HAI MINNAAA 8'DDD #heh #gaknyelow. Saya kembaliii. Mengapdet fic yang... SAYA APDET TEPAT WAKTU LAGI HOREEE XD #dicakar.
Curhat dikit (lagi) saya lagi rada patah hati pas nulis ini sejak sebulan lalu :') untuk si dia yang sudah tidak bersama saya lagi... saya minta maaf. Mungkin, waktu kita bersama dulu, saya yang lebih sering egois, kekanak-kanakan, seenaknya, dll. Maaf, ya? :) Kuharap, kamu mengerti keputusan ini bukan cuma sakit buat kamu; tapi juga sakit buatku. Thanks. Buat semangatnya, buat kenangannya, buat pengertiannya... makasih untuk satu tahun enam bulan yang manis dan berharga... :)
EH LANJUT.
Ah, ini... lebih mirip epilog sih, ya. Sesuai keinginan readers, saya akan menuliskan nasib-nasib para tokoh lain setelah dua tahun kemudian :'3 semoga pas dan suka yaaa :'3
Enjoy, minna!
The Book of Love Story 2
a VOCALOID FANFIC
By : EcrivainHachan24
Desclaimer : Yamaha©Crypton Future Media
Sequel of "The Book of Love Story"
Len x Miku
WARNING!
Dramatically Romance, abal, disarankan membaca The Book of Love Story yang pertama dulu, etc
DON'T LIKE, DON'T READ!
6of 6
.
.
.
.
.
Dua tahun kemudian…
Miku POV
Aku melepas lelah di bahuku dengan menarik nafas dalam-dalam dan merenggangkan otot-ototku yang sempat menegang tadi. Aku menguap lebar merasakan kantuk yang teramat menggangguku. Aku melirik jam dinding. Pukul setengah sebelas malam. Waktu di mana seharusnya manusia-manusia normal lainnya tertidur pulas dalam buaian malam yang cantik.
Bulan purnama.
Seulas senyuman membahayangi wajahku. Sudah lama sekali tidak melihat bulan purnama. Begitu cantik, begitu bercahaya…
Aku memejamkan mataku. Dua tahun berlalu begitu cepat…
Mau kuceritakan apa saja yang sudah terjadi dalam waktu dua tahun?
Akhirnya, aku bekerja sebagai penulis novel di perusahaan yang sama dengan Rin—adik kembar Len—yang dengan senang hati mempromosikanku kepada Bos Luki Megurine yang tsundere namun ramah tersebut. Kehadiranku disambut baik oleh perusahaan tersebut karena catatanku semasa SMA begitu mendukung. Sementara Rin bekerja sebagai jurnalis di bagian majalahnya, aku bekerja sebagai penulis di bagian penerbitan novelnya. Saat pertama kali berpacaran dengan Len, ia sempat sakit kepala dan meminum satu strip obat sakit kepala—tidak langsung semua tentu saja—mengingat betapa histerisnya Rin saat aku dibawanya ke rumah kediaman Kagamine. Belakangan juga kuketahui bahwa menurut Rin, akulah cewek pertama yang berkunjung ke rumahnya.
Aku juga sempat berkunjung ke kantor polisi waktu itu di tahun pertama. Aku berniat akan pulang bersama Len, dan di sana aku bertemu dengan Hiyama Kiyoteru serta kedua anak buahnya yang masih setia di belakangnya. Aku memandang mantan kekasihku itu dengan senyuman. Tidak ada lagi ketakutan saat ditujukannya perubahan sifatnya yang drastis. Aku seperti tidak mengenal Kiyoteru yang kejam, serakah, licik, dan sinis dulu. Yang kulihat hanyalah sosok Kiyoteru yang ramah, kalem dan tenang. Yah, sifat kalemnya itu masih tetap sama sih… Dan dia juga mengucapkan selamat atas pernikahanku dengan Len. Kudengar, setelah akhirnya dibebaskan dari penjara, sekarang dia kembali membuka perusahaannya yang lama bangkrut waktu itu. Dengan memulainya dari nol, tentu saja. Mengingat dia melakukannya sambil membersihkan nama baiknya.
