Seorang pemuda berambut raven sedang terlihat celingak-celinguk di bandara Tokyo. Sepertinya ia tengah mencari seseorang.
"Sakura… Kau dimana?" ujarnya pelan dengan raut wajah yang gelisah.
Kemudian ia merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya. Sasuke mengetik angka-angka yang sudah sangat ia hafal dan menekan tombol 'call' yang berwarna hijau di ponselnya.
"Ayolah Sakura, angkat teleponnya!" gumamnya.
Berkali-kali ia mencoba menelpon ponsel Sakura, namun ponsel gadis bersurai merah muda itu tidak aktif.
"Kapan pesawat terakhir berangkat?" Tanya Sasuke dengan salah satu petugas di bandara itu.
"Maaf, keberangkatan pesawat ditunda sampai besok karena cuaca yang buruk" jawab petugas bandara itu.
"Hhh" Sasuke sedikit menghela napas lega.
Pemuda itu berlari-lari menuju mobilnya dan setelah masuk ke dalam mobil sport itu, ia langsung mengendarai mobilnya dengan sangat kencang. Tapi sial bagi Uchiha bungsu itu karena saat ini ia terjebak macet.
"Shit!" umpat Sasuke seraya memukul kemudi.
Dilihatnya jam tangan yang bertengger manis di tangan kirinya. Sudah pukul 11 malam. Ia hanya punya waktu sekitar satu jam lagi.
Sasuke pun mencoba menelpon Ino untuk menanyakan dimana rumah Sakura. Dengan berat hati Ino memberikan alamat rumah Sakura. Dengan segera, pemuda berambut raven itu turun dari mobilnya dan segera berlari ke tempat tujuan. Ya, hanya satu tempat yang menjadi tujuannya saat ini, yaitu rumah Sakura.
"Oh ayolah Kami-sama" gumamnya sambil melihat jam tangannya sekali lagi yang sudah menunjukkan pukul 23:20.
Dengan sekuat tenaga ia berlari. Napasnya mulai tersengal-sengal. Peluh-peluh pun sudah memenuhi seluruh tubuhnya. Tapi ia tidak mempedulikannya, yang ada didalam pikirannya sekarang hanya satu yaitu gadis yang sangat ia cintai. Gadis yang telah merebut hati dan pikirannya dengan cara yang berbeda.
"Tunggulah Sakura" ujarnya mempercepat larinya.
Sudah hampir setengah jam dia berlari-lari. Kemejanya sudah hampir basah gara-gara peluh yang terus bercucuran dengan dari tubuhnya.
Akhirnya ia sampai disebuah jalan yang pernah ia lalui dengan Sakura. Jalan yang disampingnya terdapat padang rumput dan pohon-pohon yang lebat.
'Kau hanya perlu melewati padang rumput itu.' Sasuke teringat dengan kata-kata Ino.
Kemudian bungsu Uchiha itu berjalan melewati padang rumput itu sambil melihat jam tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 11 lewat 56 menit. Ia hanya mempunyai waktu sekitar 4 menit lagi.
Onyx miliknya menangkap sebuah rumah yang terlihat sangat sepi. Sasuke yakin itu pasti rumah Sakura. Segera ia menuju rumah itu dan segera mengetuk pintunya.
Tok tok tok
Tidak ada jawaban. Pemuda berambut raven itu kembali mengetuk pintunya. "Sakura, ini aku Sasuke. Tolong buka pintunya" ujar Sasuke sedikit berteriak.
Cklek
Terbukalah pintu itu dan menampakkan seorang gadis dengan rambutnya yang terlihat kusut dan mata yang sembab. Dengan segera Sasuke memeluk gadis yang berada dihadapannya ini. Tapi gadis itu tidak membalas pelukan pemuda Uchiha itu.
"Sakura… aku bersedia jika kau mau menghisap darahku" ujar pemuda itu tanpa melepaskan pelukannya.
"Sudah terlambat Uchiha-san" ucap Sakura dengan pelan.
Tubuh Sasuke menegang mendengar perkataan Sakura. Ia segera melepaskan pelukannya dan menatap emerald Sakura dengan intens.
"Pergilah Uchiha-san. Aku tidak ingin melihatmu lagi."
"Sakura…" gumam Sasuke pelan. Tubuhnya menegang mendengar pernyataan yang terlontar dari gadis yang ia cintai.
