Sudah dua minggu Sakura bersekolah disana. Sudah dua minggu itu pula Sasuke memperhatikannya.
Waktu istirahatnya dimanfaatkan Sakura untuk membaca buku di taman belakang sekolah. Ia sadar ada seseorang yang terus memperhatikannya.
"Hn, boleh aku duduk disini?" Tanya siswa berambut biru donker model pantat ayam.
"…" Sakura tidak menjawab pertanyaan Sasuke. Matanya tetap fokus dengan buku yang dibacanya.
"Aku anggap kau membolehkan aku duduk disini" Ujar Sasuke sedatar mungkin.
Beberapa menit mereka lalui dengan keheningan yang tercipta. Sakura sepertinya tidak terganggu akan kehadiran Sasuke dan sepertinya sangat fokus membaca. Sedangkan Sasuke, ia hanya memandang lurus sebuah kolam yang berada dihadapan mereka. Sebenarnya ia tidak habis pikir dengan Sakura. Hanya Sakura lah gadis yang bisa mencuekinya. Berbeda dengan gadis-gadis lain. Mereka pasti tidak henti-hentinya memandangi wajahnya itu dengan tatapan kagum. Tapi gadis ini benar-benar berbeda. Seseorang yang sangat anti sosial.
"Ehm, rambutmu sangat aneh" ujar Sasuke mencoba memancing Sakura bicara. Mungkin saja dia akan bicara kalau Sasuke mengejeknya.
"…" Tidak ada respon dari Sakura.
"Kulitmu sangat pucat seperti mayat hidup" katanya lagi.
"…" tetapi Sakura tak bergeming. Ia tetap fokus dengan buku dihadapannya.
"Cih! Kau memang menyebalkan. Apa bagusnya sih buku itu sehingga kau tak membalas perkataanku." Sasuke mulai kesal.
"…" lagi-lagi tak ada respon.
"ehm atau jangan-jangan kau tuli hah?"
Sakura menghentikan kegiatan membacanya. Tapi matanya tetap melihat kearah buku yang sedang dipegangnya.
"Atau jangan-jangan kau bisu hah?" Tanya Sasuke dengan nada kesal.
Pertanyaan tadi sukses membuat Sakura menghadap kearah pemuda itu. Seketika onyx dan emerald itu bertemu. Sasuke seakan-akan terhipnotis akan emerald itu. Emerald yang sangat indah. Setelah beberapa saat ia kembali tersadar. Ia menatap wajah cantik itu. Sasuke merasakan jantungnya berdetak dengan sangat kencang. Sakura hanya memandanginya dengan pandangan yang sulit diartikan.
Sakura pun menutup bukunya dan berdiri dari bangku taman itu. Sejenak ia menghampiri Sasuke yang masih berdiam diri. Ia kemudian membungkukan badan hendak membisikkan sesuatu ke telinga Sasuke.
"Aku tidak bisu Uchiha-san" katanya dengan suara pelan nan merdu.
Ia kemudian meninggalkan Sasuke yang kembali mematung. Mendengar suaranya saja sanggup membuat si Uchiha bungsu seperti ini. Wajahnya pun tanpa ia sadari memunculkan semburat merah yang tipis.
"Hoy Teme!" suara cempreng yang sangat ia kenal tiba-tiba mengganggu pendengarannya. Mendengar suara itu, Sasuke pun cepat-cepat menetralkan kembali detak jantungnya.
"Sedang apa kau disini? Dan bukannya kau tidak senang berada di tempat ini?" sederet pertanyaan dilontarkan untuknya.
"Hn" hanya kata itu yang berhasil ia keluarkan. Ia bingung harus menjawab apa. Kalau ia jujur, harga dirinya sebagai Uchiha akan jatuh.
"Dasar baka! Ayo kita ke kelas sebentar lagi pelajaran akan dimulai" ujar Naruto seraya menarik tangan Sasuke dan menyeretnya.
Dirumah keluarga Uchiha…
Seseorang pemuda tengah tidur-tiduran. Tangannya kebelakang menopang kepalanya. Tepatnya ia menjadikan tangannya menjadi sebuah bantal. Matanya menatap langit-langit kamarnya. Namun pikirannya terfokus dengan momen yang terjadi di taman sekolah. Sosok gadis yang sanggup mencuri hatinya itu kembali berada dalam pikirannya. Suara gadis itu yang terdengar merdu kembali terngiang di telinganya.
"Shittt! Kenapa aku jadi memikirkannya terus?"
"Arghhhhh" teriak Sasuke frustasi. Ia sangat benci dengan keadaannya sekarang. Ia terlihat begitu kacau karena seorang gadis pendiam dan misterius itu.
Tepat sebulan Sakura bersekolah di Konoha High School. Selama sebulan itu pula ia merasa diperhatikan oleh Uchiha Sasuke.
Bel tanda pulang berbunyi dengan sangat merdu. Mungkin itulah anggapan bagi seluruh murid KHS yang sudah sangat lelah karena seharian mereka dicekoki oleh pelajaran yang sangat memusingkan dan sangat menguras tenaga serta pikiran.
Sakura segera membereskan meja buku-bukunya dan kemudian bergegas pulang. Ia memilih jalan pulang yang jalannya terdapat pohon-pohon yang berjejer rapi. Karena ia tidak ingin tubuhnya terpapar sinar matahari yang berlebihan. Sampailah ia di sebuah rumah yang bergaya Eropa yang terkesan mewah namun minimalis.
"Tadaima" ucap Sakura.
"Okaeri" jawab seorang perempuan yang ternyata adalah ibu Sakura, Mebuki Haruno.
"Hm, bagaimana Sakura apa kau sudah menemukan orang itu?" Tanya Mebuki langsung.
"Sudah Kaasan" jawabnya.
"Hm, kau harus bertindak cepat Sakura. Ulang tahun yang ke 18 nya kurang lebih sebulan lagi. Kau tidak mau menyia-nyiakan kesempatan emasmu itu 'kan Sakura?"
"Hm, iya Kaasan. Aku tahu itu" balas Sakura malas. Ia pun berjalan menuju dapur untuk minum. Ia menyeruput segelas cairan berwarna merah seperti darah.
"Kau harus mengurangi aktivitas keluar pada siang hari Sakura. Kauau tidak kulitmu akan rusak" nasihat Mebuki.
" Ya kaasan" jawabnya singkat.
"Apa perlu kaasan menjemputmu setiap hari" tawar Mebuki.
"Hm tidak perlu, mereka akan curiga kalau kaasan menjemput. Bisa-bisa rahasia ini terbongkar" jawab Sakura.
"Hm benar juga perkataanmu." Kata Mebuki.
Sakura pun beranjak dari dapur. Ia berjalan menuju kamarnya. Dibukanya pintu berwarna coklat muda itu. Dan nampaklah sebuah kamar yang sedikit suram. Karena catnya berwarna abu-abu dan terkesan agak berantakan. Ia kemudian merebahkan tubuhnya di atas kasur berukuran sedang namun sangat empuk. Perlahan emeraldnya mulai bersembunyi dibalik kelopak matanya. Dan ia pun akhirnya terjatuh kealam mimpi.
'Apa aku bisa mengubah garis takdirku'
Bersambung...
Arigatou Gozaimasu :)
