HALOOOOO MINNA 8'D Hahahahaha~ saya mau pamer dulu, ah. Saya libur dari Kamis sampe Minggu loh~ keren kaan X'D #peluksekolah #gakbiasanyadiagini #dijedukin.

Akhirnya, saya bisa apdet tepat waktu lagi. Yeee X'D #tepoktangan #heh.

Anyway, dramanya sukses berat! X'D makasih yaa doanya :'D #siapajugayangdoainlo #dikemplang. Dan oh ya, saya emang nambahin satu chapter sih :'D maap kemaren lupa memberitahu~ huehehe X'D #jder

Gausah cincong lagi. Let's kemon~

Enjoy, minna :)


The Book of Love Story 2

a VOCALOID FANFIC

By : EcrivainHachan24

Desclaimer : Yamaha©Crypton Future Media

Sequel of "The Book of Love Story"

Len x Miku


WARNING!

Dramatically Romance, abal, disarankan membaca The Book of Love Story yang pertama dulu, etc

DON'T LIKE, DON'T READ!

4 of 6

.

.

.

.

.

"Aku benci padamu, Len Kagamine!"

Dia mengerang frustrasi sembari mengacak surai blonde-nya dan menjambaknya keras-keras. Rasa depresi dan gelisah membuatnya tidak merasa nyaman sama sekali seharian ini. Hari-harinya terasa buruk sejak akhirnya dia menerima hukuman penurunan jabatan kembali menjadi anggota biasa dan mendapat hukuman dari kantor denga skors sebanyak dua minggu lamanya. Pemotongan gaji, semuanya benar-benar tidak bisa lebih buruk lagi saat dia dibenci oleh gadis itu.

Oleh Miku Hatsune.

Gadis itu tidak mau melihatnya lagi. Bahkan mematikan ponsel jika Len berusaha menghubunginya. Dia ingin menjelaskan semuanya kepada gadis itu. Sungguh!

Dia menghela nafas lalu menatap jendela kamarnya dengan datar. Sinar matahari masuk, tetapi dia tidak merasakan kehangatan apapun.

Tidak biasanya dia jam segini masih di rumah.

Biasanya dia akan pergi ke makam Kaito bersama Miku dan setelahnya mereka akan makan atau hanya berjalan-jalan biasa.

Semuanya membaik dalam waktu dua bulan itu.

Namun kenapa semuanya jadi begini lagi, sih?!

"Sial," makinya pelan. Dia bangkit lalu berjalan menuju lantai bawah. Dia mendapati sup telur dengan nasi panas dan teh hijau panas berada di meja makan dengan sebuah tudung saji yang menutupinya. Rin pasti sudah berangkat kerja dari tadi—mengingat pekerjaannya sebagai jurnalis sebuah majalah ternama di Tokyo.

Terdapat sebuah memo di kulkas saat dia hendak meraih satu pisang dari sana.

Aku berangkat dulu ya, Len ;p

p.s : Tetap semangat ya ;)

Rin—

"Heh," Len tersenyum kecil lalu meraih pisang yang dia inginkan dan memakannya. Dia menghela nafas lalu duduk di kursi sembari merenungkan apa yang sebenarnya terjadi setelah kejadian tiga hari lalu—saat semuanya terungkap.

Seharusnya dia belajar sesuatu—dia seharusnya tidak menyembunyikan fakta bahwa dia bersama Kaito waktu itu. Seharusnya dia tidak membiarkan Kaito melakukannya, dan seharusnya dia—ah, terlalu banyak kata 'seharusnya' dan semuanya tak bisa terulang. Ini kesalahan yang tolol. Benar-benar tolol. Dia tidak mengerti apa yang dipikirkannya saat itu sampai dia harus mengorbankan hati nuraninya sebagai seorang polisi... yang juga merangkap sahabat.

Siapa sih yang bisa mencegah Kaito ketika dia sedang serius?

"Bodoh," makinya lagi. Dia memakan pisang itu sampai habis dan meneguk teh hijaunya.

Lalu apa yang terjadi?

Dia tahu tindakannya ilegal—dan bisa saja dia dikenai pasal jika berita ini tersebar luas. Untungnya Letkol Rei Kagene tidak terlalu setuju dengan ide pembeberan berita tersebut. Karena selain akan menarik media massa, masyarakat juga akan kehilangan kepercayaan pada kepolisian Tokyo—yang nyaris tidak punya reputasi buruk di pemerintahan maupun masyarakat. Sedikit curang, memang. Namun mau bagaimana lagi? Len Kagamine merupakan salah satu polisi terbaik di Tokyo—dan berhasil menjabat posisi Jendral sebelum semuanya berakhir.