Gadis bermata emerald ini membalikkan tubuhnya sehingga membelakangi pemuda itu yang masih menatapnya dengan tatapan yang menyiratkan akan kepedihan. Kemudian ia melangkahkan kakinya sampai sebuah suara menghentikan langkahnya.
"Aku tahu selama ini aku sudah menyakitimu Sakura. Aku memang bodoh telah membiarkanmu pergi."
"…" Sakura masih terdiam di tempat.
"Maaf"
Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir Sakura, ia lebih memilih meninggalkan Sasuke di ruang tamu.
"Arggghh" ringis Sasuke sambil memegang kepalanya. Entah kenapa pemuda raven itu merasa sangat sakit. Tubuhnya pun akhirnya terjatuh di lantai. Keringat dingin mulai bercucuran dari pori-porinya sementara mulutnya meraung-raung kesakitan.
Jantung Sakura berdetak sangat kencang dan merasakan firasat yang sangat buruk ketika mendengar suara kesakitan yang keluar dari mulur Sasuke. Ia pun segera berbalik dan mendapati Sasuke yang sudah terkapar tak berdaya di lantai. Raungan kesakitannya terdengar semakin jelas. Langsung saja gadis berambut merah muda itu menghampiri Sasuke.
Tubuh mungil Sakura mencoba membopong tubuh Sasuke ke sofa. Ia tidak tahu lagi bagaimana mengatasi ini. Tangannya menggenggam tangan Sasuke seolah-olah menyalurkan kekuatannya.
"Bertahanlah" ucapnya lirih. Sakura merasa semakin lama genggaman tangan pemuda itu semakin erat.
"S-sakura" panggil Sasuke lirih. Terlihat sekali ia sedang menahan rasa sakit.
"Bertahanlah S-sasuke" gumam Sakura. Tubuhnya gemetar matanya hendak mengeluarkan cairan bening. Sakura berani bersumpah, ini adalah saat-saat yang paling ia benci yaitu melihat orang yang dicintainya merasakan kesakitan.
"Arrgghhhh" erang Sasuke semakin keras saat seluruh tubuhnya menjadi sangat sakit. Gigi-gigi taring Sasuke memanjang. Iris onyx miliknya berubah menjadi merah.
'Kami-sama apa yang harus aku lakukan?' Tanya Sakura dalam hati. Kemudian Sakura memeluk tubuh Sasuke mencoba menenangkan pemuda yang sedang bertransformasi menjadi seorang vampir itu.
Perlahan namun pasti, Uchiha bungsu itu mulai sedikit tenang. Teriakan kesakitannya tidak terdengar lagi hanya ringisan-ringisan kecil yang terdengar. Sasuke merasa sangat kehausan. Tangannya memegang lehernya sendiri.
Mengerti akan situasi itu, Sakura mencoba menidurkan tubuh Sasuke ke sofa. Lalu ia beranjak ke dapur untuk mengambil cairan yang mirip seperti darah dari dalam kulkas.
"Minumlah ini Sasuke!" kata Sakura sambil menyodorkan segelas darah. Sasuke meminum cairan merah itu dengan sedikit bantuan dari Sakura karena tubuhnya sangat lemas. Entah kenapa setiap tetes darah yang diteguknya terasa sangat nikmat.
"Tidurlah Sasuke" ujar Sakura seraya membaringkan tubuh Sasuke dan menyelimutinya dengan sebuah selimut.
Setelah Sakura merasa sudah tertidur, ia pun mulai beranjak pergi tapi langkahnya terhenti ketika sebuah tangan memegang tangannya. Ia menoleh dan mendapati Sasuke yang masih memejamkan matanya tapi tangan pemuda itu sudah mencengkram tangan Sakura seakan pemuda itu tidak ingin membiarkan gadis itu pergi lagi.
"Arigatou Sakura" ucap pemuda itu. Sakura hanya bisa diam terpaku tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
"Jangan pernah pergi dariku lagi Sakura" gumamnya dengan lirih. Kemudian tangan kekar itu menarik tangan Sakura sehingga tubuh gadis itu tertarik ke dalam pelukan pemuda raven itu.
"Aku mencintaimu Sakura" bisik Sasuke.
Lagi-lagi Sakura hanya bisa terdiam. Ia berusaha melepaskan dirinya dari dekapan Sasuke dan berhasil. Kini tubuh Sakura sudah terlepas dari pelukan Sasuke.
