Sakura dan Sasuke sedang berada di dalam mobil sport milik Sasuke. Dari tadi mereka hanya terdiam tanpa ada niat salah satu dari mereka untuk mengajak berbicara. Sakura hanya menatap kearah luar jendela mobil dengan tatapan yang kosong sementara Sasuke terlihat sangat fokus melajukan mobilnya.
"Sakura, rumahmu dimana?" Tanya Sasuke tiba-tiba.
"Hm… berhenti disini saja." Kata Sakura datar.
"Apa kau yakin? disini tidak terlihat sebuah rumah atau apa pun, yang terlihat disini hanya padang rumput Sakura."
"Aku hanya perlu berjalan sedikit saja. Karena rumahku dekat. Aku takut ibuku nanti marah jika melihat anak gadisnya diantar oleh laki-laki." Kilah Sakura.
"Ya sudah, baiklah"
Sebelum membuka pintu mobil Sakura sempat mengucapkan sesuatu kepada Sasuke.
"Arigatou Sasuke-kun" kata Sakura sambil tersenyum tipis. Ini adalah peristiwa yang langka bagi Sasuke. Bagaimana tidak, Sakura yang ia kenal tidak pernah tersenyum tapi tadi Sakura tersenyum kepadanya walaupun senyum yang sangat tipis. Dan ditambah lagi Sakura memanggilnya dengan suffix-kun. Sasuke membalas dengan senyuman tipis juga.
Setelah dirasa mobil Sasuke sudah pergi menjauh, Sakura pun berjalan kea rah padang rumput. Semakin jauh dia berjalan semakin terlihatlah rumah minimalis namun terlihat mewah.
"Tadaima" ucap Sakura sambil membuka pintu rumahnya.
"Okaeri" balas ibunya dengan tersenyum lebar. Senyuman yang mengandung arti yang tersirat.
"Selamat ya anakku, mimpimu sebentar lagi akan terwujud." Ujar Mebuki sambil memeluk anaknya. Mebuki telah mengetahui kalau anaknya ini sudah menjadi pacar Sasuke Uchiha.
Sakura membalas perkataan ibunya dengan tersenyum lembut.
"Ohayou Sakura" sapa Ino.
"Ohayou" balas Sakura singkat. Ya mereka berdua datang sangat pagi sekali. Sakura memang sudah biasa datang pagi-pagi sekali. Tapi si Yamanaka Ino ini jarang sekali datang sangat pagi bahkan tidak pernah. Entah apa yang membuat gadis berambut pirang ini datang sangat pagi.
"Ohya Sakura. Ajarin aku PR matematika ya, please. Aku sangat tidak mengerti" kata Ino sambil membawa bukunya ke tempat duduk Sakura. Oh pantas saja Ino datang pagi-pagi, rupanya ia minta diajarin pr.
Dengan malasnya Sakura mengajari Ino. Tapi Sakura mencoba bersabar dan menjawab semua pertanyaan yang diajukan oleh sahabat barunya ini.
"Apa kau sudah mengerti, pig?" Tanya Sakura.
Ino mengangguk. Tapi tunggu dulu, rasanya ada yang salah dengan perkataan Sakura tadi.
"Eh apa maksudmu memanggilku pig hah?"
"Hanya bercanda. Kau ini terlalu sensitif sekali" jawab Sakura enteng.
"Dasar jidat!"
"Bukannya kau juga punya jidat, pig?" Tanya Sakura sambil menyenderkan tubuhnya di kursi.
"Iya! Tapi jidatku tidak selebar punyamu tau!" kata Ino.
"Hm… terima kasih atas pujianmu" jawab Sakura.
"Dasar jidat! Kau sangat menyebalkan" Ino cemberut. Sedangkan Sakura hanya menyeringai.
Semakin siang, semakin banyak murid-murid berdatangan. Keadaan kelas 12-A yang tadinya sepi sekarang menjadi ramai. Apalagi ditambah suara Naruto, Kiba, Lee dan Chouji yang sedang asyik main kartu.
Seorang siswa berambut raven memasuki kelas. Sekilas ia melirik seorang siswi berambut yang senada dengan warna bunga sakura yang sibuk membaca novel. Tetapi siswa itu memilih untuk tidak menegur gadis itu.
Sakura tahu kalau yang datang adalah Sasuke dari teriakan fansgirlnya itu yang dengan suara cemprengnya meneriaki Sasuke. Ia sangat bingung kenapa Sasuke sama sekali tidak menegurnya. Sebenarnya ada apa ini? Itulah yang ada dipikiran Sakura.
Sasuke duduk di bangkunya dengan tenang menunggu bel tanda masuk yang akan berbunyi sekitar 15 menit lagi.
