Di dalam kamar, Sakura menatap langit-langit kamarnya. Ia tidak habis pikir, seharusnya misi menghisap darah Sasuke adalah hal yang sangat mudah baginya. Tapi apa boleh buat, ia terjebak pada perasaannya sendiri . Perasaan yang mendalam pada pemuda keturunan Uchiha itu yang menghambat langkahnya untuk menjadi manusia. Seharusnya jika ia tidak memiliki sebuah perasaan itu, ia pasti dengan mudah melakukannya. Menghisap darah seorang Sasuke Uchiha sampai habis sebelum batas waktu yang ditentukan untuknya berakhir.

Ia kembali teringat percakapan Sasuke dengan Naruto. Hatinya sangat nyeri saat mengingat kata demi kata yang terucap dari bibir pemuda itu. Sangat menyayat perasaannya. Walaupun Sakura seorang vampir yang terkenal dingin tapi ia juga memiliki perasaan seperti layaknya manusia biasa. Disaat dia berhasil merengkuh impiannya kembali takdir kembali mempermainkannya.

"Sakura" panggil Mebuki yag heran melihat anaknya tidak keluar dari kamar. Ia pun segera berjalan ke kamar anaknya dan melihat keadaan Sakura.

Cklek

Pintu kamar pun terbuka. Terlihat kamar yang bernuansa abu-abu. Mebuki melihat anaknya sedang berbaring terlentang dengan kedua tangannya menyanggah kepalanya. Mata emerald milik Sakura menatap langit-langit kamarnya dengan kosong. Sakura masih belum menyadari kehadiran ibunya sampai sebuah suara terdengar.

"Sakura" panggil Mebuki. Sontak membuat Sakura menoleh ke arah sumber suara.

"Kenapa kau belum bersiap untuk sekolah Sakura. Sai sudah menjemputmu." Kata Mebuki pelan sambil berjalan ke arah ranjang Sakura.

Sakura hanya menggeleng pelan. Ia sama sekali tidak berniat mengeluarkan suaranya.

"Ya sudah. Ibu sarankan sebaiknya kau jangan sampai terlarut dalam masalah ini." Ibunya pun mengelus pucuk kepala Sakura dengan penuh kasih sayang. Mebuki mengerti kalau purtrinya ini membutuhkan waktu untuk sendirian. Ia pun melangkahkan kakinya keluar dari kamar. Wanita ini menghampiri sosok pemuda yang dari tadi sudah berdiri di depan rumahnya.

"Sepertinya Sakura tidak ingin pergi ke sekolah hari ini, Sai. Maaf membuatmu menunggu terlalu lama."

"Tidak apa-apa bibi. Aku mengerti perasaannya. Ia membutuhkan waktu untuk menyendiri" Ujar Sai sambil tersenyum lembut.

Mebuki membalas senyuman Sai dengan sebuah senyuman. Kemudian Sai pamit untuk pergi.

.

.

.

Sasuke memasuki kelasnya yang mulai ramai. Matanya sekilas melirik kearah tempat duduk Sakura dan mendapati bahwa tempat duduknya kosong. Makhluk berambut merah muda itu belum juga datang. Padahal biasanya Sakura selalu datang pagi-pagi sekali. Ia pun duduk di bangku miliknya. Tenyata Naruto sudah datang duluan. Ia telihat sedang memejamkan matanya mencoba menghayati lagu yang sedang didengarkannya melalui earphone.

Sasuke merasa heran, biasanya Naruto memanggilnya. Tapi ini berbeda, Naruto terlihat sangat kusut dan lesu. Entah apa yang membuatnya seperti itu.

"Hei Sasuke!" panggil Naruto yang masih menundukan kepalanya. Terlihat dari tingkahnya, ia sangat frustasi.

"Hn"

"Jika seseorang yang kau cintai berpacaran dengan sahabatmu apa yang akan kau lakukan?" Tanya Naruto dengan nada pelan, tersirat sebuah kesedihan di dalamnya.

"Aku akan merelakannya" jawab Sasuke datar. Walaupun ia sangat heran dengan pemuda jabrik ini. Tumben sekali ia menanyakan hal ini.

