Hai Semua :)
Maaf ya sudah menunggu lama menanti kelanjutan ceritanya..
Terima kasih yang sudah Review :)
Ini dia Cerita kelanjutannya Cekidot...
######
_Lapangan_
Selama latihan Yurika tidak berulah apa – apa dia hanya diam dan melihat Hiruma sambil mengikuti rangkaian latihan.
Yurika melihat jam di tangannya sudah jam 01.00pm, sudah waktunya dia untuk pulang.
"Mamori-chan, aku pulang ya." Sambil mengambil tasnya yang dipinggir lapangan.
"Oh iya, hati – hati di jalan ya Yurika-chan." Mamori tersenyum.
"Iya Mamori-chan." Yurika berjalan keluar lapangan dan tersenyum kepada Mamori.
"Bocah Aneh! Mau kemana kau! Latihan belum selesai!" tanpa sengaja Hiruma ternyata melihat Yurika berjalan keluar lapangan.
" Hiruma-kun, biarkan dia latihan setengah hari dulu." Mamori menjelaskan dengan senyum.
"Ch!" karena Hiruma tidak mau berdebat dengan Mamori dia hanya menjawab seperti itu dan langsung kembali latihan dengan yang lain.
####
Yurika pulang dengan berlari menuju rumah Mamori. Sesampainya disana Yurika melihat sudah ada mobil yang dia kenal didepan rumah Mamori. Yurika langsung masuk dan membuka pintu dan melihat di ruang tamu sudah ada mamanya Christin dan Yuuya.
"Yurika, kau sudah datang. Silahkan duduk." Ibu Mamori menegur Yurika dengan senyum, yang dari tadi di depan pintu saja melihat ibu dan ayah tirinya sudah datang untuk menjemputnya.
Yurika hanya dia saja dan langsung duduk sambil menundukkan kepalanya.
"Maaf ya kakak ipar aku merepotkanmu ya." Christin berbasa basi kepada ibunya Mamori.
"Tidak juga kok Christin." Ibu mamori hanya tertawa kecil.
"Yurika, ayo bawa tas kopermu. Kita akan ke apartement kakak tirimu." Christin mengajak Yurika supaya cepat untuk siap - siap. Yuuya yang duduk disamping Christin juga tersenyum.
Yurika langsung ke kamar mamori dan mangambil tas kopernya lalu langsung menuju luar rumah Mamori.
Christin dan Yuuya yang juga sudah di depan rumah mamori. Yurika membawa tasnya dan memasukkannya ke dalam garasi mobil.
"Kakak ipar aku permisi ya. Terima kasih sudah menampung yurika selama 3 hari ini. Maaf telah merepotkan." Christin berpamintan sambil memeluk ibu Mamori.
"Tidak merepotkan kok." Ibu Mamori melepaskan pelukan Christin dengan tersenyum.
"Oh ya Yurika, kamu jangan nakal dengan kakak tirimu ya." Ibu Mamori melihat Yurika yang sudah di depannya dengan tersenyum.
"Itu tidak mungkin, karena Yurika anak yang baik." Yuuya juga tersenyum menyambungkan kata – kata dari ibu Mamori. Sedangkan Yurika hanya diam saja.
"Bibi, aku permisi dulu ya. Terima kasih bi." Yurika mengangguk dan langsung masuk ke mobil.
Christin dan Yuuya seperti tidak dianggap.
_Di Mobil_
"Kita beli makanan dulu saja ya untuk Yoichi, kan dia tinggal sendirian di apartemen itu dan kita juga akan langsung take off sehabis dari apartement." Christin tersenyum kecil dan melihat ke belakang mobil ada anaknya yang hanya diam melihat ke kaca mobil. Sepertinya perkataan ibunya tidak dihiraukannya.
Mobil berhenti di depan mini market.
"Kau tidak mau ikut keluar, Yurika-chan." Yuuya mengajak yurika.
"Tidak." Yurika menjawab sinis dan membuang mukanya sedikit.
"Ya sudah, kamu baik- baik disini." Christin menasehati saja.
_Ruang Club DDB_
Di dalam ruangan club DDB hanya ada Mamori , Hiruma, Musasi, dan Kurita sedang siap – siap untuk pulang sedangkan yang lain sudah pulang duluan.
" Hiruma-kun, maaf ya tadi Yurika latihannya hanya setengah hari dan tidak bilang padamu." Mamori menjelaskan kejadian yang tadi, yang telah duduk di samping hiruma.
"Hm." Hiruma hanya menjawab seperti itu. Sambil bermain dengan laptop kesayangannya.
"Katanya dia ingin pindah ke apartement kakak tirinya dan dia takut dibenci kakak tirinya." Mamori seperti curhat tapi dia tidak mau menjelaskannya lebih detail takut hiruma tau, dan biar manjadi kejutan saja untuk dia.
Hiruma hanya diam saja.
