"Sakura… kau harus cepat sebelum waktumu habis" kata Mebuki yang menunggui anaknya sarapan.
"Aku tahu bu, sebentar lagi. Aku yakin aku pasti bisa." Kata Sakura yang sudah bergegas untuk pergi sekolah.
Ternyata Sai sudah menunggu di depan rumah Sakura dengan motor gedenya.
"Ohayou Sakura-chan" sapa Sai sambil memberikan senyum terbaiknya.
"Sai, kenapa kau ada disini?" Tanya sakura kaget dengan kehadiran Sai.
"Kau tidak membalas sapaanku Sakura-chan" kata Sai sambil mengerucutkan bibirnya.
"Oh ayolah Sai, kau bukan anak kecil lagi untuk ngambek seperti itu. Bahkan kau sudah terlalu tua" kata Sakura yang tidak tahan dengan tingkah Sai.
"Tapi kau bisa lihat sendiri penampilanku. Tidak terlihat kan kalau aku sudah berumur hampir 150 tahun." Kata Sai dengan seringainya.
"Hhh Kau sangat memuakkan Sai!" dengus Sakura.
"Akui saja Sakura. Bahkan kau juga walaupun umurmu sudah mencapai 120 tahun tapi kau terlihat masih tetap cantik" goda Sai
"Ahh sudahlah Sai! Sebaiknya kita berangkat. Nanti kita terlambat!" kata Sakura.
Mereka pun berangkat bersama ke sekolah. Ketika mereka memasuki pintu gerbang KHS, semua murid-murid menatap mereka dengan tatapan bertanya-tanya. Mungkin di dalam benak mereka bertanya 'apa mereka pacaran?'. Tapi di antara puluhan pasang mata yang menatap Sakura dan Sai, terselip pandangan tajam dari sosok pemuda keturunan klan Uchiha, siapa lagi kalau bukan Sasuke Uchiha. Tangan pemuda berambut mirip seperti pantat ayam ini pun mengepal kuat. Ia sangat marah dan cemburu melihat pasangan yang baru saja memasuki gerbang sekolah. Ia tidak sanggup menahan emosinya melihat sosok pacar rahasianya ini bergandengan bersama lelaki lain.
"Sedang apa kalian berdua?" Tanya Sasuke dengan nada sarkastis saat mereka sedang berjalan di koridor. Semua murid yang ada di koridor itu memperhatikan mereka bertiga. Dan ada juga murid-murid yang mulai berdatangan ke koridor untuk menyaksikan kejadian tersebut.
"Apa kau tidak lihat kami sedang berjalan Uchiha-san" kata Sai yang tak kalah sarkastis.
"Jangan pernah mengganggu pacarku Sai!"
"Pacarmu? Hah yang benar saja Uchiha-san? Kau jangan mengada-ada" kata Sai dengan nada mengejek.
"Ku peringatkan kau sekali lagi, jangan kau dekati pacarku!" kata Sasuke dengan nada yang meninggi.
"Hei sejak kapan Sakura-chan menjadi pacarmu? Kalau dia pacarmu, pasti seluruh murid-murid mengetahuinya apalagi fansgirlmu itu" Tanya Sai dengan pembawaan yang tenang.
"Hhh kami sudah berpacaran seminggu yang lalu" kata Sasuke yang merasa sudah menang.
"Tapi kenapa kau menyembunyikan status hubunganmu itu?" Tanya Sai
"Bukan urusanmu!" kata Sasuke sambil menarik lengan Sakura menjauh dari kerumunan orang-orang itu.
'Awas kau Sakura. Kau sudah mengambil Sasuke dariku' batin gadis bermata lavender yang berada di tengah kerumunan murid-murid itu.
.
.
.
Cukup lama Sakura dan Sasuke terdiam di dalam kelas yang sangat sepi. Mereka semua terlarut dalam pikiran masing-masing sampai bel tanda masuk berbunyi dengan nyaring.
