Maaf baru mengisi lagi lanjutan ceritanya.
Terima kasih buat yang sudah Review dan memberikan masukkan untuk penulisan yang baik.
Maaf sekali lagi, jika tulisan yang ini masih ada typonya. Hehehe
Selamat membaca kawan
:)
_Lapangan_
"Gendut!, kau ajari Adik Tiri Sialan itu cara melempar bola." Hiruma yang sedang duduk dibangku dipinggir lapangan menyuruh Kurita.
Kurita tanpa bicara langsung mempersiapkan bola dan papan yang tengahnya berlubang besar ke lapangan.
"Kau tidak ikut latihan, Hiruma-kun." Mamori yang duduk disebelah Hiruma bertanya sambil mencatat sesuatu dikertas catatannya itu.
"Ch, aku mau lihat kemampuan melempar Adik Tiri Sialanku itu. Dan kau jangan lupa untuk mencatatnya, Menejer Sialan!." Hiruma sambil membalonkan permen karetnya.
"Eeehh, sudah kubilang berkali-kali jangan memakai kata Sialan, Hiruma-kun!." Kepala Mamori memanas. Tapi Hiruma tidak menghiraukan dan melihat Adik Tirinya itu melempar bola.
"Yurika-chan, lemparanmu bagus juga." Kurita memuji Yurika dengan senyumnya yang lebar.
"Hehehe, biasa saja, Kurita-kun." Yurika langsung menepuk badan Kurita.
"Memang biasa saja, Gendut!." Hiruma langsung menghampiri Kurita dan Yurika.
"Kau sehebat apa kalau melempar, Kakak Tiri Sialan!." Yurika melemparkan bola ke Hiruma. Hiruma menangkapnya.
"Kau menantangku!." Jawab Hiruma sinis.
"Ya!" Yurika balas dengan sinis.
Tanpa bicara apa-apa Hiruma langsung melemparkan bolanya tepat pada lubang di papan itu hingga papan itu sedikit bergerak karena tekanan angin dari bola yang di lempar.
JEPRET...
Yurika tiba-tiba memotret Hiruma yang sedang melempar dengan kamera SRL-nya. (Entah dari mana kamera itu langsung ada ditangan Yurika).
"Hebat!." Mata Yurika berbinar-binar melihat Hiruma melempar bolanya sangat kencang hingga papan itu sedikit bergerak.
"Ch!" Hiruma langsung pergi ke tempat Club DDB dengan muka yang agak kesal. Karena dia kurang suka untuk di foto.
"Hiruma-kun." Mamori langsung mengikuti Hiruma.
"You-nii marah padamu Yurika." Suzuna menghampiri Yurika yang masih memegang kamera.
Yurika tanpa bicara langsung pergi ke arah yang sama dengan Hiruma dan Mamori ke Club DDB.
"Eh?!" Wajah Suzuna langsung kesal karena tak dihiraukan dengan Yurika.
Sedangkan yang lain hanya melihatnya dan melanjutkan latihannya lagi.
.
.
.
_Ruang Club DDB_
"Menejer Sialan!, kenapa kau mengikutiku ke sini." Hiruma yang sedang duduk di tempat biasanya merasa risih di ikuti Mamori.
"Aku hanya ingin bicara padamu." Mamori langsung duduk di dekat Hiruma.
"Ch, mau bicara apa kau?" Hiruma langsung menghadap dan menatap Mamori dengan wajah pokernya.
"Apa kau ingin menjadikan Yurika sebagai anggota pemain Devil Bats." Mamori menatap Hiruma serius.
"Memang kenapa kalau iya?." Hiruma masih pada tatapannya kepada Mamori dengan wajah pokernya.
"Aku mohon jangan ya, Hiruma-kun." Mamori langsung memegang tangan Hiruma dan menggenggamnya yang ada di meja. Entah kenapa Hiruma kali ini tidak melepaskan tangannya dari Mamori.
Dari kejauhan dengan pintu terbuka, Yurika ternyata melihat Mamori memegang tangan Hiruma dan Hiruma tidak melepaskannya lumayan lama. Dengan kesempatan itu Yurika langsung memotret tanpa flash lalu di zoom tepat mereka berpegangan tangan. Karena tidak mau ketahuan, Yurika langsung pergi.
