D.S back!
Kali ini chappie terakhir. Gomen ne minna.. pendek banget Q.Q
Aku udah masuk kuliah, bener-bener ga sempat lanjutin fic sama sekali T.T
Gomenasai.. soalnya biar udah mau 1 bulan lebih, aku masih ga bisa berbaur. Sedih deh
Hora! Ini dia.. last chappie.
Basketball, Love and Fight!
Saat Mikuo berpikir, tiba-tiba Rin tertimpuk bola dan terpleset.
"Manager!" Teriak anak-anak klub minus Mikuo dan Len.
"Euh.. aku tak apa-apa." Kata Rin.
Saat Rin mencoba berdiri, ia langsung terjatuh dan ditangkap oleh Mikuo.
"Kurasa kakimu terkilir." Kata Mikuo.
Len merasa sebal Rin ditangkap Mikuo. Entah mengapa, dadanya terasa sesak tidak karuan.
"Ku antar pulang ya? Aku bisa memboncengmu pulang." Kata Mikuo.
Sekarang Len mengomel pada dirinya karena ia tak bisa mengendarai motor.
Rin menolak, tapi karena kakinya sakit dan tak memungkinkan ia berjalan, terpaksa ia menurut saja.
Len merasa dadanya serasa terbakar, ia tak mengerti mengapa ia melihat Rin bersama-sama Mikuo itu sangat menyesakkan dadanya.
Len mengutuk dirinya sendiri karena ia tidak dapat melindungi dan tepatnya ia sendiri trauma dengan motor.
.
..
Handphone Len berdering saat Len sedang duduk merenung.
"Halo? Mikuo, ada apa?" Kata Len.
"Hei, Len, kurasa aku suka pada Rin." Kata Mikuo
Len shock mendengar perkataan Mikuo.
"Oh.." Gumam Len, terdengar kecewaan besar di suara Len.
Sementara itu Mikuo senang melihat reaksi Len.
"Kau bisa bantu aku kan Len?" Kata Mikuo.
Pikiran Len berkecamuk, mana mungkin ia sanggup membiarkan Mikuo bersama Len. Tapi ia sendiri tidak berani mengatakan bahwa ia suka pada Rin.
"I-iya, te-tentu saja." Kata Len.
'Len no Baka! Kenapa kau bilang iya.' Pikir Len dalam hatinya sendiri.
"Uwaahh! Kau memang teman yang baik Len, baiklah, sampai jumpa besok." Kata Mikuo mengakhiri telepon mereka.
Len bimbang, ia seharusnya bagaimana. Ia bingung, karena Rin adalah satu-satunya orang yang dapat membuat ia kebingungan seperti ini.
"Lenka-nee!" Kata Len seraya membuka pintu kamar kakaknya.
Lenka terperanjat.
"Apa-apaan sih kau Len?" Kata Lenka yang masih kaget.
"Lenka-nee.. jatuh cinta itu kayak gimana sih." Kata Len.
Lenka memandang Len.
Len tampak bingung apa yang harus ia lakukan.
"Mudah sih, pertama, kau ga suka cewek itu deket-deket cowok laen." Kata Lenka.
"Lalu, kalau ia berbicara dengan mu, kau rasanya ingin sekali membenamkan kepalamu ketanah." Lanjut Lenka
"Terus, kau pengennya liat dia and tau keadaan dia itu gimana." Kata Lenka
Len merasa semua yang Lenka sebutkan terjadi pada dirinya sekarang.
"Jadi, kau suka pada gadis yang bernama Rin itu?" Tanya Lenka
Muka Len bersemu merah, Lenka hanya tertawa-tawa melihat tingkah adiknya itu.
"Terus, kau mau bilang, kalau ada orang yang mau ngejer dia dan sekarang kau ga tau mau ngapain?" Kata Lenka
Len merasa ada panah menusuk hatinya, apakah ia sangat mudah ditebak?
"Kalau kau masi ga siap, mending kau perhatiin, sebenarnya ia ada hati padamu atau temanmu." Kata Lenka
"A-aku bicara dengannya saja susah." Kata Len.
"Ya ampun Len, kau harus bersikap natural, dia bisa-bisa menganggapmu aneh loh." Kata Lenka.
"Tapi Lenka-ne.." kata Len belum sempat menyelesaikan kata-katanya
"Tak ada tapi-tapian, kau harus bisa Len, kalau tidak kau akan menyesal belakangan." Kata Lenka
Len mengangguk.
.
..
Len sedang berlari keliling lapangan. Rin melihat Len disana dan memanggilnya.
"Len-senpai! Senpai pagi sekali sudah latihan?" Kata Rin
Muka Len memerah, ia segera menepuk pipinya dan harus bertindak seperti biasa.
"I-iya, soalnya kemarin itu aku kan ada miss.." Kata Len
Rin mengangguk-angguk.
"Oh, ya, kau baik-baik saja?." Tanya Len.
"Em, aku udah bisa berjalan." Kata Rin
"Rin-chan.." Kata Mikuo berlari kearah mereka.
'Rin-chan?' pikir Len
"Ah, Mikuo-senpai, arigatou buat kemarin." Kata Rin.
' Rin manggil Mikuo? Bukan Hatsune lagi?' Pikir Len
Len merasa sebal, tak lama ia berlari lagi meninggalkan mereka berdua yang sedang mengobrol di tengah lapangan.
