Naruto _ Masashi-Senpai 'Kawaii'
' I Want You. '
By
Naru-Koi! ^^,
Rated : M. (Ya, ada kalanya gak ada *Plakkk. Mungkin sedikit kata-kata kasar.)
Pairing : NaruSaku
Genre : Romance,Supranatural
Warning : AU | OOC | AR | Miss Typo | dll
Chapter 3
Don't like, please don't read!
#
.
.
.
.
.
.
Suasana yang biasanya nyaman dan bergitu aman yang biasanya ada dirumah Namikaze itu kini menjadi berubah drastis. Dari yang pelayan dapat bercanda riang dengan pelayan Lain. Saling tertawa mendengarkan lelucon teman-temannya. Bahkan kadang merka sering berkelahi menggunakan peralatan bersih-bersih mereka.
Namun, sepertinya hal itu harus dihilangkan untuk beberapa waktu ini. Para pelayang yang berdiri kaku disetiap sudut ruang tamu itu nampak jelas bahwa mereka tengah takut dan gemetaran. Matanya tak berani menatap sosok yang tengah duduk disofa dengan aura dingin yang menyelimutinya.
Mata merah itu selalu memandang ke arah seorang pemuda yang duduk didepannya. Tanpa ekspresi dan juga sikapnya yang tenang. Seakan tak terpengaruh dengan aura hitam yang menyelimuti Vampire yang ada dihadapannya itu.
"Mau apa kau!"
Sebuah suara keluar dari mulut Namikaze Naruto. Matanya menatap tajam ke arah lawan bicaranya yang tak bergeming dari posisinya. Naruto benci. Dia sangat amat benci pada laki-laki yang ada dihadapannya ini. Ingin sekali dia membunuhnya dengan tangannya sendiri. Namun, takdir tak memperbolehkannya.
"Hn. Sekarang kau jadi berani padaku ya dobe."
Matanya yang merah kini berubah menjadi kelam.
Onyx bertemu dengan Saphire..
"Tsk! Kenapa aku harus takut padamu Te-Me?" Naruto seakan mengejek pemuda yang ada dihadapannya itu dengan memberikan penekanan diakhir kalimatnya.
"Oh ya?" Pemuda yang dipanggil Teme. Atau kita sebut saja Uchiha Sasuke itu menaikkan satu alisnya. Merasa tersinggung dengan ucapan Dobenya itu.
"Kalau begitu.."
"... Bagaimana dengan ini?"
*JLEEEBBB*
Dengan kecepatan kilat. Sasuke sudah berada dibelakang seorang pelayan wanita dan dijantung wanita itu telah mengeluarkan dara segar akibat sesuatu menusuk jantungnya. Ya! Saat ini, Sasuke tengah menusuk jantung pelayan wanita itu tanpa kenal ampun.
*Zraaassshh*
"Aakh.."
Pelayan itu batuk dengan darah yang keluar dari mulutnya saat tangan Sasuke terlepas dari dadanya. Matanya terbelalak. Tak dapat menyembunyikan kesakitan yang dia rasakan. Itu begitu vatal! Seorang vampire ditusuk dibagian jantungnya. Itu sama saja membunuh pelayan tersebut.
Dapat dipastikan sekarang pelayan tersebut tengah merasakan panas yang menjalar diseluruh tubuhnya. Seperti terbakar oleh api yang membara.
"Sa..Sasuke!"
Teriakan Naruto menggema diruangan tersebut. Matanya mmebulat sempurna saat matanya mendapati pelayan wanitanya tengah tergeletak tak bernyawa dilantai. Dengan darah segar yang mengucur dibagian dadanya.
"Kau suka Dobe?"
Sasuke tersenyum penuh kemenangan pada Naruto. Dijilatnya tangan yang tadi digunakan untuk menusuk jantung pelayan tersebut. Menjilat darah yang membekas ditangannya sambil menyeringai ke arah Naruto.
"Kau.. A-apa yang sudah kau lakukan!"
Saat ini kesabaran Naruto telah habis. Berani-beraninya Sasuke membunuh pelayannya yang sudah setia bertahun-tahun didepan matanya. Dan begitu tragis. Itu membuat Naruto tak tega melihatnya. Membunuh hewan saja dia tak tega, apalagi manusia yang notanebenya adalah pelayannya sendiri. Pelayan yang sudah dianggap keluarga oleh Naruto.
