Okedeh, halo semua :) selamat bermalam minggu bagi yang merayakan(?) ya #plak. Saya juga baru pulang malmingan nih. Sama robot gedek. #dicakarmassa.

Maaf karena updatenya agak 'siang' ya -' saya sedang mempersiapkan pementasan drama buat hari Selasa dan itu menguras tenaga serta pikiran banget :') doakan semoga pentas saya lancar, ya~

Okeh, nggak usah banyak bacot.

Enjoy, minna.:)


The Book of Love Story 2

a VOCALOID FANFIC

By : EcrivainHachan24

Desclaimer : Yamaha©Crypton Future Media

Sequel of "The Book of Love Story"

Len x Miku


WARNING!

Dramatically Romance, abal, disarankan membaca The Book of Love Story yang pertama dulu, etc

DON'T LIKE, DON'T READ!

3 of 6

.

.

.

.

.

Len Kagamine sedang fokus dengan laptopnya sebelum tiba-tiba gebrakan pintu ruangannya terdengar. Sontak dia mendongakan kepalanya dengan ekspresi mengerut tanda kesal. Apa-apaan ini? Memangnya tidak bisa si empunya tangan membuka pintunya dengan biasa saja?

"Apa-apaan sih!" seru Len dengan ekspresi dan nada gusarnya. "Kau 'kan bisa melakukannya pelan-pelan!"

Cengiran lebar menghiasi wajah cantik Meiko Sakine yang kini terkekeh. "Maaf, deh. Jangan marah-marah, dong."

Len menghela nafas untuk menyembuhkan sakit jantungnya tadi.

"Aku lagi konsen, tahu," gerutunya tak senang. "Ada apa?" tanyanya dengan nada terkendali. Meiko mengangkat kedua alisnya yang teduh dengan sebuah senyuman di wajahnya. Memang tidak salah sih, jika dirinya dinobatkan sebagai polisi wanita paling cantik di Tokyo. Walaupun, sepertinya wanita itu menyukai Kaito. Dulu.

"Letnan Gumone ingin bertemu denganmu," jelas Meiko. Gerakan Len terhenti di udara lalu mengerjap.

"Hah? Jangan bercanda!"

"Sungguh," Meiko mengangguk-angguk. Dia menunjuk ke ruang di seberang ruangan Len.

"Dia ingin bertemu denganmu di ruangan Piko," Meiko mengangkat bahunya saat Len menampakkan ekspresi semakin bingung saja. "Cari suasana baru, mungkin?

"Yang benar saja," Len terkekeh lalu berjalan keluar melewati Meiko yang kini juga kembali menuju ruangannya sendiri.

Walaupun ruangan Piko hanya ada lima belas langkah dari ruangannya sendiri, Len mulai bertanya-tanya. Aneh. Sungguh aneh. Sudah lima tahun berlalu sejak kematian Kaito, tetapi dirinya tidak pernah dipanggil oleh sang Letnan sekalipun.

Atau ini semua... karena...

Perasaan mual mulai menjalari perutnya. Dia berhenti tepat di depan pintu ruangan Piko.

Dia meneguk ludahnya sendiri lalu memutar kenop pintu dan udara dingin AC segera menerpanya. Dia memerhatikan ruangan dengan ukura meter itu dengan seksama sebelum menemukan dua orang yang sedang mencarinya—Piko Utatane, si penyelidik dan investigator polisi dan di sebelahnya adalah Letnan Gumone Kojiro yang menatapnya dengan ekspresi serius.

Dia dalam masalah.

"Selamat siang, Kagamine-san," panggil Gumone dengan nada datar—yang entah mengapa membuatnya gugup setengah mati.

"Silakan duduk, Len." Piko menunjuk sebuah kursi di depannya.

Agak ragu, Len berjalan perlahan dan menduduki bangku itu. Dia merasakan hawa dingin dari kedua orang di hadapannya.

"Ada apa... memanggilku?" tanya Len setelah mengumpulkan keberaniannya.

"Tidak udah gugup begitu," Gumone tersenyum singkat. "Hanya obrolan biasa. Mengenai Kaito."

Deg.

"Ah, Letnan—"

"Apakah kau bersama dengan Kaito hari itu?" potong Piko tiba-tiba. Len mendapati iris Piko menatap lurus padanya—seolah menuntut.