" Apa? dia mempunyai kakak tiri? Pasti dia akan disiksa." Kurita langsung membayangkan, tapi dalam bayangannya yurika akan langsung menodong pistolnya ke kakak tirinya itu. "Mungkin kakak tirinya yang akan disiksa." Setelah membayangkan itu, muka Kurita langsung memelas.
"Hehe. Kurita kau berlebihan." Mamori menanggapi kata - kata Kurita dengan muka heran.
"Sudah kita kita pulang saja. Aku sudah lelah." Hiruma langsung berdiri dan berjalan keluar.
Yang lainnya yang ada di ruangan itu langsung berjalan keluar juga.
Mamori malihat wajah hiruma yang berjalan disampingnya, masih khawatir nanti bagaimana jika dia tau kalau dia akan bersaudara tiri dengan Yurika.
Hiruma yang tanpa sengaja sudah melirik Mamori yang memerhatikan dia, langsung nyengir kaya setan.
"kekeke..., kau kenapa memerhatikan aku seperti itu, Menejer Sialan ! kekeke.."
"Heh, aku tidak memerhatikanmu tau." Mamori yang sadar dengan kata – kata Hiruma langsung menunduk dengan mukanya yang memerah.
"Dasar! Menejer Bodoh!." Hiruma langsung berjalan duluan dari Mamori.
Mamori yang mendengar kata – kata itu langsung berhenti berjalan dan kepalanya seperti mendidih.
"Aku tidak seperti yang kau katakan Hiruma !." Mamori langsung mengejar Hiruma.
Kurita dan Musasi yang ada dibelakangnya hanya heran.
_Apartement Hiruma_
Hiruma yang sedang membuka pintu kamar apartemennya merasa heran seperti tidak dikunci pintu kamarnya itu. Hiruma langsung saja masuk ke kamarnya. Dan langsung melihat ayahnya, Christin (yang menurutnya orang asing), dan Yurika, mereka sedang duduk.
"Ada apa ini? Ayah sialan!, kenapa kau bisa buka apartementku?." Hiruma dengan muka pokernya.
"Ayah punya kunci gandanya. Duduklah Hiruma, aku ingin bicara." Jawab Yuuya dengan singkat.
"Memang kau mau bicara apa?" hiruma langsung duduk dan menjawab dengan sinis.
"Aku ingin kau tinggal bersama Yurika." Yuuya menjelaskan singkat.
"Memangnya dia itu siapa? Memangnya kau sudah memberi tahu ku sebelumnya? Aku tidak menerima orang lain di apartement ini!." Hiruma berbicara dengan membuang mukanya. Pada hal dia sudah mengenal Yurika.
"Dia ini sekarang sudah jadi adik tirimu. Dan kau harus menerima dia." Yuuya menekankan suaranya kepada Hiruma.
"Jadi sekarang aku kakak tiri, bocah aneh ini." Hiruma melihat ke Yurika.
"Iya dan Yurika adalah adik tirimu. Jadi aku mohon kau bisa menjaga Yurika." Christin tersenyum kepada Hiruma. Walaupun Hiruma dari tadi hanya mengacuhkannya.
"Ch, kau pikir aku ini baby sister, wanita sialan!." Hiruma menjawabnya sinis.
"Kau memang bukan baby sister, karena aku bukan bayi juga. Dan jangan memanggil mamaku wanita sialan!." Yurika menanggapinya dengan sinis lagi. Yang dari tadi duduk melipat kaki dan tangannya juga di lipat di dadanya.
"Baiklah, terserah kau saja bocah aneh dan ayah sialan." Dia langsung berdiri dan masuk ke kamarnya dengan sedikit menggebrak pintu kamarnya, karena dia tidak mau bertengkar saat ini.
"Dasar anak itu!." Yuuya sedikit kesal.
Di kamarnya Hiruma langsung agak kesal. 'ternyata kakak tiri yang dimaksud Menejer Sialan itu adalah aku. Aku yakin dia juga sudah tau.' Dalam hati hiruma.
"Ya sudah, papa sama mama langsung take off ya Yurika." Christin pamit pada anak satu satunya itu dan langsung berdiri.
"Hm." Yurika menjawab dengan menunduk. Christin langsung mencium kepala anaknya itu.
"baik – baik ya sayang." Christin berpesan pada yurika dengan lembut.
Yurika hanya diam dan terus menunduk. Christin dan Yuuya langsung pergi dari apartement Hiruma.
Tak lama kemudian Yurika mengeluarkan air mata. 'andai papa ada disini dan pasti hiruma benci kepadaku.' Dalam hati Yurika. Yurika melihat ada balkon, dia langsung ke balkon itu lalu sesampai di sana mengambil nafas dan mengeluarkannya lagi, suasana terasa hening sekali, dan air mata Yurika pun terbang terkena angin karena apartemant Hiruma di lantai 10. Entah ada apa Yurika langsung bernyanyi.
" Look at me
You may think you see
Who I really am
But you'll never know me
Every day
It's as if I play a part ..."