"Tidurlah Sasuke. Tubuhmu masih lemah. Kau perlu istirahat" ujar Sakura dengan pelan.
Setelah Sasuke benar-benar tertidur. Sakura mulai mendekati wajah Sasuke dan mengecup pelan keningnya seraya berkata "Aku juga mencintaimu Sasuke. Maaf" Sakura berkata dengan lirih. Matanya mulai berkaca-kaca. Dipandanginya sejenak wajah pemuda itu yang sedang tertidur. Terlihat sangat damai. Kemudian ia beranjak ke kamarnya. Waktu sudah menunjukkan pukul lima pagi. Gadis itu mengambil ponselnya di atas meja belajarnya dan menekan beberapa angka yang sudah dia hafal.
"Halo Sai. Kau dimana sekarang?" dengan pelan.
"Cepat kesini. Aku butuh bantuanmu" ujar Sakura. Ia langsung mematikan ponselnya.
Tidak menunggu lama, ponsel Sakura bergetar menandakan ada pesan masuk.
From : Sai
'Aku sudah berada di depan rumahmu'
Dengan segera ia beranjak dari kamarnya untuk membukakan pintu.
Cklek
Terlihatlah pemuda berambut hitam klimis sudah berdiri dihadapannya.
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Sai.
"Hn begitulah" Sakura mempersilahkan Sai untuk masuk.
"Apa kau yakin akan pergi Sakura?"
Sakura hanya mengangguk dan berjalan menuju kamarnya lagi. Beberapa menit kemudian ia muncul dengan membawa koper.
"Tolong jaga dia Sai" ucap gadis bermata emerald itu.
Sejenak ia memandangi Sasuke yang sedang tidur dengan tatapan sendu. Terasa sangat berat untuk meninggalkan pemuda itu tapi apa boleh buat, ibunya meminta dia untuk kembali ke London dan tinggal bersama mereka.
"Selamat tinggal Sasuke" gumamnya lirih. Kemudian gadis itu melangkah pergi meninggalkan cinta pertamanya.
.
.
.
Sakura sedang berjalan di jalan yang masih sepi karena sekarang masih pukul setengah enam. Tiba-tiba sosok pria berambut panjang yang berwajah pucat menghalangi jalannya.
"Hn, sudah lama kita tidak bertemu" sapa pemuda itu dengan seringainya.
"O-orochimaru" ujar Sakura kaget.
"Ternyata kau masih ingat kepadaku" kata Orochimaru masih dengan seringainya.
"Mau apa kau?!" teriak Sakura. Bukannya menjawab pertanyaan gadis itu, malah pria itu berjalan mendekat kearah Sakura. Gadis itu melangkah kebelakang guna menghindari pria yang ada dihadapannya yang semakin dekat.
Tiba-tiba sebuah sapu tangan membekap mulut Sakura. Seketika itu juga gadis itu pingsan.
"Kerja bagus Kabuto. Sekarang kita bawa dia kembali ke London."
.
.
.
Sinar matahari menembus melalui celah-celah ventilasi dan mengenai wajah Sasuke. Perlahan-lahan pemuda itu membuka matanya sehingga onyx itu keluar dari persembunyiannya. Hal pertama yang ia lihat setelah bangun dari tidurnya adalah pemuda berambut hitam klimis yang sedang berdiri menghadap ventilasi.
"Dimana Sakura?" Tanya Sasuke kepada pemuda yang sedang membelakanginya.
"Hhhh Dia sudah pergi" kata Sai sambil mengela napas beratnya.
"Pergi kemana dia?"
"Maaf Sasuke tapi dia melarangku untuk memberi tahu keberadaannya padamu"
Mendengar pernyataan Sai, pria berambut raven ini langsung berdiri dan mencengkeram kerah baju Sai.
"Katakan, dimana dia sekarang?!"
Sai mencoba melepaskan cengkeraman tangan Sasuke dari kerah bajunya. Ia dapat melihat iris onyx Sasuke berubah menjadi merah seperti darah dengan kilatannya.
"Kau memang manusia tidak tahu diri. Kau tega menyakiti hati gadis itu dengan mencampakkannya. Dan sekarang kau mengejarnya lagi." Ujar Sai dengan senyum mengejeknya. Sasuke hanya terdiam mendengar perkataan Sai. Perkataan pemuda berambut klimis itu memang ada benarnya.