Leon Koejima yang konyol dan kocak itu, siapa sangka, kini berhasil menjabat posisi Jendral yang cukup ternama. Dengan gelar kerennya itu, dia juga berhasil mendapatkan hati polisi wanita paling cantik seantero Tokyo—Meiko Sakine. Aku tidak ingat bagaimana ekspresiku waktu Leon mengumumkan dia dan Meiko berpacaran. Namun aku ingat ekspresi wajah Len yan benar-benar aneh. Mungkin wajahku saat itu juga sama anehnya. Namun belakangan Leon sempat galau karena Meiko dikembalikan ke kantor pusatnya yang asli di Nagasaki. Dan laki-laki itu memutuskan untuk meninggalkan jabatan Jendral-nya di Tokyo dan menyusul pujaan hatinya di Nagasaki, serta menjadi atasan kantor pusat tetap di sana.
Lalu Piko Utatane mendapat penghargaan sebagai investigator ter-akurat dan terbaik di Tokyo. Dia dikirim ke Thailand, dan beberapa negara Asia lainnya untuk melakukan beberapa penyuluhan kepada para polisi investigator di sana. Dan sesaat sebelum keberangkatannya ke Thailand, Rin sempat menangis histeris dan menyatakan perasaannya di bandara—dan... yep, disaksikan polisi-polisi di sana, sebelum kau bertanya—dan di luar dugaan, polisi yang kalem dan selalu terlihat cuek tersebut ternyata memiliki perasaan yang sama dengan Rin—dan berjanji akan segera menikahi perempuan dengan marga Kagamine itu jika pulang nanti. Yah, Rin harus menunggu setidaknya setengah tahun lagi, sih. Tapi dia bertekad akan menunggu dan setia menanti Piko pulang dan melaksanakan janjinya.
Gumone Kojiro yang tegas, galak dan menyeramkan itu sempat meminta maaf pada Len dan aku atas perkataannya yang membuat salah paham—dengan ogah-ogahan, tentu saja—namun dari matanya, aku tahu dia benar-benar menyesal dan tulus. Kini dia sudah menjadi Ketua Letkol di Tokyo dan menerima bayaran lima kali lipat dari gajinya yang biasa. Beberapa bawahan sempat menggodanya untuk mencari seorang wanita untuk melengkapi kebahagiaan dan hidupnya, namun sepertinya tidak ditanggapi serius oleh sang atasan yang hanya tertawa saat mendengarnya. Namun belakangan, dia pernah bercerita padaku, dia masih memikirkan seorang gadis di masa lalu. Cinta pertama, katanya. Yah, semoga dia cepat bertemu dengan gadis itu, deh.
Lalu… hem, siapa lagi, ya? Ah iya. Akita Nero, Akaito dan beberapa polisi lainnya juga dalam keadaan sehat-sehat saja. Mereka baik saja kecuali Nero yang belakangan keluar dari kepolisian untuk mewujudkan cita-citanya menjadi penyair. Aku tidak tahu dia bakalan sukses atau tidak mengingat gayanya yang lebay tersebut, namun aku doakan yang terbaik untuknya.
Semua begitu cepat berlalu, ya?
"Apakah Ibu Penulis belum ngantuk juga, hmm?" suara lembut itu membuatku mendongak dan mendapati sosok laki-laki dengan surai blonde dikuncir satu menatapku dengan cengiran lebar. Tangannya memegang dua buah teh panas yang meletakannya di mejaku.
"Minumlah minuman yang hangat. Supaya rileks dan cepat tidur," nasehatnya. Aku nyengir lalu memukul pelan bahunya.
"Aku tahu,"
Dia tersenyum sekilas lalu menatap tulisan-tulisan yang berada di layar monitor laptopku.
"Buku baru, ya?" tanyanya sambil mengangkat kedua mengangguk.
"Tentang apa?" tanyanya. Aku tidak pernah benar-benar begitu memerhatikan karya tadi itu pasti hanya basa-basi saja.
"Romansa, cinta… kau kira apa lagi keahlianku, heh?" aku membelai pelan pipinya ketika dia akhirnya menaiki tempat tidur dan berbaring di sebelahku—lalu menyandarkan dagunya di bahuku untuk melihat tulisanku di layar monitor laptop.
"Kukira kau akhirnya menulis buku filosofi atau semacamnya," kekehnya. Aku ikut tertawa lalu menghela nafas. Aku menutup laptopku dan menatap iris aquamarine-nya dengan tatapan lucu.
"Baiklah, apa maumu?" tanyaku akhirnya. Dia menyindirku dengan karangan buku filosofi. Artinya ada yang dia inginkan—karena dia tahu cita-citaku menulis buku filosofi yang keren—yang sayangnya nggak kesampaian.
