Halo, minna :) senangnya saya bisa kembali update dengan tepat waktu X'D HOREEEEEE #heh #jeduk.

Saya mau curhat bentar. Hari Senin-Rabu saya libur dong~ #pamersuratedaran #dijambak. Dan... untuk si dia yang sekarang sibuk kembali kuliah, semangat yaa... :) aku bakal kangen kamu banget! T_T cepat pulaang~

Ehem, jadi lembar kelima ini adalah lembar... yang sebenernya bisa disebut ending, tapi terserah para readers untuk mengartikannya :)

Sip, selamat membaca!


The Book of Love Story 2

a VOCALOID FANFIC

By : EcrivainHachan24

Desclaimer : Yamaha©Crypton Future Media

Sequel of "The Book of Love Story"

Len x Miku


WARNING!

Dramatically Romance, abal, disarankan membaca The Book of Love Story yang pertama dulu, etc

DON'T LIKE, DON'T READ!

5of 6

.

.

.

.

.

Sekon demi sekon, detik demi detik, menit demi menit dan jam demi jam. Semuanya berlalu begitu singkat. Sampai bulan demi bulan dilewati seluruh kaum manusia tanpa sadar, semuanya sudah sampai pada sebuah ambang akhir—pasti ada sebuah akhir di setiap cerita, ya kan?

"Miku!" suara nyaring itu membuat si gadis berambut hijau tosca menelengkan kepalanya ke samping dan mendapati Rin Kagamine tengah berlari kecil ke arahnya. Matanya yang besar berbinar-binar. Ah, oke. Pasti gadis mungil itu punya ide gila, atau malah ide yang brilian yang rada-rada gila. Begitulah Rin, sepanjang Miku mengenalnya.

"Ada apa, Rin?" tanya Miku. Dia tengah melihat-lihat buku album undangan yang disodorkan oleh Rin baru-baru ini. Namun gadis dengan marga Kagamine itu kini kembali dengan sebuah album besar lagi di tangannya. Kali ini ekspresi Miku sedikit bosan.

"Astaga," gelengnya. "Jangan katakan aku harus kembali pusing dengan semua ini," dengus Miku. Rin terkekeh.

"Tentu saja kau harus pusing dengan semua ini," protes Rin sambil melotot. "Kan kau akan menikah dengan Lenny!"

Miku tersenyum mendengar panggilan 'sayang' Rin untuk Len. Len tidak pernah menyukai panggilan itu yang menurutnya agak mirip nama wanita. Namun Rin segera menyangkalnya bahwa 'Lenny' adalah panggilan yang sangat cocok untuk Len karena laki-laki itu memiliki tampang 'uke-ish' sejati. Miku baru tahu Rin seorang fujoshi dan Len langsung menelan beberapa strip obat sakit kepala karena pendapat saudari kembarnya itu. Ekstrim. Memang.

"Tapi dia sendiri kelihatannya tidak repot-repot memusingkannya tuh," ujar gadis berambut hijau tosca itu lagi. Rin mengernyit.

"Namanya juga cowok!" decak Rin. "Mereka selalu menyerahkan tugas-tugas merepotkan pada kita 'kan?"

Miku tersenyum. Dia teringat sekilas pada Kaito. "Tidak semua kok."

"Oh… yang benar saja," Rin memutar kedua bola matanya. Lalu dia menyerahkan album yang dibawanya. Matanya kembali berbinar.

"Kau harus melihat-lihat gaun pengantinnya! Benar-benar cantik. Ini rancangan Haku Yowane, lho!" promosi Rin. Miku mengernyit. Haku Yowane adalah perancang busana yang paling beken saat itu. Pasti harga gaunnya gila-gilaan!

"Astaga, kau akan menyuruh Len membayar biaya sewa seluruhnya?" Miku menggelengkan kepalanya. "Nggak gitu juga, Rin!"

"Hey, siapa yang bilang Lenny akan membayar seluruhnya?" Rin tertawa geli lalu mengedipkan sebelah matanya. "Haku-san itu teman baikku semasa SMA. Dia pasti akan memberikan harga murah kok! Serahkan saja padaku!"

Terkadang Miku lupa, Rin Kagamine terlalu memiliki banyak kenalan; mulai dari bukan orang terkenal sampai orang terkenal. Dia bahkan pernah ditaksir penyanyi muda dari produser Utauloid, Shin Kaiga yang tampan dan nyaris membuat kericuhan di konser tunggalnya yang terakhir karena para gadis yang berdesak-desakan dan nyaris menelan korban karenanya. Untung konser segera diamankan.