Hiruma yang sedang asik bermain laptop langsung mendengar suara merdu Yurika. Dia langsung keluar kamar dan melihat adik tirinya itu bernyanyi tanpa menyadari ada hiruma di belakangnya.
" Who is that girl I see
Staring straight back at me?
Why is my reflection
Someone I don't know?
Must I pretend that I'm
Someone else for all time?
When will my reflection show
Who I am inside?..."
Di akhir nyanyinya Yurika langsung seperti tak kuat untuk berdiri dan langsung menjatuhkan dirinya sambil menangis menutup mukanya.
Hiruma yang melihat Yurika seperti itu seperti tidak tega dan langsung ke kamar lagi.
.
.
05.00am
Hiruma membuka matanya ternyata semalaman dia ketiduran dan melihat laptopnya masih menyala. Dia langsung mematikan laptopnya. Sehabis itu keluar kamar dan melihat Yurika masih di balkon yang tertidur disana ' Dasar bocah aneh ini, bisa bisa dia sakit kalau tertidur dibalkon seperti ini.' Dalam hati hiruma. Dia langsung menggendong adik tirinya itu dengan hati – hati ke kamarnya.
Setelah membarigkan Yurika di tempat tidur Hiruma, Hiruma langsung menatap wajah adik tirinya itu. 'Baru 3 hari aku mangenal kau, dan sekarang kau adalah adik tiriku. Aku sebenarnya tidak membencimu tapi aku membenci ayah sialanku dan mungkin juga mama sialanmu itu yang seenaknya saja selalu meninggalmu untuk kepentingan dirinya sendiri. Kau sama sepertiku.' Dalam hati Hiruma berbicara dengan menatap wajah Yurika. Dia langsung berdiri dan mandi.
Selesai Hiruma mandi dia melihat Yurika lagi, tapi sekarang muka Yurika agak pucat. Dan Hiruma langsung memegang kening dan pipi Yurika, ternyata suhu badannya panas tinggi. Hiruma berusaha tidak peduli. 'Menyusahkan saja bocah sialan ini! Hari ini aku akan latihan.' Dia langsung beranjak dari tempat tidur yang sedang ditiduri Yurika untuk bersiap – siap untuk latihan. Sebelum berangkat dia mendengar.
"Papa..." itu suara yurika yang sedang mengigau.
Tapi Hiruma berusaha tidak mempedulikannya. Dia langsung pergi keluar apartemennya.
_Di Jalan_
Dalam perjalanannya Hiruma langsung merasa khawatir kepada Yurika, dia langsung menghubungi ke semua anggota DDB agar mereka latihan tanpa dirinya, dan dia langsung balik ke apartementnya lagi.
_Apartement Hiruma_
Hiruma yang sudah di apartementnya lagi,langsung ke kamarnya melihat muka Yurika makin pucat. Dia bingung harus apa. Di benaknya teringat dengan Mamori. Hiruma langsung menelefon Mamori dengan ponselnya.
KLIK_
Tuuut... tuuutt... Suara telepon belum diangkat.
'lama sekali Menejer Sialan itu' dalam hati Hiruma yang tidak sabar langsung menutup telponnya karena lama diangkat.
Tak lama kemudian
Tlit.. tlit.. tlit..
Klik_
"ada apa hiruma-kun?" suara lembut Mamori bertanya.
"kau harus ke apartement ku, Menejer Sialan! Nanti aku sms alamatnya." Hiruma khawatir.
Klik_
Dia langsung sms alamat apartementnya.
.
.
Tok tok tok..
Hiruma langsung membuka pintunya.
" Hiruma-kun..." kata2 Mamori terpotong.
"Cepat kau ke kamarku, bocah aneh itu sakit." Hiruma langsung menggeser badannya menunjukan kamarnya.
"Apa Yurika sakit?" muka Mamori langsung khawatir. Dan langsung ke kamarnya Hiruma.
Mamori langsung melihat Yurika yang mukanya sudah pucat sekali. Dan memegang kening dan pipinya ternyata panas sekali.
"Hiruma, cepat kau ambilkan wadah sedang di isi air es terus masukan es batu yang banyak dan handuk kecil yang bersih." Mamori langsung menyuruh Hiruma dengan muka yang sangat cemas. Hiruma langsung melakukannya tanpa protes apa pun.
Dengan cepat Hiruma membawakan yang diperintahkan Mamori. Mamori langsung memasukkan handuknya ke dalam wadah yang sudah terisi itu diperas dan langsung meletakannya ke kening Yurika. Hiruma hanya diam dan melihat adik tirinya itu dengan muka yang cemas.
"kau apakan dia, Hiruma-kun?" Mamori langsung bertanya dengan sinis.
"Aku tidak apa-apakan dia, Menejer Sialan!. Dia tadi malam hanya menangis di balkon itu dan tertidur. Dan aku juga baru tau tadi pagi dia tertidur disitu." Hiruma menjelaskan agak kesal karena Mamori seperti menuduhnya telah melakukan sesuatu dengan Yurika.