"Apa? Kapan?"

"Pada hari saat Kaito memutuskan untuk mendonorkan jantungnya. Kau ada bersama dengannya waktu itu, bukan?"


Gadis berambut hijau tosca itu duduk di atas meja belajarnya sendiri sambil memandang langit Tokyo yang indah. Dia menyesap teh panasnya. Sudah lama sekali dia akhirnya sanggup meminum sesuatu dengan khidmat dan nikmat. Sudah berapa lama sejak masa-masa itu berlalu. Iya 'kan?

Perasaannya sudah jauh lebih baik.

Saat dia mengenang semuanya secara habis-habisan kemarin. Ternyata rasa gundah dan berpura-pura kuatlah yang menyebabkannya rapuh. Saat itulah dia menemukan titik baru—kesadaran baru bahwa seharusnya dia merelakan—jauh terbang namun tetap di hati saat mengenang semua masa lalunya bersama Kaito. Kini dia sudah merasa lebih ikhlas menerima kenyataannya.

Dia memegangi dadanya sendiri. Merasakan denyut jantungnya.

Jantung Kaito yang berdegup dalam dirinya—menghidupinya.

Kaito hidup. Dalam dirinya.

Seulas senyuman lembut terukir di wajah cantiknya—ah, sudah berapa lama senyum itu tidak terlihat?

Semua ini berkat Len Kagamine.

Laki-laki itu menghiburnya seharian kemarin. Sepulang dari rumah Kaito, mereka membicarakannya di taman kota yang dekat dari sana. Awalnya, laki-laki itu membiarkan Miku menangis sepuasnya sebelum dia mengucapkan kata-kata yang menenangkannya sambil duduk di ayunan dekat sana—membuatnya membuka kesadaran baru dan merasakan perasaan nyaman yang familier.

Perasaan nyaman yang menjalari tubuhnya dulu ketika bersama Kaito.

Kini dia merasakannya ketika bersama Len.

Mendadak sebuah perasaan ingin bertemu laki-laki itu timbul.

Eh, tunggu.

Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia mikir apa, sih? Ingin bertemu dengan Len Kagamine? Itu hal paling gila dan… tidak bisa dijelaskan oleh kata-kata! Omong kosong!

Tetapi dia tidak dapat membohongi perasaan rindunya—dia ingin bertemu laki-laki itu!

Dia menghela nafas panjang saat rasa ingin bertemu memenangkan perasaan hatinya. Sebelum akhirnya bangkit dari tempat tidurnya dan bersiap.

Dia akan ke kantor polisi hari ini.

Seulas senyuman terukir lagi.

Untuk bertemu dengan Len Kagamine.


Hening.

Itulah yang terasa di ruangan Piko Utatane.

Udara AC memang dingin, namun entah kenapa Len merasa ruangan ini begitu panas. Apa yang menjadi ketakutannya menjadi kenyataan.

"Jadi, benar... kau bersama Kaito waktu itu?" Piko mengulang pertanyaannya. Len terdiam. Dia menundukkan wajahnya dalam-dalam. Perasaan bersalah dan gelisah memabayangi dirinya.

Seharusnya dia tidak menyembunyikan ini sejak awal.

"Tapi... waktu itu aku berusaha mencegahnya!" bela Len.

"Peraturan adalah peraturan," Gumone menatap anak buahnya itu lekat-lekat sampai Len merasa tatapan itu akan menelannya sekarang juga. "Kau tahu itu tindakan ilegal."

Dia tahu.

Len tidak menjawabnya. Malah semakin menundukkan kepalanya.

"Membiarkan orang yang sehat walafiat tanpa penyakit apapun atau kecelakaan mendonorkan jantungnya—hidupnya—pada orang lain, itu tindakan ilegal, Kagamine." Suara itu terdengar berat dan besar. "Kau sama saja membiarkan Kaito Shion bunuh diri!"

Len bergeming.

"Kau membiarkannya bunuh diri. Padahal kau tahu itu tindakan yang melanggar hukum," suara Gumone semakin tinggi saja. "Sebagai polisi, seharusnya kau malu!"

Cukup.