Karena kesalahannya sendiri.

Sejujurnya, tidak masalah bagi Len kembali menjadi anggota biasa—toh, dia memang tidak tertarik dengan semua kemewahan 'lebay' yang bakal diberikan padanya nanti—hanya saja dia merasa akan menjadi sangat masalah karena semua gajinya dipotong sampai akhir tahun nanti. Dan itu artinya, kehidupan akan lebih menyulitkan. Dan dia tidak mau membebankan seluruh masalah ekonomi dan keuangannya kepada saudari kembarnya—Rin. Sebisa mungkin, dia tidak mau merepotkannya.

Mari kita ulang. Kesalahan tolol yang benar-benar idiot.

Laki-laki itu menghela nafas frustrasi dan mulai menyantap sarapannya—berharap dengan begitu, perasaannya akan lebih baik.


Gadis dengan surai hijau tosca itu menghela nafas dalam-dalam. Dia mengembuskan nafasnya perlahan dan memejamkan matanya. Dia berada di taman kota dan semuanya terasa hampa. Biasanya, jam segini dia akan bersama-sama dengan...

Kenapa dia harus mengingat-ingat Len Kagamine... lagi?!

"Huh," dia mendengus gusar. Seharusnya dia melupakan laki-laki itu.

Dirinya terdiam sebelum kembali dalam kubangan cenungan. Dia jelas ingat bagaimana dia terbangun, mendapati seluruh keluarganya yang menatapnya dengan harap-harap cemas dan bagaimana reaksinya begitu mengetahui bahwa Kaito telah tiada—demi dirinya. Dan dia tidak tahu bahwa ada Len di sana—yang mendampinginya dan sama sekali tidak mencegahnya. Ini terlalu buruk baginya. Baru saja dia memutuskan akan memercayai laki-laki itu, namun semuanya hancur berantakan dalam sekali sentakan saja. Dia benar-benar tidak menyangkanya.

Dia pikir, dia dapat memercayai Len Kagamine—saat dirinya mulai merasakan debaran aneh dalam detak jantungnya.

Saat dia merasakan kehadiran Len menjadi kesehariannya.

Tidak.

Semua ini terlalu mendadak, dan dia tidak siap.

Suara ponselnya terdengar, namun tidak dipedulikannya.

Dia mengangkat kedua tangannya—menadahkan tangan lalu menutupi wajahnya sendiri di antara kedua telapak tangannya. Tubuhnya bergetar—dan bukan karena hawa dingin.

Dia lelah. Sungguh.

Hatinya, pikirannya, perasaannya…

Bahunya bergetar sedikit.

Untuk pertama kalinya sejak kematian Kaito, dia menangisi orang lain.


Tidak diangkat.

Len Kagamine berdecak sembari menatap layar ponselnya. Dia sedang berusaha menghubungi gadis itu—Miku Hatsune—dan akan menjelaskan segalanya. Dia tidak mau semuanya berakhir sia-sia.

Pik.

Dia menghela nafas panjang. Tidak diangkat.

Memejamkan matanya, dia berbaring di atas tempat tidur dan mulai berfikir apa yang terjadi. Oke, pertama dia memang salah menyembunyikan fakta bahwa dirinya memperbolehkan Kaito mengikuti donor tersebut dan bahkan melakukan tindak ilegal dengan cara mencuri surat legal dari kantor atasannya. Dia sendiri tidak pernah menyangka dirinya akan sebegitunya demi sahabatnya yang bersikeras itu.

Kedua, dia dituduh 'membunuh' Kaito secara tidak langsung karena telah membiarkannya bunuh diri. Astaga. Dia mengernyit kesal. Ini konyol! Benar-benar konyol. Mana mungkin dia membiarkan sahabatnya bunuh diri?! Dia berusaha. Berusaha meyakinkan Kaito bahwa apa yang dilakukan si surai biru itu benar-benar IDIOT kelas berat. Namun sepertinya Kaito lebih menyukai ide idiot tersebut dibandingkan melihat Miku menderita.

Pasti dia luar biasa cintanya.

Ketiga, dia benar-benar tidak menyangka bakal ada Miku di sana dan menguping pembicaraannya dengan Piko dan Letnan Gumone. Ini semua terlalu mendadak! Gadis itu hanya mendengar... bahkan kurang dari setengahnya percakapan tersebut! Ini gila, ini benar-benar membuatnya gila! Gadis itu salah sangka sekarang.

"Aaaargh!" dia menjambak rambutnya sendiri. Frustrasi.