Hiruma langsung keluar dari kamar dan duduk di ruangan serbaguna (bisa buat ruang tamu dan bisa dibuat ruang santai namanya juga apartement). Mamori langsung mengikutinya dan duduk di sampingnya agak jauh.
"Aku rasa bocah aneh itu jiwanya rapuh." Hiruma langsung membuka pembicaraannya.
" Ya memang dia seperti itu, semenjak papanya meninggal saat dia umur 8 tahun. Dia sempat sakit di rawat dirumah sakit selama seminggu lebih. Setelah dia sembuh , dia di bawa ke rumahku supaya dia bisa sedikit melupakan kesedihannya. Dia sering bermain denganku , Sena, dan riku selama dia ada disini. Yah walaupun dia banyak ulahnya. Tapi aku rasa dia hanya mencari perhatian. Mamanya juga semenjak papanya meninggal sering keluar negeri mengerjar karirnya untuk menambah materi. Jadi dia seperti kesal dengan mamanya." Mamori menceritakan keadaan Yurika sebenarnya.
Hiruma hanya diam dan seperti biasa memainkan laptopnya. 'Dasar Hiruma-kun, mendengarkan aku apa tidak si!.' Mamori menggerutu dalam hati setelah melihatnya seperti itu. Karena mamori agak kesal, tanpa bicara apa-apa kepada Hiruma yang sedang asik memainka laptopnya karena tak mau ada keributan takut Yurika terganggu, mamori langsung kekamar melihat keadaan Yurika dan mengganti kompresannya sampai berulang – ulang kali.
" Mamori-chan.." yurika memanggil mamori dengan suara yang lemas.
" Eh, kau sudah bangun. Ini minum air putih dulu biar tidak dehidrasi dan bisa menurunkan sedikit demi sedikit panas badanmu." Mamori langsung memberikan gelasnya lalu membantu yurika untuk duduk agar yurika bisa minum.
"Kalian berdua mau makan apa? Biar nanti aku belikan." Hiruma menawarkannya yang tiba-tiba sudah di depan pintu kamarnya.
" Kalau Yurika-chan cukup bubur saja, kalau aku puff cream saja yaa." Mamori menjawab dengan senyum manisnya. Yurika hanya diam saja melihat tingkah mamori.
"Ch, kue aneh itu lagi, Menejer Sialan!." Dia langsung berjalan keluar apartementnya. Mamori langsung mayun karena kue kesukaannya di bilang aneh.
Tak lama kemudian Hiruma sudah pergi jauh dari apartemennya.
"Oh iya, aku lupa bilang beli obat untuk mu Yurika-chan." Mamori sambil mengambil handphonenya untuk menelpon hiruma. Yurika hanya melihat Mamori sambil tiduran dan dalam hatinya 'Mamori-chan dekat sekali dengan Hiruma. Kayanya dia tidak takut sama sekali sama setan yang satu itu. Malah sikapnya lembut sama setan itu. Yah, walau mereka katanya suka bertengkar.'
.
Tlit..tlit..tlit...
Hiruma yang sedang membeli bubur adik tirinya itu dan ditangan satunya ada bungkusan kue puff creamnya Mamori. Dia langsung mengambil handphone di sakunya. Dan melihat panggilan namenya Manager Sialan.
"ada apa lagi Menejer Sialan?!" dengan muka pokernya itu menjawab telponnya.
"Maaf Hiruma-kun, aku lupa bilang beli obat deman di toko obat ya." Suara Mamori yang lembut minta tolong.
"CH, menyusahkan sekali kau ini Menejer Sialan !" Hiruma langsung kesal dan mengularkan 1 urat kesalnya, karena sebelumnya tidak ada yang menyuruhnya selain Mamori kali ini.
" Maaf, tolong ya Hiruma-kun." Mamori memohon.
Tanpa bicara apa- apa Hiruma langsung mematikan handphonenya.
"Sudah belum tukang bubur sialan !" hiruma berbicara tukang bubur dengan m wajah yang menakutkan.
"i..i..iya buburnya sudah." Tukang bubur itu menyerahkan bubur itu sambil gemetaran. Hiruma langsung mengambilnya dengan kasar. Lalu dia melihat tidak jauh dari sana ada toko obat, dia langsung pergi kesana.
.
_Apartement Hiruma_
Dengan suasa yang sepi dan sudah hampir malam di apartement Hiruma. Mamori dan Yurika tertidur. Mamori tertidur duduk dengan kepalanya di pinggir tempat tidur dekat Yurika dan Yurika tidur di tempatnya yang tadi.
Hiruma yang sudah di apartementnya langsung melihat ke kamar, mereka berdua sudah tertidur. Hiruma langsung menyolek Mamori dengan kamar agak gelap, karena kamarnya hanya memakai lampu tidur hingga tubuh Hiruma berbayang dengan mata yang menyala. Mamori terbangun dan langsung melihat kebelakangnya.