"Kau mau dia membantumu sebagai menejer juga." Hiruma baru melepaskan tangan Mamori dengan lembut.
"Iya itu maksudku. Jika dia jadi pemain, aku tidak mau Yurika terluka, karena Amerika Football sangat berbahaya dan dia juga perempuan." Mamori menjelaskannya dengan serius.
"Ch, kita lihat saja nanti." Hiruma langsung membuka laptopnya.
Mamori hanya diam dan melihat Hiruma yang hanya memainkan laptop.
_Apartement Hiruma_
Hiruma sampai apartementnya sudah larut malam karena dia sehabis dari latihan entah pergi kemana dan pulangnya membawa dua buah kantung plastik berisi makanan dan minuman.
Ruangan di apartement hiruma sangat gelap dan Hiruma heran apakah Yurika tidak pulang ke apartement ini. Hiruma langsung menyalakan semua lampu di apartementnya. Ternyata dia melihat Yurika sudah tidur di sofa.
"Kenapa kau tidak tidur di kamarku saja, Adik Tiri Sialan." Bisik Hiruma. Hiruma langsung melihat ada kertas di tangan Yurika dan langsung diambilnya.
'Kakak, aku boleh ya menempati kamar yang satunya lagi yang seperti gudang itu. Aku akan bersihkan besok. Terima kasih .'
Hiruma membaca surat itu sambil duduk di sofa yang satunya lagi. Lalu matanya melihat kamar yang satunya itu. Hiruma mengeluarkan pulpen dari tasnya dan menulisnya.
'Iya Adik Tiri Sialan, Kau boleh membersihkannya, nanti kau akan ku belikan aksesoris kamar.'
Hiruma langsung ke kamar yang seperti gudang itu. Hiruma langsung menyimpan barang rahasia dia ke dalam kerdus dan dia masukan ke lemari kamarnya. Tak lama kemudian ia tidur.
.
.
05.30am
Hiruma melihat jam yang ada disamping tempat tidurnya. Hiruma membangunkan dirinya untuk duduk dan melihat keluar kamar. Karena pintu kamarnya tidak tertutup, Hiruma melihat Yurika sedang mengepel lantai.
"Selamat Pagi, Kakak Tiri." Yurika yang melihat Hiruma sudah bangun, menyambutnya dengan senyuman.
"Ch!, tak usah sok manis kau, Adik Tiri Sialan!." Hiruma langsung buang muka kepada Yurika.
"Ya sudah lah." Yurika menjawabnya dengan malas dan dia melanjutkan mengepelnya.
Hiruma langsung beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
"HEI!." Yurika menegur Hiruma yang berjalan saja dengan cueknya sedangkan lantai masih basah.
"Dasar kau SETAN!" Yurika menggerutu hingga kepalanya seperti mendidih.
Tapi Yurika langsung mengontrol diri dan langsung menarik nafasnya dan mengeluarkannya. Lalu ia langsung menyelesaikan mengepelnya. Setelah lantainya sudah kering, ia langsung memasukan tas kopernya ke dalam kamar yang tadi seperti gudang sekarang sudah bersih dan sudah teratur peletakan lemarinya. Tapi sayangnya tidak ada tempat tidur.
"Kakak Tiri, aku mau ke pemandian air panas apartement ini ya." Yurika izin kepada Hiruma dari depan pintu kamar mandi, tetapi Hiruma tidak menjawab apa-apa dari kamar mandi.
"Apa kau sudah mati di kamar mandi, Kakak Tiri Sialan!." Yurika dengan berteriak, kesal karena permintaan izinnya tidak dihiraukan.
"Kau nanti yang akan mati, Adik Tiri Sialan!." Hiruma dari kamar mandi menjawab kesal dengan kata – kata Yurika.
Tanpa bicara apa – apa Yurika langsung meninggalkan kamar apartement Hiruma menuju pemandian air panas apartement itu.
.
.
_SMU Deimon_
" Hai, Mamori-chan." Yurika menyapa Mamori dengan senyum manisnya, yang baru datang di Sekolah Deimon.
"Hai, Yurika-chan." Mamori menyambutnya dengan senyuman.
"Kok, kau memakai seragam Mamori?. Memangnya sekarang sudah mulai sekolah?" Yurika heran Mamori memakai seragam, setahu dia hari ini masih libur.