Tidak.

Bagaimanapun caranya, dia harus bertemu gadis itu, menjelaskan segalanya dan semua akan jauh lebih baik.

Dia kembali meraih ponselnya dan menghubungi Miku.

Satu nada sambung...

Dua nada sambung...

Tig—

Pik.

Ditutup. Tidak dijawab oleh Miku,

"Sial!" seru Len benar-benar kesal. Dia menghela nafas untuk menelan rasa kesalnya lalu memejamkan matanya. Ayo berfikir, Len. Ayooo! Ke mana Miku biasanya akan pergi?

Pemakaman?

Kemungkinan besar iya. Namun gadis itu bahkan tidak tahu arah jalan pulang jika benar dia pergi ke sana. Dia selalu bersama Len dengan mobilnya, dan kaca mobil Len itu ber-frame hitam sehingga Miku pasti tidak dapat melihat jelas pandangan perjalanan.

Rumah Kaito?

Dia mengernyit. Tidak. Dia sudah menyuruh agen rumah Kaito tersebut agar mengunci pintu rumah kenangan itu. Demi kebaikan Miku agar tidak mengingat-ingatnya kembali. Dan gadis itu tidak mungkin berada di sana.

Taman Kota.

Ya. Len mengerjap. Taman Kota. Kenapa tidak terpikir olehnya? Ini masih musim semi, dan tempat mana yang paling disukainya selain Taman Kota? Dia meraih jaket hijau kesayangannya lalu mengenakannya. Pasti dia di sana!

Oh, Tuhan. Semoga Miku di sana.


Gadis itu menghela nafas panjang. Setelah sepuluh kali ponselnya bergetar, akhirnya si Penelepon itu berhenti juga. Baguslah. Dia bisa merenung di sini seharian...

"Miku!" panggilan itu membuatnya mendongak. Ekspresi sendunya berubah mengeras. Segera dia meraih tasnya dan berdiri—bersiap meninggalkan sosok dengan surai blonde di belakangnya yang sedang mengejarnya.

Tertangkap.

"Dengarkan aku!"

"Tidak! Lepaskan!" Miku berusaha melepaskan cengkeraman tangan Len di pergelangan tangannya. Laki-laki itu menggelengkan kepalanya.

"Tidak mau, sebelum kau mendengarkan penjelasanku terlebih dulu!"

Iris samudra pasifik itu membesar—melotot tidak senang. "Tidak ada yang perlu dijelaskan. Sekarang lepaskan aku! Atau aku akan berteriak!" ancamnya.

"Silakan!" Len Kagamine menatapnya dengan menantang. "Silakan!"

Miku memandangnya tak percaya. "Kau bisa digebuki polisi di sini, tahu!"

Len terkekeh sebentar. "Aku juga polisi. Ingat?"

Gadis itu diam. Namun sedetik kemudian dia kembali memberontak dari cengkeraman Len.

"Lepaskan! Aku tidak mau mendengar penjelasan apa-apa lagi! Kau ternyata membunuh Onii-san!"

Apa?

"Apa?!" seru Len kaget. Membunuh?!

"Kau salah! Makanya dengarkan aku dulu!" desaknya. Gadis itu menyerah karena tenaganya tidak ada apa-apanya dibanding Len.

"Apa?" dengan mata kering, Miku menatapnya. Ekspresinya berubah sendu kembali—namun tetap ada guratan marah di sana. "Kau belum puas membuatku menderita...?" matanya menyipit. "Kau belum puas membuatku merasa seperti ini…?"

Suara lirih itu membuat Len melonggarkan cengkeramannya.

"Apa... maksudmu?" tanya Len perlahan.

"Ya!" merasa di atas angin, Miku kembali menundingnya. "Membiarkan Kaito Onii-san bunuh diri demi diriku, menahanku untuk bertemu atau setidaknya memandang wajahnya untuk yang terakhir kalinya dengan membiusku dengan obat sialan itu, membuatku kehilangan dia... ahaha," lalu gulir air mata itu terjatuh.

"Kau pikir tindakanmu itu lucu, hah?" dia menelan air matanya.

"—lalu kau membuatku merasa nyaman saat bersamamu, membuat detak jantungku tidak karuan dan kemudian menjatuhkanku dengan semua yang kusebutkan tadi! Kau kira semua itu mudah untukku? Pernahkah kau bertanya tentang apa yang kurasakan? Tidak 'kan!" isakannya terdengar. Seruannya semakin menyakitkan seiring kalimatnya terucap.