"AAAAAAAAAAA...!" Mamori berteriak dan ketakutan hingga terjatuh dari tempet duduknya. "Siapa kau setan!" Mamori sambil memejamkan mata dan duduk di lantai.
"kekeke... ini aku Menejer Sialan! Kau kaget juga. Kekeke.." Hiruma langsung nyengir seperti setan dan menyalakan lampunya kamarnya. Mamori langsung membuka matanya.
"Dasar setan !" Mamori yang tadi duduk dilantai langsung duduk di bangku yang tadi dia duduki dangan muka kesal.
" kekeke. Itu sudah aku belikan semua yang kau bilang, Menejer Sialan!." Hiruma masih nyengir kaya setan.
Yurika langsung membuka matanya karena suara berisik mereka berdua dan membangun dirinya untuk duduk.
"Kalian ini kenapa? Berisik sekali." Yurika sambil mengucek-ngucek matanya.
"Tadi ada setan!." Mamori kesal. "Sudah aku ambilkan buburnya dan kau makan biar cepat sembuh." Mamori langsung tersenyum kepada Yurika. Mata Yurika langsung melihat keluar kamar dan melihat hiruma, 'pasti dia setannya' Yurika langsung menghela nafas.
Mamori yang sedang menyalin bubur ke mangkuk langsung lihat ke Hiruma yang sedang memakan permen karet dan memainkan laptopnya. 'Apa dia tidak makan' dalam hati mamori. Mamori langsung masuk ke kamar dan mau menyuapin Yurika.
"Sudah Mamori-chan aku bisa makan sendiri, aku juga sudah tidak begitu lemas." Yurika menolak suapan Mamori. Mamori langsung tersentak.
"Oh ya sudah, di habiskan ya buburnya, abis ini kau minum obat, obat dan minumnya sudah ku letakan di meja tempat tidur ya." Mamori langsung tersenyum.
"oke." Yurika juga tersenyum.
Mamori langsung keluar kamar lalu mengambil puff creamnya. Dan duduk di samping Hiruma agak jauh sambil memakan puff creamnya.
"hiruma-kun, besok kau akan latihan?" mamori bertanya dengan hati hati.
"Hm, jika bocah aneh itu sudah sembuh aku akan latihan, jika tidak aku tidak latihan. Menejer Sialan, kau bilang pada bocah – bocah sialan itu untuk latihan sendiri dulu." Hiruma Sambil menguyah permen karetnya itu dan bermain dengan laptopnya.
Hening sejenak. 'Hiruma bertanggung jawab juga dia' mamori berbicara dalam hati sambil tersenyum.
" Eh, Menejer Sialan! Kau tidak pulang." Hiruma melirik mamori yang sedang memakan puff creamnya hampir habis.
"Oh iya ya, sudah larut ternyata. Tapi Yurika apa sudah tidak apa apa." Mamori sambil melihat jam di tangannya.
" Ku rasa bocah aneh itu sudah agak sembuh. Sudah kau pulang saja." Hiruma Masih pada posisinya.
Mamori langsung berdiri dan membuang bekas makanannya ke tempat sampah lalu ke kamar melihat Yurika, ternyata Yurika sudah tidur lagi. Buburnya sudah habis dan obatnya sudah diminum. 'anak yang tidak manja ternyata.' Dalam hati mamori sambil tersenyum.
" Ya sudah aku pulang ya Hiruma-kun." Mamori membuka pintu.
" Hm." Hiruma masih dalam posisinya tapi melirik Mamori yang mau pulang. Mamori hanya tersenyum dan menutup pintunya dan pulang.
Setelah mamori sudah pergi, hiruma menutup laptopnya dan melihat Yurika lalu menghampirinya dan membelai kening sampai rambutnya dengan lembut sampai 3x sekalian ingin mengetahui suhu tubuhnya, ternyata suhu tubuhnya sudah turun dan muka Yurika sudah tidak pucat lagi.
"Jangan sakit lagi bocah aneh, kau akan membuatku khawatir. Entah kenapa aku bisa khawatir kepadamu pada hal aku baru kenal kau bocah aneh." Hiruma berbisik sambil melihat Yurika.
Hiruma langsung ke luar kamar dan berbaring di sofa yang nyaman.
_Di jalan_
Di malam ini mamori sedikit merasa lega karena dia meninggalkan sepupunya sudah mulai sembuh dan dia sudah tinggal sama orang yang baik dan bertanggung jawab. Yah, walaupun seperti setan.
"Mamori-neechan...!" ada yang memanggil Mamori yang pasti itu Sena. Mamori langsung berbalik ke belakang.
"Eh Sena.." mamori melambaikan tangan.
Tak lama Sena sudah di hadapan mamori.
" kau belum pulang Sena?" Mamori bertanya sambil tersenyum.