Namun entah kenapa Rin menolak laki-laki tampan yang merupakan idaman semua wanita itu. Namun belakangan, Miku mengetahui bahwa cinta Rin hanya untuk Piko Utatane, teman sekantor Len yang agak pendiam namun ramah senyum tersebut. Tapi... entahlah. Piko Utatane sendiri bukan tipe kesukaan Miku. Yah, mungkin ada sesuatu dari lelaki itu yang membuat Rin tergila-gila.

Cinta, memang tidak bisa diprediksi, ya?

"Oh, begitu," Miku manggut-manggut lalu meraih album yang Rin bawa. "Sini aku lihat,"

Dia membuka lembaran demi lembaran. Rancangan Haku Yowane memang luar biasa. Ada gaun pengantin berwarna merah marun yang dihiasi bordiran manik-manik merah muda yang lembut dengan beberapa renda-renda yang mempermanis penampilan gaun tersebut, ada juga gaun berwarna ungu violet dengan gradasi putih dan hitam di setiap pinggir jahitannya. Ada juga baju pengantin berwarna hijau lumut dengan hiasan pita melintang di bagian pinggang dan berurai-urai. Mirip gaun pengantin bergaya lolita. Miku sampai bingung harus memilih gaun yang mana, karena semuanya begitu bagus dan indah.

Tapi pandangannya terhenti pada sebuah gaun putih bersih dengan hiasan mawar hitam kecil di tepi bajunya dan bordiran manik biru krisal di sekitar leher gaun yang entah mengapa mengingatkannya pada iris mata Kaito. Belum lagi lapisan transparan yang cantik dari pinggang ke bawah. Sungguh cantik. Dia mengelus permukaan foto gaun tersebut lalu berpaling pada Rin yang menatapnya penuh harap. Miku menunjuk gaun tadi.

"Aku mau yang ini."

Rin mengernyit menatap gaun pilihan Miku lalu perlahan senyumnya mengembang. "Cantik sekali! Pasti cocok untukmu, Miku!" seru Rin kegirangan. Dia meraih sebuah spidol lalu menandai foto tadi.

"Tapi kenapa kau pilih gaun ini? Banyak yang lebih cantik padahal," kernyit Rin. Miku tersenyum lembut.

"Aku suka... manik biru kristalnya," jawab Miku. Rin yang langsung mengerti ikut tersenyum dan menepuk pundak Miku. "Dia pasti senang melihatmu begini, Miku," tutur Rin. Miku mengangguk. Dia tahu.

Dia tahu.


Kertas, kertas dan kertas lagi.

Hanya itu yang memenuhi meja kerjanya. Kernyitan di dahinya tidak bisa dihilangkan karena pusing dan bingung yang teramat sangat. Setengah mendumel kesal, dia berteriak putus asa.

"Kenapa merepotkan banget sih?! Aku butuh istirahaat!" seru laki-laki berambut honey blonde dikuncir satu itu dengan gusar. Leon Koejima menoleh pada temannya itu lalu berdecak.

"Woi Len, kenapa teriak-teriak?" Leon mengernyit. "Memang harus repot sedikit kalau mau naik jabatan!"

Pelototan itu terlihat dari Len Kagamine, si pemuda yang berteriak tadi. "Tapi kan aku harus bersiap untuk seminggu berikutnya!"

Leon terkekeh lalu menepuk pundak kawannya. Len Kagamine harus menyiapkan proposal, formulir dan lain sebagainya. Dia akan diangkat menjadi Jendral kembali dalam waktu dekat karena prestasinya kemarin yang berhasil menangkap pelaku penjualan organ tubuh manusia dari pemakaman Tokyo kemarin. Selain mengangkat namanya, dia juga diberi kehormatan menaikkan kembali jabatannya yang pernah turun karena skandal kematian Kaito setengah tahun lalu.

Dan pada saat yang bersamaan, Len harus menyiapkan pesta pernikahannya seminggu lagi bersama Miku Hatsune, kekasihnya. Lelah, repot, gugup dan benar-benar stress. Leon mengerti benar tekanan dan perasaan sohibnya itu.