"Kenapa? Kau kasihan padanya Dobe?" Diliriknya mayat pelayan tersebut dengan wajah jijik.
"Brengsek! Kau... Dasar Teme sialan!"
Entahlah, saat ini yang ingin Naruto lakukan adalah memaki laki-laki yang ada dihadapannya ini. Benci. Dia begitu benci padanya.
"Kalau kau seperti ini terus. Aku bisa saja membunuh orang-orang yang ada didekatmu Dobe.."
DEG!
Jantung Naruto serasa dipompa dengan cepat. Matanya membulat sempurna. Tubuhnya menegang saat mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Sasuke. Apalagi dia mengucapkannya tepat ditelinga Naruto. Sasuke cepat sekali. Hingga Naruto tak dapat melihat Sasuke yang sekarang sudah berada dibelakang Naruto dengan tangan kananya yang melingkar dileher Naruto.
Ini semua tak bisa dibiarkan, jika Sasuke sudah memutuskan sesuatu. Itu sangat sulit untuk diubah.. apalagi dengan sifatnya yang terlampau egois dan tak bisa diatur. Meskipun terkadang dia menuruti apa kata Naruto.
"Mau apa kau Teme.." Naruto serasa tak punya kekuatan. Tubuhnya begitu lemas. Matanya juga begitu berat, bahkan dia tak sanggup lagi menopang berat tubuhnya. Hingga dia...
*Brukkkhh..*
Yang Naruto ingat hanyalah suara pelayannya yang berteriak memanggil Namanya. Dan setelah itu gelap. Tubuhnya serasa ringan seperti terbang..
-o-o-o-o-
Matahari meninggalkan cahayanya hingga bulan memenuhi setap ruang dibumi dengan cahaya malamnya. Beberapa suara gagak yang menggema disetiap hembusan angin menyisakkan suasana seram dan menyeramkan. Begitu juga dengan sebuah ruangan yang mewah disebuah manshion – dirumah Naruto.
"Ungh.."
Sebuah desahan keluar dari mulut pemuda berambut pirang yang tengah tertidur – atau lebih tepatnya pingsan ditempat tidurnya. Dengan selimut yang menutupi tubuhnya, Naruto –pemuda tersebut. Sesekali Naruto mendesah bersamaan dengan raut mukanya yang terlihat sedih dan ketakutan.
Apa yang sebenarnya di impikan Naruto hingga dia mengigau?
"Membuat Naruto terluka lagi Tuan Uchiha?" Sebuah suara keras tapi lembut terdengar dari balik pintu yang kini terbuka. Menampakkan sosok pria berambut merah bata dengan mata Emerald.
Pemuda yang ditanya – Sasuke Uchiha mendengkus kesal. Merasa tersinggung dengan kata-kata temannya itu. Atau lebih pantas dibilang musuh?
Mengingat mereka selalu bertengkar saat kecil, bukankah itu bisa digunakan alibi?
"Apa yang kau lakukan disini?"
Kini, Sasuke melepas tangannya yang sedari tadi mengelus lembut rambut pirang Naruto. Menatap tajam ke arah Gaara seakan ingin membunuh orang tersebut.
"Hanya melihat saja." Jawab Gaara pendek dengan senyum mengejek yang terukir indah dibibirnya.
"Melihat? Seharusnya kau tak melakukannya. Itu sama saja kau cari mati."
"Itu tak akan terjadi selama aku masih sahabat Naruto. Apa kau mau Naruto murka jika dia tahu kau membunuh Sa-ha-batnya.. Uchiha yang terhormat?"
Mata Emerald Gaara menatap sejenak Naruto yang terbaring di ranjangnya. Kemudia menatap mata Onyx Sasuke. Gaara tau jika dia akan menang jika melawan Sasuke dengan menggunakan kata 'Naruto' disana. Bukan hal curang. Namun ini adalah kesempatan atau mungkin sesuatu yang harus di.. pergunakan dengan baik?
"Cih! Jangan main-main denganku..."