"Maafkan saya," kata Len pelan. Dia mengangkat wajahnya. "Tetapi saya memang mencegahnya melakukan hal tersebut waktu itu. Namun Kaito sepertinya tidak mau mendengarkan saya. Dia bersikukuh untuk mendonorkan jantungnya. Dia memaksa saya waktu itu," kenang Len dengan nada menggantung.

"Dia mengancam akan mencelakai dirinya sendiri jika tidak mendapat surat legal dari kepolisian. Karena saya dihadapkan pada pilihan itu, maka—"

"Kau memberikan surat legal dari kepolisian?" tebak Piko. Len terdiam lalu perlahan mengangguk.

"Ya. Tetapi waktu itu—"

"Dan, tanpa seizinku sebagai atasanmu terlebih dulu?" nada sarkastik Gumone membuat Len terdiam semakin dalam.

Mengartikan diam Len sebagai jawaban pembenaran, suara gebrakan meja terdengar membuat Len dan Piko sama terlonjaknya. Mereka menatap ngeri atasan mereka yang teredam amarah itu.

BRAK!

"Ini keterlaluan!" jari telunjuknya menunjuk wajah Len. "Kau keterlaluan! Kau mencuri surat legal kepolisian dan memberikannya pada pihak rumah sakit. Kau bisa dikenai pasal, tahu? Kau benar-benar tolol! Lihat ini," dengan kasar, Gumone meraih secarik kertas dari laci meja Piko—si empunya meja hanya diam saat lacinya diacak-acak orang lain. Dia ingin marah, tetapi ini Gumone Kojiro. Dia tidak bisa sembarangan menggertak atau marah.

"Lihat," dia menunjuk kertas bertuliskan surat legal kepolisian yang sudah di cap dan ditandatangani pihak rumah sakit pada Len dengan wajah garang. "Kau melakukan semua ini, Kagamine?" tanyanya dengan nada keras khasnya yang sedang marah.

Len menatap surat legalitas itu dalam diam.

"Kau benar-benar memalukan!" seru Gumone dengan nada menggelegar membuat bulu kuduk Len dan Piko berdiri saking takutnya.

"Ha, diam-diam kau jago menjadi agen rahasia juga, eh, Kagamine?" suaranya terdengar makin sarkastik dan menyindir. "Tolol! Benar-benar keterlaluan!"

Terjadi keheningan panjang sebelum akhirnya Len kembali angkat bicara.

"Saya menyesal," lirihnya pelan. "Saya juga tidak mau hal ini terjadi pada teman saya sendiri, Kaito. Tetapi dia yang memutuskan jalan hidupnya sendiri, Letnan," suaranya berubah lembut.

"Tindakannya memang bodoh, itu memang benar. Tetapi siapa yang tidak bodoh karena cinta?"

Dia berdeham. "Dia membawa mati cintanya pada gadis bernama Miku Hatsune itu, Letnan, Piko," ujar Len sambil menatap kedua orang itu secara bergantian.

"Karena itulah dia melakukannya. Saya juga bodoh karena diam saja—walau saya sempat mencegahnya berkali-kali—pada akhirnya saya menyerah pada dirinya yang kepala batu. Saya sadar betapa besar rasa cintanya pada gadis itu," senyumnya melembut. "Karena saya sahabatnya, saya mengerti apa yang Kaito korbankan. Apa yang Kaito pikirkan…" dia memejamkan matanya. "dan apa yang dirasakannya."

Piko menunjukkan wajah simpatik dan mengerti, sementara Letnan Gumone tetap memandangnya dengan ekspresi keras.

"Omong kosong!" hardiknya. "Harap kau bedakan mana kehidupan pribadi, mana profesionalisme, Kagamine. Jika kau melakukan semuanya atas dasar hatimu dan bukannya otakmu—semuanya akan jadi sia-sia! Hal brengsek yang terjadi! Coba lihat apa yang kau lakukan! Kau melakukan tindakan ilegal!" matanya menyipit.

"Kau mencuri, menandatangani, dan bahkan membiarkan sahabatmu mati!—bunuh diri!" hardiknya semakin kasar. "Ini yang kau sebut pengorbanan, Kagamine?"

Di luar dugaan, Len menunjukkan ekspresi teguh. "Ya."