"Astaga," dia mengerjap. "Kau cenayang, ya?Bisa membaca pikiranku."
Aku menggebukan sebuah bantal padanya lalu mendecakan lidah."Bodoh. Kau kira menikah denganmu selama dua tahu tidak membuatku mengerti kamu, gitu?" pelototku. Dia tersenyum lalu menarikku agar sejajar dengan posisi matanya. Begitu intens… dan lembut.
"Kau benar," bisiknya. Tatapannya melembut saat jarak wajah kami semakin dekat—dan akhirnya kami menghapusnya. Aku dapat merasakan pagutan bibirnya di bibirku sendiri. Begitu lembut, begitu hangat…
Sampai akhirnya kebutuhan oksigen membuat kami memisahkan haluan pertautan tadi. Aku menyandarkan kepalaku di bahunya saat kurasakan dagunya menyentuh puncak kepalaku. Jemari kami saling bertautan—dengan sebuah cincin emas putih di masing-masing jari manis.
Cincin pernikahan kami.
"Miku," panggilnya.
"Mmm?" jawabku. Sudah mulai mengantuk.
"Apa kau masih menyimpan buku kenangan...?" tanyanya tiba-tiba membuat rasa kantukku hilang. Aku mengerjap lalu mendongak padanya—menatapnya.
"Kenapa?" tanyanya dengan ekspresi bingung.
Aku berhedam. "Bukan apa-apa… aneh saja rasanya. Kau 'kan tidak pernah bertanya tentang buku itu sebelumnya padaku," aku menghela nafas. "Aku akan menaruhnya di gudang jika—"
"Tidak!" potongnya tiba-tiba. Aku mengerjap.
"Apa?"
"Tidak… umm, bukan itu maksudku," katanya pelan. Aku mengernyit.
"Apa yang sebenarnya kau coba untuk katakan?" tanyaku.
"Tidak ada," cengirnya. "Aku hanya tidak mau kau sampai menghilangkannya,"
"Heh?" aku menaikan sebelah alisku. "Kukira kau bakal cemburu atau semacamnya,"
"Bodoh." Dia memutar kedua bola matanya. "Mana mungkin aku cemburu pada Kaito 'kan?"
Nama itu… sudah lama sekali tidak kudengar.
"Mm," aku mengangguk. "Mana mungkin,"
Dia menghela nafas lalu mengecup puncak kepalaku. "Jangan lupakan dia, oke?"
Aku mengerjap kaget. "Bukannya… semakin melupakannya, maka aku akan semakin bebas dari bayang-bayangnya? Well, walaupun sekarang aku sudah bisa menganggapnya sebagai kenangan indah. Dan bukannya kenangan yang menyedihkan seperti dulu," kataku. "Kenapa kau tiba-tiba membahasnya?"
"Tidak ada alasan khusus," katanya. "Aku hanya tidak ingin kau—dan aku juga. Kita, untuk tidak melupakannya."
"Dan… kenapa itu?"
Dia menatapku dalam-dalam. "Karena kita akan selalu ada dalam ingatannya," dia menunjuk dadaku dengan jari telunjuknya. "Di sini…"
Jantungku.
Aku ikut memegangi dadaku. Ada degup jantung di sana.
Jantungku. Jantung Kaito…
"Aku tahu," aku mengerjap. Mataku rasanya memanas kembali. Aku tertawa pelan.
"Hey… jangan nangis…"
"Enggak," sergahku. Aku mengusap kedua mataku yang sempat berair tadi. "Aku tidak menangis, kok,"
Dia terdiam sebentar lalu meraih sebuah buku yang sudah usang dan berdebu. Aku menatap buku itu dalam diam lalu mengusapnya.
Dan ketika aku membukanya, kenangan itu satu persatu muncul di permukaan. Namun kini aku menatap semua itu dengan sebuah senyuman. Seiring kubuka lembaran demi lembaran… aku merasa masuk kembali ke dalamnya. Beberapa tahun sebelumnya. Nyaris menyentuh semua anganku saat kuusap permukaan foto-foto yang sudah mulai berdebu itu dengan jemariku. Kutatap semuanya… hingga sebuah puisi(1) terselip.
"Apa itu?" tanya Len. Dia meraih carik puisi itu, membacanya lalu tersenyum dan terkekeh."Oh, jadi dia beralih profesi jadi penyair, gitu?"