" Hehe, aku disuruh beli makanan sama ibu." Sena menggaruk garuk kepalanya sambil membungkuk.
" Oh, emangnya ibumu tidak masak?" Mamori bertanya dengan heran.
" Masak, tapi sudah habis karena sebelum aku pulang ada tamu jadi di makan mereka. Hehe." Sena nyengir nyengir.
" Tadi gimana latihannya tidak ada hiruma?." Mamori langsung bicara serius. Sena langsung melihat mamori.
" Latihannya seperti biasa, Mamori-neechan. Dan tidak ada yang berubah. Memangnya kenapa Hiruma bisa tidak ikut latihan dan kenapa tadi kau tidak ada juga?." Sena menjelaskan dan bertanya kembali dengan muka yang serius juga.
" Yurika sakit." Jawab mamori.
" Klo Yurika sakit pasti kau merawatnya kan, makanya kau tidak ada. tapi apa hubungannya sama Hiruma?." Sena merasa heran.
" Hehehe. Iya aku merawat Yurika, klo Hiruma aku tidak tahu maksudku." Mamori dengan muka anehnya seperti menyembunyikan sesuatu. Mamori sengaja tidak mau memberi tahu takut Hiruma marah nanti di bilang mulut bocor lagi olehnya.
" Pasti kau habis dari apartment kakak tirinya Yurika ya?." Sena bertanya lagi dengan polos.
"Eh, eh, kenapa kau bisa tau?" Mamori dengan muka anehnya lagi.
" i.. iya aku tahu, soalnya kurita bilang klo Yurika pindah ke apartement kakak tirinya, pastinya dia sakit disanakan, makanya kau kesana." Sena menjelaskannya sambil menggaruk garuk kepalanya.
" iya benar." Mamori lega karena untungnya dia tidak langsung bilang klo kakak tirinya Hiruma, karena juga biar Hiruma tau sendiri.
" Mamori- neechan, Yurika akan pindah sekolah disini ya?" Sena bertanya dengan muka polosnya.
"Eh, iya akan pindah sekolah ke sekolah deimon, apa dia sudah mendaftar ya di sekolah kita?." Mamori sambil mikir.
" Apa dia akan sekolah di Deimon." Sena agak takut. Mamori melihatnya heran.
" Kenapa Sena? Kau takut dikerjai lagi." Mamori langsung menebak muka sena yang ketakutan.
"hehehehe..." sena menggaruk garuk kepalanya.
" Tapi dia tidak jahat Sena. Tetap baik dan mengakui perbuatannya." Mamori tersenyum
" Hehe.. iyaa." Sena menjawabnya heran.
" Ayo kita pulang Sena, kita sudah cukup lama disini." Mamori sambil berjalan.
" baik." Sena mengikutinya.
####
_Apartement Hiruma_
05.45am
Pagi ini Yurika sudah sehat dia sudah mandi. Sudah membuat makanan instan yang dibelikan oleh mamanya sehari sebelum dia sakit masih tersimpan di kulkas. Yurika melihat Hiruma masih tidur di sofa. Dia langsung membuka hordeng jendela dan jendelanya di buka hingga udara pagi yang segar masuk ke dalam apartement Hiruma. Dia langsung membuka pintu balkon dan berdiri disana sambil tersenyum melihat langit yang indah matahari sedikit lagi mau muncul.
"Adik tiri sialan!, ngapain kau di balkon? Nanti kau sakit lagi." Hiruma yang baru bangun melihat Yurika di balkon, takut dia sakit lagi. Yurika yang sedang berdiri langsung tersentak dengah panggilan 'adik tiri' yah walau ada embel embel sialan.
"Aku sedang menghirup udara segar di pagi hari saja, kakak tiri sialan." Yurika hanya tersenyum dan langsung menghampiri hiruma. Hiruma langsung tersentak kata katanya di ikuti.
" Kau berani terhadapku." Hiruma tersenyum hingga giginya tajamnya terlihat.
" Kenapa? Kan impas kalau berbicara dengan kau pakai sialan juga." Yurika tersenyum sinis yang berdiri di depan hiruma dengan melipat tangannya.
"Ch." Hiruma juga tersenyum sinis yang sedang duduk dengan melipat tangannya.
" Ahh... sudah lah... aku lapar. Lebih baik kau mandi dan kita makan sama sama makanan itu sudah menunggu untuk di makan." Yurika melepaskan lipatan di tangannya dan duduk berhadapan dengan hiruma.
" Dari mana makanan itu." Hiruma melihat makanan tersebut di meja makan kecil tersebut.
" Apa kau tidak membuka kulkas dari kemarin? Kan aku menyimpan makanan di kulkas itu. Mama dan ayahmu yang beli makanan itu." Yurika menjelaskan.
" Oh, yang aku tahu kulkas itu selalu kosong. Ya sudah, aku mau mandi dulu." Hiruma menjawabnya dengan malas dan langsung ke kamar mandi.
.