"Karena saya mengerti cinta—dan Kaito juga mengerti. Tidak ada yang salah dengan pengorbanan dan tidak ada hal brengsek terjadi seperti yang anda katakan tadi, Letnan," Len meneguk ludahnya sendiri lalu menatap atasannya itu dengan tegar. "Semuanya keputusan Kaito. Kita bisa apa?"

"Kita bisa apa?" Letnan Gumone mengulang perkataan Len dengan nada tinggi. "Kita bisa apa? Apapun! Sudahlah! Aku tidak peduli! Karena hukum, tetaplah hukum!" katanya kejam.

Len mengernyit. Emosi mulai mengendalikannya. "Tetapi Letnan—"

"Cukup!" bentak Gumone. "Akui saja! Kau membiarkan Kaito Shion meninggal!" tandasnya tak berperasaan.

Len menatap atasannya dengan tidak percaya. Dia kembali membuka mulutnya sebelum suara sesuatu yang jatuh terdengar dari luar ruangan Piko.

"Siapa itu...," gumam Piko. Dia berdiri dan membuka pintu ruangannya.

Dan mendapati sesosok gadis dengan rambut hijau tosca terduduk di lantai dengan wajah pucat pasi dan kaget.

"Miku?"


Awalnya gadis berambut hijau tosca itu sedang berjalan di sepanjang koridor kantor kepolisian yang kini sudah luas dan bagus—berbeda dengan dulu—dan mencari ruangan Len. Seingatnya ruangan laki-laki itu berada tepat di sebelah ruangan Kaito-nya. Namun mengapa laki-laki itu tidak ada, ya?

"Miku?" seseorang memanggilnya dengan nada ragu-ragu. Gadis itu menoleh lalu mendapati sosok laki-laki berambut blonde acak-acakan menatapnya dengan kerjapan mata.

"Beneran Miku ya?" tanyanya memastikan. Miku tertawa kecil lalu mengangguk.

"Apa kabar... Koejima-san?" tanya Miku dengan nada ringan. Leon mengerjap lalu menganga. Ngapain gadis itu di sini?! Sudah lama sekali sejak—

"Ba—baik," jawab Leon masih dengan cengo-nya. Miku yang ini terlihat lebih baik dan bersinar. Walau masih ada kabut sendu di matanya.

"Ya ampun, sudah berapa lama aku tidak melihatmu?" tanya Leon lebih kepada dirinya sendiri. Miku tersenyum kecil.

"Berlebihan," cengir Miku. "Aku kesini mencari Len... apa kau tahu dia di mana?" tanya Miku.

"Dia ada di ruangan Piko," suara seksi milik Meiko terdengar dari punggung Miku. Gadis itu berbalik dan mendapati polisi wanita paling cantik itu sedang tersenyum padanya. "Kau mencari Len, 'kan? Dia ada di ruangan Piko. Kalau mau, kesana saja," anjurnya. Miku mengerjap.

"Oh! Terima kasih… um…"

"Meiko Sakine," Meiko memperkenalkan dirinya sendiri sambil mengulurkan tangannya. Dan langsung dijabat oleh Miku.

"Ah... umm, a-aku—"

"Miku Hatsune," potong Meiko. Miku menatapnya dengan kaget. "Kenapa kau tahu namaku?"

"Oh jelas," Meiko nyengir sambil melepaskan jabatannya dengan Miku perlahan. "Kau kan yang merebut hati Kaito tampan-ku itu. Fufufu," dia nyengir lebar—yang disambut senyuman dari Miku. Wanita ini menyenangkan.

"Hey, jangan lupakan kehadiran orang ganteng juga di sini, dong," gerutu Leon saat keberadaannya diabaikan. Meiko menatapnya galak sementara Miku menatapnya geli.

"Bodoh, kau ganteng dari mananya? Ganjalan genteng kali," ketus Meiko. Leon melotot.

"Enak saja! Ganjalan genteng itu tampangnya Nero!"

"Hey, berkaca dulu!"

"Sudah. Dan aku ganteng!"

"Hoo, yang benar saja!"

"Benar, dong! Jika ada cermin ajaib, dia pasti akan menjawab akulah orang tertampan di dunia!"

"Menggelikan. Kau masih suka dongeng anak TK?"

"Oh jelas," Leon nyengir. "Setidaknya hal itu menunjukkan bahwa masa kecilku bahagia!"