"Aku mau rapat komite hari ini Yurika, jadi aku memakai seragam sekolah." Mamori menjelaskan dengan senyum manisnya itu.
"Oh, Terus bagaimana aku bisa masuk sekolah ini?." Yurika langsung menggaruk-garuk kepalanya. Mengingat dia belum mendaftar Sekolah Deimon, semetara libur sekolah dua hari lagi akan selesai.
"Kau harus mengisi biodata dulu pastinya. Ayo ikut aku untuk mengisi biodatamu, Yurika-chan." Mamori langsung menunjukkan tempat mengisi biodata tersebut.
Karena dua hari lagi liburan sekolah sudah mau selesai. Guru-guru dan Karyawan sekolah sudah masuk bekerja di sekolah itu, untuk persiapan kegiatan sekolah selanjutnya. Seperti rapat yang juga diikuti komite sekolah salah satunya Mamori.
_Depan Ruangan Administrasi_
" Ini Anezaki, kertas pendaftaran siswa baru." Karyawati berkaca mata dan sedikit gendut, keluar dari sebuah ruangan memberikan kertas pendaftaran kepada Mamori.
"Ohh, terima kasih ya bu. Sehabis mengisi kertas pendaftaran siswa baru. Sepupu saya harus ngapain lagi ya bu. Atau apa prsedur masuk ke SMU Deimon ini untuk pindahan ya bu." Mamori bertanya kepada karyawan itu karena dia tidak pernah mengurus siswa yang baru pindah ke SMU Deimon.
"Sehabis mengisi kertas pendaftaran itu, Sepupumu harus melunasi administrasi yang telah di tentukan di kertas itu, menyerahkan data-data saat ada di sekolah yang dulu dan riwayat siswa baru, lalu interview dan tes tertulis, barulah sepupumu terdaftar." Karyawati itu sambil membetulkan kaca matanya.
" Ribet sekali! Karyawan bodoh!." Hiruma tiba-tiba datang dari lorong dekat ruangan itu dengan membawa senjatanya dipundaknya.
" I..i..i..itu tidak ribet kok, Nak Hiruma." Karyawanti itu langsung berwajah ketakutan melihat Hiruma datang.
" Untuk Adik Tiri Sialanku ini, aku mau prosedurnya, mengisi kertas pendaftaran itu saja dia sudah terdaftar di SMU Deimon ini, mengerti kau Karyawan bodoh! Atau tidak...!." Hiruma mendekatkan wajahnya ke Karyawati itu dengan muka setan dan mengancam .
"I..i..iya." Karyawati itu langsung ketakutan dan masuk ke dalam ruangan.
"Hiruma-kun, kau keterlaluan." Mamori menyolek pundak Hiruma dengan wajah yang aneh.
"Kekekeke..." Hiruma langsung berjalan menjauhi Mamori dan Yurika.
"Sudah lah, Mamori-chan, jangan kau urusi setan itu." Yurika menyandar tembok seperti gayanya Hiruma.
"Yurika-chan." Mamori memandang kosong terhadap Yurika.
'PERHATIAN UNTUK SEMUA ANGGOTA KOMITE SEKOLAH UNTUK MASUK KE RUANG RAPAT'
Panggilan untuk Mamori sudah datang untuk rapat besar bersama seluruh penguruh Sekolah Deimon.
"Yaa~.. kalian berdua ada disini." Suzuna menghampiri Mamori dan Yurika.
"Eh, Suzuna-chan, untung kau datang, aku ingin rapat karena sudah ada panggillan tadi." Mamori seperti meminta tolong.
"Lalu kenapa Mamo-nee?" Suzuna bingung.
"Tolong temani Yurika-chan ya." Mamori langsung menengok ke Yurika. Ternyata Yurika sudah tidak ada.
"Mamo-nee, Yurika kemana? Bukannya tadi ada disini." Wajah Suzuna menjadi aneh dan bingung, setelah melihat Yurika tiba-tiba menghilang.
"I..iya kemana dia?" Mamori menunjuk ke arah dimana Yurika yang tadi disana dan wajah Mamori juga menjadi aneh dan bingung.
" Aku rasa dia sama seperti You-nii, Mamo-nee. Menghilang tiba – tiba." Wajah Suzuna masih seperti tadi.
.
.