Semua siswi menatap Sakura dengan tatapan sinis kecuali Ino walaupun ia juga tidak menyangka kalau Sakura berpacaran dengan Sasuke yang notabenya adalah pangeran sekolah. Ino menganggap ini adalah hal yang wajar-wajar saja. Ia tidak menaruh rasa curiga kepada Sasuke. Tapi entah kenapa ia merasa akan ada sesuatu yang buruk yang terjadi pada Sakura. Tapi gadis berambut pirang ini hanya bisa berdoa supaya tidak ada hal buruk yang terjadi pada sahabat pinky nya ini.
Bel tanda pulang berbunyi. Sakura sedang memasukkan bukunya dengan sangat lambat. Ia sengaja mengulur-ulur waktu supaya ia bisa pulang tanpa ada satu orang pun yang menatap sinis ke arahnya dan ia juga berharap agar Sasuke pulang lebih dahulu. Tapi ternyata Sasuke malah duduk berdiam diri di kelas. Sekarang mereka hanya berdua di dalam kelas. Sakura pun mempercepat memasukkan buku-bukunya dan segera bergegas menjauh dari Sasuke sampai sebuah suara baritone menghentikan gerakan langkahnya.
"Kau mau kemana?" Tanya Sasuke.
Sakura pun menoleh dan mendapati Sasuke yang sedang melihatnya dengan intens.
"Pulang" jawab Sakura singkat.
"Kau harus pulang bersamaku!" kata Sasuke lebih tepatnya perintah.
"Tapi aku bisa pulang sendiri"
"Aku tidak mau peduli, kau harus pulang bersamaku Sakura!" kata Sasuke dengan nada yang sedikit meninggi. Tampaknya sifat posesif Sasuke mulai muncul.
"Baiklah" Sakura menghela napas pasrah.
.
.
.
"Ano Sasuke-kun sepertinya aku harus turun disini saja" kata Sakura. Mereka sedang berada di jalan yang di tepi jalannya hanya terdapat padang rumput.
"Kenapa aku tidak boleh ke rumahmu Sakura?" Tanya Sasuke sambil menghentikan laju mobilnya.
"Aku takut nanti kau akan dimarahi oleh ibuku Sasuke-kun" jawab Sakura sambil menundukkan kepala. Ia tidak ingin jika Sasuke mengetahui kalau ia sedang berbohong. Ia tidak ingin kalau ibunya lepas kontrol dan langsung menghisap darah Sasuke.
"Oh begitu" jawab Sasuke dingin.
"Maaf Sasuke-kun. Ehm… Arigatou" kata Sakura sambil membuka pintu mobil.
Setelah Sakura turun, Sasuke langsung melajukan mobilnya itu. Ia melihat Sakura yang masih berdiri di jalan itu dari kaca spionnya.
.
.
.
Keesokkan harinya pada jam istirahat di atap sekolah…
"Apa kau benar mencintai Sakura, Teme? Apa kau serius dengan hubunganmu ini? Maksudku aku tidak yakin kalau kau memang benar-benar mencintainya. Aku tahu dulu kau seorang playboy, Teme" Tanya pemuda blonde bermata sapphire itu beruntun.
"Hn, aku mencintainya? Yang benar saja Dobe! Aku tidak pernah mencintainya. Aku hanya ingin tahu bagaimana ekspresinya jika aku hanya mempermainkan perasaannya. Kau tahu kan Dobe, ia bukanlah gadis seperti pada umumnya. Sangat datar. Aku hanya penasaran apakah dia akan menangis jika dia tahu aku hanya mempermainkannya layaknya gadis-gadis yang pernah aku pacari. Lagi pula saat bersamanya aku pun merasa tidak nyaman." kilah Sasuke.
"Sumpah demi Kami-sama tadi adalah kalimat terpanjang yang pernah kau ucapkan selama aku bersahabat denganmu, Teme." Ujar Naruto terkejut dengan penuturan sahabatnya itu.