"Ahaha," aku menepuk pelan pipinya. "Tentu saja tidak! Dasar bodoh," gumamku. Dia tersenyum lembut lalu menatap kedua iris mataku
"Kau tahu, mungkin kedengarannya gila," katanya tiba-tiba."Tapi aku benar-benar bersyukur Kaito hanya menginginkan aku yang menggantikannya bersamamu."
Aku mengernyit tidak mengerti. "Maksudnya?"
Tanpa kuduga, dia bangkit, meraih sesuatu di lemarinya lalu kembali padaku dan menyerahkan sebuah kertas dengan tulisan tangan Kaito.
"Ini…"
"Baca saja," katanya. Aku mengernyit lalu mulai membuka surat itu. Kubaca kalimat tersebut satu persatu lalu mengerjap-ngerjap. Kutatap Len yang kini menatapku balik dengan alis terangkat.
"Kenapa kau baru beritahu aku soal ini?" mataku menyipit. Dia terkekeh lalu mengacak pelan rambutku.
"Entahlah," cengirnya. "Mungkin karena… aku takut kau masih teringat dia, dan—"
"Len," jari telunjukku di bibirnya lalu menggeleng perlahan. "Hentikan itu."
"Aku memang akan selalu teringat padanya," akuku. "Tapi aku punya kamu sekarang!" senyumanku melebar.
"Dan aku mencintai Kaito dan kamu dengan cara yang berbeda sama sekali…," kurasakan tatapan Len padaku melembut. "Karena kamu di sampingku."
"Kau benar," senyumnya.
Aku tatap laki-laki itu. Kini sebuah kenangan lain terlintas dalam benakku.
Bagaimana bisa Len Kagamine yang tadinya hanya kenalanku sebagai rekan kerja kakak angkatku—Kaito Onii-san—waktu itu, bagaimana pertama kali aku bertemu dengannya di Kantor Kepolisian Tokyo yang masih sempit dan belum sebesar sekarang, bagaimana senyumnya pertama kali ditunjukannya untukku-jabatan tangannya yang tegas, menambah daya tariknya.
Selesai.
Adegan kedua berganti.
Bagaimana hancurnya aku begitu mengetahui bahwa Kaito Onii-san mendonorkan jantungnya—hidupnya—untukku, bagaimana Len ada di sana untuk menghiburku, bagaimana dia terus menemaniku tanpa jenuh selama lima tahun penuh hanya dengan memandangi batu nisan Kaito di pemakaman, aku bisa mengerti, banyak waktu yang dia korbankan—shiftnya, reputasinya sebagai tukang telat karena terus menemaniku—namun entah kenapa waktu itu aku tidak terlalu peduli. Mungkin karena aku masih saja memikirkan Kaito dalam benakku. Membuatku mengacuhkannya, mengacuhkan dunia…
Lalu aku juga ingat bagaimana bisa aku mulai terbiasa akan peluknya, akan kehadirannya… bagaimana bisa aku nyaman saat bersamanya, dan bagaimana bisa aku berdebar—jatuh cinta—padanya. Mulai kurasakan semuanya dalam jangka waktu singkat ketika aku berpikir bahwa dia sengaja 'membunuh' Kaito Onii-san… dan ketika dia jelaskan, aku mulai mengerti perasaannya yang dilema dan serba salah waktu itu. Dia harus memilih. Dan ketika itu pula pagutan cintanya memenjarakanku.
Sampai saat ini.
Semua kerumitan ini akhirnya berakhir ketika akhirnya aku memutuskan untuk menerima Len di sisiku—awal yang susah, namun di akhir sangat manis ketika setelah kami berpacaran beberapa waktu, dia berlutut, menawarkan sebuah cincin emas putih untuk dipasangkan di jari manisku, menawarkan kebahagiaan yang akan diberikannya padaku. Aku tidak ingat seberapa besar aku bahagia waktu itu bahkan sampai menitikan air mata segala—di hari pertama dengan gaun putih bersih dengan manik biru yang cantik, dan saat akhirnya aku memakai memakai kimono yang sewarna dengan bunga sakura saat pernikahanku di hari kedua yang dilakukan secara tradisional Jepang. Dan aku mewujudkannya.
Sesuai keinginanku. Yang kuutarakan pada Kaito Onii-san dulu…
Lalu aku kembali menatapnya.
Dialah Len Kagamine.
Suamiku.