"…" Tidak ada balasan dari Naruto. Ia lebih memilih bergulat dengan pikirannya sendiri daripada ia harus membalas perkataan Sasuke yang ternyata adalah pacar dari seseorang yang sangat dicintainya yaitu Hyuga Hinata. Ini memang sangat kejam bagi Naruto apalagi Sakura. Setelah Sasuke dan Sakura putus, Hinata datang menawarkan dirinya untuk menjadi pengganti Sakura. Akhirnya Sasuke dan Hinata menjadi speasang kekasih selang beberapa jam Sakura dan Sasuke putus.

'Semoga kalian berbahagia' batin Naruto. Ia tidak ingin larut dalam kesedihannya. Naruto berpikir ia harus bangkit. Ia pun menoleh dan mendapati sosok Sasuke yang menatapnya dengan penuh keheranan. Naruto pun mencoba tesenyum. Namun yang diperlihatkan adalah senyuman miris.

Seorang siswa berambut hitam klimis memasuki kelas. Kedua tangannya dimasukkannya ke dalam saku almamaternya. Ia berjalan dengan tenang menuju tempat duduknya. Sekilas ia menatap bangku di sebelahnya dengan tatapan yang sulit diartikan.

Seorang sisiwi berambut pirang memperhatikan pemuda itu dengan penuh damba. Tapi ia mengernyit ketika ia tidak menemukan sosok sahabat pink nya itu tidak datang bersama dengan pemuda itu. Berbagai pikiran terlintas di kepalanya mengenai alasan kenapa sakura belum juga datang padahal bel sebentar lagi akan berbunyi. Apa jangan-jangan Sakura tidak sekolah karena patah hati. Ino cepat-cepat menepis dugaan itu.

.

.

.

Sudah sejam berlalu, tapi Sakura belum muncul juga. Rasanya ia ingin menelpon Sakura tapi ponselnya ketinggalan di rumah. Akhirnya pada jam istirahat Ino memberanikan dirinya untuk menanyakan hal itu dengan Sai.

"A-ano Sai-kun, aku mau bertanya sesuatu padamu" kata Ino yang menghampiri tempat duduk Sai.

"Boleh, tapi kalau ini tentang Sakura, sebaiknya kita bicara di tempat lain saja" kata Sai yang sudah tahu apa yang ingin ditanyakan Ino.

"Baiklah kalau begitu, kita ke atap sekolah saja" kata Ino sambil menarik tangan Sai agar mengikutinya.

Setelah sampai di atap, Ino ingin mengeluarkan suara tapi tidak jadi karena Sai memotong pembicaraannya sebelum ia mulai.

"Sebenarnya yang ingin kau tanyakan kenapa Sakura tidak masuk 'kan?" kata Sai.

"Bagaimana kau bisa tahu?" Tanya Ino.

"Kau tidak perlu tahu bagaimana aku bisa tahu" jawab Sai dengan tersenyum lembut.

"Sakura hanya butuh waktu untuk menyendiri guna menyembuhkan luka yang sudah dibuat oleh pemuda pantat ayam tersebut"

"selama kurang lebih 120 tahun dia hidup, baru pertama kalinya ia merasakan jatuh cinta. Ya menurutku itu wajar-wajar saja kalau dia sampai tidak masuk karena patah hati"

"A-apa maksudmu 120 tahun?" Tanya Ino tidak mengerti.

"Pernahkah terlintas di benakmu kenapa Sakura terlihat sangat berbeda dengan siswi lain? Ia terlihat sangat jenius dan cantik serta kulitnya pucat 'kan?" bukannya menjawab pertanyaan Ino tapi malah sai bertanya balik.

Ino terdiam. Ia sedang bergelut dalam pikirannya. Ia merasa kalau Sakura kelihatan nyaris sempurna di matanya.

"Itu karena dia adalah seorang vampir" kata Sai.

"Tidak mungkin!" bantah Ino sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Baiklah aku akan menceritakan semua yang tidak kau ketahui tentangnya." Kata Sai datar.

Dan mereka menghabiskan waktu istirahat mereka untuk bercerita. Ino yang tidak tahu apa-apa tentang latar belakang sahabatnya itu, kini sudah tahu tentang sosok Sakura. Dan satu hal lagi, Ino mendapatkan sebuah fakta yang mencengangkan yang seketika membuat perasaannya nyeri yaitu Sai adalah seorang vampire juga.