_Ruang Club_
Sore ini ruang Club masih ramai dengan anggota DDB. Mereka masih mengobrol dengan kebodohannya masing – masing seperti Monta, Komusubi, Kurita, Sena, dan 3 HAHA bersaudara. Sedangkan Yuki, Mamori dan Suzuna mengobrol disisi ruangan yang berbeda membicarakan rapat yang tadi Mamori lakukan, tentang jadwal sekolah yang akan berubah. Sedangkan Musasi duduk saja menikmati kopi yang ada di mejanya.
"Yurika dan You-nii kemana ya? Kalian apa tidak melihat mereka." Suzuna tiba- tiba menanyakan kepada teman-teman yang lain, tentang dua bersaudara tiri itu.
"Iya sejak aku mau rapat tadi pagi. Yurika yang tiba – tiba menghilang dan Hiruma yang pergi entah kemana setelah mengancam Karyawan Administrasi itu. Mereka tidak keihantan lagi." Mamori menjelaskan kepada teman – temannya.
"Tapi Hiruma tadi ikut latihan bersama kami kok seperti biasa." Sena menjelaskan sambil diatas kepalanya terlihat, mereka latihan ditembak-tembak oleh Hiruma dan dikejar-kejar cerberos.
" Tak usah kau sambil mengingat saat kau latihan itu, Sena." Mamori langsung berwajah heran setelah melihat bayang diatas kepala Sena (emang kelihatan?).
BRAAKKKK...
Suara pintu dibuka dengan kencang yang pastinya adalah Hiruma. Hiruma langsung duduk di tempat biasanya di pojokan sambil membawa senjatanya dan menenteng bungkusan plastik ditangannya. Suasana diruangan itu langsung hening dengan kedatangan Hiruma.
Hiruma yang tahu tadinya ruangan itu ramai langsung hening. Dia langsung nyengir dan gigi runcing Hiruma terlihat.
"Hei! Menejer Sialan! Senin besok kita akan promosikan Deimon Devil Bats kepada siswa baru." Hiruma menunjuk ke Mamori.
"Heh, Aku dengan kau." Mamori sedikit terkejut.
" Iya bodoh." Hiruma berbicara dengan cueknya sambil membuka laptop kesayangannya.
" APA KAU BILANG!." Kepala Mamori langsung mendidih dan ingin memukul Hiruma dengan sapu yang sudah dipegangnya tapi ditahan oleh Sena dan Suzuna.
" Ini ku belikan kue puff cream untuk kalian." Hiruma langsung mengeluarakan bungkusan kue itu dari bungkusan plastiknya ke meja, dia beli kuenya juga banyak.
" Heehhh.., Banyak banget kue puff creamnya." Mamori dan Kurita langsung matanya berbinar-binar dan seperti ingin melalap kue puff crem itu semuanya.
Monta, Komusubi, Yuki, dan 3 HAHA bersaudara sama seperti Mamori dan Kurita. Sepertinya mereka sudah kelaparan.
"Sena, apa kau melihat Momo-nee yang tadinya marah jadi terhentikan marahnya hanya karena kue itu." Suzuna heran dengan wajah anehnya.
"Iya Suzuna." Sena juga heran dengan wajah anehnya.
.
.
.
_Depan Minimarket_
"Hai, Gadis cantik." Tiga orang seperti preman menghampiri Yurika.
"Mau apa kalian?!" Yurika menjawab dengan sedikit galak.
"Hmmm, galak juga gadis cantik ini." Salah satu dari tiga orang seperi preman itu menggoda Yurika.
"Jangan macam – macam kalian." Yurika mengambil posisi untuk berlari secepatnya hingga melepaskan dua kantung plastik ditangannya.
" Hei, kau pasti ingin lari ya." Salah satu dari tiga orang itu langsung menangkap Yurika. Tapi Yurika dengan cepat menghindar dan akhirnya lolos dari kerumunan tiga orang seperti preman itu.
"Hihihi, Kalian kalah cepat dari ku, tiga preman bodoh!." Yurika berdiri seperti menantang tiga orang itu.
"Sial, kau meledek kami! Walau kau perempuan tapi kau sudah berani kepada kami!." Tiga orang itu kesal dengan kata – kata Yurika.
Karena Yurika tahu mereka sudah mulai kesal, dia langsung kabur dengan berlari yang cepat.
