Naruto _ Masashi-Senpai 'Kawaii'
' I Want You. '
By
Shiraishi Naru-koi
Rated : M. (Ya, ada kalanya gak ada *Plakkk. Mungkin sedikit kata-kata kasar.)
Pairing : SasuNaru, NaruSaku
Genre : Romance, Fluff. Horor. Tragedy.
Warning : AU | OOC | AR | Miss Typo | dll
Chapter 5
Don't like, please don't read!
#
.
.
.
.
.
"Teme~" Rengek seorang anak laki-laki yang tengah tertunduk sambil memegang ujung kemeja sang pemuda lain yang berdiri dihadapannya. Dengan tatapan mata ke arah depan. Tubuhnya yang gemetar membuat pegangan tangannya ikut bergetar. Dan dia yakin, orang yang ada dihadapannya itu dapat merasakannya.
"Jangan manja Dobe! Cepat bangun dan kita pulang!" Bentak orang yang tadi tengah membelakangi bocah bernama Dobe itu. Menatapnya tajam hingga membuat anak kecil itu mencelos tak percaya.
"Hiks.. Teme jahat!" Tak mau kalah. Bocah bernama Naruto itu berbalik membentak orang yang ada dihadapannya itu. Sasuke. Uchiha Sasuke.
Uh! Betapa manisnya wajah Naruto saat marah. Pipinya yang mengembung, bibir merahnya yang dimajukan. Hey, dan jangan lupakan tingkah imutnya saat bergaya orang marah.
"Hn. Dasar Dobe." Diraihnya tangan mungil Naruto untuk membantunya bangun. Dibersihkannya baju yang tadinya terkena salju yang turun menutupi aspal jalanan.
"Teme~" Panggil Naruto lagi, disela-sela mereka berjalan digundukan salju.
"Hn."
"Teme. Kenapa kau dingin begitu. Apa kau malah padaku?" Tanya Naruto polos. Ditatapnya mata Onyx Sasuke yang tadi sempat meliriknya sebentar.
Hening...
Sasuke tak menjawab. Dihentikannya langkah kakinya yang sedari tadi berjalan. Membuat Naruto menubruk tubuh Sasuke yang sedikit lebih tinggi darinya.
"Aduuh~ Cakit Teme.." Gerutu Naruto sambil mengusap-usap hidungnya.
"Siapa yang dingin dan siapa yang marah hah!? Kau pikir sifatku itu seperti apa? lembut? Romantis? Baik hati? Cih! Dasar anak cedal!"
"Hiks.. Kenapa kau jadi memalahiku? Dan aku tidak cedal Teme!" Bentak Naruto dengan oktaf yang sangat tinggi.
"Ck! Diamlah Dobe. Kau membuat gendang telingaku sakit."
.
.
.
.
.
.
"Teme."
"Hn."
"Kau yakin akan kemari? Bukankah kita tak boleh kemari oleh orang tua kita?"
Sebuah ruangan yang tertutup tanpa ada sinar lampu. Dan hanya ditemani oleh remang-remang cahaya lilin yang sasuke bawa. Langkah kaki mereka semakin dalam menelusuri ruangan tersebut. Yang katanya... Tak boleh ada seorangpun yang masuk kecuali orang tua mereka.
"Hn."
Tak menghiraukan Naruto yang mengoceh disampingnya. Sasuke tetap berjalan kesebuah rak yang berisik berbagai macam buku. Yah, walaupun tak terlihat jelas semua itu buku apa.
"Teme. Sudahlah. Jika kita membantah apa yang dikatakan paman dan Tou-san. Kita bisa dihukum Teme."
"Cih! Dasar penakut. Kalau kau ingin pergi. Pergi saja sana." Bentak Sasuke dan masih sibuk mengamati buku. Mencari buku yang sesuai dengan yang dia cari.
"Siapa yang penakut Teme!" Teriak Naruto hingga tak selang beberapa detik. Mulut Naruto sudah ditutup rapat oleh sebuah benda kenyal dan lembek.