"Apa yang kau pikirkan?" tanyanya tiba-tiba. Aku mengerjap—sadar dari kenangan—lalu menggelengkan kepala dengan sebuah senyuman.
"Bukan apa-apa."
Dia tampak skeptis lalu menghela nafas lalu meraihku ke sisinya. "Miku, Miku… kau bohong," kurasakan sapuan bibirnya di puncak kepalaku. Aku tertawa pelan saat kuhirup wangi tubuhnya.
"Tidak," kekehku. "Sok tahu."
Dia tersenyum. "Tidur, gih. Sudah jam 12 malam. Tidak baik untuk kesehatanmu nanti," katanya. Aku terdiam lalu perlahan meraih tangan Len dan meletakannya di perutku. Aku mendongakan kepala—menatap dia.
"Dan anak kita," bisikku. Iris mata aquamarine-nya melebar lalu mulutnya menganga lebar.
"Miku," bisiknya. "Kau… hamil?"
Aku tersenyum lebar sebagai jawaban. "Selamat, Ayah." Aku tertawa pelan melihat ekspresi kagetnya.
"Astaga," katanya setelah terdiam beberapa saat. Sebuah senyuman lebar menghiasi wajah tampannya. "Astaga! Aku harus beritahu Leon dan Rin soal ini!" lalu dia bangkit—dan segera kucegah dengan memegangi menggeleng pelan saat dia menatapku bingung.
"Nanti saja," aku tersenyum. "Sudah larut malam begini. Kau kira mereka belum tidur?" aku mengangkat kedua alisku sebelum Len terdiam lalu menggaruk belakang kepalanya.
"Benar juga, ya. Heheh," dia nyengir lalu kembali berbaring di sisiku. Dia memelukku.
"Terima kasih…" bisiknya tiba-tiba. Aku mendongak.
"Untuk apa?"
"Untuk semua kebahagiaan ini, Miku…." bisiknya lembut.
Hilang sudah.
Mimpi buruk, masalah yang kompleks, perasan gundah gulana dan semua perasaan sedih yang pernah kurasakan dulu seolah berganti tema menjadi semacam lelucon di masa lalu dengan sejuta kenangan. Seolah itu semua hanyalah cerita sampingan dari inti cerita hidupku.
Hidupku bahagia.
Aku bahagia!
Aku tatap bingkai foto di meja sebelah tempat tidur.
Foto pernikahanku dan Len.
Setitik air mataku jatuh.
Aku memejamkan mataku. Dalam angan gelap, aku menuliskan tulisan terakhir—di halaman terakhir cerita kisah cintaku yang kedua.
Yang diawali dengan nama Len Kagamine.
Dan diakhiri dengan kata bahagia selamanya.
Karena pada akhirnya dalam jalan takdirku yang berliku ada sebuah akhir bahagia menanti.
Karena pahit-manisnya cinta yang membawaku terbang jauh.
Dalam relung kenangan dan kebahagiaan di dalamnya, kutuliskan sebuah filosofi cinta untukmu.
Bahwa sesungguhnya cinta terdiri dari satu jiwa yang menghuni dua tubuh.
Selamanya.
—Aristoteles—
(1)Baca The Book of Love Story yang pertama di Lembar Terakhir :)
OWARI
TUNGGU! #heh
Terima kasih
untuk
Mas Kambing yang selama ini sering ngeditin fic saya. HAHAHAHAHAHAHA. Jujur, editamu keren, Mas (y) ga boong. Makasih, ye. Walopun lu kadang juga gak ngeditin typo gue sih. Alay #geplak.
Adrian yang tak henti-hentinya memberi semangat, ide, dan masukan; entah itu pujian, kritikan, bahkan sampe ngebenerin dan menyarankan saya baca KBBI segala. Kamu tau? Kamu selalu jadi semangatku menulis. Walau kita sudah tidak bersama lagi :)
Alice YANG ENTAH KENAPA KERJAANNYA GANGGU TERUS PAS SAYA NULIS FIC INI. #emosi #digampar. Ehm, tapi tanpa Alice, saya yakin, takkan ada tawa sewaktu saya menulis fic ini :) thanks ya, Lice :P
Semua readers yang sudah membaca, review, alerting, fave Aku sayang kaliaaan :**
lalu tentu saja untuk
Kamu.
yang sudah membuka halaman ini :) thank you very much! :**
Mind to review? :)
V
V