"Hn, jadi apa masalahmu?" Tanya Sasuke datar.
"Hm, begini Sasuke. Dia sangat mencintaimu Sasuke. Walaupun dia tidak mengungkapkannya dengan kata-kata tapi apa kau pernah lihat matanya? Matanya memancarkan ekspresi cinta yang besar ketika dia mlihatmu. Apa kau tidak menyadari itu, Teme?" Tanya Naruto serius.
"Hn, aku terlalu sibuk. Bahkan aku tak punya banyak waktu hanya untuk sekedar menatap matanya" jawabnya ketus.
"Terserah kau sajalah Teme. Kau tahu karma akan selalu berlaku bagi semua orang" kata pemuda berambut jabrik blonde ini pasrah.
"Apa aku mengganggu kalian?" Tanya seorang gadis berambut berwarna seperti permen kapas itu tiba-tiba.
Naruto dan Sasuke tersentak ketika mendengar suara itu. Mereka pun menoleh bersamaan untuk mengetahui siapa pemilik suara itu. Mata mereka pun bertemu dengan pemandangan seorang gadis berambut merah muda yang sedang berdiri sambil menundukkan kepala.
"S-sakura" ucap mereka terbata-bata secara bersamaan.
"S-sejak kapan kau berada di sini Saku-chan?" Tanya Naruto kaget.
"Sejak dari tadi" jawab Sakura sambil menatap Sasuke dengan tatapan yang sulit diartikan.
"S-sakura a-aku…" Sasuke mencoba berbicara tapi kalimatnya telah dipotong oleh sakura.
"Aku kesini hanya untuk mencarimu Uzumaki-san. Tsunade-sensei memanggilmu di ruangnya sekarang juga." Kata Sakura datar. Matanya enggan menatap sosok pemuda berambut raven yang memandangnya dengan tatapan sulit diartikan.
"Baiklah" kata Naruto seraya berjalan meninggalkan atap sekolah.
Tidak lama kemudian, Sakura bergegas hendak meninggalkan tempat ini sekarang juga. Hatinya sangat sesak mendengar semua perkataan yang tadi tidak sengaja didengarkannya. Tapi sebuah tangan memegang tangan kanannya dengan erat seakan menghalangi gadis itu untuk pergi.
"Aku bisa menjelaskan semuanya Sakura." Kata Sasuke pelan.
Sakura hanya tersenyum pahit mendengar kalimat yang terlontar dari mulut si bungsu Uchiha ini. Ia mencoba menahan tangisnya dengan kembali memasang wajah datarnya seolah-olah tidak terjadi apapun. Ia pun mencoba melepaskan tangannya dari cengkeraman Sasuke.
"Aku tahu kau malu mempunyai pacar sepertiku. Aku tahu kau merasa tidak nyaman saat berda di sampingku. Aku hanya bisa meminta maaf Uchiha-san atas perbuatanku selama ini yang mengusik hidupmu."
"Sakura…" potong Sasuke tapi Sakura terus melanjutkan kalimatnya yang sempat terpotong oleh Sasuke.
"Jadi ini rupanya alasan mu. Pantas saja kau menyuruhku untuk menyembunyikan status kita." Kata Sakura dengan senyum pahitnya.
"…" Sasuke masih terdiam mematung.
"Anggap saja semua ini tidak pernah terjadi. Anggap saja hubungan ini tidak pernah ada. Dan anggap saja kalau aku juga tidak pernah ada Uchiha-san." Lanjut Sakura dengan suara bergetar. Sasuke tahu kalau gadis di hadapannya ini berusaha untuk menahan tangisnya.
"Maaf dan terima kasih" Ucap Sakura seraya membalikkan badannya dan berjalan meninggalkan tempat itu.