'Seharusnya aku gimana ya?' Pikir Len seraya berlari mengelilingi lapangan, entah sudah berapa kali ia mengelilingi lapangan, tetapi rasa bingungnya tidak berkurang.
"Len-senpai!" Kata Rin.
Len berhenti dan menengok kearah Rin, Mikuo sudah tidak ada disana.
"Ada apa Rin?" kata Len.
"Ayo, latihan sudah mau dimulai Len-senpai." Kata Rin
Len berlari dan mereka masuk kedalam ruangan olahraga.
Terlihat banget kalau Rin dan Mikuo terlihat sangat akrab.
"Len, Mikuo dan manager pacaran ya?" Tanya Lui padanya.
"Ga kok." Kata Len.
"Eumh, kukira mereka pacaran." Kata Lui
"Emanknya mereka keliatan kayak gitu ya?" Tanya Len.
"Gimana ya, Cuma keliatan aja sih, manager kita kan manis, aku sih ga heran kalo banyak yang suka padanya." Kata Lui.
Len berpikir, benar, bukan hanya Mikuo saingannya, mungkin saja, anggota klub basket yang lain juga suka pada Rin.
Len bingung, kalau ia menyatakan perasaannya tiba-tiba, bisa-bisa bahkan mereka tak bisa menjadi teman lagi.
Gakupo menyadari Len aneh, lalu ia mendekati Len dan berbicara padanya.
"Hei, galauin apa sih? Manager?" Kata Gakupo
"Ergh!" Respon Len mukanya langsung memerah.
"Ahahah.. kusangka si basketballfreak ini ga bakalan bisa suka pada orang." Kata Gakupo
"SSTTT!" Kata Len seraya meminta Gakupo untuk diam.
"Warui.. aku lupa, haha." Kata Gakupo
Untung para anggota lain sibuk dengan diri mereka masing-masing, sehingga tidak ada yang memperhatikan Len dan Gakupo.
"Jadi, Kau suka pada manager?" Kata Gakupo.
Len mengangguk.
"Ehm, jadi kau tidak ada keberanian buat mengatakannya?" Kata Gakupo
Len mengangguk lagi.
"Kau harus melakukan pendekatan padanya." Kata Gakupo.
"Pendekatan?" Kata Len
"Yup, kayak si Mikuo itu, kalau kau ga cepet-cepet. Manager bisa diambil Mikuo loh." Kata Gakupo
"Euh.. apa aku bisa?" Kata Len
"Tentu, semua orang bisa kok Len." Kata Gakupo
"Baiklah.. akan kucoba." Kata Len
.
..
"Em? Menurutku?" Kata Rin
"Iya, menurutku Mikuo itu gimana orangnya." Kata Len
"Biasa aja sih, dia juga agak aneh sih. " Kata Rin
"Ka-kalau dia suka pada mu?" Kata Len.
Tiba-tiba ia menutup mulutnya.
'Bodoh.. Len no Baka.. Mikuo bisa marah sama aku nih.' Kata Len
"Hem? Tapi aku lebih suka sama kamu kok senpai." Kata Rin.
Mendengar kata itu, Len spontan langsung pingsan.
"Eh! Len senpai?" Kata Rin kaget
.
..
Sekarang Len ada dirumah Rin, masih pingsan.
"Len-senpai?" Kata Rin saat melihat Len mulai siuman
"Ri-ri-rin.. " Kata Len terkejut.
"Senpai tak apa apa?" Tanya Rin
Len mengangguk.
"Gomen, kata-kataku membuat senpai kaget ya?" Kata Rin, terlihat semburat merah dipipinya
Len mendorong Rin ke kasur.
"Le-Len senpai?" Kata Rin kaget.
"Aku suka padamu Rin." Kata Len.
"Eh.. ehhh.." Kata Rin.
"Iya." Angguk Len.
Len mengecup pipi Rin dan memeluknya.
"Tak akan kuserahkan pada orang lain." Kata Len.
Rin mukanya memerah. Lalu ia memeluk balik Len.
"Kau tau senpai? Kurasa aku suka senpai sejak musim panas tahun lalu." Kata Rin
"Eh?" Len tampak kaget.
"Ya, sejak melihat senpai, aku tertarik banget sama senpai." Kata Rin
"Ehehehe... oh ya, kau harus panggil aku Len, aku kan pacarmu." Kata Len, mukanya memerah seperti tomat.
"Le-len.." Kata Rin tersipu.
.
..
"Wah! Kalian berdua pacaran ya?" Kata Gakupo.
"Hahaha, ternyata aku berhasil." Kata Mikuo.
"Eh?" Kata Len bingung.
"Iya, ini kan semua rencanaku." Kata Mikuo.
"Ehh!" Kata Len kaget.
"Hahaha.." Tawa Mikuo.
Pritttt! Bunyi peluit terdengar kencang.
"Hei! Siapa suruh mengobrol! Ayo keliling lapangan 20." Kata Rin.
"Apa!" Kata seluruh anggota.
"Kalau lama! Tambah 20 kali lagi." Kata Rin
"Iya-iya! Kami lari" Kata semuanya.
Basketball, Love and Fight!
~The end~
Minna! Udah tamat nih!
Len : ada sekuelnya kan?
D.S : aku mau buat sih, mungkin lebih menceritakan kisah kalian berdua.
Len : Honto ni? *puppy eyes*
D.S : Tergantung para reviewer deh.
Len : Minna! Berikan suara kaliaaaannn~ *super puppy eyes*
Hora! Minna-tachi! Update! Arigatou ne! *bows*
