Naruto _ Masashi-Senpai 'Kawaii'

' I Want You. '

By

Shiraishi Naru-koi

Rated : M. (Ya, ada kalanya gak ada *Plakkk. Mungkin sedikit kata-kata kasar.)

Pairing : SasuNaru, NaruSaku,

Genre : Romance, Horor, Mistery. Tragedy.

Warning : AU | OOC | AR | Miss Typo | dll

Chapter 4

Don't like, please don't read!

#

.

.

.

.

.

.

Hari ini tepat dimana Sakura akan mengujungi Naruto yang katanya sedang sakit. Dengan sedikit berdandan sebelum keluar dari kelasnya. Tak lupa merapikan Rambut dan bajunya. Sakura kemudian berjala dengan riang menuju rumah Naruto. Dibawanya Kue buatannya tadi malam bersama sang sahabat Hinata untuk diberikan pada Naruto.

Semoga saja dia suka.

Sakura telah berada didepan gerbang Manshion Naruto yang amat besar. Memandang tiap sudut rumah yang bgeitu besar dan mewahnya. Halaman-halaman yang luas dipenuhi bunga-bunga yang berbagai macam. Dan oh tentu saja. Mobil berjejer rapi dibagasi rumahnya.

Sakura menunduk memberikan salam pada pelayan yang berjaga dihalaman. Berjalan dengan jantung yang berdecak dengan cepat saat diatepat didepan pintu rumah Naruto. Dibukakan pelan oleh 2 pelayan yang sudah berdiri disamping pintu. Menunggu sang Nona Haruno untuk masuk kedalam.

Diantarnya Sakura kekamar Naruto oleh 2 pelayan yang membukakan pintu tadi. Sepertinya jantung Sakura akan copot. Belum bertemu dengan Naruto saja tegangnya seperti ini. Padahal ini bukan pertama kalinya dia kerumah Naruto. Bahkan berkali-kali sampai tak dapat dihitung.

"Silahkan Nona.." Sang pelayang tadi membungkuk sembari membuka sedikit pintu kamar Naruto.

Sakura membalasnya dengan tersenyum. Kemudian membuka pelan pintu yang berlambangkan keluarga Namikaze. Betapa beruntungnya Sakura saat kedua matanya menatap sosok yang ada dihadapannya. Indah dan penuh seni.

Dilihatnya Naruto tengah berbaring di ranjangnya dengan wajah imut seperti anak kecil. Wajahnya yang begitu nyaman, dan sebagian rambut pirangnya yang menutupi wajah tampannya.

Oh. Bagaikan boneka yang seperti hidup.

"Na-Naruto.." Panggil Sakura berjalan mendekati sang kekasih. Dia ragu jika dia akan menganggu acara santai Naruto.

"Na-Naru..Huwaaa..!"

Belum sempat Sakura ingin menyentuh bahu Naruto. Tapi.. tangannya sudah ditarik paks hingga Tubuh Sakura jatuh kepelukan Naruto. Dan tentu saja itu membuat kue yang Sedari tadi Sakura pegang jatuh kelantai. Tapi masih terjaga diwadahnya sehingga tak belepotan dilantai.

"Na-Naruto..." Sakura gelapagan. Wajahnya memerah tak kala jarak mereka yang begitu dekat. Bahkan, Sakura dapat merasakan hembusan nafas Naruto. Rasanya jantungnya mau meledak seketika.

"Hn." Naruto masih menutup matanya. Tak segan-segan dieratkannya pelukannya agar Sakura semakin dekat hingga bibir mereka saling bersentuhan. Mata Sakura melebar. Ini diluar dugaan.

"Baumu sangat harum.. Dan.. bibirmu juga nikmat."

Sontak kata-kata yang keluar dari mulut Naruto membuat Sakura semakin berdegup tak karuan. Ya tuhan.. ini sama saja akan membunuh Sakura. Terbunuh dengan rayuan Naruto yang membuatnya semakin jatuh ke tangan laki-laki ini.

"Me-mesum.. Le-lepaskan aku Naruto. Ka-kau membuat Kue yang sudah ku buat jatuh."

"Benarkah?" Naruto langsung membuka matanya. Menatap gadis dihadapannya dengan rasa bersalah.