Amarah Sasuke benar-benar telah melebihi puncak ubun-ubunnya. Ditambah Mood-nya yang sedang buruk. Dan sekarang malah Gaara semakin memanas-manasinya. Jika dilihat sudut pandang sebuah Anime. Sekarang Sasuke tengah diselubungi sesuatu yang hitam. Dan siapa saja yang melihatnya akan ngacir pergi menyelamatkan diri.
"Coba saja.." Tantang Gaara penuh percaya diri.
"KAU-"
Hampir Sasuke ingin meninju wajah manis Gaara. Tapi.. tangannya sudah ditarik oleh orang yang sejak tadi tertidur diranjang.
"Sa... Suke.." tenggorokannya serasa terbakar dan kering. Mengucapkan kata 'Sasuke' saja sudah sesusah ini. Apalagi yang panjang. Ini semua sangat menyiksa Naruto.
Sasuke melirik Naruto yang sudah membuka matanya. Menatapnya penuh kekesalan untuk tak menganggu sahabatnya yang hampir ditonjok Sasuke. Dan itu akan mengakibatkan Gaara terhempas 20 m dari tempatnya.
"Ja-jangan.. Ukh.. "
Naruto mencoba bangkit dari tempatnya – meskipun sekarang dia merasa ada sesuatu yang berputar-putar dikepalanya. Tangannya tak berhenti memegang tangan Sasuke. Setelah berhasil duduk disisi ranjang. Naruto mencoba mengatur nafasnya – hei! Apa Vampire bernafas?. Ya, karna ini fic buatan Naru. Apapun bisa terjadi. Ahaha..
"Jangan..." Lagi-Lagi Naruto berguman.. mencoba berdiri dengan memegang kedua lengan Sasuke.
"Jangan kau... SENTUH GARA... seujung jarimu TEME!"
Pukulan telak mendarat diwajah Sasuke hingga dia terpental membentur meja dan yang terakhir Dinding hingga menjadi retak. Suaranya pun cukup membuat semua pelayang berlari menuju kamar Naruto dengan wajah khawatir.
Wajah para pelayang tersebut kaget. Tak percaya jika sekarang. Sasuke setengah duduk dengan bagian belakang – dinding yang retak membetuk sebuah lingkarang.
"Naruto-sama!" 2 pelayang tersebut berlari menuju tuan mereka. Meyakinkan jika keadaan sang tuan tak kenapa-kenapa.
"Aku baik saja. kalian pergilah."
"Tapi-"
"Turuti saja apa kata Naruto. Jika kalian masih sayang dengan nyawa kalian." Guman Gaara mendekat ke arah Naruto yang kini tengah memberikan Deathglare pada Sasuke yang masih tak bergeming ditempatnya.
"Ba-Baik."
Para pelayang tersebut menunduk memberi hormat dan Sesegera mungkin mereka pergi meninggalkan kamar tuan mereka. Sebelum sesuatu yang buruk terjadi pada mereka.
"Sudah ku bilang kan?"
Gaara menaruh kedua tangannya didada, menatap Sasuke dengan penuh senyum kemenangan. Puas! Dia puas karna Naruto marah pada Sasuke. Karna Naruto memukul Sasuke untuk membela dirinya. Puas juga karna Sasuke tak bisa berkutik sekarang.
"Kau juga jangan menggodanya Gaara!" Gaara bergidik takut tak kala Naruto meliriknya dengan sebuah deathglare yang menemaninya.
"Aa, sebaiknya aku pergi.. Sampai jumpa Uchiha." Gaara berjanaln pelan seraya melambaikan tangan ke arah Sasuke. Tak lupa sebuah senyum mengejek dia berikan sebelum dirinya menghilang dari balik pintu.
Hening...
Beberapa saat suasana didalam kamar terasa seperti disebuah tempat pemakaman. Begitu sepi tapi menyeramkan. Ada hawa dingin yang menyeruak disetiap ruangan hingga mmebuat siapa saja yang memasukinya akan ketakutan.
"Pergilah.. aku lelah." Akhrnya Naruto mengeluarkan suaranya. Dengan memegang kepalanya, Naruto duduk diranjang kembali sambil menatap Sasuke yang kini sudah berdiri dari posisinya. Memegang wajahnya yang berdarah akibat pukulan maut Naruto.