"Apa kau pernah merasakannya? Tidak diberi kesempatan yang terakhir kalinya untuk bertemu orang yang kau sayangi? Tidak. Karena kau punya segalanya! Segalanya, Tuan Kagamine," suaranya berubah sinis. Bahunya bergetar hebat.

"Aku kehilangan Onii-san! Kau kira tidak menyakitkan? Aku memutuskan untuk tidak percaya pada cinta dan menutup hati… Lalu... lalu..." dia memejamkan matanya dan setitik air matanya kembali jatuh. "Lalu kau ada di sana untukku... menemaniku, membuatku merasa bersandar... membuatku... entahlah, membuatku merasakan sesuatu yang dulu pernah kurasakan saat bersama Kaito Onii-san... dan kau merusaknya!" Miku memandangi Len yang bergeming. "Kau tidak perlu membuatku jatuh cinta jika pada akhirnya kau menjatuhkanku! Kau tidak perlu—"

Perkataannya terhenti karena didapatnya sebuah pelukan hangat menyelubungi dirinya yang mungil. Awalnya dia tidak merasakan apapun kecuali belaian Len pada rambut panjangnya.

"Aku tidak pernah bermaksud begitu, Miku..." bisiknya. Dapat dirasakan bahunya basah karena beberapa tetesan air mata gadis itu.

"Aku melakukannya karena tulusku padamu," lanjutnya. "Aku memang salah karena membiarkan Kaito melakukannya. Dan bersalah juga karena tidak pernah bertanya apa yang kau rasakan—apa yang seharusnya kulakukan sejak dulu... karena aku tidak tahu harus memulainya dari mana, Miku..."

Gadis itu bergeming.

"Karena aku tahu...," Len melepaskan pelan pelukannya—lalu menyelubungkan kedua telapak tangannya di antara kedua sisi wajah Miku—ditatapnya iris samudra pasifik berair itu. Seulas senyuman terukir di wajah tampannya.

"Jantung Kaito. Yang hidup dalam dirimu adalah salah satu caranya mencintaimu...," bisiknya lembut. Miku mengerjap. Len kemudian menunjuk dada Miku. Tersenyum.

"Jika ini caranya agar bisa terus berada di sampingmu, dia akan melakukannya. Kenapa? Karena ketika dia tidak bisa bersamamu dalam bentuk wujud nyata, setidaknya dia mencintaimu dengan caranya sendiri," kemudian dia teringat percakapannya dengan Kaito beberapa silam tahun lalu. "Ya. Dia mencintaimu dengan caranya sendiri." ujarnya dengan nada menerawang.

Ditatapnya samudra pasifik itu dalam-dalam.

"Ketika jantungnya berdetak dalam dirimu, saat itulah dia sedang mendampingimu... melihatmu tumbuh dan menyaksikan seluruh hidupmu...," iris aquamarine itu kini juga menitikan satu titik air mata.

"Karena dia mencintaimu..."

Detik berikutnya, tangis Miku meledak dan dia membiarkan dirinya menangis di pelukan Len. Membiarkan perasaannya membuncah saat itu.

"Dan percayalah padaku," lirih suara Len masih didengarnya. "Aku tidak pernah berusaha membuatmu jatuh cinta padaku. Karena akulah... akulah yang jatuh cinta padamu," bisik Len.

"Akulah yang ingin melindungimu...," bisiknya lagi lebih lembut.

"Karena, walaupun cintaku mungkin tak bisa menyaingi cintanya Kaito... berilah aku kesempatan..." lalu dia menarik nafas sesaat. Melepaskan pelukannya—kembali menatap Miku.

"Aku mencintaimu..." katanya lembut.

Entah apa yang membuatnya melakukannya—adrenalin yang tengah menguasai dirinya, langit sore yang cerah, suara tawa anak-anak di perosotan ataukah angin semilir yang sejuk menerpa—dia tidak ingat apapun sebelum akhirnya dia mencondongkan wajahnya ke depan, merasakan nafas gadis itu yang memejamkan matanya sebelum dia menyentuhkan bibirnya ke bibir gadis itu.

Sebuah yang ciuman hangat dan lembut.

Dan langit sore yang menjadi saksi bisunya.

To Be Continue

SELESAI 8'D bagaimana, bagaimana? Kalo saya baca ulang sih, pribadi saya bilang ini agak kecepetan tapi agak pas juga #itugimanasik #ditampol. Yah... maaf kalo tidak sememuaskan The Book of Love Story yang pertama. Yang ini cuma sekuel yang berkepanjangan sih :'D #digampar.

Sip deh, setelah aksi penggebukan tadi...

Mind to review? :)

V

V