Ya tuhan. Apa kalian lihat ekspreis wajahnya yang merasa bersalah itu? Seperti anak kecil. Benar! anak kecil yang manis.

"I-iya. Ja-jadi.. tolong lepaskan aku Naruto."

Naruto pun melepas pelukannya. Duduk di ranjang sembari melihat Sakura yang tengah mengambil kue yang ada dilantai. Duduk disisi ranjang dan meletakkan kue dipangkuannya.

Sakura terdiam.. kue yang sudah susah payah dia buat jadi rusak. Dan itu karna Naruto. Huh! Menyebalkan sekali.

"Kau merusak kuenya Naruto.." Hancur sudah harapan Sakura agar Naruto mencicip kue buatannya. Padahal dia sangat ingin dipuji oleh Naruto. Hasil kue yang diabuat dengan pengorbanan uang jajan yang sudah dia kumpulkan. Sekarang Hancur.

"Eh?"

Sakura kaget. Sebuah jari manis mencolek kuenya dan memasukkannya kemulut Naruto?

"Enak." Naruto tersenyum manis. Masih menikmati Kue yang sebenarnya tak ada rasanya dimulut Naruto. Bukankah dia Vampire?

Bahagia. Senang. Ternyata, Naruto masih mau memakan Kue yang sudah hancur. Bahkan dia bilang jika Kue buatannya enak. Begitu beruntungnya Sakura punya kekasih seperti Naruto.

Naruto mengambil kue tersebut. Memakan sebagian Kue yang tak ada rasa manis dan kenyang sama sekali. Hanya akan jatuh ke perutnya tanpa ada efek. Tidak Seperti saat dia meminum darah. Segar dan begitu mengairahkan. Rasa lapar yang terasa langsung hilang dengan meminum darah.

'Sial!' Baru saja Naruto ingin bermesraan dengan Sakura. Penganggu datang menemui mereka.

"Sakura.. Bisakah kau percaya padaku?"

Sakura menaikkan satu alisnya. Tak mengerti kenapa Naruto tiba-tiba bilang seperti itu. Wajahnya juga berubah menegang dan seperti tengah terganggu oleh sesuatu.

"Pe-Percaya? Memang ada apa?"

*BRAKKKK..*

Pintu Naruto terbuka dengan sebuah tendangan yang membuat pintunya hancur tanpa bentuk.

Disana.. sosok mengerikan tengah menatap kedua sejoli yang sedang duduk diranjang. Mata merah yang menyala dan aura hitam yang mengelilingi orang tersebut.

'Me-menakutkan. Si-siapa orang itu?' Batin Sakura. Tubuhnya menegang, takut. Ya dia takut melihat mata menyala orang itu. Dan juga.. tatapannya itu tertuju padanya. Seakan ingin membunuh Sakura. Mencabik-cabiknya dan memberikannya pada hewan buas.

"Aa, Sedang bermain-main Dobe?" Tanya sosok itu. Yang tak lain tak bukan adalah Sasuke.

"Jangang ganggu dia Teme..." Naruto bangkit dari duduknya. Membelakangi Sakura. Berharap itu bisa melindungi Sakura dari kemurkaan Sasuke.

"Manis juga.. Pantas kau memilihnya sebagai mainanmu selama aku pergi." Sasuke berjalan pelan mendekati Naruto. Seulas senyum menyeringai terlukis jelas dibibir Sasuke.

"Tapi.. Tak semanis kau Dobe~" Sasuke mengelus lembut wajah Naruto. Dibelainya seakan dia adalah kekasihnya. Hei! Memang mereka sepasang kekasih kok. Tapi.. secara sepihak. Hahaha..

"Dia bukan maninanku Teme." Naruto masih memasang wajah dingin dan tenang. Tak merasa terganggu dengan belaian Sasuke.

Walaupaun ada seseorang yang sedikit jijik. Siapa lagi kalau bukan Sakura yang tengah melotot –Takut. Melihat sikap pemuda misterius –Sasuke. Yang tiba-tiba datang dengan mendobrak pintu dengan wajah yang menakutkan namun tampan. Dan sekarang, dia mengelus Wajah Naruto. Dia kira, Naruto itu wanita?