Sial! Kenapa jadi berbalik Naruto yang mengendalikan situasi ini? Kenapa tidak aku. Uchiha yang terkuat. Kenapa aku harus selalu lemah didepan Namikaze ini. Cih! Menyebalkan.
"Berhentilah bersikap egois. Sudah lama kita tak bertemu tapi kau tetap tak berubah. Kau masih saja bersifat tempramental dan selalu melakukan hal sesuka hatimu tanpa memikirkan perasaan orang lain. Bisakah kau tak melakukan hal kejam seperti tadi Teme? Jika kau seperti itu terus. Aku mungkin akan membencimu Teme..."
Kata-kata Naruto barusan seperti tombak yang menancap tepat dijantung Sasuke. Membuatnya tertohok menahan rasa sakit dihatinya. Perkataan Naruto barusan benar-benar langsung ditunjukan padanya. Bahkan tanpa kata-kata yang halus yang mungkin akan Sasuke terima tanpa merasa sakit hati.
Baiklah. Kau harus bersabar dan menahan amarahmu Uchiha Sasuke. Kau tidak mau kan jika Naruto jadi tambah marah lagi jika kau mengoceh dihadapannya.
"Hn. Terserah padamu dobe."
Dengan sekali kedip. Sosok Sasuke telah menghilang dari hadapan Naruto. Hanya menyisakkan aroma Mint dari sisa tubuh Sasuke yang tertinggal.
Naruto menghela nafas panjang. Dia tak menyangka hari ini akan menjadi begitu berat dengan kedatangan Sasuke. Apalagi mmebuat acaranya gagal. Tunggu! Acara? Gagal?
Sial! Naruto lupa kalau dia ada janji melakukan 'itu' malam ini.
Eh- apa ini waktu yang tepat untuk melakukan 'itu' Na-Ru-To? Ayolah.. apa kau tak bad Mood dengan ini semua? Lagipula.. kau sudah pergi dari sekolah tanpa memberi kabar pada Sakura. Bahkan kau mengacuhkan E-mail dan panggilan Sakura.
"Sakura.." Naruto mengangkat panggilan Sakura.
{ Naruto.. Kau baik-baik saja? kenapa tadi kau pergi begitu saja? }
Terlihat dari nada suara Sakura jika dia tengah khawatir dengan keadaan Naruto saat ini.
"Hn. Aku baik saja. Ada hal penting yang harus ku lakukan."
{ Begitu ya... Suaramu terdengar tak bersemangat. Apa kau sakit? }
"Ya. Kurasa begitu. Dan sepertinya besok aku tak akan masuk sekolah. Kau tak apa kan jika tak ku jemput?"
{ Ah! Ya. Tentu saja. Ka-kau seharusnya memang istirahat. Uh- eum.. Naruto.. }
"Ya Sakura?"
{ Bo-bolehkah aku besok kerumahmu? A-aku tidak akan mengganggumu. aku janji! A-aku hanya.. A-aku ingin memberikan Kue yang su-sudah ku buat tadi.. Uhm.. jadi.. I-ini tanda terimakasihku karna kau sudah menolongku dari hukuman. }
Hening... tak ada jawaban dari Sakura hingga dia berfikir jika Naruto terganggu dengan permintaannya.
{ Ka-kalau tak bisa tak apa! a-aku.. Ueum.. Sebaiknya kau istirahat! O-oyasumi- }
"Datanglah.."
{ Euh? Ka-kau tadi bilang apa Naruto? }
"Datanglah jika kau mau.. "
{ Be-benarkah? Ka-kau tak keberatan? }
"Hn. Datanglah, aku akan menunggumu besok. Oyasumi Sakura."
{ Ah! Ya.. uhm, Oyasumi Naruto~ }
Kacau! Bagaimana bisa Naruto menjawab 'Datanglah' sementara ada Sasuke disekitarnya. Apa kau sudah gila Naruto?
Kau tak takut jika Sasuke menyakiti Sakura? Oh ayolah! Kau tak mungkin sebodoh itu kan Naruto?
Bertambahnya umur. Kau seharusnya lebih pintar dalam mengatasi sesuatu. Tak harus terbawa perasaan seperti sekarang.
.
.
.
.
Te Be Ce ...
Ditunggu R&R Kawand.. ^^,