" Hei adik tiri sialan! Kau sudah dimeja makan saja." Hiruma negur Yurika. Keluar dari kamar mandi dan langsung duduk di bangku meja makan.
" hihihi, aku sudah tau pasti kau akan langsung ke sini." Yurika hanya nyengir dan melihat Hiruma yang sudah duduk.
Hiruma yang sudah duduk langsung mau melahap makanannya.
"Eh.. tunggu kita baca doa dulu. Agar makanan ini jadi bermanfaat." Yurika menghentikan tangan hiruma yang mau makan.
"Ahh.. aku lapar, bocah bodoh!." Hiruma kesal Yurika menghalangin dia makan.
" Walau kau setan, tapi kau tetap manusia yang mempunyai tuhan, kakak bodoh!." Yurika sinis.
Hiruma tersentak langsung diam dan melepaskan sendok dan meletakan tangannya di meja dengan malas.
" Nah gtu, ayo kita berdoa, ikuti cara aku berdoa." Yurika langsung menundukan kepalanya dan menggenggam kedua tangannya. Hiruma langsung mangikutinya walau agak kesal.
" Tuhan, semoga makanan ini bermanfaat dan selalu menyehatkan untuk aku dan kakak tiri ku ini. Amien." Yurika berdoa. Hiruma melihat Yurika berdoa dengan ikhlas.
"Ayo kita makan!" Yurika senyum semringah.
" Akhirnya makan juga." Bisik Hiruma.
.
Setelah mereka selesai makan, mereka langsung siap- siap untuk pergi latihan.
" Cepat adik tiri sialan!, aku kunci biar kau tidak bisa keluar !." Hiruma kesal karena Yurika lama.
" Iya sabar kakak tiri sialan, aku sudah selesai." Yurika langsung lari keluar.
Mereka langsung berjalan keluar apartement itu. Sepanjang perjalanan Hiruma dan Yurika hanya diam saja. Hiruma asik memainkan permen karet di mulutnya. Sedangkan Yurika hanya memainkan ipadnya.
" Hei kau adik tiri sialan, jangan mainkan ipadmu di depan umum, kau tidak tau disini banyak copet." Hiruma mengingatkan dengan gayanya yang cuek.
" Eh, iya kakak tiri sialan. Terima kasih." Yurika tersenyum dan memasuknya ipadnya ke dalam tas. Tapi Hiruma hanya diam dan cuek dengan muka pokernya .
_Club DDB_
Di ruangan ini terasa sepi karena Cuma hanya Mamori yang sedang bersih bersih, karena kemarin dia tak sempat membersihkan.
DREEKKK...
"Hai Mamori-chan, kau sudah datang pagi – pagi." Yurika tersenyum manis. Sambil memasuki ruangan club bersama Hiruma. Hiruma hanya diam saja.
" Ehh.. Yurika-chan, kau sudah sembuh. Apa kalian sudah makan?" Mamori juga tersenyum manis dan menawarkan kue puff cream yang terletak di meja.
" Kami sudah makan kok, Mamori-chan." Yurika tersenyum dan duduk.
" Lagi pula aku juga tidak suka kue aneh itu." Hiruma menyeletuk.
Mamori langsung mengeluarkan urat marahnya dan langsung mau memukul Hiruma dengan sapu tapi ditahan Yurika.
" Sudah Mamori-chan." Yurika menahan Mamori dengan muka heran. Tapi Hiruma hanya diam dan membuka laptopnya lalu memainkannya.
Akhirnya emosi Mamori sudah agak turun. Dia langsung duduk dan langsung melahap puff creamnya sendirian pada hal masih marah.
" Mamori-chan, latihannya masih lamakan dimulainya?" Yurika bertanya hati – hati.
" Ya masih lama sepertinya. Kenapa Yurika-chan?." Mamori yang sedang makan langsung berhenti makan.
" Aku hanya ingin melihat – lihat sekolah ini saja." Yurika menjawabnya polos.
" Nanti ada hantu sekolah ini yang mengikutimu, Adik tiri sialan!." Hiruma dengan muka setannya, menakuti Yurika.
" Yah palingan setannya itu kau, Kakak tiri sialan!" Yurika menjawabnya dengan sinis. Dan langsung pergi.
" APA!." Hiruma langsung mengeluarkan urat marahnya dan mengeluarkan senjatanya dan menembakkannya ke atas.
DER..DER..DER..DER...
Yurika manghiraukan dan pergi ke gedung sekolah deimon. Mamori yang hanya jadi penonton mukanya langsung heran padahal kan dia setan kenapa dia mesti marah.
.
Yurika melihat – lihat ruangan yang ada di sekolah deimon dan memfotonya, dan melihat – lihat lagi. Dia menemukan suatu ruangan yang agak besar. Disana ada alat banyak musik, alat lukis, dan lantainya untuk berdansa dan juga banyak dinding berkaca.