"Hey Teme!" panggil Naruto sambil melambaikan tangannya.
"Hn, apa Dobe?"
"Ayo main kartu bersama!" ajak Naruto yang sedang duduk di pojok kanan bersama Kiba, Lee, dan Chouji.
"Aku tidak mau" tolak Sasuke dingin.
"Ya sudah" dengus Naruto.
Hinata yang sejak dari tadi memperhatikan Sasuke, kini mulai beranjak dari tempat duduknya menuju tempat duduk Sasuke dengan modus minta diajarin PR.
"S-sasuke-kun" panggil Hinata dengan pelan.
"Hn?"
"Tolong ajarin aku PR ya Sasuke-kun. Aku tidak mengerti"
Sasuke pun mengambil buku Hinata sedangkan Hinata berjalan menuju kursi di sebelah Sasuke untuk duduk. Itu adalah tempat duduk Naruto. Kebetulan Naruto sedang mengungsi ke tempat duduk Lee dan Chouji, otomatis tempat duduk di sebelah Sasuke kosong. Hinata mencuri-curi kesempatan untuk berdekatan dengan Sasuke.
Walaupun Sakura terlihat fokus membaca novelnya. Namun ia tahu apa yang dilakukan Hinata dan Sasuke dari sudut matanya. Dari pojok kelas, terlihat pemuda berambut blonde memandang Sasuke dan Hinata dengan pandangan yang sulit diartikan.
Entah kenapa sakura menjadi kelasnya semakin panas. Ia pun memutuskan untuk keluar kelas sambil membawa novelnya.
"Mau kemana, jidat?" Tanya Ino seketika.
"Keluar" jawab Sakura datar.
Sejenak mata beriris onyx tersebut menatap punggung gadis itu yang kian menjauh dan kemudian menghilang dibalik pintu kelas.
Sekarang Sakura berada di atap sekolah. Dari sana ia dapat melihat sebuah mobil sport yang sangat ia kenal menuju parkiran sekolah. Seorang pemuda berambut hitam dan mengenakan seragam KHS keluar dari mobil tersebut.
"Sai" Sakura mengernyitkan dahi ketika melihat pemuda itu keluar dari mobilnya.
"Apa yang dia lakukan disini? Dan kenapa dia memakai seragam KHS?" Tanya sakura kepada dirinya sendiri.
Teeeettttt teeeettttt teeetttt
Bunyi bel masuk sudah terdengar. Sakura segera meninggalkan tempat itu. Ia terlihat sangat buru-buru. Nafasnya pun mulai tidak berarturan. Ia takut kalau Asuma sensei sudah berada di kelasnya duluan. Dan itu artinya Sakura harus siap-siap mendapatkan hukuman dari gurunya tersebut karena terlambat masuk ke kelas.
Ketika tangan pucat Sakura membuka pintu kelas, ia tidak melihat keberadaan Asuma sensei di dalam kelasnya tersebut. Sakura berjalan menuju tempat duduknya yang berada di pojok kiri kelasnya itu.
Tidak berapa lama, pintu kelas itu kembali terbuka. Dan menampakkan sosok Asuma sensei. Dibelakangnya terdapat siswa berambut hitam klimis.
"Kalian kedatangan murid baru. Silahkan perkenalkan dirimu!" perintah Asuma.
"Hm… Nama saya Shimura Sai. Saya pindahan dari London. Mohon bantuannya" kata Sai sambil berojigi.
"Perkenalan lanjutannya nanti saja. Nah, silahkan duduk di samping Sakura Haruno" perintah Asuma sambil menunjuk ke arah kursi yang berada di sebelah pojok kiri kelas.
Sai berjalan dengan tenang walaupun tatapan kagum dari semua siswi kelas 12-A kecuali Sakura Haruno ditujukan untuknya. Walaupun ia sebenarnya bertanya-tanya di dalam hati alasan kenapa pemuda ini berada disini.
"Hai Sakura-chan. Lama tidak bertemu" sapa Sai dengan sebuah senyuman.
"Hm" Sakura berusaha mati-matian agar tidak bertanya kepada pemuda ini tentang alasan mengapa ia berada disini karena yang sedang mengajar adalah Asuma sensei. Ia tidak ingin Asuma sensei menegurnya gara-gara ia mengobrol dengan anak baru itu.
Tidak terasa bel istirahat pun berbunyi. Sakura memutuskan untuk pergi ke atap sekolah. Ia sangat pusing dengan berbagai pertanyaan yang sedang berputar-putar di otaknya.
Sakura duduk termenung di atap sekolah. Sampai sebuah suara membuyarkan lamunannya.