"Sudahlah," hibur Leon. "Lebih baik kau pikirkan dulu pernikahanmu dengan Miku. Kerjaanmu bisa beres kapan saja selama ada aku dan Piko. Nanti progressnya bisa dilanjut lebih lambat, bukan?" tanya Leon dengan alis terangkat. Len menatap temannya itu lelah.

"Memangnya boleh seperti itu?" dengus Len. "Letnan Gumone itu bukan orang yang bisa mentolerir masalah pribadi bawahannya tahu? Dia jauh dari kata hati, perasaan, atau semacamnya,"

Leon terkekeh. "Kau berkata seolah-olah dia lintah darat atau semacamnya,"

"Lho," Len mengangkat kedua alisnya—pura-pura kaget—"Memangnya bukan, ya?"

"Kawan," Leon nyengir semakin lebar. "Ada kantung mata di bawah kelopak matamu, Bodoh. Tidur sana. Kau membutuhkannya,"

"Mungkin aku memang membutuhkannya," senyum Len lemah. Dia mengusap wajahnya dengan telapak tangan tanda lelah.

"Tapi aneh juga," Leon mengangkat sebelah alisnya. "Kau sudah pernah melakukan ini saat pelantikan pangkat Jendralmu dulu 'kan? Tapi dulu kau tidak selelah dan sedramatis ini. Apa ini ada hubungannya dengan janji yang akan kau rajut seminggu lagi di Gereja?" tanya Leon. Len menghela nafas. Tentu saja dia gugup. Gugup sekali.

"Tidak," ujar Len berbohong.

"Araa, Len…," Leon menggelengkan kepalanya. "Kau tidak bisa bohong padaku. Well, oke. Aku memang tidak punya pacar untuk saat ini. Tapi aku bisa bayangkan betapa kau gugup akan hidup dengan seorang wanita dalam satu rumah dan satu kasur 'kan?" tebak Leon yang membuat Len nyengir.

"Aku lupa kau agak mirip dengan cenayang… yang agak mesum."

Leon melotot. "Cenayang palamu kotak! Dan cowok mesum itu wajar, Len. Apalagi—"

"Iya, iya," Len tidak berminat mendengar kalimat-kalimat vulgar Leon lebih lanjut. "Jadi, bagaimana pendapatmu?" tanya Len.

"Soal apa?"

"Soal gugup tadi!" Len menghela nafas. "Aku takut nantinya aku takkan cukup baik untuknya. Aku takut takkan bisa membahagiakannya," gerakannya terhenti di udara. "Apa yang harus kulakukan?"

Leon tersenyum kecil. "Kaito menitipkan Miku padamu, artinya mau tak mau kau harus cukup baik untuknya, harus bisa membahagiakannya," Leon menghela nafas. "Kaito bukan tipikal orang dangkal, Len. Dan kau juga pasti tahu itu 'kan? Dia pasti sudah memilihmu masak-masak. Kalau dia memilih asal, bisa saja dia memilih Nero sebagai penggantinya," cengir Leon. "Tapi kau yang dipilihnya untuk terus bersama Miku. Kau dipercaya, Len."

"Kau dipercaya, Len."

Len mengangkat kedua alisnya lalu terkekeh. "Kata-katamu membuatku merinding, tahu? Seperti bukan Leon Koejima saja," cibir Len.

"Aku memang keren. Sayangnya tak banyak orang yang menyadarinya," Leon mengibaskan tangannya pada Len. "Sudah sana. Lebih baik kau pulang," usir Leon. Len mengernyit.

"Kau ini kayak ngusir, deh. Memangnya kenapa, hah?"

"Aku memang mengusirmu," pelotot Leon. "Siapa juga yang tahan melihatmu uring-uringan layaknya orang tolol begitu? Absenmu akan kutitip pada Akaito nanti. Kuyakin Letnan Gumone akan mengerti. Dan kalau dia tidak mengerti, biarkan itu menjadi masalah peliknya sendiri." tukas Leon.

Len manggut-manggut. Dia meraih tas laptopnya, jaket hijaunya dan meraih kunci mobilnya. Dia menepuk pundak Leon sebagai salam perpisahan dan berjalan ke arah parkiran.

Yep. Dia butuh istirahat.