Mata Naruto terbelalak kaget. Dia tak menyangka jiak Sasuke menciumnnya. Dan itu adalah First Kiss Naruto. Tanpa memperdulikan dorongan Naruto. Sasuke semakin memperdalam pelukan mereka hingga lilin yang tadi sempat dia pegang terjatuh ke lantai. Dan perlahan-lahan hilang dan di ganti oleh kegelapan yang menyelimuti kegiatan mereka. Sepihak.
"Aah.." Desah Naruto disela-sela ciuman panasnya dengan Sasuke. Mendengar Naruto mendesah, sebuah seringai muncul diwajah Sasuke. Dipegangnya pinggul Naruto dengan tangan kiri. Sedangkan, tangan kanannya meraba bagian belakang celana Naruto. Mencoba meraih sesuatu yang ada disana. Hingga...
"Teme!"
Dorongan Naruto membuat Sasuke melepas ciumannya. Ditatapnya mata merah Naruto dengan mata merah Sasuke yang menyala bagai api yang membara. Membara karna nafsu yang dia punya.
"Apa-apan kau! Otakmu jadi tidak waras gara-gara kau bergaul dengan Suigetsu!." Seru Naruto sembari menyeka cairan bening yang ada disudut bibirnya.
"Hahaha.."
Sasuke tertawa renyah. Membuat keheningan yang menakutkan semakin menjadi menyeramkan tak kala suara tawa Sasuke yang mirip dengan tawa Iblis yang tengah mendapatkan mangsanya.
"Dengar.." Lagi-lagi Naruto terbelalak kaget. Saat ini, secara cepat Sasuke sudah mendorong Naruto kesebuah sofa yang tak jauh dari tempat dia berdiri. Membuat Naruto setengah tidur dengan Sasuke yang ada diatasnya.
"Tak ada yang berani padaku Dobe. Tapi.. ku rasa pengecualian untukmu. Karna itu.. ku maafkan atas sikapmu yang tadi." Seringai Sasuke sambil mengelus lembut wajah tan Naruto.
'A-apa-apan dia itu. Kenapa dia jadi semakin pemarah dan mengerikan. Teme.. apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kau jadi seperti ini?' Batin Naruto menatap mata Merah Sasuke yang berbeda dengan matanya yang dulu.
.
.
.
.
.
"A-apa!? Ke-kenapa bisa begitu?" Mata Naruto melebar. Bulat besar seperti telur yang baru keluar dari tempatnya. Menatap tak percaya pada kakaknya yang berada didepannya.
"Kau tahu benar jika keluarga Uchiha itu punya mata terlarang. Dan kau juga tahu betul bahwa tak ada yang boleh mengaktifkannya Naru." Jelas Kyuubi. Kakak Naruto. Dia sangat tak tega melihat raut wajah Naruto yang begitu sedih dan terluka.
"Kami tidak tahu jika Sasuke telah mendengar percakapan Tou-san dan Oji-san Mengenai Mata Sharingan yang terlarang. Entah apa yang sedang dipikirkan Sasuke. Dia mencoba mencari buku mengenai cara mengaktifkannya. Mengaktifkan mata Fuumetsu Magekyo Sharingan. Dan.. dengan itu semua... Dia mengambil mata kiri Itachi."
"Tapi.. Kyuu-nii. Teme tidak mungkin melakukan itu. Teme.. aku yakin bukan dia orangnya. Dia.. dia tak mungkin.." Naruto berteriak tak terima. Menggerak-gerakkan kedua tangannya sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Naru.. Aku tahu kau sangat menyayangi Sasuke. Ini memang sulit untuk kau terima. Tapi kenyataannya.. Sasuke sudah berubah, dia terlalu lemah untuk mengendalikan kekuatannya. Dia bukanlah Sasuke yang dulu kau kenal. Dia-"
"Cukup! Aku tidak mau dengar apapun dari Kyuu-Nii lagi! Aku percaya pada Teme. Dan akan ku buktikan kalau Teme tak bersalah! Dan akan ku pastikan Teme tak akan dihukum."
.
.
.
.
.
"Bohong! Kau bohong kan teme?"
Ya Tuhan. Cobaan apa lagi ini? Kenapa harus seperti ini?
Sasuke yang ku kenal. Sasuke yang dingin namun selalu bersikap manis padaku. Sekarang dia benar-benar telah berubah. Dia terlihat seperti... iblis.