"Hn, ternyata kau ada disini." Kata pemuda itu.
"Sasuke-kun?"
"Aku ingin bicara denganmu." Kata Sasuke datar.
"Sebaiknya kita menyembunyikan tentang status hubungan kita" lanjut Sasuke.
"Kenapa?" Tanya Sakura yang tak kalah datar.
Cukup lama Sasuke terdiam. Sakura hanya mengamati perubahan ekspresi wajah Sasuke.
"Aku tidak ingin kalau nanti fans-fans ku mengganggumu dan menyakitimu Sakura" kata Sasuke.
Sakura tahu kalau Sasuke berbohong terbukti dari matanya yang bergerak kearah kanan.
"Baiklah kalau itu maumu Sasuke-kun"
"Arigatou Sakura" kata Sasuke sambil melangkah pergi meninggalkan Sakura.
Jam istirahat telah usai tapi tidak ada tanda-tanda Kurenai sensei akan masuk. Sepertinya ia memang tidak masuk hari ini.
"Sai" panggil Sakura.
Sai pun menoleh ke arah Sakura sambil tersenyum.
"Ada apa Sakura-chan?"
"Langsung saja. Apa alasanmu berada disini?" Tanya Sakura yang tidak ingin berbasa-basi.
"Oh… Aku kesini disuruh oleh paman Kizashi" kata Sai dengan enteng.
"Kenapa?" Tanya Sakura yang belum puas dengan jawaban yang diucapkan Sai.
"Ehm… Kasih tau gak ya?" kata Sai dengan senyum jahilnya.
"Kau harus memberi tahuku Baka!" teriak Sakura sambil meninju lengan Sai.
"Aduh… Sakit tau!" Sai meringis sambil mengelus lengannya. Sakura pun memberi sebuah deathglare nya untuk Sai.
"Iya iya… baiklah. Aku disuruh paman Kizashi untuk mengawasimu"
"Kenapa ayahku menyuruhmu?" Tanya Sakura lagi.
"Ternyata kau banyak bertanya juga ya Saku-chan" rutuk Sai
"Baka! Aku sedang serius!" kata Sakura yang menahan emosinya.
"Gomen Saku-chan. Tapi aku tidak tahu alasannya kenapa Kisazhi-sama mengutusku"
"…" Sakura hanya terdiam. Ia sibuk memikirkan alasan kenapa ayahnya menyuruh pemuda ini untuk mengawasinya.
"Hey Sakura-chan. Sekian lama kita tidak bertemu, ternyata jidatmu ini malah bertambah lebar ya." Canda Sai. Ia tertawa geli melihat reaksi Sakura.
"Kau…" Sakura menggeram. Tangannya mengepal kuat hendak memukul pemuda yang berada di hadapannya ini.
"Apa Sakura-chan? Kau ingin berterima kasih atas pujian yang aku berikan hah?" Tanya Sai sambil menahan tawanya.
"Kau sangat menyebalkan! Tidak Lucu tau!" kata Sakura sambil mengerucutkan bibirnya.
"Hahahahaha" Sai tidak bisa menahan tawanya melihat tingkah Sakura.
Mereka tidak menyadari tatapan tajam dari seorang siswa yang sepertinya tidak senang melihat kejadian itu.
"Kapan Tuan akan berangkat ke Tokyo?" Tanya seorang pria berkacamata bulat.
"Aku akan berangkat nanti lusa. Segera siapkan barang-barang yang akan ku perlukan sewaktu aku berada di Tokyo!" perintah pria berambut hitam panjang itu.
"Baik Tuan Orochimaru" kata pria yang diketahui bernama Kabuto itu sambil membungkukkan badannya.
Bersambung...
Saya sangat berterima kasih dengan sebuah kritikan untuk fic saya ini. Sejujurnya saya tidak tahu kalau fic ini naik-naik terus di list FNI. Sumpah, saya tidak mengotak-atik ini fic selama seminggu lebih yang lalu semenjak saya update chapter 4. Ohya tolong jelaskan 'cara yang tidak elit' itu yang seperti apa ya? Jujur saya baru gabung sekitar 2 bulan yang lalu. Jadi saya belum tahu tentang seluk beluk situs ini. Saya mohon maaf jika fic saya ini mengganggu anda.
Jujur ini yang pertama kalinya saya dapat kritikan. Tapi saya yakinkan dalam hati saya kalau "sebuah fic belum lengkap kalau belum dapet kritikan". Ya jadi saya menerima nya dengan lapang dada aja.
Terima kasih juga buat yang udah baca dan review fic ini.
Arigatou Gozaimasu :)