Karpet merah, ruangan dengan kursi-kursi tamu dan berbagai macam stand makanan dan minuman terlihat di sepanjang koridor rumah suci tersebut. Semua orang bersuka cita, senyuman sepanjang para tamu yang masuk. Saat lonceng berdentang tiga kali, para hadirin kembali duduk di kursinya masing-masing. Menunggu.

Suara iringan anak-anak bernyanyi mulai terdengar kesyahduannya. Serta dentingan piano menjadi tambahannya.

Len Kagamine berdiri tegap di depan altar yang di hadapannya terdapat seorang pastor tua yang berwajah ramah walau kerutan-kerutan mulai tampak di wajahnya karena pengaruh usia. Len tampak sangat gagah dan tampan dengan tuxedo putih dengan hiasan mawar merah di dada kirinya serta rambut honey blond-nya yang biasanya dikuncir, kini dilepasnya. Membuat dia seribu kali lebih keren dibanding biasanya. Senyumnya mengembang tatkala pintu paling belakang gereja dibuka dan nampaklah sang mempelai wanitanya yang cantik.

Miku Hatsune yang kini berjalan ke arahnya dengan digandeng oleh ayahnya sendiri, nampak sangat teramat cantik dan anggun dengan rambut hijau tosca-nya yang digelung ke atas—memberikan kesan dewasa—dengan make up natural yang tidak terlalu mencolok—namun tetap menegaskan garis wajah dan kecantikannya. Tampak sangat kontras dengan gaun putih bersih dengan manik biru kristalnya yang menambah keindahan gaun pengantin itu. Sebuah kerudung transparan yang menutupi wajah cantiknya terlihat. Senyuman terus terkembang di bibir gadis itu.

Bahagia. Dia bahagia—mereka bahagia!

"Apakah kau, Len Kagamine bersedia menerima Miku Hatsune, sebagai istrimu dalam suka duka, sehat sakit, muda tua, hingga maut memisahkan?"

"Saya bersedia." Mantap. Tegas. Jawaban Len yang membuat Miku sedikit tersipu di sebelahnya. Kini sang pastor menatap sang mempelai wanita.

"Dan apakah kau, Miku Hatsune bersedia menerima Len Kagamine, sebagai suamimu dalam suka duka, sehat sakit, muda tua, hingga maut memisahkan?"

Gadis itu menarik nafas untuk menghilangkan gugupnya dan berkata dengan suara bergetar karena rasa senang yang membuncah. "Ya. Saya bersedia."

"Anda boleh mencium pengantin anda." Pastor itu tersenyum sementara Len kini berhadapan dengan Miku. Dia membuka perlahan kerudung transparan yang menutupi wajah cantik wanitanya. Dia mencondongkan wajahnya dan menegcup lembut bibir manis Miku.

Hangat, dan manis.

Suara riuh tepuk tangan terdengar. Bahkan Rin sampai menitikan air mata melihatnya. Terharu dan senang, melihat kakak kembarnya itu sudah meraih kebahagiaannya sendiri di rumah Tuhan.

Miku Hatsune menatap keadaan suka cita yang riuh itu dengan lembut. Semburat merah di pipinya semakin terlihat karena hari ini begitu sempurna.

"Apa kau bahagia?" bisik Len di tengah keriuhan tersebut, namun terdengar oleh Miku. Gadis itu tersenyum lebar lalu menatap iris aquamarine Len dengan intens.

Cinta, haluan rintang dan semua perasaan bahagia bercampur jadi satu di dadanya. Setitik air matanya jatuh—air mata yang merupakan ekspresi buncahan dan ledakan perasaan bahagia yang menjulur secara vertikal. Dari hatinya.

Dalam bisik penuh cinta, dibalasnya pertanyaan Len.

"Aku lebih dari sekedar bahagia, Len…"

To Be Continue

TARAAA 8'DDD SELESAI DEH. #digetok.

Masalah bagian gaun-gaunan itu, sejujurnya... saya bukan tipe orang yang melek fashion, tapi terpaksa saya melek-melekin biar fic ini jadi TwT padahal sebenernya sih saya kaga ngarti desain-desain baju-bajuan sama sekali =_= ohohoho. Pernikahan di sini saya bikin latar di gereja, walopun saya orang Islam, saya jadi ngga terlalu ngerti prosesinya, hehe. tapi berhubung si dia adalah orang Katolik, jadi saya sedikit terbantu. Semoga pas yaa... :)

Jadi... bersediakah mengisi kotak review di bawah? X'3

V

V