Sai menyeringai penuh arti melihat ekspresi Sasuke. "Hn, dia di London. Dan jangan pernah berharap dia kemabali ke Tokyo karena hal itu tidak mungkin terjadi."
"Kenapa?"
" Orang tuanya memintanya untuk tinggal bersama mereka."
"Bisa kau beri tahu alamatnya sekarang?" Tanya Sasuke dengan raut wajah frustasi. Melihat kesungguhan Sasuke akhirnya Sai memberikan alamat tempat tinggal Sakura di London.
.
.
.
"Engghh" lengguhan gadis berambut merah muda itu setelah tersadar dari pingsannya.
"Hm… Akhirnya kau sadar juga" kata pria berambut panjang dengan wajah yang pucat.
"Apa yang kau laukan Orochimaru?! Cepat lepaskan aku!" kata Sakura sambil berusaha melepaskan ikatan yang memebelenggunya.
"Tidak akan. Dan jangan pernah berharap aku melepaskanmu"
"Shit! Dasar keparat kau Orochimaru" umpat Sakura. Melihat keadaan gadis itu, Orochimaru hanya tertawa.
"Disaat seperti ini kau masih saja mengeluarkan umpatanmu hm" kata Orochimaru sambil memandangi wajah Sakura.
"Ternyata kau mirip dengan istriku yang kalian bunuh 25 tahun yang lalu saat perang untuk memperebutkan kekuasaan. Aku jadi tidak tega untuk membunuhmu. Hm… mungkin lebih baik aku menjadikanmu sebagai istriku, bagaimana? Apa kau setuju?"
Sakura hanya mendecih. Ia sangat tidak sudi menjadi istri pria ini.
"Huft… hm… sebelum menjadikanmu istri. Aku akan menggunakanmu sebagai umpan untuk memperebutkan tahta raja dari pria tua bangka itu!" ujarnya dengan seringai andalannya.
.
.
.
"Apa benar Sakura tinggal disini?" Tanya Sasuke pelan ketika ia berada di depan sebuah kastil yang penjagaannya cukup ketat.
"Mau apa kau kesini?" Tanya Seseorang pengawal yang menghampiri Sasuke. Tubuh yang besar dan tampang yang cukup sangar mungkin bisa membuat orang-orang bergidik ngeri ketika ditatapnya tapi tidak dengan Sasuke dengan santainya ia mnejawab pertanyaan pengawal itu "Aku ingin bertemu Sakura"
"Hahaha, Sakura-sama tidak ada disini. Dia masih di Jepang."
"Benarkah, apa kau berbohong?"
"Tentu tidak. Aku mengatakan apa adanya. Tidak dibuat-buat. Kalau kau tidak percaya, kau ikut denganku"
"Baiklah"
.
.
.
"Maaf Sakumo-sama. Ada yang ingin bertemu dengan anda."
Deg
"Suruh dia masuk!"
"Baik" ujar pengawal tadi seraya membungkuk.
Pemuda itu berjalan masuk ke sebuah ruangan dan onyxnya menangkap sosok pria yang duduk membelakanginya. Pria itu membalikkan kursinya ketika ia merasakan kehadiran seseorang.
"Uchiha Sasuke" gumam pria itu pelan tapi masih bisa terdengar oleh telinga Sasuke.
"Darimana kau tahu namaku?" Tanya pemuda itu datar.
"Aku tahu kau Sasuke. Perkenalkan aku Sakumo Hatake"
Deg
Jantung Sasuke berdetak sangat kencang ketika pria ini menyebutkan namanya. 'Jadi dia…dia yang mengutukku' batinnya.
"Ya, aku adalah orang yang mengutukmu. Ada perlu apa kau kesini?"
"Dimana Sakura?"
"Sakura? Dia tidak disini. Bukannya dia masih di Jepang?"
"Sai bilang dia sudah berangkat kesini. Jangan coba-coba berbohong padaku Sakumo-sama"
"Kau sangat berani juga Sasuke. Tapi sayangnya aku berkata jujur"
Tok tok tok
"Masuk! Perintah Sakumo kepada orang yang mengetuk pintu.
"Maaf Sakumo-sama" ujarnya sambil membungkuk.
"Ada apa?"
"Aada surat untuk anda" kata pengawal itu sambil memberikan sebuah amplop.