"Hei, jangan kabur kau!." Tiga orang itu langsung mengejar Yurika dengan menaiki motor besar mereka.
"Sial, mereka memakai motor." Bisik Yurika dalam larinya.
Motor yang dikendari tiga orang itu sangat cepat, hingga Yurika terkejar oleh mereka. Yurika juga berusaha berlari secepat mungkin. Tapi karena Yurika sudah berlari – lari tanpa henti berpuluh – puluh meter, akhirnya staminanya menurun dan lari Yurika semakin lambat.
Di jalan dekat sungai, lari Yurika lama kelamaan semakin lambat, hingga salah satu motor dari 3 orang tadi hilang kendali mau menabrak Yurika, lalu orang itu membanting stir ke kanan tetapi masih bisa menyerempet Yurika, hingga Yurika terpelanting ke kiri dan Yurika terguling – guling kebawah hampir masuk sungai. Mereka bertiga mengerem motor mereka dan turun dari motor ingin melihat keadaan Yurika.
Keadaan Yurika dalam tidak sadarkan diri. Kepala Yurika tampak darah yang mengucur karena terbentur aspal. Tiga orang itu langsung kaget dengan keadaan Yurika yang parah. Keadaan wilayah sekitar sungai itu juga sepi tidak ada orang yang lewat sama sekali.
"Bagaimana ini? Apa kita akan menolongnya?"
"Tidak!, lebih baik kita kembali ke tempat kita."
" Ya, Aku juga tidak mau dikenai hukuman hanya karena ini."
Akhirnya mereka bertiga pergi seperti tidak ada dosa, meninggalkan Yurika begitu saja.
.
.
.
_Apartement Hiruma_
Hiruma yang sedang bersantai dikamarnya dan bermain dengan laptop kesayangannya, merasa ada yang tidak beres. Karena Adik Tirinya belum pulang juga padahal hari sudah larut malam. Hiruma langsung mengambil ponselnya untuk menelepon Mamori.
Tuutt... Tuutt... Tuutt...
"Ada apa Hiruma-kun?." Suara Mamori yang seperti bangun tidur.
"Ada Adik Tiri Sialan tidak di rumahmu?" Hiruma langsung menembakkan pertanyaan kepada Mamori.
" Tidak." Mamori yang sepertinya belum sadar benar langsung menjawab seadanya.
Hiruma langsung mematikan teleponnya.
_Rumah Mamori_
"ahh, dasar Hiruma mengganggu saja." Mamori langsung tertidur lagi setelah menerima telepon dari Hiruma.
.
Tiba – tiba mata Mamori terbuka dan kaget, lalu terbangun dari tidurnya.
"Apa? Hiruma menanyakan Yurika kepadaku berarti Yurika belum pulang." Mamori baru sadar maksud Hiruma menelepon tadi.
Mamori langsung meraih ponselnya lagi untuk menelepon Hiruma.
Tuutt..Tuutt..Tuutt...
"Hm." Hiruma menjawab dengan santai.
"Maksudmu apa menanyakan Yurika kepadaku? Apa Yurika belum pulang?." Mamori bertanya kepada Hiruma dengan panik.
"Iya." Hiruma menjawabnya lagi dengan santai.
"Kau harus mencarinya, Hiruma-kun." Mamori menyuruh Hiruma.
"Ini aku sedang mencarinya, cerewet!." Hiruma sudah mulai kesal.
"Aku akan membantumu mencari Yurika-chan." Mamori menawarkan dirinya.
"Bagus, aku sudah di depan rumahmu." Hiruma sudah berdiri bersandar ke tembok rumah Mamori.
Hiruma langsung mematikan telepon dari Mamori.
Mamori yang tidak percaya kalau Hiruma sudah di depan rumahnya, dia langsung melihat dari jendela kamarnya di lantai 2. Memang ternyata ada Hiruma di depan rumahnya. Mamori langsung buru – buru cuci muka dan ganti baju untuk mencari Yurika.
" Kita mencari Yurika hanya berdua saja?" Mamori yang sudah keluar rumahnya langsung bertanya kepada Hiruma.
" Aku sudah menyuruh bocah-bocah sialan itu untuk mencari Adik Tiri Sialan itu." Hiruma menjawabnya dengan cueknya.