"Kau takut Dobe?" Mata Sasuke tak lepas dari mata Saphire Naruto. Dia tak segan-segan memperlihatkan mata Fuumetsu Magekyo Sharingannya pada Naruto. Bahkan, dia memperilhatkan bagaimana dia mengambil mata Itachi. Kakak kandungnya sendiri.
"Tidak. Kenapa aku harus takut padamu Teme?" Ujar Naruto dengan sinis. Matanya berubah dingin. Tak seperti seper sekian detik yang menatap Sasuke dengan tatapan sendu.
"Haha.. kau memang Dobe-ku." Sasuke mengelus lembut wajah Naruto. Dihirupnya harum mint yang menyeruak ditubuh Naruto.
"Teme.."
"Hn."
*Duakkkk*
Naruto meninju perut Sasuke hingga membuat Sasuke merintih kesakitan dari balik wajah Stoicnya. Dipeganginya perut yang tadi dipukul Naruto. Menatap tajam kearah Naruto. Meminta penjelasan atas apa yang sudah dia lakukan.
"Itu hukuman karna kau sudah mempermainkanku. Mempermainkan kepercayaanku padamu, perasaanku, kasih sayangku. Bahkan keluargamu.."
"Cih! Kau sedang menceramahiku Dobe? Tapi sayang.. Kau tak diperuntukkan untuk itu." Ucap Sasuke kembali ke posisinya sekarang.
"Terserah apa katamu Teme. Yang jelas. Jangan temui aku. Jika kau masih tak bisa menghilangkan sifat jahatmu itu."
"Satu hal lagi.. sebaiknya kau minta maaf pada semuanya. Keluargamu. Bahkan.. Itachi-Nii. Kakakmu."
Setelah mengatakan itu semua, Naruto pergi meninggalkan Sasuke yang diam terpaku ditempatnya. Hanya dapat menatap kepergian Naruto yang semakin jauh dan jauh dari pandangannya.
.
.
.
"Itachi-nii.. maaf."
"Kenapa kau meminta maaf Naru?"
"Maaf. Karna sikap Sasuke padamu. Aku.. aku tahu Ita-nii marah. Bahkan benci pada Sasuke. Tapi... bisakah kau memaafkannya, demi aku?"
Kyuubi, Itachi, Ino dan Gaara. Semua orang yang ada disana menatap sendu pada Naruto yang menundukkan wajahnya. Meremas bajunya untuk menahan air mata yang terus-terusan ingin keluar.
"Haha.. kau kenapa berbicara seperti itu?" Tawa Renyah Itachi membuat Naruto harus menengadah. Menatap sosok yang kini setengah berbaring diatas ranjang.
"Ita-nii.."
"Aku tak marah atau benci pada Otouto. Lagipula.. dia itu sedang labil. Dan aku maklumi itu. Jadi.. kau tak perlu bersedih lagi. Mengerti?" seulas senyum mengembang diwajah Itachi. Menatap Naruto yang tengah menatapnya tak percaya.
Mungkin sekarang Naruto tengah berfikir. 'kenapa ada orang sebaik Itachi? Jelas-jelas Sasuke sudah mengambil mata Kiri Itachi hingga sekarang Itachi hanya dapat melihat dengan menggunakan satu matanya saja.'
"Tapi Ita-nii.. aku.. ma-matamu."
"Soal ini?" Itachi memegang matanya yang tengah diperban. Mengelusnya lembut dan kemudian tersenyum tipis.
"Aku bukanlah Vampire yang lemah Naru. Jadi.. masih ada banyak jalan keluar. Seperti.. mencangkokkan mataku dengan mata orang lain. Yah.. bukankah manusia memiliki keahlian seperti itu."
"Te-terima kasih! Terimakasih ita-nii!" Naruto menerjang Itachi. Memeluk erat pemuda yang sangat dia kagumi dan juga dia sayangi. Selalu bersikap tenang dalam menghadapi semua permasalahan.
"Hn. Dan sekarang giliranmu Naru. Ubahlah sifat Sasuke. Buat dia menjadi Sasuke yang dulu."
"Hai! Aku akan melakukannya."
.
.
.
Te Be Ce...