"Dari siapa?"
"Maaf Sakumo-sama, saya tidak tahu surat itu dari siapa. Yang saya tahu ada seekor elang yang menjatuhkannya tepat diatas tubuh saya ketika saya sedang bertugas"
"Silahkan pergi!"
Kemudian Sakumo membuka surat itu dan membacanya dengan seksama. Matanya seketika membulat dan tangannya meremas kertas itu dengan erat.
"Kurang ajar kau Orochimaru!" geramnya. Sasuke menjadi penasaran dengan isi surat itu.
"Segera panggilkan Kakashi, Mebuki, dan Kizashi, cepat!" perintahnya kepada pengawal yang ada di dalam ruangan itu.
"Baik" ucap pengawal sambil membungkuk hormat.
.
.
.
"Ada apa Sakumo-sama memanggil kami?" Tanya Kizashi sambil membungkukkan badannya dan diikuti oleh Mebuki.
"Orochimaru menculik anakmu, Sakura" kata Sakumo. Seketika itu mata mereka membulat kaget setelah mendengar perkataan Sakumo.
"B-benarkah itu Sakumo-sama?" Tanya Mebuki lirih. Matanya sudah siap untuk mengeluarkan cairan bening.
Sakumo hanya mengangguk. "Dia mengirimkan sebuah surat."
Kizashi segera memeluk Mebuki yang sudah terisak. "Tenanglah, Sakura pasti akan kembali" ucapnya seraya mengecup pelan kepala Mebuki yang masih terisak dalam dekpannya. Sementara Kakashi dan Sasuke hanya bisa terdiam.
"Kakashi, kita akan berperang melawan pasukan Orochimaru malam ini. Dia akan menyerang kastil ini. Jadi bersiaplah! Dan Kizashi, Mebuki… Tolong bawa Yuki pergi menjauh dari kastil. Aku berjanji akan membawa anakmu kembali"
"Baik" ucap Kizashi, Mebuki dan Kakashi.
"Aku ikut" kata Sasuke tiba-tiba. "Aku akan membawa kembali Sakura" lanjutnya.
Bersambung...
Balasan review :
hanazono yuri : hehe bukan cinta segilima kok senpai hah. Ah kalau masalah kakashi yang akan jadi pihak ketiga antara sasusaku atau ada yang lain lagi, itu sih masih rahasia kalo udah dibocorin kan kagak seru lagi :p
Tsurugi De Lelouch : hehe ya begitulah senpai :) nggak kok senpai, Kakashi itu gak suka sama sakura, kaka itu sukanya sama aku :D *plakkk* becanda. Yap kalo mau tau perasaan Kakashi, makanya pantengi terus ini fic ya senpai XD
Fran Fryn Kun : hehe author ini pada dasarnya memang baek kok :p tapi maap ya kagak bisa buat adegan romance NaruHina panjang-panjang, soalnya fic ini kan pairing utamanya SasuSaku. hehe maap ya kalo gak suka pairing KakaSaku tapi author suka sama pairing itu selain SasuSaku. ;p
anzu qyuji : hehe memang sasuke akhirnya jadi vampir kok
nadialovely : kalo lagu yang dinyanyiin sasu itu hasil karangan saya tapi kalo yang lagu yang dinyanyiin sakura itu lagunya Usher yang judulnya Separated hehe
Saras SasuSaku-chan : Sasu mau nyari saku. yeeyyy iya akhirnya NaruHina bersatu jadi si Hina kagak ganggu-ganggu Saskey lagi
Nina317Elf : hehe terima kasih atas pujiannya *blushing* hehe author udh susah payah berjuang untuk manjangin cerita itu tapi yah begitulah, chapter kemaren itu panjang gara-gara lirik lagu yang dinyanyiin SasuSaku XD
mako-chan : hehe saya tidak bisa ngebayangi bagaimana jadinya kalo beneran ada serigala yang punya bulu kayak domba XD
mika : kalo masalah ending, ntar saya pikirin lagi deh mau sad ending ato happy ending. buat karakter hinata di fic ini memang saya buat OOC tapi yah menurut saya, Hinata itu cuman cocok sama Naruto dan tidak cocok dengan Sasuke. :D bener kagak?
Hufttt arigatou gozaimasu buat yang udah baca fic ini dan teima kasih juga buat yang udah review
Arigatou Gozaimasu :)