" Pasti dia menyuruhnya dengan mengancam anak-anak itu. Kasihan." Mamori berbisik sambil melirik Hiruma, lalu dia menghela nafas panjang. Hiruma ternyata melirik ke Mamori yang sedang menghela nafas tanpa mengetahui bisikkan Mamori.
.
.
_Minimarket_
" Apa kau melihat orang ini, pak." Mamori bertanya kepada karyawan Minimarket tersebut sambil memperlihatkan foto Yurika yang ada ponselnya.
" Sepertinya kurang lebih dua jam yang lalu dia kesini untuk berbelanja. Lalu aku melihat dia berlari menghindari anak-anak nakal yang biasa menongkrong di depan toko ini dan meninggalkan belanjaannya lalu dia dikejar oleh anak-anak nakal itu pakai motor. Ini belanjaan anak perempuan itu." Karyawan itu menjelaskan dan memberikan belanjaan itu ke Mamori.
" Apa kau tau ke arah mereka pergi." Wajah Mamori cemas.
" Aku melihatnya tadi ke arah kanan." Karyawan itu memberi arah.
" Terima kasih pak." Mamori langsung keluar Minimarket itu dengan muka cemas.
Mamori yang terlihat buru-buru tidak melihat Hiruma yang ada di depan Minimarket itu dilewatkan.
" Heh, Menejer Sialan, kau mau kemana?" Hiruma langsung memanggil Mamori yang berjalan terburu-buru. Mamori pun berhenti dan menghadap Hiruma.
" Aku ingin cepat mencari Yurika." Wajah Mamori masih cemas tanpa melihat Hiruma.
" Jelaskan dulu kenapa dia? Sampai wajahmu cemas sekali." Hiruma mengangkat dagu Mamori agar memandang dirinya.
" Yurika dikejar-kejar anak nakal yang biasa nongkrong disini, Hiruma-kun." Mamori langung meneteskan air matanya.
Hiruma tersentak dan dia tahu siapa yang biasa nongkrong disini.
" Ayo kita mencari Yurika." Hiruma langsung berjalan dan menggandeng Mamori. Mamori langsung kaget, karena baru kali ini dia digandeng oleh seorang Hiruma.
.
Tlit... Tlit... Tlit...
Hiruma langsung berhinti dari jalannya dan mengangkat telpon di ponselnya.
"Ada apa Orang Tua Sialan?." Hiruma menerima telepon dari Musasi.
" Aku dan Kurita sudah menemukan Yurika. Daerahnya dipinggir sungai." Musasi dengan suara yang cemas.
" Baik, aku akan ke sana." Hiruma langsung berjaan dengan cepat.
" Siapa yang telepon, Hiruma-kun?." Mamori yang berada disampingnya bingung.
" Sudah kau ikut saja." Hiruma malas menjelaskan.
.
Sesampainya Hiruma dan Mamori dipinggir sungai itu. Anggota DDB sudah berkumpul dengan muka yang prihatin. Dan dari kejauhan Hiruma dan Mamori melihat Yurika terbaring dan keningnya sudah berlumuran darah. Melihat keadaan Yurika yang seperti itu, Hiruma langsung berlari dan juga Mamori.
" Hiruma..." Kurita yang melihat Hiruma dengan muka yang sangat cemas ingin menjelaskan tapi terpotong.
" KENAPA KALIAN DIAM SAJA! CEPAT BAWA ADIK TIRI SIALAN INI KE RUMAH SAKIT!." Hiruma yang cemas dan panik melihat keadaan Yurika langsung membentak teman-temannya.
" Yurika-chan!" Tangis Mamori terpecah dan langsung memeluk Yurika.
" A..Ano, Tapikan tidak ada kendaraan yang lewat." Sena menjelaskan dengan takut kerena melihat Hiruma yang menyeramkan.
" KAU BODOH! CEBOL SIALAN! LARI KAU KAN CEPAT, KAU BISA MEMANGGIL AMBULAN KE SINI!." Hiruma dengan kesal karena panik, membentak Sena dengan mata meletot kepada Sena.
" BAIK." Sena yang ketakutan langsung berlari dengan kecepatan cahaya memanggil ambulan dari rumah sakit.
Dengan cepat 10 menit ambulan sudah sampai ke pinggir sungai itu. Beberapa petugas rumah sakit langsung mengangkat Yurika ke tempat tidur yang bisa didorong dan langsung membawanya ke dalam ambulan. Ambulan itu pun langsung dengan cepat pergi ke rumah sakit.