"Tenang kami tidak akan menghisap darahmu atau pun darah murid-murid KHS" kata Sai di akhir ceritanya.

"Ayo kita ke kelas sebentar lagi pelajaran Kurenai sensei akan segera dimulai" ujar Sai sambil menarik tangan Ino. Wajah Ino pun seketika memerah akibat perlakuan Sai yang memegang tangannya.

"S-sasuke-kun sedang apa?" Tanya Hinata yang duduk di sebelah Sasuke. Sasuke memilih untuk mengacuhkan pertanyaan Hinata. Matanya yang kelam menatap tempat duduk Sakura yang kosong. Hinata yang tidak mendapatkan respon dari Sasuke langsung mengikuti arah pandangannya yaitu menatap tempat duduk Sakura. Ia sangat kesal dengan gadis itu. Ada atau pun tidak ada, gadis itu masih tetap mengganggunya.

"Untuk apa Sasuke-kun mengingatnya lagi? Bukankah Sasuke-kun tidak mencintainya kan?" Tanya Hinata sukses membuat pemuda itu menoleh ke arahnya.

Sejenak ditatapnya wajah Hinata. Lalu ia menyentuh wajah gadis dihadapannya ini, sontak wajah gadis ini memerah. Sasuke mendekatkan kepalanya sehingga jarak di antara mereka sedikit demi sedikit menghilang. Akan tetapi mata Sasuke langsung membulat dan ia langsung melepaskan tangannya di kedua pipi gadis itu. Ia sadar, gadis yang berada di hadapannya ini adalah Hinata bukan Sakura.

'hanya ilusi' batinnya. Ia pun memalingkan wajahnya kearah lain.

Hinata mengernyit kebingungan. Padahal tinggal sedikit lagi mereka akan berciuman.

"Aku tidak ingin di ganggu, jadi pergilah!" perintah Sasuke tanpa melihat Hinata.

Hinata pun akhirnya pergi meninggalkan Sasuke. Ia kesal karena Sasuke telah mengusirnya. Gadis berambut indigo itu berpikir kalau ini ada kaitannya dengan Sakura.

"Dasar gadis sialan!" maki Hinata.

.

.

.

Bel tanda pulang berbunyi. Seluruh murid KHS berhamburan keluar.

"Sai-kun!" teriak gadis berambut pirang.

Sai pun membalikkan badannya dan onyx itu mendapati seorang siswi yang sedang berlari-lari menghampirinya "Apa Ino-chan?" Tanya Sai.

"A-ano, bisakah kau mengantarkanku ke rumah Sakura?"

"Dengan senang hati" jawab Sai sambil memamerkan senyum mautnya. Wajah Ino pun memerah seperti tomat.

Sai pun menggandeng tangan Ino. Mereka berjalan bergandengan tangan ke tempat parkiran.

"Naiklah!" perintah Sai. Ino pun mengangguk pelan.

"Pegangan yang kuat!" perintah Sai lagi.

Merasa Ino tak merespon kalimatnya, Sai pun menarik kedua tangan Ino agar berpegangan. Ke badannya. Posisi Ino seperti memeluk Sai dari belakang.

Blush

Wajah Ino memerah lagi.

.

.

.

Tok tok tok

Mebuki pun segera menghampiri pintu untuk melihat siapa tamu yang datang.

Cklek

"Ah Sai" kata Mebuki tersenyum.

"Ehm… siapa gadis yang bersamamu ini Sai?" Tanya Mebuki dengan tersenyum menggoda.

"A-ano saya Yamanaka Ino bi, sahabatnya Sakura" kata Ino sambil tersenyum kikuk.

"Wah cantik nya. Kalian sangat serasi" kata Mebuki tersenyum.

Blush.

Wajah Ino memerah lagi akibat perkataan Mebuki barusan. Dan Sai juga mengeluarkan semburat merah namun tipis.

"Silahkan masuk" ujar Mebuki sambil mempersilahkan mereka berdua masuk.