Yurika melihat piano, dia langsung menghampirinya dan duduk disampingnya. ' sudah lama aku tidak memainkan piano walau sudah 3 minggu.' Dalam hatinya. Dia langsung memainkannya satu persatu notnya. " lagu thousand years enak buat dinyanyikan nih" Yurika langsung memaikannya.
...neng.. nong.. ning...
" The day we met
Frozen, I held my breath
Right from the start
I knew that I found a home for my heart
Beats fast, colors and promises
How to be brave?
How can I love when I'm afraid to fall?
But watching you stand alone
All of my doubts, suddenly goes away somehow
One step closer..."
Mamori yang sedang ngobrol dengan Suzuna yang baru datang langsung terdengar suara piano.
" ada suara piano dari mana ini?." Kuping Suzuna langsung mekar-mekar.
" kau mau liat Suzuna – chan, ikuti aku." Mamori mau nunjukan siapa yang bermain piano. Karena Mamori tau pasti yang memainkan piano itu pasti Yurika.
Mamori dan Suzuna langsung pergi ke ruangan seni. Setelah mereka sampai di sana dia sedang bermain piano sambil bernyanyi. Mamori dan Suzuna hanya terhanyut melihatnya dan mendengar Yurika menyanyi dengan merdunya.
" I have died every day waiting for you
Darling, don't be afraid
I have loved you for a thousand years
I'll love you for a thousand more
And all along I believed I would find you
Time has brought your heart to me
I have loved you for a thousand years
I'll love you for a thousand more
I'll love you for a thousand more
One step closer
I have died everyday waiting for you
Darling, don't be afraid I have loved you
For a thousand years
I'll love you for a thousand more
And all along I believed I would find you
Time has brought your heart to me
I have loved you for a thousand years
I'll love you for a thousand more..."
..neng..nong..ning...
tiba – tiba yurika menunduk dan mengeluarkan air matanya.
" Yurika-chan, suaramu bagus sekali !." Suzuna langsung berlari menghampiri Yurika yang dari tadi hanya menunduk.
" kau kenapa Yurika?" Suzuna heran.
" Eh, tidak apa – apa." Yurika tersenyum dan menghapus air matanya.
" Suara kau bagus, Yurika." suara Musasi tiba tiba muncul.
" Musasi, dari mana kau muncul." Mamori yang masih di depan pintu runag seni itu kaget.
" Hehehe, mereka juga sudah muncul dari tadi." Musasi menunjukkan semua anggota DDB di belakangnya. Dan mereka juga hanya nyengir nyengir aja.
DER...DER...DER...DER...
" HEI BOCAH BOCAH BODOH SIALAN! Cepat latihan!" tiba – tiba Hiruma dengan muka setannya sambil menembakan nembakkan senjatanya di luar ruangan seni itu. Anggota DDB langsung berloncatan menghindari peluru dari tembakan Hiruma kecuali Mamori dan Musasi langsung masuk ke kelas seni dan menutup pintu seni yang satunya karena ada dua pntunya.
Yurika langsung kesal dengan kelakuan Hiruma suka menembak sembarangan dan merusak suasana yang tadinya memuji dirinya. Yurika langsung mengeluarkan pistol yang ada disakunya, entah kapan dia menyimpan pistol disakunya.
..DER..
Tembakkan itu hampir mengenai kuping elips Hiruma. Akhirnya hiruma berhenti menembak.
"Apa apaan kau, Adik tiri bodoh sialan!" Hiruma mukanya berubah menjadi lebih menyeramkan langsung menghampiri adik tirinya itu sambil membawa senjatanya di pundaknya.
Anggota DDB yang tadi berloncatan tersentak "APA ADIK TIRI!" semuanya kaget. Termasuk Suzuna di dekat Yurika dan Musasi hanya biasa saja.
"Aku sudah bilang jangan menembak sembarangan, Kakak tiri bodoh sialan!" Yurika menjawabnya dengan tenang dan langsung berdiri dan berjalan melewati Hiruma yang mukanya sudah menakutkan itu. 'Percuma aku marah kepadanya dia, dia juga tidak akan menghiraukan.' Hiruma dalam hati dengan wajah poker Hiruma.
Yang lain hanya diam melihat kelakuan adik kakak tiri itu. Yurika langsung pergi untuk latihan di lapangan.
" HEI KALIAN CEPAT KE LAPANGAN!." Hiruma berbalik badan dan menunjuk dengan jari telunjuknya dan mukanya berubah menjadi setan lagi.
"Baik!." Mereka semua langsung menuju ke lapangan.
" Kalian berdua sama." Mamori mengatakan kepada Hiruma sambil tersenyum -senyum. Hiruma yang tadi nya mukanya seperti setan jadi heran kepada Mamori.
####
Ceritanya Agak Ngaur kali yaa... hehhhehe
dan Hiruma kok bisa baik disini yaa... Aneh bin Ajaib... hehehe...
Silahkan Di Review...
Tunggu Kelanjutannya :)