Anggota DDB langsung berjalan menuju ke rumah sakit.
" Sudah Mamo-nee, Yurika-chan kan sudah dibawa ke rumah sakit." Suzuna berusaha menenangkan Mamori yang terus-terusan menangis. Tapi tetap saja Mamori menangis di rangkulan Suzuna.
.
.
_Rumah Sakit_
" Siapa keluarganya Yurika?" Seorang Dokter yang sudah mulai tua keluar dari pintu UGD.
Semua anggota DDB yang ada di ruang tunggu UGD diam saja, termasuk Hiruma yang hanya berdiri menyandar tembok membelakangi teman-temannya.
" Iya saya, Dok." Karena Hiruma tidak mengakui akhirnya Mamori yang mengakuinya.
" Kamu siapanya Yurika?" Dokter itu mengangkat kaca matanya yang tadi turun.
" Saya sepupunya, Dok. Bagaimana keadaan Yurika, Dok?" Mamori langsung menembakan pertanyaan kepada Dokter itu.
" Sepupumu lukanya tidak terlalu parah. Benturan dikepalanya tidak membuat kerangka kepalanya retak, dia hanya kehilangan darah yang cukup banyak tapi kami sudah transfusikan darah kepadanya." Dokter itu menjelaskan dengan membenarkan kaca matanya.
" Syukurlah, apakah saya bisa menemuinya?" Mamori berharap bisa bertemu Yurika di dalam.
" Sebaiknya jangan ditemui dahulu. Biarkan sepupumu istirahat, jika dia sadar baru kau menemuinya. Karena selain dia terbentur, dia juga kelelahan." Dokter itu melarang Mamori demi kebaikan pasiennya.
" Oh, seperti itu ya. Terima kasih, Dok." Mamori membukukkan badannya. Dokter itu hanya menganggukan kepalanya lalu masuk ke ruangan UGD.
" Yaa~.. Mamo-nee, Yurika sudah tidak kenapa – kenapa. Bagaimana kalau kita pulang?." Suzuna langsung merangkul Mamori.
" Tidak aku disini saja. Menunggu Yurika sadar. Kalian saja yang pulang ya. Terima kasih sudah membantu mencari Yurika. " Mamori tersenyum dan membukukkan tubuhnya.
" Tidak masalah MAX." Monta dengan gaya sok cool kepada Mamori.
" Yurika juga keluarga di Deimon Devil Bats kan. Pastinya kami peduli." Sena menyambung.
" Pasti itu... Haha... ha... haa..." Taki menyambung sambil memutar-mutar. Seperti biasa Suzuna langsung berwajah aneh melihat kakaknya seperti itu dan bilang 'Dasar kakak bodoh'.
Sedangkan yang lain hanya tersenyum kepada Mamori.
" Sebaiknya kau pulang, Menejer Sialan." Hiruma masih dalam posisinya membelakangi teman-temannya.
" Tapi aku ingin menunggunya." Mamori sedikit memohon.
" Aku bilang pulang, ya pulang. Pulang bersama mereka. Aku bisa menjaga dan menunggunya disini." Hiruma sedikit membentak.
" Baik. Kami pulang ya Hiruma-kun." Mamori langsung berjalan pulang bersama Anggota DDB dengan wajah kecewa. Karena tidak mau bertengkar di Rumah Sakit, akhirnya dia mengalah.
" Sena, sepertinya You-nii menangis hingga dia malu untuk berbalik badan kepada kita." Suzuna mendekat ke Sena dan berbisik kepada Sena sambil berjalan.
" eh, mungkin." Sena menengok Suzuna, wajahnya langsung bertatapan dengan Suzuna dan wajah Sena memerah, karena muka Suzuna dekat sekali dengan Sena.
" Yaa~... Sena, kenapa mukamu jadi merah?" Suzuna meledek Sena yang wajahnya tiba-tiba memerah sambil tersenyum semringah.
" Ahh, Tidaaak!." Sena yang merasa malu langsung lari. Dan Suzuna mengikutinya.
Sedangkan yang lain langsung heran dengan kelakuan Sena dan Suzuna. Saat seperti ini Suzuna masih saja meledek Sena.
Bersambung...
Silahkan yang mau Review...
:)