"Oh iya Sakura nya ada di atas. Silahkan ke kamarnya saja"

Mereka pun mengangguk dan berjalan ke kamar Sakura.

Cklek

Pintu Sakura dibuka oleh Ino. Terlihat sosok gadis berambut merah muda yang duduk di atas ranjang sambil memeluk kakinya. Gadis itu tengah menatap pemandangan dari jendelanya.

"Sakura" panggil Ino pelan sambil berjalan menuju ranjang yang berada di hadapannya. Sai mengikutinya di belakang.

Merasa ada suara yang memanggilnya, Sakura pun menoleh kearah sumber suara. Terlihat matanya yang bengkak dan jejak airmata di pipinya membuat Ino menebak kalau Sakura habis menangis.

"I-ino" kata Sakura kaget. Buru-buru ia menghapus jejak airmatanya itu dengan kasar.

"Kau terlihat sangat berantakan sekali, jidat" kata Ino.

"Darimana kau tahu rumahku?" Tanya Sakura.

"Aku ini sahabatmu, jadi aku tahu segalanya tentangmu. Termasuk—" kata Ino terputus.

"J-jadi kau sudah tahu tentang siapa diriku?" Tanya Sakura kaget setengah mati.

Ino mengangguk dan tersenyum lembut. "Kau tidak perlu khawatir, jidat."

"Ehemm… Sakura-chan, maafkan aku" sela Sai sambil tersenyum takut.

"Oh iya kami kesini hanya untuk menghiburmu Sakura" kata Ino sambil mengusap pelan kepala Sakura.

"Iya Sakura-chan, gadis ini bersikeras minta diantarkan kerumahmu" canda Sai.

"Hey Baka, aku tidak memaksamu!" rutuk Ino.

"Sakura" panggil Mebuki yang berada di balik pintu.

"Ibu hari ini akan berangkat ke London, ayahmu menyuruh kita untuk ke sana karena lusa nanti raja mengadakan pesta untuk anaknya, Kakashi Hatake. Tapi melihat kondisimu sekarang ini, ibu tidak tega. Jadi pergi sendirian. Nanti kau harus menyusul karena kau belum pernah bertemu dengan Kakashi-sama 'kan?" kata Mebuki.

Sakura mengangguk paham.

"Hati-hati bu"

"Kau juga Sakura. Oh iya ibu mendapat laporan dari ayah kalau Orochimaru berada di Tokyo. Kau harus hati-hati. Dia pasti ingin membalas dendam" kata Mebuki khawatir.

"Aku bisa menjaga diri kok bu. Jangan khawatir" kata Sakura yang mencoba menenangkan ibunya.

Mebuki pun tersenyum dan berjalan meninggalkan kamar itu.


Bersambung...

Maafkan author yang nyuguhin cerita dengan ke'gaje'an tingkat akut ini.

Oh iya author pengen nanya, Orochimaru cocok sama siapa ya? Soalnya author bingung buat nentuin siapa yang jadi bini nya om Oro. Please di jawab ya :') *upss keceplosan* Kalo dengan Mikoto ntar Fugaku ngamuk. Kalo dengan Mebuki, Kizashi pasti nendang author. Kalo... Tsunade? Ah ntar Jiraiya ngambek. Apa sama nenek Chiyo aja ya? hahaha

Balasan review :

hanazono yuri : yup bener banget. gak boleh saling ngejelek-jelekin, intinya walaupun mengkritik tapi jangan pake kata-kata kasar dong biar para author kagak sedih ngebacanya hehe... makasih ya :D

Nina317Elf : Sasu emang kayak gitu sifatnya, harap dimaklumin dia kan masih labil :) hehe *disambit sendal* maaf ya kurang panjang, author udah usahain buat cerita yang panjang-panajang tapi ya cuman gini aja yang author bisa buat :')

angodess : ya author juga kepingin nyiksa sasu tapi yah mau gimana lagi udah usaha semaksimal mungkin tapi hasilnya belum memuaskan :) hedeww

mako-chan : Sai itu sahabatan dengan Saku :)

Arigatou Gozaimasu buat yang udah baca dan review... maap reviewnya baru dibales sekarang dan maap juga buat review yang tidak dibalas, bukannya author sombong ya. sekali lagi gomen :)