Perlahan-lahan tubuh Sakura semakin jauh dari pandangan Sasuke dan menghilang. Seketika itu Sasuke merasakan perasaan sakit dan sesak di dadanya.
"Maaf" kata Sasuke pelan.
Sasuke memasuki kelas 12-A. Sebenarnya ia sangat malas untuk belajar tapi apa boleh buat, Sasuke tidak ingin kalau ia dihukum karena membolos dari pelajaran. Sasuke bisa melihat Sakura yang sedang menangkupkan kepalanya di atas meja. Ia sangat ingin memeluk gadis yang ia cintai itu dan meminta maaf. Tapi lagi-lagi karena egoisme Uchiha yang diwarisinya itu, ia tidak jadi melakukan itu.
Bel pulang berbunyi.
"Sakuraaa!" panggil Ino.
Sakura menoleh ke sumber suara.
"Sakura, kau tidak apa-apa kan? Dasar Uchiha brengsek!" geram Ino.
"Hhh aku baik-baik saja Ino." Jawab Sakura pelan sambil memaksakan sebuah senyuman.
"Sakura…Ino… aku dan Sasuke-kun duluan ya." Teriak gadis berambut indigo itu sambil melambai-lambaikan tangan dan tersenyum mengejek. Sakura tahu kalau Hinata dibonceng oleh Sasuke.
"Dasar Uchiha sialan!" teriak Ino kesal.
.
.
.
"Tadaima" ucap Sakura lesu.
"Okaeri" jawab Mebuki dengan senyum mengembang di bibirnya. Namun senyum itu perlahan menghilang ketika ia melihat anak semata wayangnya pulang dengan wajah lesu.
"Kau kenapa sakura?" Tanya Mebuki heran akibat kelakuan anaknya ini.
Sakura hanya menggeleng-geleng. Dia pun langsung meninggalkan ibunya dan berjalan ke kamarnya dengan gontai. Mebuki mengikuti anaknya dari belakang. Ia sangat penasaran dengan kelakuan anaknya ini. Biasanya ia tidak memasang wajah yang suram seperti ini.
Ketika memasuki kamar Sakura. Ia melihat anaknya itu duduk sambil memeluk kakinya di atas kasur. Dan kepalanya ia tundukkan. Seperti mirip dengn ekspresi orang yang frustasi. Mebuki pun berjalan menuju kea ah anaknya itu. Lalu mengusap-usapkan tangannya ke atas kepala Sakura dengan lembut sarat akan kasih sayang.
"Kau kenapa Sakura? Certikan kepada ibumu nak apa yang sebenarnya terjadi" kata Mebuki pelan. Matanya sendu melihat kondisi anaknya yang seperti ini.
"Ibu…" Kata Sakura sambil memeluk ibunya dengan sangat erat.
"Ada apa Saku-chan?" Tanya mebuki seolah-olah mencoba menenangkan putri nya itu.
"A-aku aku menyerah bu. Aku putus asa. Ini tidak semudah yang kubayangkan. Ternyata dia hanya mempermainkan aku bu." Kata Sakura sambil menangis di dalam dekapan ibunya.
"Jangan pernah menyerah Saku-chan. Dia itu terlalu bodoh untuk jujur akan perasaannya sendiri" kata Mebuki.
"Tapi bu. Aku mendengarnya sendiri dari mulutnya kalau dia tidak mencintaiku. Aku akan mencoba berlapang dada untuk menghadapi semua ini bu. Tapi tolong kuatkan aku"
"Hm.. pasti ibu akan selalu menguatkanmu anakku. Tenanglah ibu akan selalu berada disampingmu" jawab Mebuki.
"Terima kasih ibu" ucap Sakura.
Bersambung...
Author mau ngucapin terima kasih bayak untuk readers yang udah baca dan udah kasih review. Author seneng banget sampe pengen joget-joget gak jelas diiringi musik harlem shake :D
Arigatou Gozaimasu :)