"Hn. Tak penting. Hanya saja.. aku merasa terganggu jika kau masih bermain dengannya sedangkan aku ada disini Dobe."

Cukup sudah! Jika Sasuke terus mengoceh hal-hal yang menyebalkan seperti ini.. Sakura pasti akan berfikiran jika Naruto itu gay. Bahkan, mungkin dia akan membenci Naruto.

"Sakura.." Naruto menatap Sakura yang ada dibelakangnya. "Maaf.. sepertinya kau harus pulang. Akan ku suruh paman Iruka untuk mengantarmu." Lanjutnya lagi.

"Ah! Ta-tak usah repot-repot. A..Aku bisa pulang sendiri. Sa-sampai jumpa besok Naruto!" Tanpa babibu.. Sakura langsung melesat pergi dari kamar Naruto berlari sejauh mungkin dari suasana yang mengerikan yang sempat dia rasakan dikamar Naruto.

Rasanya seperti ada dimedan perang yang mungkin akan membunuh Sakura jika dia masih tetap disana. Untung saja, Naruto masih memikirkan keselamatan Sakura. Meskipun Sakura tidak tahu apa yang sedang terjadi. Tapi dia yakin.. Orang itu. Orang yang dipanggil Teme itu tak suka Jika Sakura dekat dengan Naruto. Dan ada suatu hubungan yang Sakura tak tahu apa itu. Sesuatu yang mengerikan yang akan datang diantara hubungan mereka. Sakura bisa merasakan itu.

"Kau menakutinya.." Guman Naruto saat dirasa Bau darah Sakura telah lenyap dari penciumannya.

"Itulah yang ku mau.." Sasuke tersenyum menyeringai. Langsung saja, Sasuke melumat bibir Naruto dengan ganas. Kedua tangannya yang beralih memegang pingangg Naruto. Tak mau jika Naruto berulah untuk menolak ciumannya.

"Ukh.."

Sasuke menggigit bibir Bawah Naruto hingga darah segar mengucur disana. Dijilatinya darah tersebut dan kembali melumat bibir Naruto. Kali ini, Sasuke menghempaskan tubuh mereka keranjang tanpa melepas ciuman panas mereka.

"Tem..Anh.."

Sasuke benar-benar beringas. Dia tak memperdulikan rasa sakit yang menyeruak ditubuh Naruto saat Sasuke mencium ganas bibirnya. Hei! Bagaimana dia tak kesakitan? Kekuatan Vampire itu sangat kuat. Bahkan Naruto sendiri yang juga Vampire kalah telak melawan tenaga yang dimiliki Sasuke. Dan juga, Naruto merasa jijik. Dia itu Normal. Masih Straight dan dia juga punya kekasih. Haruno Sakura.

"Ungh.."

"He-Nhhn..Hentikan Teme!"

Naruto mendorong Sasuke dengan seluruh kekuatannya. Hingga Sasuke terpental dan tubuh Sasuke terbentur dinding dibelakangnya. Namun dengan sigap Sasuke menahannya, jadi tak menyebabkan dinding itu retak.

"Che! Kau menolakku? Apa ini gara-gara manusia rendahan tadi hah!?" Sasuke murka. Matanya kembali merah padam layaknya darah. Menatap tajam pemuda yang saat ini tengah memegangi kemeja putihnya, mencoba menutup kembali kancing yang tadi telah terbuka.

"Jangan panggil Sakura rendahan Teme! Kau tak berhak atas ini semua!"

"Kau tau ini salah.. sudah ku bilang kan? Siapa saja yang ingin mengambil kau dariku. Dia.. akan mati." Suara berat Sasuke terdengar seperti petir yang menyambar Naruto. Matanya melebar seketika saat Sasuke mengatakan'mati'.

'Gawat! Sakura dalam bahaya.' Batin Naruto.

"Kau lihat saja. Apa yang akan terjadi pada manusia rendahan itu."

Sial sial sial! Naruto merutuki sikap bodohnya yang terpancing oleh amarahnya sendiri. Seharusnya dia tak boleh mmebuat Sasuke marah. Walaupun dia akan menuruti kata-katanya. Tapi.. jika menyangkut Naruto yang akan pergi dari sisinya.. ini semua hal yang buruk.

"Sial!"

.

.

.

Te Be Ce...