"Aku bertaruh tidak aka nada gadis yang jatuh cinta padamu!" tanda Meiko pedas.

"Nanti juga kau akan jatuh cinta padaku kok!" cengir Leon. Meiko mengenyit dengan wajah 'what-the-hell'-nya lalu menatap Miku yang menatap mereka geli.

"Ruangan Piko adai di seberang ruangan Len," jelas Meiko sambil menunjuk pintu ruangan Piko. Miku mengerjap lalu membungkukkan badannya.

"Terima kasih." Dan dibalas dengan senyuman Meiko. Gadis tosca itu berjalan menuju ruangan Piko sebelum dia mendengar bentakan dari dalam sana.

Dia menempelkan sebelah telinganya pada badan pintu.

"—Karena saya mengerti cinta—dan Kaito juga mengerti." suara Len terdengar pelan namun tetap terdengar olehnya.

Tapi tunggu, kenapa ada nama Kaito?

Semakin penasaran, Miku mengernyitkan dahinya lalu semakin menekan pendengarannya.

"Tidak ada yang salah dengan pengorbanan dan tidak ada hal brengsek terjadi seperti yang anda katakan tadi, Letnan," suara Len terdengar datar namun ada kelembutan di sana. "Semuanya keputusan Kaito. Kita bisa apa?"

"Kita bisa apa?" terdengar suara keras mengulang perkataan Len. ""Kita bisa apa? Apapun! Sudahlah! Aku tidak peduli! Karena hukum, tetaplah hukum!" suara itu terdengar dingin di telinga Miku sendiri.

"Tetapi Letnan—"

"Cukup!" bentak suara keras itu. "Akui saja! Kau membiarkan Kaito Shion meninggal!" tandas suara keras itu membuat Miku membulatkan matanya dengan ekspresi kaget.

"Akui saja! Kau membiarkan Kaito Shion meninggal!"

Apa...?

Miku tidak mendengar apa-apa lagi setelahnya. Pupil matanya membesar dan mengecil seiring nafasnya yang memburu. Dadanya terasa berat bukan main.

Len... membiarkan Kaito meninggal...?

Apa... maksudnya?

Tak kuasa menahan segala rasa, gadis itu membiarkan dirinya limbung—jatuh di depan pintu ruangan itu.

Tidak.

Tidak. Apa maksud dari semua ini?

Dia mendengar seseorang membuka pintu di hadapannya, namun tidak dipedulikannya.

"Miku?" Piko Utatane menatapnya tak percaya, sementara Len yang mendengar nama itu langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri gadis itu dengan wajah penuh penyesalan.

"Miku..." panggil Len. Gadis itu mendongakan wajahnya—menatap Len—membuat hati laki-laki mencelos.

Mata itu, mata penuh kekecewaan, kesedihan dan kemarahan.

"Aku... bisa jelaskan..." Len berusaha meraih gadis itu namun tangannya langsung ditepis.

"Jangan... sentuh aku," desis Miku. Air matanya bergulir. Len mengerjap, menggigit bibirnya sendiri lalu terperangah saat gadis itu menundukkan wajahnya saat Len memegang kedua bahunya dengan paksa.

"Dengarkan aku, Miku. Aku sama sekali tidak bermaksud seperti apa yang kau dengar tadi. Aku benar-benar tidak bermaksud demikian. Kaito yang—"

"... ci," desis Miku. Len mengerjap. "Apa?"

"Benci..." suara itu bergetar. Dia mengangkat wajahnya—menunding Len.

"Benci... AKU BENCI PADAMU!" serunya tak terkendali. Sorot wajahnya benar-benar marah.

"Miku, aku—"

"JANGAN panggil aku!" gadis itu terlihat luar biasa emosinya. "Benci...," suaranya bergetar.

"Aku benci padamu, Len Kagamine!"

To Be Continue

Oke, buat yang ngerasa alurnya kecepetan, maafkan saya. Tapi di sini, saya ingin menceritakan bahwa fic ini realistis. Masa iya Miku nggak move on selama lima taun kan ya? Jadi saya membuat dia sedikit bisa membuka hati secara sewajarnya :) semoga tujuan saya ini berhasil 'kena'-nya deh :3 wkwkwwkk.

Sip, mind to review?

V

V