantinya, kamu harus traktir aku BR yang rasa cotton candy. Gamau tau yang medium pokoknya! #plak
Sudah, abaikan saja yang di atas 8'D
So, mind to review? :"3
V
V
